Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Januari 23, 2012

MEMULIAKAN ALLAH DENGAN SEGENAP DIRI KITA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Sales, Uskup & Pujangga Gereja, Selasa 24-1-12 )


Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN (YHWH) itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga; Ia berbaju efod dari kain lenan.Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut YHWH itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Tabut YHWH itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan di hadapan YHWH. Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama YHWH semesta alam. Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya. (2Sam 6:12b-15,17-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10; Bacaan Injil: Mrk 3:31-35

“Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga” (2Sam 6:14).

Dalam memuji-muji YHWH-Allah, Daud memang tidak tanggung-tanggung. Terkesan ia sungguh dipenuhi – kalau tidak boleh dikatakan “dirasuki” – oleh Roh Allah sendiri; seluruh anggota tubuhnya dipersembahkannya pada upacara diangkatnya Tabut YHWH dari rumah Obed-Edom ke kota Daud. Ia tidak mempedulikan siapakah yang menyaksikan upacara itu dan apakah yang ada dalam benak mereka, positif ataupun negatif, karena bagi Daud yang penting adalah memuliakan YHWH-Allah dengan segenap dirinya. Misalnya, dalam ayat 16 (tidak menjadi bagian dari bacaan hari ini) dicatat, bahwa Mikhal (anak Saul dan istri Daud; lihat 1Sam 18:20-27) juga menanggapi perilaku Daud dengan sikap negatif.

Orang-orang mengungkapkan puji-pujian mereka kepada Allah dengan cara-cara yang berbeda, seringkali seturut kepribadian masing-masing. Kitab Suci menggambarkan Daud sebagai seorang pribadi yang menyenangi musik, penuh gairah, sebagaimana dicerminkan oleh doa-doanya. Apabila anda melihat doa-doa Daud itu aneh, ingatlah bahwa bukan caranya berdoa yang membuatnya dipilih Allah (1Sam 13:14), melainkan kenyataan bahwa dia menyembah Allah dengan segala kekuatan dirinya. Dengan menggunakan segala hal yang dimilikinya, Daud memberikan dirinya secara lengkap-total untuk memuji-muji YHWH-Allah.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah hidup doa saya dicirikan dengan suatu determinasi yang serupa?” Sebagai raja Israel, Daud tentunya sibuk dan mempunyai banyak urusan dan isu yang membutuhkan perhatiannya. Namun pada saat itu sang raja memilih untuk sementara menyingkirkan segala urusan dunia, dan mengerahkan seluruh energinya guna memuliakan YHWH, sang “Raja segala raja”.

Bagi kita pun doa harus dimulai sebagai suatu pilihan. Doa seringkali dimulai dengan sebuah tindakan penuh determinasi dari kehendak, yang dapat ditransformir oleh-Nya menjadi suatu hubungan kasih. Allah memang sangat bermurah hati! Dia menerima upaya kita dan sebagai respons, Dia mencurahkan rahmat-Nya yang berkelimpahan kepada kita.

Allah senang akan sembah-bakti kita kepada-Nya. Allah senang melihat kita menyediakan waktu untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dia senang berada bersama kita. Oleh karena itu, marilah kita membuat keputusan hari ini untuk selama beberapa saat lamanya melepaskan diri dari urusan kita sehari-hari dan juga distraksi-distraksi lainnya, dan menggunakan waktu yang tersedia untuk berada bersama Allah. Anda bertanya: “Bagaimana?” Abaikanlah telepon, matikanlah televisi, atau pergilah ke sebuah tempat di mana anda tidak dapat diganggu. Pertimbangkanlah untuk keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) anda dan ungkapkanlah puji-pujian anda kepada-Nya dengan suatu cara baru yang bebas-lepas – misalnya dengan menari, memainkan alat musik, menulis sebuah puisi, membaca atau menyanyikan potongan bacaan Kitab Suci sebagai sebuah doa. Ingatlah, bahwa bagi Allah, jauh lebih penting daripada bentuk doa mana pun yang anda pilih adalah, kenyataan – seperti halnya dengan Daud – , bahwa anda telah mengambil keputusan untuk berada di hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terimalah pujianku kepada-Mu sebagai suatu tanda kasihku dan hormatku kepada-Mu. Engkau memang Mahalain dalam segala kebaikan-Mu, ya Allahku. Semoga mulutku senantiasa memuji-muji nama-Mu yang sungguh kudus, agung dan menakjubkan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan