Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, April 06, 2019

SIAPA SAJA DI ANTARA KAMU TIDAK BERDOSA, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU PRAPASKAH V [TAHUN C], 7 April 2019)
Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 
Bacaan Pertama: Yes 43:16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:2-6; Bacaan Kedua: Flp 3:8-14 
“Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7)
Seorang  perempuan yang kedapatan sedang berzinah dibawa kepada Yesus oleh para ahli Taurat dan orang Farisi. Laki-laki yang berzinah dengan perempuan itu tidak ikut dibawa, sesuatu yang memang biasa dalam sebuah masyarakat patriarkal. Para pemuka agama Yahudi yang disebutkan di atas mengumumkan dosa perempuan itu dan mengajukan masalahnya kepada Yesus. Menurut hukum Taurat, perempuan seperti itu harus dihukum rajam. Mereka minta pendapat Yesus dengan maksud mencobai-Nya. Jelas orang-orang itu mau menguji kesetiaan Yesus kepada hukum Taurat. Kiranya mereka ingin mencari alasan untuk menangkap dan menghadapkan Yesus kepada pengadilan agama.

Harus kita akui bahwa Yesus menghadapi situasi yang sungguh rumit. Jika Ia mengatakan bahwa perempuan itu harus dihukum sampai mati, maka ada orang-orang Yahudi yang akan menuduh-Nya tidak mempraktekkan sendiri apa yang seringkali diajarkan oleh-Nya mengenai “pengampunan”. Sebaliknya, bila Ia mengatakan perempuan itu boleh pergi dengan bebas, mereka akan menuduh Dia mendorong praktek-praktek perzinahan.
Bagaimana dengan Yesus? Ia tidak menanggapi permintaan para ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus hanya menulis sesuatu dengan jari-Nya di tanah. Kiranya ini adalah bacaan Injil yang bercerita tentang Yesus menulis sesuatu. Kita sungguh tidak tahu apa yang ditulis Yesus itu. Apakah daftar dosa-dosa para pemuka agama Yahudi yang siap untuk merajam perempuan itu? Entahlah! Yesus sepertinya tidak mempedulikan orang-orang itu atau memang tidak mendengar apa-apa. Ada pakar Kitab Suci yang menduga bahwa tindakan Yesus itu merupakan suatu jawaban. Karena para lawannya berpegang pada hukum Musa yang ditulis di atas gunung Sinai di atas dua loh batu (Kel 31:18), maka Yesus menuliskan hukum-Nya yang baru di atas tanah. Jari Yesus adalah jari Allah. Hukum-Nya sekarang ditulis di bumi.

Orang-orang itu tidak memikirkan perihal alasan Yesus untuk berdiam diri, melainkan terus menerus bertanya kepada Yesus. Ia akhirnya bangkit berdiri dan menjawab: “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Jawaban Yesus membuat diam mereka yang bertanya. Semua diam dan Yesus pun membungkuk lagi dan sekali lagi menulis sesuatu di tanah. Makna sesungguhnya dari perbuatan Yesus ini tidak pernah diketahui. Yang jelas, setelah itu satu persatu mereka pun pergi, mulai dari yang tertua (paling banyak dosanya?) (Yoh 8:9).
Yesus tinggal seorang diri bersama perempuan itu. Yesus bertanya kepada perempuan itu: “Hai Ibu, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Perempuan itu menjawab: “Tidak ada, Tuan”. Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:10-11). Cukup satu hal yang harus diperhatikan oleh perempuan itu, yaitu tidak berbuat dosa lagi. Dia harus memulai suatu hidup baru.

Kita seringkali suka menghakimi orang lain dan lupa bhwa kita pun membutuhkan keadilan. Kita dapat saja “melemparkan batu kepada seseorang” jika kita tidak berdosa lagi. Namun demikian, siapakah yang hidup tanpa dosa? Kita cenderung melihat debu di mata orang lain, tetapi tidak melihat balok dalam mata kita sendiri. Jawaban Yesus sungguh menggugah hati kita, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7).
DOA: Yesus, kasihanilah aku, seorang pendosa. Aku mengasihi-Mu, ya Tuhanku dan Allahku, dan aku ingin menjadi milik-Mu selamanya. Bebaskanlah aku dari segala sesuatu yang dapat merusak diriku. Amin.

Jumaat, April 05, 2019

ALLAH YANG PENUH DENGAN KEJUTAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 6 April 2019)
HARI SABTU IMAM
Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.
Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing. (Yoh 7:40-53) 
Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 7:2-3,9-12
Kadang-kadang kita dapat merasa seakan-akan kita berada dalam sebuah peti terkunci rapat-rapat, terjebak dalam suatu dilema tanpa mengetahui jalan keluar yang jelas. Tuhan kelihatannya mengunci pintu dan kita tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan karena kita tidak tahu apakah ada pintu lain bagi Allah untuk membuka pintu itu. Kita biasanya ingin memperoleh jawaban-jawaban konkret – sekarang juga! Semuanya serba instan!  Dalam situasi buntu seperti ini betapa menggodanya bagi kita untuk merasa kecut, khawatir, bahkan putus asa.

Dalam keadaan seperti itu, baiklah kita mendengarkan apa yang ditulis oleh sang pemazmur: “Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati” (Mzm 7:11). Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh dengan kejutan. Apabila kita berdoa dan menantikan jawaban-Nya, maka Dia pun akan menunjukkan kepada kita suatu cara baru untuk mendekati suatu masalah atau bereaksi terhadap situasi tertentu.  Alternatif-alternatif secara tiba-tiba bermunculan, alternatif-alternatif yang tak terbayangkan sebelumnya. Jadi, sangat pentinglah bagi kita untuk senantiasa memiliki pikiran dan hati terbuka, yang menaruh kepercayaan bahwa Allah akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita.
Para imam kepala dan Farisi menghadapi dilema seperti ini. Mereka menyaksikan sendiri berbagai mukjizat penyembuhan dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus. Namun menurut pandangan mereka mustahillah Yesus itu sang Mesias. Yesus kelihatannya tidak memenuhi persyaratan kalau diikut-sertakan dalam proses “fit and proper test”…… tidak akan qualified …… tidak akan lulus! Yesus datang dari Galilea, bukan kota Daud. Jelas di sini bahwa para pemuka agama Yahudi ini tidak pernah mendengar tentang kelahiran Yesus di Betlehem. Lihatlah apa yang dikatakan seseorang dari mereka: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” (lihat Yoh 7:41-42). Mereka terlalu cepat membuat penilaian dan menggantungkan diri pada pemikiran manusia, bukannya menunggu Allah guna menolong mereka membentuk suatu penilaian atas situasi yang dihadapi. Bukankah kita pun tidak jarang bersikap dan berperilaku seperti mereka? Sikap dan perilaku seperti inilah yang menghalangi orang mengenali kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Berjalan dalam iman seringkali berarti bukan memiliki jawaban-jawaban pada saat kita membutuhkan jawaban-jawaban itu. Berjalan dalam iman berarti melangkah, satu langkah demi satu langkah, sambil mengikuti sinar terang yang dipancarkan Tuhan di depan kita. Hal ini memang dapat menjadi sulit, membutuhkan kerendahan hati, karena dalam situasi-situasi ini kita harus berseru minta tolong kepada Allah selagi kita tertatih-tatih melangkah. Akan tetapi, selagi setiap kali kita melangkah dalam ketaatan kepada kehendak-Nya, maka iman kita pun bertumbuh. Kita menjadi lebih merasa yakin apabila kita harus berjalan dalam kegelapan, jika hal itu memang yang diminta oleh Allah itu dari kita. Pada suatu hari, pada saat Allah, terang itu akan bersinar penuh cahaya, dan kita pun akan melihat Yesus sedang memimpin kita kepada kemuliaan-Nya – karena memang itulah tujuan iman kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah jalan, kebenaran dan terang. Tingkatkanlah imanku, agar aku dapat menggantungkan diri kepada Engkau dalam setiap situasi. Aku menyerahkan kepada Engkau seluruh hidupku, pikiranku dan segalanya yang membentuk diriku. Amin.

Khamis, April 04, 2019

AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 5 April 2019)
Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.
Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.
Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kia benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”
Mereka berusaha menangkap dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 
Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23
Yesus berkata kepada orang-orang di Bait Allah yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:28-29).

Ada pandangan orang-orang Yahudi pada zaman itu, bahwa manakala Mesias datang, tidak seorang pun mengetahui asal-usul-Nya (lihat Yoh 7:27). Akan tetapi, bukankah umat pilihan Allah ini telah mengetahui bahwa bilamana Mesias datang, maka Ia datang dari Allah yang mereka klaim mengenal-Nya dan menyembah-Nya? Namun demikian, Yesus berkata tentang Bapa yang mengutus-Nya, Allah dari Umat-Nya, yang mereka tidak kenal.
Ini tentunya bukanlah kesalahan para nabi dan para kudus Perjanjian Lama, yang senantiasa mendesak umat pilihan Allah ini untuk menaruh kepercayaan kepada YHWH, tidak kepada manusia. Dan apabila para penulis suci kelihatan terkadang memandang Allah dari kejauhan, menempatkan Dia terlalu jauh dari Umat-Nya, mereka dapat mengejutkan kita kemudian dengan membuat Dia terlalu manusiawi, berpikir tentang Dia dengan istilah-istilah yang sangat manusiawi dan membumi. Dan walaupun mereka belum/tidak siap untuk memahami misteri inkarnasi – Mesias sebagai Allah yang menjadi manusia – mereka sudah siap mengharapkan seorang Mesias yang manusia.
Lalu, mengapa mereka tidak mau menerima orang ini, yang telah diutus oleh Bapa surgawi?
Apakah karena Dia terlalu mirip dengan Allah yang mereka klaim mengenal-Nya, dan terlalu jauh dari standar-standar dunia yang telah ditetapkan bagi seorang Mesias oleh mereka? Bukankah ini kasus sebuah umat yang berkata – barangkali juga berpikir – bahwa mereka mengenal dan menyembah Allah yang benar, namun sesungguhnya mereka menyembah gambaran Dia yang salah?

Orang-orang Yahudi itu tidak dapat menerima “skandal” Yesus, “skandal” tentang Allah mereka, yang melepaskan diri-Nya dari kekayaan ilahi-Nya untuk menjadi satu dengan orang-orang miskin; Allah mereka, yang memilih untuk lahir ke dunia di tengah-tengah orang miskin dan mengenakan kemiskinan yang luarbiasa dan ketiadaan arti dalam masyarakat; Allah mereka, yang dalam kasih ilahi-Nya tidak dapat mengambil apa pun bagi diri-Nya sendiri, melainkan hidup dalam penghayatan suatu kehidupan yang memberikan diri-sendiri secara lengkap dan total.
DOA: Tuhan Yesus, apakah kami mengenal Engkau dengan lebih baik? Apakah kami sungguh menerima Engkau sebagai Mesias kami? Tuhan kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah sungguh sang Mesias, Tuhan dan Juruselamat kami. Ampunilah kami yang terkadang kurang percaya. Amin.

Selasa, April 02, 2019

SAKRAMEN REKONSILIASI MUSIM PRA PASKA

SAKRAMEN REKONSILIASI
(TOBAT MUSIM PRA PASKA)

Tarikh  :  03 April 2019
Masa  :  Jam 4.00 petang - 6.00 petang
(Selepas Sakramen Rekonsiliasi, disusuli dangan MIsa Kudus)
Tempat  :  Gereja Paroki, Our Lady of Fatima, Beluran

MENGAPA PERLU MENGAKU DOSA

Setidaknya ada 7 alasan mengapa orang katolik harus mengaku dosa:
1. Merasa diri tidak berdosa.
2. Memperoleh pengampunan dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
3. Tindakan paling terpuji dari semua orang yang pernah melakukan kesalahan di dunia ini adalah saat ia mengakui kesalahannya dan mau berubah.
4. Pengakuan Dosa itu baik bagi jiwa. Berbahaya sekali memendam persoalan-persoalan di dalam hati kita sendiri. Bisa bikin stress hingga gangguan jiwa lho.
5. Dosa adalah sesuatu yang kita lakukan yang menyakiti orang lain. Tuhan adalah Bapa semua orang. Semua Bapa menderita jika anak-anak mereka disakiti. Maka patut untuk meminta maaf pada-NYA.
6. Tradisi kekristenan mengajarkan bahwa pengampunan diberikan oleh seorang ayah (bapa) kepada anaknya.Yesus-lah yang memulai Sakramen Pengakuan Dosa (Rekonsiliasi).  Ia bersabda kepada para murid-Nya: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:21-23)
7. Yesus-lah yang memulai Sakramen Pengakuan Dosa (Rekonsiliasi).  Ia bersabda kepada para murid-Nya: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:21-23)

YESUS ADALAH TUHAN ATAS HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 3 April 2019)
Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.
Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30) 
Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18
Bayangkanlah diri anda sebagai salah seorang Yahudi yang baru saja menyaksikan Yesus menyembuhkan orang lumpuh di dekat kolam Betesda. Mukjizat itu membuat anda merasa takjub dan sungguh menarik perhatian anda. Namun sekarang anda mendengar Yesus mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri yang “membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya”, serta menyebut diri-Nya sebagai Anak yang juga “menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” dan menerima wewenang dari Bapa untuk melakukan semua “penghakiman” atas manusia (Yoh 5:21-22). Tradisi Yahudi mengajarkan bahwa hanyalah Allah yang membangkitkan orang-orang mati, memberikan kehidupan dan juga menghakimi. Oleh karena itu anda mulai bertanya dalam hati, siapakah Yesus ini? Apakah Ia sungguh mengklaim diri-Nya sebagai Allah? Apakah Ia sang Mesias yang telah dijanjikan Allah? Ataukah Ia hanya seorang nabi palsu, seorang yang berpikiran tidak waras?

Pada zaman modern ini, sekitar 2.000 tahun setelah peristiwa ini terjadi, pertanyaan tentang “Siapakah Yesus ini?” masih ada. Perwahyuan melalui kuasa Roh Kudus, kesaksian dari kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi, bukti-bukti sejarah – semuanya menunjukkan kepada kita arah yang benar, namun tidak mengecualikan kita dari kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu bagi diri kita sendiri. Masing-masing kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah aku sungguh percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias (Kristus), Dia yang dijanjikan, Anak (Putera) Allah, Dia yang satu dengan Bapa? Apakah aku percaya bahwa Dia wafat dan bangkit dari antara orang mati seturut Kitab Suci dan sekarang Dia duduk di sebelah kanan Bapa? Apakah aku percaya bahwa Yesus ingin mensyeringkan hidup-Nya sendiri dengan diriku dan menjalin relasi pribadi dengan diriku melalui kuasa Roh Kudus-Nya.
Masa Prapaskah adalah masa untuk memusatkan perhatian kita secara baru pada kematian dan kebangkitan Yesus. Ini adalah masa bagi suatu pandangan segar pada ketaatan tanpa kompromi dari Yesus pada rencana Bapa surgawi untuk menyelamatkan dan menebus kita. Hanya dengan mempercayai sepenuh hati bahwa Yesus adalah menurut apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya sendiri, maka kita akan mulai memahami rencana besar keselamatan ini.

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita mengakui dengan lebih mendalam bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidup kita. Marilah kita juga mengungkapkan iman-kepercayaan kita bahwa Yesus adalah sungguh sang Juruselamat dan janji-janji-Nya benar. Marilah kita menggantungkan diri pada-Nya sepenuhnya, berharap pada-Nya saja. Yesus adalah sungguh andalan kita!
DOA: Yesus, Engkau adalah Putera Allah yang diutus oleh Bapa surgawi untuk membangkitkan orang-orang mati dan memberi kehidupan kepada mereka. Aku percaya bahwa Engkau hidup dan aktif dalam kehidupanku sekarang, dan bahwa pada suatu hari kelak aku akan berjumpa dengan Engkau – muka ketemu muka. Amin.

SALIB BELIA TIBA DI PAROKI BELURAN

MISA KUDUS SEMPENA PENERIMAAN SALIB BELIA
Tarikh  :  07 April 2019 (Ahad)
Masa  :  9.00 pagi
Tempat  :  Gereja Paroki, Our Lady of Fatima, Beluran





KUAT KUASA DARI SABDA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 2 April 2019)
Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.
Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-16) 
Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9 
Injil Yohanes bergerak maju melalui suatu arus “saksi-saksi” – baik orang-orang maupun peristiwa-peristiwa – yang semuanya mengarah dan menunjuk kepada kebenaran dari identitas Yesus. Di antaranya adalah tanda-tanda penuh kuat-kuasa yang dibuat oleh Yesus, seperti penyembuhan orang lumpuh dekat sebuah kolam di Betesda (Bethzatha).

Yang paling mencolok dari mukjizat ini adalah apa yang “tidak” dilakukan oleh Yesus. Ia tidak menyentuh orang itu atau membersihkannya dalam kolam. Ia hanya bersabda: “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah” (Yoh 5:8), dan orang itu pun sembuh. Peristiwa ini merupakan suatu tanda yang dramatis bahwa Yesus adalah sungguh Putera Allah: Sabda-Nya adalah kuasa.
Bagian lain dari narasi Yohanes menunjukkan kuat-kuasa dari sabda Kristus. Yesus mengucapkan sabda-Nya, dan air pun menjadi anggur di pesta perkawinan di Kana (lihat Yoh 2:7-11). Yesus  menyembuhkan anak laki-laki seorang pegawai istana di Kapernaum hanya dengan mengucapkan kata-kata berikut ini kepada sang ayah: “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50-53). Mendekati bagian akhir dari Injil Yohanes, sebelum ditangkap atau menyerahkan diri-Nya kepada para lawan-Nya, tercatatlah insiden berikut ini. Ketika Yesus berkata kepada mereka, “Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah (Yoh 18:6). Yesus memiliki kuat-kuasa ini karena Dia adalah Logos, Sabda/Firman Allah, yang melalui-Nya kita diciptakan (lihat Yoh 1:1-3). Dia adalah Sabda yang menjadi daging, atau Firman yang menjadi manusia (lihat Yoh 1:14), yang melalui-Nya kita ditebus. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24).
Dengan demikian, tidak mengherankanlah bahwa dalam pesta perkawinan di Kana, Maria berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5). Maria mengetahui kuat-kuasa dari kata-kata yang diucapkan Yesus untuk mentransformasikan kehidupan. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan banyak orang, termasuk orang-orang Farisi. Bahkan orang yang disembuhkan oleh Yesus itu, setelah bertemu Yesus di Bait Allah dan diberitahukan untuk tidak berbuat dosa lagi, lalu keluar dari tempat itu, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dirinya (lihat Yoh 5:15). Terasa bahwa dia sebenarnya mempunyai kesempatan untuk berada di dekat Yesus untuk waktu yang lebih lama di Bait Allah dan memperkenankan sabda Yesus meresap ke dalam hatinya di situ, namun dia meninggalkan tempat itu agak terlalu cepat. Perhatikanlah, Yesus samasekali tidak menyuruhnya untuk langsung pergi meninggalkan tempat itu (lihat Yoh 5:14-15). Konflik dengan para pemuka Yahudi pun menjadi semakin parah karena Yesus melakukan mukjizat itu pada hari Sabat.

Masa Prapaskah adalah suatu masa rahmat, suatu panggilan untuk diperbaharui oleh sabda kehidupan Allah sendiri, melalui liturgi, dalam doa-doa, dan pembacaan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Selagi kita membuat diri kita hening di hadapan hadirat Allah, kita dapat belajar untuk mendengar sabda-Nya dengan lebih jelas, memperkenankan sabda-Nya itu menjadi “hidup dan kuat” dalam hati kita (lihat Ibr 4:12).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar selalu dapat berjalan bersama-Mu. Aku ingin dibuat menjadi utuh kembali. Ajarlah aku untuk tidak pernah meragukan bahwa sabda-Mu memiliki kuat-kuasa. Sekarang, aku berseru kepada-Mu dalam iman: “Tuhan, aku tidak pantas untuk menerima Engkau, akan tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka aku akan sembuh”. Amin.

Ahad, Mac 31, 2019

ALLAH SENANTIASA PANTAS UNTUK DIPERCAYAI OLEH KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Senin, 1 April 2019)
Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.
Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu  demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya.
Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54) 
Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13 
Pegawai istana dari Kapernaum menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Siapakah Yesus ini sebenarnya? Apakah mungkin Dia yang hanya seorang tukang kayu dari Nazaret menjadi sang Mesias? Kalau memang begitu, apakah Dia memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan? Orang ini memilih untuk percaya kepada Yesus, dan kebutuhannya mendorong dirinya untuk melakukan perjalanan sepanjang 32 km ke Kana dan memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anak laki-lakinya. Dengan cukup mengagetkan, Yesus menegur dia, kata-Nya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya”  (Yoh 4:48). Melalui pernyataan yang keras ini (yang ditujukan kepada orang-orang yang ada di sekeliling-Nya dan juga pegawai istana itu), Yesus sebenarnya memanggil orang-orang itu kepada iman yang adalah “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1).

Krisis-krisis menuntut keputusan-keputusan yang menunjukkan apakah kita mempunyai iman ini. Percayakah kita kepada janji-janji Allah, kuat-kuasa-Nya, dan kasih-Nya? Percayakah kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi  Dia (Rm 8:28)? Atau, apakah kita mengandalkan diri pada inteligensia manusia, perspektif kita yang terbatas, dan kemampuan kita yang kecil untuk memanipulasi peristiwa-peristiwa? Jika kita memilih untuk percaya kepada Allah, maka kita membuka diri kita bagi damai-sejahtera-Nya, bahkan di dalam keadaan yang paling membingungkan dan sungguh mengganggu. Apabila kita mengandalkan diri kita hanya pada pemikiran manusia, maka kita mengambil risiko kegagalan dan sejalan dengan itu, kehilangan semangat, keputusasaan, frustrasi dan ketakutan.
Ketika iman kita ditantang, maka banyak dari kita akan menggemakan apa yang dikatakan oleh Tomas, “Sebelum aku melihat ……, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Yesus mengetahui kecenderungan kita untuk tidak percaya dan mengandalkan diri sendiri. Itulah sebabnya mengapa Dia mati untuk kita. Jika kita mengakui ketidakpercayaan kita kepada-Nya dan mohon pertolongan-Nya, maka Dia akan memberdayakan kita dengan karunia iman. Lalu, selagi kita bertumbuh semakin dekat kepada-Nya melalui sakramen-sakramen, doa dan Kitab Suci, maka kita akan mengembangkan rasa  percaya seperti anak kecil. Janji-janji-Nya akan pembenaran, pengampunan, rekonsiliasi dengan sesama, dan persatuan abadi dengan Allah akan menjadi hidup bagi kita.

Selagi kita mengakui kerapuhan upaya manusia tanpa bantuan dalam mengatasi godaan-godaan dan pola-pola dosa, kita belajar untuk menggantungkan diri pada janji-janji Allah yang dipenuhi melalui Kristus. Kita menemukan, seperti juga Abraham ketika diminta untuk mengorbankan anak laki-lakinya, bahwa Allah akan memberi (Kej 22:1-18). Karena apa pun yang terjadi, Allah senantiasa pantas untuk dipercayai oleh kita semua.
DOA: Bapa surgawi, Engkau menyediakan segalanya bagiku dan juga pelindungku yang sejati. Engkau menyerahkan Putera-Mu terkasih bagi diriku sehingga semua janji-Mu akan menjadi suatu realitas dalam kehidupanku. Aku mengasihi-Mu, ya Allahku, dan aku mempercayakan hidupku kepada-Mu. Amin.