Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, April 20, 2017

YESUS MENGUNDANG MEREKA UNTUK SARAPAN BERSAMA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH, 21 April 2017) 
Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.”  Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14)  

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Kedua: Kis 4:1-12
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118: 22). Biasanya orang-orang melihat bahwa titik rendah dalam kehidupan Petrus terjadi pada malam hari ketika dia menyangkal mengenal Yesus sebanyak tiga kali (lihat Yoh 18:17, 25-27). Namun demikian ada alasan bagi kita untuk mempertimbangkan apakah setelah kejadian pada malam itu segala hal yang menyangkut Petrus tetap semakin memburuk sebelum sungguh-sungguh menjadi baik.
Ketika Petrus untuk pertama kalinya dipanggil oleh Yesus, dia meninggalkan jala penangkap ikannya untuk kemudian menjadi “penjala manusia” (Mat 4:19). Setelah Yesus bangkit dari dunia orang mati dan menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya, kita mungkin sekali mengharapkan bahwa Petrus akan memulai kembali tugas panggilannya ini dengan penuh semangat. Namun, apakah yang terjadi? Kelihatannya Petrus kembali ke jalan hidupnya yang lama: “Aku mau pergi menangkap ikan” (Yoh 21:3). Karena tidak mempunyai alternatif yang lebih baik, enam orang murid yang lain bergabung dengan dirinya (lihat Yoh 21:3). Mereka pun berangkat lalu naik ke perahu di danau Tiberias, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa (lihat Yoh 21:3). Hal ini tentu menambah rasa kegagalan yang selama ini telah mencekam mereka.

Petrus memang kemudian diubah, yaitu lewat perjumpaannya dengan Yesus yang sudah bangkit. Dari pantai danau Yesus memberi pengarahan kepada para murid-Nya untuk menangkap ikan yang dipenuhi keajaiban, mengingatkan kita akan begitu banyak mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh-Nya ketika melakukan karya pelayanan di tengah-tengah publik (lihat Luk 5:1-11). Akan tetapi, kali ini Petrus secara formal “diangkat kembali” sebagai “Gembala” yang bertugas untuk memelihara domba-domba Yesus (lihat Yoh 21:15-19); dengan demikian dia sungguh-sungguh menjadi “penjala manusia” yang sejati. Inilah kuasa dari kebangkitan Yesus.
Kuasa yang mampu mentransformir dari kebangkitan Yesus diungkapkan bahkan dalam kisah “penangkapan ikan” ini. Jumlah ikan yang berhasil ditangkap jala, 153 ekor, melambangkan bagaimana Yesus merangkul semua orang yang ada di muka bumi ini. Ilmu hewan atau zoology pada zaman itu mengenal adanya sebanyak 153 species ikan yang berbeda. Meskipun ikan yang berhasil ditangkap itu besar dan memenuhi jala, jala itu sendiri tidak koyak. Hal ini mau menunjukkan bahwa Gereja Allah mampu untuk menampung banyak orang yang berbeda-beda suku, bangsa, ras, budaya dlsb. namun tetap kokoh. Hal itu saja merupakan sebuah mukjizat besar!
Akhirnya, kebangkitan Yesus memampukan para pengikut-Nya untuk mengenal dan mengalami kuasa dan rasa aman-tenteram dari kasih-Nya. Sarapan di pantai berupa ikan panggang dan roti yang disiapkan Yesus untuk para murid-Nya mengingatkan kita bahwa Dia akan memelihara dan memperhatikan segala kebutuhan kita – baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan spiritual. Kita dapat merasakan di sini adanya nada tambahan Ekaristi (kata orang: “nuansa” Ekaristinya). Allah yang kita percayai untuk keselamatan kita adalah Allah yang sama, yang memberikan kepada kita makanan sehari-hari kita.
DOA: Yesus Kristus, Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa tidak ada siapa atau apapun yang dapat mengalahkan kuasa kehidupan-Mu, tidak juga maut. Ajarlah kami untuk tidak takut pada kuasa-transformasi-Mu, karena hidup kebangkitan-Mu mengubah segala hal di sekeliling kami dan di dalam diri kami masing-masing. Engkau adalah satu-satunya fondasi sejati dalam kehidupan. “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118: 22). Amin.
Sumber :

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH – 20 April 2017) 
Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Ketika Petrus melihat hal itu, ia berkata kepada orang banyak itu, “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-oleh kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua. Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat. Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:11-26) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9; Bacaan Injil: Luk 24:35-48
Setelah baru saja menyembuhkan seorang lumpuh “dalam nama Yesus”, kepada orang banyak yang sedang mendengarkan khotbahnya Petrus melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?” (Kis 3:12). Jelas, bahwa bagi Petrus bukanlah hal yang luarbiasa bagi Yesus untuk membuat mukjizat, bahkan setelah Ia naik ke surga. Biar bagaimanapun juga, sebelum itu Petrus telah seringkali menyaksikan kuasa penyembuhan Yesus diwujudkan di depan matanya sendiri. Dia juga tahu sekali bahwa Yesus masih hidup sebagai Tuhan yang bangkit. Bukankah dengan demikian logika menuntut bahwa Yesus akan terus menyembuhkan? Jawaban Petrus terhadap pertanyaan ini adalah sebuah “YA” yang pasti!
Pertanyaan Petrus kepada orang Israel di atas juga dapat ditujukan kepada kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Mengherankankah apabila Yesus menyembuhkan sakit-penyakit pada hari ini melalui doa dan pelayanan orang-orang Kristiani (pengikut-pengikut Kristus)? Samasekali tidak mengherankan! Yesus memang masih terus menyembuhkan dan melakukan banyak mukjizat dan “tanda heran” lainnya. Sebaliknya, sebagai umat Kristiani, pantaslah kita merasa heran apabila mendengar bahwa Yesus telah berhenti menyembuhkan dan membuat mukjizat dan “tanda heran” lainnya.
Pada masa Paskah ini, ketika anda membaca “Kisah para Rasul”, catatlah berapa sering para murid-Nya mengalami kuasa dan kehadiran Tuhan Yesus. Ia mengasihi para murid-Nya, dan Ia telah berjanji untuk senantiasa ada bersama mereka. Hal ini benar, bahkan pada hari ini juga. Yesus adalah Imanuel (Allah yang menyertai kita; lihat Mat 28:20), dan Ia mengasihi kita. Kita dapat memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan dan melakukan intervensi pada hari ini dengan penuh keajaiban. Yesus memiliki kuasa dan otoritas – juga hasrat – untuk melakukan hal-hal yang baik ini. Seperti apa yang dilakukan Yesus pada masa Gereja awal (perdana) lewat iman-kepercayaan para murid-Nya, maka melalui doa-doa dan pelayanan para murid-Nya, Yesus tetap dapat melakukan karya-Nya. Pernyataan ini berlaku bagi kita semua: anda dan saya!
Dalam pekan-pekan mendatang ini, kita dapat memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Kita mohon kepada-Nya agar memberikan suatu visi yang lebih luas berkenan dengan jalan yang ingin Ia gunakan terhadap kita masing-masing sebagai seorang pelayan-Nya di bidang penyembuhan berbagai sakit-penyakit. Marilah kita mencoba untuk melakukan doa-doa syafaat (doa-doa untuk orang-orang lain) bagi mereka yang sedang berada dalam situasi-situasi sulit, dengan rasa percaya mendalam akan janji-janji-Nya. Janganlah kita cepat menyerah. Kita harus menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Nya. Ingatlah bahwa Yesus mengasihi setiap orang dan Ia sungguh ingin menolong. Yesus juga mengasihi kita dan ingin bekerja melalui kita masing-masing untuk menolong orang-orang lain.  Janganlah kita menjadi kaget dan terkejut ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dan melakukan penyembuhan dan/atau membuat mukjizat serta tanda heran lainnya, bahkan pada hari ini juga. Yesus itu Tuhan dan Juruselamat kita, dan Ia adalah Mahasetia.
DOA: Tuhan Yesus, tolonglah orang-orang yang sudah hampir kehilangan pengharapan. Bukalah mata mereka agar dapat melihat realitas kebangkitan-Mu dari dunia orang mati, dan kuasa-Mu yang dapat mengalir ke dalam kehidupan mereka dari kebangkitan-Mu itu. Tunjukkanlah kepada mereka betapa Engkau ingin bekerja dalam kehidupan mereka setiap saat. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.
Sumber :

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah, 19 April 2017)
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 
Bacaan Pertama: Kis 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9 
Kita hampir dapat mendengar kejengkelan dalam suara dua orang murid Yesus ini. Meskipun sudah ramai juga “gosip” atau “kabar angin” bahwa pahlawan mereka masih hidup, mereka sendiri belum melihat Yesus. Sekarang adalah hari ketiga sejak kematian Yesus di kayu salib yang penuh kehinaan itu. Oleh karena itu mereka berkesimpulan bahwa sang “nabi” tidak akan kembali untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Janji-janji Yesus kedengarannya kosong belaka bagi mereka.

Kita pun terkadang dapat mengalami kekecewaan seperti kedua orang murid ini. Manakala posisi keuangan sedang payah dan tingkat stres tinggi, misalnya, atau ketika kita sedang sakit dan tidak melihat tanda-tanda yang mengarah kepada kesembuhan, harapan dapat menyusut dan godaan untuk tidak menaruh kepercayaan pada Allah pun semakin dekat. Dalam keadaan penuh frustrasi kita dapat merasa seakan-akan Yesus telah meninggalkan kita atau Dia memang tidak mau memenuhi janji-Nya.
Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah akan memenuhi semua janji-Nya – seperti yang telah dijanjikan-Nya bahwa Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga (Luk 9:22; 18:33). Sementara kedua orang murid itu merasa sedih dan meratapi harapan-harapan mereka yang tak terpenuhi, Yesus berdiri di hadapan mereka! Coba pikirkan saja: Apabila tidak bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dalam perjalanan menuju Emaus, kemungkinan besar kedua murid itu tidak akan mengalami hari Pentakosta yang bersejarah itu.
Yesus sedang menantikan kita yang gelisah, sedih, kecewa karena harapan-harapan kita yang tak terpenuhi. Dia siap untuk menyembuhkan kita, anda dan saya. Dia ingin agar kita melepaskan beban-beban kita dan percaya bahwa Dia ingin menolong kita dalam pencobaan dan kekecewaan kita. Dia selalu berada dengan kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya (Mat 28:20). Kita dapat selalu memanggil-Nya, karena Dia sungguh memperhatikan kita, Dia mengasihi kita! Bahkan begitu mengasihi kita, sehingga Dia masuk kubur dan bangkit kembali untuk kita semua. Semoga Roh-Nya membuka hati kita agar dapat mengenali Yesus yang bangkit, Tuhan segala mukjizat!
DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku. Aku mau melihat Yesus! Tolonglah agar supaya aku menaruh harapan dan kepercayaanku hanya pada-Nya. Amin.
Sumber :

Isnin, April 17, 2017

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 18 April 2017)
 

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”
Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41). 
Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 
Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.
Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.
Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.
Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.
Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.
Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.
DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.
Sumber :

Ahad, April 16, 2017

KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH, 17 April 2017) 
Lalu Petrus bangkit berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah.
Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu ketahui. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku memandang Tuhan senantiasa di hadapan-Ku karena Ia berada di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan lidahku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dalam pengharapan, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu [1].
Saudara-saudara, aku dapat berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapak leluhur kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan bersumpah bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. (Kis 2:14, 22-32).
[1] Kis 2:25-28: Mzm 16:8-11 
Mazmur Antar-bacaan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Injil: Mat 28:8-15 
Sehari setelah Minggu Paskah, kadang-kadang kita merasa bahwa semuanya selesailah sudah, sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk kembali kepada situasi “normal”, keluar dari masa Prapaskah yang cukup lama, disusul dengan kesibukan penuh acara pada hari Minggu Palma, Tri Hari Paskah, yang akhirnya memuncak para hari Minggu Paskah kemarin. Akan tetapi, Lukas mengingatkan kita, bahwa Roh Kudus tidak akan turun ke atas para murid di ruang-atas di Yerusalem itu sampai setelah hari Paskah. Ya, untuk selama 50 hari mendatang seluruh Gereja akan merayakan misteri kasih Allah bagi kita dalam kebangkitan Yesus Kristus.
Untuk mengawali perayaan selama 50 hari ini, Gereja mempersilahkan kita untuk merenungkan kata-kata Petrus kepada orang-orang di Yerusalem, setelah Roh Kudus turun atas dirinya. Patutlah bagi kita untuk mengingat, bahwa beberapa pekan sebelumnya, Petrus telah menyangkal bahwa dirinya mengenal Yesus (lihat Yoh 18:17). Jadi, kata-kata Petrus yang kita dengar pada hari ini adalah kata-kata dari seorang pribadi yang telah diubah. Mengapa Petrus sampai begitu berubah? Karena dia telah berjumpa dengan Yesus Kristus yang telah bangkit dari dunia orang mati! Petrus telah menyaksikan kemenangan Allah atas dosa dan kejahatan. Dia sadar bahwa Allah tidak meninggalkan Yesus. Bapa surgawi tidak meninggalkan Putera-Nya yang tunggal pada saat-saat di mana Dia sangat membutuhkan pendampingan Bapa-Nya. Sebaliknya, Bapa membangkitan Yesus dan melalui Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas siapa saja yang mau percaya. Dalam diri Kristus, Allah menjadi manusia dan mengambil serta menanggung semua dosa dan kelemahan kita-manusia dan mentransformasikannya.

Kabar Baik yang diwartakan oleh Petrus sekitar 2.000 tahun lalu masih memiliki relevansi yang sama bagi kita pada hari ini. Yesus tidak hanya memenangkan keselamatan bagi kita, Dia juga mengalami segala ketakutan dan godaan kita yang paling jelek. Yesus tahu apa artinya digoda agar kita meragukan kasih Bapa surgawi atau berputus-asa pada waktu kita menanggung beban kehidupan yang terasa begitu berat. Yesus menanggung rasa takut karena merasa ditolak atau ditinggalkan, bahkan rasa takut kita terhadap kematian. Yesus merangkul itu semua dan membawanya  semua ke salib-Nya.
Kita mempunyai pengalaman-pengalaman yang terjadi secara berulang-ulang dalam kehidupan ini, namun kematian Yesus adalah peristiwa yang terjadi hanya sekali saja. Dengan berjalannya waktu dan tentunya usia kita juga, menderita penyakit yang sangat serius, atau kehilangan seorang yang sangat dikasihi dapat menyebabkan kita menghadapi isu kematian kita sendiri secara lebih langsung. Mengenal kasih Allah seperti yang dialami Petrus dapat membalikkan pikiran kita, dari rasa ragu-ragu dan takut kepada rasa percaya akan kehidupan yang telah dijanjikan Allah kepada kita semua.
Dengan memusatkan hati kita pada kebangkitan Yesus, maka kita pun akan diberdayakan untuk menanggalkan cara-cara pemikiran kita yang lama, melalui pertobatan dan iman kepada Yesus. Hal ini dapat memenuhi diri kita dengan rasa percaya yang sama seperti yang dahulu kala ada pada Petrus dan para rasul yang lain.
DOA: Bapa surgawi, dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, Engkau telah memberikan kepada kami suatu kehidupan yang tidak akan berakhir. Lewat penebusan Yesus Kristus di kayu salib, Engkau telah mengalahkan maut atas diri kami, dan pada hari ini kami akan membuat diri kami tersalib bersama Kristus. Kami adalah milik-Mu, ya Bapa. Dengan demikian hati kami bergembira dan jiwa kami akan memuji-muji Engkau dalam sukacita yang sejati. Amin.
Sumber :

SELAMAT HARI PASKA 2017

Saudara dan Saudari yang dikasihi Kristus,
SELAMAT HARI RAYA PASKA 2017

PASKAH: KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU PASKAH, 16 April 2017) 
Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus yang menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (Yoh 20:1-9). 

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2.16-17.22-23; Bacaan Kedua: Kol 3:1-4 atau 1Kor 5:6-8 
Hari ini adalah HARI MINGGU dari segala hari Minggu, karena pada hari ini Gereja (anda dan saya) merayakan kebangkitan Yesus Kristus! Pada hari ini, kita bergabung bersama para murid yang berlari-lari menuju kuburan Yesus dan mendapati kuburan itu sudah dalam keadaan kosong. Kita tidak perlu berdiam di luar kuburan-Nya sambil terus diliputi rasa ragu dan takut. Kita dapat menemani murid yang dikasihi Yesus masuk ke dalam kubur dan “melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Kemudian, bersama dengan Maria Magdalena kita dapat merangkul Yesus sebagai Tuhan kita yang telah bangkit.
Kembali kepada bacaan Injil di atas, sebenarnya di sini kita hanya mendengar sebagian saja dari cerita tentang kebangkitan Yesus. Maria Magdalena, Petrus dan murid yang dikasihi Yesus, dalam bacaan Injil di atas, seorang pun dari mereka tidak/belum ada yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Namun demikian, cerita seperti itu dapat membawa pengalaman mereka bertiga menjadi lebih dekat dengan pengalaman kita. Selama akhir pekan sejak kematian Yesus di kayu salib pada Jumat siang, iman para murid diuji habis-habisan. Sampai mereka berjumpa dengan Kristus yang sudah bangkit, mereka hanya dapat berharap dan menaruh kepercayaan pada janji-Nya bahwa Dia akan bangkit.
Demikian pula halnya dengan kita, karena kita sendiri pun belum berjumpa dengan Kristus yang bangkit dalam daging. Oleh karena itu, inilah suatu “saat iman” bagi kita juga. Akan tetapi, kita tidak perlu menanti dengan penuh rasa cemas dan takut seperti yang dialami para murid Yesus dulu. Kita mempunyai Roh Kudus yang hidup dalam diri kita masing-masing, yang meyakinkan kita bahwa kebangkitan Kristus memang riil-nyata. Iman kita akan Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati, memang dari Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang  meyakinkan kita akan realitas-realitas bahwa kita tidak akan melihat-Nya sampai hari akhir Tuhan, artinya pada hari kedatangan-Nya kembali.

Itulah sebabnya, mengapa hari ini merupakan hari perayaan yang sangat besar bagi kita semua anak-anak Bapa surgawi. Roh Kudus membuat kebangkitan Yesus menjadi riil-nyata bagi kita! Dia (Roh Kudus) ingin membawa kepada kita kemerdekaan dari dosa yang telah dicapai oleh Yesus di atas kayu salib. Kita tidak lagi menjadi hamba-hamba dosa. Kita tidak perlu melihat Yesus dengan mata jasmani kita; kita dapat menerima Dia dalam hati kita masing-masing! Bahkan maut sekali pun tidak dapat menang atas diri kita!
Hari ini kita mempunyai kesempatan untuk melangkah melampaui suatu iman intelektual kepada suatu iman yang hidup dalam hati kita. Kristus telah bangkit! Ia telah membersihkan kita dari setiap dosa. Kita tidak akan mati; kita akan hidup dengan Dia untuk selama-lamanya! Apabila kita belum mengalami sukacita tak terlukiskan ini, maka hari ini adalah hari untuk memulainya. Roh Kudus siap untuk menunjukkan kepada kita kasih dan kuat-kuasa Allah. Hari ini adalah hari untuk mengalami kebenaran-kebenaran penuh kemuliaan ini yang akan menyebabkan kita berseru dengan suara nyaring: “Ia telah bangkit!” Kata-kata ini akan kedengaran penuh makna bagi kita apabila kita mohon Roh Kudus mengungkapkannya kepada hati kita masing-masing.
DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Kata-kata pujian apakah yang dapat kupersembahkan bagi-Mu. Kematian telah Engkau kalahkan. Kehidupan ilahi-Mu kini hidup di dalam diriku. Tuhan Yesus, aku akan mengasihi Engkau dan memuji-muji kebesaran-Mu selama-lamanya. Amin.
Sumber :

MATI TERHADAP DOSA, TETAPI HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH – Sabtu, 15 April 2017) 
Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis  dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus  telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi, jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu  telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. (Rm 6:3-11) 
Bacaan Perjanjian Lama: Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-28; Bacaan Injil: Mat 28:1-10. 
Kematian dan kehidupan – Sungguh sebuah kontras yang kita hadapi pada hari Sabtu Suci ini. Semua sunyi-sepi dari pagi sampai dengan sore hari. Catatan singkat dalam kalendarium menjelaskan semuanya: “Dengan Berdoa dan Berpuasa  Gereja berada di Makam Tuhan.” Gedung gereja terlihat kosong, termasuk tabernakel. Akan tetapi tidak demikianlah malam ini.
Malam ini dikenal sebagai Easter Vigil, a night of vigil, suatu malam untuk kita berjaga-jaga, malam untuk berefleksi, malam antisipasi. Yesus telah wafat dan jenazah-Nya telah diletakkan dalam kuburan yang ditutup dengan batu besar. Tubuh-Nya telah dirusak oleh berbagai dera dan siksa. Darah-Nya telah ditumpahkan, dan semua dosa kita telah ditebus. Pada malam ini kita kembali akan diperkenalkan kepada kepenuhan hidup lewat kebangkitan Yesus yang penuh kemuliaan. Pada malam ini gereja-gereja kita akan dipenuhi dengan hidup baru dan keindahan. Memang sebuah kontras bila dibandingkan dengan keadaan dan suasana pada pagi/siang harinya.
Dengan demikian, malam ini juga adalah malam penuh sukacita! Pada malam ini kita semua akan membuat komitmen yang lebih mendalam lagi kepada Yesus. Mengapa? Karena kita semua telah mati juga. “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (Rm 6:3). Tidak hanya dosa-dosa kita yang telah dicuci bersih, melainkan sumber dosa-dosa itu sendiri – diri kita yang lama, kodrat lama kita yang mempunyai kecenderungan berdosa telah dibawa Kristus ke kayu salib dan kemudian dikuburkan. Dalam kubur Yesus di rahim bumi, kita ditransformir dan dilahirkan kembali ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang tersedia bagi kita oleh rahmat dan melalui iman.
Dalam tulisan Santo Paulus yang menjadi salah satu dari sejumlah bacaan pada Misa Malam Paskah ini, rasul ini mengajar kita bahwa kita ikut ambil bagian, baik dalam kematian maupun kebangkitan Yesus. Pembaptisan kita sendiri sebenarnya adalah sebuah paradoks kehidupan dan kematian. Melalui baptisan ke dalam kematian Yesus di kayu salib, kita mati terhadap dosa. Melalui baptisan yang sama ke dalam kebangkitan-Nya, kita juga dibangkitkan ke dalam suatu kehidupan baru dalam Roh-Nya. Suatu kontras penuh kemuliaan yang diperuntukkan bagi kita. Selagi kita setiap hari mati terhadap diri kita sendiri dan dosa, kita menerima hidup baru lewat kuasa kebangkitan Yesus. Kehidupan Tuhan yang bangkit ada dalam diri kita karena kita telah dibaptis ke dalam diri-Nya. Kuasa-Nya ada dalam diri kita guna mengubah kita. Oleh Roh-Nya, kita dapat mulai menghayati suatu hidup baru.
Vigili Paskah merupakan suatu kesempatan bagus sekali bagi kita untuk mencari hidup baru ini lewat doa dan pembacaan serta permenungan firman Allah dalam Kitab Suci. Sedapat mungkin, gunakanlah hari yang khusus ini sebagai sebuah hari untuk mencari Allah dalam keheningan dan penantian. Marilah kita mengantisipasi karunia hidup baru yang akan kita terima malam ini selagi kita memperbaharui janji baptis dan turut serta dalam liturgi Paskah.
Vigili Paskah ini merupakan suatu kesempatan untuk bertumbuh semakin dekat pada Yesus dan menerima hidup-Nya dengan lebih mantap lagi. Yesus telah mengalahkan dosa, kematian dan Iblis. Kita dapat mengalami kemenangan kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ini. Kita dapat mengharapkan terjadinya perubahan-perubahan nyata dalam kehidupan kita di hari-hari dan pekan-pekan mendatang, karena kite telah menerima kuasa kebangkitan Yesus sendiri.
DOA: Tuhan Yesus, aku ingin ikut ambil bagian dalam hidup-Mu hari ini. Tolonglah aku agar mampu mengatasi dosa-dosaku melalui kuasa kematian dan kebangkitan-Mu. Berikanlah kepadaku hidup baru dalam Roh Kudus! Amin.
Sumber :

Khamis, April 13, 2017

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS SEBAGAI PUSAT SEGALANYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: HARI JUMAT AGUNG14 April 2017)
 


Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi – demikianlah ia akan membuat tercengang  banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.
Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepda siapakah tangan kekuasaan TUHAN (YHWH) dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan YHWH dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan  bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi YHWH  telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan gtipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi YHWH berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak YHWH akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.(Yes 52:13-53:12) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16; 5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:28 
Betapa pun sedihnya suasana pada upacara hari Jumat Agung ini, hari ini tetap merupakan salah satu hari paling besar dan agung dalam tradisi Gereja. Karena kita tidak pernah berpikir tentang Salib Kristus tanpa mengingat apa yang telah dicapai oleh kematian Yesus bagi kita semua. Yesus Kristus, Imam Besar Agung (lihat Ibr 4:14) kita, mengenal betul kelemahan-kelemahan kita dan Dia telah mempersembahkan kurban sempurna untuk dosa-dosa kita, yaitu diri-Nya sendiri. Kematian-Nya itu adalah rekonsiliasi kita dengan Allah. Salib-Nya telah mempersatukan kita lagi dengan Allah yang Mahapengasih. Kalau salib Kristus diibaratkan sebuah jembatan, maka itu adalah jembatan dengan mana kita menyeberang bersama Yesus dari kematian/maut kepada kehidupan kekal.
Yesus adalah penggenapan setiap nubuatan, janji dan niat Allah Bapa. Salib-Nya adalah tempat pertemuan antara kebenaran dan belas kasih, antara penghakiman dan rahmat, antara kesetiaan dan kedaulatan rajawi. Tanpa salib tidak akan ada keselamatan, tidak ada Gereja, tidak ada pengampunan, tidak ada kesembuhan/penyembuhan, tidak ada pengharapan. Jadi, segalanya berpusat pada kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Salib berdiri di pusat kehidupan Yesus, dimaksudkan untuk menjadi pusat kehidupan kita juga. Setiap berkat yang kita terima dari Allah, setiap pelajaran yang diajarkan-Nya kepada kita, setiap rahmat yang diberikan-Nya kepada kita untuk meninggalkan hidup lama kita – semua itu dimaksudkan untuk membawa kita lebih dekat lagi kepada salib pemberi hidup itu. Setiap peristiwa dalam kehidupan kita adalah suatu kesempatan untuk mengambil satu langkah lagi menuju salib. Setiap tindakan kasih dengan mana kita menaruh sebagian dari hidup kita untuk sesama kita akan membawa kita lebih dekat lagi pada kaki salib. Di sana, pada kayu salib, kita masuk ke dalam kehidupan baru, keakraban baru dengan Allah yang telah dimenangkan oleh Yesus bagi kita semua.
Pada hari Jumat Agung ini, dapatkah kita merangkul salib dengan lebih erat lagi? Dapatkah kita mohon kepada Yesus untuk mematikan dosa yang ada di dalam diri kita? Itulah sebabnya mengapa dia datang ke dunia dan …… mengalami kematian. Inilah alasan di belakang setiap mukjizat yang dibuat-Nya, setiap perumpamaan yang diceritakan-Nya, dan setiap perintah yang diberikan-Nya. Marilah kita merangkul salib Kristus dan menerima setiap karunia yang ingin dianugerahkan-Nya kepada kita.
DOA: Tuhan Yesus, siapakah aku ini sehingga Engkau begitu mengasihiku sampai memberikan hidup-Mu sendiri untukku? Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah memberikan rahmat untuk dapat berada dekat dengan-Mu dan mengakui dosa-dosaku. Aku mempercayai kasih-Mu, aku membuka hatiku bagi-Mu. Tunjukkanlah segala hal yang selama ini telah memisahkanku dari diri-Mu. Gantilah segala segala caraku untuk mementingkan diri sendiri dengan cara-cara kasih-Mu. Amin. 
Sumber :

Selasa, April 11, 2017

PEMBASUHAN KAKI PARA MURID OLEH GURU DAN TUHAN MEREKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH, 13 April 2017)
 

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus  tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya, “Siapa saja yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu juga sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:1-15) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26; Bacaan Injil: Yoh 13:1-15
Seluruh kehidupan Yesus adalah suatu tindakan cintakasih. Inkarnasi-Nya, tahun-tahun tersembunyi di Nazaret, hari-hari ketika Dia berpuasa di padang gurun dan digoda oleh Iblis, perjalanan-perjalanan melelahkan di Galilea dan tempat-tempat lain pada waktu Dia melayani orang-orang: mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki banyak orang, membangkitkan orang mati dan banyak lagi mukjizat dan tanda heran lainnya – semua yang dilakukan-Nya itu mengungkapkan cintakasih-Nya. Penulis Injil Yohanes memulai gambaran peristiwa-peristiwa terakhir dalam kehidupan Yesus dengan pernyataan sederhana, yaitu bahwa Yesus “mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1). Peristiwa “pembasuhan kaki” pada malam sebelum kematian-Nya ini memberikan gambaran yang indah tentang hati Yesus yang penuh kasih.
Bayangkan Yesus berlutut di atas lantai yang keras dan kotor, kemudian dengan rendah-hati membasuh kaki-kaki para murid yang tebal, kotor penuh debu – bahkan kaki dari dia yang sebentar lagi akan mengkhianati Dia, Yudas. Di mata para murid, semuanya ini menunjukkan betapa dina, betapa “memalukan”, betapa melanggar adat-kebiasaan yang berlaku, sang Guru mereka itu. Kebanyakan dari kita sebenarnya juga sangat berkemungkinan untuk bereaksi dalam sikap dan perilaku seperti Pak Petrus ini. Namun, ingatlah bahwa cintakasih Yesus tidak berhenti di situ. Keesokan harinya, Ia membiarkan diri-Nya dituduh tanpa dasar-kuat,  dihina, disiksa dan dijatuhi hukuman mati – dan Ia mengasihi kita sampai akhir hidup-Nya.
Pada peristiwa “pembasuhan kaki” yang penuh kerendahan ini Yesus mau meyakinkan para murid-Nya akan cintakasih-Nya kepada mereka. Apabila mereka yakin, maka para murid pun diharapkan dapat mengasihi orang-orang lain dan mensyeringkan sabda-Nya kepada orang-orang lain itu. Hari ini dan setiap hari, Yesus ingin melakukan yang sama bagi kita. Yesus selalu siap untuk memperhatikan kebutuhan kita, menyembuhkan sakit-penyakit kita, dan menghibur kita dalam kekecewaan-kekecewaan yang kita alami. Dia sangat berkeinginan untuk membangkitkan  kita kalau kita jatuh, dan memberikan kepada kita bimbingan serta arahan apabila kita mohon kepada-Nya. Kita seharusnya jangan pernah merasa takut untuk memperkenankan Yesus membasuh kaki kita. Apabila kita memperkenankan Dia untuk melayani kita, maka kita sendiri pun akan diberdayakan untuk melayani orang-orang lain, untuk meneladan contoh yang ditinggalkan oleh-Nya: untuk saling membasuh kaki di antara kita (Yoh 13:14-15) dan memberikan hidup kita bagi orang lain seperti yang telah dilakukan sendiri oleh-Nya.
Yesus membasuh kaki para murid-Nya pada Perjamuan Terakhir, perayaan Ekaristi pertama. Malam ini, selagi kita memperingati peristiwa yang terjadi sekitar 2.000 tahun itu, bahkan setiap kali kita merayakan Misa Kudus, Yesus sesungguhnya hadir untuk membasuh kaki kita masing-masing. Setiap kali kita makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, Yesus rindu untuk melayani kita, sehingga ketika pada akhir Misa imam selebran berseru, “Marilah pergi! Kita diutus”, maka kita menjawab “Syukur kepada Allah” dengan segala energi dan rahmat yang diperlukan.
DOA: Bapa surgawi, kami melihat kesempurnaan kasih-Mu bagi kami semua dalam diri Putera-Mu, Yesus, yang telah mengosongkan diri-Nya agar diri kami dapat dipenuhi. Kami membuka hati kami untuk menerima segala sesuatu yang Kauingin berikan kepada kami. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuka mata hati kami agar melihat Yesus dalam diri sesama kami. Biarlah Roh-Mu itu membentuk kami menjadi orang-orang yang – lewat sikap dan perilaku sehari-hari – mampu menunjukkan kasih-Mu kepada dunia di sekeliling kami. Amin. 
Sumber :