Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, April 10, 2017

PERBUATLAH DENGAN SEGERA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 11 April 2017)
 
Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.
Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.
Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33.36-38) 
Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17
Episode dari Injil Yohanes di atas menggambarkan saat-saat genting-penting dalam kehidupan Yesus di dunia: pengkhianatan oleh si murid (rasul) korup (lihat Yoh 12:4-6). Gambaran besarnya adalah “perjamuan terakhir”, perjamuan Yesus dengan para murid dalam rangka perayaan Paskah. Upacara “pembasuhan kaki para murid” disertai pengajaran agar para murid mengikuti teladan-Nya telah selesai dilakukan oleh-Nya (Yoh 13:1-15). Demikian pula dengan pengajaran singkat yang diakhiri dengan pernyataan sangat penting bagi para murid-Nya pada waktu itu, tentunya para murid/utusan-Nya di masa-masa mendatang: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh 13:20). Episode di atas kemudian disusul dengan serangkaian pengajaran Yesus (Yoh 14:1-16:33). Setelah itu, sebelum ditangkap di taman Getsemani, Injil Yohanes menggambarkan Yesus yang berdoa kepada Bapa surgawi untuk para murid-Nya (Yoh 17:1-26).
Yesus tahu benar tentang rencana jahat Yudas. Ia berkata kepada Yudas, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera” (Yoh 13:27). Dengan begitu Yesus memperkenankan dimulainya serangkaian kejadian yang akan memuncak keesokan siang harinya dengan kematian-Nya di kayu salib di bukit Kalvari. Di sinilah terletak ironi besar dalam Pekan Suci. Setelah Yudas meninggalkan ruangan perjamuan, Yesus bersabda: “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera” (Yoh 13:31-32). Ia mengatakan ini justru setelah baru saja mengkomit diri-Nya pada kematian di kayu salib, yaitu dengan memberi lampu hijau kepada Yudas. Pernyataan Yesus ini mengandung kebenaran tersembunyi tentang keputusan-Nya tersebut.
Ada paradoks rencana penyelamatan ilahi di sini. Karena kasih, Putera Allah yang Mahakuasa menjadi manusia agar Ia dapat menyelamatkan dunia, dan dalam upaya penyelamatan itu kematian di salib adalah jalan yang harus ditempuh. Dalam kematian Yesus di kayu salib kita melihat hikmat Allah, suatu perwujudan-nyata dari kasih Allah yang penuh kerahiman bagi dunia dan seisinya.  Yesus melihat kemuliaan-Nya dan kemuliaan Bapa surgawi, dalam peristiwa pengkhianatan seorang murid yang dipilih-Nya sendiri dan dikasihi-Nya; juga pada saat-saat Dia dituduh dan dihukum oleh para pemuka agama bangsa-Nya sendiri dan dihukum oleh seorang penguasa negara yang plin-plan.  Yesus dimuliakan pada saat Ia disiksa, didera, diludahi dan diolok-olok serta dihina, karena dengan demikian Ia menerima kehendak Bapa – bahwa Dia harus menanggung hukuman mati demi saudari-saudaranya (manusia) yang berdosa. Justru karena Yesus telah mengalami diri-Nya ditinggalkan oleh Bapa, mengalami desolasi dan penolakan demi ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa, maka sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa; dari sanalah Ia melakukan syafaat untuk seluruh umat manusia.
Ketika sejarah berada pada titik kritis, ketaatan Yesus pada kehendak Bapa memancar terang dengan indah dan penuh keagungan. Yesus mempertimbangkan ketundukan serta ketaatan pada Allah – yang justru ditolak Lucifer dan begundal-begundalnya – sebagai kehormatan dan kemenangan besar. Ketaatan Yesus telah menjungkir-balikkan segala pra-konsepsi dan membuktikan bahwa Allah itu mahaadil dan maharahim. Cintakasih Yesus yang total kepada Bapa mengungkapkan kasih yang total Allah kepada dunia. Di sini ditunjukkanlah seorang Bapa, yang demi menyelamatkan anak-anak-Nya tidak sungkan-sungkan untuk membayar harga semahal apa pun. At all costs! 
DOA: O Raja segala raja, Engkau menerima mahkota berduri, jubah penderitaan dan kematian demi keselamatan diriku. Engkau tidak pernah mengkhianati Bapa, sedangkan aku – seperti Yudas Iskariot – pernah menghianati-Mu. Jagalah aku selalu agar tidak mengkhianati-Mu lagi. Aku kehabisan kata-kata untuk memuji-muji-Mu, ya Tuhan. Hanya terima kasih penuh syukur yang dapat kuucapkan. Amin.
Sumber :

Ahad, April 09, 2017

HAMBA YHWH PERJANJIAN BARU ADALAH YESUS SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI, 10  April 2017) 
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Beginilah firman Allah, TUHAN (YHWH), yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: “Aku ini, YHWH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. (Yes 42:1-7) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14; Bacaan Injil: Yoh 12:1-11 
Menjelang akhir dari masa pembuangan Babel, antara tahun 550 dan 538 SM, artinya sekitar 2.500 tahun lalu, YHWH Allah berbicara kepada seorang nabi yang identitasnya begitu terselubung dalam misteri, sehingga para pakar hanya dapat memberikan nama kepadanya “Yesaya Kedua” atau dalam bahasa kerennya “Deutero Yesaya”, karena keserupaan tulisannya dengan nabi Yesaya yang  besar itu, yang hidup sekitar 200 tahun sebelumnya. Kiranya “Yesaya Kedua” ini adalah seorang beriman yang dengan tekun telah mempelajari tulisan nabi Yesaya. Dia mewartakan serangkaian pesan yang sekarang dikenal sebagai “kitab penghiburan” dalam Kitab Yesaya (Yes 40-55). Nabi yang tak dikenal ini hidup bersama orang-orang Yahudi sebangsanya di pembuangan Babel sekitar tahun 550 SM.  Kota suci Yerusalem pada masa itu telah dirusak dan diporak-porandakan, dan Bait Suci tempat berdiam YHWH telah dibakar habis-habisan. Segalanya yang dipandang sebagai berkat dari YHWH Allah – tanah mereka, raja mereka, Bait Suci mereka, semuanya sudah hilang. Sekarang mereka berada dalam pembuangan yang menyedihkan. Banyak dari mereka bertanya: “Apakah Allah telah meninggalkan mereka sepenuhnya dan untuk selama-lamanya?
Dalam suasana keragu-raguan akan kasih Allah yang hampir mendekati titik keputus-asaan ini, maka YHWH Allah – lewat mulut nabi-Nya – mengucapkan sabda penghiburan dan janji-Nya. Sepanjang nubuatan-nubuatannya, sang nabi mengatakan kepada umat Yahudi betapa mendalamnya Allah ingin memulihkan relasi-Nya dengan umat-Nya. Sang nabi memahami bahwa sejarah – baik di masa lampau maupun masa mendatang – bergantung pada penghiburan dan pengharapan yang akan datang, ketika Allah bertindak mengampuni umat-Nya dan memulihkan mereka untuk berbalik kepada-Nya.
Dalam Yes 40-50 terdapat 4 (empat) sajak yang biasa dinamakan “Nyanyian Hamba YHWH” (Yes 42:1-7;  49:1-6; 50:4-9; 52:13-53:12). Nyanyian-nyanyian ini melukiskan sebuah gambar tentang seseorang yang hidupnya diabdikan sepenuhnya kepada YHWH Allah, dan yang penderitaannya untuk YHWH mendatangkan pengampunan dan restorasi atas umat-Nya. Identitas hamba Allah ini tidak diketahui, namun Gereja secara tradisional melihat dalam nyanyian-nyanyian ini suatu gambaran kenabian dari Yesus sendiri yang diinspirasikan Roh Kudus. Yesus adalah seorang hamba Allah yang sempurna, yang sengsara dan wafat-Nya di kayu salib membawa kita kembali ke dalam pelukan Bapa surgawi.

Dalam Pekan Suci ini, Allah mengundang kita  semua untuk memusatkan pandangan kita pada Yesus, agar kita dapat mengalami kasih-Nya yang luarbiasa besar bagi kita. Sebagaimana sang hamba YHWH dalam Kitab Yesaya, Yesus memperhatikan kita dengan hati yang penuh bela rasa dan  belas kasih: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yes 42:3). Konsepsi manusia tentang keadilan memang berbeda dengan konsepsi Allah. Keadilan Allah tidak datang kepada umat manusia melalui hukum atau kekuatan militer, namun sebagai seorang Manusia yang menderita karena ketidakadilan hukuman yang sebenarnya pantas ditimpakan kepada kita semua. Yesus adalah utusan Allah yang dipercayai-Nya untuk menghentikan segala penindasan dan untuk menegakkan keadilan (lihat Yes 42:4). Yesus datang ke tengah-tengah dunia membawakan keselamatan, bukan hukuman (lihat Yoh 3:17). Ia datang untuk membawa kesembuhan dan pengharapan kepada siapa saja yang datang kepada-Nya. Selama Pekan Suci ini, marilah kita mohon kepada Tuhan Yesus, untuk menunjukkan kepada kita hati-Nya yang penuh kasih dan membuat hati kita seperti hati-Nya sendiri agar kita dapat mengasihi orang-orang lain seperti Dia mengasihi kita.
DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, bukalah hati kami bagi kasih-Mu yang lemah lembut. Oleh Roh Kudus-Mu, tunjukkanlah kepada kami bela rasa dan belas kasihan-Mu dengan mana Engkau selalu memandang dan memelihara kami. Ajarlah kami untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi. Amin.
Sumber :

Sabtu, April 08, 2017

IA MEMBERIKAN PUTERA-NYA YANG TUNGGAL UNTUK MENYELAMATKAN UMAT MANUSIA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [Tahun A], 9 April 2017) 
Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Perarakan: Mat 21:1-11 
Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9.17-20.23-24; Bacaan Injil: Mat 26:14-27:66.
Pada hari ini Gereja mengundang kita semua untuk sujud menyembah Allah yang begitu mengasihi manusia sehingga Dia memberikan segala sesuatu yang dapat diberikan-Nya guna menyelamatkan kita. Penebusan manusia adalah tindakan tertinggi kasih ilahi di mana seluruh Pribadi ilahi dalam Trinitas turut ambil bagian. Bapa sangat mengasihi kita sehingga Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan umat manusia (termasuk kita). Yesus begitu mengasihi umat menusia juga, sehingga Dia sudi menjadi seperti kita-manusia dan menanggung sendiri hukuman atas dosa-dosa manusia (termasuk dosa kita). Roh Kudus juga sangat mengasihi manusia, sehingga Dia mulai berbicara kepada manusia sejak berabad-abad lalu, melalui para nabi dan raja, untuk mempersiapkan manusia untuk penebusan yang akan datang dan untuk Gereja yang akan menjadi bejana keselamatan untuk seluruh dunia.
Penebusan kita tidak datang hanya karena Allah mengasihi kita-manusia. Secara sukarela Yesus menyerahkan hidup-Nya karena Dia mengasihi Bapa dan secara total berkomitmen untuk melaksanakan kehendak Bapa, berapapun besar biayanya. Yesus tahu dan menaruh kepercayaan-Nya pada  kasih Bapa kepada-Nya, suatu penggenapan dari kata-kata nubuatan sang nabi: “Aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes 50:7). Yesus mampu untuk taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8), karena Dia mengandalkan kuasa Roh yang menopang-Nya dan memberikan keberanian kepada-Nya. Penebusan kita menjadi kenyataan karena kasih sempurna yang terdapat di dalam Trinitas.
Bagaimana Bapa dan Roh Kudus merespons kesetiaan Yesus? “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya  dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Flp 2:9-11). Allah Bapa sangat senang untuk memahkotai Yesus dengan nama “Tuhan” (Yunani: Kyrios) karena Dia melihat ketaatan Yesus dan kemauan-Nya untuk mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penebusan. Sekarang, disatukan dengan Kristus melalui pembaptisan, kita dapat turut ambil bagian dalam hakekat kehidupan Allah dan belajar untuk mengasihi, seperti Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus mengasihi, yaitu selalu penuh dan sempurna.
DOA: Bapa surgawi, hanya karena kasih-Mu sajalah Engkau mengutus Putera-Mu untuk menyelamatkan kami – umat manusia. Yesus, hanya melalui kasih-Mu kepada Bapalah, maka Engkau telah mengosongkan diri-Mu untuk keselamatan kami. Roh Kudus, hanya dalam kasih antara Bapa dan Puteralah, maka Engkau dapat melaksanakan keselamatan kami. Kami merasa terpesona dan takjub melihat kemuliaan-Mu, ya Allah Tritunggal Mahakudus. Kami memuliakan Engkau, memuji Engkau, meluhurkan Engkau! Amin.
Sumber :

Jumaat, April 07, 2017

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 8 April 2017) 
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.
Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Aka datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 
Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13
“Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi  telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia” (Yoh 11:57).
Petikan ayat ini tidak termasuk dalam Bacaan Injil hari ini, namun saya akan menggunakannya juga agar pembahasan kita atas niat jahat orang-orang yang menentang Yesus dilatar-belakangi secara lebih lengkap.
Mengapa orang-orang Farisi dan para pemuka Yahudi begitu membenci Yesus sehingga berniat untuk membunuh-Nya? Mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus dan kebenaran-kebenaran yang diajarkan-Nya itu dimaksudkan untuk melembutkan hati orang dan menarik orang untuk lebih dekat lagi pada Allah. Yesus menginginkan agar orang-orang yang dikasihi-Nya itu memahami bahwa Allah telah datang untuk menyelamatkan mereka. Namun demikian, tindakan-tindakan Yesus itu malah semakin memisahkan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi itu dari diri-Nya.
Memang mudahlah bagi kita untuk melihat bahwa orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi sebagai manusia-manusia berkepala batu dan memiliki hati keras, akan tetapi baiklah pada saat ini kita melihat hati kita sendiri. Tidak mengherankanlah kalau kita mendapatkan hati kita sebenarnya “lebih dekat” dengan hati kaum Farisi dan konco-konco mereka, meskipun kita samasekali tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Orang-orang Farisi sangat religius, suatu hal yang harus kita akui. Mereka mengetahui firman Allah dan merasa yakin sekali bahwa mereka memahami benar cara kerja Allah.  Namun demikian, mereka tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima hal-hal baik yang dilakukan oleh Yesus, malah mereka selalu mencari-cari kesempatan dan celah untuk menjatuhkan-Nya. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita percaya bahwa kita mengetahui benar bagaimana Allah  bekerja? Bagaimana kita akan bereaksi terhadap cerita-cerita ajaib yang menyangkut mukjizat-mukjizat? Bagaimana kita akan bereaksi manakala kita mendengarkan kesaksian seseorang tentang bagaimana Allah bertindak dalam kehidupannya lewat suatu cara yang tidak biasa? Apakah kita akan mempertimbangkannya sebagai sekadar sesuatu yang berbau takhyul atau langsung mencap orang yang bersaksi itu sebagai seorang fanatik? Barangkali kita merasa tertantang ketika mendengar cerita-cerita seperti itu, tetapi akal-budi kita tetap tidak dapat menerimanya, dst.
Yang perlu kita ketahui adalah, bahwa Allah tidak pernah menyerah. Ia akan tetap mencurahkan rahmat dan kuasa-Nya untuk memimpin kita kepada suatu iman yang lebih mendalam. Ia akan menemui kita di mana Dia mau, dengan penuh kelemah-lembutan dan cintakasih. Ia akan menarik kita kepada-Nya, agar kita mengenal diri-Nya dengan lebih baik. Seandainya Allah kelihatan tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan/pengalaman kita, maka kita harus berhati-hati agar kita tidak bereaksi secara negatif. Allah adalah Allah yang Mahasegala, dan kita hanyalah manusia dengan pengetahuan yang sangat-sangat terbatas (meski memiliki gelar S3 dalam teologi sekali pun). Kita tidak pernah boleh memandang rendah dan remeh sesuatu yang mungkin saja memang sungguh merupakan intervensi ilahi dalam sebuah kasus yang dihadapi manusia. Kita juga sekali-kali tidak boleh memandang “miring” terhadap orang yang katanya menerima berkat Allah itu (mis. disembuhkan dari penyakit berat secara ajaib dst.), lalu dengan mudahnya kita berkomentar: “Ah dasar orang Karismatik, fanatik, titik!” Bukankah sikap seperti itu tidak lebih baik dari sikap yang ditunjukkan kaum Farisi dan para pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus hidup di muka bumi?
Tentu saja dalam hal seperti ini sangat perlulah untuk melakukan upaya membeda-bedakan roh atau katakanlah melakukan discernment (discretio), tetapi yang penting sekali juga di sini adalah bagi kita untuk membuka diri terhadap kemungkinan bahwa Allah sedang melakukan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja dimaksudkan untuk menolong kita mengalami kasih-Nya juga. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita selalu. Baiklah kita dengan rendah hati bersiap untuk menerima rahmat Allah, meskipun datang dalam bentuk yang tidak seperti kita harap-harapkan.
DOA: Tuhan Yesus, aku ingin sungguh-sungguh terbuka terhadap sentuhan kasih-Mu. Tolonglah aku untuk percaya bahwa apa saja yang Dikau lakukan terhadapku adalah karena Dikau mengasihiku. Tolonglah aku agar tidak merasa takut terhadap pekerjaan-Mu yang dapat Dikau lakukan dengan berbagai cara yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal-budiku. Tuhan Yesus, aku mengasihi Dikau dengan sepenuh hatiku. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 
Sumber :

Khamis, April 06, 2017

YESUS MENGKLAIM DIRI-NYA SEBAGAI PUTERA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 7 April 2017)  
Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 
Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 
Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Putera Allah (lihat Yoh 10:36), satu dengan Bapa (Yoh 10:30) dan mempunyai suatu relasi yang pribadi dan intim dengan Allah. Bagi orang-orang Yahudi, ini adalah hujat. Sebaliknya, bagi kita umat Kristiani, ini adalah fondasi dari pengharapan kita bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami Allah sebagai Bapa kita dan kita sendiri sebagai anak-anak angkat-Nya.
Yesus – dahulu dan sekarang – adalah setara dengan Bapa – satu dengan Bapa dan Roh Kudus dalam kehidupan Trinitas (Allah Tritunggal Mahakudus). Kita tentunya tidak setara dengan Bapa surgawi, namun kita adalah anak-anak angkat-Nya melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Rasul Paulus menulis, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14-16).
Melalui baptisan, kita dibawa ke dalam keluarga Allah. Selagi kita menghayati iman Kristiani dalam kehidupan kita, kita pun mulai mengalami kasih kebapaan dari Allah dan martabat kita sendiri sebagai anak-anak-Nya. Namun kita juga mengetahui adanya waktu-waktu kekeringan spiritual dan keragu-raguan, pada saat mana Allah terasa jauh sekali. Mengapa hal ini sampai terjadi?
Kadang-kadang Allah memperkenankan adanya waktu-waktu penderitaan atau waktu-waktu di mana kita merasa jauh sekali dari diri-Nya untuk alasan-alasan yang tidak dapat kita pahami. Akan tetapi, seringkali masalahnya terletak dalam hati kita. Barangkali kita merasa inferior dan tak pantas untuk terjalinnya relasi penuh harapan dengan Dia;  barangkali juga kita berpikir bahwa dosa-dosa kita terlalu besar untuk dapat diampuni; bahkan kita dapat membayangkan bahwa Allah sudah begitu bosan dengan dosa kita yang telah berulang-ulang, sehingga Dia membuang kita. Kadang-kadang kita juga dapat merasa ragu-ragu terhadap Allah, karena kita dengan bersusah payah telah mencari bukti yang berwujud sampai pada saat ini, sehingga kita melupakan karya Allah yang terdahulu dalam kehidupan kita. Kita harus mengambil sedikit waktu untuk memikirkan apa kiranya yang selama ini menjadi penghalang antara kita dan kasih yang ingin ditunjukkan Allah kepada kita masing-masing.
Melalui baptisan, Roh Kudus ada dalam diri kita dan selalu siap untuk menunjukkan kepada kita posisi kita sebagai anak-anak pilihan Allah. Tidak ada dosa yang begitu besar yang tidak ingin diampuni oleh kuasa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Tidak ada seorang pun yang begitu rendah yang dilupakan oleh Allah – karena setiap pribadi manusia diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya dan sangat dikasihi oleh-Nya. Niat Allah adalah agar setiap orang mengenal dan mengalami kasih-Nya sebagai “seorang” Bapa.
DOA: Roh Kudus Allah, buanglah dari diri kami setiap rintangan yang menghalang-halangi kami untuk mengenal dan mengalami kasih Allah Bapa. Kami ingin mengalami relasi yang penuh kasih dan intim dengan Allah yang dijanjikan dan dimenangkan oleh Yesus. Datanglah, ya Roh Kudus dan berdayakanlah diriku. Amin.
Sumber :

Rabu, April 05, 2017

YESUS SUDAH ADA SEBELUM ABRAHAM ADA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 6 April 2017
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata para pemuka Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Siapa saja

Yang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan aku menuruti firman-Nya. Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, “Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melem;pari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yoh 8:51-59) 
Bacaan Pertama: Kej 17:3-9, Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9 
Sepanjang pembicaraan-Nya dengan para pemuka Yahudi, Yesus telah memberi indikasi tentang identitas-Nya. Hal ini membuat marah para lawan-Nya dalam proses komunikasi tersebut. Sampai titik ini, mereka telah mencap-Nya sebagai seorang pembohong, menuduh diri-Nya sebagai seorang Samaria dan kerasukan setan (lihat Yoh 8:48). Jadi, tidak mengherankanlah kalau mereka kemudian bertanya kepada-Nya: “Dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” (Yoh 8:53). Sungguh sukar bagi mereka untuk menerima apa yang dikatakan Yesus, bahwa diri-Nya lebih besar daripada Bapak Abraham (lihat Yoh 8:52-57). Akan tetapi, situasinya menjadi semakin “parah” ketika Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh 8:58). Karena pernyataan-Nya itu mereka mengambil batu untuk melempari Dia (lihat Yoh 8:59).
Dilema yang kita hadapi dalam zaman modern ini agak berbeda. Tidak seperti orang-orang Yahudi pada abad pertama, banyak orang hari ini tidak peduli akan identitas Yesus. Banyak orang memandang Yesus tidak lebih daripada seorang yang berhati baik, yang melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk orang-orang lain. Sebagai akibatnya, cakrawala visi kehidupan mereka tentang kehidupan menjadi terlalu sempit, dan hal ini memang menyedihkan.
Akan tetapi, bagi kita umat Kristiani, pemahaman tentang siapa Yesus ini membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita bayangkan dan pertimbangkan sebelumnya. Yesus sebenarnya menyatakan diri-Nya Allah (lihat Yoh 8:58). Dalam diri-Nya terdapatlah segala kualitas Allah sendiri. Sebagai Putera Allah yang kekal, Dia selalu ada. Sebelum dunia ada, Dia telah ditentukan sebelumnya untuk memerintah kita sebagai seorang Gembala yang menjaga domba-domba-Nya. Bahkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Bapa surgawi sudah bermaksud mengutus Putera-Nya untuk memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya.
Mendengar Yesus mendeklarasikan diri-Nya sebagai Allah, seharusnya menggerakkan hati kita dengan jaminan bahwa kita berada di  suatu tempat yang aman. Sekarang, sungguh percayakah anda bahwa Allah yang kekal mengetahui setiap saat dari kehidupan anda? Percayakah anda bahwa Dia ada bersama anda dalam setiap situasi yang anda hadapi, dan Ia tidak pernah melepaskan anda dari pandangan-Nya? Bahkan pada waktu kita jatuh ke dalam dosa dan ketidakpercayaan, Yesus ada di sana, siap untuk memimpin kita kembali kepada tangan-tangan Bapa surgawi. Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita semua. Hari ini, marilah kita berterima kasih kepada-Nya untuk kesetiaan-Nya dan mohon kepada Roh Kudus-Nya untuk menanamkan lebih dalam lagi kebenaran-kebenaran ini dalam hati kita.
DOA: Yesus, sungguh menghiburlah untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu yang tak pernah sedikit pun berkurang kepada diriku. Biarlah sabda-Mu meresapi hatiku, sehingga aku dapat melihat-Mu sebagai Engkau yang sesungguhnya, ya Putera Allah yang kekal. Amin.
Sumber :

Selasa, April 04, 2017

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MENGENAL ALLAH SEBAGAI BAPA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Rabu, 5 April 2017) 
Lalu kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang telah percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tinggal dalam rumah selama-lamanya. Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”

“Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapakmu.” Jawab mereka kepada-Nya, “Bapak kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi sekarang kamu berusaha membunuh Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapakmu sendiri.” Jawab mereka, “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku datang dari Allah dan sekarang Aku ada di sini. Lagi pula Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. (Yoh 8:31-42)  
Bacaan Pertama: Dan 3:14-20,24-25,28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56  
“Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku” (Yoh 8:42). Secara sepintas ucapan Yesus ini terasa berisikan tuduhan, seakan-akan Ia mengancam para pendengar-Nya, malah kita juga pada zaman ini. Akan tetapi, tentu saja tetap dimungkinkan bagi kita untuk membaca sabda Yesus tersebut secara positif, yaitu melihatnya sebagai sebuah undangan. Kita kan tahu benar, bahwa Yesus tidak pernah berkata-kata atau melakukan sesuatu yang tidak dimotivasi oleh cintakasih kepada manusia dan niat-Nya untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya agar memperoleh keselamatan. Dia hanya datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang tersesat.  Ingatlah sabda-Nya pada peristiwa Zakheus: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Jadi, undangan Yesus adalah agar kita mengenal Allah sebagai Bapa kita – mengenal-Nya dengan cara yang akan mampu menggerakkan kita untuk mengasihi Yesus dan memberikan kepada-Nya hidup kita sendiri.
Yesus ingin sekali menyelamatkan kita. Oleh salib-Nya Dia telah memerdekakan /membebas-kan kita dari cengkeraman Iblis sehingga kita dapat membangun relasi penuh kasih dengan Allah Bapa kita (baca Rm 8:14-16). Bagaimanakah anda memberi tanggapan  terhadap undangan Yesus itu? Tanyakanlah pada diri anda sendiri beberapa pertanyaan berikut ini:
  • Apakah aku memandang Bapa di surga sebagai Pribadi yang paling baik-hati dan setia sejauh yang aku dapat bayangkan?
  • Apakah aku mengalami Allah yang hidup dan aktif dalam hatiku? Apakah kasih-Nya menghibur dan menguatkan diriku?
  • Apakah aku mempercayai bahwa Bapa surgawi mengasihiku tanpa batas?
Semakin kita mengenal Bapa surgawi dan mengalami kuasa kasih-Nya, semakin nyata pula kita akan bertumbuh dalam mengasihi Putera-Nya, dan hidup kita pun semakin diubah menjadi serupa dengan Yesus. Ini adalah hakekat dari kata-kata yang diucapkan Yesus di atas. Mengenal (dan mengalami) Allah sebagai Bapa menggerakkan kita untuk mengasihi Yesus dan mengikuti jejak-Nya.
Kasih Allah mengubah kita sementara kita menemukan suatu kebebasan untuk menyingkirkan dosa-dosa kita yang selama ini telah menghalangi kita untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama, bahkan memampukan kita untuk mengasihi seorang pribadi yang secara normal sulit bagi kita untuk  mengasihinya. Dengan berjalannya waktu kita akan belajar bahwa kegagalan kita (karena dosa dll.) tidak dapat menggoyahkan kasih Allah kepada kita. Kita pun pada akhirnya akan menjadi manusia perdamaian: men and women of peace.  
DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan kehidupanku kepada-Mu. Aku telah berketetapan hati untuk dapat bebas-lepas dari dosa dan mengasihi-Mu serta umat-Mu dengan segenap hatiku. Semoga kasih-Mu bagiku memberdayakanku untuk hidup bagi-Mu dan sesamaku. Amin.
Sumber :

Isnin, April 03, 2017

MENINGGIKAN ANAK MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Selasa, 4 April 2017 
Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Karena itu, kata para pemuka Yahudi itu, “Apakah Ia mau bunuh diri maka dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka, “Apa yang telah Kukatakan kepadamu sejak semula? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari Dia, itulah yang Kukatakan kepada dunia.” Mereka tidak mengerti bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. (Yoh 8:21-30) 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:2-3,16-21 
“Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh 8:23). Dalam artian tertentu, pernyataan yang dibuat Yesus kepada orang-orang Yahudi yang melawan diri-Nya dapat diterapkan pada kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Begitu mudah bagi manusia untuk terjebak dalam kesusahan-kesusahan dan hasrat-hasrat dunia ini. Namun kabar baiknya adalah, bahwa Allah memiliki hasrat mendalam untuk mengangkat kita ke alam surgawi – bahkan sekarang juga ketika kita masih hidup di dalam dunia ini.
Kita mengetahui apa yang diungkapkan indra-indra manusiawi kita, dan kita biasanya berpikir berdasarkan indra-indra  ini sesuai dengan suatu cara berpikir duniawi yang memiliki keterbatasan. Akan tetapi, semakin banyak kita memperkenankan Roh Kudus menyatakan kebenaran ilahi dan kasih ilahi kepada kita, maka semakin banyak pula pikiran dan pemikiran kita dapat terangkat untuk ditransformasikan oleh Tuhan. Selagi kita  memperkenankan Roh Kudus memimpin kita dan membimbing kita, kita akan mengalami Injil secara pribadi dan dipenuhi dengan kasih kepada Bapa surgawi.
Bagaimana kita dapat melakukan ini? Yesus berjanji, bahwa apabila Dia ditinggikan, maka kita akan mengenal dan mengalami siapa Dia sebenarnya: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia dan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 8:28). Apabila kita meninggikan Yesus dalam doa, maka kita pun akan ditinggikan bersama dengan-Nya. Apabila kita meninggikan Dia melalui ketaatan penuh hormat dan pertobatan yang dilakukan dengan kerendahan hati, maka kita mulai dapat mencicipi alam surgawi. Apabila kita menempatkan kasih kepada Allah dan sesama di atas cinta kepada diri kita sendiri, maka hati kita pun akan diterangi dan mengalami kasih ilahi. Setiap hari Roh Kudus memberikan kepada kita kesempatan atau peluang seperti ini yang tak terbilang banyaknya – kesempatan untuk ditinggikan. Kuncinya adalah untuk mengenali kesempatan-kesempatan ini ketika mendatangi kita.
Yesus tidak menginginkan kita untuk sekadar hidup sebagai warga dunia ini. Dia ingin agar kita mempunyai pengalaman mencicipi kemuliaan surgawi di mana Dia berdiam – hari ini, sekarang juga. Apakah anda ingin mengalami secara lebih lagi kehidupan surgawi pada masa Prapaskah? Kalau begitu halnya, tinggikanlah Yesus dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk meninggikan anda bersama dengan Yesus. Berkumpullah, bersekutulah dalam doa-doa bersama umat Kristiani lainnya yang juga ingin mengalami sentuhan kemuliaan surgawi. Kemudian, apabila anda menjadi penuh dengan hidup surgawi, maka anda pun menjadi seorang pribadi yang lebih bebas-merdeka dan diberdayakan  untuk membawa kerajaan surga kepada dunia di sekeliling anda.
DOA: Roh Kudus Allah, datanglah dan tolonglah aku untuk senantiasa meninggikan Yesus, sehingga aku dapat mengalami sentuhan surgawi yang lebih mendalam lagi. Amin.
Sumber :

PENGAMPUNAN SEMPURNA DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 3 April 2017)
 

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 
Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 atau Dan 13:41c-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 
Pernahkah anda tertangkap basah ketika melakukan perbuatan yang salah? Misalnya pada waktu sekolah dulu, anda tertangkap basah oleh Pak Guru ketika “menyontek” pada waktu ulangan? Masih ingatkah anda bagaimana perasaanmu pada waktu itu? Ya, begitulah kiranya yang dirasakan oleh perempuan itu: rasa bersalah, rasa malu dan takut akan segala konsekuensi dari kejahatan yang telah diperbuatnya. Malah dia dibawa kepada Yesus, sang Rabbi terkenal namun kontroversial itu. Perempuan itu dicap secara publik sebagai seorang pezinah, dan dia diseret ke hadapan sang Rabbi guna menjebak-Nya. (Kita dapat berkata dalam hati kita: “Dasar ahli Taurat dan orang Farisi! Selalu saja berniat buruk”). Peristiwa seperti ini terjadi sampai hari ini dalam masyarakat di mana perempuan masih dinomor-duakan, misalnya di beberapa tempat di Afrika. Hanya ada perempuan  yang berzinah, tidak pernah ada lelaki yang berzinah!
Ini adalah satu-satunya bacaan dalam Injil yang menunjukkan Yesus menulis. Apakah yang ditulis Yesus dengan jari-Nya di tanah itu? Daftar dosa masing-masing orang yang siap merajam perempuan itu dengan batu? Entahlah. Yang jelas, Yesus tidaklah seperti para pemuka agama yang munafik itu. Hati-Nya penuh dengan belas kasih! Dia Mahapengampun! Kata-kata yang diucapkan-Nya mengingatkan para pemuka agama itu akan dosa-dosa mereka. Satu per satu dari mereka meninggalkan TKP, dimulai oleh yang paling tua (paling banyak dosanya?). Apa yang diperagakan oleh Yesus ini adalah sebuah contoh karunia berkata-kata dengan hikmat! Luar biasa efeknya!
Nah, Yesus menawarkan kepada kita semua belas kasih dan pengampunan yang sama! Yesus tidak pernah menuduh-nuduh kita, melainkan menawarkan kepada kita pengharapan akan suatu awal yang baru bersama dan dalam Dia. Sementara kita mulai mengalami belas kasih-Nya kita pun mulai menghargai apa saja yang telah dianugerahkan kepada kita, bukan karena apa yang telah kita perbuat melainkan karena apa yang Yesus telah lakukan bagi kita.  Dengan demikian kita pun akan mampu mengubah hidup kita menilai kembali prioritas-prioritas kita.
John Newton (+1779) adalah penulis sebuah lagu terkenal, “Amazing Grace” (O Rahmat yang Mengagumkan; Puji Syukur # 600), yang sungguh memahami hal yang baru diuraikan di atas. Dia sedang berlayar dalam sebuah kapal di tengah-tengah badai yang ganas. Dalam ketakutannya John Newton berseru kepada Allah mohon belas kasih-Nya. Sebuah mukjizat terjadi: Langsung saja badai mereda! John Newton ketika itu adalah seorang pedagang budak belian, yang hanya mencari keuntungan materiil. Dia tidak peduli akan keadaan dan “nasib” para budak belian yang telah dibelenggunya dengan rantai besi. Setelah mengalami belas kasih Allah secara dramatis seperti itu (badai telah berlalu!), dia pun mempersembahkan dirinya kepada Yesus dan kemudian berkarya  sebagai hamba Tuhan yang tidak mengenal lelah.

Seperti juga John Newton, kita akan merasa tergerak untuk mengubah kehidupan kita sesuai dengan pengalaman kita akan belas kasih serta kuat-kuasa Allah. Kita akan mengingat, bahwa seperti perempuan yang kedapatan sedang berzinah itu, kita pun pantas untuk menerima hukuman namun Tuhan Yesus memberikan kepada kita belas kasih dan kehidupan.
DOA: Tuhan Yesus, aku tidak akan mampu memahami kedalaman kasih-Mu kepadaku. Rahmat-Mu sungguh mengagumkan hatiku dan sungguh membuat daku merendahkan hati tanpa dapat dijelaskan dengan kata-kata. Terimalah ucapan syukurku, ya Tuhan Yesus. Amin
Sumber :

Sabtu, April 01, 2017

LALU MENANGISLAH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V [TAHUN A] – 2 April 2017)
 

Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus, dari Betania, desa Maria dan saudaranya, Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya; Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu pun mengirim kabar kepada Yesus, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Tetapi ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, supaya melalui penyakit itu Anak Allah dimuliakan.” Yesus memang mengasihi Marta dan saudaranya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” Jawab Yesus, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seseorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena tidak ada terang di dalam dirinya.” Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” Lalu kata murid-murid itu kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” Tetapi sebenarnya Yesus berbicara tentang kematian Lazarus, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus-terang, “Lazarus sudah mati; tetapi aku bersukacita, Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”
Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepadanya, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. Tetapi waktu itu Yesus belum sampai di desa itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria segera bangkit dan pergi keluar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”
Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka sedihlah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata, “Di manakah kamu baringkan dia?” Jawab mereka, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Lalu menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi, “Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!” Tetapi beberapa orang di antaranya berkata, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Yesus sekali lagi sangat terharu, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus, “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. (Yoh 11:1-45) 
Bacaan Pertama: Yeh 37:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: Rm 8:8-11
“Lalu menangislah Yesus” (Yoh 11:35)
Yesus menangis. Apakah yang begitu menggerakkan hati sang Raja Alam Semesta sehingga Dia menangis? Kelihatannya Yohanes penulis Injil mengindikasikan bahwa hati Yesus tergerak ketika melihat Maria yang menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dengan dia (Yoh 11:33). Mungkinkah Yesus menangis bersama mereka karena kehilangan seorang kawan yang dikasihi, seorang sahabat?. Atau, barangkali Yesus menangis karena Dia melihat sekelompok orang yang atas diri mereka kematian itu kelihatannya berkemenangan atas kehidupan?
Sungguh sangat menghiburlah bagi kita untuk mengetahui bahwa manakala kita kehilangan seseorang yang kita kasihi karena maut, Yesus berdiri di sana bersama kita. Yesus mengambil bagian dalam penderitaaan dan rasa kehilangan kita dan ingin merangkul kita erat-erat dan menyerap segala rasa sakit dan kepedihan kita. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa berduka dengan perasaan sedih yang mendalam atas kematian seseorang yang kita kasihi bukanlah suatu tanda dari iman yang lemah. Apapun namanya, itu adalah suatu tanda betapa dalamnya kita mengasihi pribadi yang baru saja meninggalkan kita.
Yesus ingin sekali untuk menghibur kita bilamana seseorang yang dekat pada kita meninggal dunia, namun pada saat yang sama Dia juga ingin memenuhi diri kita dengan pengharapan akan janji kebangkitan. Setiap kehidupan ada di tangan-Nya. Tidak ada seekor burung pipit pun akan jatuh ke tanah tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan demikian, bagaimana mungkin Dia tidak merangkul orang yang sedang meregang jiwa dan menawarkan sebuah tempat dalam Kerajaan-Nya? Kita harus memperkenankan Yesus menghibur kita dengan janji bahwa Dia tidak akan pernah membuang siapapun.
Yesus berkata kepada Marta: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11:25-26). Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa walaupun kita menderita karena kehilangan seseorang yang kita kasihi dan ia percaya kepada Yesus, maka pribadi itu aman dalam tangan-tangan kasih-Nya.
Yesus ingin agar jaminan ini  memberikan rasa nyaman kepada kita di tengah kesedihan kita dan juga damai-sejahtera di dalam hati kita. Kita semua dapat mempercayai sabda Tuhan selagi Dia membawa kedamaian di tengah keputus-asaan, dan terang di tengah kegelapan.
DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami memuji Engkau karena Engkau memulihkan apa saja yang mati di dalam diri kami masing-masing dan kemudian membangkitkan kami kembali ke dalam hidup yang baru. Tuhan Yesus, kami percaya kepada-Mu. Kami ingin bangkit bersama-Mu.  Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Yesus, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. Amin.
Sumber :