Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, April 24, 2019

TIMBULNYA KERAGU-RAGUAN DI DALAM HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis dalam Oktaf Paskah – 25 April 2019)
Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, “Apakah kamu punya makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kita nabi-nabi dan kitab Mazmur.”  Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini. (Luk 24:35-48) 
Bacaan Pertama: Kis 3:11-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9
“Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? (Luk 24:38)
Bila membaca narasi Injil Lukas di atas, maka dengan mudah kita dapat memahami reaksi dari para murid pada saat kemunculan Yesus di tengah-tengah mereka. Dia yang telah dipaku di kayu salib, mati dan dikuburkan, sekarang berdiri di tengah-tengah mereka. Sungguh sebuah peristiwa yang mengejutkan bagi siapa saja yang mengalaminya sendiri. Siapakah yang tidak akan kaget, terkejut, takut, bahkan merasa ragu-ragu? Jangan-jangan …… ini hantu!

Keragu-raguan adalah suatu reaksi yang manusiawi. Bahkan para kudus (santa, santo, beata, beato dll.) pun pernah memiliki keragu-raguan dalam perjalanan hidup rohani mereka. Seorang pujangga gereja yang besar, Santo Thomas Aquinas [1225-1274] pernah mengeluh kepada Allah, “Aku tidak tahu apakah Engkau mengasihiku, atau apakah aku mengasihi Engkau … bahkan aku pun tidak tahu apakah aku hidup oleh/dengan iman!” Ingatlah juga cerita dari Injil Yohanes yang menyangkut rasul Tomas alias Didimus yang mengatakan: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25).
Yesus terkadang menantang para murid-Nya agar dapat memiliki iman yang lebih besar. Namun Ia tidak pernah mematahkan semangat mereka hanya karena mengungkapkan rasa ragu dan rasa takut mereka kepada-Nya. Apabila mereka melakukannya, Yesus selalu memberikan pertolongan yang diperlukan oleh mereka. Marilah kita perhatikan tanggapan-Nya terhadap rasa ragu dan takut para murid-Nya dalam bacaan di atas: “… rabalah Aku dan lihatlah” (Luk 24:39). Yesus bahkan makan di depan mata mereka untuk mematahkan kecurigaan mereka bahwa diri-Nya adalah hantu atau sekadar kilasan khayalan mereka. Yesus sangat berkeinginan untuk menolong para murid-Nya agar dapat menghilangkan rasa takut mereka.

Seperti para murid pada waktu itu, kita pun sekarang dapat bersikap jujur dengan Yesus. Ia tidak akan mengejek kita, apalagi menghukum kita karena mengajukan pertanyaan “tolol” atau membuat pernyataan seperti yang dilakukan oleh Santo Tomas rasul. Yesus memahami sekali rasa takut dan rasa ragu yang sedang menghinggapi diri kita. Dia ingin menolong kita mengatasi ketakutan dan keraguan kita sehingga dengan demikian kita dapat menjadi lebih dekat dengan diri-Nya. Yesus mengundang kita untuk meletakkan segala keragu-raguan, kekhawatiran, kegalauan, kekecewaan, keputusasaan dan ketakutan kita di dekat kaki-kaki-Nya. Hanya apabila kita melakukannya seperti itu, maka segala keraguan dlsb. itu dapat memperoleh solusinya. Yesus tidak ingin kita mencoba-coba untuk memecahkan sendiri segala persoalan hidup yang kita hadapi, karena bagaimana pun juga upaya sedemikian tidak akan membawa hasil, malah dapat mengakibatkan frustrasi dan menambah kadar keragu-raguan dlsb. yang disebutkan di atas tadi.

Pada hari ini, baiklah kita membawa ketidakpercayaan yang masih ada dalam hati kita masing-masing kepada Yesus. Misalnya, ketidakpastian atau keragu-raguan terhadap kasih-Nya kepada diri kita. Yesus telah mengetahui isi hati kita masing-masing, namun Ia selalu menyambut baik kejujuran/ketulusan kita dan kerendahan-hati/kedinaan kita dengan membawakan “perkara” kita masing-masing kepada-Nya. Kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus adalah seorang Pribadi yang lembah lembut, berbelas-kasih dan panjang sabar dalam artiannya yang sempurna.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau tidak menghukum diriku ketika timbul keragu-raguan dalam hatiku tentang diri-Mu. Utuslah Roh Damai-Mu ke dalam hidupku di mana ada kebingungan atau ketakutan. Semoga realitas kasih-Mu yang sempurna bagi diriku mengusir setiap rasa takut yang tersembunyi dalam hatiku. Amin.

Isnin, April 22, 2019

MARIA MAGDALENA BERJUMPA DENGAN SANG GURU YANG TELAH BANGKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH – 23 April 2019)
Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:11-18) 
Bacaan Pertama: Kis 2:26-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-19,20,22 
Dalam bacaan dari Injil keempat hari ini Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepada seorang perempuan, Maria Magdalena. Saat itu adalah pagi hari Minggu Paskah. Ketika Maria Magdalena mengenali Yesus, yang pada awalnya disangkanya tidak lain daripada seorang penjaga taman, Yesus berkata, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh 20:17). Seakan Yesus di sini berkata, “Janganlah berperilaku seakan Aku tidak pernah akan kembali; janganlah berpikir bahwa Aku tidak lagi hadir di tengah para murid-Ku” Kita lihat di sini, bahwa Yesus telah memasuki suatu “modus kehadiran” yang baru. Sekarang kita harus melihat sesuatu yang melampaui kehadiran-Nya secara fisik: kita harus melekat pada-Nya oleh iman. Lewat tanda-tanda-Nya yang suci – sakramen-sakramen – kita menyentuh Dia dan disentuh oleh-Nya.

Kita juga berjumpa dengan Yesus  dalam diri sesama kita dan dalam dunia. Apabila kita sungguh umat yang beriman, maka kita mempunyai mata yang sungguh melihat, telinga yang sungguh mendengar, tangan yang sungguh menyentuh.
Bacaan pertama yang diambil dari “Kisah para Rasul” berbicara mengenai Baptisan. Kita telah dibaptis dan memiliki iman yang membawa terang, sukacita, hikmat dan pemahaman. Pertanyaannya sekarang, apakah kita hidup dengan terang, sukacita dan hikmat ini? Apakah kita berperilaku seperti orang-orang yang belum ditebus, bingung, masa bodoh dan tanpa sukacita?
H DIAMBILDalam iman seperti Maria Magdalena kita telah melihat Tuhan. Kita melihat Dia di sini, dalam sabda yang diproklamasikan/diwartakan dan dalam roti yang dipersembahkan dan diterima/disambut oleh kita. Kita melihat Dia dalam diri orang lain dan dalam dunia. Sebagai umat Kristiani kita harus sepenuhnya dibangkitkan, artinya menjadi sebagai orang-orang yang sungguh menghayati/menjalani hidup dalam kepenuhannya.

DOA: Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku (Mzm 42:2-3,9). Terpujilah Allah selama-lamanya. Amin.

Jumaat, April 12, 2019

YESUS DAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI YANG MELAWAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 12 April 2019)
Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.
Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 
Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 
Dalam banyak bacaan di pekan V Prapaskah ini, kita telah melihat bagaimana klaim Yesus sebagai Putera Allah membuat marah banyak pemimpin/pemuka agama Yahudi – sampai-sampai sebagian dari mereka berniat untuk membunuh-Nya.  Bagi mereka itu Yesus telah menghujat Allah. Dalam pembelaan-Nya, Yesus menunjuk Bapa-Nya sebagai Pribadi yang mengutus diri-Nya ke tengah dunia. Yesus menantang para lawan-Nya agar paling sedikit menerima pekerjaan baik yang dilakukan-Nya walau pun mereka tidak dapat menerima kata-kata yang diucapkan-Nya.

Yohanes seringkali menggambarkan para lawan Yesus sebagai “orang-orang Yahudi”. Tentu saja memang sebagian besar dari tokoh-tokoh dalam Injil adalah orang-orang (yang berkebangsaan dan beragama) Yahudi – Yesus sendiri, ibunda-Nya, Yusuf ayah-Nya, para murid-Nya, banyak dari orang-orang yang menerima-Nya dan juga mereka yang menolak diri-Nya. Akan tetapi, Yohanes menggunakan istilah “orang-orang Yahudi” untuk mengacu secara spesifik kepada  para pemuka/pemimpin agama yang melawan Yesus. Sayang sekali, pernyataan-pernyataan Yohanes tentang perlawanan/oposisi keras “orang-orang Yahudi” terhadap Yesus kadang-kadang diambil sebagai suatu gambaran negatif keseluruhan orang Yahudi. Dari abad ke abad penggambaran yang terdistorsi ini telah dipakai sebagai pembenaran sikap dan tindakan anti-semitisme – kadang-kadang malah dengan akibat-akibat yang bersifat katastropis – lihatlah misalnya pembunuhan massal yang dilakukan oleh Nazi Jerman atas orang-orang Yahudi dalam Perang Dunia II (holocaust).
Konsili Vatikan II dan para Paus telah bekerja keras untuk mengoreksi kesalahpahaman ini dan mempromosikan rasa hormat kepada orang-orang Yahudi, baik secara individual maupun koletif. Pada tahun 2000, ketika berada di Yerusalem, almarhum Paus Yohanes Paulus II mendeklarasikan: “Saya meyakinkan umat Yahudi bahwa Gereja Katolik …… merasa sedih secara mendalam disebabkan oleh kebencian, tindakan-tindakan penganiayaan, dan peragaan anti Semitisme yang ditujukan terhadap orang-orang Yahudi oleh orang-orang Kristiani kapan dan di mana saja.

Pada tahun yang sama, Sri Paus juga memimpin “Kebaktian Permohonan Ampun” di Vatikan. Pada kesempatan itu Sri Paus mengakui peranan Abraham sebagai Bapak iman bagi semua orang Kristiani, dan kenyataan adanya banyak orang Kristiani yang membawa /menyebabkan penderitaan atas diri anak-anak Abraham. Dalam doanya Sri Paus mohon pengampunan dari Allah dan mengatakan: “kami mau mengkomit diri kami sendiri guna tercapainya persaudaraan sejati dengan umat perjanjian”
Umat Yahudi akan senantiasa menjadi umat pilihan Allah, no matter what! Allah tidak pernah menarik perjanjian-Nya dengan umat Yahudi dan juga tidak pernah menarik berkat-Nya bagi umat pilihan-Nya itu. “Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya” (Rm 11:29). Marilah kita tidak letih-letihnya berdoa mohon kepada Allah agar mempersatukan hati umat Kristiani dan umat Yahudi di mana-mana dalam persaudaraan sejati.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami untuk cara-cara kami yang telah membiarkan bertumbuhnya prasangka dalam hati kami. Perkenankanlah kami menabur cintakasih di mana ada kebencian, dan persaudaraan sejati di mana ada perpecahan antar semua orang Yahudi dan orang Kristiani. Amin.

Ahad, April 07, 2019

MISA KUDUS DAN IBADAT SABDA PAROKI OLOF BELURAN

HARI MINGGU PALMA 
(MEMPERINGATI YESUS MEMASUKI KOTA YERUSALEM)

TARIKH
TEMPAT
MASA
MISA / IBADAT SABDA

14/04/2019
OLOF BELURAN
8.30 pagi
+Ibadat Sabda / EMC

14/04/2019
ST. PAUL, ULU DUSUN
11.00 pagi
+Ibadat Sabda / EMC

14/04/2019
ST. ANTHONY, BUKIT GARAM
(Penerimaan Salib Belia dan ikon Bunda Maria)
11.00 pagi
Misa Kudus / Fr. Phillip A. Muji

14/04/2019
ST. EMMANUEL, JAYA BAKTI
8.30 pagi
Misa Kudus / Fr. Phillip A. Muji

14/04/2019
ST. YOHANES PEMBAPTIS, SEKILAN DESA
8.30 pagi
+Ibadat Sabda / EMC











JADUAL PETUGAS LITURGI GEREJA OLOF BELURAN

LITURGI TAHUN C
HARI MINGGU PRAPASKA 5
HARI MINGGU DAUN PALMA

TARIKH
07.04.2019
14.04.2019

ROSARI /
KERAHIMAN ILAHI
(Masa jam 7.45 pagi)
Mengikut KKD yang bertugas
Mengikut KKD yang bertugas

KUMPULAN KOIR
Belia/Veteran
Belia/Veteran

KOMENTATOR
Regina Julian
Linda Marcus

LEKTOR I
Falerie Filimon
Joanna Lim

PEMAZMUR
Charlene Ahim
Helda Marusin

LEKTOR II
Greely Yakobos
Lucy Marik

PERSEMBAHAN
Gabungan KBP/KBP Paroki OLOF
Kerasulan Wanita Katolik OLOF







YESUS MASIH TERUS MENANTIKAN KITA AGAR DATANG KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 8 April 2019)
Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 
Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 atau Dan 13:41c-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 
Dapatkah anda membayangkan emosi perempuan ketika dia didapati sedang melakukan perzinahan dengan seorang laki-laki yang tentunya bukan pasangan hidupnya (kalau pun ada)? Tentunya dia merasa serba salah dan malu. Akan tetapi di sini ada yang lebih menakutkan daripada penghinaan – dan perempuan itu pun tentunya tahu. Hukum Musa menyatakan bahwa seorang pezinah haru dihukum rajam sampai mati. Jadi sangat mungkinlah rasa malu dlsb. dengan cepat diambil alih oleh rasa takut yang teramat sangat.

Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan itu kepada Yesus, sang Rabi dari Nazaret itu malah membuat diri-Nya berhadap-hadapan dengan para pemuka agama Yahudi tersebut. Yesus membuat mereka berkonfrontasi dengan dosa-dosa mereka sendiri. Sekarang merekalah yang “tertangkap basah” dan tanggapan mereka adalah pergi meninggal tempat itu, satu demi satu. Sungguh merupakan kelegaan luarbiasa (lahir dan batin) bagi si perempuan.
Namun demikian, ada satu hal penting yang dikatakan Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11). Marilah kita coba membayangkan bagaimana perasaan si perempuan ketika mendengar kata-kata Yesus itu, yaitu selagi rasa takut dan terhinanya digantikan pertama-tama oleh kelegaan dan kemudian dengan rasa sukacita penuh syukur. Tidak hanya dia terbebaskan dari hukuman mati yang mengerikan; perempuan itu telah mengalami pengampunan ilahi langsung dari Putera Allah sendiri.
Tidak seperti perempuan itu, kita pada umumnya tidak dihadapkan dengan kematian fisik untuk dosa-dosa kita. Namun demikian, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa upah dosa ialah maut (Rm 6:23). Jauh lebih buruk daripada akhir hidup kita adalah maut ini, karena hal itu berarti selamanya (kekal-abadi) dipisahkan dari kasih Allah dan kasih orang-orang di sekeliling kita.
Tidak mengherankanlah apabila cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah ini berbicara dengan penuh kuasa kepada kita yang membaca dan merenungkannya! Setiap hari, masing-masing kita mendapat kesempatan untuk mengalami perjumpaan yang memberi-hidup dengan Yesus. Setiap hari, Dia menawarkan kepada kita kasih dan belas kasih sama seperti yang diberikan-Nya kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini, kasih dan belas kasih yang akan memenuhi diri kita dengan pengharapan dan rasa syukur. Dosa membebani diri kita dan membuat kita kehilangan sukacita. Akan tetapi jika kita mengetahui bahwa kita telah diampuni, maka seluruh hidup kita berubah. Kita dibebaskan dari rasa bersalah yang berkepanjangan. Pandangan hidup kita juga berubah secara dramatis. Dst. dan dlsb.

Dengan kontras sedemikian antara tetap terikat dalam dosa dan mengalami kuasa dari kasih dan belas kasih Allah, semoga tidak ada lagi penghalang terhadap upaya kita untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Apa lagi yang mungkin menghalangi kita dari upaya datang kepada Yesus agar kita dapat mendengar kata-kata yang memberi-hidup dari Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau”? Yesus masih terus menantikan kita agar datang kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan atas dosa-dosa kita.
DOA: Bapa surgawi, aku sungguh begitu berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku betapa besar sekali pun dosaku itu, asalkan aku mohon pengampunan kepada-Mu dalam penyesalan sejati. Anugerahkanlah karunia pertobatan kepadaku. Amin.