Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Ogos 20, 2015

HUKUM KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Jumat, 21 Agustus 2015)
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Rut 2:1-3,8-11; 4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:34-40
Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Dari 613 perintah-perintah yang ada, yang manakah yang harus paling ditaati? Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.
Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).
Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”
PETER PREACHING
Salah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka jalan menuju keselamatan dalam Yesus, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Syering Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka evangelisasi adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment. Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.
Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.
teresa-web
Selagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan. Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudah memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “KASIH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 21-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 19 Agustus 2015 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Ogos 19, 2015

YANG KITA PERLUKAN HANYALAH MENARUH KEPERCAYAAN PADA-NYA DAN MENTAATI PERINTAH-PERINTAH-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas-Pujangga Gereja – Kamis, 20 Agustus 2015)
Jephthah's_promise_68a-10
Lalu Roh TUHAN (YHWH) menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada YHWH, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan YHWH, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan YHWH menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari AroĆ«r sampai dekat Minit – dua puluh kota banyaknya – dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon ditundukkan di depan orang Israel.
Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada YHWH, dan tidak dapat aku mundur.” Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada YHWH, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena YHWH telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.” Lagi katanya kepada ayahnya: “Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.” Jawab Yefta: “Pergilah,” dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. (Hak 11:29-39a)  
Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5,7—10; Bacaan Injil: Mat 22:1-14 
Mempersembahkan manusia sebagai kurban bakaran adalah sebuah praktek yang dikenal di antara agama-agama di Timur Dekat kuno, hal mana bukan tidak terdengar dan dipraktekkan juga di tanah Israel, walaupun hukum Musa jelas-jelas melarangnya (lihat Ul 12:31; 18:9-10). Sebagai peringatan terhadap dosa ini, cerita tragis  tentang Yefta dengan kuat berbicara mengenai kesia-siaan dari pengucapan janji atau nazar secara gegabah dan praktek-praktek keagamaan orang kafir.
Walaupun berlatar belakang dengan sedikit “catatan”, Yefta adalah seorang seorang pahlawan Gilead yang gagah perkasa (lihat Hak 11:1-2). Yefta diminta oleh para tua-tua Gilead untuk memimpin pasukan Gilead dalam pertempuran melawan orang-orang Amon. Setelah dengan enggan menyatakan persetujuannya, Yefta pada awalnya mencoba untuk bernegosiasi dengan raja bani Amon (Hak 11:12-28). Setelah negosiasi menemui jalan buntu, Yefta siap-siap untuk terjun ke dalam pertempuran melawan bani Amon, namun sebelum itu dia bernazar seperti yang kita lihat dalam bacaan di atas: Dia akan mempersembahkan kurban bakaran apa/siapa saja yang ke luar dari pintu rumahnya guna menyambutnya pada saat dia kembali ke rumah dengan selamat (lihat Hak 11:30-31).
Faktanya adalah bahwa Yefta sungguh mengalahkan pasukan bani Amon, dan … yang pertama-tama ke luar rumah untuk menyambutnya adalah puteri tunggalnya sendiri. Dengan sedih Yefta mengoyakkan bajunya. Yefta telah mengucapkan nazar yang gegabah, dan ia harus setia pada kata-katanya sendiri. Artinya, anak perempuannya itu harus mati.
Tragedi dari cerita ini terletak pada fakta bahwa Yefta merasa adanya kebutuhan untuk sampai ke titik ekstrim sedemikian rupa agar dapat memperoleh perlindungan dari Allah. Tidakkah dia mengetahui bahwa hati YHWH yang penuh kasih sudah diperuntukkan bagi umat-Nya? Tidakkah ia menaruh kepercayaan pada kebaikan Allah tanpa harus melakukan tawar-menawar dengan dirinya? Karena ketiadaan iman kepada Allah, dan dipengaruhi oleh agama palsu dari orang-orang Kanaan, Yefta mengurbankan anak perempuannya sendiri dan mengakhiri garis keturunannya.
Sang pemazmur berdoa: “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mzm 40:9). Selagi kita mempercayakan hidup kita kepada Allah dan mencari bimbingan dari Roh Kudus, maka kita akan dilindungi dari tindakan kita melakukan sesuatu bagi Allah, baik yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak. Hasrat Allah untuk melakukan kebaikan bagi kita jauh lebih besar daripada hasrat kita sendiri untuk mengenal kebaikan-Nya. Kita tidak perlu bernegosiasi dengan Allah karena yang kita perlukan hanyalah menaruh kepercayaan pada-Nya dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada-Nya agar memelihara kita dan melindungi kita dari segalanya yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Selagi kitamenjadi semakin dekat dengan Allah dalam doa, Dia akan mengungkapkan kondisi hati kita dan memimpin kita ke dalam pertobatan dan iman yang sejati.
DOA: Bapa surgawi, kami sadar bahwa tanpa bimbingan Roh-Mu, kami pun akan salah jalan dan tersesat. Kami mengetahui bahwa hanya oleh rahmat-Mu kami dapat tegak berdiri. Penuhilah diri kami dengan kasih-Mu, ya Bapa, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih dekat lagi dengan-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEJARAH UMAT ALLAH DAN SEJARAH PRIBADI KITA JUGA” dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 18 Agustus 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Ogos 18, 2015

PARA AWAM JUGA DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Rabu, 19 Agustus 2015)
OFM Conventual: Peringatan Keluarga Fransiskan; Peringatan S. Ludovikus, Uskup 
jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom
“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 
Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7
“Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku” (Mat 20:7).
Seorang imam di luar negeri pernah mengungkapkan bahwa gambaran Gereja kita pada hari ini adalah bagaikan pertandingan sepak bola kelas dunia. Puluhan ribu orang penonton di stadion berteriak-teriak sambil menabuh genderang guna menyemangati kesebelasan masing-masing, sedangkan di lapangan  22 orang sedang bertarung mati-matian. Puluhan ribu penonton membutuhkan olah raga yang sungguhan, sedangkan yang bertarung memerlukan istirahat! Sebagian besar pekerjaan dalam Gereja dikerjakan oleh kaum berjubah yang berjumlah relatif sedikit kalau dilihat dari jumlah keseluruhan umat. Mungkin pernyataan imam itu benar dan mungkin juga salah. Namun dapat dikatakan bahwa hal ini benar sekali pada masa sebelum Konsili Vatikan II [1962-1965]. Pasca Konsili – dengan berjalannya waktu – keadaannya membaik tahap demi tahap, walaupun masih jauh dari yang diharapkan. Bukankah Allah menginginkan kita agar pergi juga ke kebun anggur-Nya? (Mat 20:7).
vingƄrden
Salah satu dokumen terpenting hasil Konsili Vatikan II adalah “DekritApostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam [AA]”. Dokumen ini dapat dikatakan merupakan sebuah terobosan berkaitan dengan peran kaum awam dalam Gereja. Dokumen itu a.l. mengatakan: “Dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA, 2; lihat juga “Konstitusi DogmatisLumen Gentium tentang Gereja [LG], 31). Dokumen AA ini juga mengatakan: “Kristus yang diutus oleh Bapa menjadi sumber dan asal seluruh kerasulan Gereja. Maka jelaslah kesuburan kerasulan awam tergantung dari persatuan mereka dengan Kristus yang memang perlu untuk hidup, menurut sabda Tuhan: ‘Barang siapa tinggal dalam aku dan Aku dalam dia, ia menghasilkan buah banyak, sebab tanpa aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’ ” (Yoh 15:5; AA,4).

Sebenarnya kita semua telah dipanggil dan diberdayakan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, berdoa untuk/dengan orang sakit, menyampaikan ajaran-ajaran Yesus, dan mendirikan keadilan dan kedamaian di masyarakat di mana kita tinggal. Pertanyaan yang harus diajukan oleh kita masing-masing adalah: “Bagaimana aku menanggapi undangan ini?”
Barangkali kita (anda dan saya) meragukan panggilan kita. Kita mungkin saja merasa tidak pantas, atau kurang berpendidikan, atau tidak kompeten. Kita dapat merasa bahwa hanya imam-imam tertahbis saja yang harus dipercayakan dengan pekerjaan-pekerjaan gerejawi. Memang ada pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh imam tertahbis, jadi tidak dapat digantikan oleh seorang awam. Namun demikian pula halnya dengan panggilan kita sebagai umat awam, juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. Panggilan Allah tidaklah terbatas pada pribadi-pribadi yang sangat terdidik. Ingatlah bahwa para rasul Kristus sendiri pada awalnya hanyalah orang-orang biasa tanpa latar belakang pendidikan yang hebat. Demikian pula panggilan Tuhan tidaklah ditujukan kepada orang-orang yang ultra-suci. Bahkan Santo Paulus sendiri – sang Rasul – menamakan dirinya orang “yang paling berdosa” (1 Tim 1:15).
Allah tidak memanggil orang-orang yang qualified, melainkan Ia membuat orang-orang yang dipanggil-Nya menjadi qualified. Nah, kita semua dipanggil! Selagi kita pergi ke luar dan “bereksperimen”, maka kita semua dapat belajar bagaimana mendengarkan Roh-Nya dan tetap patuh terhadap Roh-Nya tersebut. Allah akan menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana membantu mendirikan Kerajaan-Nya di sini, di atas bumi. Dengan berpaling kepada-Nya dalam iman, kita dapat belajar bagaimana memperkenankan hidup Yesus memenuhi hati kita sedemikian sehingga berlimpah dengan kasih yang secara alamiah memberikan kehidupan bagi orang-orang lain.
DOA: Tuhan Yesus, di sini aku yang dengan rendah hati datang menghadap-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku. Aku akan pergi ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku akan melakukan apa saja seturut kehendak-Mu. Aku akan berbicara apa saja yang Engkau inginkan aku bicarakan kepada orang-orang lain. Tuhan Yesus, berjanjilah kepadaku hanya satu hal ini – kehadiran-Mu sepanjang pekerjaan melayani mereka. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?” (bacaan tanggal 19-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 16 Agustus 2015 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Ogos 17, 2015

KETERGANTUNGAN PADA SESUATU YANG BUKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Selasa, 18 Agustus 2015)
KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.
Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)  
Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a;  Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 
Ketika Yesus mengatakan bahwa sangat sukarlah bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, para murid menjadi terkejut dan terheran-heran. Mereka bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mat 19:25). Barangkali sabda Yesus tersebut membuat kita merasa tidak nyaman juga – teristimewa jika berpikir bahwa keselamatan hanyalah diperuntukkan bagi jenis/macam orang yang tertentu saja. Apakah orang kaya secara otomatis tidak memenuhi persyarata untuk masuk surga? Apakah surga hanya berisikan orang-orang miskin? Dalam hal ini, marilah kita ingat tanggapan Yesus di atas: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”  (Mat 19:26).
Allah menawarkan keselamatan-Nya bagi setiap orang. Salahlah kita jika berpikir bahwa Yesus menentang kekayaan pada dirinya sendiri. Yesus mengundang orang kaya maupun orang miskin untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, dan Ia menawarkan kepada masing-masing orang bentuk pertolongan yang khusus yang mereka butuhkan untuk merangkul Kerajaan-Nya. Kita semua cenderung untuk berpegang teguh pada macam-macam “kekayaan” yang menghalang-halangi kita untuk menerima hidup Allah secara penuh. Kekayaan materiil hanyalah satu contoh – walaupun memang merupakan hal yang biasa – tentang bagaimana ketergantungan pada sesuatu yang bukan Allah dapat membutakan mata kita terhadap kebutuhan kita akan Dia dan membuat kita malah menjadi berantakan. Jika kita memenuhi diri kita dengan hal-hal duniawi – apa pun itu – maka kita menutup diri kita terhadap hal-hal surgawi.
Apakah yang dapat kita harapkan dari Allah jika kita betul-betul mengesampingkan “kekayaan” versi kita sendiri? Satu hal: kita dapat berharap bahwa Dia akan memberikan kepada kita suatu pikiran yang baru, yang dapat berpikir secara berbeda dengan dunia dan memilih yang Dia pilih. Kita masing-masing juga menerima sebuah hati yang baru, yang memiliki kapasitas untuk mengasihi tanpa syarat sebagaimana Allah mengasihi. Jika kita mempertimbangkan dua karunia ini saja, maka tidak mengherankanlah apabila Allah tidak merasa terancam oleh apa saja “hal lain” kepada apa/siapa kita menaruh kepercayaan kita! Terus terang, apa sih yang dapat bersaing dengan Allah? Semakin kita memahami warisan kita dalam Kristus, semakin penuh pula kita akan ditarik untuk menyingkirkan setiap rintangan untuk datang berlari kepada-Nya, hidup kita!
Sekarang, apakah kita sungguh telah mengenal dan mengalami kasih Allah yang melimpah tak terbatas ini? Apakah kita pernah memperkenankan belas kasih-Nya mengatasi setiap penolakan dan rintangan? Marilah kita sekarang memohon kepada Allah untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menggantungkan diri sepenuhnya kepada kasih-Nya. Marilah kita membuka hati kita bagi Dia sejujur-jujurnya, dan menerima setiap hal yang Ia rencanakan untuk berikan kepada kita.
DOA: Yesus, aku memuji Engkau karena kesetiaan-Mu. Engkau tidak pernah berhenti menawarkan kepadaku hidup-Mu sendiri, walaupun ketika aku mencoba memenuhi diriku dengan hal-hal duniawi yang menyesatkan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI HIDUP KAYA DALAM ROH” (bacaan tanggal 18-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 14 Agustus 2015 [Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam-Martir] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Ogos 15, 2015

KIDUNG MARIA

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 16 Agustus 2015)
Assumption-of-Mary
Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 
Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26
Pada hari ini Gereja merayakan HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA. Perayaan ini sudah ada dalam Gereja sejak abad ke-6; barangkali dibawa masuk ke Roma oleh pada rahib Timur yang melarikan diri dari penyerbuan Persia. Di Gereja Timur perayaan ini didahului oleh puasa selama dua pekan (Untuk uraian lengkap, lihat: Christopher O’Donnell, O.Carm., AT WORSHIP WITH MARY – A Pastoral and Theological Study, Wilmington, Delaware: Michael Glazier, 1988, hal. 129-147). Bacaan Injil untuk perayaan ini adalah cerita tentang kunjungan Maria kepada Elisabet, termasuk Kidung Maria.
Acrylic on canvas, 24 x 30
Acrylic on canvas, 24 x 30″
Kidung Maria adalah sebuah doa iman, seperti Maria sendiri adalah “model iman dan doa” bagi kita semua. Elisabet meneguhkan ini ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk berseru, “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45). Kepercayaan Maria pada Allah akhirnya dipenuhi dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini. Peristiwa Maria diangkat ke surga merupakan peristiwa agung dalam kehidupan perempuan yang rendah hati, penuh kepercayaan dan seorang pendoa itu.
Magnificat – kidung pujian Maria dalam menanggapi sapaan Elisabet – menunjukkan kepada kita beberapa prinsip bagi doa-doa yang kita panjatkan. Doa Maria ini barangkali merupakan doa yang paling dipenuhi kerendahan hati, seperti termuat dalam Kitab Suci. Dalam Magnificat, Maria mengakui kebenaran tentang siapa Allah itu dan siapa Maria di hadapan Allah. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa “kerendahan hati adalah dasar doa” (KGK, 2559). Pasti kerendahan hati menjadi fondasi dari Kidung Maria ini, ketika dia mengakui bahwa Allah “telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku”  (Luk 1:48.49).
Doa Maria ini pun merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah baginya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan dalam kehadiran-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah.
Selagi anda datang menghadap Tuhan setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).
DOA: Bapa surgawi, Engkau telah mengangkat puteri-Mu Maria ke surga. Tolonglah aku untuk menghadap-Mu dalam kerendahan hati dan rasa percaya yang penuh cintakasih, seperti yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Oleh kuasa Roh-Mu, penuhi diriku dengan kedalaman iman sebagaimana dimiliki Bunda Maria. Amin.
Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (1Kor 15:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DAN KEBANGKITAN KEPADA HIDUP BARU” (bacaan tanggal 16-8-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 11 Agustus 2015 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Ogos 14, 2015

IA ADALAH BAPA KITA

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 15 Agustus 2015) 
YESUS DAN ANAK-ANAK - YESUS SAYANG KEPADA ANAK-ANAK
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15) 

Bacaan Pertama: Yos 24:14-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8,11
Secara universal, anak-anak kecil senang sekali kalau dipeluk, digendong dll. Mereka senang disentuh dengan penuh kasih sayang. Menarik, para ilmuwan mengatakan, adalah sesuatu yang penting sekali bagi pengembangan kognitif dan emosional seorang anak untuk menyentuh dan membuat kontak-mata dengan orang-orang lain – untuk menerima afirmasi dari orang lain di dalam hidup mereka.
Jika sebuah gambar atau foto dapat berbicara seribu kata, maka bayangkanlah berapa banyak pesan yang disampaikan oleh satu pandangan sederhana orangtua kepada seorang anak yang sedang memandang mata orangtuanya. Bayangkanlah semua persetujuan, rasa memiliki, bimbingan, afeksi, dan pujian yang dapat dilihat seorang anak selagi ayah atau ibunya memandang dirinya. Seorang anak kecil merasakan kehangatan bahwa dirinya bagian dari orangtuanya bukan karena akte kelahiran atau hasil pencocokan DNA. Semua ini adalah masalah cintakasih, afeksi, dan perlindungan yang diberikan orangtuanya kepada dirinya.
Pengamatan-pengamatan atas cara bekerja suatu “relasi orangtua & anak yang sehat” ini dapat banyak mengajar kita tentang relasi kita dengan Allah. Allah, sang Khalik langit dan bumi, adalah Bapa kita … bukan saja karena Dia menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, melainkan juga karena Dia begitu mengasihi kita memutuskan untuk menebus kita dalam Kristus. Ia adalah Bapa surgawi dari kita semua karena Dia sangat senang memandang kita dengan penuh cintakasih. Ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus mendorong kita untuk datang kepada Bapa-Nya sebagai anak-anak kecil. Yesus ingin agar kita dapat mengalami martabat, kasih, dan janji dengan mana Allah memandang kita hari lepas hari.
Yesus meletakkan tangan-Nya di atas anak-anak itu (Mat 19:15). Demikian pula halnya dengan Bapa surgawi; Dia ingin menyentuh kita di bagian terdalam hati kita. Oleh karena itu dalam doa kita pada hari ini, marilah kita bertanya bagaimana Allah bergerak  dalam hati kita, menghangatkan kita dan meyakinkan kita tentang segalanya yang disediakan-Nya bagi kita. Marilah kita membayangkan Allah memandang mata kita dan berkata bahwa Dia sungguh sangat mengasihi kita dan bahwa kita (anda dan saya) adalah milik-Nya. Marilah kita membayangkan Bapa surgawi memeluk kita dan memberkati kita, mendorong kita untuk melayani dengan penuh kasih orang-orang yang ada di sekeliling kita. Marilah kita merentangkan tangan dan membuka hati kita bagi Bapa surgawi pada hari ini. Perkenankanlah Dia melayani kita dengan kasih sejati dan afeksi-Nya.
DOA: Bapa, ini aku. Aku mengasihi-Mu dan aku sangat membutuhkan Engkau. Bersediakah Engkau diam bersamaku sepanjang hari ini? Aku sungguh ingin bersama-Mu pada hari ini, dan hari-hari selanjutnya. Amin.
Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “YANG PUNYA KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 15-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 11 Agustus 2015 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Ogos 13, 2015

YESUS MENGASIHI ANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam & Martir  –  Jumat, 14 Agustus 2015)
OFMConv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam & Martir 
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 136:1-3,16-18,21-22,24
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6).
Kata-kata yang diucapkan Yesus ini dapat terdengar cukup keras bagi kita, teristimewa bila kita telah mengalami perceraian dengan pasangan hidup kita, atau jika hidup perkawinan seorang anggota keluarga kita atau sahabat kita telah berantakan. Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa Yesus mengetahui apa yang dikatakan-Nya dan Ia yakin bahwa dalam kuat-kuasa Allah, Ia dapat menyembuhkan, bahkan menyembuhkan perkawinan yang separah apapun juga. Di sisi lain, pengalaman mengatakan kepada kita bahwa perceraian adalah suatu realitas traumatis yang dapat meninggalkan luka-luka mendalam dan tahan lama, … kepedihan batin yang bersifat menahun.
Pikirkanlah rasa sakit – luka batin – yang diderita oleh pasutri yang bercerai. Suatu relasi yang dimulai dengan cita-cita tinggi, sukacita, dan optimism telah merosot sampai terjerumus ke dalam penolakan, ketidakpercayaan, kemarahan, dan self-pity. Apa yang dahulu merupakan “satu daging” telah dicabik-cabik, dan hanya meninggalkan luka-luka mendalam tidak hanya dalam diri mantan pasutri tersebut, melainkan juga para anggota yang lain juga. Mereka dapat saja bertanya, bagaimana Yesus tega-teganya “menghukum” mereka duduk tanpa belas kasih?  Jangan salah! Allah tidak mengutus Anak-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan (lihat Yoh 3:17). Yesus tidak ingin menghancurkan orang-orang dengan sekadar mengatakan kepada mereka apa saja kesalahan mereka.  Yesus ingin bertemu dengan kita di titik mana saja kita sedang berada dalam perjalanan hidup kita dan Ia menawarkan kesembuhan dan pemulihan kepada kita.
Wife Touching Husband from Behind --- Image by © Tom Grill/Corbis
Wife Touching Husband from Behind — Image by ©Tom Grill/Corbis
Jika anda telah bercerai, ketahuilah bahwa Yesus mengasihi anda, sama seperti sebelumnya. Yesus ikut ambil bagian dalam rasa sakit anda dan menderita bersama anda. Pikirkanlah pertemuannya dengan perempuan Samaria di dekat sumur (Yoh 4:4-42). Yesus tidak menghukum perempuan itu, walaupun ia telah kawin lima kali dan pada waktu itu sedang “hidup bersama” (kumpul kebo) dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Sebaliknya, Yesus malah menggiring perempuan itu kepada suatu pertobatan sejati, menyembuhkannya, dan mengutusnya kembai ke kampungnya untuk memberitakan kepada orang-orang lain tentang diri-Nya.
Apakah kita berstatus menikah, bercerai atau belum/tidak menikah, kita semua perlu mengenal penyembuhan dari Allah. Bapa surgawi sungguh ingin menyembuhkan luka-luka dalam setiap perkawinan dan juga luka-luka mereka yang terkena dampak perceraian. Yesus ingin memperdamaikan kita, mentransformasikan kita, dan mengguanaan kita untuk memproklamasikan Kerajaan-Nya – siapa pun diri kita atau apa pun kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu. Yesus ingin sekali merangkul kita dan memberikan berkat-Nya kepada kita (lihat Mrk 10:16).
DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar dapat mengatasi semua perpecahan dalam keluarga kami masing-masing. Curahkanlah rahmat-Mu kepada setiap keluarga yang telah mengalami perceraian. Sembuhkanlah mereka dan pulihkanlah pengharapan mereka. Biarlah kasih-Mu mengalir ke dalam diri kami semua dan kemudian mengalir ke luar dari diri kami sehingga kami pun dapat menjadi saksi-saksi-Mu kepada dunia di sekeliling kami. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEMBALI KE NIAT ALLAH YANG SEMULA” (bacaan tanggal 14-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 9 Agustus 2015 [HARI MINGGU BIASA XIX]  
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Ogos 12, 2015

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 13 Agustus 2015)
Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam 
PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.
Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 
Bacaan Pertama: Yos 3L7-10a,11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6
“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22).
Karena Allah itu Mahasempurna, maka pengampunan-Nya bersifat langsung dan permanen. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan kita! Karena kita adalah manusia dan jauh dari sempurna, maka pengampunan dapat menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali.
Pikirkanlah hal berikut ini: Jika dapat mencapai rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita setelah dua atau tiga kali bertemu, maka relasi-relasi dengan sesame kita akan jauh lebih mudah dipelihara. Bukankah begitu?
Differences-in-Why-People-Forgive-and-Why-It-Matters
Mengampuni seseorang yang telah melukai hati kita seringkali merupakan sebuah proses yang berjalan secara bertahap. Misalnya, kita dapat saja mengampuni seseorang pada awalnya, namun beberapa hari kemudian kita menjadi marah dan kesal lagi. Dalam hal ini kita harus “mendirikan kembali bangunan” pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus lain di mana kita sudah mengampuni, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu (dalam bilangan jam, hari, atau pekan) kita secara perlahan-lahan mampu untuk let go sakit hati kita sehingga kita pun dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Situasi apapun yang kita hadapi, hal yang terpenting adalah senantiasa mengambil langkah maju, bukan menjauhi pengampunan yang lengkap dalam setiap situasi.

Apakah kiranya hal-hal yang perlu kita (anda dan saya) lalukan untuk mengambil langkah selanjutnya dalam mengupayakan rekonsiliasi dengan orang lain? Yang pertama, berdoalah untuk orang itu. Marilah kita membayangkan bahwa kita sudah berdamai dengan orang itu. Kedua, marilah kita mengambil keputusan untuk mengampuni, dan terus membuat keputusan itu jika memang diperlukan. Kita harus ingat –seturut sabda Yesus – karena mungkin saja kita benar-benar butuh melakukan ini sebanyak 30, 50 atau 70 kali; dan hal itu oke, oke saja. Ketiga, marilah kita melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia juga mengasihi kita masing-masing. Jika kita menjadi lebih merasa pahit atau marah, hal itu berarti bahwa kita membutuhkan waktu yang lebih banyak/lama lagi. Yang penting, kita harus terus mengampuni dalam hati kita sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, dan memohon kepada Yesus untuk menolong kita.
Saudari dan Saudaraku, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh menyerah. Yesus pasti akan memberkati sekecil apapun langkah yang kita ambil menuju rekonsiliasi. Di atas segalanya, kita harus ingat bahwa pengampunan bukan tindakan manusiawi semata. Kita membutuhkan rahmat Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku. Sekarang, ya Tuhan, tolonglah diriku agar mau dan mampu mengampuni mereka yang bersalah kepadaku. Dari DOA BAPA KAMI yang Kauajarkan, aku menyadari bahwa bagian dari pertukaran agar dosa-dosaku diampuni adalah persyaratan bahwa aku pun harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku (Mat 6:12; lihat juga Mat 6:14-15). Tolonglah agar aku mempraktekkan salah satu Sabda Bahagia yang Kaudeklarasikan: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.
Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS” (bacaan tanggal 13-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Ogos 11, 2015

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 12 Agustus 2015) 
mt-nebo
Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN (YHWH) memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan Lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar. Dan berfirmanlah YHWH kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.”
Lalu matilah Musa, hamba YHWH itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman YHWH. Dan dikuburkanNyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya.
Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu. Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangan ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan YHWH kepada Musa. Seperti Musa yang dikenal YHWH dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda   dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah YHWH di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. (Ul 34:1-12) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3,5,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 18:15-20 
mosesatnebo
Pada bulan Oktober 2005, Allah Yang Mahabaik memperkenankan istri dan saya – lewat kebaikan pasutri sahabat kami – untuk mengikuti ziarah ke Tanah Suci. Kami masuk melalui Yordania, sehingga dengan demikian gunung Nebo dan Yerikho merupakan tempat-tempat pertama yang kami kunjungi, bahkan sebelum masuk hotel (di Nazaret). Sebagai peziarah, sah-sah saja jika kita menanyakan kepada tour guide apakah para arkeolog pernah melakukan ekskavasi guna menemukan di mana sesungguhnya Musa dimakamkan (lihat Ul 34:6). Memang yang dikatakan dalam teks bacaan di atas bahwa tidak ada orang yang tahu kuburnya sungguh dapat membuat “penasaran” orang yang membacanya. Kita seringkali merasa enggan untuk menerima sabda Alah secara terlalu harfiah, barangkali karena takut dituduh sebagai seorang fundamentalis. Namun dapatkah kita (anda dan saya) membayangkan yang akan terjadi dengan Yosua apabila dia mempunyai perasaan yang sama?

Kematian Musa merupakan pukulan yang berat bagi umat Israel. Musa adalah pemimpin besar mereka yang telah memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, dan sekarang ia telah tiada, justru pada saat-saat menjelang mereka memasuki tanah terjanji, setelah selama 40 tahun berkelana mengarungi padang gurun yang tidak ramah. Mereka menangis dan meratap untuk 30 hari lamanya, namun ketika masa berkabung sudah selesai mereka melihat kepada pemimpin baru mereka Yosua, terhadap siapa Musa telah meletakkan tangannya.  Bagaimana mungkin Yosua menggantikan Musa, satu-satunya orang kepada siapa YHWH-Allah telah berbicara dengan berhadapan muka?
Yosua tidak perlu berlama-lama memikirkan dan merenungkan pertanyaan ini, karena Allah bersabda kepadanya: “Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yos 1:5). Yosua tahu bahwa YHWH-Allah yang telah menyediakan manna, daging dan air minum di padang gurun akan setia pada janji-Nya. YHWH tidak pernah berubah dalam hasrat-Nya untuk memelihara umat-Nya.
moses-memorial-mt-nebo-mount-important-holy-place-christianity-34895958
Allah kita adalah Allah Yang Mahasetia. Dia setia kepada Abraham, Musa dan Yosua, dan Ia tetap setia kepada kita hari ini juga. Dia memanggil kita masing-masing kepada suatu relasi yang penuh keintiman dengan diri-Nya. Kita cenderung berpikir bahwa walaupun Allah telah melakukan hal-hal besar bagi orang-orang besar di masa lampau, misalnya para nabi, Bunda Maria dlsb., hal-hal besar itu tidak ada urusannya dengan orang-orang kecil, orang-orang biasa seperti kita. Kita percaya bahwa Allah mempunyai rencana bagi umat pilihan-Nya, namun kita suka dilanda perasaan kurang percaya/yakin tentang keberadaan rencana-Nya bagi kita masing-masing. Akan tetapi, semakin dekat kita datang kepada-Nya, semakin banyak pula kita mengalami kasih-Nya bagi kita masing-masing. Dan kasih itu dapat membuat siapa saja dari kita menjadi tergolong “orang besar” juga.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, satu-satunya yang baik, kami ingin mengenal-Mu lebih akrab lagi dan untuk menjadi lebih tanggap terhadap rencana-Mu bagi hidup kami masing-masing. Roh Kudus, Engkau menginspirasikan Musa dan Yosua. Bimbinglah kami juga agar mau dan mampu menerima secara penuh misi Kristus bagi kami sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Berilah rasa percaya diri kepada kami , ya Roh Kudus, berkaitan dengan karya-Mu dalam hidup kami masing-masing. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SAUDARI-SAUDARA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 12-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 
Cilandak, 18 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS