Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, Mac 11, 2017

AGAR KITA DAPAT MENCERMINKAN KASIH ALLAH KEPADA MUSUH-MUSUH KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 11 Maret 2017)
 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 
Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  
Rasanya dari perintah Yesus yang keras-keras, perintah untuk mengasihi musuh inilah perintah paling keras dan sulit yang harus kita laksanakan. Berapa banyak dari kita telah mendengar perintah Yesus ini memandangnya sebagai ‘terlalu idealistis’? Berapa banyak dari kita yang telah mendengar sabda Yesus ini dan merasa bersalah karena ketidakmampuan kita selama ini untuk setia pada perintah itu. Biar bagaimana pun, siapakah yang dapat sungguh mengasihi secara sempurna?
Kasih yang sempurna itu murah hati dan konstan. Karena didirikan di atas suatu komitmen interior, maka kasih yang sempurna tidak berubah berdasarkan tindakan-tindakan orang yang kita kasihi. Mengasihi musuh-musuh kita juga bukan merupakan hasil dari kalkulasi cost and benefit seperti halnya rata-rata keputusan bisnis. Kalau kita sungguh mengasihi mereka, maka bukan berarti ada jaminan bahwa musuh-musuh kita kemudian menjadi kawan kita.
Tujuan utama dari “mengasihi musuh-musuh” adalah agar kita dapat mencerminkan kasih Allah kepada mereka. Tindakan kita tersebut kita membantu melembutkan hati mereka terhadap Allah. Allah ingin agar kita memandang musuh-musuh kita seperti Dia memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah seperti kita juga; orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, seperti kita juga.
Kasih sempurna adalah kasih Allah yang ditunjukkan oleh-Nya pada waktu Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita masih menjadi musuh-musuh-Nya (lihat Rm 5:8-10). Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber ‘kasih sempurna’. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus tahu bahwa tidak mungkinlah mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, serta juga menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya.
Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang ‘lebar’ akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang melebihi kemampuan alami kita sendiri.
DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku agar dapat memandang orang-orang lain dengan kasih, dengan kasih mana Yesus sendiri memandang mereka. Perbaikilah kesempitan pandanganku dengan visi Yesus yang jelas mengenai kasih yang kekal-abadi. Amin.
Sumber :

YESUS MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 10 Maret 2017)
Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 
Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 
Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzolimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.
Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama. Dalam Doa “Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa “Bapa Kami” itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).
Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan “segudang” cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.
Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh, daripada kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudarI dan saudara kita! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.
DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.
Sumber :

Rabu, Mac 08, 2017

MINTALAH, MAKA AKAN DIBERIKAN KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Kamis, 9 Maret 2017)
 

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:7-12) 
Bacaan Pertama: Est 4:10a,10c-12,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Sungguh, ini adalah sebuah janji besar! Tanpa syarat ini atau itu yang tidak mengandung kepastian, Yesus mengatakan kepada kita bahwa Allah Bapa akan memberikan kepada kita apa saja yang kita minta dalam doa, apabila kita bertekun dalam doa permohonan kita. Allah kita adalah Allah yang Mahamurah. Kemurahan hati-Nya tak terbatas. Ia memberi, memberi dan memberi. Namun pada saat yang bersamaan, Ia ingin agar kita belajar bagaimana seharusnya meminta, mencari dan mengetuk. Mengapa? Apakah karena Dia ingin menonton kita berjuang dan bergumul untuk memperoleh rahmat-Nya? Samasekali tidak! Sebaliknya, Yesus tahu bahwa dalam proses permohonan yang dilakukan dalam ketekunan dan penuh kepercayaan, kita mampu mendobrak halangan-halangan berupa ketidakpercayaan, keragu-raguan, ketidakpedulian dlsb.
Sekarang masalahnya, apakah kita bertekun dalam menghaturkan doa-doa permohonan kita kepada Allah, atau kadangkala kita menyerah dan berkata “cape deh!”, karena merasa doa-doa kita tidak didengarkan oleh-Nya. Apakah anda merasa seakan-akan Allah tidak mau menjawab doa-doamu? Hal seperti ini sebenarnya normal-normal saja. Kadang-kadang kita semua merasa Allah tidak membuat respons terhadap kebutuhan-kebutuhan kita secepat yang kita inginkan. Akan tetapi, apabila jawaban dari Allah seakan datang begitu lambat, kita harus ingat bahwa jangkauan pandangan Allah itu tanpa batas, sedangkan kita hanya dapat melihat di sini dan sekarang.
Setiap orangtua yang baik tahu betapa  baik bagi anak-anaknya apabila mereka harus berpikir keras dan panjang mengenai apa yang sesungguhnya mereka inginkan dan butuhkan, atau kapan saja mereka harus menghadapi situasi-situasi yang penuh tantangan. Orangtua yang baik, bukanlah orangtua yang suka memanjakan anak-anaknya. Demikian pula halnya dengan Bapa surgawi. Dia tidak mempunyai niat untuk memanjakan kita dengan memberikan kepada kita hal-hal yang akan “merusak” kita dalam jangka panjang.
Marilah kita mempercayai 100% sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Kalau kita bertekun, Allah akan menjawab setiap doa kita. Jawab-Nya mungkin saja baru dapat dipahami oleh kita dengan berjalannya waktu. Jawaban-Nya juga dapat datang secara tak terduga, ketika tidak diharap-harapkan. Bagaimana cara datangnya jawaban dari Allah itu, kita dapat merasa pasti bahwa kalau kita menghaturkan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat kita kepada Allah, maka Dia memberi respons kepada kita – tetapi hanya sebagai ‘seorang’ ayah yang sungguh mengasihi anak-anaknya, artinya Dia tidak akan memberikan kepada kita segala hal yang kita pandang sebagai kebutuhan prioritas kita. Bagaimana pun cara memberkati kita, berkat-berkat-Nya itu akan jauh lebih besar daripada apa saja yang pernah harapkan.
Ayat terakhir dalam  bacaan Injil hari ini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Mat 7:12) dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE  (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.
DOA: Bapa surgawi, Engkau selalu mencurahkan berkat-berkat yang berlimpah bagi anak-anak-Mu. Kerajaan-Mu adalah milik kami juga kalau kami memintanya, namun hanya apabila kita mencari Engkau dengan hati penuh iman. Terpujilah Engkau selalu, ya Allah Bapa kami. Amin.
Sumber :

Selasa, Mac 07, 2017

MEREKA MEMINTA SUATU TANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 8 Maret 2017) 
Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 
Kitab Yunus mengisahkan cerita tentang seorang nabi yang diutus Allah kepada kota kafir yang besar dan kuat, kota Niniwe. Seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang lain, pada mulanya Yunus merasa ragu-ragu. Dia bahkan mencoba melarikan diri. Setelah “retret” selama tiga hari tiga malam di dalam perut seekor ikan besar, barulah Yunus yakin bahwa Allah sungguh serius dalam pengutusan dirinya. Bayangkanlah hasil akhirnya: Hanya beberapa patah kata yang diucapkan Yunus telah membuat seluruh kota melakukan pertobatan secara dramatis, dan lewat dirinya mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah (lihat Yun 3:4-6.10).
Sebagai seorang Yahudi saleh, Yesus tentu akrab dengan cerita nabi Yunus ini, demikian pula banyak orang lainnya di Israel. Oleh karena itu ketika ada orang yang mencobai Dia dengan meminta suatu tanda, maka Yesus menggunakan cerita Yunus sebagai dasar dari jawaban-Nya. Yesus bersabda: “Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29). Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus” ini? Mukjizat apa dalam cerita ini yang menunjuk kepada rahmat dan kuat-kuasa Allah? Memang luarbiasa Yunus itu, dia mampu survive di dalam perut seekor ikan besar selama tiga hari tiga malam! Tetapi yang lebih luarbiasa adalah gerakan pertobatan di seluruh Niniwe, dimulai dengan sang raja sendiri (lihat Yun 3:6). Orang-orang Yahudi dapat dikatakan memahami bahwa pesan Yesus lewat kisah nabi Yunus adalah sebuah pesan agar mereka bertobat (lihat Luk 11:29.32).
Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus (Luk 11:29). Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Yesus juga menyebut Ratu Sheba, yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo (lihat Luk 11:31). Mengapa para pendengar-Nya tidak dapat mengakui hikmat-kebijaksaan Yesus yang jauh lebih besar daripada yang ada pada diri Salomo? Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-Nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah. Oleh karena itu marilah kita mendengar baik-baik seruan Yesus agar kita melakukan pertobatan secara istimewa pada masa Prapaskah ini. Marilah kita mencari hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan-Nya dalam hidup kita. Seperti orang-orang Niniwe yang melakukan pertobatan secara dramatis, maka kita pun meninggalkan segala sikap dan perilaku yang membuat-Nya sedih dan menyakiti mereka yang kita kasihi. Dengan pertolongan Roh Kudus, mohonlah kepada Tuhan agar kita dapat mengidentifikasikan dua atau tiga area dalam kehidupan kita di mana Yesus memanggil kita untuk melakukan perubahan. Mohon kepada Roh Kudus agar kepada kita diberikan kekuatan untuk dapat bertekun dan maju terus. Percayalah bahwa Allah sungguh mau menolong kita mengubah area-area kehidupan kita yang belum mencerminkan damai-sejahtera dan kasih-Nya. Sekarang, apakah kita sungguh terbuka terhadap undangan Allah kepada pertobatan?
DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, seperti Ratu Sheba yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku dan kepada semua orang hari ini guna membimbing kami semua. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan membalikkan hatiku kembali kepada-Mu. Amin. 
Sumber :

Isnin, Mac 06, 2017

MEMBUAT MASA PRAPASKAH INI MENJADI MASA YANG PALING BAIK DALAM HIDUP KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 7 Maret 2017)
 
cima_da_conegliano_god_the_father
Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yes 55:10-11) 
Mazmur Antar-bacaan: Mzm 34:4-7.16-19; Bacaan Injil: Mat 6:7-15. 
Masa Prapaskah tahun ini sudah berjalan selama tujuh hari Sudahkah kita (anda dan saya) berpuasa dan berdoa mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus selama tujuh hari ini? Apakah kita (anda dan saya) telah mengampuni semua orang yang telah menyakiti hati kita – bahkan semua musuh kita (lihat Mat 6:12)? Apakah kita (anda dan saya) telah “mengosongkan diri” (Flp 2:7) sedemikian rupa sehingga dipenuhi dengan “lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus”? (Ef 3:18).
Masa Prapaskah adalah suatu masa rahmat, suatu anugerah dari sumber hidup bagi hubungan kita dengan Allah. Walaupun demikian, rahmat ini tidak dipaksakan kepada kita, Kita harus menunjukkan bahwa kita mau menerimanya dengan berpuasa, bermati-raga, berdoa, mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, melakukan pertobatan, dan mempraktekkan ketaatan penuh kasih kepada Allah.
Melalui masa Prapaskah ini, Allah akan membuat padang gurun menjadi “subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan” (Yes 55:10). Di mana tidak ada sesuatu, Allah akan menanam seuatu … “memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan” (Yes 55:10). Jika kita membiarkan atau memperkenankan Allah bertindak dengan cara-Nya, masa Prapaskah ini tidak akan terbuang sia-sia, kosong, atau hampa, melainkan akan terjadilah kehendak-Nya, “dan akan berhasil dalam apa yang Dia suruhkan” (lihat Yes 55:11).
Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita (anda dan saya) membuat masa Prapaskah ini sebagai saat-saat yang paling baik dalam hidup kita masing-masing. Baiklah kita menghayati masa Prapaskah ini  sebagai masa Prapaskah kita yang pertama atau yang terakhir. Semoga masa Prapaskah kali ini memuncak dalam pembaharuan janji-janji baptis kita pada Misa Malam Paskah atau Minggu Paskah. Marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Semoga masa Prapaskah ini mempersiapkan kita semua untuk berjumpa dengan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit pada hari ketiga dari antara orang mati. Semoga masa Prapaskah ini juga mempersiapkan kita  pada akhir zaman, pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kali ke dalam dunia, pada hari penghakiman, dan kebahagiaan abadi di surga.
DOA: Bapa surgawi, bukalah hatiku bagi kuat-kuasa firman-Mu untuk memperbaharui aku. Jadilah pelitaku, jalanku dan hidupku. Ajarlah aku bagaimana berdiam dalam firman-Mu dan mengikuti Yesus, Penebusku dan Guruku. Amin.
Sumber :

Ahad, Mac 05, 2017

TERIMALAH KERAJAAN YANG TELAH DISEDIAKAN BAGIMU SEJAK DUNIA DICIPTAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 6 Maret 2017)
54
“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 
Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15
“Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34).
Sungguh indahlah kenyataan, bahwa berkat-berkat karena ketaatan kita kepada perintah-perintah Allah mencakup juga suatu undangan untuk bergabung dengan-Nya dalam Kerajaan Surga. Allah memberikan kepada kita perintah-perintah-Nya bukanlah untuk membatasi kita, melainkan justru untuk membebaskan kita dan membuka hati kita bagi Roh Kudus-Nya. “Titah TUHAN (YHWH) itu tepat, menyukakan hati; perintah YHWH itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm 19:9). Setiap orang kudus dan pahlawan-iman, baik perempuan maupun laki-laki, dalam sejarah Gereja memberi kesaksian tentang kebenaran yang indah ini. Dan apa yang benar bagi mereka, juga benar bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini.
Selagi Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan, Yesus membuat jelas bahwa cara kita memperlakukan orang-orang lain merupakan sebuah indikasi yang sangat kuat dari kasih kita kepada Allah dan keterbukaan kita bagi Roh Kudus-Nya. Pada waktu YHWH Allah memberikan kepada Israel perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18), malah sebenarnya Dia memerintahkan mereka untuk saling mengasihi dalam cara yang konkret, dan berwujud. Allah minta kepada kita untuk menolong orang-orang yang kita jumpai setiap hari – anak-anak kita sendiri, pasangan hidup kita, seorang sanak keluarga atau teman yang sedang menderita sakit, seorang miskin yang mengetuk pintu rumah kita dlsb. Kita boleh yakin, bahwa selagi kita mentaati perintah-perintah-Nya, Allah akan memenuhi diri kita dengan rahmat untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, bahkan mereka yang tidak menarik di mata kita.
Janji kehidupan dalam Roh adalah apabila kita mentaati perintah-perintah Allah – teristimewa seruan-Nya agar kita mengasihi sesama – , maka Dia membawa kita ke suatu wilayah baru, yaitu kebebasan sejati dan kedekatan dengan-Nya. Dia memanggil kita untuk mengasihi karena Dia ingin kita menikmati kehidupan yang lebih mendalam bersama-Nya dengan menjadi lebih serupa dengan diri-Nya. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia rela memberikan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Karena Dia taat kepada Bapa-Nya dalam segala hal, maka Yesus mewarisi Kerajaan Surga. Dengan mengikuti Dia dalam kerendahan hati (kedinaan) dan ketaatan, kita sendiri pun dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga sebagai pewaris bersama-sama dengan Yesus.
Marilah kita berupaya untuk taat kepada Allah sehingga Dia dapat membawa kita ke dalam suatu kehidupan dalam Roh-Nya yang lebih mendalam. Setiap hari, Allah memberikan kepada kita banyak sekali kesempatan untuk menolong orang-orang yang mempunyai berbagai kebutuhan. Selagi kita mengambil kesempatan itu, kita menunjukkan kepada Allah bahwa kita mengasihi Dia dan ingin menjadi bagian dari Kerajaan Surgawi-Nya.
DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah kami agar mau dan mampu taat pada perintah-perintah-Mu, teristimewa perintah-Mu untuk mengasihi sesama kami. Bukalah mata hati kami agar dapat melihat kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang di sekeliling kami. Melalui kuasa kasih-Mu yang dicurahkan ke dalam hati kami oleh Roh Kudus, gerakkanlah kami agar berjumpa dengan sesama kami. Amin.
Sumber :

TETAP TEGUH DALAM MENGHADAPI GODAAN-GODAAN IBLIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [Tahun A], 5 Maret 2017)
 
christ_in_the_wilderness_-_ivan_kramskoy_-_google_cultural_institute
Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si penggoda dan berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan dia di puncak Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu.” Yesus berkata kepadanya, “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Setelah itu Iblis membawa-Nya ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya, “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Lalu berkatalah Yesus kepadanya, “Enyahlah, Iblis!” Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Sesudah itu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. (Mat 4:1-11) 
Bacaan Pertama: Kej 2:7-9; 3:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua: Rm 5:12-19
Apa saja kiranya kemerosotan-kemerosotan yang selama ini terjadi dalam masyarakat? Hilangnya kerendahan hati dan kejujuran? Sibuk dalam mengejar kekuasaan? Hasrat tak terbendungkan akan kemuliaan-diri? Cinta uang? Suka bersandiwara/bertopeng? Dll. Dsb.
Dari awal-awal Kita Kejadian kita sudah dapat membaca bagaimana manusia mengalami kejatuhan karena berbagai godaan seperti disebutkan di atas. Adam dan Hawa jatuh, hidup mereka pun berubah sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat memperbaikinya hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Hanya Allah – dalam diri Yesus Kristus – yang mampu melakukan restorasi atau pemulihan yang mereka damba-dambakan. Bagaimana? Untuk menyelamatkan kita, dengan penuh belarasa dan kasih, Ia menanggung derita, memikul salib dan mati di kayu salib untuk kita. Sebuah hukuman yang sebenarnya pantas kita terima.
Kita barangkali sering berpikir bahwa semua ini terjadi pada saat Yesus mati di kayu salib. Dalam artian tertentu hal ini benar. Namun juga benar apabila dikatakan bahwa keseluruhan hidup Yesus adalah kebalikan dari cerita tentang Adam.
Bacaan Injil hari ini tentang Yesus yang puasa 40 hari/malam dan digoda Iblis secara istimewa merupakan gambaran yang memiliki kuat-kuasa tentang Yesus yang tetap teguh dalam menghadapi godaan-godaan Iblis yang sebelumnya telah menjatuhkan Adam. Adam runtuh, namun Yesus tetap teguh. Yang lebih menakjubkan lagi adalah fakta bahwa Yesus melakukan semua itu bukan untuk diri-Nya sendiri. Sebagaimana Dia membawa kita bersama-Nya kepada salib, demikian pula Dia membawa kita bersama-Nya ke padang gurun, sehingga dengan demikian kita dapat ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas Iblis.
Sebagaimana Yesus dapat mengalahkan godaan Iblis melalui keakraban/keintiman-Nya dengan Bapa surgawi, maka kita pun dapat melakukan hal serupa, bahkan sama. Mazmur 23 menceritakan kepada kita bahwa Bapa surgawi adalah juga Gembala umat-Nya. Mazmur itu menceritakan kepada kita, bahwa jika kita mengikuti sang Gembala dan mau dibimbing oleh-Nya, maka kebaikanlah yang kita terima. Sang Pemazmur berkata: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mzm 23:4). Sekali lagi: Mengapa tidak takut? Karena Allah beserta kita dan Ia siap menolong kita, dan memberikan kepada kita kebaikan-Nya serta belas kasih-Nya.
Saudari dan Saudaraku, percayalah bahwa Yesus ada di pihak kita. Dialah pembela kita, dan tidak usah kita ramai-ramai berdemonstrasi untuk membela-Nya. Yesus telah memberikan Roh Kudus kepada kita untuk mengajar kita bagaimana seharusnya kita mengandalkan sepenuhnya hidup kita kepada Bapa surgawi. Yesus tidak akan tinggal diam sambil berpangku tangan ketika melihat kita jatuh/gagal. Ia ada di samping kita masing-masing, siap untuk menolong kita dengan kuat-kuasa-Nya yang dahsyat, keakraban/keintiman-Nya, dan kasih-Nya. Bersama dengan Yesus, kita akan sungguh mengenal apa artinya kemenangan atas Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya.
DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa ada di sampingku. Engkau adalah Imanuel. Terima kasih juga, ya Tuhan, Engkau tidak pernah membuang atau mencampakkan diriku pada saat aku gagal hidup sebagai murid-Mu yang setia. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah aku untuk senantiasa terbuka terhadap keakraban dengan Bapa surgawi dan mengandalkan diri sepenuhnya kepada Dia, sehingga dengan demikian aku dapat tetap teguh dalam menghadapi berbagai godaan. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 
Sumber :

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Sabtu sesudah Rabu Abu, 4 Maret 2017) 
KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS
Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 
Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6 
Tak peduli dengan latar belakang kita masing-masing, kita semua memiliki kemampuan untuk memberikan diri kita sendiri secara total-lengkap kepada Allah. Bahkan seorang pendosa kelas berat pun dapat ditransformasikan oleh kasih dan kebaikan hati-Nya. Ini adalah pelajaran di belakang perjumpaan Yesus dengan Lewi dan semua teman-teman Lewi yang dicap sebagai orang-orang berdosa oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Setiap hari dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus sungguh mempraktekkan petuah nabi, yaitu menjauhkan diri dari “menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah” (Yes 58:9). Ia menolak untuk menuduh atau menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, Yesus menerima orang-orang berdosa dan berusaha untuk membawa rahmat pengampunan dan sentuhan penyembuhan dari Bapa surgawi ke dalam kehidupan para pendosa itu.
Kedosaan Lewi sebagai pemungut cukai tidak membuat Yesus menjauhinya. Keprihatinan utama Yesus adalah apakah si Lewi ini akan bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan menerima sebuah hati yang baru. Yesus memang tidak pernah menghindar dari orang-orang yang “tidak bersih” alias “para pendosa”. Yesus tidak pernah takut bahwa kemurnian diri-Nya akan terancam. Yesus juga tidak pernah berusaha untuk membuat diri-Nya kelihatan lebih baik dengan menuding-nuding orang lain atau menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Sebaliknya, Yesus malah meruntuhkan tembok-tembok pemisah yang ada, agar dapat membawa kemurnian Injil kepada setiap orang yang dijumpainya.
Bagaimana dengan kita sendiri? Seringkali, apabila kita berhadapan dengan perilaku dosa dari orang lain, tanggapan kita malah berwujud menjauhkan diri daripadanya. Tidak jarang pula kita menjadi terlibat dalam gosip-gosipan tentang orang itu. Berapa banyak dari kita yang tidak mau mengundang ke rumah kita para kerabat atau teman yang perilaku tak bermoralnya sungguh mengganggu kita? Banyak dari kita juga tetap merasa marah dan menolak orang-orang yang telah bersalah terhadap diri kita. Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah sikap dan perilaku kita itu efektif dalam usaha membantu “para pendosa” itu menyesali dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan …… kembali ke jalan Allah?
Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana mendekati orang-orang lain. Walaupun Yesus tidak pernah berkompromi dengan kebenaran atau menyarankan agar orang mengabaikan hukum Allah, Ia memperlakukan setiap orang dengan rasa hormat dan belas kasihan, apa pun dosa mereka.
Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk pergi menemui dan mengasihi orang-orang seperti yang dilakukan Yesus. Janganlah kita menghakimi orang-orang yang berlabel “pendosa”. Yang penting adalah kita mengasihi mereka dengan kasih Kristus, dan kita boleh merasa yakin betapa besar dampak dari tindakan kita itu. Setiap orang dapat dipimpin kepada kebenaran hanya melalui kasih dan kesetiaan Allah.
DOA: Roh Kudus Allah, buatlah hatiku menjadi seperti hati Yesus pada masa Prapaskah ini. Biarlah kasih yang kuat dan penuh bela rasa membimbingku selagi aku mendekati orang-orang lain, teristimewa mereka yang telah meninggalkan Engkau. Amin.
Sumber :

Khamis, Mac 02, 2017

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Jumat sesudah Rabu Abu, 3 Maret 2017) 
c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15) 

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19
Apa kesan anda tentang puasa? Apakah itu sebuah cara meratapi dosa-dosa kita? Apakah anda memandang puasa sebagai suatu kewajiban keagamaan – sekadar sesuatu yang harus dijalani oleh orang-orang Kristiani? Yesus menginginkan agar puasa bagi para murid-Nya itu berbeda dengan kesan-kesan seperti tadi. Pada kenyataannya, puasa Kristiani dapat menjadi suatu peristiwa yang mengandung sukacita besar dan penuh pengharapan, bukannya peristiwa penuh kemurungan.
Yesus mengatakan, apabila Dia – sang mempelai laki-laki – diambil, maka para tamu pesta nikah – para murid – akan berpuasa. Akan tetapi, Yesus sang mempelai laki-laki juga telah berjanji untuk senantiasa bersama kita (lihat Mat 28:20)! Ia bersama kita dalam banyak cara: dalam Roh Kudus-Nya, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi, dalam Gereja-Nya, dalam diri para imam tertahbis-Nya, dan di tengah-tengah umat yang berkumpul bersama di dalam nama-Nya. Dalam begitu banyak cara yang riil dan berwujud, sang mempelai laki-laki ada bersama kita. Dengan demikian orang-orang Kristiani tidak  boleh berpuasa sebagai suatu tanda dukacita.
Bagi anak-anak Allah – semua orang yang mengenal dan mengalami kehadiran Yesus Kristus dalam hati mereka, artinya yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat – maka puasa dimaksudkan untuk dihubungkan dengan doa. Apabila kita menyangkal diri kita sendiri dalam salah satu bentuk pengungkapannya, maka kita akan menemukan suatu vitalitas baru dalam doa-doa syafaat kita untuk kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain. Hati kita tidak mendua lagi dan lebih terbebaskan dari cengkeraman hal-hal duniawi, dan lebih dekat rasa haus dan lapar akan Yesus yang terdapat dalam setiap hati manusia. Apabila kita mengkombinasikannya dengan doa, maka puasa dapat menolong kita mengatasi kejahatan dan menjaga agar kita tetap fokus pada hal-hal yang sungguh berarti. Segala pelanturan dapat dibuang sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas. Hal ini dapat membantu kita menghargai hal-hal yang telah kita miliki, sehingga kita dapat berdoa untuk mereka yang tidak memiliki seperti kita. Akhirnya, puasa dan doa dapat memimpin kita kepada pekerjaan untuk tercapainya keadilan, perdamaian, dan belas kasihan di dalam dunia ini.
Mungkinkah berpuasa dengan penuh sukacita? Ya, mungkin! Pada kenyataannya, berpuasa yang tidak bermuram-durja ini kelihatannya yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia memberikan “Khotbah di Bukit”: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:16-18). Pada masa Prapaskah ini, mengapa tidak mencoba untuk bereksperimen dengan “puasa yang penuh sukacita”? Pilihlah jenis puasa yang masuk akal dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dalam menentukan ujud-ujud doamu. Namun ingatlah selalu bahwa Yesus, sang mempelai laki-laki, selalu beserta anda!
DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat berpuasa dengan penuh sukacita dalam masa Prapaskah ini. Gunakanlah doaku dan puasaku untuk membawa kebaikan dalam dunia pada masa kini. Amin.
Sumber :

MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – Kamis, 2 Maret 2017)
Keluarga Besar Fransiskan: S. Agnes dr Praha (Ordo II) 
0-0-kemuridan-siapa-yang-mau-menjadi-muridku
Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25) 

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 
Tidakkah anda merasa takjub penuh kekaguman ketika menyadari bahwa Yesus Kristus – Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus – memberikan kepada kita – manusia biasa yang pada suatu hari akan mati – “sebuah pilihan”? Ia tidak memerintahkan kita untuk mengikuti jejak-Nya; …… Dia mengundang kita.
Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.
Di sini, pada awal masa Prapaskah, Allah sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebas-merdekakan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri?
Berabad-abad sebelum kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia, Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa taat kepada Allah adalah suatu isu hidup-atau-mati: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ul 30:15), dan artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari dengan Tuhan dan berjalan sendiri. Pada hari ini Yesus ingin membuka mata (hati) kita tentang adanya perbedaan itu. Dia ingin mengatakan kepada kita, bahwa apabila kita memilih Dia dari  hari ke hari, kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kehidupan kita adalah tidak terbatas. Kita tidak hanya akan hidup sebagai sekadar makhluk insani, melainkan akan memperoleh akses kepada segala rahmat dan kuasa Allah yang Mahakuasa! Kita akan dimampukan untuk mengasihi mereka yang sangat sulit kita kasihi, mengampuni mereka yang sangat sulit untuk kita ampuni dan mengatasi permasalahan yang tak mungkin teratasi apabila kita memakai kekuatan kita sendiri. Memang ada masalah “biaya” di sini. Mungkin dalam bentuk berbagai penderitaan dan kesulitan di sepanjang jalan yang kita tempuh, namun kita dapat merasa yakin bahwa selama kita berada dekat dengan Yesus, maka Dia akan sangat dekat dengan diri kita.
DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.
Sumber :

MARILAH KITA MENGOYAKKAN HATI KITA MASING-MASING

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU ABU – 1 Maret 2017)
 
ash-wednesday1
“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN (YHWH), “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada YHWH, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi YHWH, Allahmu.
Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanloah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan YHWH, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya YHWH, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: di mana Allah mereka?”
YHWH menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. (Yl 2:12-18) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2; Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18
Dengan hari Rabu Abu ini Gereja mengawali masa Prapaskah. Pada masa yang istimewa ini kita dapat berupaya membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, mengenal Dia semakin mendalam dan menjadi semakin menyerupai Dia. Tuhan sangat menginginkan agar kita semakin dekat dengan diri-Nya. Seperti difirmankan-Nya kepada umat Israel di zaman dahulu, Dia pun berfirman kepada kita pada hari ini: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (Yl 2:12).
Nabi Yoel mengumumkan kepada orang-orang Israel,  bahwa pertobatan, puasa dan doa adalah jalan atau cara-cara yang diperlukan untuk kembali kepada Allah.  Namun kita melakukan praktek-praktek pertobatan, puasa dan doa selama masa Prapaskah ini bukan sekadar untuk pendisiplinan diri, atau untuk perbaikan diri kita. Kalau begitu halnya, maka kita sekadar “mengoyakkan pakaian kita” saja dan bukan hati kita (lihat Yl 2:13). Allah menyerukan kita untuk melakukan hal-hal ini karena dapat menolong kita membuka hati kita bagi kasih-Nya.
Allah sungguh rindu agar kita masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan-Nya sehingga Dia dapat memberkati kita. Orang-orang Israel telah melupakan kasih mereka kepada Allah dan  justru mencintai berkat-berkat dari tanah yang telah diberikan kepada mereka. Nabi Yoel menggambarkan “tulah belalang” yang dikirim YHWH guna mengoreksi sikap mereka ini (lihat Yl 1:1-13). Belalang-belalang merupakan sebuah peringatan dini  mengenai Hari Tuhan yang malah jauh lebih dahsyat (digambarkan dengan lebih jelas dalam Yl 2:28-32), pada saat mana orang-orang tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bertobat. Pada saat itu orang-orang yang hatinya menyenangkan Allah akan menerima Roh Kudus yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi para nabi dan penglihat. Hati yang tetap belum bertobat akan mengalami pengadilan akhir. Tuhan ingin “menyelamatkan” mereka dari kehancuran akhir dan ingin agar mereka memperoleh warisan mulia yang telah disediakan bagi mereka.
Pada masa Prapaskah ini, marilah kita melaksanakan apa yang diserukan oleh nabi Yoel, yaitu untuk “mengoyakkan hati kita” (Yl 2:13) di hadapan Tuhan. Dalam doa, puasa, dan pemberian-diri kita, marilah kita meninggalkan hal-hal yang dapat dengan mudah membuat kita melenceng dari fokus yang seharusnya. Marilah kita menyediakan ruangan bagi Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sementara kita membuka hati kita kepada Tuhan, maka kita akan mengalami berkat Roh-Nya yang akan datang ke dalam hati kita dengan lebih penuh kuat-kuasa, memenuhi diri kita dengan cintakasih bagi-Nya dan membentuk karakter/watak Yesus dalam diri kita.
DOA: Datanglah Roh Kudus, dan gerakkanlah kami untuk membuka hati kami bagi Yesus dalam masa Prapaskah ini. Melalui setiap tindakan yang Kauinspirasikan kepada kami untuk mengambilnya, semoga kami menjadi semakin dekat kepada Bapa surgawi, mengenal dan mengalami kasih-Nya, sehingga pada gilirannya kami pun mengasihi-Nya. Amin.
Sumber :