Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, Januari 21, 2017

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 22 Januari 2017)
Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 
kemuridan-yesus-memanggil-murid-muridnya-yang-pertama
Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [1]

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka (Mat 4:12-23). [1] Mat 4:15-16 à Yes 8:23-9:1 
Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17
Setelah Herodes Antipas menangkap Yohanes Pembaptis, Yesus mengundurkan diri dari padang gurun; bukan untuk melarikan diri dari raja itu, karena Galilea juga merupakan bagian dari daerah kekuasaannya, melainkan untuk menunjukkan sebuah prinsip yang akan seringkali berulang: penolakan terhadap Injil di satu tempat akan membawa pewartaan Injil ke sebuah tempat lain.
Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak hanya mempunyai pesan yang sama, mereka juga mengalami kemartiran di bawah pemerintahan seorang raja yang sama: Herodes Antipas. Apakah Yesus kembali ke Nazaret untuk waktu yang tidak lama atau apakah Dia pindah alamat ke Kapernaum, semuanya tidak jelas. Kapernaum, di tepi danau terletak di wilayah Naftali, yang bersama Zebulon dan yang lain-lain dari kerajaan utara dirampas dan dimasukkan ke bawah kekuasaaan Asiria (Asyur) pada tahun 734 SM. Karena dibanjiri oleh imigran-imigran non-Yahudi (baca: kafir), maka hal ini memberikan alasan bagi orang-orang Yahudi Ortodoks di Yerusalem untuk mencurigai kemurnian doktrinal mereka. Yesaya telah menubuatkan pembebasan mereka, seperti diringkas dalam Yes 5:23-9:1.  Hal ini digenapi ketika Yesus datang ke Galilea. Galilea adalah tanah orang Yahudi, maka kunjungan Yesus ke Galilea menggambarkan bahwa Yesus pertama-tama datang kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (lihat Mat 10:6; lihat juga15:4). Namun, Galilea juga merupakan “distrik orang-orang kafir” yang memberikan banyak peluang bagi Yesus untuk berkontak dan berinter-aksi dengan orang-orang non-Yahudi. Dengan demikian Galilea menggambarkan komposisi dari komunitas Matius yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.
“Sejak itu Yesus mulai memberitakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’ ” (Mat 4:17) adalah ayat yang sangat penting dalam Injil. Di satu sisi ayat ini memberikan pesan yang seperti pesan Yohanes Pembaptis, namun di sisi lain ayat termaksud mengakhiri bagian dari Injil yang dimulai di bab 3. “Sejak itu Yesus mulai memberitakan” menandakan bagian pertama dari pelayanan Yesus di tengah publik. Bagian kedua ditandakan oleh ayat Mat 16:21, di mana ungkapan yang sama akan digunakan oleh penulis Injil.
Sejak awal pelayanan-Nya di tengah public, Yesus memanggil mengumpulkan sejumlah murid di sekeliling Diri-Nya. Mengapa? Karena Yesus sadar bahwa ajaran-Nya akan hilang jika tidak diintegrasikaan dalam kehidupan pribadi-pribadi dan hidup sebuah komunitas. Komunitas itu – yang sekarang kita namakan Gereja – menjadi garam bumi dan terang dunia (Mat 5:13-16). Jadi, sebelum Yesus mengajar atau membuat mukjizat, Ia harus mempunyai saksi-saksi. Saksi-saksi dimaksud tidak hanya berarti orang-orang yang melihat dan mendengar apa yang dilakukan/diucapkan-Nya, melainkan juga menghayati dan hidup seturut pesan-Nya.
Kata-kata yang diucapkan lewat khotbah dengan cepat dapat terlupakan oleh  orang banyak, yang datang karena keinginan tahu yang bersifat superfisial, tanpa komitmen. Kata-kata tertulis juga dapat menjadi kata-kata yang terkubur mati apabila tidak hidup dalam hati manusia dan diproklamasikan  oleh suatu suara yang hidup.
Murid-murid Yesus harus lebih daripada sekadar murid-murid para rabi Yahudi, bahkan harus lebbih daripada sekadar saksi-saksi. Panggilan Yesus mencakup sebuah janji bahwa Dia akan membuat mereka menjadi pejala-penjala manusia, suatu pekerjaan yang akan mereka mulai lakukan ketika Yesus mengutus mereka dalam misi evangelisasi mereka yang pertama (Mat 10).
DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.
Sumber :

Jumaat, Januari 20, 2017

KEPRIHATINAN KELUARGA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan & Martir – Sabtu 21 Januari 2017)
Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani
yesus-mengajar-1000
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak  waras lagi.  (Mrk 3:20-21)

Bacaan Pertama: Ibr 9:2-3,11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9 
Tentunya sangat sulit bagi keluarga Yesus dan para sahabat untuk memahami perilaku-Nya. Dia hampir selalu dikerumuni oleh kumpulan orang banyak, terlibat konflik dengan para pemuka agama Yahudi dan bekerja serta berdoa lama sampai tengah malam. Bacaan kali ini memberikan kepada kita satu contoh lagi betapa keras Yesus bekerja. Sementara Dia kembali dari atas bukit bersama para rasul yang baru ditunjuk-Nya, Yesus menuju sebuah rumah, dan yang didapati-Nya adalah kerumunan orang banyak lagi yang sedang menunggu Dia. Tergerak oleh belarasa, Yesus melayani orang banyak ini sampai membuat diri-Nya dan para rasul-Nya juga begitu sibuk, sehingga untuk makan pun kelihatannya mereka tak mempunyai waktu.
Keluarga Yesus dan para sahabat, yang selama ini mengamati gerak-gerik Yesus, mulai menjadi prihatin jangan-jangan Yesus bekerja tanpa menggunakan akal sehat. Mungkin saja Dia juga sudah tidak waras. Akan tetapi, meski keluarga-Nya kuatir dan takut  bahwa Yesus tidak berkarya seperti para rabi lainnya, Yesus memiliki keprihatinan tak tergoyahkan sehubungan dengan Kerajaan Allah. Yesus dengan penuh kemauan mengambil risiko menantang berbagai rutinitas dan tradisi orang-orang Yahudi demi Kerajaan Allah ini. Hati-Nya berkobar-kobar dengan suatu hasrat untuk melakukan kehendak Bapa dengan menolong siapa saja yang datang kepada-Nya dengan berbagai macam kebutuhan.
Cerita semacam ini mengungkapkan betapa dalam Allah mengasihi kita semua. Yesus tidak malu melayani orang banyak yang berkerumun di luar rumah. Demikian pula, Dia tidak akan malu melayani kita apabila kita datang kepada-Nya dengan segala kelemahan kita. Yesus adalah “Sang Sabda yang menjadi Daging”, “Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14), sehingga dengan demikian Dia dapat menyembuhkan kita. Dalam cintakasih, Dia tidak menolak kita, tetapi merangkul kelemahan-kelemahan kita. Keluarga-Nya yang sejati adalah semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman, yang percaya bahwa Dia telah datang dari Bapa surgawi untuk menyelamatkan kita dari semua dosa dan kegelapan.
Sebagai contoh, harapan kita untuk bersatu dengan saudara-saudari Kristiani yang lain kelihatannya meragukan – malah terasa tidak mungkin – kalau semua dilihat, dipikirkan dan diikhtiarkan secara manusiawi belaka. Namun kita akan memperoleh jawabannya kalau kita memandang dengan mendalam kepada hati Kristus dan memperkenankan Dia membebaskan kita dari sikap-sikap dan pandangan-pandangan yang menyebabkan kita – orang-orang Kristiani – terpisah satu sama lain selama ini.
Hanya apabila kita mau datang menghadap Yesus seperti orang banyak yang diceritakan dalam Injil di atas, kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita akan niat-niat-Nya sehingga dengan demikian kita semua dapat dipimpin oleh-Nya menuju persatuan dan kesatuan yang lebih mendalam lagi, teristimewa karena Dia sendiri sangat mendambakan persatuan dan kesatuan di antara para pengikut-Nya (lihat Yoh 17:1-26).
stagnespainting
Orang Kudus yang kita peringati pada hari ini, Santa Agnes, adalah seseorang yang mengimani bahwa siapa dan apapun saja tidak akan dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus. Ketika masih gadis berumur 13 tahun, Agnes berani memilih dipenjarakan oleh penguasa Romawi dan dihukum berat daripada mengkhianati iman-kepercayaannya kepada Kristus. Di dalam penjara dia dirayu oleh beberapa orang pemuda sahabat Kaisar dan salah seorang mengajaknya nikah agar dapat diselamatkan, dan  tentunya sementara itu untuk menyangkal imannya juga. Jawaban Agnes: “Maaf, saya sudah mempunyai kekasih. Ia mengasihiku dan saya pun mengasihi-Nya. Dia adalah Yesus Kristus”. Agnes menjadi saksi Kristus dalam bentuk tindakan nyata dan pernyataan iman yang begitu singkat-jelas, bukannya ulasan teologis rumit dan “ribet”, bukan pula khotbah yang panjang-panjang dan “ngalor-ngidul”’ dari atas mimbar. Agnes wafat sebagai seorang martir (+ 304), mati ditusuk pedang ketika dibakar hidup-hidup. Ini adalah martyria (kesaksian) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami untuk dapat lebih dekat lagi kepada Yesus, Anak Tunggal-Mu,  yang telah menjadi manusia seperti kami. Tolonglah kami untuk berjalan dalam roh belarasa, kesabaran dan persatuan, bersama dengan para saudara-saudari Kristiani lainnya, sampai tiba saatnya  kami dapat bertatap muka dengan-Mu. Amin. 
Sumber :

Khamis, Januari 19, 2017

FAVORITISME TIDAK DIKENAL OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Jumat, 20 Januari 2017)
Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani
Keluarga Fransiskan Konventual: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dari Triquerie, Imam & Martir
560jesus
Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. (Mrk 3:13-19)

Bacaan Pertama: Ibr 8:6-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:8,10-11,13-14 
Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Belum lama mereka bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil nama mereka satu persatu, “… untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan”  (Mrk 3:14-15). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus.
Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme; para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat, ada nelayan, ada pemungut pajak, ada (mantan) anggota gerakan revolusioner  (Zeloti) dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Dia tidak pandang bulu!
Di bagian kemudian Injil ini, Markus menceritakan suatu diskusi yang terjadi di antara para murid, yakni mengenai siapa di antara mereka yang paling besar (Mrk 9:33). Yesus mengetahui perdebatan yang terjadi di antara para murid dan Dia pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus menghalau perbandingan-perbandingan seperti itu dengan mengatakan kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Ini adalah hakekat dari SERVANT LEADERSHIP.
Teguran halus dari Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya agar tidak mencari-cari kemuliaan menurut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya, “kemuridan” (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga “bernasib” sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa  di Masa dan Meriba ini (lihat Kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang “hebat-hebat”, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan  sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus!
Yesus telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudari-saudara. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini. Marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai bagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita tolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudari-saudara kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan.
Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing. Secara khusus, “Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani” yang sedang kita jalani ini adalah saat yang cocok  untuk merenungkan hal yang baru saja disebutkan tadi, dan merenungkannya secara sangat-sangat serius.
DOA: Bapa surgawi, kami menghadap-Mu hari ini sebagai anak-anak kecil, yang perlu dipenuhi dengan hidup-Mu sendiri. Oleh Roh-Mu, ajarlah kami untuk bekerja sama membawa terang-Mu ke dalam dunia. Amin.
Sumber :

Rabu, Januari 18, 2017

DI KALA ROH-ROH JAHAT PEMBOHONG MENGATAKAN KEBENARAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 19 Januari 2017)
(Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 
c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989
Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: Ibr 7:25-8:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 
Roh-roh jahat tersungkur sujud di hadapan Yesus dan berseru, “Engkaulah Anak Allah” (Mrk 3:11). Yesus menyuruh mereka diam. Apa salahnya menyatakan Yesus Anak Allah? Kedudukan Yesus sebagai Anak Allah adalah titik puncak Injil Markus. Injil ini diawali  dengan pernyataan sebagai berikut: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Sekarang, baiklah kita baca kata-kata kepala pasukan di dekat salib Yesus yang ada padaa bagian akhir Injil itu: “Sungguh, orang ini Anak Allah” (Mrk 15:39).
Pemberian kesaksian bahwa  Yesus adalah Anak Allah juga adalah salah satu dari butir-butir terpenting dalam Syahadat (Credo). Roh jahat yang diusir oleh Yesus telah membeberkan kebenaran, kebenaran Injil. Bahkan roh jahat itu mengatakan inti sari Credo yang dirumuskan di kemudian hari. Lalu apa sebab Yesus tetap”melarang mereka dengan keras agar tidak mewartakan siapakah Dia?” (Mrk 3:12).
Iblis adalah “pembunuh manusia sejak semua dan tidak hidup dalam kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa pendusta” (Yoh 8:44). Bala tentara si Iblis adalah roh-roh jahat. Mereka juga adalah pembohong-pembohong. Dengan demikian, mudah saja untuk Iblis dan roh-roh jahatnya membuat kebohongan dengan menceritakan kebenaran pada saat dan situasi ketika kebenaran itu mudah disalahartikan. Iblis senantiasa mencoba untuk mengkaitkan antara ke-Allahan Yesus dengan penyembuhan dan mukjizt. Dengan cara ini akan terjadi penyesatan yang sungguh berbahaya.
Yesus menghendaki agar kedudukan-Nya sebagai Anak Allah selalu dikaitkan dengan SALIB (Mrk 15:39). Hanya di kayu saliblah pribadi dan karya Yesus dapat dipahami dengan benar. Kita semua jangan sampai percaya akan kebohongan Iblis tentang Yesus, walaupun kebohongan itu terasa nyata dan benar. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis: “… aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:2). Yesus tidak pernah dapat dipisahkan dari salib-Nya.
DOA: Bapa surgawi, berilah daku keberanian untuk mengatakan kebenaran, terutamaa pada waktu dan situasi yang tepat. Amin.

Sumber :

Selasa, Januari 17, 2017

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 18 Januari 2017)
Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 
jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115
Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4
Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan objek cemoohan.
Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).
Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.
Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Sumber :