Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, Ogos 23, 2017

SEORANG PRIBADI TANPA KEPALSUAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Kamis, 24 Agustus 2017) 
Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18 
Rasul Bartolomeus – dalam Injil hari ini dipanggil dengan namanya yang lain, Natanael –  memutuskan bahwa dia harus mengikut seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret ini karena Dia mengenal dirinya, luar dan dalam. Bagaimana Yesus sampai dapat menunjukkan bahwa diri-Nya mengenal Natanael secara begitu mendalam?
Pada waktu Natanael  duduk bermeditasi, kita dapat membayangkan dirinya mencatat di mana dia sedang berada: di bawah sebatang pohon ara. Terasa bahwa Natanael adalah seorang pribadi yang memahami Kitab Suci dengan baik. Tidak mengherankanlah apabila dia mulai merefleksikan beberapa nubuatan Perjanjian Lama berkaitan dengan pohon ara. Dalam Kitab Zakharia, ada tercatat bahwa Iblis mendakwa imam besar Yosua, akan tetapi Allah memberikan pakaian pesta kepada Yosua. Kepada Yosua juga diberitahukan, bahwa apabila dia berjalan dalam jalan Allah, maka dia dapat memerintah umat dan mengurus pelataran-Nya. Kemudian YHWH Allah berjanji akan mendatangkan hamba-Nya, yakni SANG TUNAS. YHWH  semesta alam akan menghapuskan kesalahan Israel dalam satu hari saja. Pada hari itu, demikianlah firman YHWH semesta alam, “setiap orang dari padamu akan mengundang temannya duduk di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara” (Za 3:10).
Bagi nabi Mikha pun, pohon ara melambangkan pemulihan (restorasi). Walaupun Ia meratapi tidak adanya buah awal (orang-orang baik dan saleh), Ia juga menjanjikan bahwa Bait Allah akan direstorasi sebagai gunung tertinggi, tempat pengadilan yang adil; perang akan berhenti, dan setiap orang akan duduk tanpa takut di bawah pohon anggur dan pohon ara (Mi 4:1-4; 7:1-2). Kita dapat membayangkan betapa Natanael merindukan saat dipenuhinya nubuatan tersebut.
Maka, ketika Yesus berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh 1:48), Natanael tentunya menyadari bahwa semua permenungannya dan kerinduannya ternyata merupakan “sebuah buku yang terbuka” bagi Yesus. Artinya tidak ada rahasia yang tidak diketahui Yesus tentang isi hatinya. Jadi, Yesus mestinya adalah Mesias yang dijanjikan dan dinanti-nantikan itu! Namun kemudian, Yesus dengan lemah lembut mengundang dia untuk memperluas visinya. Ada lebih banyak lagi yang harus diketahui seseorang tentang kerajaan Allah daripada dia sekadar menikmati keteduhan karena berada di bawah pohon aranya. Tangga Yakub (Yoh 1:51; Kej 28:10-17) menunjukkan bahwa rencana Allah itu bersifat kosmik, mampu mengalahkan maut dan kuasa-kuasa kegelapan. Apabila dia memilihnya, maka Bartolomeus (Natanael) pun dapat ikut ambil bagian dalam mendirikan kerajaan Allah.
Sampai seberapa sering kita menyadari bahwa Allah sesungguhnya melihat/membaca segala pikiran kita? Sampai berapa serius kemauan kita mengundang Dia agar mendengarkan pikiran-pikiran kita, menolong kita dalam membuat jelas pikiran-pikiran kita itu, dan membentuk pikiran-pikiran yang benar selagi kita mengenakan pikiran-Nya? Oleh karena itu, baiklah pada hari kita mencoba untuk tidak mendengarkan radio, menonton televisi untuk setengah jam saja dan memakai waktu setengah jam itu untuk bersimpuh di hadapan hadirat-Nya. Selama setengah jam itu, baiklah kita benar-benar membuat suasana menjadi sungguh hening (lahir dan batin) sehingga kita dapat mendengarkan “suara Tuhan”. Insya Allah!
DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengenalku luar-dalam. Aku mengundang Engkau untuk berpikir bersamaku dan menarik aku ke dalam visi-Mu tentang bagaimana seharusnya membangun kerajaan Allah. Amin.
Sumber :

Selasa, Ogos 22, 2017

AKU MAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG YANG MASUK TERAKHIR INI SAMA SEPERTI KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Rabu, 23 Agustus 2017)
OFMCap.: Peringatan . Berardus dr Offida, Biarawan 
“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 
Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7
Perumpamaan Yesus tentang orang-orang upahan di kebun anggur terkesan sungguh tidak adil. Salahkah kita kalau mengharapkan upah yang adil untuk suatu hari kerja yang dilakukan dengan baik dan jujur? Bukankah seorang majikan seharusnya menghindarkan diri dari tindakan-tindakan favoritisme (pilih kasih) dan tidak adil di tempat kerja? Jadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah Yesus sungguh-sungguh  membenarkan praktek-praktek ketidakadilan? Ataukah Yesus sebenarnya hanya menginginkan agar para pendengarnya mempertimbangkan betapa besar dan tanpa batasnya kasih dan belas kasihannya?
Mungkin sedikit informasi latar belakang perihal praktek kerja pada zaman Yesus dapat  membantu kita untuk lebih mudah memahami apa yang dikemukakan oleh Yesus. Kebanyakan orang di Palestina tidak mampu untuk mendirikan usaha sendiri atau belajar berdagang. Dengan demikian mereka menyediakan diri mereka sebagai orang upahan harian. Mereka akan pergi ke pasar setiap pagi dan menantikan seorang tuan tanah atau pengurus properti tuan tanah yang mau memperkerjakan mereka untuk suatu pekerjaan tertentu, misalnya untuk memetik buah anggur di kebun anggur seperti diceritakan dalam perumpamaan Yesus kali ini. Praktek ini masih dapat kita lihat di Yerusalem hari ini, ketika kita lihat banyak pekerja harian berkumpul di pasar pagi-pagi dan menunggu dipekerjakan untuk proyek-proyek yang ada. Kalau tidak berhasil dipekerjakan hari itu maka hal itu berarti pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa. Tidak ada uang dapat berarti tidak ada makanan di atas meja.
Jadi, ketika pemilik kebun anggur dalam perumpamaan Yesus ini mempekerjakan pekerja upahan pada jam 5 sore, maka hal itu haruslah kita lihat sebagai pengungkapan bela rasa atau kemurahan hati pemilik kebun anggur terhadap orang-orang yang belum dipekerjakan oleh siapa pun pada hari yang sudah hampir usai itu. Sang pemilik kebun anggur tidak ingin melihat ada orang yang masih mau kerja, namun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Itulah sebabnya, mengapa sang pemilik kebun anggur mengupah orang-orang yang bekerja hanya satu jam lamanya itu dengan uang dalam jumlah yang sama, satu dinar…… agar mereka juga memperoleh uang yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka pada hari itu.
Allah itu seperti sang pemilik kebun anggur. Allah tidak menginginkan satu pun dari kita anak-anak-Nya menderita atau dalam keadaan kekurangan. Kasih-Nya mengatasi logika perihal apakah yang harus diberikan-Nya kepada kita sesuai dengan kepantasan kita masing-masing untuk itu. Sebaliknya, Allah memberikan kepada kita  apa yang kita butuhkan. Ia tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita dan mengatakan kepada kita agar mencoba sedikit lebih keras lagi untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya, Dia malah melimpah-limpahkan kepada kita berbagai karunia dari kerajaan-Nya, memasok tidak hanya hal-hal yang tidak kita miliki, melainkan juga memberikan kepada kita segala hal melebihi daripada yang kita harap-harapkan. Biarlah kebenaran ini mengisi hati dan pikiran kita masing-masing dengan rasa kagum dan penuh syukur pada hari ini!
Ingatlah selalu bahwa Allah tidak berhutang apa-apa kepada kita. Apabila Dia memberkati kita, kita harus bersyukur atas kemurahan hatinya dan mencari jalan untuk mensyeringkan kemurahan-hati-Nya kepada dan dengan orang-orang lain. Janganlah juga kita menolak “orang-orang yang datang belakangan” di depan pintu Allah, barangkali setelah kehidupan dosa yang begitu dahsyat. Keselamatan yang telah diberikan Allah kepada kita harus mendorong kita memberikan diri kembali kepada-Nya dengan bebas-merdeka. Kita harus malah bersukacita menyambut mereka yang datang belakangan itu.
DOA: Bapa surgawi, kasih-Mu sungguh tidak mengenal batas. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur untuk segala karunia dan berkat yang Kaulimpah-limpahkan kepadaku setiap hari. Amin.
Sumber :

Ahad, Ogos 20, 2017

YESUS MENGASIHI KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN A], 20 Agustus 2017)
Christ and the Canaanite Woman – c.1784
Germain-Jean Drouais 
Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28)
Bacaan Pertama: Yes 56:1,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:13-15,29-32
Untuk mengalami rasa takjub atas begitu luas, indah dan luarbiasanya alam semesta, khususnya ruang angkasa, kita dapat memandangi bintang-bintang di langit di malam hari tak berawan. Walaupun begitu menakjubkan, alam semesta hanyalah sebuah pencerminan kecil tentang Sang Pencipta yang kehadiran-Nya melingkupi dan menopang setiap partikel dari alam ciptaan-Nya.
Tentunya, seandainya kasih Allah dapat terlihat khasat mata seperti bulan dan bintang Bima Sakti (“Milky Way”), maka rasa takjub kita akan semakin besar ketimbang pengamat ruang angkasa mana pun yang sedang mengamati langit dengan teropongnya pada malam hari. Kasih Allah itu tanpa batas. Tidak ada seorang pun atau apa pun yang berada di luar ruang lingkup kasih-Nya – termasuk seorang “outsider”/ “orang luar” seperti perempuan Kanaan dalam bacaan Injil hari ini.
Seorang non-Yahudi yang dipandang “kafir” oleh orang-orang Yahudi, mengetahui benar bagaimana menempatkan dirinya. Dia sungguh “tahu diri”. Perempuan itu tahu bahwa tidak layaklah bagi seorang perempuan untuk menyapa seorang laki-laki di depan umum, juga bagaimana seorang “kafir” seperti dirinya seharusnya berelasi dengan orang-orang Yahudi.
Namun ada sesuatu tentang Yesus yang membangunkan iman dalam diri perempuan itu, hal mana menariknya semakin dekat kepada-Nya. Barangkali dia telah menyaksikan dan merasakan bagaimana Yesus mengasihi setiap orang yang datang kepada-Nya. Dia mungkin juga berpikir bahwa jika Yesus menyembuhkan orang-orang lain, maka Yesus pun tidak akan menolak untuk menyembuhkan puterinya. Iman perempuan itu cukup kuat sehingga dia bertekun dengan penuh rasa percaya dalam menghadapi dan mengatasi setiap rintangan – bahkan kata-kata Yesus untuk menguji imannya, yang terdengar seakan-akan sebuah tolakan. Perempuan itu yakin bahwa Yesus tidak akan mengecewakan kepercayaan dirinya kepada Yesus, dan ternyata dia memang benar! Yesus senang untuk menjawab doa perempuan itu!
Perempuan Kanaan itu mengingatkan kita bahwa tidak ada “orang luar”, tidak ada “orang buangan” kalau kita berbicara mengenai kasih Allah. Apakah posisi kita di hadapan Allah disebabkan oleh karena kita pantas dan karena upaya kita sendiri? Sama sekali tidak !!! Allah-lah yang menempatkan kita pada posisi istimewa di hadapan-Nya. Namun sekarang Dia bertanya kepada kita untuk menerima kebenaran ini dan memperkenankan Dia membentuk hidup kita selagi kita bergumul untuk hidup dalam iman.
Sekarang masalahnya adalah apakah kita melakukan upaya seperti diterangkan di atas? Apakah kita menempatkan iman kita dalam kasih Allah kepada kita? Kita harus tekun menghadap Allah dengan segala kebutuhan kita, maka kita akan mengalami kebebasan atau kemerdekaan dari lapisan-lapisan ketidakpercayaan yang membuat sukar untuk mengenal kuat-kuasa-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah ini adalah “seorang” Pribadi yang sangat murah hati. Dia akan memberikan kepada kita jauh lebih daripada sekadar remah-remah kepada setiap anak-Nya yang datang menghadap hadirat-Nya dengan iman!
DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi diriku. Aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya bahwa Engkau akan membuang segala hal yang selama ini menghalang-halangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah andalanku dan pengharapanku. Amin. 
Sumber :

Jumaat, Ogos 18, 2017

YESUS MENGASIHI KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN A], 20 Agustus 2017)
Christ and the Canaanite Woman – c.1784
Germain-Jean Drouais 
Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28)
Bacaan Pertama: Yes 56:1,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:13-15,29-32
Untuk mengalami rasa takjub atas begitu luas, indah dan luarbiasanya alam semesta, khususnya ruang angkasa, kita dapat memandangi bintang-bintang di langit di malam hari tak berawan. Walaupun begitu menakjubkan, alam semesta hanyalah sebuah pencerminan kecil tentang Sang Pencipta yang kehadiran-Nya melingkupi dan menopang setiap partikel dari alam ciptaan-Nya.
Tentunya, seandainya kasih Allah dapat terlihat khasat mata seperti bulan dan bintang Bima Sakti (“Milky Way”), maka rasa takjub kita akan semakin besar ketimbang pengamat ruang angkasa mana pun yang sedang mengamati langit dengan teropongnya pada malam hari. Kasih Allah itu tanpa batas. Tidak ada seorang pun atau apa pun yang berada di luar ruang lingkup kasih-Nya – termasuk seorang “outsider”/ “orang luar” seperti perempuan Kanaan dalam bacaan Injil hari ini.
Seorang non-Yahudi yang dipandang “kafir” oleh orang-orang Yahudi, mengetahui benar bagaimana menempatkan dirinya. Dia sungguh “tahu diri”. Perempuan itu tahu bahwa tidak layaklah bagi seorang perempuan untuk menyapa seorang laki-laki di depan umum, juga bagaimana seorang “kafir” seperti dirinya seharusnya berelasi dengan orang-orang Yahudi.
Namun ada sesuatu tentang Yesus yang membangunkan iman dalam diri perempuan itu, hal mana menariknya semakin dekat kepada-Nya. Barangkali dia telah menyaksikan dan merasakan bagaimana Yesus mengasihi setiap orang yang datang kepada-Nya. Dia mungkin juga berpikir bahwa jika Yesus menyembuhkan orang-orang lain, maka Yesus pun tidak akan menolak untuk menyembuhkan puterinya. Iman perempuan itu cukup kuat sehingga dia bertekun dengan penuh rasa percaya dalam menghadapi dan mengatasi setiap rintangan – bahkan kata-kata Yesus untuk menguji imannya, yang terdengar seakan-akan sebuah tolakan. Perempuan itu yakin bahwa Yesus tidak akan mengecewakan kepercayaan dirinya kepada Yesus, dan ternyata dia memang benar! Yesus senang untuk menjawab doa perempuan itu!
Perempuan Kanaan itu mengingatkan kita bahwa tidak ada “orang luar”, tidak ada “orang buangan” kalau kita berbicara mengenai kasih Allah. Apakah posisi kita di hadapan Allah disebabkan oleh karena kita pantas dan karena upaya kita sendiri? Sama sekali tidak !!! Allah-lah yang menempatkan kita pada posisi istimewa di hadapan-Nya. Namun sekarang Dia bertanya kepada kita untuk menerima kebenaran ini dan memperkenankan Dia membentuk hidup kita selagi kita bergumul untuk hidup dalam iman.
Sekarang masalahnya adalah apakah kita melakukan upaya seperti diterangkan di atas? Apakah kita menempatkan iman kita dalam kasih Allah kepada kita? Kita harus tekun menghadap Allah dengan segala kebutuhan kita, maka kita akan mengalami kebebasan atau kemerdekaan dari lapisan-lapisan ketidakpercayaan yang membuat sukar untuk mengenal kuat-kuasa-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah ini adalah “seorang” Pribadi yang sangat murah hati. Dia akan memberikan kepada kita jauh lebih daripada sekadar remah-remah kepada setiap anak-Nya yang datang menghadap hadirat-Nya dengan iman!
DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi diriku. Aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya bahwa Engkau akan membuang segala hal yang selama ini menghalang-halangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah andalanku dan pengharapanku. Amin. 
Sumber :

Khamis, Ogos 17, 2017

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX  –  Jumat, 18 Agustus 2017)
Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 
Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Yes 136:1-3,16-18,21-22,24
Yesus berkhotbah dan mengajar tentang suatu hidup baru dengan Allah. Di tengah-tengah khotbah-Nya, orang-orang Farisi mendekati Yesus dengan sebuah pertanyaan yang rumit dan bersifat menjebak – “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3).
Untuk sungguh memahami dilema yang dihadapi Yesus, kita perlu menyadari bahwa ada dua mashab para rabi pada waktu itu, masing-masing mempunyai pandangan berbeda tentang perceraian. Satu mashab memperbolehkan perceraian dengan alasan apa saja, dan mashab yang lain hanya memperbolehkan perceraian karena perzinahan. Orang-orang Farisi itu mencoba memaksa Yesus untuk memilih satu di antara dua pandangan yang berbeda tersebut. Jika Yesus memilih yang satu, maka Dia dapat dituduh dengan alasan kelemahan, sedangkan bila Yesus memilih yang lain, maka Dia dapat dituduh sebagai terlalu keras.
Namun Yesus mengangkat pertanyaan orang-orang Farisi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi! Yesus prihatin dengan apa yang Allah hendak katakan tentang topik itu, bukan apa yang telah dirancang oleh manusia. Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…… Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging? …… Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”  (Mat 19:4-6). Ketika orang-orang Farisi mengemukakan bahwa Musa memperkenankan perceraian, Yesus  menjawab bahwa hal itu dilakukan oleh Musa justru karena kekerasan hati umat Israel, dan bukan merupakan niat Allah yang orisinal bagi umat-Nya.
Yesus memproklamasikan bahwa rencana Allah yang orisinal berkaitan dengan perkawinan sekali lagi dibuat mungkin karena Dia membawa Kerajaan Allah di mana perempuan dan laki-laki dapat mengalami hidup baru. Suami dan istri dapat menjadi setia dan mengasihi satu sama lain melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Mereka dapat mengatasi dosa yang dapat menghancurkan relasi penuh kasih: keserakahan, ketamakan, kemurahan dan penolakan. Kehidupan dapat disembuhkan dan dipulihkan sehingga dengan demikian kejahatan berat dan pelecehan terhadap pasangan hidup dapat dikalahkan. Ikatan-ikatan perkawinan dan keluarga-keluarga dalam Kerajaan Allah dapat hidup seperti semula, dalam kesatuan; suami-suami dan istri mereka masing-masing dapat hidup bersama dengan bermartabat, cintakasih dan integritas, seperti yang dimaksudkan Allah sejak semula.
DOA: Bapa surgawi, aku berdoa untuk semua orang di seluruh dunia yang hidup dalam ikatan perkawinan. Berkatilah mereka, ya Allahku, dan berilah damai-sejahtera-Mu kepada mereka. Aku berdoa juga bagi mereka yang hidup terpisah atau berada dalam status bercerai, agar Yesus Kristus melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan mereka untuk membuang semua rasa marah dan kepahitan dari hati mereka masing-masing, sehingga dengan demikian mempermudah reuni mereka dalam kasih-Mu. Amin.
Sumber :

Rabu, Ogos 16, 2017

SEBUAH JAWABAN YANG MEMILIKI RELEVANSI SAMPAI HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA – Kamis, 17 Agustus 2017)
Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21) 

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17 
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)
Jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi yang munafik (kali ini didukung oleh sejumlah pendukung raja Herodes), yang  senantiasa mencoba untuk menjebak-Nya ini merupakan sebuah jawaban yang memiliki relevansi sampai pada hari ini, khususnya dalam kehidupan bernegara. Jadi, memang cocok untuk menjadi bacaan Injil pada Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ini.
Di sini orang-orang Farisi dan kaum Herodian berupaya menjebak Yesus ke dalam suatu kontroversi atau katakanlah polemik politis. Kenyataan bahwa orang-orang Farisi (anti pemerintahan Roma) dan kaum Herodian (pendukung raja Herodes; pro pemerintahan Roma) bergabung menunjukkan bahwa memang ada “udang di balik batu” yang tersirat dalam pertanyaan mereka kepada Yesus. Yesus berhasil menghindar dari “jebakan” para lawan-Nya itu. Dia tidak menampilkan diri sebagai seorang revolusioner politik (misalnya secara eksplisit menolak pajak kepada Kaisar), melainkan mengulangi pesan dasar dari misi-Nya: “(Berikanlah) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21).
Dalam pernyataan Yesus ini tersirat adanya masalah hak dan kewajiban, tidak sekadar hak. Hak dan kewajiban memang seyogianya berjalan seiring, seperti layaknya sisi yang berlainan dari sebuah uang logam yang sama. Kaisar (baca: Pemerintah) memang berhak menuntut sejumlah hal dari rakyat yang dipimpinnya, berupa pajak sampai kepada keikutsertaan mereka dalam pembelaan negara dan bangsa. Namun di lain pihak, Kaisar juga mempunyai kewajiban untuk mengurus negara dan mengusahakan kesejahteraan bagi rakyatnya dalam arti seluas-luasnya. Apa yang menjadi hak Kaisar sebagai penguasa/pengurus negara dan bangsa, menjadi kewajiban bagi rakyatnya. Juga sebaliknya: hak rakyatlah untuk mempunyai pemerintahan yang kompeten, memperhatikan keadilan sosial dll. yang merupakan kewajiban  Kaisar.
Kita sebagai orang Kristiani tidak hanya wajib membayar pajak kepada Kaisar, melainkan juga melibatkan diri dalam banyak aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dll., termasuk membawa perdamaian dalam masyarakat. Umat Kristiani bukanlah musuh negara, melainkan warga-warga negara yang penuh tanggung jawab. Sebagai umat yang beriman (saya tidak mengatakan “umat yang beragama”) kepada “Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat”, dengan hati yang dipenuhi dan dibimbing oleh Roh Kudus, mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka sebagai warganegara tidak karena terpaksa atau dipaksa-dipaksa, atau apabila ditekan oleh “teror” dari segala arah, atau apabila diamat-amati serta diancam dengan hukuman-hukuman, melainkan atas dasar kesadaran batin. Mengapa? Karena karena dalam diri penguasa dan kekuasaan yang sah, mereka melihat para pemimpin yang dihendaki Allah guna mencapai kesejahteraan umum.
Akan tetapi, di pihak lain umat Kristiani hanya bersedia memberi kepada Kaisar apa yang menjadi haknya, dan bukan perkara-perkara lain yang samasekali bukan hak sang Kaisar untuk turut campur tangan. Jadi, hak Kaisar tidaklah tanpa batas. Di bawah ada hak-hak pribadi dan keluarga yang tidak dapat diganggu gugat oleh Kaisar dan kekuasaannya. Di luar ada hak-hak bangsa lain. Dan terutama dari atas sana ada tuntutan dan kehendak Allah. Oleh karena itu, setiap kali pemerintahan suatu negara melampaui batas-batas kekuasaannya dan menuntut yang tidak adil, maka umat Kristiani tidak dapat taat lagi. Kalau yang dituntut Kaisar itu tidak adil, maka orang Kristiani wajib melawannya dan setuju berarti dosa. Dalam kurun waktu sekitar 300 tahun pertama sejarah Gereja banyak sekali orang Kristiani yang mati sebagai martir Kristus, karena tidak mau memberikan kepada Kaisar yang berkuasa apa yang menjadi hak Allah.

Bagian akhir jawaban Yesus sangat mendalam dan tepat mengenai hal yang paling menentukan: “(Berikanlah) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Para lawan Yesus yang munafik, yang berpura-pura jujur dan penuh tanggung jawab itu justru tidak mau tunduk kepada Tuhan (Kyrios) segala kaisar. Mereka tidak mau mempercayai sabda Allah, tidak mau taat kepada kehendak-Nya, tidak mau memuji kemuliaan-Nya. Pertanyaan pura-pura mereka merupakan bukti dari ketidaktaatan mereka.
Manusia harus memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah. Dan segala sesuatu adalah milik Allah, sebab sebagai makhluk ciptaan, manusia itu adalah milik sang Pencipta, dan sebagai yang tertebus dengan darah Kristus, dia menjadi milik sang Penebus. Kehidupan manusia berasal dari Allah, demikian pula kehendak bebasnya dan juga rahmat yang diterimanya. Demikian pula cintakasihnya yang juga berasal dari Allah sendiri yang adalah KASIH. Maka, segala sesuatu yang diberikan manusia kepada Allah hanyalah pemulangan kembali milik Allah saja. Oleh karena itu penyerahan diri kepada Allah bagi umat Kristiani bukan hanya merupakan kewajiban, melainkan karya cintakasih yang rela dan gembira. Siapa yang memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya, demi Allah juga dapat memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar. Akan tetapi, siapa yang memberikan kepada Kaisar apa yang tidak menjadi kepunyaannya, siapa yang mendewa-dewakan pimpinan pemerintahan, yang baginya kekuasaan negara adalah yang tertinggi, yang melihat tujuan terakhir dalam politik dan kebesaran nasional, dia itu menolak memberikan kepada Allah apa yang menjadi kepunyaan-Nya.
Hanya sikap yang tepat terhadap Allah sajalah yang akan mendatangkan keserasian dalam seluruh kehidupan seseorang. Maka jawaban Yesus terhadap pertanyaan menjebak para musuhnya adalah menyingsingnya fajar keseluruhan tata ciptaan, sebab semua garis bertemu pada suatu titik tertinggi, dan dari titik tertinggi tadi, jadi dari Allah, segala sesuatu diterangi. Pendewaan manusia dan negara dapat dipandang sebagai penyembahan berhala. Dan penyembahan berhala adalah pekerjaan Iblis. Siapa  yang melakukan penyembahan berhala akan jatuh ke dalam kekuasaan Iblis.
DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa kami kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Amin.
Sumber :

Selasa, Ogos 15, 2017

BELAS KASIH BERDIRI LEBIH TINGGI DARIPADA PENGHAKIMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 16 Agustus 2017) 
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa  yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20) 

Bacaan Pertama: Ul 34:1-12; Mazmur 66:1-3a,5,8,16-17 
Di sini Yesus mengajarkan murid-murid-Nya bagaimana mereka masing-masing seharusnya menanggapi suatu situasi di mana seorang anggota lain dari jemaat/Gereja/komunitas iman  berbuat dosa. Keprihatinan utama Yesus bukanlah untuk menghukum si pendosa, melainkan ‘memperoleh  kembali’ orang yang bersalah itu: “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Mat 18:15). Pertama-tama, upaya untuk mencapai rekonsiliasi harus dibuat atas dasar 0-0, artinya one-to-one basis, lalu dengan bantuan sepasang saudara atau saudari; kalau belum juga mendengarkan melalui pelayanan Gereja sendiri. Pada setiap tahap, belas kasih (mercy) harus dilihat sebagai lebih penting (berdiri lebih tinggi) daripada penghakiman. Harus tersedia ruangan untuk pelayanan penyembuhan dari Tuhan “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).
Kita semua tahu bahwa ada kuasa besar dalam doa, hikmat besar dalam Kitab Suci, dan perlindungan besar dalam ajaran Gereja. Namun sayangnya seringkali kita membuka diri kita bagi jalan-jalan menuju rekonsiliasi ini hanya pada menit-menit terakhir. Mengapa mesti begini? Yesus menekankan agar kita berbelas kasih kepada yang telah bersalah. Hal ini dapat diartikan  bahwa Dia mengajar kita agar meninggalkan keinginan kita untuk membalas dendam dan menuntut keadilan yang keras dan tanpa kompromi terhadap orang yang telah bersalah, teristimewa orang yang bersalah kepada diri kita sendiri.
Seluruh pesan Injil didasarkan pada panggilan untuk mengasihi setiap orang secara penuh sebagaimana Allah telah mengasihi kita semua, termasuk mereka yang telah menyakiti kita. Bagian dari Injil Matius ini (Mat 18:10-19:12) dipenuhi dengan pengajaran dan/atau nasihat-nasihat Yesus yang menekankan cintakasih radikal yang sedemikian. Yesus memerintahkan kita untuk tidak menganggap rendah ‘anak-anak kecil’ Allah (Mat 18:10). Ia mengajarkan ‘perumpamaan tentang domba yang hilang’, yang menggambarkan upaya ‘tidak logis’ seorang gembala untuk mencari seekor domba yang hilang, namun dengan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang masih terkumpul sebagai satu kawanan (Mat 18:12-14). Ayat terakhir dari perikop ini memang menunjukkan bahwa perikop ini tak terlepaskan dari perikop yang sedang kita soroti hari ini: “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak itu hilang” (Mat 18:14). Dalam rangkaian perikop ini, Yesus bahkan mengajar kita untuk mengampuni orang-orang berdosa sebanyak ‘tujuh puluh kali tujuh kali’ (Mat 18:21-35). Dalam semua pengajaran ini, Yesus seakan ‘memohon’ kepada kita untuk menjalin relasi kita dengan sesama berdasarkan belas kasih yang dilimpah-limpahkan Allah, pada waktu Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk melakukan ‘inaugurasi’ sebuah ‘kerajaan kasih’ yang baru.
Sebagai ‘anak-cucu’ Adam dan Hawa, kita tidaklah kebal terhadap kecenderungan-kecenderungan untuk berpikir dan bertindak di mana diri kita, kepentingan kitalah yang menjadi pusat segalanya, bukan Yesus Kristus. Namun demikian Yesus telah mengajarkan kita agar memeriksa cara kita bereaksi dalam situasi-situasi sedemikian. Apakah kecenderungan kita yang pertama adalah mencari hikmat dari Roh Allah sendiri dan nasihat dari Gereja. Atau, apakah dengan cepat kita  menghukum orang ‘demi keadilan’? Apakah kita mengabaikan, bahkan membuang jauh-jauh, segala penghiburan yang kita rasakan dari doa dan bacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; sehingga hanya mengandalkan diri pada bantuan ilmu-ilmu seperti psikologi? Memang kita tidak boleh mengabaikan begitu saja bantuan-bantuan yang dapat disumbangkan oleh perkembangan terakhir dalam bidang hukum dan psikologi. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memandang rendah kuasa kasih Allah untuk mentransformasikan tragedi dosa menjadi suatu kesempatan untuk penebusan …… kesempatan untuk memperoleh keselamatan dari-Nya.
DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Setiap saat aku ‘diserbu’ oleh begitu banyak masalah, jagalah agar aku tetap setia dalam iman-kepercayaanku, sementara aku tetap berjalan ke depan untuk memperoleh kepenuhan keselamatan dari-Mu. Amin.
Sumber :

Khamis, Jun 01, 2017

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 2 Juni 2017)
Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder (Saudara Awam)
Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 
Dalam Gereja Perdana, kepada Petrus diberikan kedudukan yang penting, yaitu sebagai fondasi dari Gereja dan pemegang peranan pening dalam pelayanan dan otoritas (lihat Mat 16:18). Paulus menulis bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus “menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1Kor 15:5). Sementara peranan Petrus itu unik baginya, apa yang pertama-tama diterimanya (misalnya berjumpa dengan Kristus yang bangkit) kemudian dibagikan kepada para murid lainnya. Bacaan Injil hari ini sebenarnya menunjukkan masa depan Gereja dan pembentukan sebuah struktur yang didasarkan pada tatanan Allah sendiri, suatu tatanan yang berkelanjutan sampai hari ini melalui Uskup Roma (Paus).
Panggilan Petrus untuk memimpin mengalir dari pengakuannya akan Yesus yang bangkit sebagai Kepala Gereja. Dialog yang dilakukan oleh Yesus dengan Petrus mencerminkan sikap Yesus sendiri terhadap pemeliharaan pastoral atas kawanan domba, yaitu umat Kristiani. Yesus adalah “gembala yang baik” (Yoh 10:11). Bapa surgawi mempercayakan pemeliharaan umat-Nya kepada Yesus karena kasih yang saling mengikat antara Bapa dan Putera. Yesus bersabda: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali” (Yoh 10:17). Ketika Petrus mendeklarasikan cintakasihnya kepada-Nya sampai tiga kali, maka Yesus memberi amanat kepada-Nya untuk melayani sebagai pemimpin Gereja-Nya.
Yesus menunjuk kepada Gereja-Nya sebagai sebuah komunitas di dunia ini, komunitas mana mempunyai sebuah struktur yang kelihatan. Namun Yesus juga menunjuk lebih jauh lagi, yaitu kepada Roh-Nya sendiri yang memberi kehidupan, akan memenuhi diri semua umat beriman, mempersatukan mereka dengan diri-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain. Roh Kudus datang dengan hikmat-Nya, kuasa-Nya dan kasih-Nya, maka para murid diberdayakan agar dapat mewujudkan kasih yang penuh pengorbanan, suatu sacrificial love. Dinamika pelayanan dan otoritas yang mengalir dari kasih, adalah jantung dari penyertaan kita dalam imamat Kristus (imamat umum).
Kita dapat berpartisipasi dalam “misteri persatuan yang mendalam” ini seperti layaknya relasi  cintakasih antara suami dan istri. Paulus menulis sebagai berikut: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:28-32).
Melalui/oleh Roh Kudus kita dapat menjadi lebih serupa lagi dengan Yesus. Kita akan dimampukan untuk menanggung pencobaan-pencobaan yang menimpa diri kita seiring dengan pekerjaan kita mewartakan Injil dan/atau upaya saling memperhatikan penuh kasih dalam keluarga yang merupakan gereja domestik, dan dalam  komunitas Kristiani. Dengan pemikiran dan upaya kita sendiri semata-mata, kita tidak akan mampu memahami panggilan kita ini atau mewujudkan panggilan tersebut ke dalam tindakan nyata.
DOA: Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami dan terangilah pikiran kami sehingga kami dapat mengetahui dan percaya akan semua misteri penyelamatan, memahami ajaran Yesus Kristus, dan melaksanakannya dalam hidup kami sehari-hari. Amin.
Sumber :

Sabtu, Mei 27, 2017

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [Tahun A], 28 Mei 2017)
HARI KOMUNIKASI SEDUNIA
 

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah
Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a) 
Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16 
Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari doa Yesus untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa surgawi dan mohon kepada-Nya untuk melindungi para murid-Nya – bukan untuk mengambil mereka dari dunia, melainkan untuk melindungi mereka dari yang jahat (lihat Yoh 17:15). Ketika Yesus mengatakan bahwa “dunia” membenci para pengikut/murid-Nya, maka yang dimaksudkan oleh-Nya dengan “dunia” adalah keduniawian, ketiadaan Allah dalam pikiran dan hati manusia, ketiadaan iman. Karena para murid-Nya bukan milik “dunia” yang sedemikian, maka mereka pun dibenci (lihat Yoh 17:14). Akan tetapi, mereka harus tetap berada di dalam dunia, di tengah-tengah yang baik dan yang jahat, menjadi sebuah pengaruh yang baik, menjadi sebuah contoh dan mengingatkan orang-orang, untuk membawa segala sesuatu (termasuk manusia) kembali kepada Allah.
Tentu saja ada faktor risiko dalam hal ini. Buah apel yang busuk yang tercampur dengan buah-buah apel lainnya dalam sebuah tong akan merusak seluruh buah apel dalam tong itu. Nila setitik rusak susu sebelanga! Contoh yang buruk dapat secara negatif mempengaruhi orang-orang yang baik. Oleh karena itu Yesus berdoa bagi para murid-Nya (termasuk kita) kepada Bapa surgawi: “supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh 17:15)…… melindungi mereka dengan kebenaran …… firman Allah sendiri (lihat Yoh 17:17). Kemudian Yesus melanjutkan: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:18).
Pada hari ini, dalam Liturgi Sabda, dalam Ekaristi, Yesus berdoa bagi kita seperti yang dilakukan-Nya bagi para murid-Nya yang pertama. Dia berdoa kepada Bapa surgawi untuk melindungi kita, untuk menguduskan kita dalam kebenaran (lihat Yoh 17:19), untuk menjaga kita jangan sampai mengambil jalan yang salah walaupun bahaya selalu ada. Dalam doanya Yesus mengingatkan kita bahwa kita dapat dibenci karena mengambil sikap benar sebagai orang Kristiani di tengah-tengah dunia yang tidak sejalan dengan kita, juga karena kita memandang hal dan peristiwa di kehidupan kita dalam terang ajaran Kristus, bukannya berdasarkan pertimbangan dunia. Hal seperti ini tidak perlu sampai mengganggu kita selama kita bekerja dan bertindak dengan cintakasih Kristiani yang sejati.
Selagi kita semakin dekat dengan Hari Raya Pentakosta,  baik sekali bagi kita untuk mengingat apa yang ditulis oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama: “Siapa yang menuruti segala perintah-Nya (Kristus), ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh 3:24). Karunia-karunia Roh Kudus kepada kita adalah damai-sejahtera, sukacita, kekuatan, keberanian dan pengertian. Tak ada apa dan/atau siapa pun yang perlu kita takuti, apabila kita membuka diri bagi Roh Kudus dan hidup dalam Roh.
(Uraian di atas didasarkan pada bacaan yang lebih panjang, yaitu Yoh 17:1-19.)
DOA: Datanglah, ya Roh Kudus. Curahkanlah terang-Mu yang penuh keajaiban ke atas diri kami, dan penuhilah hati kami dengan api cintakasih-Mu. Amin.
Sumber :

Khamis, Mei 25, 2017

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Jumat, 26 Mei 2017)
HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 
Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7
Sekarang kita berada dalam masa istimewa antara HARI RAYA KENAIKAN TUHAN dan HARI RAYA PENTAKOSTA; dan tidak sedikit pula umat Katolik yang mengikuti Novena Pentakosta yang dimulai hari ini. Selama kita berada dalam periode singkat namun khusus ini, marilah kita memusatkan perhatian kepada penyambutan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing dan ke dalam Gereja dengan penuh kuat-kuasa, karena Dia adalah pengharapan kita. Selama kita masih hidup di atas bumi ini, maka kita seringkali “menangis dan meratap” (Yoh 16:20); kita bergumul dengan dosa dan berbagai macam godaan, dengan rasa sakit, dan penyakit yang diderita serta kematian atau maut itu sendiri. Namun demikian pengharapan kita terletak dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!  Roh Kudus yang datang untuk tinggal dalam hati umat beriman pada hari Pentakosta merupakan bukti bahwa Yesus telah memulihkan relasi kita dengan Bapa surgawi dan mengalahkan Iblis oleh kematian dan kebangkitan-Nya.
Pada waktu Yesus “mohon pamit” kepada para murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengalami kesedihan dan rasa sakit dalam dunia ini, namun para murid tidak boleh sampai kehilangan pengharapan. Yesus membandingkan rasa sakit dan dukacita dalam dunia ini dengan rasa sakit dan dukacita seorang perempuan pada saat-saat sebelum melahirkan bayinya, pada saat-saat mana sukacita karena kelahiran seorang anak manusia jauh lebih besar daripada rasa sakit dan dukacita yang dialami selama proses kelahiran itu sendiri. Dalam artian yang sama, penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini bersifat sementara, sementara sukacita surgawi menantikan orang-orang yang percaya kepada Allah (dan menaruh kepercayaan kepada-Nya).
Hidup kita terjamin dalam tangan-tangan Bapa surgawi. Sebagaimana para murid-murid Yesus yang awal, kita juga dapat meratapi dosa kita dan juga kegelapan dalam dunia. Namun pada saat yang sama kita dapat bergembira dalam kuasa dan kasih Allah kita. Kita dapat bergembira karena kita mengenal Dia yang menjadi tumpuan kepercayaan kita. Dengan penuh keyakinan kita percaya bahwa Dia mampu menjaga apa yang telah kita percayakan kepada-Nya sampai pada akhir zaman. Paulus menulis: “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim 1:11-12). Sebagaimana seorang ibu yang mengantisipasi kelahiran anaknya sejak saat perkandungannya, kita juga dapat memandang ke depan …… kepada sukacita abadi pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, walaupun kita banyak menanggung derita karena iman-kepercayaan kita sekarang.
Yesus Kristus mengalahkan dosa, kematian (maut) dan dunia. Kita dapat menghadapi tantangan-tantangan kita setiap hari dengan penuh pengharapan karena hidup kita telah dibeli dan dibayar lunas oleh darah Juruselamat kita. Karena kita menjadi milik Yesus Kristus, maka tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat merampas kita dari pengharapan kita. Walaupun kegelapan dunia membuat kita sedih, pengharapan kita tetap berada di tangan kuasa dan kasih Allah. Kita mempunyai keyakinan kuat, bahwa apabila Yesus datang kembali kelak, setiap kebutuhan kita akan dipenuhi dan segala penderitaan kita akan berakhir.
DOA: Roh Kudus Allah, kami menyambut Dikau. Penuhilah diri kami, umat-Mu, dengan pengharapan bahwa kami dapat menanggung penderitaan kami pada masa ini, dan menghadap ke depan, yaitu kepada sukacita abadi dalam hadirat Allah pada akhir zaman. Amin.
Sumber :