KITA TIDAK PERLU PERGI KE PADANG GURUN UNTUK MENCARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan III Adven  – Kamis, 15 Desember 2022  

Setelah utusan Yohanes itu pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan anginkah? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian haluskah? Orang yang berpakaian indah dan hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi, untuk apakah kamu pergi? Melihat seorang nabikah? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih daripada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.

Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada dia.” Seluruh orang banyak yang mendengarkan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes. (Luk 7:24-30)

Bacaan Pertama: Yes 54:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-12a,13b

Rasanya kita masing-masing pernah membayangkan orang macam apa kiranya Yohanes Pembaptis ini, seperti apa kiranya wajahnya, “tongkrongannya”, seperti apa suaranya, bagaimana kehidupannya di padang gurun – yang sendirian saja itu. Yang jelas orang ini memang bukan seperti orang-orang “normal”, tidak salah kalau kita katakan dia adalah seorang pribadi yang “aneh”. Pakaiannya kasar  dan makanannya belalang dan madu hutan. Dia mewartakan pertobatan kepada siapa saja yang datang kepadanya (lihat Mrk 1:4-6). Khotbah-khotbahnya begitu radikal sehingga ujung-ujungnya membuat dirinya dijebloskan ke dalam penjara oleh raja Herodes (lihat Luk 3:18-20). Yohanes memang begitu berbeda dengan kita sehingga sulitlah untuk menjadikannya seorang role model untuk kita teladani.

Sesungguhnya tidak dapat dipungkiri bahwa dalam banyak hal Yohanes Pembaptis memang tidak seperti kita, namun dia adalah seorang manusia biasa seperti kita juga. Misi yang diemban oleh Yohanes mungkin berbeda, namun caranya dia menjadi mampu menanggapi panggilannya pada hakekatnya sama dengan cara kita bertumbuh dalam kemampuan kita melaksanakan misi kita. Relasi Yohanes dengan Allah sangatlah  mendalam. Dia adalah seorang pendoa yang mengabdikan dirinya untuk mencari Allah dan mendengarkan-Nya. Injil Lukas mencatat tentang Yohanes Pembaptis: “Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel (Luk 1:80). Inilah tempat Yohanes menemukan kekuatan untuk berdiri teguh dan setia dalam mengerjakan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya.

Jikalau kita menempatkan Tuhan Allah sebagai yang pertama dan utama dalam hidup kita, maka Dia pun akan memimpin kita sebagaimana Dia telah memimpin Yohanes. Aspek terpenting dari relasi kita dengan Allah bukanlah apa yang kita perbuat bagi-Nya, melainkan apa yang kita perkenankan untuk dilakukan oleh Dia dalam diri kita. Allah berkeinginan untuk mendatangkan perubahan dramatis dalam kehidupan kita. Dia ingin menjalin relasi yang akrab dan mempribadi dalam kehidupan kita, di mana kita akhirnya dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya, kemudian digerakkan untuk mengasihi-Nya. Dia ingin menganugerahkan kita dengan karunia-karunia Roh Kudus-Nya agar supaya pelayanan kita kepada-Nya akan menghasilkan buah berlimpah. Singkatnya, Dia ingin membuat kita serupa dengan Yesus!

Kita tidak perlu pergi ke padang gurun untuk mencari Allah. Dia ada di dalam hati kita setiap kali kita berdoa dan membaca serta merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci dan menikmati berbagai faedah dan manfaat yang diperoleh dari sakramen-sakramen. Dia akan membimbing kita setiap kali kita menghentikan sejenak kegiatan rutin kita,  lalu  melakukan pemeriksaan batin secara singkat. Ia datang mendekati kita tidak dengan kata-kata yang muluk-muluk, melainkan kata-kata sederhana, seperti “Aku mengasihi kamu!” Dia akan menguatkan kita selagi kita menolong seorang sahabat atau rekan kerja yang membutuhkan bantuan. Kesempatan-kesempatan untuk memperbaharui komitmen kita kepada Kristus dan mencari hikmat-Nya selalu ada di sekeliling  kita!

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diriku sedemikian agar menempatkan Engkau sebagai yang pertama dan utama dalam hidupku, sehingga dengan demikian Engkau pun akan memimpinku sebagaimana Engkau telah memimpin Yohanes Pembaptis. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Sumber :  https://sangsabda.wordpress.com/2022/12/14/kita-tidak-perlu-pergi-ke-padang-gurun-untuk-mencari-allah/