Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Januari 31, 2012

JANGANLAH AKU JATUH KE DALAM TANGAN MANUSIA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV, Rabu 1-2-12 )

Lalu berkatalah raja kepada Yoab dan para panglima tentara yang bersama-sama dengan dia: “Jelajahilah segenap suku Israel dari Dan sampai Bersyeba; adakanlah pendaftaran di antara rakyat, supaya aku tahu jumlah mereka.”

Lalu Yoab memberitahukan kepada raja hasil pendaftaran rakyat. Orang Israel ada delapan ratus ribu orang perangnya yang dapat memegang pedang; dan orang Yehuda ada lima ratus ribu.


Jadi YHWH mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel dari pagi hari sampai waktu yang ditetapkan, maka matilah dari antara bangsa itu, dari Dan sampai Bersyeba, tujuh puluh ribu orang. Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah YHWH karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: “Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.” Pada waktu itu malaikat YHWH itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus. Dan berkatalah Daud kepada YHWH, ketika dilihatnya malaikat yang tengah memusnahkan bangsa itu, demikian: “Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku.” (2Sam 24:2,9-17)Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada TUHAN (YHWH): “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, YHWH, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.” Setelah Daud bangun dari pada waktu pagi, datanglah firman YHWH kepada nabi Gad, pelihat Daud, demikian: “Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah firman YHWH: tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu dari padanya, maka Aku akan melakukannya kepadamu.” Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: “Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan

lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.” Lalu berkatalah Daud kepada Gad: “Sangat susah hatiku, biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan YHWH, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7; Bacaan Injil: Mrk 6:1-6

Dari uraian tentang raja Daud sebelum ini, kita mengetahui bahwa Daud pun memiliki sisi gelap dalam kehidupannya. Menjelang akhir pemerintahannya, ketika Daud sudah tua, dia mendatangkan krisis baru dengan memerintahkan dilaksanakannya “sensus” atas angkatan bersenjatanya (lihat 2Sam 24:2). Apakah dalam hal ini Daud bertindak sebagai seorang penguasa yang bijak? Tidak! Menghitung umat pilihan Allah merupakan sebuah tindakan yang mengandung arti mendalam, karena identitas mereka yang terdalam sebagai bangsa/umat pilihan Allah menjadi dipertanyakan. Apakah bangsa Israel sungguh merupakan umat Allah, ataukah mereka tidak lebih daripada bangsa-bangsa lain di sekeliling mereka yang merupakan milik para penguasa dunia?

Suatu sensus memberikan kepada raja kuasa atas rakyatnya, dan hasil sensus itu dapat digunakan sebagai informasi untuk pengenaan pajak, pendaftaran masuk tentara, bahkan untuk menemukan para pekerja yang sehat untuk bekerja sebagi pekerja-rodi di proyek-proyek sang raja. Motif apa yang ada di belakang tindakan Daud itu? Barangkali dia khawatir akan masa depan dan ingin menjamin bahwa kekuatan militer Israel tidak melemah. Barangkali dia ingin membangun angkatan bersenjata yang lebih besar dan lebih kuat. Sensus Daud kelihatannya merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kendali/kontrolnya. Apa pun motifnya, tindakan Daud itu tidak menyenangkan hati YHWH-Allah. Daud sebagai raja yang diurapi, dipilih sendiri oleh Allah (lewat nabi Samuel), dalam hal ini bertindak bukan sebagai seorang wakil YHWH melainkan sebagai seorang pemilik yang independen, yang dapat melakukan apa saja yang diinginkannya atas miliknya. Apakah pelaksanaan sensus merupakan isu kunci dalam hal ini? Tidak juga! Kita harus mengingat, bahwa YHWH-Allah memerintahkan Musa untuk melakukan sensus: “Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-lai di Israel yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang. Engkau dan Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya masing-masing” (Bil 1:2-3). Isu sebenarnya adalah rasa percaya (trust)! Dapatkah Daud percaya bahwa Allah akan menjaga dia dan umat-Nya – bagaimana pun lemah atau kuatnya mereka?

Melalui nabi Gad, YHWH-Allah menawarkan kepada Daud tiga alternatif kemungkinan hukuman atas dirinya. Kali ini Daud membuat sebuah keputusan yang sulit, namun bijaksana: “penyakit sampar selama tiga hari” – bukan karena itu yang paling singkat dari sudut waktu, melainkan karena dia memilih untuk jatuh ke dalam tangan YHWH daripada jatuh ke dalam tangan manusia (lihat 2Sam 24:14). Pertobatan Daud diungkapkannya sebagai berikut: “Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku” (2Sam 24:17).

Kerendahan hati Daud ini berkenan kepada YHWH; dengan demikian relasinya dengan YHWH-Allah dipulihkan, bahkan Ia mengurungkan niatnya menjatuhkan hukuman atas Yerusalem. Nah, kita pun harus senantiasa mengingat bahwa pertobatan kita tidak hanya membuat diri kita benar di hadapan Allah, melainkan juga akan membuka pintu bagi pencurahan rahmat-Nya guna menolong kita mengatasi kelemahan-kelemahan dan kecenderungan-kecenderungan untuk berdosa.

Allah ingin agar kita menaruh kepercayaan kepada-Nya hari ini dan setiap hari, pada saat-saat baik maupun saat-saat buruk, manakala kita merasa lemah atau pun kuat. Yang penting sekali untuk senantiasa kita pegang adalah tidak memperkenankan ambisi atau kecemburuan/iri-hati atau hasrat untuk memegang kendali penuh atas kehidupan kita menguasai diri kita. Kita harus mempunyai kebiasaan melakukan pemeriksaan batin secara harian dan bertobat atas dosa-dosa kita, apakah lewat pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaian kita. Penerimaan sakramen rekonsiliasi secara teratur juga merupakan hal yang jangan sampai terlupakan. Daud banyak diampuni karena dia banyak mengasihi. Hasratnya untuk bertobat dan direkonsiliasikan dengan Allah merupakan sebuah contoh iman yang dapat mengajar kita semua bagaimana menaruh kepercayaan kepada Allah, walaupun pada saat kita bergumul dengan dosa-dosa.

DOA: Bapa surgawi, terhadap Engkau aku telah berdosa. Akan tetapi, seperti halnya Daud, aku menaruh kepercayaan pada kasih-Mu yang tanpa batas itu. Oleh Roh Kudus-Mu, selidikilah hatiku sehingga aku dapat belajar jalan pertobatan yang benar. Aku bertekad untuk menjadi murid Kristus yang sejati. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Januari 30, 2012

MENDOAKAN KELUARGA-KELUARGA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam, Selasa 31-1-12 )

Kebetulan Absalom bertemu dengan orang-orang Daud. Adapun Absalom menunggangi bagal. Ketika bagal itu lewat di bawah jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar, tersangkutlah kepalanya pada pohon tarbantin itu, sehingga ia tergantung antara langit dan bumi, sedang bagal yang dikendarainya berlari terus. Seseorang melihatnya, lalu memberitahu Yoab, katanya: “Aku melihat Absalom tergantung pada pohon tarbantin.”

Lalu diambilnyalah tiga lembing dalam tangannya dan ditikamkannya ke dada Absalom, sedang ia masih hidup di tengah-tengah dahan pohon tarbantin itu.


Kemudian berkatalah raja: “Pergilah ke samping, berdirilah di sini.” Ia pergi ke samping dan tinggal berdiri. Maka datanglah orang Etiopia itu. Kata orang Etiopia itu: “Tuanku raja mendapat kabar yang baik, sebab TUHAN (YHWH) telah memberi keadilan kepadamu pada hari ini dengan melepaskan tuanku dari tangan semua orang yang bangkit menentang tuanku.” Tetapi bertanyalah raja kepada orang Etiopia itu: “Selamatkan

Absalom, orang muda itu?” Jawab orang Etiopia itu: “Biarlah seperti orang muda itu musuh tuanku raja dan semua orang yang bangkit menentang tuanku untuk berbuat jahat.”Adapun Daud duduk di antara kedua pintung gerbang sedang penjaga naik ke sotoh pintu gerbang itu, di atas tembok. Ketika ia melayangkan pandangnya, dilihatnyalah orang datang berlari, seorang diri saja. Berserulah penjaga memberitu raja, lalu raja berkata: “Jika ia seorang diri, maka kabar yang baiklah disampaikannya.”

Maka terkejutlah raja dan dengan sedih ia naik ke anjung pintu gerbang lalu menangis. Dan beginilah perkataannya sambil berjalan: “Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!”

Lalu diberitahukanlah kepada Yoab: “Ketahuilah, raja menangis dan berkabung karena Absalom.” Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara itu mendengar orang berkata: “Raja bersusah hati hati karena anaknya.” Sebab itu tentara itu masuk kota dengan diam-diam pada hari itu, seperti tentara yang kena malu kembali dengan diam-diam karena melarikan diri dari pertempuran. (2Sam 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3)

Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6; Bacaan Injil: Mrk 5:21-43

Dalam perayaan Ekaristi di tengah sebuah retret khusus untuk kaum muda, imam selebran mengundang mereka yang hadir untuk berdoa secara spontan dalam bagian “Doa Umat”. Banyak yang dengan sederhana sekali hanya berkata: “Untuk keluargaku,” atau “Tuhan, hadirlah selalu bersama para orangtuaku.” Kaum muda inilah yang pertama-tama setuju bahwa keluarga-keluarga sedang diserang/dikepung oleh lawan kita bersama. Barangkali sebagian dari mereka sudah sekian lama menderita berbagai konsekuensi dari serangan-serangan ini: perkawinan yang terluka, ketiadaan damai-sejahtera dalam rumah tangga, atau orangtua yang absen dalam relasi kekeluargaan, etc. Keluarga mereka telah menjadi sebuah “dysfunctional organization”.

Apakah kita terkejut hari ini apabila mendengar seorang pakar menyatakan bahwa keluarga Raja Daud itu dapat dikatakan “dysfunctional”? Anak laki-laki Daud yang bernama Amnon (anak dari istrinya yang bernama Ahinoam, perempuan Yizreel; lihat 2Sam 3:2) jatuh cinta kepada seorang adik perempuannya yang bernama Tamar (anak dari istrinya yang bernama Maakha, anak Talmai raja Gesur; sedarah-sedaging dengan Absalom): kemudian Amnon memperkosa adiknya itu Karena peristiwa itu Absalom pun membenci Amnon (bacalah 2Sam 13:1-22). Kemudian Absalom membunuh Amnon (lihat 2Sam 13:23-39), kemudian memimpin pemberontakan terhadap ayahnya (lihat 2Sam 15:1 dsj.). Semua ini terjadi, antara lain, karena dosa perselingkuhan Daud dengan Batyeba (2Sam 11-12).

Kisah mengenai Absalom dan Amnon merupakan salah satu dramatisasi paling menyentuh hati berkaitan dengan kecenderungan efek negatif dari dosa-dosa para orangtua terhadap kehidupan anak-anak mereka. Bahkan sampai hari ini pun, terasa bahwa strategi Iblis adalah untuk membuat lemah para orangtua dalam melaksanakan panggilan mereka sebagai guru-guru dan teladan/panutan (role models), dengan demikian anak-anak merekalah yang harus menderita segala konsekuensi dari kesalahan orangtua mereka. Iblis sangat mengetahui, bahwa apabila dia dapat menyebabkan terjadinya pergolakan dalam sebuah unit kecil seperti keluarga, maka efek-efeknya akan panjang dan menyebar luas – baik ke dalam masyarakat sampai kepada generasi-generasi mendatang. Keluarga yang seharusnya menjadi sebuah “gereja domestik” malah menjadi “neraka domestik”.

Jadi, bagaimana seharusnya kita menanggapi bacaan hari ini? Pertama-tama, para orangtua harus mengakui bahwa kepada mereka telah diberikan sebuah tanggung-jawab besar dan mengagumkan dari Allah sendiri, sebuah tanggung-jawab yang tidak akan pernah akan dapat mereka penuhi apabila mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Para orangtua harus memiliki kebiasaan untuk berpaling kepada Tuhan Allah untuk memperoleh kekuatan dan hikmat-kebijaksanaan yang melampaui sumber daya yang mereka miliki. Banyak orangtua yang telah menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah dapat memberi kesaksian, bahwa melangkah dalam iman sedikit saja akan memberi ganjaran yang luarbiasa.

Kedua, kisah Perjanjian Lama ini merupakan ajakan bagi setiap orang untuk mendoakan keluarga-keluarga. Begitu banyak kekuatan negatif (aspek-aspek negatif dari perkembangan teknologi, pornografi dll.) yang harus dihadapi para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka, kita semua perlu sekali mendoakan agar keluarga-keluarga senantiaswa berada dalam kuasa dan perlindungan Allah! Kita tidak akan mampu memperbaiki keadaan hanya dengan kekuatan manusia, apalagi dengan melontarkan kritik-kritik pedas ke sana-sini, sampai-sampai mengusulkan penutupan “warnet” untuk mengurangi maraknya pornografi di kalangan anak-anak di bawah umur, dsb.

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu kepada semua keluarga di mana saja, agar mereka dapat mengasihi – teristimewa anak-anak mereka – dengan kasih-Mu dan bertindak-tanduk dengan hikmat-kebijaksanaan yang berasal dari-Mu. Sembuhkanlah keluarga-keluarga yang menderita luka perpecahan dan dan bawalah mereka agar semakin dekat dengan hati-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Januari 28, 2012

BAGI DAUD, TIDAK ADA YANG LEBIH PENTING DARIPADA RELASINYA DENGAN ALLAH

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV, Senin 30-1-12 )

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III

Lalu datanglah seseorang mengabarkan kepada Daud, katanya: “Hati orang Israel telah condong kepada Absalom.” Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pengawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: “Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita


Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis.
dan memukul kota ini dengan mata pedang!”

Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk. Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya. Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! TUHAN (YHWH) telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, YHWH telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.” Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini

mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.” Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila YHWH berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?” Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi seorang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab YHWH yang telah berfirman kepadanya demikian. Mungkin YHWH akan memperhatikan kesengsaraanku in dan YHWH membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu. (2Sam 15:13-14,30; 16:5-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 3:2-7; Bacaan Injil: Mrk 5:1-20

Walaupun pemerintahan Daud hampir boleh dikatakan penuh dengan kemuliaan dan keberhasilan, raja yang “hebat” ini bukannya tidak memiliki sisi gelap dalam kehidupannya. Dosa perselingkuhannya dengan Batsyeba (baca 2Sam 11:1-27), tipu muslihat yang jahat untuk menyingkirkan Uria, suami Batsyeba, untuk selama-lamanya, dan “kelembekan”-nya dalam menangani dosa-dosa anak-anaknya sendiri pada akhirnya membuat dia dan para pengikutnya untuk pergi meninggalkan Yerusalem pada masa pemberontakan anaknya, Absalom. Daud tentunya sadar bahwa penderitaan-penderitaannya sebagian besar adalah akibat dari kelemahan dan kegagalannya sendiri.

Selagi sang raja bersama para pengikutnya mundur dari kota Yerusalem, Daud dikonfrontir oleh seorang anggota keluarga raja Saul yang bernama Simei bin Gera. Orang ini mengutuki Daud dan melemparinya dengan batu. Simei menyalahkan Daud sebagai penyebab kematian Saul dan “nasib buruk” yang melanda keluarganya. Salah seorang pengikut Daud, Abisai, menawarkan diri untuk membunuh Simei, namun Daud dapat melihat bahwa di belakang sikap dan perilaku Simei ada “tangan-tangan” YHWH-Allah yang sedang bekerja. Pemikiran Daud adalah, apabila anaknya sendiri ingin membunuhnya, mengapa Simei tidak?

Sikap Daud ini mencerminkan suatu kesadaran bahwa orang-orang yang dikasihi YHWH-Allah juga dimurnikan oleh-Nya: “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan YHWH, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena YHWH memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Ams 3:11-12). Sepanjang masa pemerintahannya, Daud tetap merupakan seorang manusia yang mengikuti kehendak Allah, bukan karena dia sempurna, melainkan karena dia cepat mengakui dosa-dosanya dan mohon pengampunan dari Allah. Ia memperkenankan Allah membuat dirinya dina sehingga dia dapat lebih dibersihkan lagi dari dosa dan menerima sebuah hati yang baru (lihat Mzm 51:9). Bagi Daud, tidak ada yang lebih penting daripada relasinya dengan YHWH-Allah, dan dirinya menerima apa saja yang diberikan YHWH untuk memperdalam relasi itu.

Sebagaimana emas dimurnikan oleh api, maka iman lahir dalam api berbagai pencobaan. Orang-orang terkadang mengucapkan kata-kata atau melakukan hal-hal yang keji terhadap diri kita. Memang mudahlah bagi kita untuk membalas! Akan tetapi baiklah kita mengikuti teladan yang telah diberikan Daud kepada kita lewat bacaan hari ini. Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Adakah sesuatu untuk mana aku harus bertobat? Apakah Allah memperkenankan penderitaanku untuk membuat diriku menjadi lebih rendah-hati dan menarik diriku untuk menjadi lebih dekat dengan-Nya? Selagi kita melakukan pemeriksaan batin, bertobat, dan berpaling kepada Allah dan mohon pertolongan-Nya, maka kita pun dapat berada di jalan yang telah disediakan Bapa surgawi bagi kita. Marilah kita, oleh rahmat Allah, berupaya untuk memiliki hati seperti hati raja Daud, yang tahu bahwa apabila Allah membuat kita dina, maka tujuan-Nya adalah untuk mengangkat diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku meletakkan di hadapan-Mu segala luka-luka dan penderitaanku, dengan kesadaran penuh bahwa hidupku terletak di tangan-tangan-Mu. Engkau adalah Allah yang penuh kasih-setia. Oleh karena itu aku percaya sepenuhnya bahwa Engkau akan memimpinku pulang ke rumah-Mu kelak melalui pencobaan-pencobaan yang memurnikan dalam kehidupanku di dunia ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGALAMI YESUS KRISTUS DALAM PERAYAAN EKARISTI

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA IV [Tahun B], 29-1-12 )


Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!” Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)


“Ritme” atau katakanlah derap-langkah bab I Injil Markus (terdiri dari 45 ayat) terasa sangat cepat, dinamis dan penuh energi, seakan-akan ada
urgency untuk bergerak cepat dari episode yang satu ke episode berikutnya. Ada ahli yang mengatakan, bahwa sebenarnya Injil Markus ini adalah “Injil Petrus”. Kitab Injil tertua ini [sekitar tahun 65] sama sekali tidak memuat kisah Natal yang indah; pembaptisan Yesus pun hanya dikisahkan dalam tiga ayat saja (Mrk 1:9-11); dan langsung setelah itu Yesus terjun ke lapangan untuk melaksanakan misi-Nya. Tidak pernah timbul perasaan bahwa Injil ini ditulis secara bertele-tele. Jesus is a Man of Mission, demikianlah kiranya keyakinan Markus! Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun …… Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia …… Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar …… (lihat Mrk 1:12,18,21). Mengapa terasa tergesa-gesa? Misi yang besar dan agung seperti misi yang diemban Yesus harus dilakukan “lebih cepat, lebih baik”, bukankah begitu? Karya Evangelisasi adalah suatuurgency, bukan?Bacaan Pertama: Ul 18:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 7:32-35

Karya pewartaan Kabar Baik Yesus yang lamanya sekitar tiga tahun itu disajikan hanya dalam 16 (enam belas) bab saja. Bab I diakhiri dengan cerita seorang yang telah disembuhkan oleh Yesus dari penyakit kustanya, tetapi dia (mungkin dengan maksud baik) melanggar perintah keras dari Dia: “Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga

datang kepada-Nya dari segala penjuru” (Mrk 1:45). Bagian akhir bacaan Injil hari ini (Mrk 1:27-28), ayat terakhir bab I seperti telah diuraikan di atas dan di bagian-bagian lain bab I jelas menunjukkan entusiasme dan rasa takjub seiring dengan penyebar-luasan Kabar Baik yang berlangsung dengan cepat itu. Yesus senantiasa diiringi oleh orang banyak yang penuh gairah. Sekarang, apakah kita juga merasa takjub dan bergairah disebabkan oleh kehadiran Yesus di tengah-tengah kita (Mrk 1:22-27)?


Manakala kita merayakan Ekaristi, Yesus sungguh hadir di tengah-tengah kita. Setiap hari Minggu – bahkan setiap hari – sesuatu terjadi dalam Perayaan Ekaristi yang kira-kira sama menakjubkannya dengan berbagai peristiwa terjadi di Kapernaum, entah pada waktu kita mendengarkan sabda Tuhan Allah dalam berbagai bacaan liturgi hari itu, entah pada waktu kita berada di tengah berlangsungnya “Doa Syukur Agung”, entah pada waktu kita bersama-sama menyanyikan doa Bapa Kami dlsb. Keadaannya mungkin saja berbeda, sarana yang tersedia juga mungkin sekali telah banyak berubah, namun Yesus tetap ingin melayani kita dengan kuat-kuasa sama seperti yang telah ditunjukkan-Nya pada awal misi pelayanan-Nya. Ingatlah bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Bayangkanlah apa yang dapat terjadi selagi kita mengangkat ekspektasi-ekspektasi selama perayaan Ekaristi. Kasih Allah yang turun dari surga dapat membakar hati kita sehingga berkobar-kobar. Mata-hati kita dapat terbuka bagi kekayaan warisan kita dalam Kristus. Rasa takut dapat digantikan oleh hasrat dan kemampuan yang lebih besar bagi kita untuk mensyeringkan Kabar Baik Yesus Kristus kepada orang-orang lain. Kita juga dapat digerakkan untuk bertobat dari kehidupan sebelumnya yang senantiasa mengalah kepada godaan-godaan yang menghalangi kita untuk mengalami kehadiran Allah. Persekutuan dengan para saudari dan saudara kita, bela rasa terhadap “wong cilik”, suatu hasrat untuk melayani orang-orang lain dan berbagi dengan mereka – ini semua hanyalah beberapa dari berbagai karunia/anugerah yang Yesus sedang nanti-nantikan untuk diberikan kepada kita dalam Perayaan Ekaristi. Walaupun kehidupan kita yang penuh kesibukan itu mengalamiups and down, kita tetap dapat dipenuhi dengan sukacita dan ekspektasi, karena mengetahui bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk karya penyelamatan yang telah Engkau lakukan dan terus lakukan di tengah kami semua. Oleh Roh Kudus-Mu, bukalah hati kami agar mampu merangkul kuat-kuasa dan kehadiran-Mu dalam Perayaan Ekaristi pada hari ini. Amin.

dr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Januari 27, 2012

GURU, TIDAK PEDULIKAH ENGKAU?

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Thomas Aquino, Imam & Pujangga Gereja, Sabtu 28-1-12 )

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau


Bacaan Pertama: 2Sam 12:1-7a,11-17l Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17
kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41)

“Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:41).

Para murid masih dilanda ketidakpastian. Kebingungan telah membawa diri mereka kepada kesalahpahaman mereka tentang Yesus, misi-Nya dan niat-Nya. Mereka telah menyaksikan sendiri roh-roh jahat secara ajaib diusir dari orang-orang, sakit-penyakit disembuhkan secara menakjubkan, dan misteri-misteri Kerajaan Allah dijelaskan kepada mereka. Namun ketika topan mengamuk dengan dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu mereka, segala sesuatu yang telah mereka saksikan dan dengar dari Yesus ternyata belum cukup mampu menopang kepercayaan mereka pada Allah.

Ternyata kita juga mirip-mirip – katakanlah tidak berbeda jauh – dengan para murid Yesus yang pertama. Kita telah mengenal dan mengalami campur-tangan Allah dalam kehidupan kita, telah mendengar kesaksian Kitab Suci, telah menerima kesembuhan dan pembebasan (pelepasan) dari Yesus, dan mengenal kasih-Nya. Walaupun begitu pada saat badai yang terkadang menerpa dalam kehidupan kita, dalam kepanikan kita berteriak: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? (Mrk 4:38).

Tentu saja Yesus peduli, …… bahkan sampai hari ini dan di masa depan sekalipun! “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus begitu mengasihi para murid-Nya (termasuk kita semua), sehingga Dia memperkenankan mereka mengalami amukan dahsyat topan dan ombak besar agar Dia dapat memanifestasikan diri-Nya, secara dramatis, siapakah Dia sebenarnya. Dengan menenangkan angin topan dan ombak dahsyat, Yesus menunjukkan bahwa Dia memegang kendali atas alam ciptaan, dengan demikian mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH-Allah Perjanjian Lama, Dia yang memiliki otoritas atas alam ciptaan (Mrk 4:41; lihat juga Kel 14:21). Pada hari ini Yesus masih mencari kesempatan untuk menenangkan angin topan yang membuat diri kita merasa takut. Ia begitu mengasihi kita

sehingga Dia mau menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya.

Santa Teresa dari Avila [1515-1582] sangat terinspirasi oleh cerita “Yesus menenangkan angin topan dan ombak di danau” ini. Pada saat-saat merasa takut dan khawatir, suster Karmelites yang suci ini dan juga tokoh pembaharu tarekatnya, seringkali merenungkan bacaan Injil ini. Dia bertanya kepada dirinya sendiri: “Siapa sebenarnya Orang ini, sehingga segenap pancainderaku mentaati-Nya – Dia yang sebentar memancarkan sinar terang ke tengah kegelapan yang begitu pekat, melembutkan sebuah hati yang kelihatannya terbuat dari batu, dan mengirimkan air berupa tetesan-tetesan airmata ke tempat yang sudah begitu lama mengalami kekeringan? …… Siapakah yang memberikan keberanian ini?”Jawaban atas pertanyaan orang kudus ini bersifat implisit: Allah sendiri! Sebelumnya Santa Teresa dari Avila telah menulis: “Di sini aku, dibuat tenang bukan oleh apa pun juga, melainkan oleh sabda Allah, dan dianugerahi ketabahan dan keberanian dan keyakinan dan ketenangan …… Sabda-Nya adalah perbuatan-perbuatan” (Life,25).

Para murid belajar bahwa sabda (kata-kata) Yesus adalah perbuatan-perbuatan. Yesus ingin agar kita mengetahui, mengenal dan menggantungkan diri pada kenyataan ini juga. Yang harus kita lakukan adalah berdoa dan memohon kepada-Nya agar supaya kita menerima jaminan yang berasal dari Dia sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan berbagai anugerah-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan penuh ketenangan. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu sebagai Imanuel di tengah-tengah kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Januari 26, 2012

PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici, Perawan, Jumat 27-1-12 )

Ordo Santa Ursula: Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri Tarekat OSU (Anggota Ordo Ketiga S. Fransiskus – Sekular)


Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”Lalu kata Yesus,

“Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-4a,5-10a, 13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Biji mustar itu sungguh sebutir benih yang sangat kecil. Namun apabila benih ditanam, maka benih itu mempunyai potensi untuk bertumbuh menjadi sebatang pohon yang besar. Itulah cara Kerajaan Allah memanisfestasikan dirinya dalam kehidupan kita. Sebagaimana benih pada saat baptisan kita, iman kita pada akhirnya bertumbuh menjadi cukup besar untuk memberikan “naungan” dan kehidupan bagi orang-orang lain. Dan, seperti juga sebatang pohon, iman kita akan melalui tahap-tahap pertumbuhan sampai menjadi berbuah.

Hanya setelah sebutir benih dikuburkan – artinya ditanam di tanah – maka benih itu mulai menjadi sesuatu yang substansial. Karena kita cenderung untuk memandang manisfestasi-manifestasi yang kasat mata, maka kita tidak dapat melihat hasil-hasil yang dimungkinkan dari benih iman kecil yang kita terima pada saat kita dibaptis. Allah memandang lebih mendalam daripada kecenderungan kita dalam memandang. Tidak ada yang lolos dari perhatian-Nya. Karena Allah yang membentuk diri kita dan karena Dia-lah yang membawa kita dalam telapak tangan-Nya, maka Allah-lah yang dapat menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam diri kita. Hal ini dapat berupa waktu yang cukup untuk berdoa secara mendalam dan persekutuan dengan Yesus. Barangkali Allah memanggil kita untuk membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci secara lebih lagi setiap hari, atau untuk bereksperimen lewat upaya mensyeringkan iman kita dengan orang-orang di sekeliling kita. Apa pun kasusnya,

Allah senantiasa mengawasi kita, memberikan kepada kita peluang yang diperlukan bagi iman kita untuk dapat bertumbuh dan menghasilkan buah.

Sekarang apakah anda siap untuk bertumbuh? Apakah anda ingin melihat Allah dalam kehidupan anda secara lebih lagi? Untuk itu baiklah anda melihat ke dalam batin anda sendiri! Janganlah hanya mencoba untuk melakukan hal-hal yang benar (ini memang harus), melainkan melihat kerja Roh Kudus dalam hati anda. Apakah Roh Kudus sedang mencoba untuk mematikan dosa dalam diri anda? Apakah Dia sedang mencoba untuk menolong anda mengatasi luka-luka anda akibat ulah orang lain atas diri anda? Oleh karena marilah kita memberikan kesempatan kepada Roh Kudus untuk mengambil benih iman kita dan menumbuhkannya menjadi sesuatu yang sungguh menakjubkan.

DOA: Bapa surgawi, aku mengatakan “ya” kepada-Mu dalam segala hal yang Kauminta dari diriku. Peganglah hidupku secara lebih mendalam dan nyatakanlah kehendak-Mu dari hidupku. Bangunlah suatu fondasi di dalam diri kita yang juga dapat membantu orang-orang lain mengenal Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Januari 23, 2012

PERTOBATAN SANTO PAULUS

( Bacaan Pertama [Alternatif] Misa , Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rabu 25-1-12 )

Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka

matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui,


Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 9:1-22).
telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Bacaan Pertama [alternatif]: Kis 9:1-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18.

Pada hari ini kita merayakan pertobatan Santo Paulus. Pertobatannya ini tidak hanya mengubah kehidupan seorang anak manusia yang bernama Saulus, yang kemudian berganti menjadi Paulus. Lebih dari itu! Menjawab pertanyaan Saulus tentang siapa Dia, Yesus menjawab: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:5). Kata-kata Yesus ini memberikan kepada Paulus dan juga kepada kita semua, suatu perwahyuan indah tentang apa artinya menjadi anggota Tubuh Kristus. Sebelum itu Yesus bertanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4), Di sini Yesus mengindikasikan bahwa serangan terhadap siapa saja yang adalah anggota tubuh-Nya, merupakan serangan terhadap diri-Nya.

Kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, yang digabungkan dengan Dia dalam baptisan. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada salah satu dari kita yang tidak berpengaruh pada Yesus. Tidak ada satu pun rasa sakit dan penderitaan seorang pengikut-Nya akan luput dari perhatian-Nya, karena Dia sesungguhnya berpartisipasi dalam rasa sakit dan penderitaan tersebut. Yesus bahkan merasakan kesedihan dan “sakit-kepala” yang kita rasakan, karena Dia berdiam dalam diri kita. Kita tidak dapat mengabaikan kebenaran ini. Apabila orang-orang lain mencemooh atau menyerang kita karena iman-kepercayaan kita, Yesus satu dengan kita: Dia juga merupakan pihak yang dicemoohkan dan diserang. Sejalan dengan itu, perilaku kita terhadap orang-orang lainpun mempengaruhi Yesus secara langsung. Maka bagaimana kita dapat mengumpat seorang saudari atau saudara, apabila kita mengetahui bahwa dengan demikian kita juga menyakiti Yesus? Bagaimana kita dapat merobek-robek sesama anggota tubuh-Nya, apabila kita sadar bahwa tindakan destruktif kita itu secara langsung menyerang hati Yesus sendiri? Walaupun kita merasa pantas untuk melakukan hal seperti itu karena ada just cause di belakangnya, tanggapan kita selalu harus diperlunak sebab kenyataannya adalah bahwa kita berbagi kesatuan dalam Kristus dengan “pihak lawan” kita.

Ambillah satu menit untuk merenungkan hal yang sungguh serius ini. Sebelum kita berbicara tentang hal ini dalam ruang lingkup lintas-gereja, sebelum berbicara tentang bagaimana inter-aksi kita dalam gereja kita sendiri, pada tingkat paroki/wilayah/lingkungan; bagaimana dengan inter-aksi dalam keluarga/komunitas kita sendiri? Oleh iman kita yakin bahwa tidak ada satu pun situasi yang tidak dapat direkonsiliasikan, apabila kita menerima kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita masing-masing melalui Roh Kudus. Bahkan Paulus, seorang pengejar dan pembunuh para pengikut Kristus, pada akhirnya mengabdikan hidupnya bagi Yesus. Apabila bersama Paulus kita menghormati “Tubuh Kristus”, maka bayangkanlah efek kesatuan kita itu terhadap dunia: kuasa Kristus “mendaging” di tengah-tengah kita, menyadi suatu kekuatan yang sungguh nyata.

DOA: Tuhan Yesus, kami mohon pengampunan-Mu karena kami telah menyakiti-Mu oleh ketiadaan kasih kami kepada anggota-anggota tubuh-Mu yang lain. Satukanlah kami sebagai satu tubuh – satu Gereja, mempelai-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMULIAKAN ALLAH DENGAN SEGENAP DIRI KITA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Sales, Uskup & Pujangga Gereja, Selasa 24-1-12 )


Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN (YHWH) itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga; Ia berbaju efod dari kain lenan.Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut YHWH itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Tabut YHWH itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan di hadapan YHWH. Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama YHWH semesta alam. Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya. (2Sam 6:12b-15,17-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10; Bacaan Injil: Mrk 3:31-35

“Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga” (2Sam 6:14).

Dalam memuji-muji YHWH-Allah, Daud memang tidak tanggung-tanggung. Terkesan ia sungguh dipenuhi – kalau tidak boleh dikatakan “dirasuki” – oleh Roh Allah sendiri; seluruh anggota tubuhnya dipersembahkannya pada upacara diangkatnya Tabut YHWH dari rumah Obed-Edom ke kota Daud. Ia tidak mempedulikan siapakah yang menyaksikan upacara itu dan apakah yang ada dalam benak mereka, positif ataupun negatif, karena bagi Daud yang penting adalah memuliakan YHWH-Allah dengan segenap dirinya. Misalnya, dalam ayat 16 (tidak menjadi bagian dari bacaan hari ini) dicatat, bahwa Mikhal (anak Saul dan istri Daud; lihat 1Sam 18:20-27) juga menanggapi perilaku Daud dengan sikap negatif.

Orang-orang mengungkapkan puji-pujian mereka kepada Allah dengan cara-cara yang berbeda, seringkali seturut kepribadian masing-masing. Kitab Suci menggambarkan Daud sebagai seorang pribadi yang menyenangi musik, penuh gairah, sebagaimana dicerminkan oleh doa-doanya. Apabila anda melihat doa-doa Daud itu aneh, ingatlah bahwa bukan caranya berdoa yang membuatnya dipilih Allah (1Sam 13:14), melainkan kenyataan bahwa dia menyembah Allah dengan segala kekuatan dirinya. Dengan menggunakan segala hal yang dimilikinya, Daud memberikan dirinya secara lengkap-total untuk memuji-muji YHWH-Allah.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah hidup doa saya dicirikan dengan suatu determinasi yang serupa?” Sebagai raja Israel, Daud tentunya sibuk dan mempunyai banyak urusan dan isu yang membutuhkan perhatiannya. Namun pada saat itu sang raja memilih untuk sementara menyingkirkan segala urusan dunia, dan mengerahkan seluruh energinya guna memuliakan YHWH, sang “Raja segala raja”.

Bagi kita pun doa harus dimulai sebagai suatu pilihan. Doa seringkali dimulai dengan sebuah tindakan penuh determinasi dari kehendak, yang dapat ditransformir oleh-Nya menjadi suatu hubungan kasih. Allah memang sangat bermurah hati! Dia menerima upaya kita dan sebagai respons, Dia mencurahkan rahmat-Nya yang berkelimpahan kepada kita.

Allah senang akan sembah-bakti kita kepada-Nya. Allah senang melihat kita menyediakan waktu untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dia senang berada bersama kita. Oleh karena itu, marilah kita membuat keputusan hari ini untuk selama beberapa saat lamanya melepaskan diri dari urusan kita sehari-hari dan juga distraksi-distraksi lainnya, dan menggunakan waktu yang tersedia untuk berada bersama Allah. Anda bertanya: “Bagaimana?” Abaikanlah telepon, matikanlah televisi, atau pergilah ke sebuah tempat di mana anda tidak dapat diganggu. Pertimbangkanlah untuk keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) anda dan ungkapkanlah puji-pujian anda kepada-Nya dengan suatu cara baru yang bebas-lepas – misalnya dengan menari, memainkan alat musik, menulis sebuah puisi, membaca atau menyanyikan potongan bacaan Kitab Suci sebagai sebuah doa. Ingatlah, bahwa bagi Allah, jauh lebih penting daripada bentuk doa mana pun yang anda pilih adalah, kenyataan – seperti halnya dengan Daud – , bahwa anda telah mengambil keputusan untuk berada di hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terimalah pujianku kepada-Mu sebagai suatu tanda kasihku dan hormatku kepada-Mu. Engkau memang Mahalain dalam segala kebaikan-Mu, ya Allahku. Semoga mulutku senantiasa memuji-muji nama-Mu yang sungguh kudus, agung dan menakjubkan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS