Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Januari 09, 2012

KEHIDUPAN ITU KARUNIA DARI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Selasa 10-1-11)

Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN (YHWH), dan dengan hati pedih ia berdoa kepada YHWH sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan YHWH, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah diri dari pada mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur atau pun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan YHWH. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.” Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan YHWH; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, YHWH ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada YHWH.” (1Sam 1:9-20)

Mazmur Tangggapan: 1Sam 2:1,4-7; Bacaan Injil: Mrk 1:21-28

Dalam sebuah dunia di mana anak-anak yang belum sempat dilahirkan diperlakukan sebagai “barang” yang dapat dibuang begitu saja dan di mana anak-anak yang tak diinginkan dibiarkan hidup tanpa rumah/tempat tinggal dan dibiarkan hidup sebagai anak-anak jalanan di kota-kota, maka kerinduan Hana untuk dapat mempunyai seorang anak laki-laki dapat terasa seakan suatu hembusan angin segar. Inilah seorang pribadi manusia yang begitu menghargai kehidupan sebagai suatu karunia yang sangat berharga dari Allah, sehingga dia berjanji untuk mengabdikan anaknya kembali kepada Allah, hanya apabila dia dapat memperoleh seorang anak laki-laki. Hasratnya untuk memperoleh seorang anak laki-laki begitu mendalam sehingga dia bersedia untuk tidak bersama anaknya itu lagi sepanjang hidupnya, agar supaya anaknya itu dapat melayani Allah dan umat-Nya secara purna-waktu.

Sekarang, marilah kita berpikir sejenak mengenai anak-anak di seluruh dunia yang dibuang, tidak diperhatikan, karena faktor kemiskinan maupun karena memang tidak diinginkan oleh para orangtua mereka. Pikirkanlah juga anak-anak yang terbunuh lewat tindakan aborsi atau yang menderita karena terjebak dalam rumah tangga yang suka melecehkan mereka, entah dalam bentuk KDRT atau pelecehan seksual oleh anggota keluarga yang lebih dewasa. Bukankah dunia kita ini akan sangat berbeda apabila anak-anak tidak dilecehkan, diabaikan, atau dieksploitasi, melainkan diajar tentang kasih Allah, diperhatikan dengan penuh afeksi, dan diperlakukan dengan respek dan hormat yang sepantasnya mereka terima? Dengan demikian berapa banyak lagi kita mempunyai hamba-hamba Allah pada hari ini! Berapa banyak lagi orang-orang – baik perempuan maupun laki-laki – yang produktif, berbela-rasa dan berkepribadian stabil yang akan memberikan kontribusi bagi kebaikan Gereja maupun keamanan masyarakat dunia!

Paus Yohanes Paulus II menulis: “Apabila keluarga begitu penting bagi peradaban kasih, maka hal itu disebabkan oleh kedekatan dan intensitas khusus dari ikatan-ikatan yang terwujud di antara pribadi-pribadi dan generasi-generasi di dalam keluarga” (Letters to Families, 1994). Allah menginginkan umat manusia menjadi sebuah keluarga dari keluarga-keluarga yang bersatu dalam diri-Nya. Sebaliknya, Iblis senantiasa berupaya untuk memecah-belah dan menghancurkan kesatuan dan persatuan umat manusia. Target/sasaran utama si Iblis adalah kehidupan keluarga. Iblis mengetahui, bahwa apabila dia dapat menyerang sebuah generasi anak-anak secara keseluruhan, maka dia akan secara serius membawa dampak buruk atas masa depan Gereja dan dunia.

Kita harus senantiasa mengingat, bahwa pertempuran guna melindungi generasi ini hanya dapat diperjuangkan melalui kuasa Roh Kudus.dengan menggunakan senjata-senjata spiritual (lihat Ef 6:10-18). Allah memanggil kita untuk secara berkelanjutan melakukan doa-doa pengantaraan (syafaat) untuk anak-anak yang tidak sempat dilahirkan karena aborsi, juga untuk anak-anak yang hidup sekarang, yang tidak diinginkan, yang ditelantarkan, atau korban berbagai macam pelecehan. Melalui doa-doa yang dilakukan dengan tekun – seperti dicontohkan oleh Hana dalam bacaan hari ini – kita pun dapat melawan kegelapan yang begitu pekat ini, dan ikut ambil bagian dalam menyelamatkan suatu generasi secara keseluruhan.

DOA: Tuhan Allah, Engkau adalah pemberi seluruh kehidupan. Kami mohon, lindungilah semua anak-anak. Berkatilah dan kuatkanlah semua orangtua. Biarlah api Roh-Mu datang ke atas generasi ini sehingga mereka dapat bertumbuh dalam hikmat-kebijaksanaan dan semangat untuk mengikuti Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan