Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Februari 23, 2016

JALAN SALIB SEBAGAI SEKOLAH PELAYANAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Rabu, 24 Februari 2016) 
KEMURIDAN - IBU YAKOBUS MINTA KPD YESUS
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28) 
Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28).
Pada umumnya orang menyadari adanya hasrat terdalam untuk melayani sesama. Ada banyak sekali orang yang melayani kaum miskin, orang-orang yang menderita segala macam sakit-penyakit, anak-anak yatim-piatu, orang-orang lansia dan para tuna wisma. Pada masa Natal lebih banyak lagi orang yang lebih sadar dan terpanggil untuk menolong dan melayani sesama mereka.
275px-Geertgen_Man_van_smarten
Kegiatan melayani dan memberi bantuan/pertolongan mempunyai kecenderungan untuk berada di luar kendali/kontrol kita. Adalah hal yang biasa jika kita merasa senang dan bangga dalam hati (bukan sombong) jika kita dapat ikut serta membantu dan melayani sesama kita, namun tidak jarang pula hal yang terjadi justru sebaliknya: menyakitkan hati! Misalnya saja nabi Yeremia. Nabi ini bukan saja tidak dihargai bantuan pelayanannya kepada umat Allah, perbuatan baiknya malah dibalas dengan kejahatan (Yer 18:20). Setelah Yesus menantang para rasulnya untuk menjadi pelayan, Ia mengutus mereka untuk menjadi “hamba semua orang” (Mat 20:27), bahkan mereka perlu menyerahkan hidup mereka untuk sesama mereka (Mat 20:28).

Karya pelayanan lepas dari kendali kita dan membawa ke dalam “perbudakan” ilahi dan akhirnya menuntun ke salib Kalvari. Oleh karena itu kita tidak perlu menjadi terkejut apabila kita menemukan dalam diri kita semacam dilema: merasa ingin sekali melayani, namun sekaligus juga takut untuk melayani, sehingga membatalkan niat semula untuk membantu dan melayani sebelum kita sendiri menderita dan mati bagi diri kita sendiri.
Yesus bertanya kepada kedua anak laki-laki Pak Zebedeus: “Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?”  (Mat 20:22). Apakah kita (anda dan saya) masih tetap ingin meminum cawan dari pelayanan yang mengandung unsur perbudakan  dan penyaliban? Apakah kita (anda dan saya) bersedia memperkenankan kasih Allah menyalib daging kita dengan segala hawa nafsu dan keinginannya [“cinta diri” serta  “ke-aku-an” kita] (lihat Gal 5:24). Sekarang, bersama Yesus, marilah kita siap untuk melayani (Mat 20:28). Artinya juga “siap menuju salib”.
DOA: Bapa surgawi, Putera-Mu Yesus telah mengajarkan kepada kami bahwa barangsiapa mempunyai aspirasi untuk mencapai kebesaran harus melayani orang-orang lain, dan barangsiapa yang ingin menjadi yang pertama haruslah melayani kebutuhan-kebutuhan semua orang. Pada hari ini, ya Bapa, kami bertekad untuk melayani sesama kami dengan segala konsekuensinya. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:17-28), bacalah tulisan yang berjudul “MELAYANI ORANG-ORANG LAIN” (bacaan tanggal 24-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 
Cilandak, 22 Februari 2016   
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Januari 22, 2016

DEMI KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Sabtu, 23 Januari 2016)
HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak  waras lagi.  (Mrk 3:20-21)

Bacaan Pertama: 2 Sam 1:1-4,11-12,19,23-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3.5-7
Kelihatannya memang sulit bagi keluarga Yesus untuk memahami perilaku-Nya. Hampir setiap saat dalam hidup pelayanan-Nya di tengah publik, Yesus dibuntuti serta dikelilingi oleh orang banyak, terlibat dalam konflik dengan para pemuka agama Yahudi, bekerja keras melayani orang-orang, dan kemudian berdoa semalam-malaman. Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita satu contoh lagi mengenai betapa beratnya Yesus bekerja. Selagi Dia kembali dari gunung dengan para rasul yang baru diangkat-Nya, Yesus masuk ke sebuah rumah dan mulai dikerumuni orang banyak. Digerakkan oleh bela-rasa, Yesus melayani orang banyak itu, hal mana membuat Yesus dan para murid-Nya tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk makan.
Keluarga Yesus dan teman-temannya yang selama ini mengamati gerak-gerik dan pola kehidupan-Nya pada umumnya, menjadi prihatin bahwa Yesus mulai tidak sehat dalam berpikir, bahkan sudah tidak waras pikiran-Nya. Sementara mereka merasa khawatir dan takut bahwa Yesus hidup secara tidak normal/sehat/seimbang, Yesus sendiri sedang memikirkan dan berurusan dengan Kerajaan Allah. Yesus dipenuhi dengan suatu hasrat untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, dengan penuh belarasa memperhatikan setiap orang yang datang kepada-Nya dengan berbagai kebutuhan, orang-orang buta, orang-orang lumpuh, orang-orang yang kerasukan roh jahat dlsb. Demi Kerajaan Allah, Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan baik itu dengan kesadaran penuh bahwa dengan demikian ada risiko keluarga-Nya tidak memahami apa sebenarnya yang dilakukan-Nya.
Cerita seperti ini mengungkapkan betapa dalam Allah mengasihi kita. Yesus dengan sabar dan tekun melayani orang banyak – bahkan dengan “mengorbankan” begitu banyak kebutuhan-Nya sendiri, seperti makan-minum, istirahat dlsb. Demikian pula Yesus tidak akan mengabaikan kita jika kita datang kepada-Nya dengan berbagai kebutuhan kita. Yesus mengambil rupa manusia seperti kita sehingga dengan demikian Ia dapat menyembuhkan kita. Yesus tidak pernah menolak kita, malah Ia merangkul segala kelemahan kita. Keluarga Yesus yang sesungguhnya adalah mereka yang datang kepada-Nya dengan iman, yang percaya bahwa Ia telah datang ke tengah umat manusia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kegelapan, karena Bapa surgawi sangat mengasihi kita-manusia.
Kita hampir sampai pada penghujung PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI. Memang harapan akan terwujudnya persatuan itu terasa tipis bagi kita pada hari ini, namun kita akan menemukan jawaban-jawabannya apabila kita memandang dalam-dalam hati Yesus Kristus Yang Mahakudus dan memperkenankan-Nya untuk membebaskan kita – yang menamakan diri umat Kristiani – dari sikap-sikap dan pendapat-pendapat yang membuat kita tetap terpisah satu sama lain. Hanya apabila kita datang menghadap Yesus seperti orang banyak dalam bacaan Injil hari ini, maka kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita mengenai niat-niat-Nya dan kita pun dapat dipimpin-Nya ke dalam persatuan yang lebih mendalam.
DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami untuk mendekat kepada Yesus, yang telah menjadi satu dengan kami. Tolonglah kami untuk berjalan dengan semangat bela-rasa, penuh kesabaran, dan persatuan dengan saudari-saudara Kristiani lainnya sampai kepada hari di mana kami dapat melihat Engkau, muka ketemu muka. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:20-21), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SEORANG TANDA LAWAN” (bacaan untuk tanggal 23-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 
Cilandak, 21 Januari 2016 [Peringatan S. Agnes, Perawan-Martir] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Khamis, Januari 21, 2016

MENJADI MURID DAN RASUL

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa II – Jumat, 22 Januari 2016)
HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA
YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYA
Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. (Mrk 3:13-19)

Bacaan Pertama: 1 Sam 24:3-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:2-4,6,11
Yesus telah sampai pada momen yang sangat penting dalam hidup-Nya dan karya-Nya. Dia telah muncul di tengah masyarakat dengan pesan-Nya: pewartaan tentang Kerajaan Surga dan seruan pertobatan. Ia telah memilih metode-Nya; Dia telah berjalan ke berbagai tempat di Galilea memberi pengajaran dan juga menyembuhkan orang-orang sakit dlsb. Sampai saat itu Yesus telah membuat dampak yang tidak sedikit atas pikiran dan hati orang banyak. Sekarang Yesus menghadapi dua masalah yang sangat bersifat praktis.
Pertama-tama, Dia harus menemukan cara bagaimana pesan-Nya menjadi permanen sekiranya ada “suatu hal” yang terjadi dengan diri-Nya, dan bahwa “suatu hal” itu akan terjadi, Yesus tidak meragukannya sama sekali. Kedua, Yesus harus mencari cara/jalan untuk menyebarkan pesan-Nya. Pada masa di mana belum ada surat kabar, majalah, buku, televisi, – apalagi segala macam media sosial lewat internet – memang tidak ada cara/jalan lain untuk mencapai banyak orang sekaligus, jadi sungguh merupakan upaya yang tidak mudah. Hanya ada satu cara untuk memecahkan dua masalah ini; Yesus harus memilih orang-orang tertentu yang kepada hati dan hidup mereka, Dia dapat menulis pesan-Nya dan mereka akan pergi ke luar untuk membawa pesan-Nya itu ke tempat-tempat lain. Di sini kita lihat bahwa Yesus melakukan seperti yang dicatat tadi.
Penting untuk kita sadari bahwa Kekristenan (Kristianitas) mulai dengan sebuah kelompok. Iman Kristiani adalah sesuatu di mana dari sejak awal harus ditemukan dan dihayati dalam sebuah persekutuan. Hakekat gaya hidup orang-orang Farisi adalah memisahkan orang dari sesamanya. Nama Farisi berarti seorang yang dipisahan/terpisah, sedang hakekat hidup Kristiani adalah mengikat orang-orang  dengan sesama mereka dengan tugas untuk hidup dengan orang lain dan untuk orang lain secara timbal balik.
Lagipula, Kekristenan (Kristianitas) dimulai dengan sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang beraneka ragam dalam hal latar belakang kehidupan. Matius adalah seorang pemungut cukai, jadi dia adalah seorang “sampah masyarakat”; seorang pengkhianat bangsa. Simon Zeloti adalah seorang anggota kaum Zelot, yaitu para nasionalis-militan Yahudi yang siap membunuh musuh-musuh mereka, demi membersihkan negeri mereka dari penindasan bangsa asing. Seorang pengkhianat bangsa yang sudah kehilangan patriotismenya dan seorang patriot fanatik berada bersama dalam sebuah kelompok berdasarkan panggilan Yesus sendiri. Jadi, tidak meragukan lagi bahwa dalam kelompok itu juga masih sering ada perbedaan dalam pandangan (cara memandang masalah yang dihadapi). Kekristenan (Kristianitas) dimulai dengan menekankan bahwa orang-orang yang berbeda-beda harus hidup bersama dalam sebuah kelompok, karena mereka semua hidup bersama Yesus sebagai Kepala.
Jika kita menilai mereka dengan menggunakan standar-standar dunia, maka orang-orang yang dipilih oleh Yesus tidaklah memiliki kualifikasi istimewa sedikit pun. Mereka bukan orang-orang kaya; mereka tidak mempunyai posisi sosial yang istimewa; mereka bukanlah orang-orang yang berpendidikan istimewa; mereka bukanlah teolog-teolog lulusan madrasah atau pesantren terkenal pada zaman itu; mereka bukan apa-apa karena mereka hanyalah 12 orang biasa-biasa. Namun demikian, mereka memiliki dua kualifikasi istimewa. Pertama, secara pribadi mereka telah merasakan daya tarik magnetis dari Yesus. Ada sesuatu tentang Yesus yang membuat mereka ingin menjadikan-Nya Guru mereka, Pemimpin mereka. Kedua, mereka memiliki keberanian untuk berada di samping-Nya.
Namun demikian, janganlah kita salah. Janganlah kita mengira bahwa berdiri di samping Yesus di hadapan banyak lawan bukan merupakan tindakan yang tidak membutuhkan keberanian. Inilah Yesus yang dengan tenang “melanggar” berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam masyarakat; inilah Yesus yang berjalan ke arah di mana tidak dapat dicegah akan terjadi “tabrakan” dengan para pemuka agama Yahudi; inilah Yesus yang sudah dicap sebagai seorang pendosa dan penganut aliran b’idah; namun mereka (murid-murid) memilik keberanian untuk melekatkan diri mereka dengan Yesus. Tidak ada kelompok orang-orang yang pernah berani memutuskan untuk keluar dari comfort zone (zona nyaman) mereka dan kemudian mengikuti seseorang – seperti Yesus – seorang yang “tidak jelas”, yang tidak memberikan pengharapan yang berisi kepastian, seperti orang-orang Galilea ini. Dan, tidak pernah ada kelompok yang bertindak sedemikian dengan mata terbuka. Kedua belas murid Yesus ini memang mempunyai berbagai macam kelemahan, mereka juga melakukan berbagai macam kesalahan, namun mereka sungguh mengasihi Yesus dan mereka tidak takut untuk memberitakan kepada dunia bahwa mereka mengasihi Yesus – dan itulah arti dari keberadaan kita sebagai orang Kristiani.
Yesus memanggil mereka untuk dua tujuan. Pertama-tama, Ia memanggil mereka untuk berada bersama-Nya, menjadi teman-teman seperjalanan-Nya, murid-murid-Nya (Inggris: disciples; Yunani: mathètès; Latin: discipulus). Orang lain dapat datang dan pergi; orang banyak dapat berkumpul pada suatu hari, namun dapat pergi pada hari berikutnya; keterikatan orang banyak kepada-Nya dapat turun-naik, namun dua belas orang yang dipanggil-Nya mengidentifikasikan hidup mereka dengan Yesus dan hidup bersama Dia sambil mewartakan Kabar Baik ke sana ke mari. Kedua, Yesus memangggil mereka untuk mengutus mereka sebagai rasul-rasul-Nya (Inggris: apostles; Yunani: apostolos). Yesus menginginkan agar mereka menjadi wakil-wakil-Nya, duta-duta-Nya; untuk memberitakan kepada orang-orang lain tentang diri-Nya. Mereka dimenangkan oleh Yesus agar supaya memenangkan orang-orang lain.
Untuk melakukan tugas mereka, Yesus memperlengkapi mereka dengan dua hal. Pertama, Yesus memberikan “sebuah pesan” kepada mereka. Mereka harus  bekerja sebagai para bentara-Nya. Seorang bijak mengatakan bahwa tidak ada seorang pun dapat menjadi guru kalau dia tidak mempunyai sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri, atau ajaran dari seorang lain yang dengan hati yang penuh gairah ingin disebarkannya kepada orang-orang lain. Orang-orang akan selalu mendengarkan seseorang yang mempunyai sebuah pesan. Jadi, Yesus memberikan kepada para murid-Nya sesuatu untuk mereka katakan. Kedua, Yesus memberikan suatu kuat-kuasa kepada mereka, karena mereka juga akan melakukan banyak mukjizat dan tanda heran lainnya, a.l. menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang.
DOA: Bapa surgawi, kami datang menghadap Engkau pada hari ini sebagai anak-anak yang butuh dipenuhi dengan hidup-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah kami agar mau dan mampu untuk bekerja bersama-sama membawa terang-Mu ketengah dunia. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN MENGENAI KEMURIDAN” (bacaan tanggal 22-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 
Cilandak, 20 Januari 2016 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Jumaat, Januari 15, 2016

IKUTLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 16 Januari 2016)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk. – Martir-martir Pertama Ordo Santo Fransiskus 
KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1 Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7
Bayangkan Yesus sedang duduk di pantai Laut Galilea. Banyak sekali orang berkumpul di sekeliling-Nya, dan Ia mulai mengajar mereka. Ia mengajar mereka betapa dalam kasih Bapa surgawi kepada mereka. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia telah datang ke tengah dunia mencari “domba” yang hilang. Ia lemah lembut kepada mereka yang hadir. Selagi Yesus mencoba untuk melanjutkan perjalanan-Nya orang banyak datang kepada-Nya – orang miskin dan berdosa – mengikuti-Nya terus. Ada “sesuatu” dalam diri Yesus yang sangat memikat banyak orang.
Selagi Yesus lewat, Lewi juga tertarik kepada pribadi sang rabi dari Nazaret dan ia pun mengundang-Nya untuk makan di rumahnya. Yesus tidak peduli bahwa rumah Lewi penuh dengan segala macam orang yang tidak disukai dalam masyarkat. Yesus hanya ingin menemui mereka yang sakit, juga mereka yang “hilang” dan Ia mau menunjukkan kepada mereka jalan kembali kepada Bapa surgawi.
Sekarang bayangkanlah reaksi dari orang-orang Farisi yang memandang diri mereka sendiri sebagai kudus, benar, dan murni, namun mereka memandang rendah dan hina siapa saja yang tidak hidup seturut standar kekudusan yang mereka telah tetapkan sendiri. Mereka melawan ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan Yesus dan tidak dapat memahami mengapa Yesus “mau-maunya” ikut ambil bagian dalam sesuatu yang bersifat intim seperti perjamuan makan bersama dengan orang-orang buangan seperti Lewi dan kawan-kawannya. Hal ini ditanyakan kepada para murid Yesus yang hadir.
Yesus mengetahui pikiran orang-orang Farisi tersebut. Kita dapat membayangkan, sambil menaruh dengan lemah lembut tangan kanan dan kiri-Nya di atas bahu Lewi dan seorang kawannya, Yesus berkata kepada orang-orang Farisi tersebut: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Bayangkan orang-orang di sekitar Yesus tersenyum. Beberapa orang dari mereka malah membuat keputusan untuk menjadi pengikut sang Rabi yang rendah hati dan kudus itu.
Yesus ini, yang makan dan minum dengan orang-orang berdosa dan sampah masyarakat, sekarang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya di surga. Dalam hal ini, di mana letak kabar baiknya bagi kita? Kabar baiknya adalah bahwa Yesus masih tetap mengasihi para pendosa sebagaimana Dia mengasihi orang-orang berdosa pada waktu Dia masih hidup di atas bumi sekitar 2000 tahun lalu. Yesus sungguh memiliki kerinduan mendalam untuk dapat berdiam di dalam hati semua orang yang merasa tertindas, tersesat, dan patah-berantakan – siapa saja yang merasa tidak pantas. Hanya orang-orang yang percaya bahwa mereka adalah orang-orang kudus dan cukup sehat secara rohani sajalah yang kelihatannya tidak dapat didekati oleh Yesus. Jadi, janganlah kita (anda dan saya) membuat kesalahan yang sama seperti kesalahan yang dibuat oleh orang-orang Farisi. Kita harus merendahkan diri kita dan mengundang Yesus untuk masuk ke dalam hati kita masing-masing.
DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh takjub melihat kasih-Mu kepada semua orang. Walaupun Engkau hidup meraja di surga, Engkau tetap merasa berbahagia untuk datang dan hidup dalam hati siapa saja yang mengundang-Mu. Sebab itu, dengan rendah hati aku mengundang-Mu untuk datang dan hidup di dalam hatiku, ya Yesus. Bersihkanlah aku dari semua dosa dan penuhilah diriku dengan kasih-Mu. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEMUNGUT CUKAI MENJADI MURID YESUS” (bacaan  tanggal 16-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 
Cilandak, 14 Januari 2016 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Januari 14, 2016

ANGKATLAH SEORANG RAJA BAGI MEREKA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 15 Januari 2016 
SAMUEL-009
Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN (YHWH). YHWH berfirman kepada Samuel; “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.
Dan Samuel menyampaikan segala firman YHWH kepada bangs itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya: pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh, mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawi istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnhya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi YHWH tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.”
Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada YHWH. YHWH berfirman kepada Samuel: “Dengarlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.” (1 Sam 8:4-7,10-22a) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19; Bacaan Injil: Mrk 2:1-12
Tak henti-hentinya berbagai buku diterbitkan dan undangan-undangan seminar ditawarkan lewat berbagai macam sarana, seperti talk-show dlsb. dengan biaya yang tidak kecil (biasanya dinamakan “investasi”), semua untuk membuat orang “mengetahui” bagaimana caranya menjadi “sukses-karya raya”. Sungguh menggiurkan memang! Banyak dari para pembicara atau yang dikenal sebagai “motivator” memberi kesan bahwa untuk mencapai sukses yang dimaksudkan di atas tidaklah sulit, asal saja kiat-kiat yang mereka ajarkan itu diikuti. Jarang sekali mereka memberi kesan yang realistis tentang betapa sulitnya berbagai perjuangan, pergumulan dan pengorbanan yang biasanya harus dihadapi untuk meraih sukses-kekayaan.
Ketiadaan realisme serupa mencirikan umat Israel pada zaman Samuel berkarya sebagai seorang nabi YHWH. Selagi mereka melihat negara-negara tetangga di sekeliling dan melihat harta-kekayaan mereka, maka orang-orang Israel pun mulai merasa haus dan lapar untuk mendapatkan harta-kekayaan bagi diri mereka sendiri juga. Menurut pikiran mereka, jalan menuju kesuksesan adalah mempunyai seorang raja, seperti halnya dengan negara-negara tetangga mereka. Mempunyai seorang raja – menurut orang-orang Israel itu – akan membuat hidup mereka menjadi lebih mudah.
Samuel cukup cepat dalam membawakan permintaan umat Israel tersebut kepada Allah dan sang nabi melihat jantung permasalahannya. Orang-orang Israel tidak puas dalam mengikuti YHWH. Walaupun Ia mengasihi umat-Nya – Israel – dan ingin sekali mengajar dan melindungi mereka, hati mereka sudah melekat pada kenyataan betapa menggiurkannya hidup dunia kafir. Peringatan YHWH-Allah lewat nabi Samuel sebenarnya jelas dan bersifat langsung dan tidak berliku-liku: Apabila mereka mempunyai seorang raja sebagai pemimpin negara, maka kekayaan mereka akan digunakan untuk tujuan/kepentingan sang raja, dengan demikian anak-anak mereka akan menjadi budak-budaknya.
Kita dapat menjadi kaget, bahwa setelah prediksi di atas umat Israel tetap menginginkan seorang raja. Akan tetapi, baiklah sekarang kita melihat hati kita sendiri. Bukankah kita tak henti-hentinya disuguhkan dengan iklan, acara TV dlsb. yang mengarahkan kita pada kenikmatan dunia sekular, seperti juga yang dialami oleh umat Israel? Bukankah kita sekali-kali terpikat juga pada janji-janji palsu duniawi terkait jalan menuju kebahagiaan? Pengalaman-pengalaman di masa lalu seyogianya memberi pelajaran kepada kita, bahwa pada saat kita gagal berakar-dalam pada Yesus dan ajaran-ajaran-Nya, maka kita menjadi terjerat dalam perbudakan dosa.
Saudari dan Saudaraku, Allah mempunyai segalanya untuk ditawarkan kepada kita, seperti juga kepada umat Israel pada zaman nabi Samuel. Sebagai anak-anak Allah, kita adalah pewaris-pewaris dari kepenuhan hidup dalam Kristus! Bapa surgawi dapat memuaskan setiap rasa haus dan lapar yang ada dalam hati kita dengan kasih-Nya, kehadiran-Nya, dan kebenaran-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membawa segala kebutuhan kita kepada Yesus, satu-satunya Raja yang kita pernah butuhkan. Yesus ini ingin menunjukkan kepada kita arah yang paling baik bagi hidup kita dan menyatakan kepada kita hati-Nya yang penuh belas-kasih kepada kita. Dalam Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita – kita akan menemukan apa saja yang dihasrati oleh hati kita masing-masing.
DOA: Yesus, Engkau adalah Raja yang sejati. Aku mengakui bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat atas hidupku. Aku tidak ingin tertipu dan mengikuti tawaran-tawaran dunia berkenaan dengan kebahagiaan. Sebagai murid-Mu, aku hanya ingin mengikuti jejak langkah-Mu, ya Yesus. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS” (bacaan tanggal 15-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 
Cilandak, 14 Januari 2016 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS