Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, Mac 13, 2013

PENGAKUAN DOSA BEATO YOHANES PAULUS II



Kisah Beato Yohanes Paulus II dan Pengemis


Dalam Masa Prapaskah ini yang merupakan masa pertobatan, Gereja-gereja Katolik menyediakan jadwal khusus untuk penerimaan Sakramen Tobat dan mengajak umat-umat Katolik sekalian menggunakan momen tersebut untuk mengakukan dosanya. Berkenaan dengan Sakramen Tobat / Sakramen Pengakuan Dosa, ada sebuah cerita nyata menarik* di mana seorang Paus, Beato Yohanes Paulus II, mengakukan dosanya kepada seorang imam yang sekali waktu meninggalkan imamatnya dan menjadi pengemis.** Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita dan meneguhkan kita untuk datang ke Gereja dan mengakukan dosa kita dalam Sakramen Tobat. Mari kita simak:

Seorang imam teman Scott Hahn kembali dari Roma dan menceritakan kisah ini kepada  Scott Hahn. Imam tersebut dalam perjalanan untuk audiensi pribadi dengan Paus Yohanes Paulus II. Imam itu berangkat lebih awal dan kemudian memutuskan untuk berhenti sejenak dan berdoa di sebuah gereja sebelum pertemuan dengan Paus. Beberapa langkah dari gereja tersebut terdapat sejumlah orang pengemis, hal yang cukup biasa di Roma. Ketika imam tersebut berjalan mendekati gereja, imam itu berpikir bahwa ia mengenali salah satu pengemis. Setelah masuk ke dalam gereja, imam itu berlutut berdoa sementara ia mengingat-ingat seorang pengemis yang familiar baginya. Setelah berdoa, imam tersebut segera keluar dan mendekati pengemis tersebut dan berkata: “Saya mengenal engkau. Bukankah kita pernah studi di seminari yang sama?”

Pengemis tersebut mengiyakan, “Iya, memang benar.”

“Jadi engkau adalah imam sekarang?” Imam tersebut bertanya lagi.

“Tidak. Tidak lagi. Saya telah jatuh. Tinggalkan saya sendirian.”,  jawab pengemis tersebut.

Imam tersebut yang sadar ia harus bergegas untuk pertemuan dengan Paus hanya berkata, “Saya akan berdoa untuk engkau.”

Imam itu lalu meninggalkan pengemis tersebut dan berangkat ke pertemuannya dengan Paus Yohanes Paulus II. Pertemuan dengan Paus ini adalah sangat formal. Ada beberapa orang yang dianugerahi kesempatan untuk menghadiri audiensi pribadi dengan Paus pada waktu yang sama dan ketika Bapa Suci berjalan ke arah anda, sekretarisnya akan memberikan rosario yang sudah terberkati kepadanya dan kemudian Ia (Bapa Suci) akan memberikan rosario itu kepada anda. Pada saat tersebut, seseorang boleh mencium cincin Paus dan berkata sesuatu dengan rendah hati umumnya seperti memohon Paus mendoakannya, berterimakasih atas pelayanan Paus atau mendoakan Paus. Tetapi, ketika Bapa Suci Yohanes Paulus II mendekat, Imam tersebut tidak dapat menahan dirinya dan berkata, “Saya mohon berdoalah untuk teman saya.” Tidak hanya itu, imam tersebut lalu menceritakan semuanya mengenai teman seminarinya yang menjadi pengemis tersebut. Bapa Suci dengan penuh perhatian meyakinkan imam tersebut bahwa ia akan mendoakan temannya itu.

Beberapa hari kemudian, imam tersebut menerima sebuah surat dari Vatikan. Dengan bahagia dan heran, imam tersebut membawa surat itu ke gereja di mana ia terakhir bertemu teman sekelasnya di seminari. Hanya sedikit pengemis yang tinggal dan ia bersyukur temannya termasuk di antara yang masih tinggal di gereja itu. Imam tersebut mendekati teman pengemisnya itu dan berkata, “Saya telah bertemu Paus dan ia berkata bahwa ia akan mendoakan engkau juga.”

Imam tersebut melanjutkan, “Lebih dari itu, Paus mengundang engkau dan saya ke kediaman pribadi Beliau untuk makan malam.”

Pengemis itu berkata, “Mustahil. Lihatlah saya. Saya seorang yang kotor. Saya sudah lama sekali tidak mandi dan baju saya kotor.”

Sadar bahwa Paus ingin bertemu dengan temannya itu, Imam tersebut berkata, “Saya tinggal di sebuah kamar hotel di seberang jalan. Di sana engkau dapat mandi dan bercukur. Saya akan mencarikan baju yang cocok untuk engkau.”

Oleh karena rahmat Allah, pengemis tersebut setuju dan kemudian mereka berdua pergi berangkat untuk makan malam dengan Paus Yohanes Paulus II.

Keramahan Paus menakjubkan. Menjelang akhir makan malam sebelum menikmati makanan pencuci mulut, Paus melalui sekretarisnya meminta imam tersebut meninggalkan Paus sendirian bersama dengan pengemis tersebut.

Setelah 15 menit, pengemis tersebut keluar dari ruangan dengan air mata.

“Apa yang terjadi di sana?” tanya imam tersebut.

Jawaban tak terduga muncul: “Paus meminta saya mendengarkan pengakuan dosanya.”, kata pengemis tersebut.

Pengemis itu melanjutkan, “Saya berkata kepadanya: ‘Yang Suci, lihatlah saya. Saya seorang pengemis. Saya bukan seorang imam.’ Paus melihat saya dan berkata: ‘Anakku, sekali engkau imam, engkau adalah selamanya imam dan siapa yang di antara kita yang bukan seorang pengemis? Saya juga datang ke hadapan Tuhan sebagai seorang pengemis meminta pengampunan atas seluruh dosa-dosa saya.’ Saya memberitahunya: 'Tetapi, saya tidak berada dalam persatuan dengan Gereja.' Tetapi Paus meyakinkan saya: 'Saya seorang Paus, seorang Uskup Roma. Saya dapat mengembalikan engkau sekarang juga.'

Pengemis itu melanjutkan bahwa ia telah lama tidak mendengarkan pengakuan dosa sehingga Paus harus membantunya untuk mengucapkan kata-kata absolusi.

Imam itu bertanya, “Tetapi engkau di dalam selama 15 menit. Tentu pengakuan dosa Paus tidak berlangsung selama itu.”

“Tidak”, jawab pengemis itu, “Tetapi setelah saya mendengarkan pengakuan dosanya, saya meminta ia mendengarkan pengakuan dosa saya.”

Kata-kata penutup dari Paus Yohanes Paulus II untuk anaknya yang hilang datang dalam bentuk form dari sebuah komisi. Bapa Suci memberikan tugas pertama kepada imam-pengemis tersebut untuk pergi dan melayani orang-orang tunawisma dan pengemis di gereja tempat imam itu dulu mengemis.

Apa yang bisa kita lihat adalah teladan yang agung dari Bapa Suci Yohanes Paulus II. Ia adalah seorang yang mampu melihat tidak hanya pribadi Yesus Kristus, tetapi juga Imamat Kristus dalam mata seorang pengemis yang adalah imam. Tidak hanya itu, Bapa Suci berlutut di hadapan pengemis dalam kerendahan hati dengan penuh kesadaran akan dosanya. Perlu diketahui bahwa Paus Yohanes Paulus II pergi mengaku dosa setiap minggu.*** Bila kita mengikuti teladan Paus ini, entah berapa banyak dari kita akan menjadi orang kudus.

Post Scriptum:
*. Artikel ini diterjemahkan oleh Indonesian Papist dari Causa Finita Est.
**. Kisah yang hampir sama pernah terjadi pada St. Yohanes Maria Vianney. Bisa dilihat di artikel ini.
***. Para Paus mengakukan dosanya setiap minggu kepada seorang  imam yang mereka pilih dan identitas imam  tersebut dirahasiakan. Setiap Paus memiliki karunia infallibilitas tetapi tidak memiliki impeccabilitas. Untuk mengetahui perbedaannya, silahkan baca artikel ini


Pax et Bonum
follow Indonesian Papist's Twitter

MEMBUKA DIRI BAGI ROH KUDUS


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 14 Maret 2013)

Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namu kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh 5:39-40).

Apa dan bagaimana pandangan anda tentang Gereja? Apakah Gereja memiliki doktrin-doktrin yang akurat secara teologis? Tradisi yang kaya dan patut dimuliakan? Ajaran moral yang teguh-kokoh? Liturgi-liturgi dan berbagai rituale yang menggerakkan hati? Semua hal ini merupakan unsur-unsur vital dalam Gereja, namun apabila kita menempatkan salah satu saja dari unsur-unsur itu di atas Yesus, maka kita tidak akan menmgalami hidup dari Yang Ilahi dalam diri kita. Tidak ada satu pun dari unsur-unsur itu mempunyai makna jika dipisahkan dari hubungan/koneksi vital dengan Yesus, mempelai laki-laki dari Gereja (yang adalah anda dan saya). Prinsip yang sama juga berlaku untuk Kitab Suci. Jika kita tidak memperkenankan Roh Kudus untuk menuliskan sabda Allah pada hati kita, maka Kitab Suci itu direduksi menjadi sekadar informasi historis dan/atau cerita-cerita yang penuh intrik. Santo Paulus bahkan mengingatkan bahwa kalau tidak digunakan seturut tujuan yang telah ditetapkan Allah, Kitab Suci dapat menjadi instrumen kematian, “sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6).

Cara mentaati Kitab Suci tanpa membuka diri bagi Roh Kudus adalah masalah yang dijumpai Yesus dalam banyak diri para pemimpin agama Yesus pada zamannya. Orang-orang itu mengetahui dan mengenal Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) lebih baik daripada kebanyakan orang, namun mereka gagal melihat bahwa semua itu menunjuk pada Yesus. Jadi, mereka luput memperoleh hidup yang Allah tawarkan kepada mereka melalui Putera-Nya, Yesus.

Kita boleh saya bertanya bagaimana mereka gagal melihat siapa sebenarnya Yesus itu. Namun kuasa dosa yang sama yang telah menyebabkan kita tidak mampu mengenali Yesus juga telah membutakan mereka. Kesombongan manusia, sikap membenarkan diri-sendiri, kedegilan hati dapat menumpulkan kepekaan siapa saja yang sedang mencari Tuhan. Kita dapat saja mempunyai informasi tentang Dia dan tetap luput memiliki koneksi yang hidup dengan Dia. Bahkan kita pun dapat saja mencoba untuk hidup seturut prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus tanpa mampu untuk menjalin relasi yang hidup dengan diri-Nya. Hal ini hanya menyebabkan kita berjuang untuk mencapai kesempurnaan dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, suatu upaya yang seringkali malah berakhir dalam frustrasi dan kehilangan semangat serta keputusasaan.

Pada hari ini Yesus masih saja memanggil kita kepada suatu kehidupan yang diceritakan dalam Kitab Suci dan yang dengan indahnya dijunjung tinggi oleh Gereja. Oleh karena itu marilah kita berpaling kepada Yesus dalam doa untuk memperoleh hidup ilahi yang ditawarkan oleh-Nya. Marilah kita memohon agar dapat mengalami belas kasih-Nya, dengan demikian menyingkirkan sikap membenarkan diri sendiri dan sikap keras serta kasar terhadap orang-orang lain, dan menjadi penuh belas kasih seperti Yesus sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, aku berpaling kepada-Mu agar dapat memperoleh hidup. Aku tidak memiliki sumber cintakasih apabila terpisah dari diri-Mu. Penuhilah diriku dengan diri-Mu sendiri, agar cintakasih-Mu dapat mengalir melalui diriku kepada orang-orang lain. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mac 12, 2013

MENURUTI KEHENDAK DIA YANG MENGUTUS-NYA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 13 Maret 2013)

Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30)

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Yesus telah melakukan penyembuhan pada hari Sabat beberapa kali. Orang-orang Yahudi tidak dapat menerima hal ini dan mulai berusaha untuk membunuh-Nya. Pertama-tama Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan, mengapa Ia sebagai Putera tidak dapat bekerja pada hari Sabat, karena Bapa-Nya tentu saja bekerja. Tindakan kreatif Allah senantiasa berlangsung setiap hari. Pertanyaan sekaligus pernyataan Yesus ini malah membuat orang-orang itu menjadi lebih marah karena sekarang Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya, jadi membuat diri-Nya setara dengan Allah sendiri.

Yesus menjawab dengan berbicara tentang relasi antara Putera dengan Bapa. Seperti yang dilakukan oleh Bapa demikian pula Putera akan melakukan. Bapa mengasihi Putera. Bapa akan menunjukkan kepada Putera karya-karya yang lebih besar, bahkan lebih besar daripada menyembuhkan orang-orang yang menderita berbagai sakit-penyakit. Ia akan membangkitkan orang dari alam maut dan menjadikannya hidup kembali, sebuah karya yang telah dilakukan Bapa dalam setiap tindakan penciptaan manusia.

Sepanjang bacaan Injil hari ini Yesus mengindikasikan relasi kasih antara Bapa dan Putera. Yesus sang Putera mengatakan bahwa Dia tidak bertindak dari diri-Nya sendiri, melainkan melakukan apa yang dilihat-Nya dilakukan oleh Bapa-Nya. Putera hanya bertindak seturut kehendak Bapa. Putera berada dalam keharmonisan lengkap dengan Bapa.

Pada waktu berumur 12 tahun Yesus telah mengatakan kepada ibu dan ayah-Nya, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” (Luk 2:49). Kira-kira juga dapat dibaca begini: “Bukankah aku mengerjakan bisnis Bapa-Ku?” Setelah dikenal sebagai rabi dari Nazaret yang suka berkhotbah berkeliling, Yesus juga menunjukkan bahwa walaupun Ia semakin dimusuhi, Dia tetap akan mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya, pekerjaan-pekerjaan Bapa-Nya yang diberikan Bapa-Nya untuk dilakukan oleh-Nya. Yesus bersabda: “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Kita pun mempunyai pekerjaan atau bisnis yang harus dilakukan. Kita semua mempunyai sebuah misi untuk dilaksanakan. Kita tidak dapat mencari kehendak kita sendiri, melainkan mencari kehendak Allah. Seperti Yesus yang setia dalam melakukan pekerjaan-Nya walaupun semakin banyak menghadapi perlawanan, kita pun harus setia dalam melakukan pekerjaan kita, walaupun menghadapi berbagai kesulitan, oposisi atau ketiadaan penghargaan/respek dari orang-orang lain. Atas dasar inilah tergantung relasi kasih personal kita dengan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu mendengar sabda-Mu dan memiliki iman-kepercayaan akan Dia yang mengutus Engkau, dengan demikian kami akan memiliki hidup yang kekal. Terima kasih, Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mac 11, 2013

PERKENANKANLAH YESUS MENJADI KYRIOS DALAM HIDUP KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 12 Maret 2013)

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-16)

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9

Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat membaca cerita begitu indah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang sakit lumpuh. Ini adalah satu lagi cerita tentang penyembuhan yang dilakukan-Nya pada hari Sabat, hal mana sangat membuat marah orang-orang Farisi, yaitu “front pembela” agama Yahudi.

Kolam Betesda ini memang memiliki reputasi sebagai tempat penyembuhan-penyembuhan. Kolam ini kelihatannya mempunyai sumber mata air yang sekali-sekali menggelembung ke atas dan orang-orang percaya bahwa gelembung-gelembung dari mata air tersebut memiliki daya penyembuhan. Secara popular-kerakyatan dikatakanlah bahwa ‘seorang’ malaikat Tuhan turun dan mengguncangkan air yang ada di kolam itu. Orang yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.

Kita melihat di sini ada seseorang yang telah menunggu selama 38 tahun agar dapat disembuhkan. Yesus melihat orang itu berbaring di atas tikar dan mengetahui kondisinya. Yesus bertanya kepada orang itu: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Orang sakit itu menjawab: “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” (Yoh 5:7). Lalu Yesus mengucapkan kalimat sederhana berikut ini: “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah” (Yoh 5:8). Orang itu pun sembuhlah dan melakukan apa yang diperintahkan Yesus kepadanya. Yang dikatakan Yesus kepada orang ini sebenarnya berarti: “Engkau tidak membutuhkan orang untuk menurunkanmu ke dalam kolam karena engkau telah mempunyai Aku. Aku-lah satu-satunya yang kaubutuhkan!”

Bukankah hal ini seringkali merupakan masalah kita? Kita merasakan tidak mempunyai seorang pun untuk menolong kita. Terasa tidak ada seorang pun yang mengasihi diri kita, tidak ada yang memperhatikan diri kita, padahal Tuhan Yesus senantiasa berdiri di dekat kita. Dia akan menyentuh kita dengan tangan-tangan kasih-Nya ketika kita sekadar melakukan tindakan sederhana, yaitu membuka diri bagi Dia dan kasih-Nya.

Bilamana berbagai masalah membebani diri kita, ketika para sahabat kita tidak peduli dan malah meninggalkan kita, maka hanya ada satu jawaban. Berpalinglah kepada Yesus. Perkenankan Dia menjadi Tuhan (Kyrios) dalam hidup kita dan dalam waktu yang relatif tidak lama kita pun akan menemukan suatu damai-sejahtera yang baru, bahkan ketika kita masih menghadapi banyak kesulitan hidup.

DOA: Ya Tuhan Allahku, bagi kami Engkau adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kami tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut, sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya (bdk. Mzm 46:2-3). Terpujilah Allah selama-lamany. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mac 09, 2013

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV – 10 Maret 2013)


Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Yos 5:9a,10-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Kedua: 2Kor 5:17-21

 Cerita yang ada dalam bacaan Injil hari ini telah lama dikenal sebagai “perumpamaan anak yang hilang”. Sebenarnya cerita ini dimaksudkan bagi para pembacanya untuk memfokuskan perhatian mereka pada sang ayah/bapak, bukan pada salah satu anak bapak itu, dan barangkali secara lebih akurat lagi dinamakan “perumpamaan seorang bapak yang mengasihi”.

Latar belakang cerita ini adalah bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi marah ketika melihat Yesus yang mengasosiasikan dirinya dengan orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk mengungkapkan ide bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi para pendosa dan berhasrat untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Yesus ingin meyakinkan para pendengar-Nya tentang kebenaran bahwa Allah adalah ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami anak-anak-Nya.

Yesus menggambarkan anak yang bungsu begitu rupa realistisnya sehingga berabad-abad lamanya gambaran inilah yang menarik perhatian kebanyakan orang. Gambaran ini adalah tipikal bagi seorang anak muda yang ingin menjadi independen, bebas dari kontrol orangtua, untuk pergi dalam suatu petualangan pribadi … untuk melihat dan melakukan semua hal yang tidak pernah merupakan bagian dari kehidupannya di dalam rumahnya. Akibat-akibat dari petualangan seperti ini juga tipikal: yang bersangkutan menemukan nilai sesungguhnya dari uang, kebutuhan akan teman-teman sejati, pentingnya sense of belonging.

Kita tahu apa dan bagaimana yang dirasakan oleh si anak bungsu. Kita tahu bahwa apa artinya hidup sendiri, merasa bersalah, dirundung rasa takut. Setelah dia menghambur-hamburkan uangnya, semua teman-temannya (hanya pada waktu senang saja) meninggalkan dirinya. Si anak bungsu ditinggalkan sendirian dengan kesusahan hidupnya, rasa bersalahnya dan ketakutannya. Dia mulai menyadari betapa buruk kesalahan yang telah dibuatnya ketika meninggalkan ayahnya.

Anak yang sulung dalam perumpamaan ini juga seorang pribadi yang dapat kita pahami. Ketika dia pulang dari kerjanya di ladang milik ayahnya, dia marah ketika mengetahui berlangsungnya pesta bagi saudara laki-lakinya “yang tak berguna” itu. Sekilas lintas kelihatannya si anak sulung ini seakan dikhianati, namun sedikit ruang saja bagi kita untuk membenarkan sikap dan perilakunya yang dipenuhi kecemburuan. Seyogianya dia merasa berbahagia karena adiknya sudah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Marilah kita lihat lagi protes si anak sulung kepada ayahnya: “Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” (Luk 15:29). Terasa bahwa anak sulung itu memandang bekerja untuk ayahnya sebagai suatu bentuk perbudakan dan ketaatannya adalah ketaatan seorang pekerja bayaran, bukan karena relasi antara anak dan ayahnya. Jelas kelihatan bahwa dia melakukan pekerjaan dengan ekspektasi pada suatu hari dia dapat memperoleh ganjaran besar dari ayahnya. Pekerjaannya dimotivasi oleh kepentingan diri, bukan cintakasih. Si anak sulung ini dapat dikatakan mewakilkan para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengeluh dan memprotes perlakuan penuh belas kasih Yesus terhadap para pendosa.

Apabila kita sudah mengetahui kebenaran tentang kedua anak laki-laki bersaudara itu, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya cerita ini dimaksudkan bagi kita untuk memfokuskan perhatian kita pada sang ayah agar dapat dapat memperoleh sesuatu gambaran tentang Allah. Ketika si anak bungsu mengungkapkan ide untuk meninggalkan rumah, sang ayah sungguh merasa susah-hati. Ia tahu bahaya-bahaya apa saja yang akan dihadapi anaknya. Namun pada saat bersamaan dia juga memahami kebutuhan anaknya dan adalah hak si anak untuk menjadi seorang bebas. Keputusan sang ayah untuk tidak mau mendominir atau mengontrol anaknya pada saat itu dalam kehidupan anaknya karena dia sadar bahwa cintakasih untuk menjadi sejati harus diberikan secara bebas, artinya tidak dapat dipaksakan. Jadi, ketika si anak “ngotot” untuk memperoleh kebebasannya, sang ayah dalam kebaikannya yang penuh kasih dengan hati sedih memberikan persetujuannya.

Setelah si anak bungsu meninggalkan rumah, sang ayah berharap bahwa pengalaman dalam petualangannya akan mengajar dia tentang nilai-nilai sejati, karena kelihatannya kata-kata sang ayah tidak didengarkan. Setiap hari sang ayah naik ke atas bukit dan melihat jalan yang membentang sejauh matanya memandang dengan pengharapan bahwa siapa tahu dia akan melihat dari kejauhan anak bungsunya yang sedang berjalan pulang. Pada suatu hari pengharapannya dipenuhi. Dia berlari menjemput anak bungsunya, lalu dia merangkulnya dan dengan ketidaksabaran yang mengungkapkan emosinya secara mendalam. Bahkan dia tidak memberi kesempatan kepada anaknya menyelesaikan permohonan ampunnya yang sudah dihafalkan baik-baik olehnya. Si anak bungsu mengetahui bahwa dia pantas mendengar ayahnya mengucapkan kata-kata keras, namun apa yang didengarnya adalah penerimaan penuh kasih dari sang ayah. Sang ayah memang tidak menikmati penghinaan atas diri anak-Nya sendiri.

O, betapa besar kasih sang ayah bagi si anak bungsu. Namun kasihnya kepada anaknya yang sulung pun tidak berkurang sedikitpun. Sang ayah menolak untuk dipaksa berpihak kepada salah satu anaknya. Dua-dua anaknya telah menunjukkan kesalahan mereka, namun sang ayah tidak pernah berhenti mengasihi kedua-duanya. Dengan segala kelemahan dan kekurangan masing-masing, sang ayah mengasihi kedua-duanya karena mereka memang adalah anak-anaknya.

Dalam artian tertentu, kita adalah seperti si anak bungsu, namun kita juga seperti si anak sulung. Di mana pun kita berdiri, Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Allah memberikan kepada kita kebebasan karena Dia ingin suatu kasih yang diberikan secara bebas, tidak dipaksakan. Yesus juga menginginkan kita mengetahui bahwa bahkan setelah melakukan kesalahan yang paling tolol dan dosa-dosa yang paling tragis sekali pun, Allah akan tetap mencari kita dengan tangan-tangan terbuka agar dapat mengambil kita kembali sebagai anak-anak-Nya. Allah kita adalah sungguh-sungguh ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami kita, anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Mac 08, 2013

DUA SIKAP YANG SANGAT BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 9 Maret 2013)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14)

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Sangat pentinglah bagi kita semua untuk memahami bahwa kita diselamatkan oleh rahmat melalui iman. Hal ini adalah perbedaan fundamental antara orang Farisi dan si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus ini. Orang Farisi itu percaya bahwa dirinya akan dibenarkan oleh hasil kerjanya sendiri, sementara si pemungut cukai menyadari bahwa dirinya adalah seorang pendosa dan bahwa pengharapan satu-satunya bagi dirinya adalah belas kasih Allah. Dua sikap yang saling berbeda ini sungguh dapat membawa dampak atas cara hidup kita.

Apabila kita mengikuti jalan pemikiran orang Farisi itu, kita akan secara konstan mengingatkan Allah betapa keras kita telah bekerja untuk menyenangkan hati-Nya; dengan demikian kita akan mengharapkan Dia untuk memberikan ganjaran kepada kita untuk segala jerih payah kita itu. Perhatikanlah dari bacaan Injil di atas, bahwa orang Farisi itu samasekali tidak mohon belas kasih (kerahiman) Allah bagi dirinya. Di lain pihak kita, jika kita mengikuti teladan yang diberikan oleh si pemungut cukai, maka kita akan menyadari bahwa kita tidak dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kekuatan kita sendiri. Kita hanya dibenarkan oleh rahmat Allah melalui kebaikan-kebaikan Yesus. Fondasi kita akan terjamin karena Yesus telah membayar harga dosa kita, dan kita tidak akan merasakan seakan kita harus membuat deals ini-itu dengan Allah.

Apabila kita dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kebaikan kita sendiri, maka Yesus tidak perlu mati di kayu salib. Akan tetapi, karena kita sudah hidup terpisah dari Allah gara-gara dosa dan tidak mempu menyelamatkan diri sendiri, maka Allah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal guna membayar denda-denda atas dosa kita. Hanya melalui penderitaan sengsara-Nya yang sempurna, maka kita dapat diampuni dan dibawa kembali ke hadapan hadirat Allah.

Bagaimana kiranya kebenaran-kebenaran sedemikian membawa dampak atas tindak-tanduk kita dalam kehidupan kita? Pengetahuan bahwa Yesus telah memenangkan keselamatan kita dapat meringkan kita dari banyak beban. Kita telah diterima oleh Bapa surgawi apabila kita berpaling kepada-Nya dan menggantungkan diri pada rahmat-Nya guna membebaskan kita dari dosa. Hal ini sangatlah berbeda dengan upaya keras kita untuk memenangkan surga dengan menggunakan segala kekuatan kita sendiri, di mana setiap kegagalan berakibat pada rasa takut dihukum, dan setiap keberhasilan mengakibatkan kesombongan dan pembenaran diri sendiri. Terpujilah Allah bahwa setiap kali kita mempraktekkan iman kita berkaitan dengan keselamatan kita, maka kita kian bertumbuh dalam rasa percaya dan lebih mentaati Allah lagi, dan kita pun menjadi lebih penuh semangat untuk mensyeringkan Kabar Baik dengan setiap orang yang kita jumpai. Oleh karena itu marilah kita meneladan si pemungut cukai dan terus membuat belas kasih (kerahiman) Allah dan kasih-Nya sebagai fondasi hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Mu Engkau telah menebus kami bagi Allah. Kasih-Mu yang tanpa batas bagi kami memang melampaui segala ukuran. Tolonglah kami agar dapat hidup dalam iman pada hari dan selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mac 07, 2013

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 8 Maret 2013)

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17

Kelihatannya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Jawaban Yesus mengacu pada apa yang tertulis dalam Ul 6:4-5 dan Im 19:18. Dan, ahli Taurat itu menanggapi jawaban Yesus itu dengan positif: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Luk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat untuk pemahamannya bahwa kasih adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama – ini adalah perintah paling utama, kata Yesus kepadanya. Dan orang itu pun setuju sepenuh hatinya dengan jawaban Yesus itu.

Namun mengasihi Allah dan sesama tidaklah semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah sebuah tantangan bagi orang-orang pada umumnya, teristimewa mereka yang tergolong menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar. Mereka memiliki banyak kenikmatan materiil, dan hal ini cenderung membuat orang menjadi semakin serakah, semakin tamak. Mereka pun tidak secara otomatis merasakan adanya kebutuhan besar akan satu sama lain. Pengaruh iklan-iklan di media massa, misalnya televisi, juga ada (kalau saya tidak katakan banyak) yang bersifat negatif. Ujung-ujungnya membuat orang-orang menjadi ingin mendapat/memperoleh saja daripada memberi. Dengan demikian cinta atau kasih hanya menjadi daya tarik pada tingkat permukaan saja yang tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati.

Sungguh merupakan suatu tragedi, apabila seseorang memiliki sebuah rumah indah yang dilengkapi dengan dengan segala aksesorinya seperti mebel-mebel mahal, televisi dengan layar lebar di ruang keluarga, beberapa buah mobil dlsb., namun rumah itu bukanlah rumah yang membahagiakan para penghuninya …… karena kasih-sejati tidak ada dalam rumah itu. Tidak ada kasih-sejati yang tidak terbuka, penuh kemurahan-hati, penuh pengorbanan dan berdisiplin. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Kasih yang sejati mengalir ke luar dari diri seorang pribadi kepada orang-orang lain. Apabila kasih yang sejati tidak bertumbuh secara aktif dan hidup subur dalam keluarga, bagaimana kasih sejati itu mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Ini adalah tanggung-jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar kasih sejati kepada anak-anak mereka, dan mereka sendiri harus memiliki kasih sejati tersebut. Para orangtua itu harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.
DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mac 05, 2013

HUKUM ITU DITULIS PADA HATI KITA


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 6 Maret 2013)

“Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu.

Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh YHWH, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti YHWH, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yanag dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.” (Ul 4:1,5-9)

Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20; Bacaan Injil: Mat 5:17-19

Sementara banyak masyarakat kuno menyembah kekuatan-kekuatan alam yang tidak personal dan berubah-ubah itu, orang-orang Yahudi berbeda secara radikal. Mereka percaya kepada ‘seorang’ Allah yang adil dan mengasihi, yang menyatakan nama-Nya kepada mereka, memberikan kepada mereka wawasan ke dalam pikiran-Nya sendiri, dan memberikan kepada mereka perintah-perintah untuk dipatuhi dalam hidup mereka. Allah ini memerintahkan mereka untuk saling mengasihi satu sama lain dan untuk bersikap dan bertindak adil dengan siapa saja – anggota keluarga, teman dan sahabat, bahkan dengan orang-orang asing. Ia memanggil Israel untuk memperhatikan orang-orang tertindas, memberi makan kepada orang-orang lapar, menunjukkan kebaikan hati kepada para janda dan yatim-piatu, dan untuk hidup damai dengan para tetangga mereka.

Karena perintah-perintah ini, Israel menjadi suatu umat/bangsa yang dipisahkan secara khusus. Ketika orang-orang Israel setia pada perintah-perintah YHWH-Allah, hal itu disebabkan mereka melihat bagaimana Allah memperlakukan mereka dengan kebaikan yang penuh kasih dan mereka percaya bahwa dengan hidup senurut jalan-Nya mereka akan mengenal dan mengalami perlindungan-Nya. Namun demikian ada seseorang yang akan datang, yang akan menarik mereka bahkan semakin dekat dengan Allah mereka dan memberdayakan mereka secara lebih mendalam. Yesus adalah kepenuhan dari segalanya yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).

Yesus datang untuk mencurahkan hidup dalam Roh Kudus – untuk memberdayakan kita memasuki suatu relasi yang baru dengan Bapa surgawi. Dengan demikian hukum tidak lagi menjadi otoritas di luar dan di atas umat Allah. Sekarang hukum itu akan ditulis pada hati kita, dan memancar ke luar sebagai mata air yang bersih dari suatu hidup baru. Hikmat ilahi dan pemahaman akan Allah yang sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang bersifat eksternal dan sulit, sekarang dapat mengisi jiwa siapa pun yang terbuka bagi karunia-karunia Roh.

Dengan rasa percaya dan iman dalam rahmat yang mengalir secara berkelimpahan yang tersedia bagi kita dalam perjanjian baru ini, marilah kita mendekati Allah dalam kebebasan yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita. Kita tidak lagi terikat dengan standar-standar kinerja/performa yang kaku – hanya pada perintah untuk mengasihi seperti Dia mengasihi. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi Roh Kudus dan memperkenankan Dia membangun karakter Allah sendiri dalam hati kita masing-masing. Hukum-Nya dapat menjadi jalan bagaimana kita berpikir dan bertindak karena Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita sedang bergerak dan aktif di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Allahku, Engkau mendekatkan diri-Mu kepada kami sehingga kami dapat dekat kepada-Mu. Tulislah hukum-hukum-Mu pada hati kami masing-masing sehingga kami dapat mentaati-Mu dalam segala hal. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mac 04, 2013

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 5 Maret 2013)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.
Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35)

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Petrus bertanya kepada Yesus berapa kali dia harus mengampuni seseorang yang berdosa terhadap dirinya: “Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21), barangkali angka 7 (tujuh) bagi Petrus sudah merupakan angka kemurahan-hati yang luar biasa ……, artinya untuk ukuran Petrus. Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Dengan mengikuti tradisi Yahudi, Petrus berpikir bahwa setelah seseorang berdosa terhadap dirinya sejumlah tertentu maka diperbolehkanlah bagi dirinya untuk tidak mengampuni. Akan tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita harus senantiasa mengampuni orang yang berdosa terhadap diri kita, berapa kali pun orang itu berdosa terhadap diri kita.

Hampir semua orang Kristiani mengetahui ajaran Yesus ini, dan kita ditantang untuk mengampuni orang lain yang berdosa terhadap diri kita karena inilah yang diperintahkan oleh Yesus. Namun, apakah realitasnya dalam kehidupan kita? Apakah kita sungguh mengampuni orang-orang lain “dari hati kita” (Mat 18:35)? Atau apakah kita menolak untuk mengampuni orang-orang yang berulang kali menyakiti hati kita?

Dasar dari kemampuan kita untuk mengampuni orang-orang lain secara mendalam adalah pengampunan Allah atas diri kita. Raja dalam perumpamaan Yesus hari ini – yang melambangkan Allah sendiri – mengampuni utang yang besar dari seorang hambanya, semua dianggap lunas. Akan tetapi hambanya ini tidak mengampuni seperti dirinya sendiri diampuni oleh sang raja, dengan demikian ia ditegur keras. Ia tidak menyadari betapa besar belas kasih yang telah ditunjukkan oleh sang raja bagi dirinya.

Kita dipanggil untuk mengampuni orang-orang lain yang melukai dan berdosa terhadap diri kita karena Allah sendiri telah mengampuni dosa-dosa kita terhadap-Nya. Baik “Doa Bapa Kami” (Mat 6:12) maupun perumpamaan Yesus hari ini membuat jelas pokok ini. Apabila kita merenungkan kebesaran/keagungan dari pengampunan Allah dan belas kasih-Nya yang terbukti dalam kematian Yesus di kayu salib, maka kita pun tertantang untuk mengampuni orang-orang lain dari kedalaman hati kita dan dengan penuh sukacita mengikuti jejak Yesus.

Bagaimana kiranya kita dapat menjadi orang Kristiani yang penuh pengampunan? Pertama-tama, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuat nyata bagi kita pengampunan penuh kasih yang telah kita terima dari Bapa surgawi. Baiklah kita juga menerima rahmat yang telah diberikan Allah kepada kita untuk mengampuni, karena pengampunan adalah karya Allah di dalam diri kita. Kemudian, dalam terang belas kasih Allah dan diberdayakan oleh rahmat-Nya, kita pun dapat mulai mengampuni orang-orang lain. Seringkali hal ini tidaklah mudah, dan kita mungkin perlu mengucapkan pengampunan kita kepada Allah dalam doa, atau bahkan kepada orang yang perlu kita ampuni. Akan tetapi ketika kita sungguh mengampuni seseorang dari hati, meka kita pun menerima kebebasan dan pembersihan, dan kita mampu untuk maju terus dalam kehidupan ini, bahkan membangun relasi cintakasih yang lebih kuat lagi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa sukar bagiku untuk mengampuni orang yang berdosa terhadap diriku. Roh-Mu adalah Roh pengampunan sedangkan roh yang tidak mau mengampuni berasal dari si Jahat. Namun dengan kekuatanku sendiri, aku tidak akan mampu mengampuni orang-orang yang telah mendzolimi aku. Aku percaya bahwa Engkau telah menang atas kuasa Iblis. Taruhlah Roh-Mu yang kudus ke dalam hatiku agar aku dapat mengampuni. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Mac 03, 2013

YESUS DITOLAK OLEH ORANG-ORANG KAMPUNG-NYA SENDIRI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Senin, 4 Maret 2013)

Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:24-30)

Bacaan Pertama: 2Raj 5:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

Penolakan yang dialami oleh Yesus di kampung halaman-Nya sendiri tentunya sangat menyakiti hati-Nya. Di tempat itu – Nazaret – ada teman-teman-Nya dan juga para tetangga-Nya yang telah dikenal-Nya dan dicintai-Nya sejak masa kecil-Nya dahulu. Barangkali Dia telah melayani mereka dalam bengkel Yusuf, berada bersama mereka dalam perayaan-perayaan pesta kampung-Nya, dan beribadat bersama mereka di dalam sinagoga. Namun demikian, ternyata mereka tega untuk mengusir diri-Nya ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung dan berniat melemparkan-Nya dari tebing itu.

Apakah yang menyebabkan orang-orang Nazaret menolak Yesus? Tentunya mereka telah bergumul dalam diri masing-masing guna membuang pandangan-pandangan sempit tentang siapa Yesus itu sebenarnya (inilah yang dinamakan intra-personal conflict). Mereka ditantang pada hari itu untuk dapat membuka diri bagi Allah yang bekerja di tengah-tengah mereka dengan cara yang baru dan tak diharap-harapkan. Menghadapi tantangan sedemikian, lebih mudahlah bagi mereka untuk menolak Yesus daripada mengambil risiko kehilangan pandangan mereka tentang Allah dan cara-Nya bekerja di tengah dunia yang sudah familiar bagi mereka. Di kemudian hari para petinggi Yahudi di Yerusalem – para anggota bangsa-Nya sendiri – juga menolak diri-Nya. Dalam masyarakat Yahudi, Yesus menjadi seorang misfit, tidak cocok dengan harapan-harapan serta gambaran masyarakat tentang Mesias, jadi Dia pun ditolak dan kemudian dihukum mati. Orang-orang Yahudi itu melakukan substitusi terhadap pandangan Allah dengan pandangan mereka sendiri, dengan demikian menolak hal baru yang dilakukan Tuhan di tengah-tengah mereka.

Dalam artian tertentu, kita mungkin seperti orang-orang Nazaret itu. Yesus sudah familiar di mata kita. Tidak sedikit dari kita telah mendengar cerita-cerita Injil sejak kita masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Tetapi sampai seberapa dalamkah kita sudah mengenal Yesus? Percayakah kita bahwa Dia dapat membuat mukjizat-mukjizat dalam kehidupan kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk melawan serta mengatasi dosa dan kuat-kuasa untuk mengampuni orang yang mendzolimi kita? Percayakah kita bahwa Yesus Kristus berdiam dalam diri kita dan memanggil kita untuk menjadi Yesus Kristus bagi orang-orang lain, untuk menjadi alter Christus? Allah ingin melakukan begitu banyak hal dalam kehidupan kita. Yang diminta oleh Allah hanyalah agar kita bersedia menanggung risiko bersama Dia dalam iman dan membiarkan Dia menyatakan kuat-kuasa-Nya.

Walaupun menghadapi kemarahan dan kekerasan orang-orang sekampung-Nya, Yesus berjalan di tengah-tengah mereka, lalu pergi …… tanpa cedera sedikit pun. Yesus tidak dapat dikalahkan oleh apa dan/atau siapapun. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia pun samasekali tidak ingin melihat kita dikalahkan oleh dosa. Dengan demikian, marilah kita mengundang Dia untuk masuk ke dalam hati kita lebih dalam lagi sehingga kita dapat mengalami berkat-berkat dari suatu relasi yang hidup dengan diri-Nya – pengalaman akan kehadiran-Nya dan kuat-kuasa-Nya yang mengalir di dalam diri kita, melalui kita, kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin agar diri kami terbuka bagi-Mu dan Engkau masuk ke dalam hati kami yang terdalam. Lebarkanlah dan luaskanlah harapan-harapan kami dan tunjukkanlah kepada kami kuat-kuasa-Mu dan kemuliaan-Mu yang bekerja di tengah dunia, dalam kehidupan kami, setiap hari, teristimewa dalam masa Prapaskah ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mac 02, 2013

MELAKUKAN PERTOBATAN


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH III (Tahun C) – 3 Maret 2013)

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9)

Bacaan Pertama: Kel 3:1-8a,13-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-8,11; Bacaan Kedua: 1Kor 10:1-6,10-12

Dari media massa kita terus-menerus disuguhi dengan begitu banyak tragedi yang terjadi di seluruh dunia yang memakan begitu banyak korban hidup manusia dan juga uang: perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung hampir dua tahun, bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir dlsb. yang terjadi di mana-mana. Tragedi-tragedi ini mengingatkan kita akan orang-orang yang disebutkan dalam bacaan Injil hari ini: Orang-orang Galilea yang dibantai oleh Pilatus dan 18 orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam. Seperti juga orang-orang pada zaman Yesus, barangkali kita juga tergoda untuk merasa bahwa korban-korban tragedi-tragedi yang terjadi secara mendadak dan tidak diharap-harpkan itu menerima hukuman yang adil atas dosa-dosa mereka.

Namun dari bacaan Injil hari ini kita diperingatkan oleh Yesus – seperti juga sering dilakukan-Nya dalam bagian-bagian lain dari keempat kitab Injil – bahwa bukanlah hak kita untuk menghakimi orang-orang lain dan kesalahan-kesalahan mereka di mata Allah. Hanya Allah-lah yang sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Daripada menghakimi korban-korban berbagai tragedi itu, kita seharusnya memanfaatkan pengalaman mereka dengan memperkenankan tragedi itu mengingatkan kita bahwa kita harus menghadapi hukuman mati abadi kita sendiri apabila kita tidak sungguh-sungguh melakukan pertobatan. Seperti diingatkan oleh Yesus: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5).

Khotbah-khotbah yang berisikan “kata-kata keras dari Yesus” diperkirakan tidak begitu disenangi oleh umat, a.l. yang menyangkut “pertobatan.” Berikut ini adalah catatan “argumentasi” mereka: Tidak ada orang yang suka duduk di dalam gereja dan mendengar khotbah-khotbah seorang pendeta/imam yang berisikan pesan-pesan dari Kitab Suci yang merupakan prediksi-prediksi mengerikan menyangkut kutukan abadi. Bukankah, umat berada di dalam gereja karena mereka berupaya untuk menjadi manusia-manusia baik dan ingin menyenangkan Allah? Bukankah mereka bukan orang-orang kafir atau atheis? Bukankah mereka yang menghadiri Misa atau kebaktian di gereja adalah orang-orang kudus yang hidup, apabila dibandingkan dengan banyak orang lain di luar? Oleh karena itu, mengapa mereka harus mendengar khotbah-khotbah keras tentang pertobatan?

Yang sangat penting untuk kita sadari adalah kebenaran bahwa kita tidak dapat menjadi puas-diri. Rasa puas-diri akan menggiring kita kepada kesombongan, dan memang ada ungkapan dalam bahasa Inggris, “Pride comes before the fall” … kesombongan datang sebelum kejatuhan. Itulah sebabnya mengapa Santo Paulus mengingatkan kita: “… siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor 10:12). Santo Paulus (lihat 1Kor 10:1-6) juga mengemukakan bahwa Allah menunjukkan perhatian-Nya yang besar kepada umat-Nya dalam “keluaran” dari tanah Mesir, dan di padang gurun Ia memberi mereka makan lewat mukjizat. Mereka mengetahui bahwa mereka telah dipilih oleh Allah, namun tetap saja mereka mengecewakan hati Allah lewat gerutu dan sungut-sungut mereka dsb. Sikap memberontak orang-orang Israel itu tidak muncul secara tiba-tiba. Orang-orang Israel itu membuat diri mereka terbuai ke dalam semangat puas-diri dengan mana mereka merasa bahwa semuanya baik dalam kehidupan mereka, tokh Allah akan memperhatikan mereka, apa pun yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Mereka percaya kepada diri mereka sendiri, oleh karena itu mereka mereasa superior atau lebih hebat dari orang-orang lain, dan dari ketinggian posisi kesombongan jatuhlah mereka di hadapan Allah yang merasa tidak senang dan kemudian menghukum mereka: “… Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun” (1Kor 10:5).

Kita (anda dan saya) adalah umat pilihan yang baru. Kita telah melalui suatu “keluaran” pada saat kita dibaptis. Dalam padang gurun dunia ini kita diberi makan dengan tubuh dan darah Kristus sendiri. Kita adalah umat beriman – umat yang percaya -, namun di dalam “Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci” dikatakan, “Kepada umat beriman pun Gereja selalu wajib mewartakan iman dan pertobatan” (SC 9). Dengan demikian, kita semua pun tidak dapat membenamkan diri dalam sikap puas-diri. Memang benar dan samasekali tidak salah bahwa Allah itu senantiasa sabar terhadap kita yang suka “mbalelo”. Allah juga akan memberikan kepada kita banyak kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Namun kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memperingatkan kita bahwa apabila pohon ara tidak menghasilkan buah pada waktu yang baik, maka pohon ara itu pun akan ditebang (lihat Luk 13:7). Kita tidak mengetahui dan tidak pernah akan mengetahui berapa lama lagi Allah akan memberikan waktu kepada kita masing-masing, tetapi Allah – dalam dan karena kasih-Nya – memberikan kepada kita masa Prapaskah ini sebagai rahmat untuk melakukan pertobatan.

Pertobatan bukanlah terutama menyangkut pembayaran denda atas dosa-dosa kita di masa lampau, melainkan dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam hidup kita untuk menjadi lebih baik pada saat ini sehingga kita dapat berdiri tegak di masa depan. Pertobatan dimulai dengan suatu tindakan kerendahan-hati, secara jujur menerima kenyataan bahwa tanpa Allah kita tidak pernah akan berhasil. Kejujuran yang rendah-hati tentunya harus mencakup suatu pemeriksaan batin secara terinci. Dan di samping puasa, pantang dan mati-raga lainnya, ada dua area yang patut disoroti selama masa Prapaskah ini, yaitu doa dan pemberian derma/sedekah.

Dalam hal berdoa, baiklah kita harus selalu mengingat dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri (Mat 6:5-8). Bagaimana kita dapat menjadi lebih khusyuk dalam berdoa? Kita harus mencoba berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam doa-doa selama Misa. Kita membaca doa-doa itu dari lembaran-lembaran atau buku Misa, yang sekadar terdiri dari huruf-huruf mati. Jadi, tergantung kepada kita sendirilah untuk memberikan kehangatan dan makna kepada kata-kata itu. Doa juga tidak boleh dibatasi hanya pada saat kita berada di gereja. Doa harus menjadi bagian riil dari kehidupan kita sepanjang pekan berjalan, kemudian dilanjutkan dengan hari Minggu yang akan datang, dan seterusnya. Dalam satu suratnya yang lain, Santo Paulus mengingatkan kita begini: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5:16-18).

Dalam hal pemberian sedekah, kita harus senantiasa mengingat dan melaksanakan ajaran Yesus sendiri (Mat 6:1-4). Bagaimana kita dapat menjadi lebih bermurah-hati dalam kegiatan memberi derma/sedekah? Kita harus secara tetap berjuang untuk semakin sedikit memikirkan diri sendiri dan semakin banyak memiliki keprihatinan terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka dengan siapa kita hidup dan bekerja. Cintakasih kita kepada Allah harus mengalir ke dalam cintakasih kita kepada sesama. Akan tetapi dalam segala hal yang kita lakukan kita harus menggabungkan suatu keyakinan yang tak tergoyahkan akan Allah dengan rasa takut yang sehat akan kelemahan kita. Itulah sebabnya mengapa kita dengan rendah-hati membuat pernyataan sebelum menyambut Komuni: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

Hari ini atau barangkali besok, kita mungkin akan mendengar lagi tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi. Bukanlah hak kita untuk menghakimi para korban tragedi. Akan tetapi ketidakberuntungan mereka seharusnya mengingatkan kita semua akan sabda Yesus: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5).

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Saat untuk melakukan pertobatan itu adalah sekarang juga!

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, dalam Masa Prapaskah ini, terimalah pengakuan dosa-dosa kami yang tulus dan tegakkanlah kami yang selama ini tertindih oleh beban-beban dosa kami. Bimbinglah kami dalam doa-doa kami, puasa dan pantang serta pemberian derma yang kami lakukan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS