Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, September 19, 2015

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  20 September 2015) 
Jesus_181
Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 
Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3
Bayangkan betapa kagetnya dan malunya para murid ketika Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (Mrk 9:33). Tidak mengherankanlah kalau mereka hanya dapat berdiam diri ketika ditanya oleh Yesus. Berdiam diri karena mereka mengakui dalam hati bahwa ketika di tengah jalan mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:34).
Para murid telah bersama-sama Yesus untuk waktu yang cukup lama. Mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh-Nya, belum lagi pembebasan orang-orang dari kuasa Iblis dan roh-roh jahat. Orang kusta, lumpuh, bisu, tuli, buta dlsb. disembuhkan. Bahkan seorang muda yang sudah mati telah dibangkitkan-Nya di dekat pintu gerbang kota Nain (Luk 7:11-17); juga anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24,35-43). Jelaslah bahwa Yesus bukanlah tabib atau nabi sembarangan. Ia sungguh yang terbesar! Bahkan Petrus pun telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah “Sang Mesias” (Mrk 8:29). Tetapi, … Yesus lebih tertarik untuk mewujudkan apa yang dikatakan “besar” tentang diri-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi semua orang.
Mengawali perjalanan-Nya menuju Yerusalem – di mana Yesus tahu bahwa dirinya akan dihukum mati – Dia membawa para murid-Nya tanpa diketahui orang sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya itu (lihat Mrk 9:30-31). Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Kepopuleran Yesus yang bertumbuh terus, penderitaan dan sengsara-Nya dan kebangkitan-Nya sungguh sulit dicerna oleh para murid. Bahkan mereka masih mempunyai visi-visi kejayaan di sisi Yesus dalam pemerintahan-Nya! (lihat misalnya, Mrk 10:35-45; bdk. Mat 20:20-28).
Melihat keseriusan masalah para murid ini, maka Yesus memutuskan untuk duduk bersama mereka dan mulai mengajar mereka tentang apa makna sebenarnya dari apa yang dinamakan keagungan, kemuliaan, dan sejenisnya: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Untuk menjadi yang pertama dan utama seseorang harus menempatkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dulu, tanpa memikirkan tentang diri sendiri.
Yesus – sang Hamba yang sempurna – sangat senang dalam memperhatikan orang-orang di sekeliling-Nya. Dipenuhi dengan kasih Bapa, Ia hanya ingin memberi, hanya ingin menganugerahkan karunia-karunia-Nya kepada siapa saja yang dijumpai-Nya. Dengan setiap penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat-Nya dan setiap kata yang diucapkan-Nya, Yesus sesungguhnya bermaksud untuk menarik orang-orang agar lebih dekat dengan Bapa surgawi. Bahkan ketika Dia mendekati saat kematian-Nya sendiri, hasrat utama-Nya adalah untuk berada bersama para murid-Nya, mengasihi mereka dan menolong mereka untuk menaruh kepercayaan kepada Bapa. Dengan rendah hati Dia mengetuk pintu hati kita masing-masing. Ia sangat ingin melayani kita dengan memasuki hidup kita yang terluka, guna menyembuhkan kita, untuk membersihkan kita, dan untuk memperbaharui kita. O, betapa dalam kerinduan hati-Nya untuk melihat kita menyambut diri-Nya ke dalam diri kita!
DOA: Yesus, kami ingin menyambut-Mu ke dalam hati kami! Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami masing-masing tanpa batas dan syarat. Seringkali tanpa kami sadari, Engkau membanciri kami dengan kebaikan-Mu dan belaskasih-Mu. Penuhi diri kami dan mengalirlah dari kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMANGGIL KITA SEMUA KEPADA SUATU HIDUP PELAYANAN” (bacaan tanggal 20-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 17 September 2015 [PESTA STIGMATA BAPA KITA FRANSISKUS] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, September 18, 2015

DENGAN TIDAK BERCACAT DAN TIDAK BERCELA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 19 September 2015)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso [+1866], Biarawan Kapusin 
images (11)
Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan penuh berkat, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Tidak seorang pun pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin. (1 Tim 6:13-16) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5; Bacaan Injil: Luk 8:4-15
Paulus memberikan sebuah amanat yang besar dan agung: Timotius harus melayani Tuhan, “dengan tidak bercacat dan tidak bercela” (1 Tim 6:14). Barangkali seperti orang-orang yang sadar akan ketidakmampuan mereka sendiri, Timotius merasa kewalahan dan tak sanggup dengan tugas yang diberikan kepadanya. Namun Paulus memberikan pengarahan berikut ini: “Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus” (1 Tim 6:13). Paulus sendiri mengetahui bahwa hal itu seperti mengalami kehadiran Allah, dengan demikian dia yakin dalam kemampuan Tuhan untuk memberdayakan Timotius guna melayani-Nya – walaupun yang bersangkutan memiliki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan.
Dalam perjalanannya ke Damsyik, Paulus sendiri mengalami kehadiran Yesus yang penuh kuat-kuasa sehingga keseluruhan hidupnya diubah (Kis 9:1-22). Dari perjumpaannya dengan Yesus dengan cara yang spektakuler tersebut, Paulus tidak hanya menjadi seorang pengikut Kristus yang setia, melainkan juga seorang pewarta Injil yang besar yang siap menderita sengsara untuk/demi Allah yang disembahnya. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita membaca bahwa Musa bertemu dengan “Allah yang hidup” di semak yang menyala, dan melalui kehadiran-Nya, diberdayakan untuk berkonfrontasi dengan Firaun dan memimpin umat-Nya ke luar dari perbudakan di Mesir, walaupun ia sendiri merasa tidak mampu untuk melakukan hal itu (Kel 3:1-12; 5:1).
Baik Paulus maupun Musa – dan banyak lagi yang lain – menunjukkan kepada kita bagaimana pengalaman akan kehadiran Tuhan dapat mengubah hidup seseorang secara drastis. Layaknya selimut yang hangat, Allah melingkupi kita dengan suatu cintakasih yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kasih Allah memberikan kita damai sejahtera dan melindungi kita dalam pencobaan-pencobaan yang kita alami. Ini adalah kasih yang menantikan suatu tanggapan dari kita masing-masing. Hanya pemberian kita yang paling berharga – yaitu persembahan keseluruhan hidup kita sendiri – kelihatannya berharga bagi sang Raja segala raja.
God the Father
Lewat baptisan kita, Allah telah memberikan amanat yang sama seperti yang diberikan oleh Paulus kepada Timotius. Akan tetapi, untuk melaksanakan/ mewujudkannya, kita harus memperoleh kekuatan dari Tuhan sendiri. Kita tidak mampu melaksanakannya atas dasar kekuatan kita sendiri.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita mencari kehadiran Tuhan setiap hari dalam doa? Apakah kita mengenali karya Roh Kudus yang menghibur dan membimbing hidup kita? Allah akan datang kepada kita apabila kita membuka hati kita bagi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menanggapi undangan-Nya dan menyambut-Nya ke dalam hidup kita.
DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengalami kehadiran-Mu. Walaupun aku seorang pendosa, aku percaya bahwa Engkau telah menebusku melalui kematian-Mu di atas kayu salib dan juga kebangkitan-Mu. Datanglah ke dalam hidupku, ya Tuhan Yesus, dengan cara yang penuh kuat-kuasa sehingga dengan demikian aku dapat melaksanakan pekerjaan yang Kautugaskan kepadaku di atas bumi ini. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN” (bacaan tanggal 19-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 16 September 2015 [Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup-Martir] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, September 17, 2015

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MELAYANI YESUS DAN ROMBONGAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Jumat, 18 September 2015)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dari Copertino, Imam 
stdas0158-FAITHFUL WOMEN
Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1 Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:6-9,17-20 
Kemurahan-hati yang sejati mengalir dari hati yang penuh rasa syukur. Dalam catatan singkatnya tentang perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dan rombongan-Nya serta melayani mereka semua dengan menggunakan sumber daya yang mereka miliki, Santo Lukas memberikan kepada kita sebuah gambaran tentang kemurahan-hati yang luarbiasa. Siapakah sebenarnya perempuan-perempuan itu? Kitab Suci hanya memberikan kepada kita sedikit informasi. Maria Magdalena – yang hidup di bawah pengaruh roh-roh jahat sebelum Yesus membebaskan dirinya (Luk 8:2). Perempuan yang satu ini mendapat privilese sebagai orang pertama yang melihat Yesus yang sudah bangkit (bacalah Yoh 20:11-18). Sebagai istri dari bendahara raja Herodes Antipas, Yohana adalah seorang tuan puteri yang kaya (Luk 8:3). Tentu saja dua perempuan itu tidak akan pernah bertemu satu sama lain dalam keadaan yang berbeda.
Apa yang menyebabkan perempuan-perempuan yang berlatar-belakang berlainan ini sampai berkumpul bersama dalam satu kelompok yang menyatukan mereka, sebuah kelompok dengan ikatan persahabatan, pelayanan bersama dan kesetiaan kepada Yesus? Tentunya Yesus dan pesan-Nya tentang Kerajaan Allah telah mentransformasikan mereka. Tidak seperti para rasul yang duabelas orang itu, yang terkadang masih saja mencari prestise, perempuan-perempuan ini tidak mencari posisi atau menuntut pengakuan status. Yesus telah menyentuh hati mereka dengan begitu mendalam sehingga mereka bersedia untuk melakukan pekerjaan bagi-Nya, bahkan pekerjaan yang kelihatan tak berarti: mereka ada demi pelayanan kepada-Nya.
Sekarang, apakah kita lebih menyerupai para rasul – yang masih memiliki minat dalam hal status – ataukah seperti para perempuan itu, yang puas melayani Yesus walaupun tidak kelihatan orang-orang lain dan dengan penuh kemurahan-hati? Karena dosa Adam dan Hawa kita memiliki kodrat yang cenderung berdosa, dan kecenderungan kita adalah ingin dilayani dan ditempatkan dalam posisi nomor satu dan menghindar dari pemberian-diri kita sendiri. Kita harus mengakui bahwa kebanyakan dari kita lebih suka untuk tidak mengambil tempat rendah sebagai pelayan-pelayan yang mendahulukan pemenuhan kebutuhan orang-orang lain daripada kebutuhan mereka sendiri. Perempuan-perempuan ini yang berkorban begitu banyak untuk/demi melayani Yesus, adalah sebuah contoh indah bagi kita tentang transformasi yang Allah ingin lakukan dalam hati kita masing-masing.
Sementara bukanlah kodrat kita untuk menyerahkan hidup kita guna melayani dengan rendah hati, kita semua dipanggil untuk melayani Yesus seturut contoh yang diberikan oleh perempuan-perempuan itu. Hal ini benar, teristimewa dalam kehidupan keluarga kita. Para pasutri, orangtua, anak-anak – kita semua dipanggil untuk saling melayani. Dalam artian yang lebih luas, kita juga dipanggil untuk melayani orang-orang dalam lingkungan kita,di paroki kita, di tempat kerja kita, dan di komunitas-komunitas lainnya di mana kita adalah anggota.
Saudari dan Saudari yang terkasih, marilah kita meminta kepada Yesus agar supaya menunjukkan kepada kita bagaimana kita masing-masing dapat melayani orang-orang lain. Selagi kita melangkah dalam iman dan rasa percaya, maka Dia akan memberikan kepada kita hati yang benar, yaitu hati yang dipenuhi dengan cintakasih kepada orang-orang lain.
DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “seorang” Pelayan/Hamba yang tidak banyak omong. Kasih-Mu kepada diriku tidak mengenal batas. Bagaimana aku dapat membalas segala sesuatu yang telah Engkau lakukan bagi diriku? Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya untuk menyenangkan-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA” (bacaan tanggal 18-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak,  15 September 2015 [Peringatan SP Maria Berdukacita]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, September 16, 2015

SEBAB IA TELAH BANYAK MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Kamis, 17 September 2015)
Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus 
MARY ANOINTS JESUS FEET
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentunya Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50) 
Bacaan Pertama: 1 Tim 4:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:7-10
Kita dapat membayangkan perempuan dalam bacaan di atas duduk bersama semua orang berdosa: pemungut pajak yang korup, para PSK, para pezinah dlsb. yang seringkali ditarik oleh Yesus kepada diri-Nya. Pesan Yesus tentang belas kasih Allah dan panggilan-Nya kepada pertobatan yang sejati tentunya telah sedemikian menyentuh hati perempuan itu. Perempuan itu mengetahui bahwa dirinya adalah “sampah masyarakat”, seorang pendosa yang tidak mempunyai hak untuk berdiri di hadapan Allah. Namun selagi dia mendengarkan pengajaran Yesus, secercah harapan meresap ke dalam jiwanya. Dipenuhi kesedihan dan penyesalan atas dosa-dosanya selama ini dan rasa syukur akan pengampunan yang dijanjikan Yesus, ia memutuskan bahwa dirinya harus bertemu dengan sang Rabi dari Nazaret.
Ketika dia mendengar bahwa Yesus akan menghadiri “makan-makan” di rumah Simon orang Farisi, maka perempuan itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Selagi Yesus berbaring dekat meja makan (cara makan orang Yahudi dalam sebuah perjamuan) bersama-sama para tamu lainnya, perempuan itu mendatangi-Nya dan memperagakan tindakan penyembahan dan cintakasih yang luarbiasa. Perempuan itu tidak hanya membuka botol yang berisikan minyak wangi yang sangat mahal, melainkan juga membuka hatinya yang terdalam – yang selama ini ditutupnya dan disembunyikannya – kepada Yesus. Ia jelas seorang “perempuan bayaran” terkenal di kota itu, dan tidak mengherankanlah apabila dari antara mereka yang hadir (mungkin juga Simon sendiri) pernah “kenal” dengannya. Kepada mereka atau beberapa orang dari mereka, perempuan itu barangkali pernah berpura-pura bersikap terbuka sebagai seorang perempuan yang dipenuhi kerentanan dalam kehidupan keras-kejam yang dihadapinya, namun ia menangis untuk seseorang yang memiliki cintakasih murni dan  tanpa habis-habisnya. Pada akhirnya, dalam pengalaman akan kerahiman ilahi, perempuan itu pun menemukan seorang Pribadi seperti itu.
Karena berbagai pengalaman hidup yang kita alami, kita dapat menjadi enggan dan ragu-ragu untuk membuka diri kita bagi pihak-pihak lain, teristimewa Allah. Hal ini sungguh menghalangi diri kita menerima segalanya yang Allah ingin berikan kepada kita, teristimewa cintakasih-Nya dan pengampunan-Nya. Kita tetap terkungkung di dalam benteng “proteksi-diri”, merawat luka-luka kita tanpa henti, padahal yang diperlukan adalah kesembuhan luka-luka tersebut secara total. Akan tetapi, cerita tentang perempuan berdosa dalam bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang membuka jiwa mereka di hadapan pandangan Yesus yang menusuk-dalam, akan dihibur sampai derajat tertentu yang tidak akan dialami oleh mereka yang menjaga jarak dari Allah.
Saudari-Saudaraku, pada hari ini perkenankanlah Yesus melihat hati kita masing-masing. Biarkanlah Ia menyentuh dosa-dosa kita yang terdalam, ketakutan-ketakutan kita, dan berbagai frustrasi kita. Dalam iman, perkenankanlah Yesus masuk ke dalam hati kita (anda dan saya) dan Ia pun akan menyembuhkan kita sampai suatu derajat di mana kita sendiri tidak pernah memikirkannya sebagai mungkin. Selagi kita melakukan semua itu, maka kita akan mengalami janji-janji-Nya menjadi hidup bagi kita, dan kita pun akan diberdayakan untuk menghayati/menjalani suatu kehidupan dengan cara yang kita tidak pernah mungkin sebelumnya.
DOA: Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu, ya Tuhanku dan Allahku. Pecahkanlah bagian luar hatiku, yang dulu kubentuk untuk proteksi diriku. Inilah hidupku, ya Yesus. Semoga hidupku ini menjadi persembahan yang sungguh menyenangkan hati-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TAK PANTAS MENGHAKIMI ORANG LAIN” (bacaan tanggal 18-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 15 September 2015 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, September 15, 2015

JIKA SESEORANG MAU MENERIMA RAHMAT ALLAH, MAKA DIA HARUS MENDENGARKAN SUARA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup- Martir – Rabu, 16 September 2015 
jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom
Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1 Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 
Tidak sedikit orang yang begitu terbius dengan pembenaran diri sendiri, begitu ketatnya sehingga menutup diri mereka terhadap rahmat Allah. Yesus datang untuk menyampaikan kabar baik keselamatan bagi semua orang. Keempat Injil dipenuhi dengan berbagai narasi tentang orang-orang yang mencari Yesus dan menaruh kepercayaan mereka pada-Nya.
Namun Yesus tidak membatasi diri pada mereka yang mencari Dia. Dalam Luk 7:11-17 diceritakan bahwa ketika Yesus memasuki kota Nain Ia berpapasan dengan sebuah iringan jenazah. Yang meninggal dunia adalah seorang anak muda dan ibundanya sudah hidup menjanda. Ketika Yesus melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Atas dasar inisiatif-Nya sendiri Yesus menghampiri usungan jenazah dan menyentuhnya. Kemudian Ia menyuruh anak muda yang sudah mati itu untuk bangkit, dan anak muda itu pun hidup lagi.
Syarat satu-satunya yang diperlukan kalau seseorang mau menerima rahmat dari Allah adalah, bahwa dia harus mendengarkan suara-Nya. Kalau kita mendengarkan dan percaya, maka Dia akan menyelesaikan selebihnya. Allah akan memperhatikan agar rahmat yang dicurahkan-Nya berbuah dalam diri orang itu. Tugas orang itu adalah menjaga agar rahmat Allah yang dicurahkan kepadanya dijaga. Siapa saja yang mendengarkan Allah dengan baik akan mencapai hasil yang melampaui kemampuan-kemampuannya sendiri, justru karena kuasa dari rahmat-Nya.
Kita bersyukur karena mengetahui bahwa Yesus mencari setiap orang – bahkan orang yang selalu diabaikan malah dihina oleh mereka yang kaya dan/atau berkuasa. Dalam Luk 7 kita melihat bahwa Yesus mau berjumpa dengan siapa saja, tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun yang dianut oleh-Nya. Ia menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi yang kafir (7:1-10); seperti telah disinggung di atas, Yesus membangkitkan anak muda di Nain yang belum pernah dikenalnya (7:11-17); Yesus  menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan  dan dari roh-roh jahat serta mencelikkan mata orang buta (7:21); Ia berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis (7:18-20.22-23); Ia mengajar orang banyak, termasuk para pemungut cukai yang dihina dalam masyarakat (7:24-35); dan Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (7:36-50). Dewasa ini pun Allah sangat berhasrat untuk menyentuh orang-orang di sekeliling kita. Harapan Kabar Baik Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi mereka. Kalau kita peka terhadap sentuhan dan sapaan Roh Kristus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berbagi Kabar Baik dengan para sahabat dan teman kita, para tetangga kita, dan para anggota keluarga besar kita. Dia akan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka yang mendengarkan dan percaya – karena kesetiaan-Nya tidak tergantung pada kebenaran kita, melainkan pada cintakasih-Nya yang tanpa syarat.
DOA: Bapa surgawi, Allah yang mahatinggi, Engkau adalah sumber segala kebaikan. Hanya Engkau saja yang baik, yang paling baik. Dengan penuh rasa syukur kami berterima kasih kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau memberikan Putera-Mu yang tunggal demi keselamatan kami. Dia setia kepada kami, dengan demikian kami pun bertekad bulat untuk memberitakan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang yang kami jumpai. Bapa, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menolong kami menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kuasa rahmat-Mu agar dapat mengalir melalui diri kami dan terus mengalir kepada orang-orang lain di sekeliling kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.
Catatan: Tulisan yang sama juga terdapat dalam situs/blog PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com. 
Cilandak, 14 September 2015 [PESTA SALIB SUCI] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, September 12, 2015

STANDAR-STANDAR YANG DIGUNAKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN B] – 13 September 2015) 
stdas0080 - PETERS CONFESSION
Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?”  Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.”  Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”  Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!”  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33) 
Bacaan Pertama:  Yes 50:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-6,8-9; Bacaan Kedua: Yak 2:14-18
Pada suatu kesempatan Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” (Mrk 8:27). Ada cerita, salah seorang dari murid-murid itu adalah seorang ahli teologi. Namun jawaban sang teolog kepada Yesus membuat Ia menggeleng-gelengkan kepala-Nya. Lalu Yesus berkata: “Aku kira aku harus mengutus Roh Kudus untuk mengajar engkau.” Sebaliknya, Simon Petrus – sang nelayan yang tidak berpendidikan tinggi – menjawab dengan benar ketika dia membuat suatu deklarasi: “Engkaulah Mesis!” (Mrk 8:29).
Namun, agar para murid tidak memperoleh pemahaman yang salah tentang apa yang dimaksudkan dengan “Mesias”, Yesus kemudian mengajarkan secara blak-blakan kepada para murid tersebut bahwa Dia “harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit setelah tiga hari” (Mrk 8:31). Petrus bereaksi keras terhadap pengajaran Yesus ini, dan sambil menarik Yesus ke samping dia pun menegur Guru-Nya yang baru saja dideklarasikan olehnya sebagai “Mesias” (lihat Mrk 8:32). Menanggapi tingkah laku Petrus, sambil memandang para murid-Nya, Yesus malah menegur  murid-Nya itu dengan keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33).
Guna menetralisir lebih lanjut berbagai pengharapan dan ekspektasi yang salah tentang “Mesias”, maka Yesus memanggil orang banyak dan para murid-Nya, dan menambahkan: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).
Mesias yang menderita? Apakah tidak salah nih, Tuhan? Hal seperti ini tidak pernah boleh terjadi dengan diri-Mu! Inilah kira-kira protes Petrus. Seperti kita lihat di atas reaksi Yesus malah lebih keras lagi, dan Ia menyebut Petrus sebagai “Iblis”. Dapatkah kita membayangkan bagaimana kiranya bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh murid yang sangat mengasihi-Nya itu, ketika disebut sebagai Iblis oleh sang Rabi dari Nazaret?
Yesus membuat ringkasan dari seluruh masalah yang dihadapi hanya dengan satu kalimat saja (lihat Mrk 8:33). Jadi, Petrus melakukan penilaian berdasarkan standar manusia, bukan standar yang digunakan Allah. Standar yang digunakan manusia mengatakan: carilah kenikmatan, carilah keamanan, nikmatilah hidup ini. Standar-standar Allah sangatlah berbeda: Melalui Yesus, Allah menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya datang lewat penderitaan, sukacita sejati melalui rasa susah, dan hidup kekal melalui kematian.
Mengapa Allah menuntut penderitaan adalah suatu misteri. Mengapa begitu banyak para pengungsi yang menderita di dunia ini ? Mengapa begitu banyak orang yang menderita sakit HIV-AIDS? Tidak hanya penderitaan fisik, namun juga penderitaan mental dan emosional – frustrasi, kesepian, kebosanan. Mengapa begitu banyak konflik bersenjata yang terjadi dan masih berlangsung sampai hari ini di segala penjuru dunia? Dlsb.
Bagi anda yang memandang penderitaan sebagai sebutir pil yang susah ditelan, ada sebuah cerita pada masa Perang Dunia II. Seorang ayah berlari-lari datang ke gereja untuk menemui romo paroki, matanya merah karena terlalu banyak menangis. Ia baru saja menerima kabar bahwa anak laki-lakinya yang tunggal mati di medan tempur. Orang itu – kelihatan imannya tergoncang – mengutarakan isi hatinya kepada romo paroki: “Romo, di mana Allah ketika puteraku tertembak mati?” Sang romo paroki merenung sejenak, dan dengan penuh belarasa berkata: “Sahabatku, di mana Allah, ketika Putera-Nya yang tunggal wafat pada kayu salib?”
Saudari dan Saudaraku, jika kita (anda dan saya) memahami hal itu, maka kita dapat memahami apa artinya “penderitaan” dan “Mesias yang menderita”.
DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena dengan jelas Engkau mengajarkan kepada kami tentang standar-standar yang dipakai oleh Allah. Sabda-Mu adalah  obat mujarab pada saat tantangan-tantangan yang kami hadapi sungguh besar dan jalanan di depan kami sukar ditempuh dan berliku-liku. Tuhan, biarlah Roh Kudus selalu menjaga kami agar tetap hidup sebagai murid-murid-Mu yang setia. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan dengan judul “PENYALIBAN KRISTUS ADALAH PERISTIWA SENTRAL DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA” (bacaan untuk tanggal 13-9-15) dalam situs/blog  PAX ET BONUMhttp://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak,  10 September 2015 


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, September 10, 2015

SEGALA REFORMASI HARUS BERAWAL DARI DALAM DIRI SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Jumat, 11 September 2015) 
KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23
Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42) 

Bacaan Pertama: 1 Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8,11
“Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Luk 6:41). Kata-kata ini adalah sebagian dari instruksi-instruksi Yesus tentang perlunya kasih. Dalam berbagai kesempatan, Yesus secara tetap kembali dan kembali lagi kepada tema pengajaran ini.
Yesus tidak memaksudkan bahwa sikap dan perilaku saling menghargai harus buta terhadap dosa atau bahaya-bahaya dosa. Yang dikatakan Yesus kurang lebih adalah seperti berikut: “Marilah kita memandang diri kita sendiri dengan kritis, sebelum kita menilai orang-orang lain.” Pertanyaan-pertanyaan tertentu harus berulang-ulang datang ke dalam pikiran kita: apakah kritik-kritik saya terhadap orang-orang lain sungguh konstruktif dan kreatif, ataukah didasarkan pada iri-hati yang sempit? Apakah ketidaksabaran saya terhadap orang-orang  sungguh melekat  pada sifat pribadi saya? Apakah penilaian saya terhadap orang-orang lain merupakan penilaian yang matang? Apakah semangat saya dan hasil-hasilnya benar-benar superior ketimbang orang-orang lain, ataukah sudah meluntur menjadi konformisme gaya baru yang sudah nyata terlihat? Bukankah saya terlibat dalam kesalahan sama seperti yang saya tuduhkan kepada orang-orang lain?
Kita sekali-kali tidak boleh lupa bahwa ide kita sendiri pun dapat salah. Hasil-hasil terbaik akan senantiasa datang melalui kritik-diri sendiri yang jujur dan tindakan kasih kepada orang-orang lain yang dilatarbelakangi keterbukaan hati dan pikiran. Segala reformasi harus berawal dari dalam diri sendiri. Tanpa pengenalan diri sendiri dan rasa saling  menghormati, maka perubahan besar-besaran akan tanpa makna, malah dapat berakibat dengan hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tuhan Yesus sendiri, satu-satunya Pribadi yang boleh berbangga, mengatakan bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang akan ditinggikan. Betapa sering kita mendengar orang berkata: “Satu hal yang saya selalu perhatikan tentang orang-orang yang sungguh besar. Mereka selalu kelihatan sangat rendah hati juga. Tidak ada kesombongan, tidak ada rasa superior, tidak ada sikap seakan-akan mengetahui segala sesuatu.” Hal ini dapat dipahami. Mengapa? Karena siapa – selain orang-orang jenius –  yang mampu melihat dengan  lebih baik betapa sedikit yang sesungguhnya kita ketahui sebagai manusia.
Hikmat yang sejati selalu disertai dengan rasa hormat mendalam terhadap Allah, terhadap sesama manusia, terhadap dunia. Orang-orang besar yang sejati telah belajar untuk “takut akan Allah” dan “menghormati semua orang.”
DOA: Bapa surgawi, kasihanilah dan berkatilah kami, anak-anak-Mu. Banjirilah kami dengan kemuliaan wajah-Mu. Semoga seluruh isi bumi mencari rahmat-Mu yang menyelamatkan. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI KETIDAKSADARAN AKAN KEANGKUHAN KITA” (bacaan tanggal 11-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, September 09, 2015

PERINTAH YESUS YANG PALING KERAS DAN SULIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 10 September 2015) 
YESUS KRISTUS - 11
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 
Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk 6:27-28).
Rasanya, dari perintah Yesus yang keras-keras, maka perintah untuk mengasihi musuh inilah perintah paling keras dan sulit yang harus kita laksanakan. Berapa banyak dari kita telah mendengar perintah Yesus ini memandangnya sebagai “terlalu idealistis”? Berapa banyak dari kita yang telah mendengar sabda Yesus ini dan merasa bersalah karena ketidakmampuan kita selama ini untuk setia pada perintah itu. Biar bagaimana pun, siapakah yang dapat sungguh mengasihi secara sempurna?
Church_of_the_Beatitudes_tb_n011500_wr
Kasih yang sempurna itu murah hati dan konstan. Karena didirikan di atas suatu komitmen batiniah (dari dalam, interior), maka kasih yang sempurna tidak berubah berdasarkan tindakan-tindakan orang yang kita kasihi. Mengasihi musuh-musuh kita juga bukan merupakan hasil dari kalkulasicost and benefit seperti halnya rata-rata keputusan bisnis. Kalau kita sungguh mengasihi mereka, maka bukan berarti ada jaminan bahwa musuh-musuh kita kemudian menjadi kawan kita.

Tujuan utama dari “mengasihi musuh-musuh” adalah agar kita dapat mencerminkan kasih Allah kepada mereka. Lewat tindakan kita tersebut kita membantu melembutkan hati mereka terhadap Allah. Allah ingin agar kita memandang musuh-musuh kita seperti Dia memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah seperti kita juga; orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, seperti kita juga.
Kasih sempurna adalah kasih Allah yang ditunjukkan oleh-Nya pada waktu Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita masih menjadi musuh-musuh-Nya (lihat Rm 5:8-10). Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber “kasih sempurna”. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus mengetahui bahwa tidak mungkinlah bagi kita untuk mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, kalau kita menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya.
Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang “lebar” akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang lain dengan cara yang melebihi kemampuan alami kita sendiri.
DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku agar dapat memandang orang-orang lain dengan kasih, dengan kasih mana Yesus sendiri memandang mereka. Perbaikilah kesempitan pandanganku dengan visi Yesus yang jelas mengenai kasih yang kekal-abadi. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH” (bacaan tanggal 10-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, September 08, 2015

JIKA KITA MENJADI MISKIN DALAM ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 9 September 2015) 
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 
Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,10-13
Pengajaran Yesus yang dicatat oleh Santo Lukas bacaan dalam Injil hari ini dan bahan selebihnya dalam Luk 6 mencirikan orang Kristiani sebagai orang yang dikenal karena kemiskinannya, untuk kewaspadaannya terhadap bahaya-bahaya dari kekayaan. “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, hai kamu yang sekarang ini lapar dan menangis; namun celakalah kamu, hai kamu yang kaya, hai kamu yang kenyang dan sekarang ini tertawa.” 
Dalam berbagai kesempatan Yesus mengucapkan kata-kata keras tentang bagaimana kekayaan atau keterlekatan pada hal-hal duniawi, dapat membuat kita susah. Kepada orang kaya yang ingin menjadi sempurna (memperoleh hidup yang kekal), Yesus mengatakan agar orang itu menjual harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin, lalu dapat mengikuti-Nya secara sempurna. Namun orang itu dengan sedih hati meninggalkan Yesus, karena banyak hartanya (lihat Mrk 10:17-22). Pesan yang disampaikan oleh Yesus adalah bahwa kekayaan membuat seseorang sulit untuk bertumbuh dalam keutamaan, Menjadi miskin membuat lebih mudah untuk menjalani hidup yang baik, jika dengan kemiskinan itu kita menjadi miskin dalam roh, dan tidak iri dan cemburu kepada orang-orang kaya. Yesus “menjagokan” kemiskinan bagi setiap orang yang ingin sungguh bertumbuh dalam keutamaan dan kekudusan.
Kita hidup dalam suatu era di mana ditekankan “teologi inkarnasional” (Inggris: incarnational theology) yang mengatakan bahwa karena Kristus menjadi manusia, maka segala sesuatu yang dilakukan manusia, segala sesuatu yang dimiliki manusia tentunya baik adanya. Hal ini benar; kita memandang dunia dan segalanya yang ada pada dasarnya baik pada dirinya sendiri, bahwa dunia dan segala sesuatu dalam dunia harus direstorasikan dalam Kristus.
Semuanya baik, namun apa saja yang telah menarik dan menjauhkan kita dari sikap dan perilaku adil, penuh kebaikan, penuh pertimbangan, hidup doa, maka semuanya itu tidak baik bagi kita. Kita dapat dengan mudah menjadi terlalu menghasrati kemewahan, kemudahan, kenyamanan dan apa saja yang dapat dibeli dengan uang. Kita mulai mempertimbangkan banyak dari hal-hal ini sebagai keperluan hidup, namun pada saat sama kita mengabaikan orang-orang miskin dan sebab-sebab lainya yang seharusnya didukung oleh uang kita.
Yesus dalam keempat Injil mengajar kepada kita bahwa lebih baiklah bagi kita untuk menjadi miskin daripada kaya. Lebih mudahlah bagi kita; kita menjadi lebih bebas-merdeka dengan cara demikian, karena kita menjadi semakin terlepas dari keterlekatan kita. Hal-hal untuk mana kita merasa susah pun akan menjadi lebih sedikit.
DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada mereka yang miskin dan kesepian, dibenci, lapar; mereka yang termarjinalisasi dalam masyarakat. Tolonglah aku agar dapat menjumpai mereka dengan benda-benda materiil dan dengan kekayaan Injil-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG MISKIN” (bacaan tanggal 9-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, September 07, 2015

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, ALLAH JUGA MEMPUNYAI RENCANA BAGI HIDUP KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Selasa, 8 September 2015) 
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Mat 1:18-23) 
Bacaan Pertama: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil lebih panjang: Mat 1:1-16,18-23 
Daftar keturunan atau “Daftar Nenek Moyang” yang digunakan oleh Matius untuk membuka Injilnya mengingatkan kita  bahwa rencana Allah tentang kedatangan Putera-Nya ke tengah dunia merupakan sesuatu yang telah lama dipersiapkan. Dari generasi yang satu ke generasi berikutnya, Allah bergerak menuju pemenuhan tujuan-Nya guna menarik kita kembali ke dalam kehidupan-Nya sendiri. Dan, sejak awal, Allah memberi tanggung jawab yang paling mendalam dan bersifat intim guna pemenuhan rencana-Nya kepada Maria, sang perawan dari Nazaret. Sejak sediakala, Allah sudah memikirkan untuk membawa Maria masuk ke dalam panggung kehidupan manusia dan mempercayakannya sebagai perempuan yang akan mengandung dan membesarkan Putera-Nya yang kekal-abadi.
Peran yang diberikan Allah kepada Maria begitu mendalam dalam makna sehingga memang tidak mudah untuk dikontemplasikan. Malaikat Agung Gabriel yang mengunjunginya menyapa Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Kiranya kemurahan/kebaikan hati Allah yang dicurahkan kepada-Nya jauh melebihi kemurahan/kebaikan yang diberikan-Nya kepada orang-orang lain. Walaupun begitu, janganlah sampai kita salah. Apabila kita berpikir bahwa Maria begitu jauh di atas kita dan pengalamannya tidak berhubungan dengan pengalaman kita, maka kita salah. Untuk segala privilesenya sebagai ibu dari sang Juruselamat, Maria tetap bersatu dengan kita. Maria adalah yang terbaik di antara di antara kita, namun biar bagaimana pun juga dia tetap ada di tengah kita.
Pola yang digunakan oleh Allah dalam berurusan dengan Maria adalah juga pola yang digunakan-Nya dalam berurusan dengan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi hidup Maria, dan Ia mempunyai rencana-rencana bagi hidup kita juga. Pada pusat rencana-Nya bagi Maria adalah niat-Nya bahwa Putera-Nya akan hidup dalam dirinya, dan ia akan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Pada hakekatnya, itu adalah rencana-Nya bagi kita juga.
Setiap orang pada dasarnya bersifat unik dan merupakan karunia Allah yang tidak diulangi, bahkan dalam kelahiran kembar sekali pun. Terkait dengan keunikan kita sebagai pribadi, Allah memberikan kepada kita masing-masing suatu panggilan dan misi yang khusus. Allah membuat rencana-Nya diketahui oleh kita dengan berbagai cara: melalui sikon yang sedang kita hadapi, melalui keluarga kita dan para sahabat kita, melalui berbagai talenta dan kesempatan kita. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rencana-Nya bagi hidup kita. Seperti yang diperbuat-Nya dengan Maria, Allah mengundang kita untuk menerima panggilan-Nya dan untuk mengikut-Nya. Sebagaimana Dia menginginkan agar Maria memberi tanggapan terhadap Dia dan melaksanakan misi unik yang diberikan-Nya kepadanya, demikian pula Allah ingin agar kita menerima misi unik kita dan melaksanakannya dengan segenap kekuatan kita. Semoga kita semua menanggapi undangan Allah dengan pengharapan dan kepercayaan yang sama seperti yang dimiliki Maria.
DOA: Bapa surgawi, ini aku anak-Mu. Nyatakanlah lebih banyak lagi rencana-Mu bagiku. Kuatkanlah diriku dalam kuasa Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian aku dapat memenuhi panggilan dan misi yang Kaurencanakan bagi diriku sebagai murid Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat  1:1-16,18-23), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TETAP SETIA PADA JANJI-JANJI-NYA” (bacaan tanggal 8-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 
Cilandak, 7 September 2015 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS