Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Julai 31, 2012

KITA ADALAH HARTA YANG SANGAT BERNILAI DI MATA YESUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup & Pujangga Gereja – Rabu, 1 Agustus 2012 )

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ah, begitu seringnya kita mendengar perumpamaan ini! Setiap kali kita mendengar dua perumpamaan yang dikemas menjadi satu paket ini, maka kita membayangkan diri kita sebagai pemburu harta-karun, yang setelah berjumpa dengan Yesus, menyerahkan segalanya yang kita miliki lalu mengikut Dia. Hal ini tentunya sah-sah saja … tidak salah! Namun demikian, pernahkah kita membayangkan bahwa diri kita sendirilah harta yang ditemukan oleh Yesus? Seperti harta yang terpendam di dalam tanah, kita pun berlumuran kotoran berupa dosa-dosa dan juga diliputi kegelapan. Begitu menemukan kita – si manusia pendosa – Yesus melepaskan segala kekayaan-Nya yang dipenuhi kemuliaan untuk membuat kita milik-Nya sendiri. Begitu berharga kita ini bagi Yesus!

Kita dapat merasa “kikuk dan nggak enak” bila melihat diri kita sendiri sebagai harta sangat bernilai, teristimewa apabila mengingat segala dosa dan kelemahan serta kekurangan kita. Bagaimana seseorang – apalagi sang Putera Allah yang maha sempurna – mengasihi kita dengan intensitas sedemikian? Mengapa Dia, yang dapat melihat hati manusia yang terdalam, mau-maunya menyusahkan diri untuk menolong, untuk menyelamatkan kita?

Seorang imam-teolog besar abad ke-20, Romano Guardini [1885-1968] menulis: “Allah mungkin saja adalah ‘Dia yang melihat’, namun tindakan-Nya untuk melihat adalah suatu tindakan kasih. Dengan tindakan melihat-Nya, Dia merangkul ciptaan-Nya, menegaskan (memberikan afirmasi) kepada mereka, dan mendorong serta menyemangati mereka, karena Dia tidak membenci satu pun dari yang telah diciptakan-Nya … Kegiatan melihat-Nya … menyelamatkan mereka dari degenerasi dan pembusukan” (The Living God, hal. 41-42).

Selagi kita terkubur dalam gundukan tanah dosa-dosa kita, diselubungi dengan kekerasan hati kita, Yesus memandang kita dan melihat harta yang tak ternilai harganya. Ia melihat kebaikan dari yang diciptakan-Nya, dan Ia melihat kebutuhan-kebutuhan kita yang lebih sejati dan lebih mendalam. Inilah yang menarik diri-Nya kepada kita dan menggerakkan diri-Nya untuk mengasihi kita. Apabila kita menanggapi dengan memindahkan arah pandangan kita kepada-Nya, maka kasih-Nya kepada kita akan berkobar-kobar (bdk. Kid 4:9).

Oleh karena itu, janganlah kita menahan diri dari kasih Allah. Kasih Allah adalah kasih yang bergembira dalam kebaikan kita. Kasih Allah adalah kasih yang memanggil kita kepada kekudusan yang lebih lagi dan ingin menganugerahkan segala hal yang baik kepada kita. Bapa surgawi sesungguhnya rindu untuk melihat restorasi terwujud sepenuhnya dalam diri kita masing-masing. Itulah sebabnya mengapa Dia memanggil kita untuk berada di samping-Nya dan Ia pun dengan tak henti-hentinya akan memurnikan kita semua dalam api kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, Aku sungguh merasa tak pantas untuk menerima cintakasih-Mu kepadaku, namun aku ingin menjadi milik-Mu. Satukanlah diriku dengan diri-Mu, ya Tuhan, agar dengan demikian aku menjadi serupa dengan diri-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Julai 30, 2012

BELAS KASIH DAN BELA RASA NABI YEREMIA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dari Loyola – Selasa, 31 Juli 2012 )

Katakanlah perkataan ini kepada mereka: “Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tidak berhenti-henti, sebab anak dara, puteri bangsaku, dilukai dengan luka parah, luka yang sama sekali tidak tersembuhkan. Apabila aku keluar ke padang, di sana ada orang-orang yang mati terbunuh oleh pedang! Apabila aku masuk ke dalam kota, di sana ada orang-orang sakit kelaparan! Bahkan, baik nabi maupun imam menjelajah negeri yang tidak dikenalnya.” Telah Kautolakkah Yehuda sama sekali? Telah merasa muakkah Engkau terhadap Sion? Mengapakah kami Kaupukul sedemikian, hingga tidak ada kesembuhan lagi bagi kami? Kami mengharapkan damai sejahtera, tetapi tidak datang sesuatu yang baik; mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi hanya ada kengerian! Ya TUHAN (YHWH), kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yanhg dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya YHWH Allah kami, Pengharapan kami yang membuat semuanya itu? (Yer 14:17-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Mat 13:36-43

Yeremia adalah seorang nabi yang patah hati dan ia menyampaikan pesan-pesan yang membuat pada pendengarnya patah hati juga. Barangkali atas dasar inilah ia dinamakan “nabi yang menangis”. Ia bernubuat dari kurang lebih tahun 626 sampai 580 SM – suatu periode di mana kerajaan Yehuda di bawah pimpinan raja Yosia (640-609 SM) melakukan reformasi keagamaan sampai kehancurannya dan pembuangan. Yosia tewas dalam pertempuran di Megido. Selama tahun-tahun itu, Yeremia mengingatkan bangsanya akan datangnya penghakiman Allah dan berseru agar mereka bertobat dari dosa-dosa dan kembali kepada YHWH-Allah. Seperti ekspektasi kita, pesan sang nabi tidak diterima dengan baik, katakanlah “tidak digubris”, bahkan Yeremia sendiri diperlakukan dengan buruk oleh bangsa Yahudi. Dia dihina di depan umum, malah sampai mau dibunuh.

Selama drama kehidupannya, Yeremia tetap setia kepada YHWH-Allah dan bersatu dengan Yehuda dan bangsanya. Dia tidak menghakimi atau membenci mereka atas ketidaksetiaan mereka, yang mengancam negeri mereka sampai jatuh berantakan. Walaupun dirinya bersih, dia tetap mengindentifikasikan dirinya dengan bangsanya. Dia berdoa dengan ketulusan hati yang sangat menyentuh perasaan: “Ya TUHAN (YHWH), kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu” (Yer 14:20). Pesan-pesan kenabiannya keras, namun diiringi dengan air mata bela-rasa dan cintakasih dari sang nabi.

Mungkinkah bela-rasa dan cintakasih Yeremia terhadap bangsanya membuat Allah memutuskan untuk meninggalkan sisa-sisa di Yerusalem dan pada akhirnya membawa orang-orang balik kembali dari pembuangan? Apapun ceritanya, kita tidak dapat menyangkal bahwa sedikit saja belas kasih dapat berdampak panjang dan jauh.

Sekarang, adakah seseorang dalam kehidupan anda yang membutuhkan belas kasih anda? Adakah seseorang yang anda cenderung hakimi dan menuduhnya karena mereka tidak hidup dengan cara yang menurut anda benar dan sepatutnya? Sebagaimana nabi Yeremia, kita (anda dan saya) pun dapat belajar berbicara kebenaran namun pada saat bersamaan juga menunjukkan belas kasih dan bela-rasa. Kita harus menjauhkan diri dari rasa dendam, penolakan dan keangkuhan. Semua itu hanya akan membuat orang semakin terpaku dalam keterikatan mereka. Seperti Tuhan Allah yang kita sembah, kita pun harus mengampuni setiap orang, bahkan mereka yang mendzolimi diri kita (lihat Mat 6:12). Ingatlah, dengan pertolongan Allah kita dapat melakukan apa saja, bahkan yang kelihatannya mustahil (bdk. Luk 1:37; Kej 18:14) – termasuk memperbaiki relasi yang sudah nyaris rusak. Marilah kita pada hari ini secara khusus merenungkan dalam suasana doa, apa makna dari kata-kata “belas kasih/kerahiman” (mercy)dan “bela-rasa” (compassion). Kita juga mohon kepada Allah agar diberikan segala anugerah yang dibutuhkan untuk dapat meneladan nabi Yeremia, karena sesungguhnya dunia dan Gereja masih memerlukan nabi-nabi.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah hatiku dengan hasrat untuk melakukan rekonsiliasi dan keberanian untuk memulai proses penyembuhan diriku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, kemampuan untuk merasakan betapa besar belas kasih-Mu kepada diriku, dengan demikian aku dapat menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang lain – teristimewa mereka yang telah menyakiti diriku. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Julai 28, 2012

LIMA ROTI JELAI DAN DUA EKOR IKAN

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII – 29 Juli 2012 )
Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15).

Bacaan Pertama: 2Raj 4:42-44; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-11,15-18; Bacaan Kedua: Ef 4:1-6

Peristiwa yang digambarkan dalam bacaan Injil hari ini terjadi di Tiberias, kota wisata indah yang terletak di bagian barat Danau (Laut) Galilea. Pada waktu itu sudah musim/masa Paskah Yahudi dan Yesus melihat sejumlah besar orang mendatangi-Nya. Kiranya hal itu mengingatkan Dia akan orang-orang Yahudi yang dalam jumlah besar mengikuti Allah mereka ke luar dari tanah Mesir sekitar 12 abad sebelumnya, yang di tengah padang gurun diberi makan setiap pagi dengan roti manna yang turun dari langit. Sekarang, memandang Filipus yang berdiri di dekat-Nya, Yesus minta pendapatnya bagaimana memberi makan roti kepada orang banyak yang sudah begitu letih. Filipus menanggapi pertanyaan Yesus itu dengan mengatakan bahwa ide memberi makan orang banyak itu tidaklah praktis: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yoh 6:7).

Mungkin seorang anak laki-laki mendengar pembicaraan antara Yesus dan Filipus, oleh karena itu dia mengatakan kepada rasul Andreas bahwa Yesus dapat mengambil makan siangnya (terdiri dari 5 roti jelai dan 2 ekor ikan) apabila hal tersebut akan membantu. Kiranya Andreas tersenyum atas kenaifan anak kecil itu, namun rasul ini sungguh terkesan dengan kemurahan-hati sang anak yang sepintas terlihat sebagai suatu kebodohan. Maka, Andreas langsung menyampaikan informasi tentang tawaran anak kecil ini kepada Yesus, namun mungkin sekali untuk tidak dicap goblok juga, dia menambahkan kata-kata berikut ini: “… tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh 6:9). Cukup mengagetkan bahwa Yesus senang dengan tawaran si anak. Ia menerima pemberian anak itu dan menggunakannya untuk memberi makan kepada kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya (artinya jumlah yang aktual jauh lebih besar karena ada juga para perempuan dan anak-anak yang hadir).

Pemberian anak laki-laki itu tidak berarti …… tidak signifikan! Tetapi, adakah pemberian atau persembahan kurban manusia yang sungguh berarti bagi Allah, sang Khalik langit dan bumi? Bukan ukuran besar-kecilnya pemberian atau persembahan, bukan pula nilai suatu pemberian yang penting, apakah diukur dengan uang atau dengan menggunakan tolok-ukur lainnya, melainkan cintakasih dan spontanitas seperti yang mendasari pemberian si anak. Ingatlah bagaimana terkesannya Yesus ketika menyaksikan persembahan dari seorang janda miskin di Bait Allah (Mrk 12:41-44; Luk 21:1-4). Ia memuji secara terbuka iman-kaya yang melekat pada pemberiannya yang menurut mata manusia itu kecil.

Tuhan Yesus mampu melakukan mukjizat-mukjizat atas persembahan-persembahan kecil yang diberikan dengan ketulusan hati dan kasih yang sejati. Akan tetapi, pemberian-pemberian dalam nama-Nya untuk memberi kesan positif kepada orang-orang lain kelihatannya tidak masuk hitungan bagi Yesus. Kita semua sebenarnya mempunyai banyak pemberian indah untuk diberikan. Sekarang, siapa misalnya yang dapat menyediakan beberapa menit untuk berdoa kepada-Nya setiap hari? Ada pribadi-pribadi yang memiliki talenta untuk melakukan pelayanan istimewa, misalnya menjadi lektor, memimpin paduan suara, main organ, membantu dalam kegiatan bina iman anak-anak, membantu orang-orang cacat. Singkatnya, ada begitu banyak pelayanan yang dapat dilakukan secara sukarela oleh kita sebagai umat awam – pada berbagai tingkat komunitas Kristiani – lingkungan, wilayah, paroki, dekenat, keuskupan dst., asal ada kemauan tentunya.

“Roti” yang kecil-kecil ini dilipat-gandakan secara spiritual untuk memberi makanan kepada jiwa-jiwa yang lapar. Tuhan Yesus dapat mengubah tempayan-tempayan yang berisi air menjadi anggur kelas satu (Yoh 2:1-11), dan juga anggur dalam cawan menjadi darah-Nya sendiri yang memberikan kehidupan (lihat Luk 22:20 dan ayat-ayat padanannya dalam Mat dan Mrk).

Dalam bacaan Injil hari ini tersirat sebuah pesan: Tambahkanlah berkat-Nya atas pemberian kecil tak berarti (5 roti jelai dan 2 ekor ikan), maka cukuplah makanan untuk ribuan orang! Hal ini terjadi di El Paso, Texas dan saya yakin terjadi di banyak tempat juga, termasuk di negara kita tercinta ini. Terlalu banyak anak bangsa yang berkekurangan dan menanggung lapar di banyak bagian negara kita … dan tidak sedikit “janda dari Sarfat” (lihat 1Raj 17:7-24) hidup dalam masyarakat, mungkin juga ada yang tinggal di lingkungan RT atau RW kita sendiri. Masing-masing kita dapat melakukan sesuatu seperti yang telah dicontohkan oleh si anak yang berbekal makan siang “lima roti jelai dan dua ekor ikan” itu.

Si anak yang karena kemurahan hatinya memberikan makan siangnya, sekarang mempunyai jauh lebih banyak makanan daripada yang dapat dimakannya sendiri, bahkan semua orang dapat makan sampai kenyang. Dan, ada sisa yang begitu banyak lagi! Yesus memang tidak ada tandingannya dalam segala hal, termasuk kemurahan-hati. Dia adalah Tuhan Allah yang mahalain!

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau senantiasa melipatgandakan pemberianku yang kecil dan tak berarti di mata manusia, namun Engkau membuatnya menjadi bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih Yesus, aku sungguh mengasihi Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Julai 27, 2012

PERBAIKILAH TINGKAH LANGKAHMU DAN PERBUATANMU


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 28 Julai 2012 )

Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN (YHWH), bunyinya: “Berdirilah di pintu gerbang rumah YHWH, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman YHWH, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada YHWH! Beginilah firman YHWH semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait YHWH, bait YHWH, bait YHWH, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah. Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini! Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman YHWH. (Yer 7:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11; Bacaan Injil: Mat 13:24-30

Kita semua mempunyai cara yang agak “lucu” dalam mencari keamanan dalam hal-hal yang sesungguhnya tidak dapat menjamin keamanan. Dalam pencaharian kita akan “sesuatu pegangan”, kita berpaling kepada berbagai rutinitas, jadual, rituale, dan berbagai objek serta tempat yang familiar. Tidak semua hal itu buruk, namun akan menjadi masalah besar apabila hal-hal itu mengambil tempat yang sebenarnya diperuntukkan bagi Allah dalam kehidupan kita. Menjadi berhala!

Inilah yang terjadi dengan umat Israel pada zaman Yeremia. Mereka percaya pada Bait Suci, … bait YHWH, namun mereka mengabaikan relasi dengan Dia yang semestinya dihormati dan disembah di tempat suci tersebut. Mereka juga mengabaikan hubungan mereka dengan orang-orang miskin yang begitu dikasihi oleh-Nya. Tanda-tanda eksternal keagamaan mereka memberikan rasa aman yang keliru, yang memimpin mereka untuk berpikir bahwa mereka dapat mengabaikan panggilan Allah untuk keadilan dan tetap selamat. Nabi Yeremia mengingatkan mereka: “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait YHWH, bait YHWH, bait YHWH, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing” (Yer 7:4-5). Dengan perkataan lain, apabila kita sungguh ingin selamat, maka kita harus membersihkan bait/kenisah diri kita masing-masing (bdk. 1Kor 3:16; 6:19; 2Kor 6:16) agar Allah dapat sungguh berdiam di dalamnya.

Kita melihat bahwa orang-orang Israel telah membuat sesuatu yang sungguh kudus – Bait Suci dan ritualenya – menjadi berhala. Bukankah kita pun kadang-kadang melakukan hal yang serupa? Bukankah “mengagumkan” apabila kita melihat bagaimana Iblis dengan “lihai-licin” mempengaruhi pikiran kita dengan menggunakan “kebenaran setengah-setengah” atau “kebenaran-kebenaran parsial” untuk meyakinkan kita bahwa Allah sesungguhnya tidak dapat diandalkan, sehingga kita harus menaruh rasa percaya pada sesuatu yang lain daripada Allah? Itulah sebabnya, mengapa doa dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci bersifat sangat vital. Semua ini memberikan kesempatan kepada Roh Kudus untuk membisikkan kebenaran-kebenaran Allah ke dalam hati kita – kata-kata cintakasih, hikmat-kebijaksanaan, arahan dan koreksi. Lalu kita pun dikuatkan dan senantiasa berjaga-jaga dalam menghadapi si Iblis yang “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8).

Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk mengajar kita apa yang sesungguhnya berarti bagi Allah dan apa yang sesungguhnya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kita. Marilah kita belajar untuk menaruh kepercayaan kita pada Allah saja!

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku untuk dapat mengenali perbedaan antara suara-Mu dan suara Iblis dan /atau roh-roh jahat pengikutnya. Tunjukkanlah kepadaku apa yang sesungguhnya berarti dalam kehidupan ini. Dengan demikian aku tidak akan mencari keamanan dalam hal-hal eksternal, melainkan pada-Mu saja. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Julai 26, 2012

UMAT YANG AKAN DATANG DI SION


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Jumat, 27 Juli 2012 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan Beata Maria Magdalena Martinengo, Perawan

Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN (YHWH), karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion. Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. Apabila pada masa itu kamu bertambah banyak dan beranak cucu di negeri ini, demikianlah firman YHWH, maka orang tidak lagi akan berbicara tentang tabut perjanjian YHWH. Itu tidak lagi akan timbul dalam hati dan tidak lagi akan diingat orang; orang tidak lagi akan mencarinya atau membuatnya kembali. Pada waktu itu Yerusalem akan disebut takhta YHWH, dan segala bangsa akan berkumpul ke sana, demi nama YHWH ke Yerusalem, dan mereka tidak lagi akan bertingkah langkah menurut kedegilan hatinya yang jahat. (Yer 3:14-17)

Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13; Bacaan Injil: Mat 13:18-23

Bagi orang-orang Israel kuno, “tabut perjanjian YHWH” (Yer 3:16) adalah tanda yang kelihatan dari kehadiran Allah di tengah mereka – sebuah benda konkret yang dipandang sebagai sesuatu yang begitu kudus sehingga tidak seorang pun dapat menyentuhnya, kalau dia tidak mau mati. Ingatlah apa yang terjadi dengan Uza pada waktu Tabut sedang dipindahkan ke Yerusalem (2Sam 6:6-7). Kotak yang terbuat dari kayu dan berisikan loh batu yang memuat “Sepuluh Perintah Allah” itu merupakan kebanggaan dan sukacita orang Israel. Namun kemudian Tabut itu menghilang ketika Yerusalem diporak-porandakan oleh orang-orang Babel pada abad ke-6 sebelum Kristus. Dengan hilangnya Tabut, hilang pula pengharapan orang-orang Israel untuk melihat kehadiran kudus Allah direstorasi di tengah-tengah mereka.

Nah, dilatar-belakangi oleh hal inilah nabi Yeremia bernubuat bahwa Allah akan menyatakan kembali kehadiran-Nya melalui sesuatu yang jauh lebih besar daripada Tabut. Ia akan mengumpulkan umat-Nya yang tercerai-berai ke dalam kota suci Yerusalem. Yerusalem sendiri akan menjadi “takhta YHWH” (Yer 3:17). Di sana YHWH-Allah akan membuang kejahatan ke luar dari hati orang-orang dan memberikan kepada mereka hati yang baru yang penuh kasih dan pengampunan. Kesatuan mereka akan menunjukkan rahmat penyembuhan Allah dan kehadiran-Nya yang menyelamatkan bagi seluruh dunia.

Bagi kita, umat Kristiani, janji restorasi ini juga menunjuk kepada suatu realitas surgawi: Yerusalem Baru di atas sana, Yerusalem surgawi, ibu semua orang Kristiani (Gal 4:26), yang sudah hadir di atas bumi sebagai Gereja. Yesus datang untuk mempersatukan segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi (Ef 1:10). Gereja-Nya berdiri tegak sebagai tanda yang kelihatan dari kehadiran-Nya yang menyelamatkan dan kesatuan yang diinginkan Allah dari kita semua. Sebagai anggota-anggota Gereja, kita berkewajiban untuk mempraktekkan kesatuan ini dalam kehidupan kita sehari-hari dan membawa pesan rekonsiliasi dan damai-sejahtera dari Injil ke tengah dunia.

Bagaimana kita dapat melaksanakan tugas yang begitu besar dan agung? Jawabnya: melalui tindakan-tindakan sehari-hari kita yang kecil-kecil, kita dapat membawa persatuan dan kesatuan yang begitu dihargai oleh Allah. Misalnya, kita (anda dan saya) dapat menghibur seorang sahabat yang sedang bersedih karena baru kehilangan pasangan hidup mereka atau seseorang yang sangat dikasihi. Kita juga dapat datang ke panti jompo dlsb. Kita dapat mulai mengampuni musuh-musuh kita, atau orang-orang yang mendzolimi kita. Kita dengan lebih serius lagi memperlakukan orang yang kurang beruntung dengan belas kasihan dan bela-rasa. Ingatlah bahwa kobaran api yang besar juga dimulai dengan percikan api yang kecil. Allah telah menempatkan api kasih-Nya di dalam hati kita masing-masing. Biarlah api kasih itu semakin berkobar dan perkenankanlah Roh Kudus untuk menarik kita agar semakin bersatu – satu sama lain dengan saudari-saudara kita lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah api kasih-Mu menghanguskan aku (bdk. Mzm 69:10; Yoh 2:17), dengan demikian aku dapat menjadi sebuah saluran damai-sejahtera dan kesatuan bagi orang-orang yang ada di sekelilingku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Julai 25, 2012

AYAH DAN IBU DARI BUNDA MARIA


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Kamis, 26 Juli 2012 )

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.
Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Yoakim dan Santa Anna, orangtua dari SP Maria, artinya kakek-nenek Yesus dari Nazaret dari pihak ibu. Nama mereka tidak ada dalam daftar nenek-moyang Yesus Kristus, baik dalam Injil Matius maupun Injil Lukas. Dalam kedua silsilah tersebut hanya para leluhur/karuhun dari pihak Yusuf saja yang disebut. Namun dalam tulisan-tulisan yang tidak termasuk kanon, yang kebetulan ada dalam perpustakaan pribadi saya, nama-nama mereka muncul: (1) Dalam “Injil Kelahiran Maria” (Inggris: The Gospel of the Birth of Mary); dan (2) dalam THE PROTOEVANGELION BY JAMES THE LESSER, COUSIN AND BROTHER OF THE LORD JESUS; keduanya terdapat dalam THE LOST BOOKS OF THE BIBLE, New York: New American Library, 1974 (asli:1926). Tulisan kedua di atas juga terdapat dalam Ron Cameron (Editor), THE OTHER GOSPELS dengan judul THE PROTEVANGELIUM OF JAMES, Philadelphia: The Westminster Press, 1982.

Dalam Proto-Injil Yakobus (PIY) ini diceritakan kelahiran Maria yang ajaib. Keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” seperti ini adalah sejalan dengan data Perjanjian Baru, yaitu untuk menunjukkan bahwa Maria mempunyai sebuah tempat istimewa dalam sejarah Allah dengan manusia. “Legenda”/”tradisi” ini menggambarkan Yoakim dan Anna yang saling terikat oleh cinta sejati. Mereka adalah orang-orang yang takut akan Allah dan kaya. Untuk jangka waktu lama mereka tidak dianugerahi anak (seperti kasus Samuel dan Yohanes Pembaptis). Tidak mengherankanlah apabila para tetangga mencurigai bahwa ada yang tidak benar dalam kesalehan hidup mereka. Seperti kita ketahui, dalam Perjanjian Lama, tidak dikaruniai anak dinilai sebagai suatu penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yoakim dan Anna sangat sedih karena semua itu. Mereka mengaduh di hadapan Allah tentang ketiadaan anak yang mereka alami. Yoakim melakukan “retret” selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun, melakukan pertobatan di hadapan Allah melalui puasa dan doa. Yoakim berkata: “Aku tidak akan makan atau minum sampai Tuhan Allahku mengunjungi aku; doa akan menjadi makanan dan minumanku” (PIY 1:4). Di sisi lain Anna meratapi situasi ketiadaan anaknya di hadapan YHWH-Allah seperti yang dilakukan oleh Hana ibu Samuel. Akhirnya, Allah melakukan intervensi.

Lewat malaikat Tuhan, Yoakim dan Anna menerima janji Allah bahwa mereka akan memperoleh seorang anak. Berita tersebut membuat ke dua orang tersebut penuh sukacita dan saling bertemu lagi. “Reuni” pasutri ini digambarkan dengan indah dan mengharukan dalam Proto-Injil Yakobus. Saya mencatat sebagian kecil saja: Anna sudah menunggu di pintu gerbang ketika Yoakim datang dengan kawanan hewan peliharaannya. Anna berlari mendapatkan suaminya itu, merangkulnya dan berkata: “Sekarang aku tahu bahwa Tuhan Allah sangat memberkatiku; karena lihatlah si janda tidak lagi seorang janda, dan aku yang dikatakan seorang mandul, telah mengandung [akan mengandung]” (PIY 4:4). Keesokan harinya Yoakim mempersembahkan kurban kepada Allah di Bait Suci (PIY 5:1). Sembilan bulan setelah Yoakim menghampiri Anna, lahirlah Maria. Maria dilahirkan secara ajaib dari seorang perempuan yang telah dinyatakan mandul, demikian pula dia kelak akan melahirkan secara ajaib ke dalam dunia Putera Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat semua bangsa.

Sekali lagi saya kemukakan di sini bahwa keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” ini adalah jelas untuk menyatakan bahwa Maria dipilih oleh Allah secara istimewa, dan ia mempunyai suatu tugas yang khusus dalam sejarah keselamatan. Yoakim dan Anna hanya sekadar tokoh-tokoh di belakang layar. Namun demikian, pasutri ini tidak begitu saja menghilang karena mereka digambarkan sebagai orang-orang kudus dalam pengertian Perjanjian Lama, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh.

Iman pasutri ini akan Allah juga dinyatakan dalam tindakan mereka menyerahkan Maria ketika berumur tiga tahun ke Bait Suci (PIY 7:2) untuk memenuhi janji yang dibuat Anna sebelum kelahiran Maria (PIY 4:1) dan memperkenankan anak itu tinggal dalam Bait Suci. Pasutri Yoakim dan Anna dengan penuh kemurahan hati mempersembahkan kepada Allah apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Yoakim dan Anna setia pada Allah bahkan ketika mengalami ujian atas iman-kepercayaan mereka. Mereka mengambil tempat yang layak dalam sejarah keselamatan – sebagai orangtua Maria!

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna ini, berkatilah secara khusus para pasutri dalam keluarga-keluarga Kristiani, teristimewa mereka yang tidak/belum dianugerahi anak-anak. Tumbuh-kembangkanlah keutamaan-keutamaan iman, pengharapan dan kasih dalam keluarga-keluarga tersebut. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Julai 23, 2012

MENJADI IBU DAN SAUDARI-SAUDARA YESUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 24 Juli 2012 )

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50)

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:2-8

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Dalam merenungkan kata-kata Yesus ini, kita dipimpin untuk memeriksa keluarga spiritual di mana kita adalah anggotanya – kedekatan dan ikatan yang ada antara kita semua, tanpa batasan karena umur, kebangsaan, kesukuan, etnisitas, jenis kelamin dlsb. Allah adalah Bapa kita! Dalam anugerah salib dan anugerah Roh, Ia telah memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati realitas hidup sebagai sebuah keluarga – untuk melakukan kehendak-Nya, melayani-Nya, mengasihi-Nya dan saling mengasihi antara kita anak-anak-Nya, untuk menjadi saksi akan kasih-Nya, dan membawa lagi jiwa-jiwa kepada-Nya.

Ketika kita dibaptis, kita menjadi anak-anak Allah. Bangkit dari air baptis, setiap orang Kristiani mendengar suara yang pernah terdengar di sungai Yordan: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Dengan cara ini, rencana kekal dari Bapa surgawi bagi setiap pribadi direalisir dalam sejarah, seperti ditulis oleh Paulus: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).

Kita dapat memahami bagaimana kita menjadi saudari-saudara Yesus, namun apakah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Yesus bahwa kita adalah ibu-Nya juga? Ia berkata kepada orang banyak, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Santo Paulus menjelaskan peranannya sebagai seorang ibu ketika dia menulis kepada jemaat di Galatia: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal 4:19). Sebelumnya, dengan cara serupa, Paulus mengingatkan umat Kristiani di Tesalonika: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes 2:7).

Mengikuti Paulus, Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mengatakan, bahwa “kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (Surat Pertama kepada Kaum Beriman, Pasal I:10). Bersikap dan berperilaku sebagai seorang ibu yang baik adalah sungguh sebuah panggilan bagi semua umat Kristiani! Pada zaman yang mana pun kita hidup, sebagai seorang Kristiani kita dapat membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita semua dapat berdoa, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena privilese luarbiasa yang Kauberikan kepadaku untuk menjadi anggota keluarga Allah. Aku berdoa agar keluarga-Mu ini bertumbuh-kembang dalam kuasa Roh Kudus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Julai 22, 2012

SESUNGGUHNYA YANG ADA DI SINI LEBIH DARIPADA YUNUS!

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 23 Juli 2012 )

Pada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42)

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6,8-9,16-17,21,23

“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Mat 12:39).

Yesus mengucapkan kata-kata ini pada waktu menanggapi permintaan beberapa orang ahli Taurat dan orang Farisi agar Ia membuat mukjizat atau tanda-tanda heran lainnya. Di bagian lain dari Injil Matius ini kita dapat membaca banyak mukjizat dibuat oleh Yesus, mukjizat-mukjizat mana dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Dia adalah sungguh Mesias dari Allah (Mat 8:1-9:38). Semua karya ini mendorong orang untuk melihat mukjizat-mukjizat Yesus sebagai tanda-tanda otoritas-surgawi yang dimiliki-Nya. Mengapa sekarang Yesus menolak permintaan para ahli Taurat dan orang Farisi untuk mempertunjukkan “kemahiran”-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat?

Suatu pengamatan yang lebih mendalam mengungkapkan bahwa Yesus, walau pun Ia bertindak dengan berbagai cara, tetap saja tidak berubah dalam sikap-Nya terhadap orang-orang. Dengan konsisten Yesus berupaya untuk memimpin orang-orang kepada Kerajaan Bapa-Nya. Yesus mengetahui isi hati semua orang yang mendekati diri-Nya. Dengan hikmat spiritual Ia mengucapkan kata-kata yang dapat menggerakkan hati masing-masing orang untuk melihat dan percaya akan Kerajaan Allah. Apakah Ia berbicara secara keras atau dengan lemah lembut, motif Yesus adalah cintakasih.

Karena cintakasihlah permintaan dari beberapa orang ahli Taurat dan orang Farisi untuk melihat tanda-tanda ajaib Yesus ditolak-Nya. Dengan cara ini Yesus membongkar persoalan mereka yang sesungguhnya: Ketiadaan iman bukanlah disebabkan oleh bukti yang belum konklusif, namun dikarenakan hati mereka yang keras-membatu yang menolak mentah-mentah Yesus sebagai Dia yang diutus oleh Allah sendiri. Mukjizat-mukjizat Tuhan Yesus dimaksudkan untuk mengangkat pandangan mata orang-orang kepada Allah yang tanpa batas, namun para pemuka agama Yahudi ini menolak untuk memindahkan fokus mereka. Hanya ada satu saja tanda lagi yang akan diberikan-Nya – tanda nabi Yunus.

“Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40). Di sini Yesus membuat alusi kepada penderitaan sengsara, kematian, pemakaman dan kebangkitan-Nya. Yesus sendirilah tanda yang akan diberikan! Pada saat orang-orang melihat dan memahami bahwa Dia “yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Mat 12:41) – Putera Allah sendiri – maka hati mereka akan belajar merangkul Yesus dan karya Allah; mereka akan mampu untuk “membuang” hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Marilah kita memuji Allah dengan penuh sukacita untuk mereka yang telah percaya kepada Yesus Kristus dan telah menerima Kerajaan Allah ke dalam hati mereka masing-masing. Walaupun demikian, Allah terus menantang kita untuk memahami kebenaran Yesus secara lebih mendalam.

DOA: Bapa kami, Engkaulah Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar kami dapat melihat kemuliaan Kristus dan hidup oleh iman kepada-Nya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Julai 21, 2012

MENGUNDURKAN DIRI KE TEMPAT YANG TERPENCIL


( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI – 22 Juli 2012 )



Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34)

Bacaan Pertama: Yer 23:1-6; Mazmur Antar Bacaan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:13-18

Ini adalah satu-satunya tempat dalam Injilnya di mana Markus menggunakan kata “rasul” (lihat Mrk 6:30), biasanya Markus menggunakan kata “murid”. Rasul berarti seseorang yang diutus dalam suatu misi tertentu. Namun yang terasa sedikit aneh adalah, bahwa penyebutan kata “rasul” yang mengandung “kegiatan” justru tidak menggiring kepada kegiatan yang lebih aktif, melainkan kebalikannya … “menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak” (Mrk 6:31).

Dalam bacaan Injil Minggu lalu (Hari Minggu Biasa XV; Mrk 6:7-13) Yesus mengutus ke dua belas murid itu dengan otoritas atas roh-roh jahat. Mereka menyerukan pertobatan, mengusir banyak roh jahat, mengurapi banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. Mereka kemudian kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan (Mrk 6:30). Mereka sudah “gatal” untuk diutus dalam misi berikutnya. Mereka tentunya cukup terkejut ketika menyadari bahwa Yesus tidak mengutus mereka lagi, melainkan mengundang mereka untuk pergi “retret” ke tempat yang terpencil (Mrk 6:31). Injil mencatat bahwa Yesus dan para murid-Nya begitu sibuk sehingga makan pun mereka tidak sempat (Mat 6:31).

“Retret” berarti mengundurkan diri, mundur dari apa yang kita sedang lakukan. Tuhan Yesus menunjukkan kepada para rasul-Nya bahwa kekuatan dari kerasulan adalah energi ilahi. Otoritas mereka atas roh-roh jahat dan sakit-penyakit bukanlah berasal dari manusia. Segala upaya di dalam dunia tidak ada gunanya kalau tidak diberikan kekuatan dari dalam oleh rahmat energi ilahi. Ingatlah sabda Yesus: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).

Kalau kita perhatikan, ada tiga fase dalam “undangan” Tuhan Yesus kepada para murid-Nya …… menyendiri – ke tempat yang terpencil – beristirahat sejenak.

Orang-orang sibuk harus mengakui bahwa apabila mereka tidak pernah dengan sukarela mengundurkan diri sejenak dari kesibukan mereka itu, maka cepat atau lambat mereka pun dapat menjadi “berantakan” dan lusuh, sebagai akibat keberadaan nyata mereka sebagai budak-budak kesibukan. Jadi, siapa saja yang diutus untuk bekerja di ladang Tuhan harus menemukan “ruangan” setiap hari baginya sebagai tempat menyendiri – keluar sebentar dari kesibukannya. Di samping itu, secara regular mengikuti retret yang lebih terorganisir dan di bawah bimbingan seorang pembimbing rohani yang tepat, senantiasa merupakan tindakan yang baik untuk dilakukan. Tidak mudahlah bagi seseorang untuk menarik diri secara cukup dari kesibukan sehari-harinya. Apabila orang itu memutuskan untuk mengikuti suatu retret, maka setiap kilometer perjalanannya menuju tempat retret – artinya setiap kilometer dia menjauh dari kesibukannya – berarti satu kilometer lebih dekat menuju suatu kebebasan baru untuk mendengarkan suara Tuhan.

Mencari sebuah tempat di mana anda dapat sendiri bersama Tuhan bukanlah suatu “pelarian” dari kenyataan hidup. Tempat termaksud dapat merupakan salah satu ruangan dalam rumah anda sendiri dalam keadaan bebas sms, bbm, acara televisi, radio, dlsb. Dapat juga merupakan ruang kerja anda di kantor di mana untuk beberapa saat anda tidak menerima tamu. Anda dapat mencari “tempat” anda masing-masing sesuai kondisi yang anda hadapi. Tempat itu merupakan pusat terdalam keberadaan kita di mana Allah berdiam sebagai powerhouse energi kerasulan. Mereka yang sibuk dengan pekerjaan melayani Tuhan harus secara teratur kembali ke pusat itu dan berada sendiri bersama Tuhan.

Sebuah retret menyangkut juga tindakan discernment di mana dan bagaimana Allah telah berkarya dalam segala hal yang telah kita katakan dan lakukan. Di tempat retret yang jauh dari keramaian kita dapat mengalami perjumpaan dengan Dia yang seringkali dinamakan “Allah yang tersembunyi”. Dalam retret kita dapat mengalami perbedaan antara “kesepian” dan “keheningan”. Kesepian adalah cara-hampa untuk berada sendiri; suatu kekosongan yang dapat menghancurkan diri kita. Di lain pihak, keheningan adalah suatu cara kepenuhan ketika kita menyadari bahwa kekosongan kita menciptakan ruangan yang diperlukan bagi Allah. Kita dapat merefleksikan misi Allah melalui kehidupan kita. Kita melihat apakah kita – demi kepentingan diri sendiri – telah melarikan diri dari tantangan ilahi: apakah kita telah melayani dengan cara-cara kita sendiri dan bukannya berdasarkan panggilan ketaatan; artinya apakah kemuliaan Allah atau sukses kita sendiri sebagai ambisi kita.

Setelah berada sendiri bersama Allah, undangan Tuhan adalah agar kita beristirahat sejenak dan memulihkan energi kita. Mazmur Tanggapan hari ini adalah “Mazmur Gembala Baik” yang menggunakan imaji sangat menarik perihal bagaimana Allah memperhatikan kita: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku” (Mzm 23:2-3).

Domba-domba membutuhkan air untuk diminum, hanya sekali dalam satu hari. Jelas kelihatan bahwa domba-domba itu mengalami kesulitan untuk minum dari arus air yang mengalir deras. Oleh karena itu sang gembala harus membangun semacam “waduk” kecil yang disusun dari batu-batu pada pinggiran sungai yang mengalir dari dari pegunungan atau dia harus mencari kolam air yang tenang.

Air adalah suatu imaji/gambaran kegiatan kerasulan kita. Allah hadir di mana-mana, namun dalam hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari sulitlah bagi kita untuk “minum” dari kehadiran-Nya dalam doa. Seperti domba-domba, kita perlu menemukan kolam air yang tenang. Di tempat inilah semangat kita yang sudah letih-lesu dibangkitkan kembali dan energi kerasulan kita yang sejati dipulihkan.

Di sinilah terletak signifikansinya mengapa satu-satunya kesempatan Markus menyebut kata “rasul-rasul” justru bukan dalam konteks kegiatan kerasulan selanjutnya, melainkan berkaitan dengan “mengundurkan diri” dari kesibukan sehari-hari. Powerhouse atau pembangkit tenaga (sumber kekuatan) dari kerasulan sejati adalah energi ilahi. Apabila kita mengundurkan diri untuk menyediakan waktu sejenak untuk berada bersama Allah, maka kita dapat mempersembahkan kekosongan hati, pikiran dan tangan kita kepada-Nya sambil berdoa agar Roh Allah dapat menjadi kepenuhan kita: “Ia membimbing aku ke air yang tenang; ia menyegarkan jiwaku”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami sampaikan kepada-Mu karena Engkau mengajar kami, para murid-Mu, untuk senantiasa menyediakan waktu sejenak berada bersama Bapa surgawi, di tengah kesibukan karya kerasulan dan kegiatan-kegiatan kami lainnya. Dengan demikian semangat kami pun akan bangkit kembali, semangat untuk mewartakan Injil-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Julai 19, 2012

DI SINI ADA YANG MELEBIHI BAIT ALLAH


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 20 Juli 2012 )

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8)

Bacaan Pertama: Yes 38:1-6,21-22,7-8; Mazmur Tanggapan: Yes 38:10-12,16

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan Allah sendiri, bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasihan kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

Dengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Julai 18, 2012

MARILAH KEPADA-KU ……


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Kamis, 19 Juli 2012 )
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)

Bacaan Pertama: Yes 26:7-9,12,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:13-21

“Marilah kepada-Ku ……” (Mat 11:28). Walaupun ditolak oleh orang-orang kampung-Nya sendiri dan beberapa tempat lainnya, seperti Khorazim, Betsaida dan Kapernaum (Mat 11:21-23), Yesus tetap menyampaikan undangan besar-Nya kepada semua orang dari setiap bangsa dan generasi. Yesus menginginkan agar semua orang datang kepada-Nya dan belajar dari diri-Nya bagaimana menghayati kehidupan di dunia. Dia ingin memberikan kepada kita suatu visi yang akan memampukan kita mencintai surga dan memusatkan perhatian kita pada surga itu, seperti halnya para peziarah dalam suatu perjalanan ziarah.

Dalam perjalanan ini kita seringkali menjadi letih-lesu dari segala pencobaan yang kita hadapi. Lagipula hidup ini kelihatannya membuat kita berbeban berat. Kadang-kadang perasaan ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang kita buat sendiri atau langkah-langkah yang telah kita ambil sendiri, yang menjauhkan kita dari Allah. Pada kesempatan lain, kita dihadapkan dengan sakit-penyakit dan kesulitan-kesulitan yang kita sendiri tentunya tidak akan pilih. Apa pun kasusnya, Yesus mengundang kita untuk dipasangkan kuk/gandar bersama Yesus dan belajar dari sang Guru. Dengan demikian barulah kita akan menemukan kelegaan.

Sekali kita mengambil langkah yang menentukan ini, maka kita akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dari sang “Raja Damai” (Yes 9:5). Dipersatukan dengan Yesus, kita akan siap untuk belajar dari Dia. Apabila beban-berat yang kita tanggung itu disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri, Dia akan mengajar kita bagaimana memilih jalan yang baru. Apabila beban-berat itu disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar kontrol atau kekuasaan kita, maka Dia akan memberikan kepada kita pengharapan akan suatu realitas di mana tidak akan ada lagi tangis dan kesedihan. Sebagaimana Yesus menyerahkan hidup-Nya dan kehendak-Nya kepada Bapa surgawi dan dipersatukan dengan diri-Nya, maka kita yang telah dipasangkan kuk/gandar bersama Yesus akan mengenal dan mengalami kesatuan dan damai-sejahtera yang datang dari hal tersebut.

Bilamana kita mengambil untuk menyerahkan segala cara/jalan kita dan belajar dari Yesus, maka walaupun kita masih menanggung beban, kita akan disegarkan kembali karena kita menerima kehidupan. Kehidupan yang kita terima seringkali mencakup kesembuhan dan pelepasan/pembebasan yang merupakan sebuah tanda kepenuhan final keselamatan. Memandang kehidupan kita dalam terang kasih Allah membangun hasrat dalam diri kita untuk bersatu dengan-Nya. Kuk/gandar Yesus itu ringan-menyenangkan …… karena Yesus memikul bebannya bersama kita.

DOA: Yesus, Engkaulah Kyrios yang berdaulat atas segenap alam ciptaan (Flp 2:9-11), namun demikian Engkau lemah lembut dan rendah hati. Engkau telah mengutus Roh-Mu sendiri untuk berdiam dalam diriku, dan Engkau ingin menyatakan Bapa surgawi kepadaku. Tuhan Yesus, lindungilah diriku dari kekacauan pikiranku sendiri yang timbul karena aku – dalam kesombonganku – mencari jawaban-jawaban untuk kehidupanku tanpa mengindahkan Engkau. Lindungilah aku, ya Tuhan, dari domain pengaturan diri-sendiri. Sebaliknya, tempatkanlah diriku di bawah pemerintahan-Mu, ke mana Engkau telah memberi isyarat kepadaku untuk datang. Pasanglah kuk/gandar atas diriku, agar aku dapat memikulnya bersama-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Julai 17, 2012

MENARUH KEPERCAYAAN PADA-NYA DALAM SETIAP SITUASI DAN TERBUKA BAGI SABDA-NYA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu 18 Juli 2012 )

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27)

Bacaan Pertama: Yes 10:5-7,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:4-10,14-15

Yesus ditolak oleh banyak orang sezaman-Nya. Orang-orang di kota-kota di mana Ia membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya menolak untuk mengubah diri, dan banyak dari mereka malah mengambil sikap bermusuhan terhadap diri-Nya (Mat 11:16-24). Para pemimpin Yahudi mencoba untuk mendiskreditkan diri-Nya di depan publik dan bahkan membuat rencana jahat untuk membunuh-Nya (Mat 12:3,14).

Walaupun Yesus menghadapi banyak rintangan, Ia masih mampu bersyukur kepada Bapa-Nya karena kehendak Allah sedang dalam proses pemenuhan (Mat 11:25-26). Yesus mengetahui bahwa Allah masih memegang kendali atas segala hal dan apa pun perlawanan yang ada terhadap-Nya, Kerajaan Allah akan tetap didirikan di atas bumi. Persoalannya adalah dalam hati orang-orang yang menolak Dia.

Kita menghadapi suatu situasi yang serupa pada hari ini, dan bagaimana kita tergantung pada sikap hati kita terhadap Yesus. Allah ingin menyatakan (mewahyukan) diri-Nya kepada kita, namun suatu disposisi batin tertentu tetap dibutuhkan dari pihak kita untuk menerima pesan-Nya. Kontrol Yesus atas orang yang mengenal Bapa (Mat 11:27) tidak membatasi kebebasan kita memilih untuk percaya atau tidak percaya, Ia tidak menghalangi kemampuan kita untuk memahami kebenaran Allah, dan Ia juga tidak membebaskan kita dari tanggungjawab kita untuk taat kepada-Nya. Allah adalah sosok orangtua yang melakukan apa saja guna menyiapkan anak-anak-Nya untuk menjadi orang dewasa, namun akhirnya tergantung pada anak-anak-Nya sendiri bagaimana mereka akan hidup.

Orang-orang yang “percaya-diri” seringkali terjerat oleh hikmat dan pengetahuan mereka sendiri. Allah tidak dapat dipahami berdasarkan ukuran-ukuran manusia. Kita hanya dapat sampai ke titik pengenalan akan Allah apabila kita membuang segala preconceived ideas tentang Dia. “Orang kecil” yang menerima perwahyuan (pernyataan diri) Allah (Mat 11:25) adalah mereka yang menaruh kepercayaan pada-Nya dalam setiap situasi dan terbuka bagi sabda-Nya. Hal ini tidak berarti mengabaikan dan/atau mematikan kekuatan kita untuk berpikir. Hal ini berarti percaya kepada Allah yang benar terhadap sabda-Nya, bersikap reseptif terhadap-Nya, dan membuat tanggapan sesuai kemampuan kita yang terbaik.

Kita harus memperkenankan diri kita diajar oleh sabda Allah seperti dapat ditemukan dalam Kitab Suci dan diwartakan oleh Gereja, mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan artinya kepada kita. Secara bertahap kita akan mengembangkan suatu pikiran spiritual yang menghargai kebenaran-kebenaran Allah dan terbuka bagi kuasa yang bersifat transformatif dari kasih pribadi Allah bagi kita. Tujuannya bukanlah semata-semata pengetahuan kita secara intelektual, melainkan menemukan keutuhan dalam Kristus dalam tubuh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, engkau memiliki otoritas penuh atas segala hal. Ajarlah aku untuk menyingkirkan segala sesuatu yang bukan dari-Mu dan oleh rahmat-Mu bukalah pikiranku bagi kepenuhan kebenaran-Mu yang mulia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Julai 16, 2012

KECAMAN YESUS KEPADA TIGA KOTA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 17 Juli 2012 )

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24)

Bacaan Pertama: Yes 7:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-8

Kecaman Yesus terhadap kota-kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum pasti keluar dari sebuah hati yang menderita sakit-rindu …… rindu untuk melihat umat-Nya kembali kepada Allah dan percaya kepada keselamatan yang telah dibawa-Nya dari Bapa surgawi. Seruan Yesus ini mengingatkan kita pada ratapan Yesus sebelum memasuki kota Yerusalem untuk terakhir kali sebelum wafat di kayu salib: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat 23:37).

Kapernaum terletak dalam teritori Naftali dan Zebulon, dan Kapernaum inilah tempat Yesus memulai pelayanan-Nya di muka publik. Nabi Yesaya telah bernubuat tentang kedatangan sang Mesias ke tempat-tempat ini: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. …… Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya.” (Yes 9:1,5-6).

Nubuatan ini menjadi sebuah realitas dalam diri Yesus, namun orang-orang di kota-kota yang disebutkan di atas menolak untuk merangkul Yesus dan pesan kehidupan-Nya. Orang mati dibangkitkan; orang lumpuh dibuat berjalan kembali; orang buta dicelikkan matanya, dan pesan keselamatan diwartakan kepada mereka; namun telinga-telinga mereka tetap tertutup dan hati mereka tetap keras. “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Mat 11:21). Hal penting yang tersirat dalam pesan Yesus ini adalah: semakin besar pernyataan/perwahyuan yang diterima, semakin besar pula akuntabilitas, sebuah prinsip yang kita dapat lihat di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru.

Kita ditantang untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan bertanya: “Bagaimana aku menanggapi harta-kekayaan besar yang telah diberikan kepadaku dalam Kristus?” Kita pantas berdoa kepada Roh Kudus agar Ia menunjukkan kepada kita pentingnya kehidupan kita dengan Yesus dan memperdalam hidup itu dalam diri kita. Marilah kita mendoakan doa itu setiap hari agar dapat mengenal kasih Allah yang besar bagi kita dan menghaturkan terima kasih penuh syukur kita atas keselamatan kita yang telah dimenangkan oleh Kristus Yesus.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dunia. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mengingatkan kami tentang apa saja yang telah dilakukan oleh Yesus bagi kami. Semoga kami selalu terbuka bagi sabda kebenaran-Nya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS