Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Mac 20, 2017

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 21 Maret 2017) 
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.
Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 
Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9
Kebanyakan kita tentunya setuju, bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan. Namun demikian, dalam perumpamaan di atas Yesus menjelaskan, bahwa pengampunan adalah salah satu aspek kehidupan yang fundamental dalam kerajaan Allah. Pada kenyataannya, Yesus mengatakan bahwa apabila kita ingin mengetahui, mengenal serta mengalami damai-sejahtera dan sukacita kerajaan Allah, maka kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita, dan mengampuni seringkali.
Ajaran Yesus selalu saja menantang pemikiran-pemikiran “normal” manusia, misalnya “kasihilah musuh-musuhmu”, atau “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” dan lain-lain sebagainya. Sekarang, mengenai pengampunan. Mengapa begini? Karena hidup Kristiani itu dialaskan pada pengampunan yang dengan bebas diberikan kepada orang-orang yang sesungguhnya “tak pantas” untuk diampuni, yaitu kita semua. Belas kasih adalah konstitusi dan piagam kerajaan Allah, dan tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengalami berkat-berkat kerajaan itu tanpa ikut saling mengampuni satu sama lain, pengampunan yang begitu bebas diberikan oleh-Nya kepada kita masing-masing.
Kata-kata Yesus tentang pengampunan bukan sekadar teoritis. Kalau kita tidak/belum mengampuni seseorang, maka pada saat kita mengingat orang itu kita pun akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Denyut jantung kita menjadi lebih cepat. Napas kita juga menjadi lebih cepat. Tubuh kita menjadi tegang, dan wajah kita pun tampak tambah jelek-loyo. Dalam pikiran kita pun bermunculanlah “flashbacks” peristiwa atau peristiwa-peristiwa ketika kita didzolimi, berulang-ulang. Bermunculanlah lagi alasan-alasan mengapa orang itu sesungguhnya tidak pantas untuk kita ampuni. Mulailah datang segala macam pemikiran negatif bahwa  semua anggota keluarga dan teman orang itu pun jahat semua. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan diri kita pada tingkat spiritual. Pikirkanlah betapa sulitnya untuk menaruh kepercayaan pada kasih Allah. Juga betapa sulitnya untuk mengalami damai-sejahtera Kristus atau merasakan gerakan-gerakan Roh Kudus; semuanya karena kita tidak mau mengampuni.

Memang ini merupakan suatu gambaran yang suram, namun jangan sampai membuat kita frustrasi. Yang diminta Allah dari kita sebenarnya hanyalah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kita dapat sampai pada tindakan pengampunan, teristimewa pada masa Prapaskah ini. Sediakanlah beberapa menit setiap hari untuk memandang Salib Kristus dalam keheningan, sambil merenungkan bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memperoleh pengampunan bagi kita.
Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menolong anda menemukan jalan untuk sampai pada damai-sejahtera, restorasi relasi dan rekonsiliasi dengan Sang Mahatinggi. Katakanlah pada-Nya bahwa anda sungguh mencoba. Dia tahu bahwa dapat saja anda tidak sampai menuntaskan segalanya dalam jangka waktu yang singkat, namun dengan mengambil beberapa langkah ke arah yang benar, anda akan memberikan kesempatan kepada Allah untuk melakukan mukjizat dalam kehidupan anda.
DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah perwujudan belas kasih Allah sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk berjalan di jalan belas kasih-Mu, agar akupun dapat mengalami kebebasan-Mu sendiri. Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk mengampuni mereka yang  bersalah kepadaku. Amin.
Sumber :

Ahad, Mac 19, 2017

YUSUF PUTERA DAUD

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SANTO YUSUF, SUAMI SP. MARIA – Isnin, 20 Mac 2017)
            SANTO YUSUF
Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau  akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Mat 1:16.18-21.24a)
Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-5a,12-14a,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27-29; Bacaan Kedua: Rm 4:13.16-18,22
Pada hari ini Gereja menghormati salah seorang yang paling rendah hati dalam Kitab Suci. Walaupun cerita Yusuf (Yosef) hanya ada sedikit sekali dalam narasi-narasi Injil, kebenaran dirinya terang bercahaya di setiap ayat yang menyangkut dirinya.
Allah memang selalu bekerja dengan cara-cara yang indah namun penuh misteri. Dalam kasus ini Allah memilih seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret untuk menjadi “ayah angkat” bagi Putera-Nya yang tunggal, yang berasal dari keabadian. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seorang sederhana diberi tugas untuk memelihara dan mendidik Putera Allah? Sebagian besar dari semua ini adalah misteri, namun kita tahu bahwa bilamana Allah memanggil seseorang untuk melakukan sesuatu, maka Dia akan mencurahkan segala rahmat yang diperlukan untuk melaksanakan tugas itu.
Yusuf adalah seorang pribadi yang mempunyai iman matang, yang percaya sepenuhnya kepada penyelenggaran ilahi. Terasa bahwa Yusuf bukanlah orang yang suka banyak bicara, namun tindakan-tindakannya speak louder ketimbang khotbah-khotbah, wejangan-wejangan dan berfalsafah tentang sejarah Kristianitas. Pada awal kehidupan Yesus di dunia, ketika penebusan kita-manusia sudah di depan mata, kita membaca tentang seorang laki-laki yang kekuatannya, dapat dipercayanya, dan kerendahan hatinya berdiri tegak sebagai sebuah tanda ciptaan baru yang akan dibuat mungkin oleh Yesus bagi kita semua melalui salib-Nya.
Allah berbicara kepada Yusuf lewat seorang malaikat dalam mimpi-mimpi, dan setiap kali Yusuf mendengar dari sang malaikat, dia segera mengikuti arahan-arahan dari Allah (lihat Mat 1:20-24; 2:1-23). Situasi-situasi yang dihadapi oleh Yusuf sangatlah sulit. Pada saat kunjungan malaikat yang pertama, Allah memberitahukan Yusuf tentang Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan bahwa dia tak usah merasa takut untuk mengambil anak dara ini sebagai istrinya. Tentu saja dia telah mengalami godaan untuk merasa ragu dan prihatin mengenai apa yang akan dipikirkan dan dikatakan oleh orang-orang lain. Akan tetapi, tanpa bertanya-tanya agar lebih memahami masalah yang dihadapi – tanpa satu pertanyaan pun, Yusuf bertindak secara menentukan.
Sebagaimana halnya dengan Yusuf, kita juga dipanggil untuk menjadi para penerima rahmat Allah, kuasa-Nya yang memampukan kita taat kepada-Nya. Marilah kita membuka diri kita bagi kehendak Allah. Kita dapat mendengar Allah berbicara kepada kita pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca serta merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan pada waktu kita berpartisipasi dalam perayaan liturgi, terutama Misa Kudus. Kadang kala situasi-situasi yang kita hadapi memang sulit dan kita tergoda untuk meragukan Allah. Namun kita semua yang sudah dibaptis mempunyai Roh Kudus, yang senang sekali mengajar kita untuk hidup di jalan Allah. Bilamana kita melakukan apa saja seturut kehendak Allah, maka iman kita, pengharapan kita dan keakraban kita dengan Allah akan menjadi matang, dan kita  pun menjadi lebih mampu untuk melaksanakan tugas yang disiapkan-Nya bagi kita.
DOA:  Bapa kami yang di surga, Engkau mengasihi kami dan mempunyai rencana sempurna bagi kehidupan kami. Dalam kasih Engkau memberitahukan rencana-Mu kepada kami; memberikan kepada kami rahmat untuk mendengarkan. Kami tahu bahwa Engkau mempunyai tugas-pekerjaan yang kami harus laksanakan. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk menjadi hamba-Mu atau pelayan-Mu yang taat. Amin.
Sumber :

Sabtu, Mac 18, 2017

BERJUMPA DENGAN YESUS DI DEKAT SUMUR YAKUB

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH III [Tahun A], 19 Maret 2017) 
Lalu sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih karena perjalanan, sebab itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum.” Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Apakah Engkau lebih besar daripada bapak leluhur kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” Jawab Yesus kepadanya, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya, “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan meyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Jawab perempuan itu kepada-Nya, “Aku tahu bahwa Mesias yang disebut juga Kristus, akan datang; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”

Banyak orang Samaria dari kota percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu yang bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal dengan mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Karena perkataan-Nya, lebih banyak lagi orang yang percaya, dan mereka berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yoh 4:5-26,39-42) 
Bacaan Pertama: Kel 17:3-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: Rm 5:1-2,5-8
Catatan awal: Bacaan Injil hari ini sebenarnya adalah Yoh 4:5-42 atau versi yang agak lebih singkat: Yoh 4:5-15,19b-26, 40-42. Petikan di atas adalah mengikuti versi yang lebih singkat, namun dengan tetap memasukkan ayat 16-18 ke dalamnya. 
Yesus sangat letih dan haus pada saat Ia berhenti dan duduk di dekat sumur Yakub di tengah padang gurun Yudea. Yesus tidak membawa apa-apa yang dapat membantu-Nya untuk menimba air dari dalam sumur, oleh karena itu Dia menunggu seseorang yang datang ke sumur itu untuk mengambil air.

Orang pertama yang muncul di TKP adalah seorang perempuan Samaria yang gaya hidup “bebas-liar”-nya menyebabkan dirinya dijauhi oleh masyarakat. Melihat perempuan ini Yesus melakukan sesuatu yang tak terpikirkan, yaitu menawarkan “air hidup” kepada perempuan itu. Air hidup yang ditawarkan oleh Yesus itu memiliki kuat-kuasa untuk membersihkan diri perempuan tersebut dan membuat dirinya utuh. Dengan cara-Nya sendiri, Yesus memberi “rasa haus yang luarbiasa akan Allah” kepada perempuan itu, suatu rasa haus yang tidak dapat ditolaknya. Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang pernah bicara begitu dengan dirinya.
Apakah yang dimaksud dengan “air yang dapat mengubah hidup” itu? Santo Hipolitus [+235] menjelaskannya seperti berikut: “Ini adalah air Roh … Ini adalah air dari baptisan Kristus; ini adalah hidup kita. Apabila anda pergi dengan iman ke sumber air yang memperbaharui ini … maka anda berhenti menjadi seorang budak dan menjadi seorang anak angkat; anda datang dengan memancarkan sinar cahaya seperti matahari dan dipenuhi dengan keadilan; anda datang sebagai seorang anak Allah dan mitra-pewaris bersama Kristus” (Tentang Epifani).
Keindahan dari “air hidup” adalah bahwa “air hidup” ini tetap mengalir. Dari saat kita dibaptis ke dalamnya, “air hidup” tersebut itu tersedia bagi kita setiap hari. Ini merupakan hal yang baik juga. Hidup di dunia ini memang menghadapkan kita pada berbagai tantangan. Demikian pula godaan dan dosa sungguh mengancam sehingga kita tidak jarang merasa hampir putus asa, bahkan sampai jatuh kedalamnya. Di lain pihak kita sungguh dapat merasa nyaman karena mengetahui fakta bahwa diri kita dapat disegarkan kembali setiap saat kita berbalik kepada Tuhan.
Hal luarbiasa mengenai meminum “air hidup” dari Yesus adalah bahwa walaupun Ia memuaskan rasa haus kita, pada saat yang sama Dia juga secara misterius meningkatkan rasa haus kita. Jika kita minum satu teguk saja “air hidup” dari Yesus itu, maka kita ingin minum satu teguk lagi dst. Kasih Yesus begitu memberi kepuasan, sehingga kita ingin meminumnya lagi dalam jumlah sebanyak-banyaknya, seakan-akan tidak pernah cukup.
Semoga kita semua tidak pernah berhenti meminum dari sumber “air hidup” ini, karena hanya dari Sumber itulah kita akan memperoleh penyembuhan dan penyegaran kembali yang begitu kita dambakan.
DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena “air hidup” yang Kauberikan kepada kami. Dalam perayaan Ekaristi pada hari Minggu ini, aku ingin meminumnya dalam iman dan penuh penyerahan-diri. Amin.
Sumber :

Jumaat, Mac 17, 2017

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG AYAH YANG SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 18 Maret 2017) 
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan saehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3.11-32) 
Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4.9-12 
Perumpamaan yang indah ini mengajarkan kepada kita betapa mendalamnya kasih Bapa surgawi kepada kita semua, juga relasi macam apa yang Ia kehendaki terjalin dengan kita. Meskipun anak yang bungsu “jauh” dari ayahnya dan anak yang sulung “dekat”, sesungguhnya kedua-duanya tidak mengalami secara penuh kasih ayah mereka. Anak yang bungsu memang pada akhirnya melihat dan mengalami sendiri betapa ayahnya sangat mengasihi dirinya. Dalam kasus anak yang lebih tua, halnya tidaklah begitu jelas.
Sang ayah menyapa anaknya yang sulung dengan kata “anakku” (lihat Luk 15:31). Si anak sulung ini malah memandang dirinya terlebih-lebih sebagai seorang hamba sahaya/pekerja daripada sebagai seorang putera ayahnya (lihat Luk 15:29). Dia bekerja untuk upah, bukan karena mengasihi ayahnya. Meskipun dia adalah seorang anak sulung “boss” (dalam hal ini “boss” bukan berarti “bekas orang sakit syaraf”), suatu hal luput dari pengamatannya, yaitu segala kebaikan yang diperolehnya karena mempunyai seorang ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya. Demikianlah, dengan cara yang serupa, Allah menginginkan kita untuk mengetahui dan menikmati suatu relasi dengan Dia sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya. Ini memang adalah niat-Nya bagi kita sejak sebelum dunia dijadikan (lihat Ef 1:5; Gal 4:5; 1Yoh 3:1). Sekarang kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing, berapa seringnya sih kita secara sukarela sungguh datang menghadap Allah untuk mengalami hubungan seperti ini? Sebagai anak-anak yang sangat dikasihi ayah kita? Kepada anaknya yang sulung sang ayah juga berkata: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku” (Luk 15:31). Allah menginginkan agar kita mengetahui bahwa Dia hadir di tengah-tengah kita senantiasa. Dia sungguh rindu agar kita – anak-anak-Nya – diam bersama-Nya selama-lamanya, agar Dia dapat melimpahkan kasih-Nya kepada kita, seperti yang telah dilakukan sang ayah terhadap anaknya bungsu yang telah kembali kepadanya. Mengenal dan mengalami kasih Allah dapat menghasilkan sukacita dan kebebasan dalam diri kita, sesuatu yang akhirnya disadari oleh si anak bungsu. Akhirnya, sang ayah berkata kepada si anak sulung: “Segala milikku adalah milikmu” (Luk 15:31). Dalam Yesus, Allah telah memberikan kepada kita hak untuk turut mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Allah telah memberikan segalanya kepada kita – tidak hanya yang kita butuhkan demi keselamatan. Ia menginginkan agar kita mempunyai suatu relasi personal dengan diri-Nya melalui Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Marilah kita memuji Allah Bapa kita untuk segalanya yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita, dan marilah kita berdoa agar dapat mengalami apa yang dikehendaki oleh Bapa atas diri kita sejak semula.
DOA: Bapa surgawi, kami menyembah Dikau, memuji Dikau, dan bersyukur kepada-Mu karena Dikau memperlakukan kami sebagai anak-anak-Mu terkasih, karena kami dapat diam bersama-Mu untuk selama-lamanya, juga karena Dikau telah memberikan segalanya kepada kami. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah kami agar dapat menerima kasih-Mu dengan rendah hati dan terbuka. Amin. 
Sumber :

Khamis, Mac 16, 2017

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 17 Maret 2017)
“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46)
Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 
Apakah yang anda akan lakukan apabila Direktur Utama merangkap CEO sebuah perusahaan besar dan sukses di mana anda bekerja sebagai anggota Direksi mendelegasikan otoritasnya secara khusus kepada anda, di mana kepada anda diberikan kendali penuh atas operasi perusahaan menggantikan dirinya selama dia menjalani cuti panjang yang cukup lama  ke Eropa dan Amerika Serikat? Setelah berhasil keluar dari shock anda, bukankah anda akan bekerja keras dan sebaik-baiknya untuk membuat operasi perusahaan anda mencapai tujuannya dengan baik, misalnya dalam hal pertumbuhan penjualan, laba perusahaan dlsb.? Paling sedikit untuk memberi kesan yang baik di mata sang CEO, bukan? Pokoknya anda akan berupaya to work hard and smart!
Kepengurusan sebuah perusahaan adalah suatu tugas terhormat, apalagi kepengurusan (stewardship) kebun anggur Allah sendiri, yang lebih terhormat lagi. Sulit untuk membayangkan bagaimana seseorang yang dipercayakan dengan tugas terhormat seperti itu dapat menyalahgunakan privilese-privilese tugas tersebut dan kemudian malah berbalik melawan sang CEO (Chief Executive Officer – Eksekutif puncak, contohnya Presiden R.I. dalam hal Republik kita tercinta). Justru inilah masalah yang dikemukakan oleh Yesus dalam perumpamaan ini, ketika Dia bercerita mengenai para penggarap kebun anggur yang jahat itu.
Sejarah telah menunjukkan kepada kita saat-saat di mana para pemimpin Gereja gagal dalam memenuhi panggilan mereka, dan setiap kali terjadi hal seperti itu, setiap warga Gereja menderita. Akan tetapi, daripada kita menghakimi para pemimpin Gereja, barangkali lebih baik bagi kita untuk mempertimbangkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin Gereja tersebut. Terkadang sungguh menggoda jadinya apabila seseorang mengikut arus daripada berdiri tegak atas standar moral yang kokoh! Seringkali karena harus menanggung berat pekerjaan yang dibebankan ke atas diri mereka, terasa merasa harus memikul beban seluruh dunia di atas pundak mereka. Mereka mengetahui bahwa mereka harus mendengarkan bisikan Roh Kudus, namun berbagai macam tuntutan dari orang-orang dan tugas-tugas kadang-kadang menghalangi kemampuan mereka untuk mendengar “suara kecil” yang berbicara dalam doa dan Kitab Suci.
Apabila kita tetap memikirkan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para pemimpin Gereja, maka kita akan kurang berkecenderungan untuk mengkritisi mereka yang telah dipanggil Allah untuk menjaga serta memperhatikan umat-Nya. Tentu saja kita akan mampu untuk menyebutkan contoh-contoh uskup, prelat dan imam yang telah “gagal” dalam mewujudkan panggilan Allah bagi mereka masing-masing. Namun daripada mengutuk-ngutuk atau pun bergosip-gosip ria, marilah kita mendukung mereka, berdoa bagi kedamaian dan perlindungan-Nya atas diri mereka.
Barangkali kita juga dapat melakukan hal-hal tertentu guna mendukung pribadi-pribadi yang dipanggil untuk menjadi pemimpin-pemimpin Gereja. Bagaimana? Dengan menghadapi dan menjalani kehidupan Kristiani kita sepenuh mungkin. Bayangkanlah hal-hal baik yang dapat berdampak positif terhadap hati para pemimpin kita karena melihat umat awam menghayati dengan serius kehidupan Injili dengan cara yang mampu mentransformasikan kehidupan. Maka, bersama dengan para pemimpin Gereja, marilah kita menjadi warga-warga Kerajaan Allah yang berbuah, sehingga Gereja akan menjadi terang yang sungguh cemerlang, yang mampu menarik orang-orang kepada kasih Kristus.
DOA: Bapa surgawi, kami mohon perlindungan-Mu atas semua pemimpin Gereja. Kami menyadari segala kesulitan dan godaan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, kami mohon Engkau sudi mendorong serta menyemangai mereka dan memperbaiki mereka lewat Roh Kudus-Mu, sehingga mereka dapat memimpin segenap umat-Mu dalam kekudusan. Amin.
Sumber :

Rabu, Mac 15, 2017

PERUMPAMAAN TENTANG LAZARUS DAN SI ORANG KAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 16 Maret 2017) 
“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyjukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar maereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6  
Yesus rindu untuk membebas-merdekakan hati kita dari perbudakan dosa dan memulihkan persatuan kita dengan Bapa surgawi. Dalam perumpamaan tentang “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” yang ditulis hanya oleh Lukas ini, Yesus tidak saja mengilustrasikan kasih Allah bagi orang miskin, melainkan juga Dia mengungkapkan hasrat Bapa surgawi untuk membebaskan kita dari tipu muslihat dan perbudakan dosa.
Dosa orang kaya itu tidak hanya cintanya akan uang, melainkan juga cinta-diri. Walaupun dari kedalaman alam maut, si kaya masih saja dikuasai oleh dorongan hatinya untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri: “Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Luk 16:24). Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dirinya menyesali dosa ketamakannya; dia masih menginginkan agar orang-orang lain melayani dirinya.
Di sisi lain, si kaya mencari suatu kesempatan untuk melayani saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia, dengan meminta agar Lazarus memperingatkan mereka tentang “tempat penderitaan” di mana dia berada sekarang (lihat Luk 16:28). Apakah hal ini mencerminkan suatu perubahan hati? Tidak sampai begitu! Hal ini hanya menunjukkan bahwa selama hidupnya di dunia, si kaya sadar akan kehendak Allah, namun telah memilih untuk mengabaikannya. Sadar bahwa saudara-saudaranya juga mengabaikan sabda Allah, dia menginginkan terjadinya suatu peristiwa yang bersifat supernatural agar dapat menggoncangkan hati mereka sehingga akhirnya menjadi percaya. Jawaban Abraham mematahkan harapan hampanya itu: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Mat 16:31).

Perumpamaan sederhana Yesus ini menunjukkan wawasan sesungguhnya betapa hati manusia dapat mendua atau “salah arah”. Dalam “perjuangan” kita untuk mencapai “kebahagiaan”, kita bekerja dan berjuang; kita akan melakukan hampir segalanya untuk meraih kekayaan, popularitas, atau sukses. Akan tetapi, ketika menyangkut pelaksanaan hal-hal yang berurusan dengan Allah kita dapat berpikir bahwa hampir tidak mungkinlah untuk mentaati-Nya.
Dahulu kala nabi Yeremia berkeluh-kesah: “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer 17:9). Namun janji Allah tetap kokoh-kuat: Apabila kita memohon kepada-Nya untuk menyelidiki hati kita, maka Dia akan mengajar kita untuk hidup seturut sabda-Nya. Maka, kita akan seperti pohon yang ditanam di tepi air” (lihat Yer 17:8; bdk. Mzm 1:3).
DOA: Tuhan Yesus, biarkanlah Roh-Mu menyelidiki hati kami dan mencabut segala kecintaan kami akan segala hal yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbuah dan hidup dalam Engkau dan menempatkan hal-hal Kerajaan-Mu di atas segala hal yang lain. Amin.
Sumber :

Selasa, Mac 14, 2017

BELAJAR DARI PENGALAMAN YAKOBUS DAN YOHANES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Rabu, 15 Maret 2017) 
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28) 
Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16 
Dalam perjuangan kita masing-masing untuk hidup sebagai seorang Kristiani yang bukan sekadar di KTP, sering kali kita harus berurusan dengan sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri. Semoga cerita mengenai dua bersaudara anak-anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes, dapat memberikan pelajaran dan pengharapan bagi kita semua. Kedua orang ini adalah contoh sempurna dari orang-orang yang mengalami pertempuran berkesinambungan antara kodrat manusia yang cenderung buruk dan kodrat baru yang tersedia bagi setiap orang dalam Yesus.
Yakobus dan Yohanes adalah murid-murid terdekat Yesus. Mereka telah banyak berkorban untuk mengikuti Yesus, karena ayah mereka Zebedeus kelihatannya adalah nelayan cukup berada. Tetapi untuk pengorbanan-pengorbanan mereka itu Allah memberi ganjaran yang sepadan. Mereka tidak hanya diberi privilese untuk menjadi saksi dari mukjizat-mukjizat Yesus, melainkan juga  kemuliaan-Nya di atas gunung (lihat Mat 17:1-8). Sudah cukup lama dua kakak-beradik ini bergaul akrab dengan Yesus, namun tokh mereka masih datang dengan permintaan yang “nggak-nggak”, aneh dan terdengar agak kurang-ajar tentunya, apalagi dengan memanfaatkan juga bantuan (pengaruh?) Nyonya Zebedeus, mungkin agar hati Yesus menjadi lunak. Menghadapi sikap dan perilaku murid-murid seperti ini, kebanyakan guru tentunya akan merasa frustrasi atau marah besar. Tidak demikian halnya dengan sang Guru! Yesus tidak marah, malah Ia menggunakan kesempatan ini untuk mengajar para murid tentang jalan menuju keagungan yang sejati (lihat Mat 20:25-28).
Yakobus dan Yohanes telah terjebak dalam pemikiran dan sikap yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, namun puji Tuhan, hal ini hanya berlangsung tidak untuk waktu yang lama (Bagaimana dengan kita?). Kita tahu bahwa dua kakak beradik ini terus berfungsi sebagai pilar-pilar Gereja. Kita semua harus belajar dari mereka! Walaupun kita telah “keluar rel”’, Allah bekerja dalam diri kita masing-masing untuk memisahkan daging dari roh – dosa dari kebenaran – di dalam diri kita. Dia tahu benar tentang segala dosa kita, namun tetap mengasihi kita dan terus mengajar kita, presis seperti Dia tetap setia bersama Yakobus dan Yohanes.
Allah ingin menunjukkan kepada kita segala dosa kita sehingga kita akan semakin teguh berpegang pada-Nya. Allah dapat membebaskan kita dari segala sesuatu yang menghalang-halangi kita untuk dekat dengan Dia. Yang diminta-Nya dari diri kita masing-masing adalah agar meninggalkan kedosaan kita dan berbalik datang kepada-Nya dalam kepercayaan dan ketaatan. Dari pengalaman kita masing-masing, tentunya kita dapat mengatakan bahwa permintaan-Nya ini sungguh tidak mudah untuk dilaksanakan. Yesus menawarkan kepada kita “cawan” sama dengan yang telah ditawarkan-Nya kepada Yakobus dan Yohanes (Mat 20:22). Ini adalah sebuah cawan penderitaan, pada saat yang sama “cawan berkat”. Selagi kita minum dari cawan ini, kita akan mengetahui manfaat-manfaat penuh yang kita nikmati sebagai anak-anak Allah. Kita akan mengenal Bapa surgawi secara akrab seperti Yesus mengenal secara akrab Bapa-Nya, walaupun selagi kita melihat dengan lebih jelas dosa-dosa kita dan segala pemberontakan kita terhadap Dia. Marilah kita membuka hati kita masing-masing dan memperkenankan Yesus untuk mengungkapkan dosa-dosa kita sehingga kita dapat dipenuhi dengan rahmat dan kasih-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat mengalami kasih-Mu setiap hari. Aku membawa semua dosaku ke hadapan hadirat-Mu agar Engkau dapat memurnikan aku dan mengajar aku untuk mengikuti jejak-Mu. Amin.
Sumber :

Isnin, Mac 13, 2017

YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 14 Maret 2017) 
Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23
Mengapa Yesus kelihatan sedemikian “sewot” dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang selalu saja menentangnya dan dengan menggunakan berbagai cara ingin menjebak serta menjatuhkan-Nya? Apakah kecemburuan dan iri hati mereka itu disebabkan karena Yesus ingin mengubah hal-hal yang “tidak pas” dalam masyarakat Yahudi, teristimewa yang berhubungan dengan adat-istiadat dan praktek keagamaan mereka? Atau, apakah karena mereka adalah contoh dari para religius ultra-konservatif, yang terus mau berpegang pada ide-ide “Perjanjian Lama” yang sudah “kuno”? Samasekali bukan! Justru karena orang-orang inilah yang memegang peranan penting dalam masyarakat, maka Yesus menegur mereka dengan keras sekali! Kepada mereka dipercayakan Hukum Musa, batu penjuru bagi Israel sebagai bangsa dan umat. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk itu, dan rakyat memandang mereka sebagai orang-orang yang sungguh memahami tradisi suci Israel.
Namun sungguh sayang sekali, para ahli Taurat dan Farisi ini telah salah jalan dalam mengemban tugas mereka. Barangkali kekuasaan telah membutakan mata mereka sehingga berpikir bahwa mereka superior ketimbang orang-orang lain. Barangkali para ahli Taurat dan Farisi itu tidak melihat bahwa mereka sebenarnya telah mulai menempatkan posisi mereka yang terhormat sebagai “yang lebih utama” daripada tanggung jawab mereka untuk melayani umat Allah. Yesus tidak bermaksud memojokkan mereka karena mereka mengajar Hukum Taurat, melainkan karena kehidupan mereka sama sekali tidak mencerminkan kerendahan hati yang justru coba diajarkan oleh Hukum Taurat.
Hampir semua yang diajarkan Yesus berkisar pada hal-ikhwal kerendahan hati. Dia ingin agar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) memahami betapa pentingnya menjadi jujur di hadapan Allah. Seperti unta yang tidak dapat melewati pintu gerbang kota, kita juga tidak akan bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya, kalau kita tidak menolak “kekayaan” berupa “kesombongan” atau “kebanggaan palsu” kita (lihat Mat 19:24). Kalau kita tidak mengakui kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita, maka kita pun akan berjalan dalam kegelapan rohani (Mat 6:23), dan kita tidak akan mampu menolong para saudari dan saudara kita yang patut ditolong (lihat Mat 7:5).

Alasan sesungguhnya mengapa Yesus sangat menginginkan kita menjadi rendah hati adalah karena kita juga penting! Ia mempunyai suatu pekerjaan penting untuk kita lakukan. Rasul Paulus menulis, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef 1:5), sehingga ……“boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef 1:12). Apabila kita merangkul kerendahan-hati Yesus, maka kita akan mencerminkan rahmat-Nya dan menjadi bejana-bejana kuasa-Nya. Apabila kita memuji-muji dan menyembah Yesus dengan ketulusan hati, maka Dia pun akan memenuhi diri kita dengan cintakasih-Nya dan akan menarik orang-orang kepada-Nya melalui diri kita. Ganjaran terbesar bagi kita bukanlah memperoleh pengakuan dunia, melainkan untuk “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mzm 91:1), untuk mengenal dan mengalami cintakasih-Nya, serta mensyeringkan cintakasih-Nya itu dengan orang-orang lain.
DOA: Tuhan Yesus, aku datang ke hadapan hadirat-Mu sebagai apa adanya diriku, tidak sebagaimana orang-orang lain memandang diriku. Tolonglah aku untuk mengenali serta mengakui kebesaran-Mu, sehingga Engkau menjadi semakin besar, tetapi aku menjadi semakin kecil. Amin. 
Sumber :

Ahad, Mac 12, 2017

AJARAN YESUS ADALAH AGAR KITA MENCONTOH SIFAT ALLAH YANG PENUH DENGAN KEMURAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Senin, 13 Maret 2017)
OFM: Peringatan B. Ludovikus dr Casanova, Imam
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:36-38) 
Bacaan Pertama: Dan 9:4b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13  
Sepintas lalu kelihatan di sini bahwa Yesus sepertinya memberikan sebuah daftar yang berisikan sederetan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan atau tidak boleh kita lakukan (do’s and don’ts). Hendaklah kamu berbela rasa … bermurah hati, jangan menghakimi, jangan menghukum. Karena ajaran-ajaran Yesus seringkali termasuk larangan-larangan terhadap perilaku yang merusak, maka tidak mengherankanlah apabila Yesus sering dipandang tidak lebih dari seorang guru moral. Namun orang-orang yang melihat secara lebih mendalam akan melihat bahwa pusat ajaran Yesus bukanlah perilaku manusia. Ajaran-Nya adalah agar para murid-Nya (umat Kristiani) mencontoh sifat Allah yang penuh dengan kemurahan hati.
Apabila kita hendak bermurah hati sama seperti Bapa bermurah hati, kita harus mengetahui  dan mengenal terlebih dahulu kemurahan hati Allah itu seperti apa. Mempraktekkan kemurahan hati yang mengabaikan aspek kesalahan dan tanpa menghiraukan rasa keadilan sungguh berbeda dengan kemurahan hati Allah. Memang kemurahan hati dicirikan oleh bela rasa dan sikap dan perilkau memaafkan orang-orang lain, namun hal ini tak berarti tidak adanya penghakiman bagi para pendosa. Kalau demikian halnya, maka kematian Yesus di kayu salib merupakan kesia-siaan belaka.
Allah adalah “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8), akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Dia menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi. Itulah sebabnya mengapa Dia mengutus Putera-Nya guna menanggung hukuman adil yang pantas bagi kita. Setiap tipu-menipu, setiap pemikiran jahat dan cabul, setiap pembunuhan, setiap kebencian dll. – hukuman untuk setiap dosa itu ditaruh di atas punggung Yesus selagi bergumul dalam taman Getsemani, pada waktu Dia memanggul salib sampai ke bukit Kalvari, dan kemudian tergantung di kayu salib. Hanya orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka dengan cara ini sampai pada pengenalan akan kemurahan hati penuh kelembutan dari Yesus. Dialah yang akan membuang kesalahan mereka dan membersihkan hati nurani mereka.
Allah ingin memberikan kepada kita banyak karunia (anugerah)-Nya. Apakah kita mengalami berkat-berkat ini dalam “takaran yang baik” (lihat Luk 6:38)? Melalui Yesus, Allah ingin mencurahkan kekuatan, konsolasi dan dorongan positif kepada kita semua dari takhta-Nya. Allah ingin melakukan itu lebih daripada yang kita sering harapkan sendiri. Sebenarnya apa yang kita harapkan? Kadang-kadang kita dapat membuat kabur pengalaman kita sendiri akan kemurahan hati Allah, karena kita masih belum bertobat sepenuhnya.
Kalau kita merasa haus dan lapar akan karunia-karunia dari Allah, kita harus memeriksa hati kita. Apakah masih ada dosa yang belum di bawa ke dalam suatu pengakuan yang serius. Apakah kita tidak memiliki bela rasa terhadap sesama? Apakah kita masih cepat dalam menghakimi dan menghukum orang lain? Apakah nafsu-nafsu, kebencian-kebencian atau kebohongan-kebohongan masih menjadi bagian dari pola hidup kita?
Marilah kita bergegas menghadap Bapa surgawi. Dengan rendah hati kita mohon pertolongan-Nya agar kita dapat menerima karunia-karunia-Nya dalam “takaran yang baik”.
DOA: Bapa surgawi, kasihanilah aku orang berdosa ini. Ajarlah aku bagaimana mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi. Ajarlah aku untuk dapat menunjukkan kepada orang-orang lain bela rasa-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar hidupku dapat dipenuhi dengan kebaikan-Mu. Amin.
Sumber :