Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Oktober 15, 2015

MEMAKAI TOPENG

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 16 Oktober 2015) 
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Rm 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11 
Sekali lagi Yesus mengajar pertama-tama kepada para murid-Nya sebelum mengajar kepada orang  banyak. Yesus mengingatkan para murid supaya menghindari kemunafikan seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi, tentang hal mana Dia baru saja membicarakannya (lihat Luk 11:37-54). Yesus mengetahui sekali betapa mudahnya seseorang untuk jatuh ke dalam perangkap ini. Jadi, Dia berkata, “Waspadalah!” Waspadalah, agar kamu tidak menipu dirimu sendiri!
Apakah yang dimaksudkan dengan “kemunafikan”? Artinya, “berpura-pura.” Ketika kita (anda dan saya) berpura-pura menjadi pribadi-pribadi yang bukan diri kita yang sebenarnya, jika kita menunjukkan suatu tampak-luar yang tidak cocok dengan yang ada di dalam hati dan pikiran kita, maka kita adalah orang-orang munafik. Seorang munafik memakai kedok atau topeng. Ia menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya. Sebagai anggota tim kerja atau panitia tertentu, orang ini dapat sangat kelihatan sibuk sekali guna menutupi kemalasannya atau kegagalannya; dia dapat berpura-pura menjadi seorang pendoa yang luar-biasa salehnya untuk menutupi kedangkalan imannya.
Yesus mengatakan bahwa sebuah topeng tidak dapat menjadi pelindung. Sebuah topeng tidak memberikan kepada kita sesuatu yang kokoh atau teguh, tidak ada kehormatan, juga tidak ada damai-sejahtera. Selalu ada bahaya topeng itu copot dan terungkaplah siapa sesungguhnya dirinya. Dengan memakai topeng, seseorang selalu dihantui rasa waswas bahwa dirinya yang sebenarnya akan diketahui orang-orang lain. Seperti dikatakan Yesus sendiri: “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk 12:2).
Emotion-Masks-760100
Kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa terkadang kita (anda dan saya) pun sekali waktu memakai topeng juga. Kita semua cenderung untuk mencoba menutup-nutupi jati diri kita sebenarnya. Make-uptebal bukanlah satu-satunya topeng yang kita pakai. Kita mencoba segala cara yang mungkin supaya kelihatan lebih cantik daripada keadaan kita sebenarnya. Kita melakukan segalanya yang mungkin agar dapat menyembunyikan sikap tidak peduli kita, dan berbagai keterbatasan kita lainnya. Kita mengenakan topeng “Bapak yang tenang/kalem” karena kita menutup kegelisahan dan ketakutan yang sedang mencekam diri kita. Kita memakai topeng “Bapak Supersibuk” guna menutupi rasa takut kita bahwa jangan-jangan kita tidak diterima oleh kelompok/komunitas tertentu. Kita semua memiliki kecenderungan-kecenderungan memakai topeng karena kita takut mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya.

Namun Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi…….” (Luk 12:5-7). Kepada para murid-Nya (termasuk kita), Yesus menjanjikan kemenangan akhir. Apakah itu tidak cukup? Bukankah itu damai-sejahtera kita?
DOA: Tuhan Yesus, untuk menjadi murid-Mu kami harus jujur dan terbuka. Tolonglah diriku, ya Tuhan Yesus, agar mau mencopot topeng yang selama ini kupakai. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “ABRAHAM DIBENARKAN MELALUI IMAN” (bacaan tanggal 16-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 14 Oktober 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Oktober 14, 2015

CELAKALAH KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja – Kamis, 15 Oktober 2015) 
YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGAS
Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian, kamu mengaku bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan berbagai pertanyaan. Mereka berusaha menjebak-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Luk 11:47-54) 
Bacaan Pertama: Rm 3:21-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6 
Yesus mengasihi orang-orang Farisi, walaupun mereka acapkali tampil sebagai lawan-Nya. Misi Yesus adalah untuk menarik semua orang kepada diri-Nya, dan memang inilah hasrat-Nya yang terdalam. Cinta Yesus kepada firman Allah dalam Kitab Suci dan cinta-Nya kepada umat Allah yang selama itu “dituntun” secara salah melalui distorsi-distorsi yang disebabkan oleh orang-orang Farisi, membuat Dia mengecam keras mereka. Dengan membangun makam nabi-nabi, orang-orang Farisi membenarkan perbuatan-perbuatan jahat nenek moyang mereka terhadap para nabi tersebut (Luk 11:48). Orang-orang Farisi sedikit berbeda dengan nenek moyang mereka. Yesus menggunakan contoh penolakan  terhadap para nabi sebagai suatu ilustrasi kemunafikan dan kebutaan kaum Farisi ini. Dari Habel sampai Zakharia (yang terbunuh di antara mezbah dan Rumah Allah pada waktu dia mencoba menyerukan kepada bangsanya untuk kembali kepada penyembahan yang benar), para pemimpin umat telah menutup pikiran dan hati mereka terhadap firman Allah dan menggantikannya dengan ide-ide mereka sendri. Dalam penampilan luarnya, orang-orang Farisi ini memang kelihatan religius (suci-suci), namun mereka telah mencoba agama melayani mereka dan hasrat-hasrat hati mereka sendiri, bukannya memperkenankan agama menggerakkan mereka untuk mendengarkan suara Allah dan menanggapi-Nya dalam ketaatan yang suci.
CELAKALAH ENGKAU KATA YESUS
Hikmat Allah ada di tengah-tengah mereka, namun orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu tidak mampu melihat Dia. Mereka berupaya keras untuk “menghabiskan” Yesus, bukan memeluk ajaran-Nya dan mencontoh teladan hidup-Nya. Para ahli Taurat telah mengambil “kunci pengetahuan”, namun mereka sendiri tidak masuk ke dalam rumah “hikmat”, malah menghalang-halangi orang yang berusaha masuk  ke dalam rumah itu (Luk 11:52). Ketika menjelaskan “perumpamaan tentang Gembala yang baik”, Yesus bersabda:“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu” (Yoh 10:7). Pintu apa? Pintu untuk masuk ke dalam rumah yang berisikan segala hikmat dan pengetahuan tentang Allah. Dengan menolak Yesus, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menolak hikmat dan pengetahuan tentang Allah, dengan demikian mereka menutup diri terhadap pekerjaan yang ingin dilakukan Allah guna mentransformasikan diri mereka.

Melalui para nabi, Allah menyiapkan jalan keselamatan oleh kematian Putera-Nya yang tunggal. Para pemimpin umat Yahudi secara konsisten menolak apa yang dikatakan oleh para nabi. Kita juga menghadapi pilihan-pilihan yang serupa dalam hidup kita di zaman modern ini. Allah ingin mengajar kita setiap hari melalui Yesus Kristus. Akankah kita memilih untuk mengikuti jejak Kristus, atau akankah kita memilih untuk menafsirkan Kitab Suci dan perintah-perintah Allah seturut hasrat hati kita sendiri? Akankah kita  memilih untuk mengikuti Yesus Kristus dan memperkenankan hidup baru-Nya memerintah dalam diri kita, atau akankah kita membiarkan angkara murka dan keserakahan terus mengatur diri kita? Inilah pilihan-pilihan yang tergelar di depan kita.
DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Dikau mengutus Santa Teresa dari Avila sebagai seorang saksi tangguh dalam Gereja yang menunjukkan jalan menuju kesempurnaan. Semoga berkat bimbingan Roh Kudus-Mu kami dapat terus belajar dari pengalaman spiritualnya yang luhur, dan biarlah Roh-Mu itu mengobarkan dalam hati kami suatu kerinduan akan kekudusan yang sejati. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 3:21-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIBENARKAN KARENA IMAN” (bacaan tanggal 15-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
(Tulisan ini adalah saduran dari tulisan saya pada tahun 2009) 
Cilandak, 13 Oktober 2015 [B. Honoratus Kosminski, Biarawan Kapusin] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Oktober 12, 2015

KEMUNAFIKAN

(Bacaan  Injil  Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 13 Oktober 2015)
Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Honoratus Kosminski, Biarawan 
KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23
Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 
Dalam pengajaran khusus-Nya kepada para murid, Yesus mengingatkan mereka: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi” (Luk 12:1). Sang pemazmur berkata: “Taurat ialah kesukaanku” (Mzm 199:70), berabad-abad sebelum orang-orang Farisi melipatkangandakan hukum Taurat itu dengan begitu banyak hal-hal kecil, tetek bengek yang sungguh memusingkan kepala. “Orang-orang Farisi” di segala zaman setelah itu – baik orang-orang munafik yang Kristiani maupun non-Kristiani – dengan setia mengikuti pola pemikiran orang-orang Farisi pada zaman itu.
Reformasi selalu diserukan, kadang-kadang orang bersedia mati untuk terwujudnya reformasi, namun betapa jarangnya reformasi itu dengan sungguh-sungguh dicoba dilaksanakan!
Kemunafikan orang yang kaya dan berkuasa menginspirasikan timbulnya “pemberontakan”. Namun setiap generasi baru pemberontak dalam kurun waktu yang cukup singkat menjadi generasi tua para munafik. Ramai-ramai demonstrasi di depan gedung parlemen pada tahun 1998 menentang segala macam KKN dan kemunafikan lainnya dari para penguasa di kala itu, namun sekarang – setelah menduduki jabatan – sudah tidak ubahnya dengan mereka yang ditentang dan dikritisi oleh mereka sekian tahun lalu. Sungguh terlalu mudah bagi orang-orang untuk melakukan demontrasi protes demi perubahan atau katakanlah “pemberontakan”, untuk mengutuk dan menghancurkan, namun tidak demikianlah halnya dengan memimpin, merencanakan dengan matang, membangun dan memelihara serta melestarikan segala sesuatu yang sudah baik.
Kita tidak dapat menyangkal nilai baik dari para “nabi” yang “bernubuat” tentang masa depan yang suram dan hampir tak berpengharapan (Inggris: prophets of doom), dan kita pun tidak perlu berpura-pura terkejut melihat depresi dan rasa putus asa para pemudi-pemuda kita karena mereka melihat secara jelas terjadinya berbagai macam pembodohan oleh mereka yang memegang kekuasaan dan pembiaran terjadinya dosa-dosa dalam masyarakat oleh mereka yang seharusnya bertugas untuk menjaga semua itu agar semakin sedikit/jarang terjadi, bukan sebaliknya. Contoh-contoh: pelecehan seksual atas diri anak-anak, pembakaran hutan dlsb. Akan tetapi siapakah yang akan membangun kota yang baru jikalau kota yang lama dihancurkan? Siapa yang menjamin bahwa yang baru itu lebih baik daripada yang lama? Siapa yang akan memeliharanya dan melestarikannya. Di mana para “nabi” yang akan menyusun serts menggelar rencana-rencana, dan para pembangun yang membangun bangunan dengan struktur yang lebih baik?
Perhatikanlah “rapat-rapat kerja” yang diselenggarakan untuk memecahkan masalah-masalah yang serius, baik instansi publik maupun swasta. Dengarkanlah baik-baik argumentasi masing-masing peserta rapat kerja perihal apa yang seharusnya dilakukan, namun lihatlah bagaimana ketika memberikan suara, mereka pun pada umumnya menggunakan standar yang berbeda … standar demi kepentingan pribadi masing-masing.
DOA: Tuhan Yesus, buatlah kami menjadi pribadi-pribadi jujur yang selalu menjunjung kebenaran. Sadarkanlah kami akan bahaya-bahaya dari kemunafikan di mana-mana, namun janganlah biakan kami melupakan kemunafikan-kemunafikan kami sendiri. Reformasi – seperti juga segalanya yang lain – harus dimulai dari dalam – artinya dari dalam pikiran dan hati kami sendiri. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 1:16-25), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TIDAK MALU TERHADAP INJIL” (bacaan tanggal 13-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 11 Oktober 2015 (HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Oktober 11, 2015

KECUALI TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Senin, 12 Oktober 2015)
Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap./OSCCap.): Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan 
YESUS SANG RABBI DARI NAZARET
Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Rm 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm  98:1-4
Yesus telah membuat banyak mukjizat dan tanda heran lainnya di tengah orang-orang Yahudi, namun sejumlah pemimpin agama menuntut satu lagi tanda luarbiasa untuk membuat validasi atas pelayanan-Nya. Yesus bersedih hati melihat kekerasan hati para pemuka agama tersebut. Ia menegur mereka untuk ketidakpercayaan mereka dan mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak akan memberikan apa-apa kepada mereka, kecuali tanda nabi Yunus (lihat Luk 11:29-30). Apakah yang dimaksudkan dengan “tanda nabi Yunus” ini, dan bagaimana Yesus memenuhinya?
Orang-orang Niniwe adalah bangsa kafir yang secara rutin menteror bangsa-bangsa/negeri-negeri yang berdekatan dengan tempat kediaman mereka, sehingga dengan demikian dosa-dosa mereka telah membuat mereka siap untuk dihukum oleh Allah (Yun 3:4). Setelah mendengar pesan dari Yunus, orang-orang Niniwe langsung melakukan pertobatan, dan Alllah pun berbelas kasih kepada mereka dan menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya ke atas orang-orang Niniwe (Yun 3:10; bdk. 4:2). Yang mengejutkan Yunus tentang hal ini dapat kita pahami: Mengapa YHWH harus sedemikian berbelas kasih atau sedemikian bermurah hati terhadap sekelompak orang kafir yang tidak pernah mengakui otoritas-Nya.
Inilah pokok masalahnya: Seperti Allah mengampuni orang-orang Niniwe, demikian pula halnya dengan Yesus yang telah mengampuni kita masing-masing untuk semua dosa kita. Kita tidak berbeda dengan orang-orang Niniwe, baik dalam hukuman yang pantas ditimpakan atas diri kita maupun dalam belas kasih atau kemurahan hati Allah yang kita terima. O, betapa dalamnya kasih Allah itu! Betapa lebar belas kasih-Nya! Allah sampai memutuskan untuk mengorbankan Putera-Nya sendiri sebagai kurban persembahan guna penebusan kita.
Jonah_prchng_in_Ninvh_53-198
Dalam terang belas kasih Allah yang sedemikian, bagaimana sebaiknya kita memberi tanggapan? Para lawan Yesus mengeraskan hati mereka dan terus saja menuntut supaya Yesus membuat lebih banyak tanda lagi. Janganlah kita sampai memberi tanggapan seperti yang dilakukan oleh para lawan Yesus tersebut. Sebaliknya, marilah kita merangkul tanda nabi Yunus, bertobat atas dosa-dosa kita dan memperkenankan belas kasih Allah mengubah diri kita. Daripada mencari solusi ajaib untuk segala masalah kita, marilah kita mengundang Yesus masuk ke dalam tantangan-tantangan kecil dan godaan-godaan yang kita hadapi setiap hari. Misalnya, apakah kita (anda dan saya) membutuhan lebih banyak kesabaran dengan pasangan hidup kita, saudari-saudara sekomunitas dlsb.? Apakah kita tergoda untuk melakukan kecurangan di tempat kerja kita? Apakah kita merasa sulit untuk berdoa akhir-akhir ini?

Saudari-Saudara terkasih, Yesus adalah perwujudan belas kasih Allah, Ia adalah “Sakramen Bapa” (lihat Yoh 14:8-9). Marilah kita sekarang datang menghadap Yesus guna memohon pertolongan-Nya. Biarlah “tanda nabi Yunus” berbuah dalam hati kita dan membuat kita menjadi saksi-saksi yang lebih tangguh dari Injil Yesus Kristus.
DOA: Tuhan Yesus, manakala aku dikepung dengan banyak masalah, jagalah agar aku tetap setia dalam iman selagi aku memusatkan pandanganku ke depan, yaitu kepada kepenuhan penyelamatan-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA YUNUS” (bacaan tanggal 12-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 8 Oktober 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Oktober 09, 2015

MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MEMELIHARANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 10 Oktober 2015) 
YESUS GURU KITA
Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Yl 3:12-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12
Ketika 70 murid-murid Yesus kembali dari perjalanan misi mereka (Luk 10:17-20), mereka memuji Dia dan diri mereka sendiri untuk kuasa nama Yesus atas roh-roh jahat. Kemudian Yesus meluruskan kembali “euforia” mereka dengan mengajar mereka:“Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga”  (Luk 10:20). Langsung setelah mengatakan hal itu Yesus juga bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa-Nya di surga untuk apa yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya. Sekarang, ketika perempuan dalam bacaan Injil hari ini memuji Yesus dan ibunda-Nya dengan mendeklarasikannya sebagai “berbahagia” karena mengandung dan menyusui seorang nabi besar, sekali lagi Yesus meluruskan kembali pujian itu kepada Allah: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28).
Jauh dari sikap “mengecilkan” peranan ibunda-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Maria bukanlah sekadar seorang gadis beruntung yang menjadi favorit Allah dan kepadanya dicurahkanlah rahmat berlimpah. Yesus memahami bahwa Maria adalah seorang pribadi manusia yang senantiasa memilih untuk meletakkan hidupnya demi ketaatan pada Allah, dan ini sungguh merupakan berkat sejati. Baik Malaikat Agung Gabriel maupun saudaranya, Elisabet, dapat melihat iman dan ketaatan Maria, dan inilah sebabnya mengapa Maria disebut “penuh rahmat” (doa Salam Maria) atau “beroleh anugerah di hadapan Allah” (Luk 1:30; TB II-LAI) oleh Gabriel. Elisabet mengatakan: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).
Kepada Gabriel, Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Sekarang, pertimbangkanlah konsekuensi-konsekuensi dari fiat atau “ya” dari Maria terhadap pesan luarbiasa sang malaikat. Bayangkanlah diri kita (anda dan saya) sebagai seorang gadis muda pada zaman itu, sudah bertunangan dan siap untuk pernikahan, sekarang bersedia menerima kehendak Allah untuk hamil secara ajaib (oleh kuasa Roh Kudus) sebelum kita memasuki saat pernikahan resmi. Hal ini tentu saja sulit untuk kita jelaskan kepada ibu kita maupun tunangan/calon suami kita, apalagi berbagai kemungkinan menyebarnya desas-desus di Nazaret tempat kita tinggal? Tidak inginkah kita mengusulkan kepada Allah untuk menunda perkandungan oleh Roh Kudus itu sampai saatnya pernikahan? Apakah dunia sungguh perlu mengetahui bahwa itu adalah kelahiran dari seorang perawan? Apakah kita sungguh mau mengambil risiko dirajam dengan batu oleh para anggota masyarakat karena dosa perzinahan?
Tindakan iman Maria dan ketaatannya sungguh luarbiasa, dan sampai hari ini sulit untuk dibayangkan oleh kita dengan sekadar memakai akal-budi kita. Oleh karena tindakan imannya itu Maria pantas untuk dijuluki “Hawa yang baru”. Mengapa? Karena seperti juga Hawa, Maria memiliki kehendak bebas, namun tidak seperti Hawa, dia menaruh kepercayaannya dengan benar, beriman, dan dia taat. Ini adalah sosok perempuan yang dikenal oleh Yesus sebagai ibunya. Yesus melihat kondisi terberkatinya dalam hikmat-kebijaksanaannya, kekuatannya, imannya, dan ketaatannya. Kita pun dapat terberkati apabila kita berupaya untuk mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.
DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah sangat memberkati kami dengan privilese-privilese untuk menjadi murid-murid-Mu. Semoga kami dapat belajar untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu dan mentaati Engkau, seperti yang dicontohkan oleh Maria. Tolonglah kami juga untuk memahami berbagai implikasi dari penyangkalan diri kami guna mengikuti jejak-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), bacalah tulisan yang berjudul “TINDAKAN-TINDAKAN KETAATAN” (bacaan tanggal 10-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-10-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 
Cilandak, 7 Oktober 2015 [Peringatan SP Maria, Ratu Rosario] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Oktober 08, 2015

JIKA AKU MENGUSIR SETAN DENGAN KUASA ALLAH, MAKA …

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 9 Oktober 2015) 
YESUS DITANYAI OLEH ORANG FARISI
Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,16,8-9
“Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).
Sepanjang Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran yang hidup tentang realitas Iblis dan kuat-kuasanya, namun dengan cepat sang penulis Injil menunjukkan pula bahwa roh-roh jahat gemetar dalam kehadiran Yesus, dan mohon belas kasih-Nya. Dengan kata lain, walaupun kuat-kuasa Iblis begitu hebat, kuat-kuasa yang dimiliki Yesus itu jauh, jauh, jauh lebih hebat.
Seperti yang telah dilakukannya sejak untuk pertama kalinya dia memberontak melawan Allah, Iblis terus menjelajahi bumi, mencari kesempatan untuk merampas dari Allah cintakasih dan rasa percaya dari anak-anak-Nya (bdk. 1Ptr 5:8-9). Kita semua mengalami ini dalam berbagai pencobaan yang kita hadapi setiap hari. Dengan cara yang licin maupun yang tidak begitu licin, Iblis mencoba untuk merusak kebenaran-kebenaran yang telah kita terima dalam Kitab Suci dalam kasih Allah.
Yesus sendiri juga mengalami godaan-godaan Iblis yang mencoba untuk membuat-Nya tidak menaruh kepercayaan kepada Bapa-Nya, untuk menghasrati kekuasaan, untuk mengejar hal-hal duniawi, atau untuk tenggelam dalam ambisi-ambisi yang dipenuhi dengan keserakahan (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah Bapa, Yesus menang berjaya atas Iblis. Sekarang, oleh darah-Nya yang dicurahkan dari atas kayu salib, Yesus menyediakan pelepasan dan kebebasan bagi kita semua selagi kita belajar untuk menggantungkan diri pada-Nya.
Jesus_w_Phar
Yesus sangat senang untuk melepaskan/membebaskan kita dari yang jahat. Namun itu tidaklah mencukupi bagi Yesus. Bagi-Nya pelepasan dari si Jahat hanyalah sebuah pintu masuk untuk sampai kepada berkat yang bahkan lebih besar. Yesus ingin membebasan kita agar dengan demikian Ia dapat memenuhi diri kita dengan hidup-Nya sendiri. Yesus ingin membebaskan kita dari keterikatan kita pada dosa, dengan demiian kita akan menjadi lebih terbuka bagi hidup, kasih, dan kuat-kuasa Allah Tritunggal Mahakudus.

Hari ini adalah suatu hari yang baik untuk bertanya kepada diri kita masing-masing, “Bagaimana aku memandang hidupku sendiri? Apakah batasan-batasan dari horizon-ku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang berjuang untuk mengasihi Allah? Atau, apakah diriku seorang pencinta Allah yang membutuhkan pelepasan dari dosa-dosaku? Sampai berapa besar pengharapanku akan suatu masa depan yang berkenan kepada Allah? Apakah aku melihat begitu banyak potensi untuk menjadi kudus dan melakukan pelayanan yang telah dianugerahkan Allah kepadaku? Atau, apakah aku pernah berpikir begitu sulitnya dan hampir tidak mungkin bagiku untuk masuk ke dalam surga?
Saudari dan Saudaraku terkasih, dalam doa-doa kita hari ini, marilah kita memperkenankan Yesus untuk memperbaiki daya-lihat kita dan cara kita memandang segala sesuatu. Marilah kita memperkenankan Yesus  meyakinkan diri kita tentang kemenangan-Nya yang bersifat mutlak atas diri Iblis, dengan demikian kita dapat dengan penuh percaya-diri memanfaatkan berkat-berkat yang telah dimenangkan oleh sang Penebus bagi kita masing-masing.
DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Baik, kuduslah nama-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Yesus ke tengah dunia untuk menghancurkan kuat-kuasa Iblis. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, jagalah diriku agar tetap menjadi murid Yesus yang setia, dan biarlah Dia memenuhi setiap sudut kehidupanku. Semoga bersama Yesus diriku dapat menjadi pemenang atas Iblis dan roh-roh jahatnya. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.
Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS MEMPERSATUKAN TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 7-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 7 Oktober 2015 [Peringatan SP Maria, Ratu Rosario] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
Sumber : https://sangsabda.wordpress.com/2015/10/08/jika-aku-mengusir-setan-dengan-kuasa-allah-maka/

Selasa, Oktober 06, 2015

MENGENAL KASIH ALLAH SECARA PRIBADI DAN AKRAB ADALAH DASAR DARI PENGHARAPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 8 Oktober 2015) 
YESUS KRISTUS - 11
Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-20a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6
Memang dapat membuat diri kita menjadi ciut hati jika kita meminta sesuatu secara berulang-ulang. Dari lepas hari, bulan lepas bulan, tahun lepas tahun, dan kita pun menjadi kehilangan semangat. Dan ketika kita membaca kata-kata Yesus dalam Injil: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”  (Luk 11:9), maka kita hampir samasekali tidak bereaksi. Kita mungkin berpikir, Bukankah sungguh-sungguh hebat jika kata-kata itu sungguh-sungguh benar?” Atau, “Ah, aku telah meminta, mencari, dan mengetuk. Ternyata tidak ada sesuatu pun yang terjadi.”
Tidak ada yang terjadi? Bagaimana mungkin? Kita mempunyai sabda Yesus sendiri dalam Kitab Suci bahwa setiap orang yang meminta, maka akan diberikan kepadanya. Setiap orang. Tidak terbatas pada orang-orang yang sangat kudus, tidak hanya orang-orang yang sangat terberkati atau orang-orang yang “pantas dan layak”, juga bukan saja orang-orang yang telah belajar mengajukan permintaan yang benar. Kita masing-masing –tanpa kecuali –  telah dijanjikan oleh Yesus sendiri. Siapa saja yang meminta, maka dia akan menerima, titik. Sabda Allah adalah benar. Kita harus bergantung pada fakta ini, teristimewa ketika pengalaman kita tidak cocok dengan apa yang dikatakan dalam Kitab Suci.
MALAM-MALAM DATANG MINTA TOLONG - LUK 11 5-13
Perspektif kita tentang jawaban-jawaban Allah kepada kita, ekspektasi kita  bahwa kita akan menerima dari Tuhan, bahkan kepercayaan kita sendiri, tergantung pada penerimaan akan fakta ini. Apa yang memampukan kita untuk berpegang erat-erat pada kepercayaan ini? Pengetahuan dan pengalaman akan kasih Allah, yang dicurahkan ke dalam hati kita (Rm 5:5). Mengenal kasih itu secara pribadi dan akrab adalah dasar dari pengharapan kita. Ini bukanlah sesuatu yang kita dapat kumpulkan sendiri. Ini adalah suatu karunia yang dianugerahkan secara bebas oleh Pencipta yang tak diciptakan (Inggris: the uncreated Creator) dan Sang Pencinta jiwa-jiwa kita. Apabila kita mencari Yesus – bahkan jika kita hanya menginginkan Dia untuk memecahkan sebuah masalah, mengampuni dosa, atau memuaskan suatu kerinduan dalam hati kita – maka kita akan menemukan Dia. Dia akan menjawab ketukan kita pada pintu-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, pada hari ini, marilah kita mengetuk pintu Yesus dalam doa kita. Marilah kita menyediakan waktu ekstra guna memohon rahmat agar kita mau dan mampu percaya kepada apa yang dikatakan di dalam Kitab Suci. Mintalah lagi agar ada hasrat dalam hati kita masing-masing, dan dalam keheningan dengarkanlah tanggapan-Nya. Dia akan menjawab. Apabila bukan hari ini, barangkali besok atau hari berikutnya. Dalam hikmat-Nya dan saat-Nya, Dia akan menjawab semua kebutuhan kita, membuat diri kita seperti pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (Mzm 1:3).
DOA: Bapa surgawi, ini aku lagi yang sedang mengetuk pintu-Mu. Tolonglah aku untuk mau dan mampu percaya bahwa sabda-Mu adalah benar. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu dan pengenalan akan kasih-Mu. Segarkanlah kembali dan hidupkanlah kembali diriku selagi aku berupaya untuk mengenal Engkau, mengasihi Engkau dan melayani Engkau. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:69-75), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN ALLAH UNTUK MEMBENTUK KITA MENJADI BEJANA-BEJANA BAGI KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 8-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2015. 
Cilandak, 6 Oktober 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTA PERAWAN MARIA, RATU ROSARIO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Rabu, 7 Oktober 2015)
 
MARY QUEEN OF ROSARY
Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 
Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:3-6,9-10 
Peristiwa “Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38) adalah yang pertama dari misteri-misteri Rosario. Namun ada satu alasan yang lebih mendalam mengapa peristiwa ini justru dipilih menjadi bacaan Injil untuk hari peringatan khusus ini. Alasan itu dapat kita lihat dalam ayat terakhir dari bacaan Injil hari ini: Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Perempuan yang kepadanya diberitahukan bahwa dirinya adalah “yang dikaruniai” (“penuh rahmat”) (Luk 1:28), juga diingatkan oleh Gabriel bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37). Maria kemudian mengatakan “ya” kepada rencana Allah dan ia pun menjadi ibunda dari sang Mesias.
Sekarang kita dapat mengingat ungkapan yang digunakan dengan indah dalam sebuah dokumen Konsili Vatikan II tentang hidup Maria selanjutnya, “Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman (Lumen Gentium, 58). Peziarahan adalah suatu perjalanan ke sebuah tempat suci: Maria akan melakukan perjalanan ke Kalvari, tempat pengorbanan; dan ia akan bergabung dengan para rasul di Ruang Atas menanti-nantikan Roh Kudus yang akan dicurahkan ke atas mereka (lihat bacaan Pertama: Kis 1:12-14). Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel dan hidupnya selanjutnya menunjukkan kepada kita sebuah “model iman” dalam tiga aspeknya: (1) Maria percaya (Inggris: belief) akan Allah, (2) Maria menaruh kepercayaan (Inggris: trust) pada-Nya; (3) Maria hidup seturut rencana-Nya. Iman dalam artian selengkapnya tidak merupakan sesuatu yang bersifat intelektual, melainkan suatu “ya” yang lengkap, total dan Amin terhadap sabda-sabda, janji-janji dan perintah-perintah Allah. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1).
Ada beberapa arti dari kata “misteri”: (1) kebenaran yang diwahyukan yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami; (2)rencana ilahi yang dinyatakan dalam Kristus Yesus (lihat Ef 1:9; 3:9; Lumen Gentium, Bab Satu); (3) peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus. Misteri dalam arti yang ketiga inilah yang digunakan dalam konteks Rosario.
Sebagai suatu praktek devosional, doa Rosario memiliki suatu karakter yang unik, karena doa Rosario itu mempertimbangkan segala peristiwa penyelamatan mendasar yang dicapai dalam diri Kristus, sejak terkandung-Nya dalam rahim Bunda Maria sampai kepada efek-efek misteri paskah-Nya yang terpancar ke dalam Gereja dan diri Maria. Doa Rosario sendiri tidak berpusat pada Maria, melainkan pada Kristus. Setiap doa “Salam Maria” terpusat pada Yesus yang dilahirkan ke tengah dunia, yang menderita sengsara dan dimuliakan. Melalui rangkaian doa “Salam Maria” yang dilakukan dalam keheningan, kita – bersama Maria – masuk ke dalam kontemplasi terhadap misteri-misteri Kristus. Tanpa aspek kontemplatif ini, maka doa Rosario dapat menjadi sekadar serangkaian pengulangan kata-kata yang bersifat mekanistis.
Doa Rosario dapat mendorong kita untuk melihat kehidupan Yesus dengan/melalui mata Bunda Maria, dan kemudian kita melihat Maria – biar bagaimana pun juga – bergabung bersama Puteranya dan ikut berperan dalam rencana penyelamatan Allah guna menebus umat manusia dari kuasa dosa.
DOA: Bapa surgawi, dalam hari peringatan “SP Maria Ratu Rosario” ini, kami kembali berdoa agar Gereja dapat lebih mendalami lagi misteri-misteri Kristus. Semoga dunia menyadari bahwa hanya dalam kasih dan damai sejahtera-Mu saja bangsa-bangsa akan sungguh sejahtera. Amin.
Cilandak, 6 Oktober 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Oktober 02, 2015

AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 3 Oktober 2015) 
stdas0609
Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 
Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:33-37
Lukas menggambarkan kegembiraan Yesus pada waktu para murid-Nya kembali dari misi  mereka mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bagaimana seharusnya mereka memuji-muji Bapa-Nya di surga. Lalu kita pun dapat melihat sekilas lintas gaya doa Yesus: pujian penuh sukacita dalam Roh Kudus kepada Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, ……” (Luk 10:21).
Doa yang paling sejati adalah doa pujian dan syukur; ini adalah bentuk komunikasi yang paling meluas. Hal ini benar dalam relasi kita satu sama lain. Suatu sikap memuji, sikap menghargai, sikap mengasihi yang ditujukan kepada orang lain, adalah yang paling sehat bagi ke dua belah pihak dalam berkomunikasi. Lebih benar lagi adalah sikap kita terhadap Allah. Kita berkomunikasi secara paling baik jika kita mengenal orang lain dengan siapa kita berkomunikasi dan juga siapa kita ini. Allah adalah segalanya yang besar, agung dan indah. Yesus adalah yang paling besar dan agung! Dengan demikian puji-pujian adalah bentuk komunikasi dengan Dia yang paling nyata dan alamiah.  Puji-pujian mengungkapkan secara paling akurat perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan juga dalam mendengarkan Dia. Kita tidak boleh lupa bahwa “mendengarkan” sudah merupakan separuh (yang lebih baik) dari komunikasi yang kita lakukan. Mendengarkan dengan puji-pujian dan rasa syukur kepada Tuhan!
Puji-pujian dapat mengambil banyak bentuk, bahkan dalam keheningan maupun lagu pujian. Lagu pujian membuka diri kita terhadap Allah dan juga perasaan-perasaan kita yang paling dalam tentang diri-Nya. Ada banyak doa pujian dalam Kitab Suci, Buku Doa Allah, dan banyak dari doa-doa itu adalah dalam bentuk lagu.
Baiklah bagi kita kalau sungguh menikmati lagu-lagu pujian dan menyanyikan lagu-lagu itu juga. Berdoa dengan menyanyikan lagu pujian adalah berkomunikasi dengan Tuhan, mengatakan kepada-Nya apa yang kita rasakan tentang diri-Nya, mengatakan kepada-Nya apa yang membuat kita mengasihi Dia dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya, serta membuat Dia sebagai pusat kehidupan kita. Doa yang berbentuk lagu, jika kita masuk ke dalamnya dengan sikap ini, meluaskan kita dan membuat kita bertumbuh secara spiritual. Doa-lagu seperti ini menyelamatkan kita dari bentuk doa yang sempit dan terasa sekadar mohon ini-itu, menggunakan Allah sebagai seorangsugar-Daddy atau Sinterklas yang harus memberikan kepada kita apa saja yang kita minta. Dengan doa permohonan yang terlalu bersifat sepihak, sepertinya kita bertransaksi dengan Allah. Kita melakukan tawar-menawar yang sungguh tidak sehat. Doa yang jauh lebih bijak adalah doa pujian. “Biar bagaimana pun juga, puji Tuhan! Apapun yang terjadi, marilah kita memuji Tuhan” adalah motto yang hebat. Motto ini mengajar kita bagaimana membalikkan setiap hal menjadi suatu berkat bagi hidup kita.
DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENYATAKAN SEMUA ITU KEPADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 3-10-15) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 30 September 2015 [Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Oktober 01, 2015

JANGAN MENGANGGAP RENDAH SALAH SEORANG DARI ANAK-ANAK KECIL INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Para Malaikat Pelindung – Jumat, 2 Oktober 2015)
YESUS DAN ANAK-ANAK - YESUS SEDANG MENGAJAR SEORANG ANAK KECIL
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10) 

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11
Selama melakukan pelayanan di depan publik sekitar tiga tahun lamanya itu Yesus membuat jelas kepada semua pihak, bahwa Allah mengasihi anak-anak dan memegang teguh komitmen-Nya berkaitan dengan perlindungan dan pertumbuhan mereka. Namun adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa dunia telah merampas anak-anak dari innocence dan kemurnian mereka. Kita dapat melihatnya dalam film layar lebar maupun di layar televisi, di toko-toko yang menjual mainan anak-anak dan di jalan-jalan kota besar. Di mana-mana, termasuk di negara Indonesia tercinta ini, anak-anak dieksploitasi, dilecehkan secara seksual, dijadikan korban KDRT, dlsb. Pelecehan juga terjadi di dalam lingkup Gereja dan menjadi masalah sejak lebih dari dua dasawarsa lalu.
Sedikit saja memikirkan bagaimana caranya anak-anak dilecehkan sudah menimbulkan kemuakan dalam diri kita, malah rasa benci terhadap para pelaku yang bertanggung jawab atas pelecehan tersebut (misalnya para pemuka agama, para guru); struktur-struktur dalam masyarakat yang dipenuhi kedosaan dan para orang tua yang tidak bertanggung jawab. Di lain pihak kita dapat melihat semua dengan hati seperti hati Yesus sendiri yang dipenuhi belas kasihan dan pengampunan. Kita dapat melakukan tindakan-tindakan yang membawa damai sejahtera ke dalam situasi yang sedang dihadapi. Kalau tidak dimungkinkan bagi kita, maka paling sedikit kita dapat berdoa agar masalah-masalah yang ada dapat teratasi.
Satu hal yang jelas: Dunia sudah dipenuhi dengan saling tuding, saling menuduh, saling mendakwa yang tidak memecahkan masalah samasekali, dengan demikian janganlah kita menambah satu lagi sehingga menambah rumit segala kompleksitas masalah yang sudah ada. Dapatkah anda bayangkan betapa besar kemerdekaan akan hadir dalam keluarga-keluarga apabila dikelilingi dengan bela rasa yang diungkapkan dalam doa-doa dan pengampunan? Apakah anda percaya bahwa doa-doamu dapat mendatangkan suasana penuh damai dalam keluarga-keluarga? Tentu saja dapat! Malah harus! Kita semua adalah anak-anak Allah, dan warisan yang kita terima dari Allah itu sungguh hebat.
Guardian Angels Children 01
Bagi para orangtua, cara terbaik untuk menjagainnocence anak-anak kita adalah dengan memberikan teladan yang baik. Oleh karena itu kita dapat berdoa setiap hari agar diperbaharui dalam Roh, sehingga kita masing-masing dapat menjadi sederhana bagaikan anak-anak kecil dan bersedia menjadi yang paling kecil dan pelayan/hamba dari semua. Dengan pertolongan Allah kita dapat menjadi teladan baik bagi anak-anak kita, bukan hanya dalam hal mereka menjadi orang-orang dewasa yang matang kelak, melainkan juga bagaimana menjadi anak-anak yang taat, yang percaya dan menggantungkan diri kepada Allah semata untuk segala kebutuhan mereka.

Bagi kita semua, baiklah kita berdoa untuk menjadi guru-guru yang baik-efektif, penuh kebaikan hati dan kesabaran terhadap anak-anak, dalam kapasitas apa pun kita berhubungan dengan mereka, misalnya sebagai orang tua, guru, dlsb. Inilah warisan kita sebagai umat Allah. Kitab Amsal yang memuat 31 (tiga puluh satu) bab, hanya 3 (tiga) kali saja menyebutkan pendisiplinan secara fisik. Sebagian besar isi kitab itu memuat instruksi di mana orang tua dengan penuh kasih berusaha untuk berkomunikasi dengan seorang anak perihal cara-cara orang bijak. Sekarang, apakah kita berfungsi sebagai orang tua, guru sekolah, imam, atau tetangga, tugas kita adalah untuk menghayati kehidupan yang selalu benar seperti diungkapkan oleh sabda Allah – dan kemudian mengajarkannya dengan lemah lembut kepada anak-anak dalam kehidupan kita.
DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memimpin kami semua, Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami – dan para malaikat untuk menjaga kami. Berikanlah  rahmat kepada-Mu agar dapat membawa kepada-Mu semua anak-anak yang telah Kaupercayakan kepada kami. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Mazmur hari ini (Mzm 91:1-6,10-11), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MENJAGA ENGKAU DI SEGALA JALANMU” (bacaan tanggal 2-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 29 September 2015 [Pesta S. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS