Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, November 06, 2015

MARILAH KITA BELAJAR DARI JANDA-JANDA MISKIN YANG SANGAT KAYA DALAM IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN B] – 8 November 2015) 
stdas0153
Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 
Bacaan Pertama: 1Raj 17:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua: Ibr 9:24-28
Baik Bacaan Injil maupun Bacaan Pertama hari ini menunjukkan kepada kita pribadi-pribadi yang menaruh kepercayaan sangat mendalam pada Allah. Bacaan-bacaan ini menunjukkan janda-janda miskin yang sangat kaya dalam iman dan rasa percaya mereka pada Allah. Dua orang janda ini mengetahui dan sangat percaya dalam hati mereka bahwa Allah sangat sanggup untuk menyediakan segala kebutuhan mereka.
Bacaan-bacaan ini “memaksa” kita untuk bertanya, jika Allah dapat memperhatikan dengan baik dua perempuan ini – yang barangkali mempunyai kebutuhan lebih besar daripada kita – bukankah Ia jauh lebih mampu untuk memperhatikan kebutuhan kita juga? Dia telah berjanji untuk senantiasa berada bersama kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Komitmen Allah kepada kita bersifat total! Allah senantiasa memperhatikan kepentingan kita yang terbaik dan Ia ingin agar kita menaruh kepercayaan pada-Nya bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita. Bukankah  Ia lebih daripada mampu untuk menolong kita, baik secara fisik maupun secara rohani?
Jika kita mempertimbangkan kasih Allah yang tanpa batas dan juga kuat-kuasa-Nya, maka hal tersebut dapat membuang rasa khawatir tak berguna yang sering mengganggu kita. Permenungan atas realitas-realitas Allah dapat mengangkat pikiran-pikiran kita dan meyakinkan kita bahwa kita sungguh dapat menaruh kepercayaan pada Tuhan, apa pun situasi yang kita hadapi. Misalnya, pikirkanlah fakta bahwa Bapa surgawi memiliki sumber daya tanpa batas, atau bahwa Dia memahami hidup kita luar-dalam. Ingatlah janji bahwa Roh-Nya hidup di dalam diri kita dan terus saja melayani kita masing-masing. Yesus mengajar kita untuk memperhatikan burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang. Jika Allah begitu memperhatikan dua ciptaan-Nya tersebut, maka tentunya jauh lebih besar perhatian-Nya atas diri kita dan segala hal yang kita hadapi (lihat Mat 6:25-33).
Karena kita memiliki pengharapan sedemikian, marilah kita kerahkan energi kita untuk menyebarkan Injil, melayani orang-orang di sekeliling kita, dan mengasihi Yesus. Dalam Misa Kudus hari ini, marilah kita mengingat betapa besar, mulia dan agung Allah kita itu dan betapa tanpa-batas segala sumber daya yang dimiliki-Nya. Persekutuan kita dengan Tuhan dalam Ekaristi pada hari ini dapat menarik kita ke dalam rasa percaya yang lebih mendalam lagi pada-Nya dan dapat memberdayakan kita untuk melangkah ke luar guna mensyeringkan kasih-Nya dengan orang-orang lain. Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuka hati kita masing-masing bagi Dia!
DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku. Engkau pantas untuk dipercaya, karena Engkau memiliki otoritas penuh di dalam surga dan di atas bumi. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil alih hidupku ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN ‘KECIL’ SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 8-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 5 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 7 November 2015)
Franciscan Missionaries of Mary (FMM):  Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 
16145187880_c5376ece3a_o
Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 
Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11
“Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan harta-benda dunia ini”, inilah kira-kira yang dikatakan oleh Yesus. Kemudian Ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki harta-benda dunia ini, “Apabila kamu tidak dapat dipercaya dalam dalam hal kekayaan dunia yang sukar dipahami, siapa yang akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan kekayaan yang bersifat kekal-abadi?”
Inilah ajaran Tuhan Yesus tentang penggunaan harta-kekayaan, seturut “perumpamaan Yesus tentang bendahara/manajer yang cerdik” (atau: “perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur”; Luk 16:1-8) dalam mengelola uang tuannya. Apa yang dikatakan Yesus kepada kita dalam perumpamaan itu adalah, “Harta-kekayaanmu bukanlah milikmu sendiri sehingga kamu dapat menggunakannya “semau gue”. Harta-kekayaanmu adalah milik Allah, dan kamu diangkat untuk mengurus harta kekayaan itu bagi Dia. Kamu akan dipandang akuntabel oleh Allah untuk apa yang kamu lakukan dengan harta kekayaan tersebut.”
Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Memang kita (anda dan saya) tidak dapat menjadi suatu kontradiksi, yang menjalani suatu kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan pada saat sama menjalani suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan mementingkan orang lain. Kita harus mengambil keputusan yang tegas! Hal ini sungguh merupakan suatu peringatan bagi orang-orang kaya pada zaman modern ini! Yesus berkata, “Allah memandang kamu bertanggung-jawab untuk penderitaan sengsara orang-orang miskin, para korban ketidak-adilan, orang-orang yang tergolong berpendapatan rendah yang membayar pajak yang relatif terlalu banyak sedangkan orang-orang kaya memiliki kuasa untuk menghindar dari beban pajak tersebut.”
Setiap pribadi manusia yang jujur mengetahui apa yang kiranya yang dikatakan oleh Yesus: “Kamu tidak dapat melayani Allah dan uang.” Jikalau kita (anda dan saya) melayani uang, maka kita “mengambil” apa saja yang kita dapat ambil, dan keserakahan ini membuat kita semakin jahat atau semakin tidak mengindahkan moral terkait bagaimana kita memperoleh uang tersebut: upah besar tanpa pertimbangan kinerja; nafsu akan kenikmatan-kenikmatan dengan biaya orang lain yang menderita karena ulah kita; mengabaikan tugas-tugas keluarga dan komunitas karena kita lebih mementingkan pengejaran nafsu.
Akan tetapi, apabila kita melayani Allah, maka kita (anda dan saya) akan memberikan yang terbaik: waktu kita, talenta kita, keprihatinan kita yang penuh kasih, harta-benda kita di dunia. Kita memberi karena kasih.
Dalam perbandingan-perbandingan di atas, Yesus kiranya berkata: “Oleh/lewat tindakan-tindakanmu, dengan harta-benda yang “dipinjamkan” oleh Allah kepada kamu, kamu harus membuat suatu pilihan. Dan pilihan yang kamu buat akan menentukan kehidupan kekalmu. Juga menentukan jenis kebahagiaan yang kamu miliki di atas bumi.”
DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar jiwaku tetap hidup dan rohku tetap sehat. Seringkali ingatkanlah diriku akan kata-kata keras-Mu: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:15). Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 16:3-9,16,22-27), bacalah tulisan berjudul “SALAM DARI PAULUS DAN KAWAN-KAWANNYA” (bacaan tanggal 7-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11  PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 4 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, November 04, 2015

SEORANG BENDAHARA/MANAJER YANG BRILIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 6 November 2015) 
jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom
Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 
Alkisah ada seorang eksekutif sebuah perusahaan – katakanlah namanya Edwin – yang dipercayakan dengan kontrak-kontrak perusahaan paling besar dan memiliki otoritas untuk mengelola uang perusahaan dalam jumlah yang besar. Keberhasilan Edwin mencapai posisi eksekutif dengan tanggung jawab besar ini tidak dapat dilepaskan dari kerja kerasnya selama lebih dari 7 tahun di perusahaan tersebut. Sebagai akibat dari keberhasilan dalam karirnya, Edwin hidup nyaman dengan status sosial yang baik. Kemudian, Direktur Utama merangkap pemegang saham perusahan mendengar desas desus yang kurang/tidak baik tentang Edwin. Sekarang integritas Edwin dipertanyakan dan dalam waktu yang relatif singkat jabatannya akan diisi oleh salah seorang pejabat senior lainnya. Tidak ada banyak perusahaan yang menawarkan lowongan kerja untuk tingkat eksekutif seperti yang dijabat oleh Edwin. Lagipula Edwin tidak memiliki keterampilan teknis untuk sukses dalam bidang-bidang lainnya. Sementara itu keluarganya tidak dapat melakukan adjustment dengan mudah dalam menanggapi perubahan seperti itu. Pendeknya, dunia seakan berantakan di mata Edwin. Apakah yang harus dilakukannya?
Edwin tidak dapat mengambil uang dalam jumlah banyak untuk kepentingan pribadinya, karena sang direktur utama sudah menaruh curiga terhadap dirinya. Sang direktur utama juga sudah siap untuk bertindak tegas. Nah, Edwin hanya memiliki waktu satu minggu saja untuk melakukan sesuatu, artinya dia harus bertindak super-cepat. Dalam waktu satu jam mendatang Edwin ada appointment dengan seorang pelanggan (debitur) guna mendiskusikan utang yang harus dibayarnya. Tiba-tiba Edwin mendapat ide brilian. Mengapa dia tidak merancang suatu deal yang tidak terlalu “menekan/memberatkan” pelanggan terbesar perusahaannya? Misalnya, dengan menghapuskan jumlah komisi bagi dirinya dan laba bagi perusahaannya. Perusahaannya akan mendapatkan kembali “pokok” utang, dan Edwin juga memperoleh “kawan baru” yang memang sangat dibutuhkannya. Edwin berpikir, “Biarlah merugi dalam jangka pendek, guna menjamin suatu pekerjaan apabila diriku dipecat.” Harus kita akui di sini, bahwa yang ada dalam pikiran Edwin adalah memang suatu ide yang brilian.
Cerita di atas pada hakekatnya adalah mengisahkan kembali (dalam konteks yang lebih modern) tentang “perumpamaan Yesus tentang si eksekutif atau manajer yang lihai”. Dalam perumpamaan ini, Yesus kembali (Luk 12:13-34) kepada pertanyaan tentang kekayaan dan mengajar para pengikut-Nya tentang penggunaan uang secara bijaksana.
Etika dari Edwin dalam cerita di atas jelas buruk, namun etika bukanlah fokus  dari pengajaran Yesus kali ini. Yesus memuji si bendahara/manajer karena dia menganalisis sikon yang dihadapinya dengan cermat dan bertindak dengan cepat untuk mengambil keuntungan bagi masa depan dirinya.
Sebagai umat Kristiani, kita mengetahui tentang hidup kekal dan kebenaran-kebenaran yang harus membentuk keputusan-keputusan kita di sini dan pada saat ini. Pada waktu kita harus bekerja guna mencapai keselamatan kita – artinya hidup kita di atas bumi – apakah kita – seperti juga si bendahara/manajer – melihat inti-pokok masalahnya sejernih yang dilakukan oleh si bendahara/manajer? Apakah kita akan menindak-lanjutinya dengan tindakan-tindakan yang menjamin posisi masa depan kita dalam surga?
DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku agar dapat menggunakan uangku dengan bijaksana. Berikanlah kepadaku hati untuk mengkomit uang dan waktu yang ada padaku hanya bagi proyek-proyek yang akan mengagungkan nama-Mu. Tanamkanlah dalam hatiku setiap hari kepastian tentang kehidupan kekal bagiku, dan berikanlah kepadaku ketetapan hati untuk menjalani kehidupan di dunia ini sambil menatap surga yang ada di depanku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK” (bacaan tanggal 6-11-15) dalam situs/bloghttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 4 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MASING-MASING SANGAT BERHARGA DI MATA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 5 November 2015) 
Jesus-Good-Shepherd-13
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 
Bacaan Pertama: Rm 14:7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14
stdas0736
Kadang-kadang sulitlah bagi kita untuk percaya bahwa Yesus menilai kita masing-masing sedalam seorang gembala yang menilai domba-dombanya atau seorang janda yang menilai uang dirhamnya yang hilang. Namun pada kenyataannya kita adalah memang sangat berharga di mata-Nya. Seperti sang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor yang hilang, maka Yesus pun akan meninggalkan setiap orang di belakang guna menyelamatkan satu jiwa yang sedang “salah jalan” pada hari ini.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa setiap pribadi di atas bumi ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? (lihat Kej 1:26,27). Setiap pribadi manusia tak ternilai harganya di mata Allah, betapa keras kepalanya sekalipun orang itu dalam melawan pesan Kabar Baik (Injil) Yesus Kristus, walaupun betapa berdosa mereka menurut pandangan kita. Jalan Yesus bukanlah “jalan pintas” – Ia memanggul salib-Nya sampai ke Golgota dan di salibkan di bukit itu untuk menebus kita semua – bahkan orang-orang miskin, orang-orang buangan/termarjinalisasi, orang-orang yang tidak masuk hitungan. Kebenaran ini dapat menjadi suatu sumber kepercayaan diri bagi kita, dan suatu sumber belarasa sejati terhadap orang-orang lain. Jika Yesus mengasihi setiap orang dengan begitu mendalam, maka bukankah kita pun harus memiliki hasrat untuk melihat orang-orang lain direstorasikan agar menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan bermartabat?
Mother-Teresa-2
Beata Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Yesus datang untuk bertemu dengan kita. Guna menyambut Dia, marilah kita pergi menemui-Nya.” Yesus datang tidak hanya dalam kehangatan suatu waktu doa yang baik, melainkan juga dalam rupa seorang yang lapar, seorang yang sedang sunyi-sepi-sendiri, seorang penderita narkoba atau HIV-AIDS, seorang yang membutuhkan pertolongan, dlsb. Dia datang kepada kita dalam diri seorang anggota keluarga yang merasa diabaikan dan kurang diperhatikan. Ia datang kepada kita dalam diri seorang pengemis di sudut jalan dlsb. Apakah kita mengenali kehadiran-Nya? Bunda Teresa dari Kalkuta menulis, “Orang-orang miskin datang kepada kita. Kita harus sadar akan kehadiran mereka agar dapat mengasihi mereka.” 

Manakala kita mengenali orang-orang yang membutuhkan pertolongan, kita dapat menanggapi kebutuhan mereka seturut kemampuan yang kita miliki. Tentu kita semua mempunyai sumber daya yang terbatas, namun kita mempunyai sesuatu yang dapat kita berikan kepada setiap orang: doa kita. Apakah ada seseorang yang lapar, telanjang, tidak mempunyai tempat berteduh? Dalam hal ini kita dapat memohon kepada Bapa surgawi yang memiliki sumber daya berlimpah agar menyediakan makanan, pakaian dan tempat berteduh. Apakah ada seseorang yang menderita sakit atau sedang ketagihan narkoba? Dalam hal ini kita dapat memanggil dan memohon pertolongan dari sang Dokter ilahi. Kita pun dapat melakukan pertempuran atau perang roh bagi mereka yang sedang menderita. Selagi kita melakukan semua itu kita akan bertemu dengan Yesus – dan demikian pula dengan orang-orang yang kita doakan.
DOA: Yesus, aku mengetahui bahwa Engkau menghitung setiap pribadi sebagai milik-Mu yang tak ternilai harganya. Buatlah diriku, ya Tuhan, agar mau dan mampu menaruh perhatian terhadap berbagai kebutuhan orang-orang yang berada di sekelilingku. Tolonglah aku untuk membuka tangan-tanganku guna melayani dan membuka hatiku untuk melakukan doa-doa syafat (pengantaraan) bagi orang-orang yang memerlukan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SATU EKOR DOMBA DAN UANG LOGAM SENILAI SATU DIRHAM” (bacaan tanggal 5-11-15) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak,  3 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, November 02, 2015

MENGASIHI DAN MEMBENCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Carolus Borromeus – Rabu, 4 November 2015)
Franciscan Missionaries of Mary (FMM): Peringatan wafat B. Marie de la Passion, Ibu Pendiri Tarekat 
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 
Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 
Kata-kata yang diucapkan Yesus ini memprovokasi kita untuk berpikir lebih lanjut. Kata-kata ini digunakan Yesus untuk menantang para pendengar-Nya yang mau menjadi murid-murid-Nya! Membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri! (Luk 14:26). Kata-kata Yesus ini terasa sangat bertentangan dengan perintah yang diberikan oleh-Nya sebelum itu, yaitu perintah untuk mengasihi! Bagaimana dua perintah ini dapat cocok satu sama lain?
Pada titik tengah, perintah Yesus, baik untuk mengasihi maupun untuk membenci, merupakan suatu panggilan untuk mau mengorbankan bagi Yesus hal-hal yang paling disenangi dalam hidup kita. Ini adalah panggilan untuk melakukan subordinasi kasih kita kepada setiap orang dan setiap hal lainnya terhadap kasih kita kepada-Nya, untuk menempatkan hasrat-Nya sebagai yang pertama dan utama dalam hati kita. Yesus memerintahkan ini karena Dia tahu bahwa bila kita mengasihi dan menghormati-Nya di atas setiap hal lainnya, maka kita akan mampu untuk mengasihi orang-orang lain secara lebih mendalam. Dengan kasih ilahi dan hidup ilahi yang aktif di dalam diri kita, maka kita diberdayakan untuk mengasihi dengan cara yang melampaui kemampuan-kemampuan kita sendiri yang bersifat alamiah.
Di manakah atau kapankah kita (anda dan saya) mengalami perintah untuk mengasihi yang membuat seakan hal itu berada di luar batas-batas kemampuan kita? Mungkin kita harus mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang dan konfrontatif kepada saudari dan/atau saudara kita dalam Kristus? Barangkali seorang anak kita telah mengikuti jalan yang sesat dan membutuhkan koreksi? Dalam situasi-situasi yang sulit-menegangkan seperti itu, Roh Kudus dapat mengajar kita untuk membenci dosa yang kita lihat namun terus mengasihi para pendosa tersebut. Paling sedikit kita diingatkan bahwa kita pun adalah orang-orang berdosa.
Kita hanya perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan sulit yang dihadapi Yesus dalam kehidupan-Nya ketika hidup di atas bumi ini, atau merenungkan kematian-Nya di atas kayu salib guna melihat bahwa “jalan kasih” tidak selalu mudah. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan kita dari cara hidup yang sia-sia yang diwariskan oleh nenek moyang kita (1Ptr 1:18) dan juga dari kodrat kita yang cenderung berdosa. Kita tidak boleh takut terhadap reaksi-reaksi orang-orang jikalau memang kita harus berbicara langsung kepada mereka. Kita harus berketetapan hati untuk tetap setia kepada panggilan Allah bagi kita kepada kekudusan yang meminta kepada kita untuk “membenci” segala hal yang membuat kita dan orang-orang lain tetap terikat pada dosa. Yesus wafat di atas kayu salib untuk memenangkan kasih kita dan kesetiaan kita. Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, mengasihi Dia di atas segalanya yang lain dalam hidup kita.
DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menempatkan Engkau di atas segala cintaku yang lain. Ajarlah aku agar mengasihi keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang lain dengan kasih-Mu, yaitu kasih yang menyembuhkan segala luka dan perpecahan. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana mengucapkan sabda-Mu dalam kasih yang berasal dari Engkau saja, sehingga Engkau dapat dimuliakan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 13:8-10), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH ADALAH KEGENAPAN HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 4-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 3 November 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 3 November 2015)
Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringatan Arwah sanak saudara dan para penderma 
YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISI
Mendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 
Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.
Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).
Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.
Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya:“Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.
PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN BESAR - 2
Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.
Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.
Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.
Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.
Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!
DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 12:5-16a), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI DAN DENGAN KASIH” (bacaan tanggal 3-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak,  2 November 2015 [PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, November 01, 2015

KESELAMATAN DATANG DARI KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN, Senin, 2 November 2015)
all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman. (Yoh 6:37-40)
Bacaan Pertama: 2Mak 12:43-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: 1Kor 15:12-34 
Ada sebuah pertanyaan hakiki yang harus mampu kita jawab dengan penuh keyakinan: “Apakah kita sungguh percaya bahwa keselamatan datang dari Kristus?”  Iblis sangat ingin melihat bahwa kita menjalani seluruh kehidupan kita dengan pandangan ke bawah terus, dihinggapi rasa ketidakpastian akan kasih Allah, dipisahkan dari diri-Nya, tidak yakin akan tempat kita dalam hati-Nya. Namun, memang kehendak Bapalah bahwa setiap orang akan melihat dan percaya kepada Putera-Nya (lihat Yoh 6:40), sehingga dengan demikian kita tidak pernah perlu takut akan akhir zaman pada saat mana Yesus datang kembali ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.
Syukur kepada Allah, keselamatan kita itu tidak ditentukan oleh perasaan kita melainkan apa yang telah dilakukan Allah bagi kita melalui kematian dan kebangkitan Putera-Nya! Kita mungkin saja dapat menjadi kecil hati melihat diri kita bergumul melawan pola-pola perilaku penuh dosa yang kita pikir telah kita tinggalkan selamanya. Kita dapat saja marah kepada Allah untuk kematian pasangan hidup kita yang begitu mendadak. Kita mungkin saja merasa kering secara spiritual, secara rutin mempraktekkan iman kita tetapi tidak mengalami kehadiran Allah seperti yang pernah kita alami. Namun faktanya tetap, bahwa melalui Salib Kristus, semua dosa dan maut telah dikalahkan. Sekarang, setiap orang yang merangkul Yesus melalui hidup pertobatan, iman dan ketaatan dapat merasa yakin akan memperoleh kehidupan kekal. Itulah fondasi dari sukacita dan pengharapan kita.
Itulah sebabnya mengapa peringatan hari ini dapat menjadi suatu saat untuk bersukacita untuk kita semua. Yesus yang sama, yang telah menghancurkan kuasa dosa dan maut dengan salib-Nya sekarang ada bersama kita untuk memimpin kita semakin dekat lagi kepada Bapa surgawi. Dia memberikan kepada kita rahmat pertobatan dan pengampunan pada hari ini, sehingga dengan demikian kita dapat bersama Dia pada akhir zaman, bilamana seluruh bumi akan menghadapi penghakiman terakhir.
Allah memenuhi setiap saat dengan rahmat-Nya. Pertanyaannya adalah apakah kita mempunyai keinginan untuk menanggapi. Maukah kita memperkenankan Roh-Nya untuk memurnikan diri kita dari segala sesuatu yang tidak dapat berdiri tegak di dalam terang kekudusan-Nya? Maukah kita memperkenankan baptisan kita ke dalam Kristus menjadi  semakin berakar dalam diri kita pada hari ini (Rm 6:3-11)? Salib Yesus adalah penghakiman Allah atas setiap motif dalam hati manusia yang tidak murni, mementingkan diri sendiri, dan angkuh. Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan salib-Nya terus-menerus menghakimi dosa kita, bahkan ketika salib-Nya itu menghibur kita dengan janji belas kasihan dan penyelamatan-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, pimpinlah diriku selalu. Tolonglah aku agar mempercayai-Mu lebih dan lebih lagi. Ingatkanlah aku, ya Tuhan, akan segala apa yang Engkau telah perbuat bagiku, sehingga dengan demikian iman-kepercayaanku kepada-Mu dapat menular juga kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 15:12-34), bacalah tulisan berjudul “IKUT AMBIL BAGIAN DALAM KEMENANGAN YESUS ATAS MAUT” (bacaan untuk tanggal 2-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015.
Cilandak,  30 Oktober 2015
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Oktober 31, 2015

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS – Minggu, 1 November 2015) 
KHOTBAH DI BUKIT - 501
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surge. (Mat 5:1-12a) 

Bacaan Pertama: Why 7:2-34, 9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3 
Berbicara mengenai orang-orang kudus, Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153]  pernah mengatakan, “Aku mengaku bahwa hatiku terbakar dengan hasrat mendalam pada saat aku mengingat mereka.” Namun, sementara kita sedang terkagum-kagum mengenang hidup para kudus, belum tentu kita juga serta-merta mau mengikuti gaya hidup mereka – yang seringkali bukan merupakan hidup penuh kenyamanan, sukses, atau dikagumi dan dihormati masyarakat pada umumnya. Kita seringkali bertanya di dalam hati bagaimana orang-orang kudus ini dapat menjalani suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri dan penuh dedikasi.
st-joan-of-arc-execution-1431
Ada film tentang S. Jeanne d’Arc [1412-1431] yang menggambarkan orang kudus ini sebagai seorang pribadi yang sangat berani, tabah, dan taat pada panggilan Allah dalam hidupnya. Akan tetapi, di atas atribut-atribut ini, film tersebut menunjukkan, bahwa dengan berjalannya waktu Jeanne semakin bertumbuh dalam keintimannya dengan Allah sebagai seorang Pribadi yang dapat diandalkannya pada setiap tahap kehidupannya. Penghiburan dan dorongan yang datang dari relasi kesehariannya dengan Allah sungguh menguatkan niat-niat luhurnya dan memberdayakannya untuk tetap memegang kebenaran sampai titik akhir.

Inilah rahasia dari para kudus dan inilah juga rahasia yang dapat disyeringkan kepada kita semua. Kita semua dapat mengenal Bapa, Putera dan Roh Kudus secara intim dan pribadi. Kita dapat menerima sabda-Nya yang menghibur dan menguatkan selagi kita bertumbuh dalam doa, menerima sakramen-sakramen secara teratur, membaca Kitab Suci, dan terlibat dalam persekutuan antara sesama anggota tubuh Kristus.
Kita semua telah dipanggil untuk menjadi serupa dengan orang-orang yang disebut bahagia oleh Yesus dalam “Sabda/Ucapan Bahagia-Nya” di atas – miskin dalam roh (TB II LAI: “miskin di hadapan Allah”), lapar dan haus akan kebenaran, berbelaskasihan, suci hatinya, yang membawa damai. Dan panggilan ini disertai sebuah janji: Setiap orang yang mencoba untuk hidup seturut “Sabda/Ucapan Bahagia” Yesus dapat menjadi orang kudus yang hidup.
mahatma-gandhi1
Sekarang, marilah kita tidak membatasi pandangan kita tentang “orang-orang yang berbahagia” atau “orang-orang yang terberkati” hanya terhadap mereka yang menjadi para pengikut Kristus seperti kita. Ada banyak orang yang cocok dengan gambaran dalam “Sabda/Ucapan Bahagia” Yesus tersebut, bahkan mereka yang berasal dari kelompok-kelompok yang beriman lain. Mereka pun dikasihi dan diberkati oleh Allah. Semua orang yang miskin dalam roh, yang berdukacita, yang menderita demi Kerajaan Allah akan mengenal Kerajaan itu melihat Allah. Ini sungguh merupakan sebuah janji yang indah!

DOA: Bapa surgawi, kuatkanlah hasratku akan Engkau, dengan demikian aku dapat merangkul hidup kemiskinan, kelemah-lembutan, dan kasih agar sungguh-sungguh dapat berada bersama Engkau. Tolonglah diriku agar dapat menjadi seorang kudus seturut rencana-Mu pada saat Engkau menciptakanku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS [6]” (bacaan tanggal 1-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 
Cilandak, 30 Oktober 2015 [B. Angelus dr Acri, Imam Biarawan] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Oktober 30, 2015

TUAN RUMAHLAH YANG AKAN MENENTUKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Sabtu, 31 Oktober 2015) 
Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004
Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004
Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:1,7-11) 
Bacaan Pertama: Rm 11:1-2a,11-12,25-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:12-15
Dengan latar belakang perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi, Lukas melanjutkan pengajaran Yesus tentang pesta. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak seorang pun dari para hadirin akan mengalami kesulitan untuk memahami perumpamaan tersebut. Kelihatannya perumpamaan itu berada pada tingkat nasihat duniawi tentang bagaimana sampai kepada posisi puncak pada meja dengan mengawalinya dari posisi bawah, dan bagaimana menghindari tindakan memulai di posisi puncak hanya untuk menemukan diri kita digeser ke posisi bawah; namun jika memang itu yang dimaksudkan Yesus, maka hampir dapat dikatakan bahwa itu bukanlah sebuah perumpamaan. Cerita itu bergerak dari hal-hal yang familiar kepada hal-hal yang tidak familiar; Yesus menggiring para pendengar-Nya melalui metafora pesta perkawinan sampai kepada pandangan sekilas lintas tentang Kerajaan Allah, untuk memahami bagaimana kehormatan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang sungguh rendah hati.
Nasihat yang ditawarkan Yesus bersifat sederhana dan langsung: apabila engkau diundang ke pesta perkawinan, jangan terburu-buru mengambil tempat kehormatan pada meja perjamuan: para tamu terhormat akan tiba di tempat pesta belakangan, dan kita harus memberi tempat kepada mereka; dengan demikian kita berada dalam situasi di mana kita dipermalukan …… berjalan melewati tempat-tempat lain yang telah diisi, dan akhirnya kita mengambil tempat paling bawah pada meja perjamuan. Jadi, daripada memusatkan perhatian kita pada tempat terhormat, ambillah tempat terbawah sehingga dengan demikian ketika tuan rumah masuk ke ruang perjamuan dan melihat kita, maka dia akan menghormati kita di depan para hadirin dengan membimbing kita ke tempat yang lebih tinggi. Karena kita masing-masing adalah tamu pada pesta perjamuan, maka serahkanlah kepada tuan rumah untuk menentukan siapa saja yang pantas menduduki tempat-tempat terhormat, karena ini adalah perjamuannya, maka hal tersebut adalah privilesenya.
YESUS MAKAN BERSAMA ORANG FARISI
Pada pembacaan awal, kata-kata Yesus kelihatannya menawarkan suatu cara yang terkalkulasi dan cerdik, yang menjamin bahwa kita (anda dan saya) akan memperoleh posisi top jika saja kita memainkan power-game dengan cara yang  cocok-manis, tidak hanya akan membuat kita mencapai posisi top, tetapi setiap orang dengan gamblang akan melihat kita naik sampai ke posisi puncak itu. Kemudian kita dapat duduk dan diam-diam memberi selamat kepada diri kita sendiri karena berhasilnya strategi kita. Namun pendalaman lebih lanjut atas teks Injil ini akan meratakan tafsir yang baru saja dikemukakan tadi: orang yang meninggikan dirinya sendiri – apakah melalui cara-cara kasar dengan merebut posisi  atau secara halus lewat insinuasi – akan direndahkan. Jadi, apabila seseorang mengambil tempat paling rendah bukan karena dia percaya bahwa posisi itu adalah memang diperuntukkan baginya, melainkan sebagai hitung-hitung untuk mempengaruhi sikap tuan rumah untuk memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi, maka orang itu akhirnya akan terdampar dalam posisi yang memalukan, yaitu ditinggalkan dalam posisi terendah tadi. Kerendahan hati bukanlah masalah memainkan power game yang cantik, melainkan masalah mengakui kebenaran bahwa karena kita diundang (artinya sebuah privilese), maka peranan Allah-lah – bukan peranan kita – untuk memilih tempat duduk kita dalam pesta perjamuan yang diadakan.

Di sini Yesus samasekali tidak memberikan sebuah ringkasan kursus tentang “etiket pada perjamuan makan”; Ia mengundang para pendengar-Nya untuk bergerak melalui contoh sebuah pesta perjamuan yang familiar di telinga para pendengar-Nya untuk sampai kepada pemahaman sebenarnya perihal kehormatan sejati dalam Kerajaan Allah. Seorang pribadi yang akan ditinggikan dalam Kerajaan Allah bukanlah orang yang telah merekayasa jalannya menuju posisi puncak, melainkan seseorang yang mengakui bahwa kehormatan dalam Kerajaan Allah akan diperolehnya (datang kepadanya) pada waktu Sang Tuah Rumah (Allah) sendiri mengakui hal tersebut, bukan pada waktu seorang tamu mengganggapnya demikian. Kehormatan dalam Kerajaan Allah dianugerahkan sesuai dengan apa yang sudah diungkapkan dalam Kidung Maria (Magnificat): “(Ia) menceraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:51b-53).
DOA:  Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menaruh kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi hari ini dan tolonglah aku untuk mengasihi dan memperhatikan siapa saja yang Kautempatkan pada jalan hidupku hari ini. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1,7-11), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH KITA MENJADI LEBIH SERUPA LAGI DENGAN YESUS?” (bacaan tanggal 31-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 29 Oktober 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Oktober 29, 2015

ISTIRAHAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 30 Oktober 2015) 
jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom
Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 
Sekali lagi, Yesus menemukan diri-Nya di tengah-tengah kontroversi tentang penyembuhan di hari Sabat. Orang-orang Farisi yang berkonfrontasi dengan Yesus berpijak pada tafsir sangat sempit tentang perintah-perintah Allah, yang menggiring mereka pada kecurigaan terhadap diri Yesus dan mencari kesempatan untuk menjebak-Nya. Di lain pihak, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar mereka tentang inti pokok dari hukum Allah, yang adalah belas kasih dan penyembuhan.
Ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air – suatu penyakit yang disebabkan oleh banyaknya cairan dalam tubuh yang mungkin berkaitan dengan suatu kondisi jantung – maka Dia sekali lagi mengkonfrontir pemahaman sempit orang-orang Farisi tentang cara-cara atau jalan-jalan Allah. Aplikasi sempit dari hukum Sabat tidak memberi ruang sedikit pun bagi kasih dan belas kasih yang merupakan fondasi dari setiap perintah Allah. Yesus langsung saja mempersoalkan kekakuan tafsir/sikap dari orang-orang Farisi tersebut. Jika orang yang berakal sehat saja akan menyelamatkan anak atau hewan peliharaannya yang terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat, apalagi Allah yang begitu berhasrat untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang membutuhkan pertolongan di mana dan kapan saja? Dari semua hari sepanjang pekan, justru hari Sabat-lah yang paling pas bagi para anak Allah untuk menerima sentuhan penyembuhan-Nya. Lagipula, bukankah Allah selalu menginginkan kita masuk ke dalam istirahat-Nya?
CELAKALAH ENGKAU KATA YESUS
Istirahat Sabat yang diinginkan oleh Allah bagi kita datang dari suatu pengalaman akan kasih-Nya yang intim – suatu keintiman yang menempatkan damai-sejahtera dalam hati kita, apa pun sikon yang kita hadapi. Yesus datang untuk melakukan inaugurasi atas istirahat Sabat ini di atas bumi melalui penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Sebagai umat-Nya, Gereja, kita sekarang dapat mengalaminya secara lebih mendalam.  Dalam keintiman ini, kita mengenal Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Ia juga Mahaperkasa, dan kita tahu bahwa kita adalah milik-Nya. Kita belajar untuk menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita dan kita menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan-Nya.

Bagaimana kita mengalami istirahat Allah? Unsur atau elemen yang paling esensial adalah doa, yang menempatkan kita ke dalam kontak dengan realitas-realitas Kerajaan Allah. Selagi kita membuka diri kita bagi Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan hidup sakramental dalam Gereja, maka hidup Allah mampu untuk meresap ke dalam keberadaan kita secara lebih penuh. Dengan beristirahat dalam Kristus melalui doa dan ketaatan yang diungkapkan dengan rendah hati, kita menjadi lebih yakin akan kasih-Nya bagi kita dan kita menerima sentuhan penyembuhan-Nya secara lebih mendalam.
DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.  Semoga aku dapat masuk ke dalam istirahat-Mu dan mengalami belas kasih dan kesembuhan daripada-Mu. Tolonglah aku agar supaya dapat melihat bahwa kasih itu berada di jantung setiap hukum-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “DISEMBUHKAN UNTUK MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG UTUH” (bacaan tanggal 30-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 
Cilandak, 27 Oktober 2015
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS