Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, September 10, 2015

SEGALA REFORMASI HARUS BERAWAL DARI DALAM DIRI SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Jumat, 11 September 2015) 
KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23
Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42) 

Bacaan Pertama: 1 Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8,11
“Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Luk 6:41). Kata-kata ini adalah sebagian dari instruksi-instruksi Yesus tentang perlunya kasih. Dalam berbagai kesempatan, Yesus secara tetap kembali dan kembali lagi kepada tema pengajaran ini.
Yesus tidak memaksudkan bahwa sikap dan perilaku saling menghargai harus buta terhadap dosa atau bahaya-bahaya dosa. Yang dikatakan Yesus kurang lebih adalah seperti berikut: “Marilah kita memandang diri kita sendiri dengan kritis, sebelum kita menilai orang-orang lain.” Pertanyaan-pertanyaan tertentu harus berulang-ulang datang ke dalam pikiran kita: apakah kritik-kritik saya terhadap orang-orang lain sungguh konstruktif dan kreatif, ataukah didasarkan pada iri-hati yang sempit? Apakah ketidaksabaran saya terhadap orang-orang  sungguh melekat  pada sifat pribadi saya? Apakah penilaian saya terhadap orang-orang lain merupakan penilaian yang matang? Apakah semangat saya dan hasil-hasilnya benar-benar superior ketimbang orang-orang lain, ataukah sudah meluntur menjadi konformisme gaya baru yang sudah nyata terlihat? Bukankah saya terlibat dalam kesalahan sama seperti yang saya tuduhkan kepada orang-orang lain?
Kita sekali-kali tidak boleh lupa bahwa ide kita sendiri pun dapat salah. Hasil-hasil terbaik akan senantiasa datang melalui kritik-diri sendiri yang jujur dan tindakan kasih kepada orang-orang lain yang dilatarbelakangi keterbukaan hati dan pikiran. Segala reformasi harus berawal dari dalam diri sendiri. Tanpa pengenalan diri sendiri dan rasa saling  menghormati, maka perubahan besar-besaran akan tanpa makna, malah dapat berakibat dengan hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tuhan Yesus sendiri, satu-satunya Pribadi yang boleh berbangga, mengatakan bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang akan ditinggikan. Betapa sering kita mendengar orang berkata: “Satu hal yang saya selalu perhatikan tentang orang-orang yang sungguh besar. Mereka selalu kelihatan sangat rendah hati juga. Tidak ada kesombongan, tidak ada rasa superior, tidak ada sikap seakan-akan mengetahui segala sesuatu.” Hal ini dapat dipahami. Mengapa? Karena siapa – selain orang-orang jenius –  yang mampu melihat dengan  lebih baik betapa sedikit yang sesungguhnya kita ketahui sebagai manusia.
Hikmat yang sejati selalu disertai dengan rasa hormat mendalam terhadap Allah, terhadap sesama manusia, terhadap dunia. Orang-orang besar yang sejati telah belajar untuk “takut akan Allah” dan “menghormati semua orang.”
DOA: Bapa surgawi, kasihanilah dan berkatilah kami, anak-anak-Mu. Banjirilah kami dengan kemuliaan wajah-Mu. Semoga seluruh isi bumi mencari rahmat-Mu yang menyelamatkan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI KETIDAKSADARAN AKAN KEANGKUHAN KITA” (bacaan tanggal 11-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, September 09, 2015

PERINTAH YESUS YANG PALING KERAS DAN SULIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 10 September 2015) 
YESUS KRISTUS - 11
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 
Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk 6:27-28).
Rasanya, dari perintah Yesus yang keras-keras, maka perintah untuk mengasihi musuh inilah perintah paling keras dan sulit yang harus kita laksanakan. Berapa banyak dari kita telah mendengar perintah Yesus ini memandangnya sebagai “terlalu idealistis”? Berapa banyak dari kita yang telah mendengar sabda Yesus ini dan merasa bersalah karena ketidakmampuan kita selama ini untuk setia pada perintah itu. Biar bagaimana pun, siapakah yang dapat sungguh mengasihi secara sempurna?
Church_of_the_Beatitudes_tb_n011500_wr
Kasih yang sempurna itu murah hati dan konstan. Karena didirikan di atas suatu komitmen batiniah (dari dalam, interior), maka kasih yang sempurna tidak berubah berdasarkan tindakan-tindakan orang yang kita kasihi. Mengasihi musuh-musuh kita juga bukan merupakan hasil dari kalkulasicost and benefit seperti halnya rata-rata keputusan bisnis. Kalau kita sungguh mengasihi mereka, maka bukan berarti ada jaminan bahwa musuh-musuh kita kemudian menjadi kawan kita.

Tujuan utama dari “mengasihi musuh-musuh” adalah agar kita dapat mencerminkan kasih Allah kepada mereka. Lewat tindakan kita tersebut kita membantu melembutkan hati mereka terhadap Allah. Allah ingin agar kita memandang musuh-musuh kita seperti Dia memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah seperti kita juga; orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, seperti kita juga.
Kasih sempurna adalah kasih Allah yang ditunjukkan oleh-Nya pada waktu Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita masih menjadi musuh-musuh-Nya (lihat Rm 5:8-10). Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber “kasih sempurna”. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus mengetahui bahwa tidak mungkinlah bagi kita untuk mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, kalau kita menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya.
Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang “lebar” akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang lain dengan cara yang melebihi kemampuan alami kita sendiri.
DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku agar dapat memandang orang-orang lain dengan kasih, dengan kasih mana Yesus sendiri memandang mereka. Perbaikilah kesempitan pandanganku dengan visi Yesus yang jelas mengenai kasih yang kekal-abadi. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH” (bacaan tanggal 10-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, September 08, 2015

JIKA KITA MENJADI MISKIN DALAM ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 9 September 2015) 
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 
Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,10-13
Pengajaran Yesus yang dicatat oleh Santo Lukas bacaan dalam Injil hari ini dan bahan selebihnya dalam Luk 6 mencirikan orang Kristiani sebagai orang yang dikenal karena kemiskinannya, untuk kewaspadaannya terhadap bahaya-bahaya dari kekayaan. “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, hai kamu yang sekarang ini lapar dan menangis; namun celakalah kamu, hai kamu yang kaya, hai kamu yang kenyang dan sekarang ini tertawa.” 
Dalam berbagai kesempatan Yesus mengucapkan kata-kata keras tentang bagaimana kekayaan atau keterlekatan pada hal-hal duniawi, dapat membuat kita susah. Kepada orang kaya yang ingin menjadi sempurna (memperoleh hidup yang kekal), Yesus mengatakan agar orang itu menjual harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin, lalu dapat mengikuti-Nya secara sempurna. Namun orang itu dengan sedih hati meninggalkan Yesus, karena banyak hartanya (lihat Mrk 10:17-22). Pesan yang disampaikan oleh Yesus adalah bahwa kekayaan membuat seseorang sulit untuk bertumbuh dalam keutamaan, Menjadi miskin membuat lebih mudah untuk menjalani hidup yang baik, jika dengan kemiskinan itu kita menjadi miskin dalam roh, dan tidak iri dan cemburu kepada orang-orang kaya. Yesus “menjagokan” kemiskinan bagi setiap orang yang ingin sungguh bertumbuh dalam keutamaan dan kekudusan.
Kita hidup dalam suatu era di mana ditekankan “teologi inkarnasional” (Inggris: incarnational theology) yang mengatakan bahwa karena Kristus menjadi manusia, maka segala sesuatu yang dilakukan manusia, segala sesuatu yang dimiliki manusia tentunya baik adanya. Hal ini benar; kita memandang dunia dan segalanya yang ada pada dasarnya baik pada dirinya sendiri, bahwa dunia dan segala sesuatu dalam dunia harus direstorasikan dalam Kristus.
Semuanya baik, namun apa saja yang telah menarik dan menjauhkan kita dari sikap dan perilaku adil, penuh kebaikan, penuh pertimbangan, hidup doa, maka semuanya itu tidak baik bagi kita. Kita dapat dengan mudah menjadi terlalu menghasrati kemewahan, kemudahan, kenyamanan dan apa saja yang dapat dibeli dengan uang. Kita mulai mempertimbangkan banyak dari hal-hal ini sebagai keperluan hidup, namun pada saat sama kita mengabaikan orang-orang miskin dan sebab-sebab lainya yang seharusnya didukung oleh uang kita.
Yesus dalam keempat Injil mengajar kepada kita bahwa lebih baiklah bagi kita untuk menjadi miskin daripada kaya. Lebih mudahlah bagi kita; kita menjadi lebih bebas-merdeka dengan cara demikian, karena kita menjadi semakin terlepas dari keterlekatan kita. Hal-hal untuk mana kita merasa susah pun akan menjadi lebih sedikit.
DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada mereka yang miskin dan kesepian, dibenci, lapar; mereka yang termarjinalisasi dalam masyarakat. Tolonglah aku agar dapat menjumpai mereka dengan benda-benda materiil dan dengan kekayaan Injil-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG MISKIN” (bacaan tanggal 9-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, September 07, 2015

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, ALLAH JUGA MEMPUNYAI RENCANA BAGI HIDUP KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Selasa, 8 September 2015) 
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Mat 1:18-23) 
Bacaan Pertama: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil lebih panjang: Mat 1:1-16,18-23 
Daftar keturunan atau “Daftar Nenek Moyang” yang digunakan oleh Matius untuk membuka Injilnya mengingatkan kita  bahwa rencana Allah tentang kedatangan Putera-Nya ke tengah dunia merupakan sesuatu yang telah lama dipersiapkan. Dari generasi yang satu ke generasi berikutnya, Allah bergerak menuju pemenuhan tujuan-Nya guna menarik kita kembali ke dalam kehidupan-Nya sendiri. Dan, sejak awal, Allah memberi tanggung jawab yang paling mendalam dan bersifat intim guna pemenuhan rencana-Nya kepada Maria, sang perawan dari Nazaret. Sejak sediakala, Allah sudah memikirkan untuk membawa Maria masuk ke dalam panggung kehidupan manusia dan mempercayakannya sebagai perempuan yang akan mengandung dan membesarkan Putera-Nya yang kekal-abadi.
Peran yang diberikan Allah kepada Maria begitu mendalam dalam makna sehingga memang tidak mudah untuk dikontemplasikan. Malaikat Agung Gabriel yang mengunjunginya menyapa Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Kiranya kemurahan/kebaikan hati Allah yang dicurahkan kepada-Nya jauh melebihi kemurahan/kebaikan yang diberikan-Nya kepada orang-orang lain. Walaupun begitu, janganlah sampai kita salah. Apabila kita berpikir bahwa Maria begitu jauh di atas kita dan pengalamannya tidak berhubungan dengan pengalaman kita, maka kita salah. Untuk segala privilesenya sebagai ibu dari sang Juruselamat, Maria tetap bersatu dengan kita. Maria adalah yang terbaik di antara di antara kita, namun biar bagaimana pun juga dia tetap ada di tengah kita.
Pola yang digunakan oleh Allah dalam berurusan dengan Maria adalah juga pola yang digunakan-Nya dalam berurusan dengan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi hidup Maria, dan Ia mempunyai rencana-rencana bagi hidup kita juga. Pada pusat rencana-Nya bagi Maria adalah niat-Nya bahwa Putera-Nya akan hidup dalam dirinya, dan ia akan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Pada hakekatnya, itu adalah rencana-Nya bagi kita juga.
Setiap orang pada dasarnya bersifat unik dan merupakan karunia Allah yang tidak diulangi, bahkan dalam kelahiran kembar sekali pun. Terkait dengan keunikan kita sebagai pribadi, Allah memberikan kepada kita masing-masing suatu panggilan dan misi yang khusus. Allah membuat rencana-Nya diketahui oleh kita dengan berbagai cara: melalui sikon yang sedang kita hadapi, melalui keluarga kita dan para sahabat kita, melalui berbagai talenta dan kesempatan kita. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rencana-Nya bagi hidup kita. Seperti yang diperbuat-Nya dengan Maria, Allah mengundang kita untuk menerima panggilan-Nya dan untuk mengikut-Nya. Sebagaimana Dia menginginkan agar Maria memberi tanggapan terhadap Dia dan melaksanakan misi unik yang diberikan-Nya kepadanya, demikian pula Allah ingin agar kita menerima misi unik kita dan melaksanakannya dengan segenap kekuatan kita. Semoga kita semua menanggapi undangan Allah dengan pengharapan dan kepercayaan yang sama seperti yang dimiliki Maria.
DOA: Bapa surgawi, ini aku anak-Mu. Nyatakanlah lebih banyak lagi rencana-Mu bagiku. Kuatkanlah diriku dalam kuasa Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian aku dapat memenuhi panggilan dan misi yang Kaurencanakan bagi diriku sebagai murid Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat  1:1-16,18-23), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TETAP SETIA PADA JANJI-JANJI-NYA” (bacaan tanggal 8-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 7 September 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, September 06, 2015

CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 7 September 2015) 
Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115
Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24-2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9
Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita suatu pelajaran yang baik mengenai semangat sebenarnya yang harus menjiwai pelaksanaan hukum-hukum Allah. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi siap untuk menjebak Yesus, mereka akan menyalahkan-Nya jika Dia menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat itu. Namun Yesus mengajukan pertanyaan berikut: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9). Lalu Yesus menyembuhkan orang itu, walaupun hari itu adalah hari Sabat (Luk 6:10).
Hukum Allah tidak pernah boleh digunakan sebagai suatu dalih untuk tidak melakukan suatu kebaikan. “Patuh pada peraturan” bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan pelayanan kasih. Pada kesempatan lain orang-orang Farisi tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepada para orangtua mereka karena mereka harus memberikan penghormatan kepada Allah. Sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (lihat Mrk 7:11-12).
Jadi, walaupun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita. Pandangan Yesus terhadap kemunafikan seperti ini: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku” (Mrk 7:6; bdk. Yes 29:13). Ingatlah bahwa kita tidak dapat menghormati Kristus, namun pada saat yang sama kita tidak menghormati orangtua kita.
CELAKALAH ENGKAU KATA YESUS
Kita banyak mendengar pembicaraan mengenai “mengasihi sesama”, ketulusan hati dlsb. Dapatkah Kristus membuat tuduhan yang sama terhadap kita? Tuduhan karena kita hanya dapat berbicara, berbicara, dan berbicara; namun tanpa diikuti dengan cintakasih hidup yang sungguh nyata, tidak ada kejujuran, tidak ada ketulusan hati? Omdo? Nato? Berbicara saja sih murah dan mudah. Tidak ada pengorbanan! Di lain pihak, love-in-action yang riil membutuhkan pengorbanan. Untuk mengasihi, kita harus memberi keseluruhan diri kita. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk menyangkal diri kita sendiri, namun itulah jalan satu-satunya utuk sampai kepada kasih yang sejati, yang riil, yang tulus. Kalau tidak demikian halnya, maka kita dapat dipastikan sebagai orang-orang munafik.

Kita (anda dan saya) dapat berbicara berjam-jam lamanya tentang apa yang harus dilakukan guna menolong orang-orang miskin dan yang kelaparan di dunia, namun kita hanya dapat membuktikan kasih Kristiani kita yang sejati dengan memberikannya sampai terasa sakit (“giving/loving till it hurts”, kata Bunda Teresa dari Kalkuta). Dengan demikian kita tidak melakukan penipuan-diri, teristimewa apabila kita melakukan kebaikan tanpa ramai-ramai dan tanpa publisitas. Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus bersabda: “… apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik …… Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”  (lihatlah keseluruhan Mat 6:1-4).
Saudari-Saudara yang terkasih, jika kita sungguh ingin mematuhi hukum-hukum Allah, maka kita harus belajar bahwa cintakasih atau KASIH adalah perintah yang pertama dan utama. Kita harus jujur dan tulus dengan diri kita sendiri. Kita harus mengasihi dan bertindak karena kasih itu, walaupun menyakitkan, barangkali karena tindakan kita tidak populer dengan pihak penguasa, seperti Kristus dengan orang-orang Farisi. Kasih harus merupakah tolok ukur pertama dalam hal kepatuhan kita kepada semua hukum yang berlaku.
DOA: Tuhan Yesus, dalam perjamuan terakhir Engkau bersabda kepada para murid-Mu: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu …… Kasihilah seorang terhadap yang lain” (Yoh 15:14,17). Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia mematuhi perintah-Mu ini. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:24-2:3), bacalah tulisan yang berjudul “DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN” (bacaan tanggal 7-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015.
Cilandak, 4 September 2015 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – OFS]  
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, September 05, 2015

MELALUI YESUS, SEMUA JANJI ALLAH DIGENAPI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [TAHUN B] – 6 September 2015)
HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL 
ORANG TULI DISEMBUHKAN - 01
Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Yes 35:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10
Setiap hari Minggu, dalam Misa Kudus kita mengucapkan kepercayaan (Credo) kita kepada Allah, “Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi”. Betapa memberi semangat-lah bagi kita ketika berpikir dan membayangkan bahwa Bapa di surga adalah sang Mahakuasa. Dia adalah asal-usul dari setiap hal yang ada. Penciptaan adalah “awal dari keselamatan”, “awal sejarah keselamatan” yang berpuncak pada Kristus (Katekismus Gereja Katolik, 280). Nabi Yeremia berseru: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu! (Yer 32:17).
ORANG TULI DISEMBUHKAN - 02
Yesus adalah perwujudan dari seluruh rencana Allah, pemenuhan dari semua pengharapan kita. Melalui Dia, semua janji Allah digenapi dan hidup kita terjamin. Nabi Yesaya bernubuat: “Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yes 35:4). Sekarang, melalui Yesus, mata orang buta dicelikkan, telinga orang tuli dibuat mampu mendengar, dan lidah orang-orang bisu dibuat mampu menyanyikan lagu penuh sukacita  (lihat Yes 35:5-6).

Ketika Yesus menyembuhkan seorang tuli, Dia membuat takjub orang-orang, termasuk para murid-Nya sendiri tentunya (lihat Mrk 7:37). Semua orang tentunya menjadi excited, bukan hanya karena mukjizat yang dibuat oleh-Nya, melainkan karena menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan penggenapan janji Allah untuk mengutus Mesias yang akan melakukan inaugarasi Kerajaan-Nya!
Yesus, sang Mesias, telah datang, dan Ia telah mengundang kita ke dalam Kerajaan-Nya. Seperti juga orang yang bisu-tuli, telinga-telinga kita pun dibuka agar dapat mendengar suara Allah. Lidah-lidah kita dapat dibuat menjadi tidak kaku agar dapat memproklamasikan tanda-tanda heran yang dibuat-Nya. Kita dapat mendeklarasikan kuat-kuasa-Nya, betapa dalamnya kita mengalami pengampunan-Nya atas dosa-dosa kita. Kita dapat mengumumkan kepada semua orang bahwa yang dimulai oleh Allah dalam penciptaan, telah dicapai dalam Kristus.
ORANG TULI DISEMBUHKAN - 03
Oleh karena itu, Saudari-Saudaraku, janganlah kita sampai merasa takut untuk mendekat kepada-Nya dan mendengarkan kata-kata-Nya yang penuh hikmat, kasih dan kekuatan. Marilah kita (anda dan saya) Kabar Baik Keselamatan-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Bapa surgawi, sepanjang sejarah, Engkau menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Bukalah telinga kami lebih lebar lagi bagi sabda-Mu. Bukalah pikirandan hati kami agar dapat lebih memahami kedalaman hikmat dan kasih-Mu. Buatlah kami menjadi bentara-bentara dari Kabar Baik-Mu, bahwa semua janji-Mu digenapi dalam Yesus, Putera-Mu, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA” (bacaan tangal 6-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 3 September 2015
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, September 04, 2015

LEBIH DEKAT LAGI DENGAN YESUS MELALUI SALIB-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu,  5 September 2015) 
images (11)
Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak berguncang dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya. (Kol 1:21-23)

Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8; Bacaan Injil: Luk 6:1-5
Bapa surgawi telah menyiapkan sebuah rencana sempurna untuk mencurahkan kita masing-masing dengan hidup-Nya, damai sejahtera-Nya, dan kehadiran-Nya. Dengan demikian, kita dapat membayangkan betapa patah hati Bapa surgawi ketika Adam dan Hawa – dan generasi-generasi selanjutnya – memilih untuk meninggalkan dan menolak segala sesuatu yang telah disediakan oleh-Nya bagi mereka! Walaupun kekudusan Allah tidak memperkenankan kita – dalam kedosaan kita – untuk berada dalam kehadiran-Nya, dalam kasih-Nya yang tak mengenal lelah, Bapa surgawi tidak dapat membiarkan kita pergi meninggalkan diri-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia memilih untuk memulihkan hubungan kita dengan diri-Nya melalui ketaatan dan pengorbanan Anak-Nya di atas kayu salib.
Mungkin terlalu keras dan sulit bagi kita untuk menerima bahwa hati dan pikiran kita telah jahat terhadap Allah (Kol 1:21). Akan tetapi justru di situlah Yesus menemukan kita ketika Dia menjadi manusia dan pergi ke luar untuk menyelamatkan kita. Sampai titik tertentu, inilah kenyataan bagaimana Dia menemukan kita setiap hari. Kita terus saja membutuhkan pengampunan-Nya sepanjang hidup kita, selagi kita  berseteru dengan orang-orang lain disertai kemarahan, ketika kita dilanda rasa takut, pikiran-pikiran yang penuh dengan nafsu, ketiadaan pengharapan, dan segudang dosa-dosa lainnya. Semakin kita memperkenankan Roh Kudus untuk menunjukkan betapa dalam kita membutuhkan Yesus, semakin lebih mampu lagi kita untuk menerima penyembuhan, pembersihan serta pemurnian, dan kebebasan yang telah dimenangkan-Nya pada kayu salib.
MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUS
Marilah kita memohon kepada Allah guna menunjukkan kepada kita di mana kita membutuhkan pengampunan dan rahmat-Nya agar sungguh berubah. Yesus rindu untuk menanamkan salib-Nya di tengah-tengah berbagai pergumulan kita dan kelemahan kita, sehingga dengan demikian Roh Kudus dapat menyatakan kuat-kuasa SALIB guna membebaskan kita. Yesus dapat masuk ke dalam situasi macam apapun dan melindungi serta membebaskan kita. Kita dapat memproklamasikan otoritas salib Kristus setiap kali Iblis mencoba untuk menggoda kita atau menggiring kita untuk mempercayai hal-hal yang tidak benar.

Pada hari ini, dalam doa pusatkanlah pandangan kita pada salib Kristus dan perkenankanlah Ia berkata kepada kita, “Engkau Kukasihi tanpa batas!” Melalui kematian-Nya, Yesus telah merekonsiliasikan/memperdamaikan kita masing-masing dengan Allah dan ingin “menempatkan kita kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol 1:22).
Saudari dan Saudara, perkenankanlah Tuhan Yesus membawa diri kita (anda dan saya) lebih dekat lagi kepada diri-Nya melalui salib-Nya.
DOA: Bapa surgawi, aku pernah hilang dan tanpa pengharapan. Namun Engkau telah membangkitkan aku dari kegelapan. Engkau telah membuang rasa malu karena dosa-dosaku. Engkau telah merangkulku. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu. Semoga salib Kristus berdiri tegak pada pusat kehidupanku. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT” (bacaan tanggal 5-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 2 September 2015 [Peringatan para Martir Revolusi Perancis] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, September 03, 2015

DIALAH GAMBAR ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 4 September 2015)
Ordo Franciscanus Saecularis: S. Rosa dr Viterbo, Perawan – OFS 
St Paul Icon 4
Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu menyatu di dalam Dia. Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus. (Kol 1:15-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5; Bacaan Injil: Luk 5:33-39
Pernahkah kita (anda dan saya) berkeinginan untuk mengetahui bagaimana sih rupa dari Allah Bapa? Apakah kelihatannya sulit untuk memperoleh suatu gambaran mental dari Bapa surgawi? Hal ini cukup dapat dimengerti, karena kenyataan bahwa Allah adalah sumber dari segala kehidupan, Dia yang tidak memiliki awal dan akhir, sang Mahaagung yang menyebut nama-Nya kepada Musa sebagai “Aku adalah Aku yang ada” (lihat Kel 3:14; LAI TB: “AKU ADALAH AKU”). Namun Allah telah membuat jalan bagi kita untuk mengenal siapa diri-Nya sebenarnya. Yesus, “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15), menyatakan/mewahyukan Allah dengan sempurna – Yesus adalah kepenuhan wahyu. “Seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia” (Kol 1:19). Allah sepenuhnya hadir dalam diri Yesus dan segala tindak-tanduk-Nya – penciptaan dunia oleh-Nya, khotbah-khotbah-Nya dan penyembuhan-penyembuhan-Nya, dan kematian-Nya serta kebangkitan-Nya yang menebus.
Dengan memandang Yesus dan hal-hal yang telah diperbuat-Nya, kita dapat belajar banyak tentang Allah yang tak dapat kita lihat. Melalui Yesus, kita melihat Allah macam apakah yang kita sembah: Allah yang memegang segenap ciptaan, Ia memperdamaikan, Ia memerintah umat-Nya dengan teguh namun dengan kelemah-lembutan, Ia membawa damai sejahtera. Yesus, Dia yang merupakan gambar Allah yang sempurna, menunjukkan kepada kita bahwa Bapa surgawi adalah “seorang” Allah Yang Berbelas Kasih dan Mahapengasih.
stations3-12
Bapa macam apakah yang sudi mengutus anaknya yang tunggal dan sangat dikasihinya untuk menyerahkan hidupnya demi pembebasan segerombolan orang berdosa yang sebenarnya “sudah nggak ketolongan lagi”? Bapa macam apakah yang memperkenankan anaknya yang tak bersalah untuk menderita agar supaya anak-anaknya yang bersalah dapat dibebaskan? Hanya seorang bapa yang memiliki kasih tanpa batas, yang kasihnya melampaui kasih manusiawi yang paling agung sekali pun. Allah berdamai dengan kita untuk sepanjang masa melalui darah Anak-Nya sendiri yang dicurahkan dari atas kayu salib (Kol 1:20). Apakah yang harus kita takuti dari “seorang” Allah seperti itu? Bukankah Ia akan menjaga kita agar senantiasa dekat dengan diri-Nya?

Dalam karunia Anak-Nya kita mulai melihat siapa Allah sesungguhnya – sang Pembawa Damai Agung, yang secara tak terbatas lebih tertarik pada keselamatan kita daripada penghukuman kita. Kita melihat apakah yang penting bagi Allah. Tidak seperti dunia, yang memberi ganjaran kepada kekuasaan tanpa mempedulikan kebenaran, Bapa surgawi sangat suka kepada orang-orang yang memiliki “hati seorang pelayan/hamba”. Dalam hal ini, tidak ada seorang pun yang lebih sempurna daripada Yesus, “Hamba yang menderita”. Yesus unggul dalam hal kasih dan belas kasih. Tidak ada seorang pun yang lebih layak menerima penghormatan tertinggi daripada Yesus sendiri.
DOA: Tuhan Yesus, Engkau ditinggikan di atas apa/siapa saja karena ketaatan-Mu kepada Bapa surgawi. Kami berdoa agar supaya “dalam nama-Mu bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:10-11) Amin.
Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?” (bacaan tanggal 4-9-15) dalam situs/blog         PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09  PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:15-20), bacalah juga tulisan yang berjudul “KEUTAMAAN KRISTUS” dalam situs/blog SANG SABDA tanggal 2-9-11 atau PAX ET BONUM tanggal 6-9-13. 
Cilandak, 1 September 2015  
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, September 02, 2015

PENTINGNYA DOA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga Gereja – Kamis, 3 September 2015) 
St-Paul-icon
Sebab itu, sejak kami mendengarnya, kami tidak henti-hentinya berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu dipenuhi dengan segala hikmat dan pengertian rohani untuk mengetahui kehendak Tuhan, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. (Kol 1:9-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Luk 5:1-11
Setiap orang yang ingin untuk mengikuti jejak Kristus mengetahui betapa pentingnya bagi dirinya untuk berdoa. Akan tetapi, tahukah kita mengapa? Kata-kata Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberikan kepada kita satu alasan yang bersifat vital. Dalam doa-lah kita dapat menerima pengetahuan tentang kehendak Allah, dipenuhi dengan hikmat dan pemahaman spiritual (pengertian rohani) serta diberdayakan untuk menjalani hidup yang pantas bagi Tuhan (Kol 1:9-11). Dalam doa-lah, selagi kita  menghadap Bapa – yang sangat mengasihi kita – dan sang Anak Domba Allah yang wafat bagi kita, secara muka ketemu muka (face-to-face), maka hati dan pikiran kita ditransformasikan. Dalam doa-lah kita dapat mengetahui dan mengenal penghiburan dari Roh Kudus ketika kita menghadapi tantangan-tantangan hidup di dunia.
Sepanjang hidup-Nya di dunia, hikmat Yesus, belarasa-Nya, kerendahan-hati-Nya, dan kasih-Nya yang tanpa syarat merupakan testimoni yang tetap dan berkesinambungan atas pentingnya doa. Doa merupakan bagian yang begitu vital dari kehidupan Yesus, sehingga kita dapat mengatakan bahwa berbagai mukjizat dan khotbah-Nya adalah hal-hal yang dilakukan-Nya pada saat-saat di antara saat-saat doa-Nya. Jadi, ketika kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, maka kita dapat memperoleh pandangan sekilas tentang akan menjadi apa/siapa kita ini selagi kita berdoa: tidak hanya para pelayan Injil; tidak hanya anak-anak Allah; melainkan juga menjadi orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi Yesus Kristus, Sahabat dan Saudara kita.
YESUS BERDOA DI TEMPAT SUNYI
Sekarang, apakah kita (anda dan saya) membutuhkan hikmat ilahi untuk hidup kita masing-masing? Keluarga? Pekerjaan? Masa depan? Apakah sulit bagi kita untuk memahami apakah “langkah selanjutnya” yang harus kita ambil? Dalam “Surat Yakobus” kita dapat membaca: “… apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak 1:5). Sebagaimana Yesus menyediakan anggur berlimpah pada pesta perkawinan di Kana (baca Yoh 2:1-11), Dia pun rindu untuk mencurahkan hikmat yang berlimpah-limpah ke dalam hati seorang insan yang berdoa dengan ketulusan dan kerendahan hati. Marilah kita menjadikan diri kita orang-orang yang dapat diajar dan terbuka, dan memohon karunia/anugerah yang paling berharga ini, …… karunia doa.

Dengan Yesus sebagai “model” kita dan pusat perhatian kita, maka baiklah setiap hari kita pergi ke suatu tempat khusus yang dipenuhi keheningan untuk berdoa dalam hati kita, di mana Allah berdiam. Selagi kita melakukannya, Allah akan mencurahkan hikmat-Nya ke dalam diri kita. Diri kita akan dipenuhi dengan pengetahuan serta pengenalan tentang kehendak-Nya dan diperlengkapi agar dapat menjalani suatu kehidupan yang pantas di mata-Nya, artinya yang sesuai dengan kehendak-Nya.
DOA: Bapa surgawi, peganglah tanganku dan tuntunlah aku ke dalam keheningan doa. Perkenankanlah diriku mengalami kuat-kuasa-Mu yang mentransformasikan. Engkau adalah Allah Yang Mahabijaksana, sumber segala hikmat. Taruhlah hikmat dan pemahaman-Mu ke dalam hatiku yang terbuka ini. Semoga aku menjadi seperti Yesus yang siap untuk melaksanakan setiap pekerjaan baik. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH” (bacaan tanggal 3-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015.
Cilandak, 31 Agustus 2015
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, September 01, 2015

SEMAKIN PENUH KOMITMEN TERHADAP RENCANA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 2 September 2015)
Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Fransiskus Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk.-Martir-martir Revolusi Perancis 
IBU MERTUA PETRUS
Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.
Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)
Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11
Ibu mertua Petrus sedang menderita sakit demam keras. Kita semua tentu tahu sekali bagaimana rasanya tubuh panas-dingin, menggigil, kepala yang “cenot-cenotan” dan terasa pusing yang sangat tidak nyaman dst. Itulah kiranya yang dirasakan oleh ibu mertua Petrus (catatan: pada masa itu belum ada aspirin atau obat-obat sejenis). Kita dapat mengasumsikan bahwa keluarga Petrus telah mencoba segalanya yang mereka ketahui guna menolong perempuan itu, namun tanpa hasil. Kelihatannya mereka sudah hampir mencapai titik jenuh, … tinggal menyerah saja. Pada saat-saat kritis seperti inilah Yesus datang, dan dengan kata-kata sederhana – namun penuh kuat-kuasa – Ia mengusir penyakit itu.  Injil mencatat yang berikut ini dengan singkat: “Lalu Ia (Yesus) berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka” (Luk 4:39).
Ibu mertua Petrus tidak menunggu lama-lama. Digerakkan oleh rasa terbebaskan dan terima kasih penuh syukur, ia langsung bangkit berdiri dan melayani mereka (Luk 4:39). Sungguh luar biasa perempuan ini! Contoh baik bagi seorang pengikut Yesus!
Yesus Kristus, sang Dokter/Tabib Agung, telah menyembuhkan kita masing-masing juga. Dia telah membebaskan kita dari ikatan dosa dan keterpisahan dari Allah, dan Ia terus saja menyembuhkan segala penyakit sehubungan dengan jiwa dan roh kita: akar kepahitan hidup, perasaan bahwa kita adalah makhluk-makhluk tidak berarti, rasa takut kita, ketagihan kita akan sesuatu yang bukan berasal dari Allah. Kematian-Nya pada kayu salib adalah obat penyembuh satu-satunya terhadap segala kejahatan dosa dan maut. Jika kita terpisah dari Yesus Kristus, maka kita sama tidak berdayanya dengan ibu mertua Petrus yang sedang menderita demam keras.
stdas0748
Nah, bagaimana seharusnya kita menanggapi suatu penyembuhan yang begitu hebat “kaliber”nya? Apakah kita harus menjadi lebih sibuk lagi? Mencoba lebih keras lagi untuk melakukan lebih banyak lagi. Jawabnya: tidak perlu! Tanggapan kita yang pertama haruslah memahami keselamatan yang telah kita terima dari Yesus, sehingga dengan demikian keselamatan ini akan menggerakkan kita, tidak selalu supaya bekerja lebih keras, malainkan untuk menjadi semakin penuh komitmen terhadap rencana Allah bagi hidup kita.

Dua ribu tahun lamanya, kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan secara dramatis orang-orang dalam jumlah yang tak terbilang banyaknya. Mengapa? Karena mereka – lewat bimbingan Roh Kudus – sampai kepada pemahaman bahwa Putera Allah yang tanpa noda dan kekal-abadi memasuki sejarah dengan ruang-waktunya dan menderita sampai mati di kayu salib agar manusia dapat diciptakan kembali seturut gambar dan rupa-Nya.
Salib Kristus memiliki daya kekuatan yang sungguh besar. Hal ini perlu kita ketahui dan sadari. Sekarang, apakah kita menyadari bahwa sedemikian besar kasih-Nya bagi kita (anda dan saya) semua. Apakah kita mengetahui ruang lingkup penuh dari transformasi yang mampu dikerjakan oleh-Nya dalam diri kita? Setiap hari Dia ingin membuka pikiran dan hati kita agar dapat memahami sabda-Nya dalam Kitab Suci, membebas-merdekakan kita dari pola-pola dosa, dan mengajar kita untuk mengasihi dengan sesempurna mungkin seturut contoh yang diberikan-Nya dalam mengasihi.
Saudari dan Saudaraku, jika kita memandang Yesus dalam kontemplaasi, apa pun menjadi mungkin. Marilah kita memusatkan pandangan kita pada-Nya pada hari ini.
DOA: Yesus, pada saat ini aku datang kepada-Mu untuk memohon lebih banyak lagi kasih-Mu dan kuat-kuasa-Mu. Sembuhkanlah aku, ya Tuhan Yesus. Transformasikanlah diriku. Ajarlah aku. Aku ingin bangkit dan melayani-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul“KESEMBUHAN YANG KITA PEROLEH DARI YESUS” (bacaan tanggal 2-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09  PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 31 Agustus 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS