Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, Jun 29, 2012

IMAN YANG LEBIH BERANI

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 30 Juni 2012 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan Beato Raymundus Lullus, Martir – OFS

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-N

ya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:5-17).

Bacaan Pertama: Rat 2:2,10-14,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 74:1-7,20-21

Iman. Begitu penting iman bagi Yesus! Begitu pentingnya sehingga kita dapat melihat dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjuk pada iman besar yang dimiliki sang perwira sebagai sebuah model apa artinya menaruh kepercayaan dan keyakinan kita tidak lebih daripada sabda Yesus. Dengan iman-kepercayaan seperti ini, tanda-tanda heran dan mukjizat-mukjizat dapat terjadi! Dalam kitab-kitab Injil kita melihat bahwa Yesus senantiasa menanggapi secara positif iman-kepercayaan yang menunjukkan rasa percaya dan keyakinan yang mutlak.

Bagaimana kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita? Pertama, secara sederhana kita dapat mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman-kepercayaan kita. Iman adalah suatu anugerah/karunia – sesuatu yang Tuhan kelihatannya siap dan ikhlas untuk berikan kepada kita atau tingkatkan dalam diri kita. Kedua, kita dapat melakukan yang terbaik untuk mengasosiasikan diri kita dengan orang-orang lain yang kelihatan memiliki iman yang kuat dan sehat. Biar bagaimana pun juga, iman itu bersifat menular. Apabila kita berkontak dengan orang-orang yang dengan penuh kasih dan penuh kepercayaan menaruh iman mereka dalam Tuhan, maka kita lebih berkemungkinan untuk melihat iman-kepercayaan kita sendiri meningkat.

Satu hal lain yang dapat kita lakukan untuk membuat iman yang lebih berani adalah untuk mulai menggunakan iman itu secara begitu! Tidak ada bedanya dengan latihan jasmani: Semakin kita menggunakan otot-otot kita, semakin kuat jadinya kita. Oleh karena itu, kita harus melatih iman kita dalam cara-cara yang lebih besar. Misalnya: Mendoakan peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dalam kehidupan kita tentunya baik dan tidak pernah boleh kita lupakan, namun kita dapat mulai fokus pada isu-isu yang lebih besar, yang berskala nasional atau bahkan yang berskala global sekali pun. Selain mendoakan para korban “Lumpur Lapindo”, alangkah baiknya bagi kita untuk mendoakan juga saudari dan saudara kita di Sudan, misalnya. Kita harus senantiasa mengingat apa yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya (termasuk kita para murid pada zaman modern ini) sebelum Ia diangkat ke surga: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18). Yesus memiliki otoritas dan kuasa untuk melakukan apa saja, di mana saja dalam alam semesta. Dan kita adalah anggota Gereja semesta yang didirikan oleh-Nya.

Berdasarkan pemikiran seperti itu, pada akhirnya kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita untuk mengenal Yesus secara lebih baik melalui doa dan pembacaan serta permenungan atas sabda-Nya dalam Kitab Suci. Semakin baik kita mengenal Yesus, semakin yakin pula kita bahwa Dia sungguh mengasihi, bijaksana, maharahim, dan berbela-rasa. Kita akan percaya bahwa Dia akan selalu melakukan hal terbaik dalam setiap situasi. Seperi murid yang dikasihi pada Perjamuan Terakhir yang bersender di dekat-Nya (Yoh 13:23), maka kita pun dapat bersender pada Yesus dan memohon dari Dia apa saja yang kita butuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi Engkau. Tingkatkan imanku, ya Tuhan, agar aku lebih berani dan penuh kepercayaan datang kepada-Mu untuk situasi apa pun dalam kehidupanku – atau apa saja di tengah dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Jun 28, 2012

ASAL KITA MEMPERKENANKAN YESUS MEMBENTUK KITA

( Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Jumat, 29 Juni 2012 )

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

… tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:6-8,17-18)

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Allah memberikan kepada kita para kudus untuk mendorong kita, menyemangati kita! Selagi kita memperhatikan contoh bagaimana mereka melayani Yesus dan umat-Nya, maka hati kita pun digerakkan (oleh Roh Kudus) untuk meneladan para kudus itu. Namun demikian, kita harus senantiasa menghindarkan diri dari kesalahan bersikap seakan para kudus tersebut adalah “supermen”. Seorang kudus bukanlah seorang “superman”, karena pada kenyataannya mereka tidak berbeda dengan kita. Mereka adalah para perempuan dan laki-laki, yang dalam saat-saat kritis kehidupan mereka (katakanlah ketika mengalami ‘diskontinuitas’ dalam jalan kehidupan mereka), berpaling kepada Allah dan menerima rahmat-Nya. Dengan demikian dimungkinkanlah bagi setiap dan masing-masing kita untuk melakukan hal yang sama.

Petrus dan Paulus adalah contoh-contoh yang indah tentang kemampuan Allah mengambil pribadi-pribadi yang memiliki berbagai kelemahan atau sisi negatif, dan kemudian membalikkan mereka menjadi saksi-saksi Injil yang penuh kuat-kuasa. Tidak ada seorang pun dari mereka berdua mencapai hasil pekerjaan begitu mengagumkan hanya karena kerja-keras, kreativitas dan kemampuan-kemampuan administratif yang unggul. Sebagai akibat dari campur tangan Allah dalam kehidupan mereka, mereka pun disadarkan akan adanya kebutuhan akan diri-Nya dan tertangkap oleh kasih-Nya – cinta kasih yang paling mendesak yang akan pernah dikenal oleh dunia.

Paulus adalah seorang laki-laki brilian yang unggul dalam segala sesuatu yang dilakukannya (lihat Flp 3:4-6). Akan tetapi, melalui situasi-situasi yang dihadapi-Nya dalam kehidupannya, Allah membawa Paulus ke suatu titik di mana dia tidak menginginkan apa-apa lagi selain menjadi seperti Yesus. Petrus juga adalah seorang laki-laki yahg penuh dengan gairah. Ia sangat mengasihi Yesus, namun ia condong untuk menaruh kepercayaan pada hikmat-kebijaksanaannya sendiri. Yesus memperkenankan Petrus untuk melihat keadaan riil dari hati-Nya, dan akibatnya bukanlah keputusasaan, melainkan suatu pengalaman akan kasih dan kerahiman dari seorang Juruselamat yang tidak akan meninggalkannya. Hal ini membawa Petrus kepada cinta kasih kepada Yesus yang semakin besar.

Kita semua dipanggil untuk menjadi para kudus, masing-masing dengan cara kita sendiri. Namun ini hanya akan terjadi apabila kita memperkenankan Yesus untuk membentuk kita. Selagi kita memperkenankan tangan Yesus yang lemah-lembut dan penuh kasih itu mendobrak “benteng bagian luar diri kita yang berwujud kemandirian yang palsu-keliru dalam sikap dan perilaku kita, maka kita pun berubah menjadi seperti parfum yang mewangi ke segala penjuru, menyegarkan kembali keluarga kita, paroki-paroki kita, lingkungan tempat tinggal kita, tempat kerja kita, dan semua orang yang datang untuk berkontak dengan kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku bagi-Mu. Buatlah aku seorang kudus sebagaimana yang Engkau sendiri inginkan dari diriku. Tolonglah aku untuk tetap fokus pada kasih-Mu and bukan pada sukacita dan kesedihan kehidupan ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Jun 27, 2012

YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup-Martir – Kamis, 28 Juni 2012 )

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!
Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.
Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,30-31

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.
Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve.

Santo Ireneus [130-202] yang kita peringati pada hari ini termasuk bilangan para Bapa Gereja dan teolog terpenting pada abad ke-2. Ketika masih muda, S. Ireneus adalah anak didik dari S. Polikarpus [+ 156] dan pengaruh S. Polikarpus terlihat dalam ajaran-ajarannya. Buah penanya yang terpenting adalah bantahan terhadap ajaran bid’ah Gnostik yang berjudul Adversus Haereses. Ia diangkat menjadi uskup Lyon, menggantikan Uskup Pothinus yang mati sebagai martir Kristus. Ada tradisi yang mengisahkan, bahwa S. Ireneus meninggal dunia sebagai martir pula, tetapi hal ini kurang didukung dengan bukti yang lengkap. Yang penting adalah, bahwa sebagai murid Yesus Kristus yang baik, S. Ireneus bukanlah seorang Kristiani yang hidup kesehariannya dibebani dengan rasa takut yang kecil-kecil dan tolol. Ia hidup dalam masa pengejaran dan penganiayaan oleh musuh-musuh Gereja; sebagai gembala umat dan teolog hebat, dengan berani dia berdiri tegak membela Gereja Kristus, tidak plintat-plintut dalam mendengarkan suara hati, dalam sikap dan perilaku.

DOA: Tuhan Yesus, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 26, 2012

POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 27 Juni 2012 )

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama:2Raj 22:8-13, 23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:33-37,40

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirim pesan kepada Yesus dengan perantaraan dua orang murid-Nya apakah Dia adalah sang Mesias, Yesus sebenarnya dapat saja mengatakan secara sederhana dan singkat: “Ya”. Ternyata Yesus mengundang Yohanes Pembaptis untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dari kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Dengan perkataan lain, kepada Yohanes Pembaptis diberitahukan agar menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang telah diajarkan Yesus sebagai cara untuk membedakan antara nabi-nabi yang baik dan nabi-nabi palsu: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16).

Pengujian “buah-buah” merupakan suatu reality check yang baik juga bagi kita. Kita semua mengetahui bahwa kita seharusnya menjadi “terang dunia” (Mat 5:14). Namun kita juga tahu bahwa sekadar berbicara itu sangatlah mudah. Masalah sesungguhnya adalah, apakah tindakan-tindakan kita mendukung kata-kata yang kita ucapkan. Dalam kesaksian di dalam keluarga kita sendiri dan bagi dunia sekeliling kita, apakah terdapat kecocokan antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan secara nyata? Apabila kita adalah orangtua yang sedang membesarkan anak-anak, apakah kita mempraktekkan apa yang kita khotbahkan?

Apabila kita berbicara mengenai pembentukan nurani, ekspektasi, dan kebiasaan anak-anak kita, maka keteladanan orangtua itu penting secara unik. Akan tetapi, bagi anak-anak untuk benar-benar memahami pesannya, maka pesan itu juga harus dikomunikasikan oleh orang-orang dewasa lainnya. Jadi apabila diriku adalah seorang kakek, bibi atau paman, pendidik, atau sekadar seorang dewasa yang mempunyai keprihatinan terhadap generasi mendatang, apakah “buah-buah” dari teladan yang kuberikan itu konsisten dengan kata-kata yang kuucapkan? Apakah aku berdoa bagi kehidupan keluarga? Bagaimana pula dengan kontak-kontakku dengan tetangga-tetanggaku, para kolegaku di tempat kerja dan sahabat-sahabatku? Apabila aku ingin agar mereka mengetahui dan mengenal kebesaran kasih Allah, maka bagaimana penghayatan hidupku sehari-hari harus mengungkapkan hal itu? Terkait dengan pokok ini, Santo Bonaventura dan Beato Thomas dari Celano menulis tentang Santo Fransiskus dari Assisi seperti berikut: “Karena dia sendiri mempraktekkan lebih dahulu dalam perbuatan apa yang hendak dianjurkannya kepada orang-orang lain dalam khotbahnya, maka ia tidak takut akan pengecam dan mewartakan kebenaran dengan penuh keyakinan” (LegMaj XII:8; bdk. 1Cel 36).

Buah-buah yang baik berarti akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, juga dengan memperkenankan Dia memangkas kita layaknya ranting-ranting anggur. Dengan mempraktekkan cara mendengarkan secara aktif, kita dapat tetap menangkap bisikan Roh Kudus. Janganlah sampai kita mengabaikan suara-Nya ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau tinggalkan! Baiklah kita hidup dalam cara yang membuat kita saksi-saksi profetis di tengah dunia! Dengan demikian kita semua akan menghasilkan buah secara berlimpah – buah yang tetap (Yoh 15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Jun 22, 2012

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XI – Sabtu, 23 Juni 2012 )
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.
Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih dahulu mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34)
Bacaan Pertama: 2Kor 12:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:8-13
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya” (Mat 6:33). Ini adalah sebuah perintah Yesus yang mencakup area yang sangat luas. Namun bagaimana kita dapat mengatakan bahwa prioritas-prioritas kita tersusun sedemikian sehingga menyenangkan hati Allah? Kita dapat memulainya dengan melakukan pemeriksaan apa-apa saja yang mengambil waktu kita, pemikiran kita dan upaya-upaya kita.
Ada banyak hal yang sebenarnya saling bersaing untuk mendapat perhatian kita: keluarga, sahabat-sahabat, pekerjaan, paroki, orang-orang yang mempunyai kebutuhan, tujuan-tujuan kita, kerinduan-kerinduan kita. Selagi kita melakukan survei atas kehidupan kita, kita dapat merasa kewalahan karena begitu banyaknya tuntutan dan hasrat yang menyibukkan diri kita. Kita dapat melihat banyak yang baik, namun tidak sedikit juga yang tidak baik. Hal-hal kecil yang kurang/tidak penting dapat mengambil tempat yang terlalu besar dalam kehidupan kita, dan kita pun bertanya-tanya bagaimana kita akan dapat memenuhi harapan Yesus bahwa kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya … di atas segala urusan lain.
“Janganlah kamu khawatir” (Mat 6:31). Melalui Yesus, Allah telah mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing. Ia berdiam dalam diri kita dan tidak akan meninggalkan kita. Apabila kita berbalik kepada Roh Kudus untuk memperoleh pertolongan, Ia tentu akan memberdayakan kita. Ingatlah bahwa “justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi sempurna” (2Kor 12:9). Jika kita mengandalkan diri pada Roh Kudus, maka Dia akan membimbing kita setiap hari untuk memilih langkah-langkah kecil yang akan memimpin kita semakin dekat kepada Allah. Selagi kita bekerja sama dengan Roh Kudus, kita akan melihat Kerajaan Allah secara lebih nyata lagi dalam kehidupan kita. Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang dapat kita ambil:
§ Mulailah setiap hari dengan doa pribadi selama 10 sampai 15 menit. Mintalah Roh Kudus untuk menggerakkan anda, mengajar anda, dan membentuk anda.
§ Sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil, di mana Yesus dinyatakan sebagai Penebus kita dan juta sebagai model kehidupan yang tersedia bagi kita oleh Roh.
§ Jalani kehidupan anda sepanjang hari dengan kepercayaan penuh bahwa Allah mengetahui setiap hal yang anda alami, dan bahkan berbagai kesulitan dan godaan memainkan peranan dalam rencana-Nya bagi keselamatan anda.
§ Setiap malam, lakukan peninjauan kembali aas hari bersangkutan. Berterima kasihlah kepada Allah untuk berkat-berkat-Nya dan bertobatlah atas segala hal yang tidak berkenan di mata Allah. Dengan demikian, kita dapat memulai hari esok dengan suatu hati-nurani yang jernih.
DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku sepenuhnya bagi-Mu dan bagi kedatangan Kerajaan-Mu di tengah dunia. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, cabutlah sampai ke akar-akarnya segala hal yang merampas serta merebut tempat-Mu dalam kehidupanku. Amin.
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI


Oleh karena itu, hendaklah para anggota Ordo Fransiskan Sekular mencari Diri Kristus, yang hidup dan berkarya di dalam Gereja dan di dalam perayaan-perayaan liturgis. Inspirasi mereka dan pedoman penghayatannya terhadap Ekaristi hendaknya iman kepercayaan Fransiskus yang pernah berkata “Dari Putera Allah yang mahatinggi sendiri tidak kulihat sesuatu pun secara badaniah di dunia selain Tubuh dan Darah-Nya yang mahakudus”. (Anggaran Dasar OFS, Pasal II Artikel 5)

Ekaristi adalah satu dari lima pilar penunjang spiritualitas Fransiskan, empat lainnya adalah Inkarnasi, Sengsara Yesus, Kitab Suci dan Maria. Ekaristi adalah karunia/anugerah Allah yang terbesar, dalam arti memperkenankan umat untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Pendekatan terhadap Ekaristi yang saya usulkan adalah membayangkan diri kita seperti Simon Petrus yang berkata kepada Yesus beberapa saat setelah banyak dari murid Yesus pergi meninggalkan-Nya karena tidak sanggup mendengar ajaran-Nya yang keras: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

MENIMBA DARI KITAB SUCI

Renungkanlah beberapa nas Kitab Suci berikut ini. Percayakah anda, bahwa “baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang., atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:38-39)? Percayakah anda bahwa jalan menuju Allah selalu terbuka? Percayakah anda bahwa Roh Kudus “bergabung” dengan anda pada saat anda berdoa, selalu meyakinkan anda bahwa anda adalah seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya (Rm 8:16)? Percayakah anda bahwa Roh Kudus ada dalam diri anda, menunjukkan kepada anda bagaimana mengasihi Yesus dan menyenangkan-Nya (Yoh 16:13)? Percayakah anda bahwa Allah ada dalam diri anda, menolong anda berpikir dan memilih dan bertindak secara benar (Flp 2:13)?

Nas-nas Kitab Suci di atas menunjukkan kepada kita betapa Allah mengasihi kita. Nas-nas itu menunjukkan bagaimana Allah secara tetap bekerja untuk kepentingan kita, setiap hari Dia mengirimkan begitu banyak pemikiran-pemikiran yang mendorong, menyemangati, memberi inspirasi kepada kita. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa kerja Allah demi kepentingan kita.

Menjelang akhir hidup pelayanan-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada kepada-Ku” (Yoh 12:32). Dalam artian tertentu, janji ini dipenuhi setiap saat kita menerima Komuni Kudus (Ekaristi). Bilamana kita makan Roti Kehidupan, Allah Bapa kita menarik kita kepada Putera-Nya. Bagaimana Yesus menarik kita kepada diri-Nya? Dengan kasih tanpa syarat, belas kasih (kerahiman) tanpa batas, dan hikmat surgawi.

EMAUS

Perwahyuan (pewahyuan) adalah sepatah kata yang digunakan untuk menggambarkan karya Allah dalam memberi pencerahan pada pikiran kita dan memenuhi hati kita. Allah memiliki hasrat untuk memberi makan kepada kita dengan hikmat-Nya dan rahmat-Nya. Demikian pula hasrat-Nya untuk menyatakan/mewahyukan diri-Nya kepada kita dapat ditarik kembali ke awal-awal penciptaan. Peristiwa makan malam bersama di Emaus adalah sebuah contoh yang baik dalam hal ini.

Kisahnya adalah seperti berikut ini. Dalam perjalanan dari Yerusalem ke Emaus (berjarak 11 kilometer), Yesus berjalan bersama dua orang murid, namun mereka tidak sadar bahwa Dia adalah sang Guru karena mereka tidak mengenali Dia. Hanya setelah Ia melakukan pemecahan roti di sebuah rumah di Emaus, akhirnya Yesus menyatakan diri-Nya kepada mereka (Luk 24:30-31). Pada awalnya, Yesus berada bersama mereka, namun tetap tersembunyi: tak dapat dikenali. Seringkali, inilah kasusnya dengan kita. Kita mencari Yesus, namun kita tidak dapat melihat-Nya. Kita mencari Dia, namun kita tidak dapat menemukan-Nya. Kita mendengarkan sabda-Nya, namun kita tidak dapat mendengar Dia.

Kedua murid itu mempunyai keragu-raguan tentang kebangkitan dan Yesus mulai mengkonfrontir keragu-raguan itu. Yesus menggunakan Kitab Suci – mulai dari Musa – untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ditulis tentang Kristus akan menjadi kenyataan. Selagi Dia mengajar mereka, Yesus menarik kedua murid itu kepada-Nya. Kedua murid melihat Yesus, mereka menyentuh-Nya, dan mereka mendengar Dia berbicara/mengajar. Bahkan hati mereka pun berkobar-kobar ketika Yesus berbicara dengan mereka dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka (Luk 24:32). Namun demikian, mata dua orang murid itu baru terbuka ketika Yesus memberkati roti dan memecah-mecahkannya (Luk 24:31).

Yesus ingin mengajar kita semua. Ia ingin agar segalanya yang telah diajarkan-Nya kepada para rasul dan para murid-Nya yang awal, juga diajarkan kepada kita, melalui Roh Kudus. Yesus ingin memberikan kepada kita hikmat rahasia Allah, agar kita dapat memperoleh “pikiran Kristus” seperti dikatakan Paulus (1Kor 2:16). Kisah Emaus sungguh menakjubkan, namun tidak kurang menakjubkannya hari ini ketika mata kita dapat terbuka selagi roti biasa diubah menjadi tubuh Kristus dan dipecah-pecah untuk dibagikan kepada kita. Santo Fransiskus dari Assisi telah berjumpa dengan Kristus dalam Ekaristi sehingga dia dapat menulis dalam Wasiat-nya seperti dikutip dalam Anggaran Dasar OFS di atas (disahkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1978 dengan Bulla “Seraphicus Patriarca”): “Di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain tubuh dan darah-Nya yang mahakudus” (Wasiat, 10).

BEKERJA UNTUK ALLAH

Setelah dikenali oleh kedua murid itu, Yesus menghilang: “Ia lenyap dari tengah-tengah mereka” (Luk 24:31). Kemudian, apa yang terjadi dengan kedua murid itu? Kita tahu bahwa mereka baru saja melakukan perjalanan jauh yang penuh dengan pembicaraan yang penuh dengan tantangan pula. Tentunya mereka letih-lelah. Namun setelah Yesus menyatakan diri-Nya, dua orang murid itu malah tidak pergi tidur untuk beristirahat. Mereka justru langsung pergi kembali ke Yerusalem …… di tengah malam buta dan tanpa jaminan keamanan. Mereka bertemu dengan Simon Petrus dan para rasul/murid yang lain, lalu menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu Dia memecah-mecahkan roti (Luk 24:33-35).

Perjalanan kembali kedua murid di tengah kegelapan malam itu mengilustrasikan salah satu karya besar dari Ekaristi, yaitu mendesak dan memberdayakan kita untuk melayani Yesus. Setelah pemecahan roti di Emaus, kedua murid itu sedemikian penuh dengan sukacita sehingga mereka merasakan dorongan dan desakan untuk langsung pergi ke Yerusalem dan menceritakan kepada saudari-saudara mereka apa yang telah mereka alami. Yesus ingin meyakinkan kita semua bahwa Dia adalah Tuhan yang bangkit – teristimewa ketika kita menerima Hosti Kudus (Ekaristi). Bilamana mata kita terbuka dan kita melihat Yesus sebagaimana apa adanya Dia, kita pun dapat merasakan adanya desakan untuk melayani Dia.

Bilamana kita menerima dan makan daging-Nya sendiri yang diberikan oleh Yesus (lihat Yoh 6:25-59), maka kita akan merasakan desakan untuk pergi ke luar dari “zona kenyamanan” kita untuk mensyeringkan Yesus itu kepada orang-orang lain seturut bimbingan-Nya sendiri. Yesus ingin agar kita menjumpai berbagai macam orang, tanpa membeda-bedakan – baik miskin maupun kaya, baik berpendidikan maupun buta huruf, baik muda maupun tua usia. Ia ingin agar kita membawa setiap orang kepada-Nya, dengan penuh keyakinan bahwa Dia selalu beserta kita, membimbing kita dan memberdayakan kita, bahkan sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

Marilah kita membayangkan kembali kedua murid yang sedang dalam perjalanan mereka menuju Emaus dan Yesus (yang telah bangkit) bergabung dengan mereka. Andaikan Yesus menjelaskan Kitab Suci, namun mereka tidak tertarik. Mungkin salah seorang dari mereka sangat ingin untuk sampai ke rumah secepatnya dan yang lainnya sedang memikirkan sebuah tugas pekerjaan yang belum terselesaikan. Kalau begitu, apakah yang akan terjadi? Peristiwa ini mungkin tidak akan tercatat dalam Injil Lukas, karena tidak ada sesuatu yang istimewa telah terjadi.

Apabila kita tidak mendengarkan dengan penuh perhatian, maka kita tidak akan melihat Allah. Kita tidak akan mampu mengenali Dia – bahkan setelah kita memakan Roti Kehidupan itu. Jika kita tidak menghindarkan diri dari distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan), maka kita mengisi pikiran kita dengan urusan-urusan duniawi, bahkan dengan berbagai godaan yang datang menyerang. Dengan demikian kita membatasi apa yang ingin Yesus lakukan melalui diri kita, karena kita tidak menaruh perhatian atas bagaimana cara tubuh dan darah-Nya dapat mentransformir kita.

Hal negatif ini tidak terjadi pada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Mengapa? Mereka menaruh perhatian dengan benar, mereka mendengarkan dengan serius dan mereka taat. Yesus ingin melakukan hal yang sama pada diri kita semua. Ia ingin menyatakan diri-Nya selagi kita makan Roti Kehidupan, dan Ia ingin melihat kita memberikan segalanya kepada orang-orang lain yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita.

SANTO THOMAS MORE SANG PENCINTA YESUS DALAM EKARISTI

Santo Thomas More [1480-1535] yang kita peringati pada tanggal 22 Juni hari ini bersama Santo [Uskup] John Fisher adalah martir Inggris pada zaman pemerintahan raja Henry VIII, dan ia adalah Lord High Chancellor (semacam Perdana Menteri) dalam pemerintahan Inggris. Devosinya kepada Ekaristi dikenal banyak orang dan karya-karya karitatifnya pun luar biasa. Kecintaannya kepada Yesus dalam Ekaristi memang dapat dimaklumi karena petinggi pemerintahan ini adalah seorang anggota Ordo Ketiga Sekular dari Santo Fransiskus dari Assisi. Thomas More sangat senang apabila dia berkesempatan membantu dalam perayaan Misa Kudus sebagai seorang pelayan Misa, walaupun nota bene dia adalah seorang pejabat tinggi negara.

Kritik-kritik tajam dilontarkan oleh orang-orang yang mengatakan, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi kritik-kritik itu, Thomas More mengatakan bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya, dia akan mendekat kepada sang Juruselamat, meminta nasihat dan pencerahan dari-Nya. Yesus Kristua adalah tempat pelarian sang Perdana Menteri.

Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus, seorang petugas istana raja mendekati dirinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Baginda, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar dari beliau. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan segera menghadap Sri Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

Santo Thomas More tetap setia kepada Kristus dengan cara hidupnya, bukan sekadar lewat kata-katanya. Ia bertindak seperti apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (lihat Kis 1:1). Keseluruhan pribadinya, sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa dia adalah milik Kristus. Dia mengatakan: “Ada banyak orang yang membeli neraka dengan upaya yang begitu banyak, padahal dengan upaya yang separuh banyaknya sudah bagi mereka untuk memperoleh surga.” Seperti dikatakan di atas, Thomas More juga mengasihi Kristus lewat devosinya kepada Sakramen Mahakudus, menghadiri Misa Kudus secara harian dan melayani imam dalam Perayaan Ekaristi, dan tentunya dengan menerima Komuni Kudus secara teratur. Santo Thomas More berjumpa dengan Yesus dalam Ekaristi dan dia setia kepada Yesus Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja (lihat Ef 5:25 dsj.). Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus, sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhirnya kematian sebagai martir Kristus. Inilah “biaya kemuridan” (cost of discipleship) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

CATATAN PENUTUP

Kita sudah mencari Yesus Kristus, dan kita sudah bertemu dengan Dia dalam Ekaristi. Sebagai catatan penutup, marilah kita menyinggung sedikit pernyataan bahwa kita semua harus menjadi Ekaristi!

Setiap anggota Gereja adalah imam dan pada saat yang sama juga kurban. Hal ini disebabkan karena Yesus kepada siapa kita mempersatukan diri kita adalah imam dan sekaligus juga kurban. Persembahan diri kita dan Gereja tidak ada artinya tanpa Kristus; tidak kudus dan tidak pula dapat diterima oleh Allah. Akan tetapi persembahan Yesus tanpa persembahan Gereja, Tubuh-Nya, tidak akan mencukupi. Kebenaran pernyataan ini dikukuhkan dengan kata-kata Santo Paulus, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24).

Ekaristi membentuk Gereja. Ekaristi bukan hanya merupakan sumber dan penyebab dari kekudusan Gereja, namun juga merupakan model-nya. Umat Kristiani tidak dapat membatasi diri mereka sekadar untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri, mereka juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian Santo Thomas More dan banyak lagi saksi Kristus sepanjang masa: masuk gereja/kapel bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi, kemudian ke luar gereja menjadi Ekaristi bersama Kristus!

Jakarta, 22 Juni 2012

Sdr. F.X. Indrapradja. OFS

Rabu, Jun 20, 2012

ALLAH MENGINGINKAN RELASI PRIBADI DENGAN KITA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga – Kamis, 21 Juni 2012 )

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15)

Bacaan Pertama: Sir 48:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-7

Apabila anda sungguh ingin menyentuh hati Allah dalam doa anda, dengarlah petunjuk yang diberikan oleh Yesus: Yakinlah bahwa Bapamu sudah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Anda mengetahui bahwa bahkan seekor burung gereja tak akan jatuh ke tanah tanpa perkenanan Allah, maka anda pun dapat merasa pasti bahwa Bapa surgawi mengetahui apa yang anda butuhkan, bahkan sebelum anda memintanya.

Allah senang apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan. Ingatlah kekaguman Yesus atas iman seorang perwira Romawi yang datang kepada-Nya memohon kesembuhan bagi hambanya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10; Luk 7:9). Yesus sangat terkesan dengan perwira itu yang begitu mempercayai-Nya sehingga mengatakan bahwa Yesus tidak perlu datang ke rumahnya untuk membuat mukjizat kesembuhan. Jadi, karena Allah senang sekali memenuhi kebutuhan kita dan Ia telah merencanakan hal-hal yang baik bagi kita; Allah sungguh senang – amat senang, apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan bahwa Dia pasti menolong kita.

Allah sebenarnya ingin melakukan lebih daripada sekadar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dia ingin mempunyai suatu relasi dengan kita masing-masing secara pribadi. Itulah sebabnya mengapa Dia menciptakan kita pada instansi pertama untuk mengenal-Nya. Allah bukanlah seperti sebuah ATM, dari mana kita dapat menarik uang yang kita butuhkan. Karena kasih-Nya yang tak terhingga, Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia menebus manusia dan membawanya ke dalam relasi yang hidup dan dinamis dengan diri-Nya. Dia juga memberikan Roh-Nya agar dapat mengangkat kita ke hadapan takhta-Nya setiap kali kita berdoa.

Kita orang zaman sekarang menggunakan segala peralatan elektronik canggih – paling sedikit ponsel – untuk berhubungan dengan anggota-anggota keluarga kita sepanjang hari. Akan tetapi, Allah memberikan Putera-Nya sendiri dan mengutus Roh Kudus sehingga kita dapat berbicara kepada-Nya dengan lebih mudah daripada memakai sebuah ponsel. Apabila kita mengenal Allah secara pribadi, sebagai Bapa dan Sahabat, maka kita mulai merindukan kedatangan Kerajaan-Nya dan kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita mencoba cara-cara berdoa baru yang membuka pintu bagi suatu relasi dengan Dia. Marilah kita dengan segala kejujuran dan penuh kepercayaan menghadap Allah sebagai anak-anak-Nya dan sahabat-sahabat-Nya, dan mohon kepada-Nya agar dapat mengenal-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Bapa surgawi, aku sungguh mengasihi Engkau. Aku ingin mengenal Engkau secara pribadi. Aku tahu Engkau mengawasi aku dan memperhatikan diriku. Tunjukkanlah kepadaku pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku merindukan suatu kedekatan dengan-Mu, ya Bapa, Tuhan Allahku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 19, 2012

ALLAH ELIA ADALAH ALLAH KITA JUGA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 20 Juni 2012 )
Menjelang saatnya TUHAN (YHWH) hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal.
Berkatalah Elia kepadanya: “Baiklah tinggal di sini, sebab YHWH menyuruh aku ke sungai Yordan.” Jawabnya: “Demi YHWH yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu berjalanlah keduanya. Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungan Yordan. Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di atas tanah yang kering. Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.” Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan. Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah YHWH, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa. Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: “Roh Elia telah hinggap pada Elisa.” Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah. Mereka berkata: “Coba lihat! Di antara hamba-hambamu ini ada lima puluh orang laki-laki, orang-orang tangkas. Biarlah mereka itu pergi mencari tuanmu, jangan-jangan ia diangkat oleh Roh YHWH dan dilemparkan-Nya ke atas salah satu gunung atau ke dalam salah satu lembah.” Elisa menjawab: “Janganlah suruh pergi!” (2Raj 2:1,6-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-21,24; Bacaan Injil Mat 6:1-6,16-18

“Di manakah YHWH, Allah Elia?” (2Raj 2:14).

Seorang nabi yang membagi/membelah air sungai dan kemudian diangkat ke surga dengan kereta berapi yang ditarik oleh kuda berapi. Sungguh sebuah kisah yang hebat dan menakjubkan. Sayangnya hal-hal seperti tidak terjadi lagi pada zaman kita. Apabila ini reaksi anda, maka perlulah anda berpikir lagi. Allah Elia adalah Allah kita juga. Ia tetap memanggil orang-orang untuk hidup dan berbicara secara profetis, sehingga suara-Nya dapat didengar dan dikenali. Ibu Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes Paulus II adalah dua orang nabi zaman modern yang kata-kata dan tindakan-tindakannya akan hidup terus dan mempunyai efek dalam abad-abad mendatang.

Sebenarnya mukjizat-mukjizat masih terjadi sampai hari ini, walaupun tidak muncul dalam surat kabar atau media lainnya. Kehidupan Padre Pio penuh dengan mukjizat dan orang-orang biasa juga tidak jarang mengalami mukjizat-mukjizat juga. Sekitar 40 tahun lalu, seorang imam Yesuit yang sederhana di El Paso (negara bagian Texas, Amerika Serikat) yang berseberangan dengan Juarez di Meksiko (dipisah oleh sungai Rio Grande) di bawah bimbingan Roh Kudus bersama-sama beberapa orang awam dan seorang biarawati mendirikan sebuah komunitas untuk melayani orang-orang miskin, memberi makanan bagi mereka, mengunjungi penjara dsb. Seringkali terjadi mukjizat pada saat-saat mereka memberi makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Tempat persediaan gandum dan bahan-bahan lain selalu terisi sehingga dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan lapar. Ini adalah contoh konkret dari Allah Elia yang sedang bekerja!

Bahkan sekarang pun Allah Elia ingin bekerja dalam kehidupan kita (anda dan saya). Masalahnya sekarang, apakah kita sadar akan kehadiran-Nya dan panggilan-Nya? Melalui Roh Kudus-Nya, Ia ingin memperlengkapi kita menjadi Kristus bagi keluarga kita masing-masing, sahabat-sahabat, bagi kolega di tempat kerja dan bagi para tetangga kita. Seorang ibu dapat (memang tidak dilarang) menumpangkan tangan atas anaknya yang sedang sakit dan mohon agar Allah menyembuhkan penyakit anaknya itu. Seorang sahabat dapat mengucapkan kata-kata yang dapat mengubah hidup seseorang yang sedang mengalami stres berat, dapat menghibur seseorang yang sedang dilanda kesedihan, dapat menyemangati seseorang yang hampir putus-asa karena masalah keluarga yang pahit. Orang-orang yang menghadiri rapat, bahkan dalam rapat bisnis, juga dapat menerima hikmat Roh Kudus untuk berbicara dengan keyakinan moral.

Allah menginginkan kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Kerajaan-Nya karena Dia ingin memberikan kepada dunia banyak tanda kasih dan kerahiman-Nya. Sekarang, beranikah kita mengambil langkah iman.? Yang perlu kita lakukan adalah mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau meninggalkan kedosaan kita dan membuka hati kita bagi Roh-Nya. Allah Elia akan melakukan selebihnya.

DOA: Di manakah Engkau, Tuhan Allah Elia? Engkau ada di hatiku. Datanglah, Tuhan, dan buatlah mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya dalam dan melalui diriku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 18, 2012

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI - Selasa, 19 Jun 2012 )

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 1Raj 21:17-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,11,16

Dapatkah anda membayangkan bahwa pada suatu hari kelak anda masuk juga ke dalam surga, dan orang pertama yang anda temui di sana adalah orang yang paling anda tidak sukai ketika hidup di dunia? Bayangkanlah dengan serius! Ternyata Allah mengasihi orang itu dan memanggil dia kepada kesempurnaan juga. Atau, bagaimanakah dengan tokoh-tokoh jahat yang anda telah jumpai dalam Kitab Suci – seperti Firaun, Izebel, atau Raja Herodes? Mereka pun tidak berada di luar ruang lingkup niat-niat penuh kasih dari Allah! Apa yang diinginkan Allah bagi anda adalah juga yang diinginkan-Nya bagi orang yang menyusahkan anda, demikian pula dengan tiran-tiran yang paling buruk dalam sejarah – agar mereka “sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Ada satu lagi kejutan: Musuh anda dapat membantu anda bergerak maju untuk mencapai tujuan kesempurnaan yang terasa tidak mungkin. Begini ceritanya. Perintah kita untuk menjadi sempurna mengemuka langsung setelah penjelasan Yesus tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45). Dengan perkataan lain, apabila anda ingin menjadi sempurna, mulailah dengan mengasihi musuh-musuh anda.

Mungkin kita berpikir dan kemudian berkata seperti si penyanyi dangdut pria itu: “Terlalu!” Dilihat dari kacamata manusia memang “terlalu”, karena “mengasihi musuh-musuh kita” sungguh melampaui kekuatan manusiawi kita. Tidak mungkin menjadi kenyataan apabila Yesus tidak menderita dan wafat bagi kita. Dengan rahmat yang diperoleh-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, kita dapat mengikuti teladan cintakasih sempurna dan pengampunan yang diberikan Yesus dan mulai melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita bekerja sama dengan rahmat itu pada hari ini. Daripada kita memikirkan orang-orang yang bersalah kepada kita dan mulai mengumpat mereka dan berencana membalas dendam, jauh lebih benarlah apabila kita berdoa bagi mereka yang mendzolomi kita. Kita harus mengambil waktu untuk memikirkan apakah ada orang-orang lain juga yang harus kita kasihi secara lebih lagi. Mereka mungkin saja bukan “musuh” secara harfiah, melainkan orang-orang yang kita “tidak anggap”, “pandang rendah”, “pandang sebelah mata”, “lihat sebagai tidak pantas”.

Kita (anda dan saya) harus memulainya dengan orang-orang yang terdekat, yaitu yang tinggal dalam rumah dan teman-teman di tempat kerja kita. Kita harus memperhatikan apa saja yang muncul dalam pikiran kita segala kita membaca surat kabar, menonton televisi atau melihat sendiri seorang tuna wisma di tengah jalan yang ramai. Kita harus mohon pengampunan Allah bilamana kita menemukan kegagalan-kegagalan pribadi kita. Marilah kita membuka hati kita agar dapat menerima rahmat untuk suatu sikap yang lebih bermurah-hati. Apabila kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengasihi, maka kesempurnaan Tritunggal Mahakudus akan memancar dari dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur karena Engkau menciptakanku karena kasih dan demi kasih. Pada hari ini aku menerima rahmat-Mu yang mentransformasikan hidup dan mengambil satu langkah lagi menuju kesempurnaan seturut rencana-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Jun 16, 2012

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA


( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI – 17 Juni 2012 )

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10

 Pada suatu hari di bulan Desember yang dingin tahun 1955, seorang perempuan pekerja binatu yang bernama Rosa Parks (Rosa Louise McCauley Parks) naik ke dalam sebuah bis umum yang penuh di Montgomery, negara bagian Alabama, Amerika Serikat. Dalam bis ini berlaku peraturan segregasi, orang-orang dengan kulit berwarna tidak boleh duduk di kursi yang dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih. Rosa Parks mengambil tempat duduk yang diperuntukkan bagi orang-orang kulit putih. Ketika supir bis “memerintahkan” Rosa Parks untuk pindah tempat, dia mengatakan: “Tidak!”. Sebagai akibat tindakannya itu, Rosa ditahan, tangan-tangannya diborgol dan ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Insiden ini memicu Gerakan Hak-Hak Sipil (Civil Rights Movement). Di bawah kepemimpinan Ralph Abernathy dan Martin Luther King, Jr., diorganisasikanlah suatu pemboikotan bis dan demonstrasi-demonstrasi tanpa kekerasan, yang kita tahu kemudian membuahkan hasil, yaitu dihapuskannya hukum berkaitan dengan segregasi (boleh dibaca: diskriminasi) rasial dalam bidang transportasi, perumahan, sekolah, rumah makan dan bidang-bidang lainnya. Pada saat Rosa Parks secara lugas dan lugu menjawab “tidak” kepada Pak Supir bis, sebenarnya dia memulai sesuatu yang jauh lebih signifikan daripada apa yang mungkin dapat dibayangkan orang pada tahun 1955. Pada Freedom Festival di tahun 1965, Rosa Parks diperkenalkan sebagai First Lady of the Civil Rights Movement.

Cerita mengenai Rosa Parks ini dan keadaan yang menyedihkan dari orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat (terutama di negara-negara bagian di sebelah selatan yang justru terkenal dengan julukan the Bible belt) sangat serupa dengan situasi umat Allah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Baik nabi Yehezkiel maupun penulis Injil Markus menulis untuk sebuah komunitas yang sedang berada di bawah pengejaran dan penganiayaan, sebuah umat yang kalah dalam jumlah dan ditindas oleh orang-orang di sekeliling mereka yang tidak percaya.

Baik Yehezkiel maupun Markus menulis untuk meyakinkan para anggota komunitas termaksud, menguatkan iman-kepercayaan mereka pada kuat-kuasa Allah untuk menanamkan benih dan membuatnya bertumbuh menjadi sebatang pohon yang besar, tinggi dan kuat. Hal ini tidak banyak bedanya pada zaman modern ini. Dalam isu-isu tertentu kita, umat Kristiani, juga kalah dalam jumlah ketimbang lawan-lawan kita, misalnya dalam soal aborsi, perceraian, kesopan-santunan dalam entertainment di muka publik, dlsb. Seperti orang-orang Yahudi Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan dan orang-orang Kristiani awal di Roma, kita juga perlu diyakinkan, perlu dikuatkan, disemangati dalam iman-kepercayaan kita akan kuat-kuasa Allah untuk mengambil upaya-upaya kita yang kecil dan membuatnya bertumbuh menjadi suatu gerakan yang kuat-perkasa.

Yang diminta Allah dari diri kita adalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya dan mencoba. Dia akan menyelesaikan sisanya tanpa ribut-ribut namun dengan tekun, sehingga dengan demikian sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri akan dikalahkan oleh sikap dan perilaku untuk berbagi, kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, kebencian akan dikalahkan oleh kasih. Apabila kita memiliki kesabaran dan pengharapan, maka pada akhirnya panenan dari apa yang kita tanam akan bermunculan: bangsa-bangsa akan berdamai satu sama lain, hak-hak azasi manusia direstorasikan, anak-anak dan para perempuan akan terlindungi dari tindakan kekerasan, orang-orang lapar akan memperoleh makanan secukupnya, dlsb.

Jadi, betapa kecil pun upaya-upaya kita untuk memajukan cita-cita Kristiani, Allah akan melipat-gandakannya dengan kuat-kuasa yang tersembunyi untuk mendatangkan hasil-hasil yang luar biasa. Allah melakukannya bagi Yehezkiel dan Markus dan Rosa Parks. Kita harus percaya bahwa Dia dapat melakukannya lagi melalui diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu, dalam situasi apa pun yang kami hadapi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Jun 15, 2012

DARAH DAN AIR YANG MEMANCAR KELUAR DARI LAMBUNG-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS – Jumat, 15 Juni 2012 )

Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu hari yang besar – maka datanglah para pemuka Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Lalu datanglah prajurit-prajurit dan mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Orang yang melihat sendiri hal itu yang bersaksi dan kesaksiannya benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” Ada pula nas yang lain mengatakan, “Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam.” (Yoh 19:31-37)

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8-9; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Ef 3:8-12,14-19

“Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan” (Yes 12:3).

Oh, betapa indahnya hati Kristus! Sementara mengkontemplasikan hati-Nya yang tertikam, kita memperoleh gambaran yang kuat tentang kedalaman kasih dan belas kasih (kerahiman) yang dimiliki-Nya bagi kita. Pertimbangkanlah bagaimana Yohanes Penginjil harus bersusah payah dan menanggung kesedihan serta rasa sakit ketika dia berusaha meyakinkan para pembaca Injilnya tentang darah dan air yang mengalir keluar dari lambung Yesus setelah ditikam dengan tombak seorang serdadu. Bagaimana darah dan air dapat memancar keluar dengan penuh kekuatan seperti itu dari sesosok tubuh yang sudah begitu lemah? Bukankah kita semua mengharapkan beberapa tetes darah dan air saja?

Hati Yesus begitu terbakar dengan kasih berkobar-kobar bagi kita, sehingga dalam kematian-Nya Dia mencurahkan segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Yesus tidak menginginkan apa pun menghalangi kita masuk ke dalam pelukan penuh kasih Bapa surgawi. Dia tahu benar bahwa hanya kematian-Nyalah yang akan memberikan persatuan sedemikian. Oleh karena itu dengan gembira Dia memberikan hidup-Nya sendiri. Sekarang kita dapat mengeetahui dan mengenal seorang Bapa yang mengasihi kita dengan sangat mendalam. Sekarang kita dapat menerima kasih-Nya melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita.

Pada saat berdoa hari ini, bayangkanlah darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus bagaikan suatu lapisan pelindung. Apabila Bapa surgawi memandang kita, Dia akan melihat darah Putera-Nya, bukan dosa-dosa kita. Karena darah Kristus, kita tidak lagi dikotori dengan noda dosa. Diri kita dibuat menjadi putih seperti salju. YHWH bersabda lewat nabi Yesaya: “Sekali pun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Yesus menanggung hukuman yang seharusnya diperuntukkan bagi kita.

Marilah kita juga membayangkan “air” baptisan kita. Melalui air baptis kita dibersihkan dari noda “dosa-asal” dan kepada kita diberikan Roh Kudus. Kita dibuat menjadi anak-anak Allah dan warga Kerajaan Surga … menjadi “ciptaan baru”.

Secara khusus, pada hari yang istimewa ini, baiklah kita merenungkan kebenaran-kebenaran tentang “darah dan air” yang memancar keluar dari lambung Yesus. Kita senantiasa ada dalam hati-Nya dan Ia memang ingin kita selalu bersama-Nya. Darah-Nya menutupi kita dan tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan-Nya dalam diri kita. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan Yesus Kristus agar air kehidupan-Nya mengalir melalui diri kita pada hari ini dan hari-hari selanjutnya. Selagi kita melakukannya, maka orang-orang lain akan melihat dan bertanya dari mana damai-sejahtera dan sukacita itu datang kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Hati-Mu yang Mahakudus. Terima kasih untuk luka-luka di lambung-Mu yang telah memberikan kepada kami suatu kehidupan yang penuh. Terima kasih untuk cintakasih tanpa syarat yang telah Kautunjukkan kepada kami, lagi dan lagi. Berikanlah hati-Mu kepada kami, ya Tuhan Yesus, agar kami dapat saling mengasihi seperti Engkau mengasihi kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS