Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, April 28, 2017

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Katarina dari Siena, Perawan Pujangga Gereja – Sabtu, 29 April 2017) 
Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21) 
Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19 
Jika kita mengenang suatu peristiwa berbahaya yang pernah kita hadapi di masa lalu, maka kita akan langsung memahami pengalaman para rasul (murid) di atas perahu mereka di tengah-tengah air danau yang bergelora karena tiupan angin kencang. Situasi mencekam ini ditambah lagi dengan suatu pengalaman yang bukan biasa-biasa: “melihat seorang manusia sedang berjalan di atas air” yang sedang diterpa badai itu, dan orang itu sedang mendekati perahu mereka. Bayangkanlah, seandainya apa yang mereka sedang perhatikan itu sekali-kali diterangi oleh cahaya, kemudian gelap lagi seperti yang sering terjadi di atas panggung teater. Maka, tidak mengherankanlah apabila para murid Yesus itu ketakutan (Yoh 6:19). Semua itu seperti adegan dalam film thriller (horror?) saja!
Kita semua tentu mengenal benar rasa takut atau ketakutan itu – dari yang kecil-kecil sampai kepada rasa cemas yang melumpuhkan. Dalam Kitab Suci diungkapkan bahwa Iblis memanipulasi manusia melalui rasa takut kita akan maut. Misalnya, penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ menyatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15). Pemikiran bahwa ketakutan kita dapat membuka pintu bagi si Iblis untuk mengikat kita, sesungguhnya dapat lebih mengkhawatirkan kita lagi. Jadi, bagaimana cara yang terbaik bagi kita untuk mengatasi masalah ketakutan ini? Marilah kita kembali kepada Kitab Suci di mana tercatat bahwa Yesus, “model” kita, juga mengalami rasa takut: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7; bdk. Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Yesus selalu membiarkan rasa takutnya menggerakkan diri-Nya kepada doa yang lebih mendalam dan iman yang lebih kuat lagi kepada Bapa-Nya (lihat Yoh 12:27-28).
Nah, Yesus menginginkan agar kita pun memiliki iman yang sama kepada kemampuan Bapa surgawi untuk melindungi kita. Tanpa iman ini kita tetap akan tetap terikat oleh ketakutan dan kecemasan. Lebih parah lagi, tanpa iman kepada ‘seorang’ Allah yang mengasihi, maka pada akhirnya kita hanya dapat mengandalkan segalanya kepada diri kita sendiri. Dan semakin lama kita hidup, semakin sadar pula kita akan betapa rentan diri kita ini. Ujung-ujungnya kita dilanda rasa takut terhadap kondisi kesehatan kita, “keamanan” keuangan (financial security) kita, orang-orang dalam kehidupan kita, apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang diri kita, dlsb.
Barangkali kita merasa terperangkap dalam suatu situasi tanpa harapan, dan tidak ada seorang pun yang mau dan mampu menolong kita. Bukankah situasi kita yang seperti ini tidak banyak berbeda dengan yang dihadapi oleh para murid Yesus seperti digambarkan dalam bacaan kita hari ini? Barangkali pemikiran bahwa Allah berada di tengah-tengah angin ribut pun menakutkan bagi kita. Apa pun yang ada dalam pikiran kita, marilah kita mencoba menenangkan hati kita dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan Yesus: “Inilah Aku, jangan takut!” (Yoh 6:20). Undanglah Yesus ke dalam “perahu kehidupan kita”, maka Ia akan membawa anda ke pantai dengan selamat (lihat Yoh 6:21).
DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku yang sedang mengalami badai kehidupan ini. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu. Naiklah masuk ke dalam perahu kehidupanku, tenangkanlah pikiranku dan bawalah aku dengan aman ke pantai yang dipenuhi dengan damai-sejahtera dan sukacita dari-Mu. Amin.
Sumber :

Tiada ulasan:

Catat Ulasan