Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, November 17, 2015

SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 18 November 2015)
OSCCap. (Ordo Klaris Kapusin): Peringatan B. Solomea, Perawan 
PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA
Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”
Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 
Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8b,15 
KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYA
Dalam episode sebelum ini, Yesus memproklamasikan keselamatan sebagai suatu realitas hari ini juga, keselamatan yang telah datang ke  rumah Zakheus “hari ini” karena tanggapan penuh iman dari sang kepala pemungut cukai/pajak. Sekarang, Yesus masih berbicara dengan audiensi yang sama, dan dalam kesempatan itu Dia mengajar dengan menggunakan “perumpamaan tentang uang mina”. Lewat perumpamaan ini, Yesus mengembangkan dua buah pemikiran. Pertama, Yesus berbicara tentang sebuah Kerajaan yang tidak akan muncul dalam waktu dekat, namun yang hanya akan muncul ketika seorang bangsawan bepergian ke sebuah negeri yang jauh untuk menerima peneguhan sebagai raja dan kemudian kembali untuk menghakimi mereka yang telah menolak dirinya. Kedua, selama ketidakhadirannya, bangsawan itu mempercayakan para hambanya untuk mengkapitalisasikan uang mina yang telah mereka terima; mereka yang terbukti produktif akan diberikan imbalan, sedangkan mereka yang tidak berusaha untuk menggunakan dan mengembangkan uang mina yang telah mereka terima akan ditolak.

Dalam introduksi editorialnya terkait perumpamaan ini, Lukas menjelaskan bahwa Yesus memilih untuk menceritakan perumpamaan ini karena Dia sudah dekat Yerusalem, dan karena para pendengar-Nya mempunyai anggapan bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Sesuai dengan ekspektasi-ekspektasi populer, perwujudan Kerajaan Allah akan mengambil tempat di Yerusalem dalam waktu dekat; namun Lukas berargumentasi bahwa Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk membaurkan/mengacaukan ekspektasi-ekspektasi akan parousia yang kedatangannya sudah pasti dengan menunjuk kepada suatu “penangguhan”. Yesus justru sedang dalam perjalanan pergi, bukan datang; dan krisis yang akan mengambil tempat dalam waktu dekat adalah kematian Yesus sendiri.
Ayat-ayat 12, 14, 15a, dan 27 dari bacaan Injil kita hari ini berbicara mengenai perpisahan Yesus yang sudah dekat saatnya, yang tidak akan diakui sebagai Raja sampai kedatangan-Nya kembali. Sementara Dia pergi, umat-Nya sendiri akan membuat susah misi-Nya dengan menolak diri-Nya, namun mereka akan menghadapi penghakiman pada saat kedatangan-Nya kembali. Ayat-ayat lainnya dapat membentuk sebuah perumpamaan lengkap yang serupa dengan “perumpamaan tentang talenta” (Mat 25:14-30).
Perumpamaan ini dibuka dengan cerita tentang seorang bangsawan yang melakukan perjalanan ke negeri yang jauh untuk menerima kekuasaan sebagai seorang raja. Hal ini menunjukkan kesejajaran mencolok dengan sejarah pada zaman itu. Herodus Agung harus pergi ke Roma sebelum martabatnya sebagai raja dikukuhkan oleh kaisar di Roma. Ketika dia wafat pada tahun 4 SM, kerajaannya dibagi-bagi antara para anggota keluarganya sesuai dengan fatwa warisnya, namun pembagian tersebut tidak diakui sebelum dikukuhkan oleh Kaisar Agustus. Arkhelaus pergi ke Roma untuk menyampaikan klaim dirinya sebagai raja Yudea. Namun sebuah delegasi sebanyak 50 orang Yahudi juga pergi Roma dengan tujuan membujuk Kaisar Agustus untuk menunda pengangkatan Arkhelaus. Delegasi tersebut berhasil sebagian: kepada Arkhelaus diberikan separuh dari kerajaan tetapi kepadanya tidak diberikan gelar raja; sisa kerajaan ex ayah mereka kemudian dibagi dua antara Filipus dan Antipas.
With_His_Disciples005
Dalam perumpamaan ini sang bangsawan memanggil 10 orang hambanya dan mempercayakan kepada masing-masing hambanya uang dengan jumlah uang yang sama, yaitu 1 mina – upah seorang pekerja untuk 3 bulan. Sang bangsawan menginstruksikan para hambanya itu untuk menggunakan uang mina tersebut untuk usaha, dan dia percaya kepada cara mereka masing-masing menjalankan uang mina itu. Lalu fokus-nya bergeser dari para hambanya ke orang-orang yang mengutus sebuah delegasi untuk menghentikan kenaikan sang bangsawan ke takhta sebagai raja. Akhirnya sang bangsawan kembali ke negerinya sebagai raja; ternyata para anggota delegasi tidak berhasil melaksanakan misi mereka.

Raja yang baru ini memanggil para hambanya untuk melihat bagaimana mereka telah menjalankan uang mina yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Muncullah 3 orang hambanya. Dua hamba yang pertama telah meresapi semangat sang bangsawan yang biasa mengambil risiko untuk menumbuh-kembangkan uangnya. Mereka berhasil membuat laba sebesar 900% dan 400%, dan mereka pun diberi ganjaran setimpal dengan tanggung jawab lebih lagi. Sekarang hamba yang ketiga …… yang menyimpan uang mina yang dipercayakan kepadanya dalam sapu tangan. Hamba yang ketiga ini mencoba untuk membenarkan apa yang telah dilakukannya dengan fokus pada kekejaman tuannya, bukan kebodohan atau kemalasan dirinya sendiri. Dia menempatkan masalahnya pada sang raja, tidak pada dirinya sendiri. Sang raja kemudian menghukum hamba ketiga ini sesuai dengan pandangan hamba itu sendiri: jika dia memandang tuannya begitu, mengapa dia tidak melakukan hal yang paling mudah, yaitu memperoleh bunga dari rentenir yang menjalankan uang yang dipercayakan kepadanya?
Kemudian Yesus berkata kepada orang-orang yang berdiri di situ: “Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu” (Luk 19:24). Sekilas keputusan sang raja tidak adil. Tidak heranlah apabila mereka memprotes karena yang sudah mempunyai banyak malah ditambahkan dengan jumlah yang sedikit, hal mana akan menyebabkan hamba yang ketiga tidak mempunyai apa-apa lagi. Orang-orang itu berkata: “Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina” (Luk 19:25)Jawab sang raja: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil” (Luk 19:26). Pelajaran apa yang  dapat kita tarik dari keputusan sang raja ini?
Hamba yang ketiga masih saja tidak mampu melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan uang mina milik tuannya, dan bahwa urusan bisnis yang penuh risiko adalah urusan saling percaya (mutual trust). Hamba ketiga ini tidak berjalan di atas azas saling percaya ini; melainkan dia tetap berdiam pada rasa takutnya. Orang-orang yang berjalan berdasarkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka akan diberi ganjaran dengan lebih lagi. Sebaliknya mereka yang kejahatan rohnya sedemikian rupa, sehingga mereka menyimpan kepercayaan yang diberikan kepada mereka sungguh tidak pantas menerima ganjaran. Akhirnya, sang raja memindahkan perhatiannya kepada para musuhnya yang menentang pengangkatannya dan memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh para musuhnya tersebut di depan matanya (Luk 19:27).
Perumpamaan ini mengindikasikan bahwa perpisahan Yesus dengan para murid-Nya terasa tidak lama lagi, setelah mana para murid-Nya (termasuk kita) akan menjalani masa penantian yang tidak seorang pun tahu panjang atau pendeknya, sebelum kedatangan-Nya untuk kedua kali pada saat mana akan berlangsung penghakiman terakhir atas diri kita semua. Yesus telah mengambil risiko untuk syering dengan para murid-Nya kebaikan-kebaikan-Nya, kehidupan-Nya sendiri, kepercayaan-Nya sendiri, nilai-nilai-Nya sendiri. Apa jadinya apabila para pengikut-Nya tidak mau membuat segala apa yang disyeringkan itu bertumbuh dan bekerja?
DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali kelak, biarlah Roh Kudus-Mu terus membentuk kami sehingga menjadi mau dan mampu untuk membuat segala kebaikan, hidup, kepercayaan dan nilai-nilai yang Engkau syeringkan dengan kami, menjadi bertumbuh dan bekerja dalam diri kami masing-masing. Dengan demikian kami pun dapat turut ambil bagian dalam memajukan Kerajaan Allah. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Mak 7:1,20-31), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEORANG IBU DAN TUJUH ORANG ANAKNYA” (bacaan tanggal 18-11-15) dalam situs/blog PAX EET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-11-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 
Cilandak, 15 November 2015 [HARI MINGGU BIASA XXXIII – TAHUN B] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, November 15, 2015

PENYEMBUHAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 16 November 2015) 
BARTIMEUS - 000
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: 1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150, 155,158
Apabila Saudari dan Saudara mempunyai satu keinginan, apa yang akan anda minta kepada Yesus? Kesehatan yang baik dan umur panjang? Harta kekayaan? Kekuasaan? Pertobatan dari orang yang anda kasihi? Berbagai penghormatan dan puji-pujian dari orang-orang lain? Bagaimana dengan pekerjaan yang penuh arti, tetapi penuh penderitaan dan dengan imbalan eksternal yang boleh dikatakan sedikit?
Dalam kasus ini Yesus mengajukan pertanyaan sama kepada kita (anda dan saya) masing-masing seperti yang ditanyakan-Nya kepada si orang buta dekat Yerikho: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (Luk 18:41). Orang buta itu  menjawab: “Tuhan, supaya aku dapat melihat” (Luk 18:41). Ini adalah sebuah “doa seorang miskin” yang lugu dan lugas, keluar dari hati yang tulus-penuh harap, seperti doa si penjahat yang bertobat di kayu salib (lihat Luk 23:42). Tanggapan Yesus sangat positif dan mukjizat pun terjadi. Lain halnya dengan dua murid kakak-beradik yang sudah lama mengikuti Yesus. Yakobus dan Yohanes meminta kursi kehormatan dan kewenangan dalam kerajaan Yesus (satu mau jadi Menko Hankam, yang satu lagi mau jadi Menko Ekuin). Sebuah permintaan yang terasa agak “tidak tahu diri”, sehingga Yesus pun menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”(Mrk 10:38). Para murid Yesus yang lainpun menjadi marah, namun bukan berdasarkan alasan yang benar juga. Jelas kelihatan bahwa mereka cemburu karena merasa dilewati. Akan tetapi, di sini kita lihat Yesus dengan lemah lembut minta kepada kedua murid kakak beradik ini, apakah mereka siap untuk mengikuti Dia pada jalan satu-satunya menuju kerajaan-Nya, yaitu JALAN SALIB.
Karena dibaptis ke dalam kematian Yesus, semua orang Kristiani akan memerintah dengan Dia. Akan tetapi bagaimana kita mempraktekkan dalam hidup sehari-hari realitas persatuan kita dengan-Nya itu? Yesus mengatakan kepada kita, bahwa kita tak akan menemukan model-model yang baik dalam masyarakat sekular, di mana para pemimpin bertindak sewenang-wenang atas orang-orang yang mereka harus pimpin. Untuk ini kita harus melihat Yesus, yang datang sebagai “hamba bagi semua orang”, dan juga harus melihat mereka yang sungguh-sungguh  mengikuti jejak-Nya.
Salah seorang dari mereka adalah Ibu Teresa dari Kalkuta yang pada tahun 2003 dibeatifikasikan di Roma. Untuk kurun  waktu lebih dari 50 tahun, Ibu Teresa mendedikasikan dirinya untuk pelayanan kepada orang-orang sangat miskin (the poorest of the poor) di seluruh dunia. Bersama dengan para saudari dan saudaranya yang bergabung dengan dia dalam kongregasi religiusnya, Ibu Teresa tidak sekadar menolong orang miskin, melainkan hidup di tengah-tengah mereka, merangkul suatu hidup kemiskinan dalam mengikuti jejak Yesus, yang menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor 8:9). Selagi Ibu Teresa menjalani gaya hidup miskin itu, dia menemukan kebenaran yang sama mengenai hal-hal yang Yesus coba ajarkan kepada Yakobus dan Yohanes mengenai prestise dan rasa hormat dunia. “Semakin banyak engkau memiliki, semakin banyak pula engkau disibukkan dengan milikmu itu. Semakin banyak engkau dibuat sibuk dengan milikmu itu, semakin sedikit pula engkau memberi. Akan tetapi semakin sedikit engkau memiliki, engkau pun semakin bebas. Kemiskinan bagi kami adalah sebuah kerajaan”, demikianlah menurut Ibu Teresa.
Karena Dia ingin dirinya dipenuhi hanya dengan Kristus, Ibu Teresa mampu memberi kasih dengan penuh kemurahan hati. Seringkali karya karitatif Ibu Teresa dan para saudari dan saudaranya ini sangat melelahkan dan tanpa menerima ucapan terima kasih dari pihak mana pun, suatu unthankful job. Namun karya termaksud juga menjadi sumber kegembiraan, harapan dan pandangan sekilas tentang kemuliaan Allah. Marilah kita juga berjalan seturut teladan Ibu Teresa ini. Marilah kita memandang Yesus dengan penuh kasih dan mohon Dia menolong kita agar dapat melayani sesama, seperti Dia telah lakukan dan juga seperti telah ditunjukkan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta.
DOA: Roh Kudus Allah, Engkau menjunjung tinggi Yesus sepanjang hidup-Nya di muka bumi.  Berikanlah kepadaku mata iman agar dapat memandang Dikau. Berikanlah kepadaku hati yang penuh bela-rasa, untuk dapat mensyeringkan Yesus Kristus dengan orang-orang lain. Buatlah aku menjadi saksi hidup atas Kasih yang dapat mentransformasikan dunia. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA HATI YANG BERBELA RASA” (bacaan tanggal 16-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak,  12 November 2015 [Peringatan S. Yosafat, Uskup Martir] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, November 07, 2015

FONDASI DARI GEREJA ADALAH YESUS KRISTUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Senin, 9 November 2015)

Basilica of St. John Lateran
Basilica of St. John Lateran
Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.  
Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun diatasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.
Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian. (1Kor 3:9b-11,16-17) 
Bacaan Pertama: Yeh 47:1-2,8-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22
“Kami adalah kawan sekerja untuk Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”  (1Kor 3:9).
Dengan kata-kata ini Santo Paulus menasihati jemaat di Korintus supaya memahami bahwa mereka adalah bangunan Allah. Pokok ini harus mengingatkan kita bahwa manakala kita menggunakan kata “Gereja”, maka hal ini berarti melebihi daripada sekadar sebuah struktur bangunan di mana umat Allah berkumpul untuk beribadat dan menyembah-Nya. Kita dapat menamakan bangunan sedemikian sebagai gereja, namun Paulus menginstruksikan umat di Korintus (dan kita sekarang juga) bahwa umat Allah adalah Gereja. Pemahaman seperti ini cocok untuk hari ini ketika kita merayakan dedikasi Gereja Basilik S. Yohanes Lateran, gereja katedral dari Uskup Roma.
Pesta ini dimaksudkan untuk merayakan dedikasi/pemberkatan Gereja kepala dan induk dari segala gereja dalam persekutuan dengan Roma. Dalam menghormati dedikasi dari gereja katedral S. Yohanes Lateran, pusat perhatian kita adalah pentingnya peranan Sri Paus – pengganti S. Petrus – sebagai guru dan pelayan/hamba dari segala pelayan/hamba Allah. Sesungguhnya kita tidak merayakan sebuah bangunan gereja, melainkan sebuah bangunan gereja sebagai sebuah tanda Gereja di mana Sri Paus adalah guru tertinggi. Ini adalah sebuah tanda dari Yerusalem surgawi yang kita idam-idamkan.
Dalam Gereja ini dibangunlah sebuah bait Allah demi kemuliaan Bapa surgawi melalui karya Roh Kudus. Kita menerima berbagai karunia/anugerah Roh yang dicurahkan kepada kita guna membangun Gereja sehingga Gereja itu akan mencerminkan secara lebih penuh kemuliaan dan kebenaran dari Yerusalem surgawi. Kita melakukan hal ini dengan tetap mengingat bahwa “fondasi dari Gereja adalah Yesus Kristus” (1Kor 3:11).
Pada hari ini sangat baik bagi kita untuk berdoa supaya Allah memperhatikan Bapa Suci dan menguatkan dirinya, sebagai guru tertinggi Gereja di atas bumi, mengajar kita dalam menuju Yerusalem surgawi. Sejalan dengan “doa pembukaan” dalam Misa Kudus hari ini, marilah kita juga berdoa agar kita sebagai umat Allah yang selalu setia akan rahmat Allah berkembang dalam pembangunan Yerusalem baru.
DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil umat-Mu untuk menjadi Gereja-Mu. Tolonglah kami untuk syering visi-Mu bagi Gereja sehingga dengan demikian kami dapat melihat kota suci, Yerusalem Baru, yang turun dari Allah di surga. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 3:9-13,16-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIBANGUN ATAS DASAR FONDASI YANG LUAR BIASA” (bacaan tanggal 9-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11  PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 5 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, November 06, 2015

MARILAH KITA BELAJAR DARI JANDA-JANDA MISKIN YANG SANGAT KAYA DALAM IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN B] – 8 November 2015) 
stdas0153
Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 
Bacaan Pertama: 1Raj 17:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua: Ibr 9:24-28
Baik Bacaan Injil maupun Bacaan Pertama hari ini menunjukkan kepada kita pribadi-pribadi yang menaruh kepercayaan sangat mendalam pada Allah. Bacaan-bacaan ini menunjukkan janda-janda miskin yang sangat kaya dalam iman dan rasa percaya mereka pada Allah. Dua orang janda ini mengetahui dan sangat percaya dalam hati mereka bahwa Allah sangat sanggup untuk menyediakan segala kebutuhan mereka.
Bacaan-bacaan ini “memaksa” kita untuk bertanya, jika Allah dapat memperhatikan dengan baik dua perempuan ini – yang barangkali mempunyai kebutuhan lebih besar daripada kita – bukankah Ia jauh lebih mampu untuk memperhatikan kebutuhan kita juga? Dia telah berjanji untuk senantiasa berada bersama kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Komitmen Allah kepada kita bersifat total! Allah senantiasa memperhatikan kepentingan kita yang terbaik dan Ia ingin agar kita menaruh kepercayaan pada-Nya bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita. Bukankah  Ia lebih daripada mampu untuk menolong kita, baik secara fisik maupun secara rohani?
Jika kita mempertimbangkan kasih Allah yang tanpa batas dan juga kuat-kuasa-Nya, maka hal tersebut dapat membuang rasa khawatir tak berguna yang sering mengganggu kita. Permenungan atas realitas-realitas Allah dapat mengangkat pikiran-pikiran kita dan meyakinkan kita bahwa kita sungguh dapat menaruh kepercayaan pada Tuhan, apa pun situasi yang kita hadapi. Misalnya, pikirkanlah fakta bahwa Bapa surgawi memiliki sumber daya tanpa batas, atau bahwa Dia memahami hidup kita luar-dalam. Ingatlah janji bahwa Roh-Nya hidup di dalam diri kita dan terus saja melayani kita masing-masing. Yesus mengajar kita untuk memperhatikan burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang. Jika Allah begitu memperhatikan dua ciptaan-Nya tersebut, maka tentunya jauh lebih besar perhatian-Nya atas diri kita dan segala hal yang kita hadapi (lihat Mat 6:25-33).
Karena kita memiliki pengharapan sedemikian, marilah kita kerahkan energi kita untuk menyebarkan Injil, melayani orang-orang di sekeliling kita, dan mengasihi Yesus. Dalam Misa Kudus hari ini, marilah kita mengingat betapa besar, mulia dan agung Allah kita itu dan betapa tanpa-batas segala sumber daya yang dimiliki-Nya. Persekutuan kita dengan Tuhan dalam Ekaristi pada hari ini dapat menarik kita ke dalam rasa percaya yang lebih mendalam lagi pada-Nya dan dapat memberdayakan kita untuk melangkah ke luar guna mensyeringkan kasih-Nya dengan orang-orang lain. Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuka hati kita masing-masing bagi Dia!
DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku. Engkau pantas untuk dipercaya, karena Engkau memiliki otoritas penuh di dalam surga dan di atas bumi. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil alih hidupku ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN ‘KECIL’ SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 8-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 5 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 7 November 2015)
Franciscan Missionaries of Mary (FMM):  Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 
16145187880_c5376ece3a_o
Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 
Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11
“Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan harta-benda dunia ini”, inilah kira-kira yang dikatakan oleh Yesus. Kemudian Ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki harta-benda dunia ini, “Apabila kamu tidak dapat dipercaya dalam dalam hal kekayaan dunia yang sukar dipahami, siapa yang akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan kekayaan yang bersifat kekal-abadi?”
Inilah ajaran Tuhan Yesus tentang penggunaan harta-kekayaan, seturut “perumpamaan Yesus tentang bendahara/manajer yang cerdik” (atau: “perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur”; Luk 16:1-8) dalam mengelola uang tuannya. Apa yang dikatakan Yesus kepada kita dalam perumpamaan itu adalah, “Harta-kekayaanmu bukanlah milikmu sendiri sehingga kamu dapat menggunakannya “semau gue”. Harta-kekayaanmu adalah milik Allah, dan kamu diangkat untuk mengurus harta kekayaan itu bagi Dia. Kamu akan dipandang akuntabel oleh Allah untuk apa yang kamu lakukan dengan harta kekayaan tersebut.”
Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Memang kita (anda dan saya) tidak dapat menjadi suatu kontradiksi, yang menjalani suatu kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan pada saat sama menjalani suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan mementingkan orang lain. Kita harus mengambil keputusan yang tegas! Hal ini sungguh merupakan suatu peringatan bagi orang-orang kaya pada zaman modern ini! Yesus berkata, “Allah memandang kamu bertanggung-jawab untuk penderitaan sengsara orang-orang miskin, para korban ketidak-adilan, orang-orang yang tergolong berpendapatan rendah yang membayar pajak yang relatif terlalu banyak sedangkan orang-orang kaya memiliki kuasa untuk menghindar dari beban pajak tersebut.”
Setiap pribadi manusia yang jujur mengetahui apa yang kiranya yang dikatakan oleh Yesus: “Kamu tidak dapat melayani Allah dan uang.” Jikalau kita (anda dan saya) melayani uang, maka kita “mengambil” apa saja yang kita dapat ambil, dan keserakahan ini membuat kita semakin jahat atau semakin tidak mengindahkan moral terkait bagaimana kita memperoleh uang tersebut: upah besar tanpa pertimbangan kinerja; nafsu akan kenikmatan-kenikmatan dengan biaya orang lain yang menderita karena ulah kita; mengabaikan tugas-tugas keluarga dan komunitas karena kita lebih mementingkan pengejaran nafsu.
Akan tetapi, apabila kita melayani Allah, maka kita (anda dan saya) akan memberikan yang terbaik: waktu kita, talenta kita, keprihatinan kita yang penuh kasih, harta-benda kita di dunia. Kita memberi karena kasih.
Dalam perbandingan-perbandingan di atas, Yesus kiranya berkata: “Oleh/lewat tindakan-tindakanmu, dengan harta-benda yang “dipinjamkan” oleh Allah kepada kamu, kamu harus membuat suatu pilihan. Dan pilihan yang kamu buat akan menentukan kehidupan kekalmu. Juga menentukan jenis kebahagiaan yang kamu miliki di atas bumi.”
DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar jiwaku tetap hidup dan rohku tetap sehat. Seringkali ingatkanlah diriku akan kata-kata keras-Mu: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:15). Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 16:3-9,16,22-27), bacalah tulisan berjudul “SALAM DARI PAULUS DAN KAWAN-KAWANNYA” (bacaan tanggal 7-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11  PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 4 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, November 04, 2015

SEORANG BENDAHARA/MANAJER YANG BRILIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 6 November 2015) 
jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom
Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 
Alkisah ada seorang eksekutif sebuah perusahaan – katakanlah namanya Edwin – yang dipercayakan dengan kontrak-kontrak perusahaan paling besar dan memiliki otoritas untuk mengelola uang perusahaan dalam jumlah yang besar. Keberhasilan Edwin mencapai posisi eksekutif dengan tanggung jawab besar ini tidak dapat dilepaskan dari kerja kerasnya selama lebih dari 7 tahun di perusahaan tersebut. Sebagai akibat dari keberhasilan dalam karirnya, Edwin hidup nyaman dengan status sosial yang baik. Kemudian, Direktur Utama merangkap pemegang saham perusahan mendengar desas desus yang kurang/tidak baik tentang Edwin. Sekarang integritas Edwin dipertanyakan dan dalam waktu yang relatif singkat jabatannya akan diisi oleh salah seorang pejabat senior lainnya. Tidak ada banyak perusahaan yang menawarkan lowongan kerja untuk tingkat eksekutif seperti yang dijabat oleh Edwin. Lagipula Edwin tidak memiliki keterampilan teknis untuk sukses dalam bidang-bidang lainnya. Sementara itu keluarganya tidak dapat melakukan adjustment dengan mudah dalam menanggapi perubahan seperti itu. Pendeknya, dunia seakan berantakan di mata Edwin. Apakah yang harus dilakukannya?
Edwin tidak dapat mengambil uang dalam jumlah banyak untuk kepentingan pribadinya, karena sang direktur utama sudah menaruh curiga terhadap dirinya. Sang direktur utama juga sudah siap untuk bertindak tegas. Nah, Edwin hanya memiliki waktu satu minggu saja untuk melakukan sesuatu, artinya dia harus bertindak super-cepat. Dalam waktu satu jam mendatang Edwin ada appointment dengan seorang pelanggan (debitur) guna mendiskusikan utang yang harus dibayarnya. Tiba-tiba Edwin mendapat ide brilian. Mengapa dia tidak merancang suatu deal yang tidak terlalu “menekan/memberatkan” pelanggan terbesar perusahaannya? Misalnya, dengan menghapuskan jumlah komisi bagi dirinya dan laba bagi perusahaannya. Perusahaannya akan mendapatkan kembali “pokok” utang, dan Edwin juga memperoleh “kawan baru” yang memang sangat dibutuhkannya. Edwin berpikir, “Biarlah merugi dalam jangka pendek, guna menjamin suatu pekerjaan apabila diriku dipecat.” Harus kita akui di sini, bahwa yang ada dalam pikiran Edwin adalah memang suatu ide yang brilian.
Cerita di atas pada hakekatnya adalah mengisahkan kembali (dalam konteks yang lebih modern) tentang “perumpamaan Yesus tentang si eksekutif atau manajer yang lihai”. Dalam perumpamaan ini, Yesus kembali (Luk 12:13-34) kepada pertanyaan tentang kekayaan dan mengajar para pengikut-Nya tentang penggunaan uang secara bijaksana.
Etika dari Edwin dalam cerita di atas jelas buruk, namun etika bukanlah fokus  dari pengajaran Yesus kali ini. Yesus memuji si bendahara/manajer karena dia menganalisis sikon yang dihadapinya dengan cermat dan bertindak dengan cepat untuk mengambil keuntungan bagi masa depan dirinya.
Sebagai umat Kristiani, kita mengetahui tentang hidup kekal dan kebenaran-kebenaran yang harus membentuk keputusan-keputusan kita di sini dan pada saat ini. Pada waktu kita harus bekerja guna mencapai keselamatan kita – artinya hidup kita di atas bumi – apakah kita – seperti juga si bendahara/manajer – melihat inti-pokok masalahnya sejernih yang dilakukan oleh si bendahara/manajer? Apakah kita akan menindak-lanjutinya dengan tindakan-tindakan yang menjamin posisi masa depan kita dalam surga?
DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku agar dapat menggunakan uangku dengan bijaksana. Berikanlah kepadaku hati untuk mengkomit uang dan waktu yang ada padaku hanya bagi proyek-proyek yang akan mengagungkan nama-Mu. Tanamkanlah dalam hatiku setiap hari kepastian tentang kehidupan kekal bagiku, dan berikanlah kepadaku ketetapan hati untuk menjalani kehidupan di dunia ini sambil menatap surga yang ada di depanku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK” (bacaan tanggal 6-11-15) dalam situs/bloghttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 4 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MASING-MASING SANGAT BERHARGA DI MATA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 5 November 2015) 
Jesus-Good-Shepherd-13
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 
Bacaan Pertama: Rm 14:7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14
stdas0736
Kadang-kadang sulitlah bagi kita untuk percaya bahwa Yesus menilai kita masing-masing sedalam seorang gembala yang menilai domba-dombanya atau seorang janda yang menilai uang dirhamnya yang hilang. Namun pada kenyataannya kita adalah memang sangat berharga di mata-Nya. Seperti sang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor yang hilang, maka Yesus pun akan meninggalkan setiap orang di belakang guna menyelamatkan satu jiwa yang sedang “salah jalan” pada hari ini.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa setiap pribadi di atas bumi ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? (lihat Kej 1:26,27). Setiap pribadi manusia tak ternilai harganya di mata Allah, betapa keras kepalanya sekalipun orang itu dalam melawan pesan Kabar Baik (Injil) Yesus Kristus, walaupun betapa berdosa mereka menurut pandangan kita. Jalan Yesus bukanlah “jalan pintas” – Ia memanggul salib-Nya sampai ke Golgota dan di salibkan di bukit itu untuk menebus kita semua – bahkan orang-orang miskin, orang-orang buangan/termarjinalisasi, orang-orang yang tidak masuk hitungan. Kebenaran ini dapat menjadi suatu sumber kepercayaan diri bagi kita, dan suatu sumber belarasa sejati terhadap orang-orang lain. Jika Yesus mengasihi setiap orang dengan begitu mendalam, maka bukankah kita pun harus memiliki hasrat untuk melihat orang-orang lain direstorasikan agar menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan bermartabat?
Mother-Teresa-2
Beata Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Yesus datang untuk bertemu dengan kita. Guna menyambut Dia, marilah kita pergi menemui-Nya.” Yesus datang tidak hanya dalam kehangatan suatu waktu doa yang baik, melainkan juga dalam rupa seorang yang lapar, seorang yang sedang sunyi-sepi-sendiri, seorang penderita narkoba atau HIV-AIDS, seorang yang membutuhkan pertolongan, dlsb. Dia datang kepada kita dalam diri seorang anggota keluarga yang merasa diabaikan dan kurang diperhatikan. Ia datang kepada kita dalam diri seorang pengemis di sudut jalan dlsb. Apakah kita mengenali kehadiran-Nya? Bunda Teresa dari Kalkuta menulis, “Orang-orang miskin datang kepada kita. Kita harus sadar akan kehadiran mereka agar dapat mengasihi mereka.” 

Manakala kita mengenali orang-orang yang membutuhkan pertolongan, kita dapat menanggapi kebutuhan mereka seturut kemampuan yang kita miliki. Tentu kita semua mempunyai sumber daya yang terbatas, namun kita mempunyai sesuatu yang dapat kita berikan kepada setiap orang: doa kita. Apakah ada seseorang yang lapar, telanjang, tidak mempunyai tempat berteduh? Dalam hal ini kita dapat memohon kepada Bapa surgawi yang memiliki sumber daya berlimpah agar menyediakan makanan, pakaian dan tempat berteduh. Apakah ada seseorang yang menderita sakit atau sedang ketagihan narkoba? Dalam hal ini kita dapat memanggil dan memohon pertolongan dari sang Dokter ilahi. Kita pun dapat melakukan pertempuran atau perang roh bagi mereka yang sedang menderita. Selagi kita melakukan semua itu kita akan bertemu dengan Yesus – dan demikian pula dengan orang-orang yang kita doakan.
DOA: Yesus, aku mengetahui bahwa Engkau menghitung setiap pribadi sebagai milik-Mu yang tak ternilai harganya. Buatlah diriku, ya Tuhan, agar mau dan mampu menaruh perhatian terhadap berbagai kebutuhan orang-orang yang berada di sekelilingku. Tolonglah aku untuk membuka tangan-tanganku guna melayani dan membuka hatiku untuk melakukan doa-doa syafat (pengantaraan) bagi orang-orang yang memerlukan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SATU EKOR DOMBA DAN UANG LOGAM SENILAI SATU DIRHAM” (bacaan tanggal 5-11-15) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak,  3 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, November 02, 2015

MENGASIHI DAN MEMBENCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Carolus Borromeus – Rabu, 4 November 2015)
Franciscan Missionaries of Mary (FMM): Peringatan wafat B. Marie de la Passion, Ibu Pendiri Tarekat 
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 
Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 
Kata-kata yang diucapkan Yesus ini memprovokasi kita untuk berpikir lebih lanjut. Kata-kata ini digunakan Yesus untuk menantang para pendengar-Nya yang mau menjadi murid-murid-Nya! Membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri! (Luk 14:26). Kata-kata Yesus ini terasa sangat bertentangan dengan perintah yang diberikan oleh-Nya sebelum itu, yaitu perintah untuk mengasihi! Bagaimana dua perintah ini dapat cocok satu sama lain?
Pada titik tengah, perintah Yesus, baik untuk mengasihi maupun untuk membenci, merupakan suatu panggilan untuk mau mengorbankan bagi Yesus hal-hal yang paling disenangi dalam hidup kita. Ini adalah panggilan untuk melakukan subordinasi kasih kita kepada setiap orang dan setiap hal lainnya terhadap kasih kita kepada-Nya, untuk menempatkan hasrat-Nya sebagai yang pertama dan utama dalam hati kita. Yesus memerintahkan ini karena Dia tahu bahwa bila kita mengasihi dan menghormati-Nya di atas setiap hal lainnya, maka kita akan mampu untuk mengasihi orang-orang lain secara lebih mendalam. Dengan kasih ilahi dan hidup ilahi yang aktif di dalam diri kita, maka kita diberdayakan untuk mengasihi dengan cara yang melampaui kemampuan-kemampuan kita sendiri yang bersifat alamiah.
Di manakah atau kapankah kita (anda dan saya) mengalami perintah untuk mengasihi yang membuat seakan hal itu berada di luar batas-batas kemampuan kita? Mungkin kita harus mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang dan konfrontatif kepada saudari dan/atau saudara kita dalam Kristus? Barangkali seorang anak kita telah mengikuti jalan yang sesat dan membutuhkan koreksi? Dalam situasi-situasi yang sulit-menegangkan seperti itu, Roh Kudus dapat mengajar kita untuk membenci dosa yang kita lihat namun terus mengasihi para pendosa tersebut. Paling sedikit kita diingatkan bahwa kita pun adalah orang-orang berdosa.
Kita hanya perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan sulit yang dihadapi Yesus dalam kehidupan-Nya ketika hidup di atas bumi ini, atau merenungkan kematian-Nya di atas kayu salib guna melihat bahwa “jalan kasih” tidak selalu mudah. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan kita dari cara hidup yang sia-sia yang diwariskan oleh nenek moyang kita (1Ptr 1:18) dan juga dari kodrat kita yang cenderung berdosa. Kita tidak boleh takut terhadap reaksi-reaksi orang-orang jikalau memang kita harus berbicara langsung kepada mereka. Kita harus berketetapan hati untuk tetap setia kepada panggilan Allah bagi kita kepada kekudusan yang meminta kepada kita untuk “membenci” segala hal yang membuat kita dan orang-orang lain tetap terikat pada dosa. Yesus wafat di atas kayu salib untuk memenangkan kasih kita dan kesetiaan kita. Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, mengasihi Dia di atas segalanya yang lain dalam hidup kita.
DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menempatkan Engkau di atas segala cintaku yang lain. Ajarlah aku agar mengasihi keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang lain dengan kasih-Mu, yaitu kasih yang menyembuhkan segala luka dan perpecahan. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana mengucapkan sabda-Mu dalam kasih yang berasal dari Engkau saja, sehingga Engkau dapat dimuliakan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 13:8-10), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH ADALAH KEGENAPAN HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 4-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 3 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 3 November 2015)
Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringatan Arwah sanak saudara dan para penderma 
YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISI
Mendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 
Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.
Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).
Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.
Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya:“Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.
PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN BESAR - 2
Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.
Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.
Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.
Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.
Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!
DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 12:5-16a), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI DAN DENGAN KASIH” (bacaan tanggal 3-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak,  2 November 2015 [PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, November 01, 2015

KESELAMATAN DATANG DARI KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN, Senin, 2 November 2015)
all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman. (Yoh 6:37-40)
Bacaan Pertama: 2Mak 12:43-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: 1Kor 15:12-34 
Ada sebuah pertanyaan hakiki yang harus mampu kita jawab dengan penuh keyakinan: “Apakah kita sungguh percaya bahwa keselamatan datang dari Kristus?”  Iblis sangat ingin melihat bahwa kita menjalani seluruh kehidupan kita dengan pandangan ke bawah terus, dihinggapi rasa ketidakpastian akan kasih Allah, dipisahkan dari diri-Nya, tidak yakin akan tempat kita dalam hati-Nya. Namun, memang kehendak Bapalah bahwa setiap orang akan melihat dan percaya kepada Putera-Nya (lihat Yoh 6:40), sehingga dengan demikian kita tidak pernah perlu takut akan akhir zaman pada saat mana Yesus datang kembali ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.
Syukur kepada Allah, keselamatan kita itu tidak ditentukan oleh perasaan kita melainkan apa yang telah dilakukan Allah bagi kita melalui kematian dan kebangkitan Putera-Nya! Kita mungkin saja dapat menjadi kecil hati melihat diri kita bergumul melawan pola-pola perilaku penuh dosa yang kita pikir telah kita tinggalkan selamanya. Kita dapat saja marah kepada Allah untuk kematian pasangan hidup kita yang begitu mendadak. Kita mungkin saja merasa kering secara spiritual, secara rutin mempraktekkan iman kita tetapi tidak mengalami kehadiran Allah seperti yang pernah kita alami. Namun faktanya tetap, bahwa melalui Salib Kristus, semua dosa dan maut telah dikalahkan. Sekarang, setiap orang yang merangkul Yesus melalui hidup pertobatan, iman dan ketaatan dapat merasa yakin akan memperoleh kehidupan kekal. Itulah fondasi dari sukacita dan pengharapan kita.
Itulah sebabnya mengapa peringatan hari ini dapat menjadi suatu saat untuk bersukacita untuk kita semua. Yesus yang sama, yang telah menghancurkan kuasa dosa dan maut dengan salib-Nya sekarang ada bersama kita untuk memimpin kita semakin dekat lagi kepada Bapa surgawi. Dia memberikan kepada kita rahmat pertobatan dan pengampunan pada hari ini, sehingga dengan demikian kita dapat bersama Dia pada akhir zaman, bilamana seluruh bumi akan menghadapi penghakiman terakhir.
Allah memenuhi setiap saat dengan rahmat-Nya. Pertanyaannya adalah apakah kita mempunyai keinginan untuk menanggapi. Maukah kita memperkenankan Roh-Nya untuk memurnikan diri kita dari segala sesuatu yang tidak dapat berdiri tegak di dalam terang kekudusan-Nya? Maukah kita memperkenankan baptisan kita ke dalam Kristus menjadi  semakin berakar dalam diri kita pada hari ini (Rm 6:3-11)? Salib Yesus adalah penghakiman Allah atas setiap motif dalam hati manusia yang tidak murni, mementingkan diri sendiri, dan angkuh. Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan salib-Nya terus-menerus menghakimi dosa kita, bahkan ketika salib-Nya itu menghibur kita dengan janji belas kasihan dan penyelamatan-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, pimpinlah diriku selalu. Tolonglah aku agar mempercayai-Mu lebih dan lebih lagi. Ingatkanlah aku, ya Tuhan, akan segala apa yang Engkau telah perbuat bagiku, sehingga dengan demikian iman-kepercayaanku kepada-Mu dapat menular juga kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 15:12-34), bacalah tulisan berjudul “IKUT AMBIL BAGIAN DALAM KEMENANGAN YESUS ATAS MAUT” (bacaan untuk tanggal 2-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015.
Cilandak,  30 Oktober 2015
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS