Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, April 14, 2018

SADARLAH DAN BERTOBATLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [TAHUN B], 15 April 2018)
Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.
Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. (Kis 3:13-15,17-19) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2,4,7,9; Bacaan Kedua: 1Yoh 2:1-5a; Bacaan Injil: Luk 24:35-48
“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.” (Kis 3:19)
Memang tidak sulitlah bagi Petrus untuk berkhotbah di Serambi Salomo Bait Allah. Biar bagaimana pun juga penyembuhan atas diri orang lumpuh sebelumnya di pintu gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah (lihat Kis 3:1-10) sungguh menimbulkan kekaguman serta rasa ingin tahu banyak orang. Jelas di sini bahwa Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dan orang banyak juga ingin tahu jawaban atas pertanyaan tentang apa sesungguhnya yang telah terjadi. Apalagi orang lumpuh yang sudah disembuhkan itu terus mengikuti Petrus dan Yohanes kemana pun mereka pergi di kawasan Bait Allah (lihat Kis 3:8-10). Pada akhirnya orang banyak mengerumuni kedua rasul dan orang lumpuh yang telah disembuhkan itu di Serambi Salomo (Kis 3:11).
Petrus membuka khotbahnya dengan sebuah pertanyaan mengapa mereka heran tentang kejadian (penyembuhan orang lumpuh) itu dan mengapa mereka menatap Petrus dan Yohanes seolah-olah mereka berdualah yang membuat orang lumpuh itu dapat berjalan karena kuat-kuasa atau kesalehan mereka sendiri (lihat Kis 3:12). Wajar-wajar saja jika dalam kasus sedemikian orang-orang akan bertanya kepada kedua rasul: “Apa sih rahasia anda, dan bagaimana kami dapat menjadi seperti anda?”
Tanpa membuang waktu sedikit pun Petrus langsung mengarahkan perhatian orang banyak itu kepada Sumber kuat-kuasa yang ada dalam dirinya, yaitu Allah, kepada siapa orang-orang itu telah lama menyampaikan doa-doa mereka, namun barangkali tidak pernah mengalami perjumpaan dalam jalan yang memberikan hidup. Menurut Petrus, suatu perjumpaan dengan Allah hanya mungkin dapat terjadi lewat “pintu sempit pertobatan”.

Pintu pertobatan ini juga membuka kesempatan bagi kita untuk mengalami kepenuhan hidup. Tanpa ragu-ragu Petrus menyebutkan dosa-dosa mereka yang sedang mendengarkan khotbahnya: menolak Yang Kudus dan Benar (Yesus), membunuh-Nya (Kis 3:14-15). Namun Petrus juga mengingatkan orang banyak itu bahwa mereka juga adalah anak-anak dari Bapa surgawi – Dia yang telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke tengah dunia bukan untuk menghukum melainkan untuk memberkati mereka, menebus dosa-dosa mereka, dan memberikan hidup-baru bagi mereka.
Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Bukankah kita adalah juga para pewaris dari janji-janji Allah ini? Bukankah kita juga menghadapi godaan-godaan serupa dengan godaan-godaan yang dihadapi oleh orang-orang di Palestina sekitar 2.000 tahun lalu dan membutuhkan pertobatan yang sama pula?
Petrus menyebutkan beberapa dosa yang ada pada zaman modern dalam bacaan di atas. (1) Ada dosa “kesombongan” (keangkuhan), seakan kita dapat melakukan apa saja dengan kekuatan kita sendiri (lihat Kis 3:12). (2) Menyangkal atau menolak Yesus di depan orang-orang lain, bukannya mengakui Dia sebagai Tuhan (Kis 3:14). (3) “membunuh” hidup ilahi dalam diri kita dengan membuat pilihan-pilihan yang berakar dalam budaya kematian (Kis 3:15). (4) mengabaikan pelajaran-pelajaran dari masa lalu kita dan sejarah Gereja; tidak mendengarkan para utusan Allah yang diutus kepada kita (Kis 3:23). (5) Balik menyusut dari keberanian yang diinspirasikan oleh Allah dalam diri kita (lihat Kis 3:16). (6) Menjadi gelisah dan takut seperti para murid Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Luk 24:36T7-38).
Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus melakukan pertobatan dan kembali – lagi dan lagi – kepada Yesus, sumber kuat-kuasa dan penyegaran bagi diri kita. Allah itu baik dan mahapengampun. Ia tidak akan meninggalkan kita!
DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik, sumber segala kebaikan, dikuduskanlah nama-Mu. Terangilah kegelapan hatiku dan berikanlah kepadaku kerendahan-hati agar dapat berbalik kepada-Mu untuk memperoleh pengampunan-Mu dan pemulihan relasiku dengan Engkau, ya Allahku. Amin.
Sumber :

Khamis, April 12, 2018

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)
Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15. 
“Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah.” (Kis 5:38-39)
Kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang anggota Mahkamat Agama Yahudi (Sanherin) – Gamaliel – ketika menutup pemberian nasihatnya yang penuh hikmat dalam sidang Mahkamah Agama sehubungan dengan “ulah” Petrus dan para rasul lainnya dalam pelayanan evangelisasi mereka di tengah masyarakat Yerusalem. Berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya terjadi di tengah masyarakat Yahudi ketika Petrus dan para rasul/murid lainnya memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Orang yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus pun semakin bertambah (lihat Kis 5:14). Karena itu, terdorong oleh rasa iri, Imam Agung dan para pengikutnya (orang Saduki) mulai bertindak dengan melakukan penangkapan para rasul dan menjebloskan mereka ke dalam penjara umum (Kis 5:17-18).
Rasa iri orang-orang yang memegang kekuasaan karena merasa tersaingi dalam kedudukan, pengaruh dll. memang dapat membuat gelap-mata mereka. Jika begitu halnya, maka tindakan untuk melampiaskan dendam dan hal-hal jahat lainnya akan dengan mudah mengalahkan pertimbangan-pertimbangan bijaksana.
Gamaliel adalah seorang Farisi pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati. Dia berbicara kepada sidang Sanhedrin mengenai Petrus dan para rasul (Kis 5:34). Gamaliel adalah cucu dari Rabi Hillel yang terkenal. Para rabi kuno mengajarkan bahwa ada seorang dari antara mereka yang pantas menjadi tempat kehadiran Allah seperti yang telah dialami oleh Musa – dan rabi itu adalah Rabi Hillel. Dalam kisah di atas terasa bahwa Gamaliel pun diinspirasikan oleh Yang Ilahi, justru pada saat-saat genting yang sedang dihadapi oleh para rasul. Dia disapa sebagai Rabban (Guru kami) dan dia adalah guru dari Santo Paulus (lihat Kis 22:3).
Bukannya setuju dengan keinginan sejumlah anggota Sanhedrin untuk membunuh Yesus (Kis 5:33), Gamaliel malah memberi nasihat para anggota Sanhedrin untuk menunggu dan melihat apakah para pengikut Yesus berasal dari Allah (Kis 5:35-39). Ini adalah suatu posisi bijaksana mengingat bahwa pada saat itu dia tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah dan dia ingin berhati-hati agar tidak mengambil langkah yang salah, atau bertindak secara sembarangan sehingga bisa-bisa malah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Usul atau nasihat yang dikemukakan Gamaliel kepada sidang sebenarnya untuk mengambil sikap menunggu namun dengan kesiap-siagaan rohani. Hal ini sebenarnya mempunyai preseden dalam Kitab Suci. YHWH berkata kepada nabi Habakuk: “… penglihatan itu masih menanti saatnya ……apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh” (Hab 2:3). Kebijaksanaan para rabi juga memahami apa yang tertulis dalam kitab Ratapan dalam terang yang sama: “YHWH adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan YHWH” (Rat 3:25-26). Dengan demikian sikap wait & see yang dianjurkan oleh Rabi Gamaliel adalah sikap yang bijaksana karena berakar kuat pada Kitab Suci Ibrani dan tradisi para rabi.
Gamaliel mengambil sikap wait & see karena dia tidak yakin mengenai rencana Allah. Meskipun dia adalah seorang beriman, dia tidak dapat melihat dengan perspektif yang kita miliki sekarang, yaitu bahwa Roh Kudus telah diutus untuk menolong kita. Oleh kerja Roh Kudus, kita mengetahui bahwa kehendak Allah adalah untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal, agar kita memperoleh kehidupan melalui Dia. Kita juga mengetahui bahwa adalah kehendak Allah agar Gereja Kristus didirikan. Dalam terang kebenaran ini, Roh Kudus dapat membimbing kita pada waktu kita melakukan discernment.
Nasihat Gamaliel itu diterima oleh Mahkamah Agama (lihat Kis 5:39). Para rasul disiksa, kemudian disuruh pergi disertai larangan untuk memberitakan Kabar Baik dalam nama Yesus. Mereka rela/ikhlas disiksa dengan penuh sukacita karena diperbolehkan menderita demi Yesus. Mereka tidak takut, malah justru dengan gigih memberitakan Injil ke mana-mana tentang Yesus yang adalah Mesias (Kis 5:41-42).
Sesungguhnya ini adalah suatu momen yang penting dalam kehidupan Gereja. Dalam lima bab pertama dari “Kisah para Rasul” kita telah melihat Petrus dan Yohanes berkhotbah memberitakan Kabar Baik, menyembuhkan orang sakit, menjawab pertanyaan/tuduhan para anggota Mahkamah Agama, melarikan diri dari penjara dengan bantuan “seorang” malaikat Tuhan; hidup bersama dalam komunitas; penjualan tanah miliknya oleh Barnabas; peristiwa Ananias dan Safira. Dalam semua hal ini, Gereja masih merupakan sebuah Gereja Yahudi. Gereja ini seluruhnya terdiri dari orang-orang Yahudi setia yang masih berdoa di Bait Allah dan memandang Yesus sebagai pemenuhan/penggenapan janji-janji Perjanjian Lama.
Sekarang kita berada pada ambang transformasi Gereja dari sebuah Gereja Yahudi di Yerusalem menjadi sebuah Gereja segala bangsa yang mendunia, yang kelak berpusat di kota Roma.
Sisa selanjutnya dari “Kisah para Rasul” bercerita tentang universalisme. Para rasul telah memenuhi perintah Tuhan Yesus. Mereka memberitakan Injil yang dimulai di Yerusalem (Luk 24:47). Para rasul memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada masyarakat Yahudi dahulu sebelum bergerak ke luar, yaitu orang-orang non-Yahudi.
DOA: Bapa yang mahakasih, yang oleh terang Roh Kudus-Mu mengajar umat beriman. Semoga melalui Roh Kudus-Mu kami dapat bertumbuh dalam kebijaksanaan dan discernment, agar dapat mengetahui serta mengenali apa sesungguhnya kehendak-Mu dalam situasi tertentu, kemudian melaksanakannya. Amin.
Sumber :

Rabu, April 11, 2018

SIAPA YANG AKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 12 April 2018)
Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36) 
Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20 
Terang dikontraskan dengan kegelapan, siapa yang percaya kepada sang Putera dikontraskan dengan mereka yang tidak taat kepada-Nya, yang  berasal dari atas dikontraskan dengan mereka yang berasal dari bumi. Yohanes Penginjil menggunakan kata-kata ini untuk memberikan kepada kita suatu pemahaman yang jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan dosa dan hidup sesuai dengan cara-cara atau jalan Allah. Yesus datang dari atas/surga (Yoh 3:31) dan Ia adalah utusan Allah (Yoh 3:34). Jikalau kita menerima Yesus sebagai sang Juruselamat, maka hal ini akan membawa kita kepada Bapa surgawi. Sebaliknya, meninggalkan atau menjauhkan diri dari Yesus akan membawa kita kepada kegelapan dan keterpisahan dari Allah – suatu hidup kegelapan yang bertentangan dengan apa yang Allah inginkan bagi kita sebagai anak-anak-Nya. Apabila kemarin, hari ini, dan hari esok kita tetap memilih untuk hidup dalam kegelapan, maka hal tersebut akan mendatangkan murka Allah.
Apa yang dimaksudkan dengan murka Allah itu? Murka Allah sering digambarkan dalam Perjanjian Lama sebagai kemarahan ilahi terhadap ketidaktaatan manusia. Para nabi menggunakan imaji-imaji (gambaran) yang sangat deskriptif seperti api yang berkobar-kobar untuk murka Allah itu. Kitab Suci memberikan kepada kita banyak contoh pribadi-pribadi, komunitas-komunitas, dan bahkan seluruh bangsa yang berada di bawah murka Allah. Namun demikian, tetap masih ada pengharapan. Kitab Suci senantiasa “melengkapi” murka Allah dengan janji-janji belas kasih. Allah sangat mengasihi umat-Nya. Murka-Nya diperlembut dengan kerahiman-Nya karena Dia sungguh rindu untuk menarik anak-anak-Nya dari dosa agar dapat datang kembali kepada-Nya.
Kematian Yesus di kayu salib adalah contoh yang baik sekali dari murka Allah dan sekaligus belas kasih-Nya (kerahiman-Nya). Ketidaktaatan manusia harus dihukum, namun dalam kasih dan kerahiman-Nya, Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membayar suatu harga yang kita tidak pernah akan mampu membayarnya. Jadi, Allah membuat ketentuan bagi semua orang agar diselamatkan. Jalannya dibuka bagi Roh Kudus untuk dikaruniakan kepada kita tanpa takaran, artinya secara tidak terbatas (Yoh 3:34), dengan demikian memampukan kita untuk taat kepada Allah dan mengalami kepenuhan hidup (Yoh 3:36).

Memang akan ada suatu penghakiman apabila kita semua diperhadapkan dengan dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita memegang janji-Nya yang terdapat dalam ayat mazmur berikut ini: “TUHAN (YHWH) membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman” (Mzm 34:23). Oleh karena itu, marilah kita menempatkan diri kita dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih dan menyelaraskan kehidupan kita dengan pesan Injil berkenan dengan kasih dan ketaatan. Setiap hari, marilah kita mohon agar Roh Kudus selalu bersama kita dalam segala hal yang kita lakukan.
DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk belas kasih-Mu kepada kami. Dengan mengutus Yesus, Engkau telah menyelamatkan kami. Kirimkanlah terang Roh Kudus-Mu agar hati kami masing-masing dapat dilunakkan, sehingga kami dapat mengikuti jalan-Mu yang dipenuhi kasih, dan kami dapat hidup setiap hari dalam kemenangan. Amin.
Sumber :

Selasa, April 10, 2018

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir – Rabu, 11 April 2018)
Lalu mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari aliran Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati. Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara umum. Tetapi pada malam hari seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”
Setelah mendengar pesan itu, menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara. Tetapi ketika pejabat-pejabat itu datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan, katanya, “Kami mendapati penjara terkunci rapat-rapat dan semua pengawal ada di tempatnya di depan pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun kami temukan di dalamnya.”  Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka bingung tentang rasul-rasul itu dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Tetapi datanglah seseorang mendapatkan mereka dengan kabar, “Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak.” Kemudian pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil rasul-rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka dengan batu. (Kis 5:17-26)
Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Yoh 3:16-21 
Berbagai peristiwa dramatis setelah Pentakosta yang terjadi dalam Gereja yang masih sangat muda itu menarik perhatian setiap orang, baik tua maupun muda, baik kaya maupun miskin, baik orang terkenal maupun orang biasa-biasa saja. Seperti kita dapat menduga sebelumnya, orang-orang yang berbeda-beda bereaksi dengan cara yang berbeda-beda pula.

Laporan-laporan tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan serta suasana penuh sukacita yang mencirikan orang-orang Kristiani menimbulkan rasa iri hati Imam Besar  dan para pengikutnya (orang-orang Saduki; lihat Kis 5:17). Mereka mencoba untuk menghalangi semakin luasnya penyebaran “kehebohan” di tengah-tengah rakyat sehubungan dengan mukjizat-mukjizat penyembuhan lewat pelayanan para rasul. Bagaimana? Dengan cara memenjarakan rasul-rasul itu. Mengapa? Karena para pemuka agama itu terperangkap oleh logika mereka sendiri, maka mereka tidak mampu melihat realitas mendasar bahwa semua kuat-kuasa sebenarnya datang dari Allah. Apabila Allah berdiam dalam diri seseorang, maka kuat-kuasa Allah juga berdiam dalam dirinya. Kekuatan manusiawi semata yang ada dalam diri si Imam Besar (yang di mata dunia dipandang sangat berkuasa) tidak mampu apa-apa dalam menghadapi kuat-kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri para rasul, yang kali ini lagi-lagi tanpa rasa takut sedikit pun mewartakan firman hidup di Bait Allah setelah mukjizat pembebasan mereka dari penjara umum.
Bagaimana episode dalam Gereja yang masih sangat muda ini berbicara kepada hidup kita sendiri hari ini? Hari ini, seperti pada setiap zaman dalam sejarah Gereja, umat beriman mengalami pencobaan dan penderitaan karena iman-kepercayaan mereka. Sudan, Nigeria, India, Malaysia dan negara tercinta kita sendiri adalah segelintir bukti sejarah modern, bahwa ‘pengejaran’ terhadap para pengikut Kristus masih terus terjadi, meskipun diejawantahkan dalam wajah, skala dan kedalaman yang berbeda-beda. Patut kita camkan juga, bahwa bukanlah maksud Allah untuk sekadar menyelamatkan kita dari kesusahan/penderitaan yang sedang kita alami. Allah juga memperkenankan hal-hal seperti itu terjadi guna menciptakan karakter-Nya sendiri dalam diri kita masing-masing. Seperti telah dicontohkan oleh negara-negara Eropa Timur pada waktu Uni Soviet sangat berkuasa, ada saat-saat di mana tekanan-tekanan atas Gereja justru menyediakan jalan yang paling pasti menuju kekudusan. Selagi kita mengalami kekuatan, arahan dan damai-sejahtera pemberian Roh Kudus yang hadir dalam diri kita, kita pun dapat bergabung dengan para rasul guna memberi kesaksian tentang kebenaran, bahwa Roh yang ada di dalam diri kita, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (lihat 1Yoh 4:4). Seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1Kor 1:25).
Corrie ten Boom dan Santo Maximillian Kolbe OFMConv. adalah dua orang pahlawan kamp konsentrasi Nazi Jerman pada Perang Dunia ke-II. Apabila kita amati kehidupan kedua orang ini, seorang perempuan Belanda dan seorang imam Fransiskan Conventual Polandia,  maka kita melihat bahwa kekuatan dan keberanian mereka bersumber pada pemahaman mereka akan Injil dan cinta mereka yang mendalam kepada Allah serta pengandalan diri semata-mata kepada-Nya. Di tengah-tengah penderitaan mereka sendiri, masih saja mereka mampu untuk menjadi perpanjangan tangan-kasih Allah bagi teman-teman dalam kamp konsentrasi, memanifestasikan iman yang memberi kehidupan dan kemenangan kepada siapa saja yang percaya. Inilah iman yang kita telah warisi, dan iman ini dapat memberdayakan orang-orang yang paling rendah sekali pun dengan kekuatan, pengharapan dan sukacita yang lebih besar.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Allahku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu, agar dalam kelemahanku aku menjadi kuat. Berikanlah kepadaku sukacita dan kemenangan yang menanti-nantikan mereka yang mengikuti jejak-Mu. Amin.
Sumber :

Isnin, April 09, 2018

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 10 April 2018)
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 
Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5 
Apa yang dimaksudkan dengan “lahir dari Roh” (Yoh 3:8)? Barangkali cara terbaik untuk memahami arti ungkapan itu adalah dengan melihat orang-orang yang lahir dari Roh.
Sebelum Yesus naik ke surga, Ia bersabda kepada para rasul/murid, “Kamu akan menerima kuasa-Nya bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis 1:8). Para murid kepada siapa Yesus membuat janji yang indah ini adalah sekelompok orang-orang yang lemah dan sedang dihinggapi rasa takut. Kelihatannya mereka tidak melakukan pelayanan apa pun sementara mereka menanti-nantikan dipenuhinya janji di atas, di ruang atas di Yerusalem. Akan tetapi, pada waktu Roh Kudus datang ke atas mereka pada hari Pentakosta, mereka pun ditransformasikan menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Akhirnya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, bahkan dengan risiko dibunuh sebagai martir-martir.
Demikian pula, Saulus dari Tarsus mengejar dan menganiaya umat Kristiani sampai saat Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan seorang Kristiani yang bernama Ananias berdoa baginya “agar dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 9:17). Hal ini mengubah arah kehidupan Saulus. Berganti nama menjadi Paulus, ia menjadi seorang saksi Kristus yang berani, menderita dan pada akhirnya mati demi iman-kepercayaannya.

Sepanjang sejarah Gereja kita melihat begitu banyak umat (baik orang-orang kudus yang resmi maupun umat biasa) telah ditransformasikan oleh Roh Kudus. Sebagaimana halnya dengan murid-murid Yesus yang awal, kita seringkali merasa tak berdaya apabila berhadapan dengan situasi di mana kita harus mensyeringkan/mewartakan Injil Yesus Kristus. Barangkali hal ini disebabkan karena kita menggantungkan diri pada kekuatan kita sendiri, bukannya mengandalkan diri pada kuasa Roh Kudus.
Berita baiknya adalah, bahwa Roh Kudus yang sekitar 2.000 tahun lalu turun atas para rasul pada hari Pentakosta, dan yang turun atas umat Kristiani pada segala zaman juga tersedia bagi kita masing-masing, hari ini dan di sini juga. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus setiap hari agar memenuhi diri kita dan membuat kita menjadi pewarta-pewarta yang berani dari Kabar Baik Yesus Kristus.
DOA: Bapa surgawi, aku mengakui kelemahanku apabila terpisah dari-Mu. Aku membutuhkan Roh Kudus-Mu untuk memampukan diriku untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan-Mu. Aku ingin dipenuhi lagi dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin diberdayakan oleh Roh-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi lebih serupa dengan Putera-Mu dan menjadi saksi-Nya yang berani. Amin.
Sumber :

Ahad, April 08, 2018

DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Senin, 9 April 2018) 
Jesus, the Saviour of the world
Artist: UNKNOWN; Illustrator of Bible Card
Date: Published 1904
Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:1-8) 
Bacaan Pertama: Kis 4:23-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9
Nikodemus, seorang Farisi dan anggota Sanhedrin, datang menemui Yesus di malam hari. Orang Yahudi yang “saleh” ini menyadari bahwa Yesus adalah “seorang guru (rabi) yang diutus Allah” (Yoh 3:2), namun ia datang untuk lebih mengenal Yesus secara lebih mendalam lagi. Yesus menggiring percakapan langsung ke inti masalahnya ketika Dia berkata kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Ketika Nikodemus bertanya bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua; dapatkah ia masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi, maka Yesus menjawab bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:4-5).
Gereja telah sampai kepada pemahaman atas kata-kata Yesus di atas ini sebagai sebuah refleksi atas baptisan dan iman. Hidup Allah diberikan kepada kita pada waktu baptisan, namun kita tetap perlu memberi tanggapan kepada Allah dalam iman agar supaya kehidupan ini bertumbuh. Yang kita terima sebagai sebutir benih dalam baptisan perlu diberi asupan-bergizi dengan suatu “hidup-iman” sehingga benih itu dapat bertunas, bertumbuh dan berbuah. Tanggapan kita terhadap Allah perlu mencakup upaya-upaya kita untuk menempatkan diri kita dalam suatu posisi yang siap menerima kehidupan yang dianugerahkan Allah sendiri – seperti keiikut-sertaan aktif dan sering dalam liturgi dan sakramen-sakramen, doa pribadi dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci. Kalau tidak demikian halnya, maka iman kita tidak akan bertumbuh menjadi matang.
Yesus menekankan sifat radikal dari transformasi yang terjadi dalam diri kita sementara hidup-Nya bertumbuh dalam diri kita dengan mengkontraskan antara “jasmani” (“daging”) dan “roh” (Yoh 3:6; 6:63).  Hasrat-hasrat kedosaan dari kedagingan kita dan bujukan memikat dunia ini harus disingkirkan agar hidup Allah dapat bertumbuh dalam diri kita (lihat Rm 6:3-11). Hal ini tidaklah berarti sekadar membuktikan kekuatan kehendak kita untuk melawan dosa, melainkan merangkul Kristus yang ditinggikan di atas kayu salib untuk mengalahkan dosa dan maut (baca Yoh 3:14-15).
Nikodemus mengakui Yesus sebagai seorang guru yang diutus Allah, namun ia tidak dapat memahami kedalaman karya Allah dalam diri Yesus (Yoh 3:2-4). Akan tetapi mereka yang “dilahirkan dari atas” membuka diri mereka bagi karya Allah melalui Roh Kudus yang menyatakan kebenaran Allah. Orang-orang seperti itu memperkenankan karya Allah mulai pada saat baptisan sampai mencapai kematangan sehingga mereka menajdi rohani (spiritual) dan lebih mampu dalam mengenal gerakan Roh dalam rangka mengetahui kehendak Allah. Roh Kudus yang kita terima pada waktu baptisan dan krisma (penguatan) menyatakan pikiran Allah bagi kita dan menolong kita untuk hidup sebagai umat-Nya (1Kor 2:12-16).
DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk senantiasa bersyukur atas rahmat baptisan kami. Ajarlah kami untuk menanggapi Engkau dalam iman sehingga hidup baru yang Kauberikan dapat bertumbuh mencapai kepenuhannya dalam diri kami. Amin.
Sumber :

Sabtu, April 07, 2018

PERCAYA, WALAUPUN TIDAK MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II [Tahun B] – 8 April 2018)
MINGGU KERAHIMAN ILAHI
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31) 
Bacaan Pertama: Kis 4:32-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,16-18,22-24; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-6
Para rasul/murid Yesus untuk sekian lama berkumpul dalam ruang tertutup pada bagian atas sebuah bangunan di Yerusalem. Mereka diliputi rasa khawatir apakah sebentar lagi tiba giliran mereka untuk ditangkap dan diadili serta dijatuhi hukuman. Ditengah-tengah kekhawatiran dan kegalauan mereka muncullah Yesus. Kehadiran Yesus ini membuat mereka bersukacita dan penuh damai. Hanya seorang rasul yang tidak hadir, yaitu Tomas. Pengkhianatan dan penyaliban atas diri Yesus membuat Tomas patah hati, dan kelihatannya dalam kesedihannya dia memilih isolasi-diri, bukannya suatu persekutuan yang memberi penghiburan dari para rasul/murid yang lain.
Bayangkanlah betapa terkejutnya Tomas ketika Yesus secara tiba-tiba muncul lagi satu pekan kemudian. Dikelilingi oleh para saudari dan saudara seiman, Tomas akhirnya melihat Tuhan yang telah bangkit, dan keragu-raguannya semula berganti menjadi keyakinan iman yang kokoh dan ia juga mengalami sukacita yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tomas tidak hanya melangkah dari “ketidakpercayaan kepada kepercayaan”, dia juga melangkah dari “isolasi” kepada “komunitas”. Ungkapan iman Tomas singkat saja namun tak meragukan sedikitpun: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Jawaban Yesus kepada Tomas dalam menanggapi pernyataan imannya adalah “pegangan-abadi” bagi kita semua: “Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29).

Tentang karya kerasulan Tomas sesudah itu, Kitab Suci tidak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tidak ada surat (epistola) peninggalan Tomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, Tomas menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus ke arah timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Siria, Armenia, Persia dan India. Orang kudus ini mengalami kematian sebagai seorang martir sejati. Sisa potongan tombak yang dipakai untuk membunuhnya ditemukan kembali sewaktu makamnya di Mailapur dekat kota Malabar, India dibuka kembali pada tahun 1523.
Paus Santo Gregorius Agung [540-601] pernah menulis, bahwa Allah “mentakdirkan murid yang tak percaya itu, ketika dia menyentuh luka-luka Gurunya, menyembuhkan luka-luka ketidakpercayaan dalam diri kita”. Orang kudus ini lebih lanjut mengatakan, bahwa keragu-raguan Tomas dapat menolong kita untuk lebih percaya ketimbang iman para murid yang percaya. Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Ada Tomas, seorang dari 12 rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri – juga seperti kita …… tidak sempurna!
Apakah anda sekarang mengenal seseorang yang sedang mengalami kegoncangan dalam imannya atau merasa ditinggalkan oleh Allah? Baiklah anda berdoa agar Tuhan Yesus “muncul” di depan orang itu dan meyakinkan dirinya, menghiburnya, menyemangatinya, serta menguatkannya dengan kehadiran-Nya. Barangkali kita (anda dan saya) juga merasakan adanya “jarak” yang mengganggu antara diri kita dengan Tuhan, atau kita merasa galau, bingung karena kita telah melakukan sesuatu yang menurut kita tidak akan dapat diampuni oleh-Nya. Dalam hal ini patutlah kita ingat, bahwa keberadaan Yesus senantiasa disertai belas-kasih-Nya dan rahmat-Nya.
Dalam Misa Kudus hari ini, selagi kita sujud menyembah bersama saudari-saudara kita lainnya, Tuhan Yesus ingin menunjukkan betapa mendalam Ia mengasihi kita masing-masing. Ia selalu siap untuk berbicara kepada kita, bahkan pada saat-saat kita merasa sangat tertekan oleh berbagai masalah/kesulitan kehidupan ini; ketika kita merasa ditinggalkan oleh para sahabat yang kita kasihi dan percayai; atau ketika kita berada di tengah-tengah godaan serius. Marilah kita membuka hati kita dan memperkenankan Dia memperkuat iman kita seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri Tomas.
DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa kemenangan-Mu atas dosa dan maut dapat membebaskan setiap orang dari ketidakpercayaannya. Anugerahilah karunia iman kepada orang-orang yang hampir putus-asa dan tanpa harapan sebagai pengikut-Mu, sehingga dengan demikian setiap orang dapat menemukan kehidupan, kedamaian dan sukacita karena kehadiran-Mu. Amin.
Sumber :

Jumaat, April 06, 2018

ROH KUDUS YANG SAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 7 April 2018)
Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 
Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru dan Tuhan mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya. Keluarga rohani ini telah mempersembahkan banyak martir Kristus selama beberapa abad sejak didirikan.
Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, S. Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh bumi (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan yang dihormati oleh para teolog Katolik), S. Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), S. Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman.
Di India ada S. Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia.  Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Paus ini tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.
DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.
Sumber :