Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Januari 05, 2016

SALING MENGASIHI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 6 Januari 2016)
OFMCap.: Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam
st-john-the-evangelist-1620 (1)
Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1 Yoh 4:11-18)
Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,10-13; Bacaan Injil: Mrk 6:45-52
“Siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 4:16).
Dengan menggunakan beberapa patah kata sederhana, Yohanes mengungkap jantung kehidupan dalam Kerajaan Allah: “saling mengasihi”  (1 Yoh 4:12). Kelihatannya cukup straightforward dan langsung. Kita semua mengetahui apa yang dimaksudkan dengan “kasih”. Di sini Kitab Suci menceritakan kepada kita bahwa kita cukup mengambil langkah ke luar dan melakukannya.  Jadi bagaimana sesuatu yang terdengar begitu sederhana namun begitu sulit untuk diwujudkan dalam praktek?
Jawabnya tidak terletak pada ketidakadilan dalam perintah-perintah Allah, juga tidak pada ketidakmauan-Nya untuk mengubah kita menjadi umat yang mengasihi. Jawabnya terletak dalam hati kita sendiri. Pengalaman mengatakan kepada kita bahwa siapa saja yang mencoba untuk mengasihi akan berhadap-hadapan dengan kodrat manusiawinya yang cenderung berdosa.  Pengalaman upaya untuk mengasihi itu membuat kita menjadi merasa rendah – namun perlu – untuk menyadari bahwa kita tidak mempunyai berbagai sumber daya sendiri untuk mengasihi sepenuh dan benar-benar seperti Yesus mengasihi. Kesadaran diri yang sedemikian membuat kita bertekuk lutut dan berseru: “Tuhan, aku tidak dapat mengasihi berdasarkan kekuatanku sendiri. Aku membutuhkan kasih-Mu. Berdayakanlah diriku agar dapat mengasihi tanpa pamrih.”
A WOMAN PRAYING
Sebuah doa seperti itu menandakan awal dari suatu pertobatan yang tahan lama – bahkan sampai akhir hidup kita – selagi diri kita dikosongkan dari cinta-diri dan dipenuhi dengan kasih kepada Yesus. Manakala kita sadar bahwa kita tidak mampu untuk mengasihi atau tidak mampu untuk mengampuni, maka kita dapat merasa terhibur karena kita mengetahui bahwa Allah mengundang kita untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam hati-Nya. Melalui pertobatan yang tulus, kita belajar bagaimana untuk mengosongkan diri kita dan menyambut Roh Kudus ke dalam hati kita. Kemudian, dipenuhi dengan kasih ilahi, kita melihat diri kita diberdayakan untuk menunjukkan kasih di mana kita pernah mundur dengan penuh rasa penolakan, rasa takut, kesombongan, atau keserakahan.

Kita masih berada di bawah rahmat masa Natal, suatu masa di mana Allah mengundang kita untuk merangkul secara lebih penuh terang Kristus yang telah terbit dalam dunia. Waktu atau masa apa lagi yang lebih baik untuk memohon kepada-Nya agar diri kita diisi dengan kasih ilahi yang lebih mendalam lagi? Waktu atau masa apa lagi yang lebih baik untuk menyingkirkan cinta-diri sehingga dengan demikian Yesus dapat mengisi diri kita lagi dan lagi?
Saudari dan Saudaraku, marilah kita melangkah ke luar dalam iman dan mengkomit diri kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita dengan kasih yang mengalir dari Bapa surgawi.
DOA: Yesus, Engkau adalah kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hatiku. Berlimpah-limpahlah dalam diriku sehingga dengan demikian dunia akan melihat kasih dan rahmat yang sangat dibutuhkannya. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:45-52), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA BERADA BERSAMA YESUS, APA YANG HARUS DITAKUTI?” (bacaan tanggal 6-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 
Cilandak, 3 Januari 2016 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Januari 04, 2016

ADA BANYAK CARA UNTUK MEMBERI MEREKA MAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Selasa, 5 Januari 2016) 
Feeding_the_5000006
Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah mereka pergi ke kampung-kampung dan desa-desa sekitar sini, supaya mereka dapat membeli makanan bagi diri mereka.” Tetapi jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Haruskah kami pergi membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Mereka pun duduk berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya menyajikannya kepada orang-orang itu; begitu juga Ia membagikan kedua ikan itu kepada mereka semua. Lalu mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Mrk 6:34-44) 
Bacaan Pertama: 1 Yoh 4:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2-4,7-8
“Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:37).
Bagi para murid-Nya, kata-kata Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan!”, tentunya mengagetkan mereka, karena boleh dikatakan mereka tidak percaya akan kata-kata Yesus itu. Apa yang mereka punya hanyalah beberapa roti dan ikan. Bagaimana mungkin mereka memberi makan kepada orang yang begitu banyak jumlahnya dengan jumlah makanan yang begitu sedikit, dan mengharapkan dapat keluar hidup-hidup dari tengah-tengah kumpulan orang banyak itu?
“Kamu harus memberi mereka makan!”  Sampai hari ini Yesus mengatakan kepada kita semua – para murid-Nya – kata-kata yang sama, untuk melakukan karya dalam rangka memajukan kerajaan-Nya. Dunia di sekeliling kita dipenuhi dengan penderitaan, kelaparan, ketidakadilan, dan hati manusia yang dipenuhi kepahitan, kekecewaan dlsb. Lebih buruk lagi, banyak orang mengalami suatu kemiskinan rohani yang lebih menyakitkan, di mana mereka tidak mengetahui/mengenal pengharapan akan kasih Alah atau janji akan kehidupan kekal.
Menanggapi semua kebutuhan ini, Yesus memanggil kita masing-masing untuk memberikan kepada dunia sesuatu untuk dimakan. Ia memanggil kita untuk mempunyai sesuatu yang dapat menyembuhkan dan menopang semua orang yang mempunyai kebutuhan – apakah dalam pikiran, badan, atau roh. Sebagaimana dialami oleh para murid-Nya dalam bacaan Injil di atas, panggilan Yesus ini dapat menjadi cukup menakutkan bagi kita. Berbagai sumber daya yang kita miliki begitu sedikit, dan kebutuhan di depan mata kita sangatlah besar. Bagaimana mungkin kita dapat memberi makan kepada mereka?
teresa-web
Ada banyak cara untuk “memberi mereka makan”. Pada tingkatan tertentu, kita dapat memberi donasi berupa uang untuk program-program yang digunakan untuk memberi makanan dan pakaian bagi orang-orang miskin. Kita dapat mengunjungi dan menghibur mereka yang sakit, menjadi sukarelawati/wan melayani di rumah singgah atau dapur umum (kalau ada) dlsb. Pada tingkatan lainnya, kita dapat melakukan semua hal ini melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Kita dapat mencapai orang-orang dengan doa-doa penyembuhan dan pelepasan. Kita dapat menunjukkan kepada mereka kuat-kuasa Injil guna mengubah hati manusia. Pada dua tingkatan itu, kuncinya adalah sama, baik pada hari ini maupun pada zaman Yesus. Yesus ingin mengambil sedikit yang kita punya dan kemudian melipat-gandakannya bagi orang-orang lain – baik secara fisik (materiil) maupun rohani (spiritual). Jika kita melangkah saja ke luar dalam iman, dan membawa kepada Yesus apa yang miliki, dan menaruh kepercayaan pada-Nya bahwa Dia akan melakukan sesuatu dengan itu, maka kita pun akan menyaksikan betapa dahsyat kuat-kuasa Yesus tersebut.

Kita (anda dan saya) harus senantiasa mengingat Kristus yang ada dalam diri kita masing-masing. Sebagai anggota Gereja yang sudah dibaptis, kita mempunyai Roh Kudus. Mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya bukanlah sekadar hal-hal dari masa lampau. Yesus juga ingin membuat mukjizat dan tanda heran lainnya yang tak terhitung jumlahnya pada hari ini, melalui kita para murid-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku rasa percaya yang besar akan kuat-kuasa dan kasih-Mu. Pada hari ini, aku mempersembahkan berbagai talenta dan sumber daya yang kumiliki kepada-Mu, sehingga dengan demikian Engkau dapat melakukan pekerjaan besar  bagi orang-orang lain melalui diriku. Tuhan, aku ingin memberi mereka sesuatu untuk dimakan. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:34-44), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS AGAR PARA MURID-NYA MELIBATKAN DIRI” (bacaan tanggal 5-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016.
Cilandak, 2 Januari 2015 [Peringatan S. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze, Uskup & Pujangga Gereja] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Januari 03, 2016

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 4 Januari 2016)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Angela dr Foligno, Fransiskan Sekular
YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANG
Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” [1]  Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [2]

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka. Lalu tersebarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan. (Mat 4:12-17,23-25) 
Bacaan Pertama: 1 Yoh 3:22-4:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11
Catatan: [1] Yes 8:23-9:1; [2] Lihat Mat 3:2 
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 4:17).
Pernahkah anda ingin melarikan diri ketika mendengar kata-kata seperti “dosa” atau “bertobat”? Kata-kata sedemikian dapat membuat kita berpikir tentang membuang kebiasaan-kebiasaan buruk, membuat perubahan-perubahan yang terlalu sulit, atau memberikan kepada kita rasa “tak ada harapan” untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Namun kita pun seharusnya tahu bahwa Yesus datang membawa Kabar Baik, bukan kabar yang melumpuhkan semangat, pada waktu Dia memulai pelayanan-Nya di tengah masyarakat dengan seruan agar orang-orang meninggalkan dosa dan bertobat (Mat 4:17).
Kerajaan Allah memang sudah dekat, dan Yesus tidak mau kalau kita tidak mengetahui dan menyadari kenyataan tersebut. Yesus mendesak orang-orang untuk melihat hati mereka masing-masing dan mengidentifikasi cara-cara bagaimana mereka telah menyimpang dari jalan Allah atau telah meninggalkan rencana Allah, sehingga dengan demikian mereka dapat berbalik kepada Allah dalam pertobatan dan kemudian menerima pengampunan-Nya dan berkat-berkat lain yang disediakan Allah bagi dirinya.
Pada saat matahari terbit setiap pagi, sinarnya mencerahkan baik keindahan maupun keburukan dunia. Yesus adalah terang dari Allah sendiri. Dia juga mengungkapkan keindahan dan hal-hal yang tidak begitu indah dalam kehidupan kita. Dalam kehadiran-Nya, kita melihat dosa kita apa adanya – artinya penolakan terhadap Allah dan kasih-Nya, penolakan penuh kepentingan diri sendiri untuk mengasihi orang lain. Selagi Yesus membawakan kepada kita wawasan terhadap sifat dosa, Dia pun membawa kepada kita suatu hasrat untuk memperoleh kebebasan, kemurnian, dan hubungan yang diperbaharui dengan Bapa-Nya di surga.
Familiaritas dari dosa-dosa kita dapat menipu kita untuk berpikir bahwa tidak bergunalah bagi kita untuk bertobat, karena kita sungguh tidak dapat diubah. Siapakah yang akan memilih hidup di bawah perbudakan dosa, padahal Yesus telah membuat kebebasan sebagai sebagai suatu kemungkinan yang sangat riil bagi kita? Adalah kebenaran bahwa tanpa Yesus, dosa akan begitu kuat dan sulit untuk dikalahkan. Yesus telah datang dengan segala kuat-kuasa ilahi untuk menghancurkan kekuasaan dosa dalam hidup kita – suatu kuat-kuasa yang telah ditunjukkan-Nya lewat penyembuhan- penyembuhan orang sakit (Mat 4:23-24).
Pertobatan bukanlah peristiwa sekali seumur hidup. Setiap hari Roh Kudus “mengusik” hati nurani kita guna menyadarkan kita dan menarik kita kepada hidup dengan Kristus yang lebih mendalam lagi. Roh Kudus ingin membentuk cara-cara sehari-hari kita berpikir dan memberi tanggapan terhadap orang-orang di sekeliling kita. Roh Kudus mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri kita sendiri, dan Ia dapat membentuk karakter Kristus dalam diri kita masing-masing.
Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah sekarang kita memperkenankan Dia (Roh Kudus) untuk membersihkan kita dari dosa-dosa kita, menarik kita ke dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, dan memimpin kita ke dalam kasih yang diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan baik.
DOA: Bapa surgawi, melalui Roh Kudus-Mu nyatakanlah kepadaku di mana aku telah menyimpang dari jalan-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat melakukan pertobatan. Aku sungguh ingin untuk hidup dalam keindahan dari kehadiran-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 4:12-17,23-25), bacalah tulisan yang berjudulPEMBERITAAN TENTANG KERAJAAN SURGA OLEH YESUS” (bacaan tanggal 4-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 
Cilandak, 31 Desember 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 29, 2015

BERSYUKUR ATAS BERKAT-BERKAT ALLAH PADA TAHUN LALU

(Bacaan Pertama dalam Misa Kudus, Hari ketujuh dalam Oktaf Natal – Kamis, 31 Desember 2015)
Saint John-420x429
Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kami dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Dari hal inilah kita mengetahui bahwa ini benar-benar waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, tentu mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya nyata bahwa mereka semua tidak termasuk pada kita. Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran (1 Yoh 2:18-21). 

Mazmur Tanggapan: 96:1-2,11-13; Bacaan Injil: Yoh 1:1-18
“Waktu ini adalah waktu yang terakhir”  (1 Yoh 2:18).
Hanya tinggal beberapa jam saja – dan tahun 2015 ini akan berakhir dan menjadi sejarah,”  demikian tulis seorang siswa seminari berumur 21 tahun yang bernama Angelo Roncali (belakangan menjadi Paus Yohanes XXIII) dalam catatan hariannya tertanggal 31 Desember 1902. “Aku berlutut di hadapan Allahku dengan mengingat-ingat kebaikan-Nya kepadaku pada tahun ini … berterima kasih kepada-Nya dengan segenap hatiku.” Roncali menambahkan bahwa tahun itu adalah “tahun penuh konflik.” “Aku dapat saja kehilangan panggilanku – dan aku tidak kehilangan hal itu,” catatnya dengan penuh syukur atas rahmat Allah yang menguatkan dan atas perlindungan-Nya.
Seperti Paus Santo Yohanes XXIII, marilah kita pada hari ini bergembira atas segala berkat yang dicurahkan Allah atas diri kita di tahun 2015 ini. Marilah kita juga berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk rahmat yang membawa kita melalui kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Adalah suatu praktek yang baik jika pada saat-saat menjelang tutup tahun kita menoleh ke belakang dan melihat peristiwa-peristiwa pada tahun 2015 dan merenungkan apa saja yang terjadi selama 12 bulan lalu.
PAUS YOHANES XXIII -7
Memang mudah untuk mengingat-ingat hal-hal baik dengan penuh syukur. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa yang penuh tantangan dan kesulitan juga pantas untuk diingat. Mungkin kelihatan atau terasa kurang menyenangkan, namun apabila kita melihat semua itu dengan menggunakan mata iman, maka kita akan mampu melihat bagaimana Allah bekerja melalui peristiwa-peristiwa itu guna menjadikan kita lebih dekat lagi kepada-Nya. Semakin kita melihat ke belakang dalam suasana doa dan kehadiran Allah, semakin penuh pula kita akan menjadi yakin bahwa semua hal tersebut sebenarnya bekerja sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Santo Paulus menulis, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”(Rm 8:28).

Pada hari Tahun Baru 1903, Roncali menulis dalam catatan hariannya sebagai berikut: “Aku telah melihat dini hari dari suatu tahun yang baru. Aku menyambutnya dalam nama Tuhan dan aku menguduskannya kepada Hati Kristus yang penuh kasih. Semoga tahun yang baru ini bagiku menjadi suatu tahun yang penuh dengan pekerjaan baik, tahun keselamatanku … Tahun baru telah mulai: Semoga tahun baru ini merupakan suatu tahun kehidupan juga.” 
Tahun baru ini adalah karunia dari Allah. Oleh karena itu, marilah kita menyambutnya dalam nama Tuhan dan menerima segala hal yang disediakan-Nya dalam karunia ini bagi kita masing-masing. Marilah kita dengan penuh keyakinan menaruh kepercayaan  pada kasihsetia Allah dan kebaikan-Nya terhadap kita.
DOA: Bapa surgawi, aku mempersembahkan tahun yang baru berlalu ini kepada belas kasih-Mu dan mendedikasikan tahun baru ini kepada penyelenggaraan-Mu. Semoga tahun 2016 menjadi suatu tahun yang dipenuhi rahmat-Mu secara berlimpah. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:1-18), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH TERANG KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 31-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 
Cilandak, 28 Desember 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SUNGGUH MENGINGINKAN KITA UNTUK MENJADI SAHABAT-SAHABAT-NYA SEPANJANG MASA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari keenam dalam Oktaf Natal – Rabu, 30 Desember 2015) 
Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004
Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004
Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1 Yoh 2:12-17) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 96:7-10; Bacaan Injil: Luk 2:36-40
Melihat adanya potensi perpecahan dalam Gerejanya, Yohanes menulis kepada para anggota jemaatnya, wanti-wanti agar mereka tetap erat dengan Tuhan dan antara satu dengan lainnya. Yohanes menyapa mereka dengan term-term yang biasa digunakan dalam lingkungan keluarga (“anak-anak”, “bapak-bapak”, “orang-orang muda”), Ia mendorong serta menyemangati mereka untuk mengingat apa yang telah dilakukan Yesus dalam hidup mereka. Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka, menyatakan diri-Nya, dan mencurahkan kekuatan-Nya untuk mengalahkan kejahatan (si Jahat). Marilah sekarang kita melihat tiga berkat ini secara lebih dekat.
Pada intinya, “diampuni” berarti berdamai dengan Allah – dan hal ini adalah karunia yang diberikan oleh Yesus kepada kita dengan “biaya” berupa darah-Nya sendiri. Dalam Yesus, kita melihat kasih penuh pengorbanan dan belas kasih yang penuh sabar. Dalam salib-Nya, kita melihat jaminan atas keselamatan kita.
Yesus juga menawarkan kepada kita karunia pengenalan akan Allah yang meningkat. Mengenal Allah bukan berarti sekadar masalah fakta dan doktrin. Mengenal Allah menyangkut suatu relasi persahabatan yang intim/akrab dengan Dia. Yohanes berjanji bahwa selagi kita dengan tekun berupaya agar menjadi lebih dekat dengan Yesus dalam doa, kita akan mengalami kasih-Nya. Dan pengalaman itu akan meyakinkan kita bahwa Dia sungguh menginginkan kita untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya sepanjang masa.
ST JOHN THE EVANGELIST by Pompeo Batoni (1708-1787) from Basildon Park. The Italian painter born in Lucca was celebrated for his portraits.
ST JOHN THE EVANGELIST by Pompeo Batoni (1708-1787) from Basildon Park. The Italian painter born in Lucca was celebrated for his portraits.
Allah juga memberikan kepada kita kekuatan dan kemenangan dalam pertempuran kita melawan dosa dan godaan. Hari demi hari, Iblis mencoba untuk membujuk-rayu kita dengan kebohongan dan dustanya. Namun jika kita berjalan dengan Yesus sehari-harinya, maka kita mulai mengenali taktik-taktik Iblis dan menjadi lebih kuat dalam melawan Dia dan berkata “tidak” terhadap dosa.
Yohanes mengingatkan para anggota jemaatnya bahwa ada dua pihak yang saling bertentangan yang ingin memiliki hati mereka. Namun pada saat yang sama, ia berbicara tentang bagaimana Yesus memanggil mereka untuk berjalan bersama-Nya di jalan kasih-Nya. Kita pun menghadapi pilihan serupa. Kita dapat mencoba untuk berjalan sendiri dan mengisolasikan diri kita, atau kita dapat berpegang pada kekuatan dan kesatuan serta persatuan yang ditawarkan Yesus dalam tubuh-Nya, yaitu Gereja. Apakah pilihan kita (anda dan saya)? Allah telah menganugerahkan kepada kita masing-masing suatu kehendak bebas.
Saudari dan Saudara yang terkasih, kasih Allah bersifat all-inclusive. Tidak ada seorang pun yang dilupakan dan ditinggalkan oleh-Nya. Kita semua adalah anak-anak-Nya, dan innocence kita telah dipulihkan melalui wafat Kristus di kayu salib. Kita akan menyadari hal ini hanya apabila kita tetap saling berhubungan sebagai saudari dan saudara dalam Kristus. Kemudian, sebagai para orangtua yang penuh tanggung jawab, kita akan menjadi terang bagi dunia, menyatakan kasih Allah kepada siapa saja yang berada di sekeliling kita.
DOA: Tuhan, persatukanlah semua umat-Mu – perempuan maupun laki-laki, yang muda maupun yang tua – dalam kesatuan dan persatuan iman dan kasih yang mengatasi setiap perpecahan dan prasangka. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:36-40), bacalah tulisan yang berjudul “PENUH HIKMAT DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADA-NYA” (bacaan tanggal 30-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 
Cilandak, 28 Desember 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 22, 2015

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 23 Desember 2015)
YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMA - 000
Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)
Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14
Dalam hal kelahiran Yohanes Pembaptis, acuan-acuan terselubung dan nubuatan-nubuatan penuh misteri yang sudah berumur berabad-abad, akhirnya mengambil rupa seorang manusia. Mengapa? Karena dialah sang bentara, sang nabi yang akan “mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. Ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 3:1; 4:6). Pada hari ini pun pesan Yohanes Pembaptis dapat berbicara kepada hati kita, seperti juga kesaksian hidupnya dapat menjadi sebuah contoh bagi hidup kita.
Yohanes Pembaptis diumumkan secara ilahi dan diberikan nama di tengah tanda-tanda heran yang ajaib, Yohanes menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN (YHWH), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! (Yes 40:3). Ia menghibur umat yang sudah lama menantikan pemenuhan janji-janji Allah. Yohanes Pembaptis memproklamasikan akhir dari hidup penuh sengsara mereka dan bahwa kesalahan umat ini telah diampuni (Yes 40:2). Sungguh merupakan Kabar Baik! Ia naik ke atas gunung yang tinggi dan berseru dengan suara nyaring, berkata kepada kota-kota Yehuda, “Lihat, itu Allahmu!” (Yes 40:9).
john-baptist-lds-art-parson-39541-print
Kalau kita merenungkannya dengan serius, sungguh semua ini merupakan “pendahuluan” dari sejarah keselamatan! Bahkan Yesus sendiri berkata tentang Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Bagaimana Yohanes Pembaptis sampai memahami dengan benar apa yang direncanakan Allah atas dirinya? Sejak hari-hari awal hidupnya bersama Zakharia dan Elisabet, sampai saat-saat ketika dia menyibukkan diri dengan tulisan-tulisan kenabian, Yohanes Pembaptis belajar mengabdikan dirinya mencari panggilan Allah bagi hidupnya. Karena dia telah mengembangkan suatu hidup doa yang kuat, Yohanes Pembaptis lebih daripada sekadar sebatang buluh yang ditiup angin ke sana ke mari atau seorang nabi akhir zaman yang bermata liar. Yohanes Pembaptis dengan penuh keyakinan sebagai seorang yang dibimbing Allah sendiri, seseorang yang hidupnya didedikasikan bagi Kerajaan Allah yang akan diinaugurasikan. Yesus memberi konfirmasi bahwa Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah “Elia” yang akan datang sebagai seorang pendahulu hari kedatangan Tuhan (lihat Mat 17:10-13).

Saudari dan Saudaraku, seperti halnya dengan Yohanes Pembaptis, Allah memanggil kita, untuk mengkomit hidup kita terhadap kehendak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) mengabdikan seluruh energi untuk mencari panggilan-Nya dan memohon kepada Roh Kudus-Nya kuat-kuasa untuk melaksanakan hal itu. Dengan penuh kepercayaan, marilah kita maju terus bersama Tuhan, dengan penuh sukacita turut memajukan kerajaan Allah. Bersama-sama, marilah kita berseru: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Luk 3:4).
DOA: Datanglah, ya Imanuel – Allah beserta kita – Raja kami, Hakim kami. Selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami! Hidupkanlah kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga kami sungguh dapat mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Mu untuk kedua kalinya kelak, sebagaimana Yohanes Pembaptis telah melakukannya untuk kedatangan-Mu yang pertama. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH KEDATANGAN-MU DI TENGAH-TENGAH KAMI PADA HARI NATAL MEMURNIKAN DIRI KAMI” (bacaan tanggal 23-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 
Cilandak, 22 Desember 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Disember 19, 2015

MARIA DAN ELISABET BERTEMU DI AIN KARIM
(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [TAHUN C] – 20 Desember 2015) 
visitation-1
Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)
Bacaan Pertama: Mi 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19, Bacaan Kedua: Ibr 10:5-10
Kita semua tentunya sudah merasa “familiar” dengan apa yang digambarkan oleh Lukas dalam bacaan Injil berikut ini: “Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (Luk 1:39-41). Para pelukis dari zaman ke zaman telah mencoba menggambar peristiwa “Maria mengunjungi Elisabet” ini dengan seakurat-akuratnya guna menyampaikan pesan pengharapan penuh sukacita ketika Elisabet menyuarakan seruan umat manusia segala zaman kepada Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42).
Pada peristiwa bersejarah yang sungguh istimewa ini, hukum “mengalah” kepada janji Allah, dan berbagai nubuatan para nabi bertemu dengan pemenuhan janji-janji ilahi, dan yang “lama” tunduk kepada yang “baru”. Elisabet yang mandul – tak mampu untuk menghasilkan kehidupan – dikasihi dan diberkati oleh Allah. Dan, dan dalam upayanya untuk mengasihi Dia sebagai balasan, Elisabet hidup dalam antisipasi, yang selalu terbuka terhadap sang Pemberi-Hidup. Jadi, “Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan mengakui Maria sebagai bejana keselamatan Allah. Tanpa kepahitan dan iri hati – tetapi dengan penuh sukacita – Elisabet pun menyetujui untuk memberi tempat lebih tinggi kepada Maria, “ibu Tuhanku” (Luk 1:43). Kemudian Elisabet memuji Maria dan semua orang yang percaya: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).
Maria yang tidak banyak bicara dan masih muda usia itu mengunjungi Elisabet, saudaranya yang sudah tua untuk syering hal baru yang telah dilakukan Allah. Kedatangannya meneguhkan “kesiap-siagaan dalam doa” dari para hamba YHWH yang setia. Datang untuk merayakan “nasib baik” sepupunya, Maria malah menjadi sarana pembawa rahmat dan sukacita bagi semua yang ada di situ. Dengan rendah hati Maria menerima kehormatan yang diberikan kepadanya oleh Elisabet dan langsung mengembalikan kepada “Tuhan yang dimuliakan jiwanya” (lihat Luk 1:46).
Peristiwa ini mengambil tempat di Ain Karim yang terletak di daerah pegunungan di luar kota Yerusalem. Sekitar sepuluh tahun lalu istri saya dan saya sempat diajak oleh sahabat kami untuk mengunjungi Tanah Suci (bukan tanah suci di Saudi Arabia), a.l. dengan mengunjungi Ain Karim ini. Ain Karim bukanlah sebuah bukit biasa, ini adalah sebuah tempat dengan pemandangan yang indah tetapi juga sangat melelahkan untuk dicapai dengan berjalan kaki dari kaki bukit. Kami membayangkan betapi sulit bagi Bunda Maria dalam kondisinya yang sedang mengandung untuk melakukan perjalanan bersejarah itu. Dengan segala ketidaknyamanan yang jauh lebih banyak daripada yang kita alami pada abad ke-21 ini, Maria melakukan perjalanan ini dengan ketetapan hati yang sangat mengagumkan. Ini adalah contoh sempurna dari hidup Kristiani: penuh perhatian, berkomitmen penuh terhadap kesejahteraan orang-orang lain. Ternyata Maria bukanlah seperti banyak prima dona, yang mengetahui dirinya diistimewakan namun cenderung untuk menjadi sombong dan menjadi self-centered serta tidak peduli pada kebutuhan-kebutuhan orang lain.
Pada setiap masa Adven, Gereja mengundang kita untuk menyaksikan sekali lagi momen dramatis yang terjadi di Ain Karim sekitar 2000 tahun lalu. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita menyempatkan diri untuk melangkah ke luar – teristimewa dalam masa Adven ini – untuk menjumpai saudari-saudara kita yang sering terlupakan, misalnya para lansia, para napi yang berada dalam lembaga pemasyarakatan (penjara), mereka yang sakit? Atau, apakah kita hanya menyediakan waktu bagi mereka yang berstatus ekonomi dan sosial relatif tinggi, misalnya para boss (bukan “Bekas Orang Sakit Syaraf), orang terkemuka, para “Yang Mulia” dlsb. Lalu, kita juga datang dengan luka-luka dan dosa-dosa setahun penuh paling sedikit. Maukah kita menahan diri dari dosa-dosa yang baru, karena takut kecewa dan frustrasi dipandang sebagai “sok suci” oleh teman-teman kita? Atau, apakah kita mau meniru Elisabet dan dengan penuh sukacita menyambut kedatangan sang Juruselamat di tengah-tengah kita?
Hanya dalam beberapa hari lagi saja kita akan merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Dalam hal ini kita tidak pernah boleh melupakan peranan Bunda Maria, hamba Tuhan yang sejati. Kebesaran Maria justru terletak pada pelayanannya yang penuh rendah hati dalam melakukan setiap hal dalam nama Puteranya, Yesus Kristus.
DOA: Tuhan Yesus, kami letakkan di dekat kaki-kaki-Mu segala rasa takut kami, segala kesedihan kami dan segala dosa kami. Kami menyambut hidup baru yang Engkau tawarkan kepada kami. “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat!” (Mzm 80:3). Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA” (bacaan tanggal 20-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 
Cilandak, 17 Desember 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Disember 02, 2015

AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius – Kamis, 3 Desember 2015) 
stdas0609
Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20) 
Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 
Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Namun kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini, apabila kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus.
Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembalinya Dia kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.
KENAIKAN TUHAN - 002
Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.  Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri.

Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus jalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.
St__Francis_Xavier
Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Orang kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini, Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552), adalah contoh konkrit dari seorang murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Dia mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke banyak penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pewartaannya juga disertai dengan berbagai kuasa Roh dan tanda heran.

Bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897], S. Fransiskus Xaverius adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius dinilai sebagai misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).
Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.
Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.
DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan Santo Fransiskus Xaverius. Semoga semangat kerasulannya berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BEKERJA DALAM DAN MELALUI SEMUA ORANG YANG MENJAWAB PANGGILAN-NYA” (bacaan tanggal 3-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 
Cilandak, 28 November 2015 [Peringatan S. Yakobus dr Marka] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 01, 2015

MUKJIZAT EKARISTI KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 2 Desember 2015)
OSCCap.: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Klaris
Feeding_the_5000006
Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 
Bacaan Pertama: Yes 25:6-10; Mazmur Tanggapan: 23:1-6
Allah kita adalah Allah yang jauh dari cukup! Seperti Yesus memberi makan dan membuat kenyang ribuan orang hanya berdasarkan beberapa roti dan ikan, maka Dia pun ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam setiap kali kita menerima Dia dalam Ekaristi.
Marilah kita merenungkan hal berikut ini: Pada setiap perayaan Ekaristi (Misa Kudus), Yesus mempersiapkan suatu pesta perjamuan bagi kita, pesta yang berlimpah dengan makanan lezat dan anggur bermutu (Yes 25:6). Perjamuan yang kita rayakan pada setiap Misa bukanlah sekadar peringatan/kenangan akan Perjamuan Terakhir, melainkan juga suatu perayaan kemenangan Yesus di atas kayu salib. Ketika kita makan tubuh dan minum darah-Nya, kita mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
KOMUNI KUDUS - 111
Dalam setiap Misa, kita merayakan kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Jikalau Yesus tidak mati di kayu salib, Ia tidak mengalahkan dosa. Jikalau Dia tidak bangkit, kematian akan tetap berkuasa atas diri kita. Namun Yesus telah telah mengalahkan maut untuk selamanya! Sekarang Yesus Kristus memerintah dalam kemuliaan, dan Ia ingin menghapus setiap tetes air mata kita, membersihkan nurani kita, dan membuang segala aib kita (Yes 25:8). Inilah caranya bagaimana Dia memuaskan kita. Melalui mukjizat Ekaristi, Yesus mengenyangkan diri kita jauh melampaui apa yang mampu diberikan oleh makanan dan minuman biasa.

Berpesta pada meja perjamuan Allah memiliki nilai kekal-abadi. Makanan yang ditawarkan Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memampukan kita menerima warisan yang telah disediakan-Nya bagi kita. Mengetahui hal ini dapat memberikan kepada kita harapan yang besar. Tetesan air mata kita dihapuskan bukan karena kita tidak mempunyai masalah dalam dunia ini, melainkan karena Yesus adalah Saudara kita. Dia akan melakukan apa saja untuk menguatkan diri kita dan membuat kita menjadi semakin berbuah dari hari ke hari. Yesus adalah penjaga para saudari dan saudara-Nya, dan Ia sungguh menjaga kita manakala kita menerima Dia dalam Komuni Kudus. Rasa  takut kita akan menyusut karena Ekaristi. Rasa cemas dan khawatir kita dapat hilang karena Ekaristi. Kita akan mengalami penghiburan karena kasih Allah dan pengalaman kemenangan atas berbagai tantangan yang selama ini menindih kita. Baiklah kita senantiasa mengingat bahwa Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi adalah suatu peringatan atau kenangan, dan pada saat sama juga merupakan suatu pengalaman akan kemenangan Yesus di atas kayu salib.
Saudari dan Saudaraku, sebagaimana ribuan orang lapar yang dipuaskan/dikenyangkan oleh Yesus melalui mukjizat penggandaan roti dan ikan, kita pun dapat dibuat kenyang oleh-Nya, baik secara badani maupun rohani.
DOA: Tuhan Yesus, aku menginginkan Engkau, lebih dan lebih lagi. Berikanlah kepadaku tubuh dan darah-Mu yang akan mengenyangkan diriku, baik secara fisik maupun secara rohani. Aku percaya bahwa Engkau akan memenuhi setiap kebutuhanku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN-NYA KAMI RINDUKAN” (bacaan tanggal 2-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 
Cilandak, 28 November 2015 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS