Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Sabtu, Mac 09, 2013

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV – 10 Maret 2013)


Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Yos 5:9a,10-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Kedua: 2Kor 5:17-21

 Cerita yang ada dalam bacaan Injil hari ini telah lama dikenal sebagai “perumpamaan anak yang hilang”. Sebenarnya cerita ini dimaksudkan bagi para pembacanya untuk memfokuskan perhatian mereka pada sang ayah/bapak, bukan pada salah satu anak bapak itu, dan barangkali secara lebih akurat lagi dinamakan “perumpamaan seorang bapak yang mengasihi”.

Latar belakang cerita ini adalah bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi marah ketika melihat Yesus yang mengasosiasikan dirinya dengan orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk mengungkapkan ide bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi para pendosa dan berhasrat untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Yesus ingin meyakinkan para pendengar-Nya tentang kebenaran bahwa Allah adalah ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami anak-anak-Nya.

Yesus menggambarkan anak yang bungsu begitu rupa realistisnya sehingga berabad-abad lamanya gambaran inilah yang menarik perhatian kebanyakan orang. Gambaran ini adalah tipikal bagi seorang anak muda yang ingin menjadi independen, bebas dari kontrol orangtua, untuk pergi dalam suatu petualangan pribadi … untuk melihat dan melakukan semua hal yang tidak pernah merupakan bagian dari kehidupannya di dalam rumahnya. Akibat-akibat dari petualangan seperti ini juga tipikal: yang bersangkutan menemukan nilai sesungguhnya dari uang, kebutuhan akan teman-teman sejati, pentingnya sense of belonging.

Kita tahu apa dan bagaimana yang dirasakan oleh si anak bungsu. Kita tahu bahwa apa artinya hidup sendiri, merasa bersalah, dirundung rasa takut. Setelah dia menghambur-hamburkan uangnya, semua teman-temannya (hanya pada waktu senang saja) meninggalkan dirinya. Si anak bungsu ditinggalkan sendirian dengan kesusahan hidupnya, rasa bersalahnya dan ketakutannya. Dia mulai menyadari betapa buruk kesalahan yang telah dibuatnya ketika meninggalkan ayahnya.

Anak yang sulung dalam perumpamaan ini juga seorang pribadi yang dapat kita pahami. Ketika dia pulang dari kerjanya di ladang milik ayahnya, dia marah ketika mengetahui berlangsungnya pesta bagi saudara laki-lakinya “yang tak berguna” itu. Sekilas lintas kelihatannya si anak sulung ini seakan dikhianati, namun sedikit ruang saja bagi kita untuk membenarkan sikap dan perilakunya yang dipenuhi kecemburuan. Seyogianya dia merasa berbahagia karena adiknya sudah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Marilah kita lihat lagi protes si anak sulung kepada ayahnya: “Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” (Luk 15:29). Terasa bahwa anak sulung itu memandang bekerja untuk ayahnya sebagai suatu bentuk perbudakan dan ketaatannya adalah ketaatan seorang pekerja bayaran, bukan karena relasi antara anak dan ayahnya. Jelas kelihatan bahwa dia melakukan pekerjaan dengan ekspektasi pada suatu hari dia dapat memperoleh ganjaran besar dari ayahnya. Pekerjaannya dimotivasi oleh kepentingan diri, bukan cintakasih. Si anak sulung ini dapat dikatakan mewakilkan para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengeluh dan memprotes perlakuan penuh belas kasih Yesus terhadap para pendosa.

Apabila kita sudah mengetahui kebenaran tentang kedua anak laki-laki bersaudara itu, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya cerita ini dimaksudkan bagi kita untuk memfokuskan perhatian kita pada sang ayah agar dapat dapat memperoleh sesuatu gambaran tentang Allah. Ketika si anak bungsu mengungkapkan ide untuk meninggalkan rumah, sang ayah sungguh merasa susah-hati. Ia tahu bahaya-bahaya apa saja yang akan dihadapi anaknya. Namun pada saat bersamaan dia juga memahami kebutuhan anaknya dan adalah hak si anak untuk menjadi seorang bebas. Keputusan sang ayah untuk tidak mau mendominir atau mengontrol anaknya pada saat itu dalam kehidupan anaknya karena dia sadar bahwa cintakasih untuk menjadi sejati harus diberikan secara bebas, artinya tidak dapat dipaksakan. Jadi, ketika si anak “ngotot” untuk memperoleh kebebasannya, sang ayah dalam kebaikannya yang penuh kasih dengan hati sedih memberikan persetujuannya.

Setelah si anak bungsu meninggalkan rumah, sang ayah berharap bahwa pengalaman dalam petualangannya akan mengajar dia tentang nilai-nilai sejati, karena kelihatannya kata-kata sang ayah tidak didengarkan. Setiap hari sang ayah naik ke atas bukit dan melihat jalan yang membentang sejauh matanya memandang dengan pengharapan bahwa siapa tahu dia akan melihat dari kejauhan anak bungsunya yang sedang berjalan pulang. Pada suatu hari pengharapannya dipenuhi. Dia berlari menjemput anak bungsunya, lalu dia merangkulnya dan dengan ketidaksabaran yang mengungkapkan emosinya secara mendalam. Bahkan dia tidak memberi kesempatan kepada anaknya menyelesaikan permohonan ampunnya yang sudah dihafalkan baik-baik olehnya. Si anak bungsu mengetahui bahwa dia pantas mendengar ayahnya mengucapkan kata-kata keras, namun apa yang didengarnya adalah penerimaan penuh kasih dari sang ayah. Sang ayah memang tidak menikmati penghinaan atas diri anak-Nya sendiri.

O, betapa besar kasih sang ayah bagi si anak bungsu. Namun kasihnya kepada anaknya yang sulung pun tidak berkurang sedikitpun. Sang ayah menolak untuk dipaksa berpihak kepada salah satu anaknya. Dua-dua anaknya telah menunjukkan kesalahan mereka, namun sang ayah tidak pernah berhenti mengasihi kedua-duanya. Dengan segala kelemahan dan kekurangan masing-masing, sang ayah mengasihi kedua-duanya karena mereka memang adalah anak-anaknya.

Dalam artian tertentu, kita adalah seperti si anak bungsu, namun kita juga seperti si anak sulung. Di mana pun kita berdiri, Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Allah memberikan kepada kita kebebasan karena Dia ingin suatu kasih yang diberikan secara bebas, tidak dipaksakan. Yesus juga menginginkan kita mengetahui bahwa bahkan setelah melakukan kesalahan yang paling tolol dan dosa-dosa yang paling tragis sekali pun, Allah akan tetap mencari kita dengan tangan-tangan terbuka agar dapat mengambil kita kembali sebagai anak-anak-Nya. Allah kita adalah sungguh-sungguh ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami kita, anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Mac 08, 2013

DUA SIKAP YANG SANGAT BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 9 Maret 2013)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14)

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Sangat pentinglah bagi kita semua untuk memahami bahwa kita diselamatkan oleh rahmat melalui iman. Hal ini adalah perbedaan fundamental antara orang Farisi dan si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus ini. Orang Farisi itu percaya bahwa dirinya akan dibenarkan oleh hasil kerjanya sendiri, sementara si pemungut cukai menyadari bahwa dirinya adalah seorang pendosa dan bahwa pengharapan satu-satunya bagi dirinya adalah belas kasih Allah. Dua sikap yang saling berbeda ini sungguh dapat membawa dampak atas cara hidup kita.

Apabila kita mengikuti jalan pemikiran orang Farisi itu, kita akan secara konstan mengingatkan Allah betapa keras kita telah bekerja untuk menyenangkan hati-Nya; dengan demikian kita akan mengharapkan Dia untuk memberikan ganjaran kepada kita untuk segala jerih payah kita itu. Perhatikanlah dari bacaan Injil di atas, bahwa orang Farisi itu samasekali tidak mohon belas kasih (kerahiman) Allah bagi dirinya. Di lain pihak kita, jika kita mengikuti teladan yang diberikan oleh si pemungut cukai, maka kita akan menyadari bahwa kita tidak dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kekuatan kita sendiri. Kita hanya dibenarkan oleh rahmat Allah melalui kebaikan-kebaikan Yesus. Fondasi kita akan terjamin karena Yesus telah membayar harga dosa kita, dan kita tidak akan merasakan seakan kita harus membuat deals ini-itu dengan Allah.

Apabila kita dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kebaikan kita sendiri, maka Yesus tidak perlu mati di kayu salib. Akan tetapi, karena kita sudah hidup terpisah dari Allah gara-gara dosa dan tidak mempu menyelamatkan diri sendiri, maka Allah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal guna membayar denda-denda atas dosa kita. Hanya melalui penderitaan sengsara-Nya yang sempurna, maka kita dapat diampuni dan dibawa kembali ke hadapan hadirat Allah.

Bagaimana kiranya kebenaran-kebenaran sedemikian membawa dampak atas tindak-tanduk kita dalam kehidupan kita? Pengetahuan bahwa Yesus telah memenangkan keselamatan kita dapat meringkan kita dari banyak beban. Kita telah diterima oleh Bapa surgawi apabila kita berpaling kepada-Nya dan menggantungkan diri pada rahmat-Nya guna membebaskan kita dari dosa. Hal ini sangatlah berbeda dengan upaya keras kita untuk memenangkan surga dengan menggunakan segala kekuatan kita sendiri, di mana setiap kegagalan berakibat pada rasa takut dihukum, dan setiap keberhasilan mengakibatkan kesombongan dan pembenaran diri sendiri. Terpujilah Allah bahwa setiap kali kita mempraktekkan iman kita berkaitan dengan keselamatan kita, maka kita kian bertumbuh dalam rasa percaya dan lebih mentaati Allah lagi, dan kita pun menjadi lebih penuh semangat untuk mensyeringkan Kabar Baik dengan setiap orang yang kita jumpai. Oleh karena itu marilah kita meneladan si pemungut cukai dan terus membuat belas kasih (kerahiman) Allah dan kasih-Nya sebagai fondasi hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Mu Engkau telah menebus kami bagi Allah. Kasih-Mu yang tanpa batas bagi kami memang melampaui segala ukuran. Tolonglah kami agar dapat hidup dalam iman pada hari dan selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mac 07, 2013

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 8 Maret 2013)

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17

Kelihatannya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Jawaban Yesus mengacu pada apa yang tertulis dalam Ul 6:4-5 dan Im 19:18. Dan, ahli Taurat itu menanggapi jawaban Yesus itu dengan positif: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Luk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat untuk pemahamannya bahwa kasih adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama – ini adalah perintah paling utama, kata Yesus kepadanya. Dan orang itu pun setuju sepenuh hatinya dengan jawaban Yesus itu.

Namun mengasihi Allah dan sesama tidaklah semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah sebuah tantangan bagi orang-orang pada umumnya, teristimewa mereka yang tergolong menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar. Mereka memiliki banyak kenikmatan materiil, dan hal ini cenderung membuat orang menjadi semakin serakah, semakin tamak. Mereka pun tidak secara otomatis merasakan adanya kebutuhan besar akan satu sama lain. Pengaruh iklan-iklan di media massa, misalnya televisi, juga ada (kalau saya tidak katakan banyak) yang bersifat negatif. Ujung-ujungnya membuat orang-orang menjadi ingin mendapat/memperoleh saja daripada memberi. Dengan demikian cinta atau kasih hanya menjadi daya tarik pada tingkat permukaan saja yang tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati.

Sungguh merupakan suatu tragedi, apabila seseorang memiliki sebuah rumah indah yang dilengkapi dengan dengan segala aksesorinya seperti mebel-mebel mahal, televisi dengan layar lebar di ruang keluarga, beberapa buah mobil dlsb., namun rumah itu bukanlah rumah yang membahagiakan para penghuninya …… karena kasih-sejati tidak ada dalam rumah itu. Tidak ada kasih-sejati yang tidak terbuka, penuh kemurahan-hati, penuh pengorbanan dan berdisiplin. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Kasih yang sejati mengalir ke luar dari diri seorang pribadi kepada orang-orang lain. Apabila kasih yang sejati tidak bertumbuh secara aktif dan hidup subur dalam keluarga, bagaimana kasih sejati itu mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Ini adalah tanggung-jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar kasih sejati kepada anak-anak mereka, dan mereka sendiri harus memiliki kasih sejati tersebut. Para orangtua itu harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.
DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mac 05, 2013

HUKUM ITU DITULIS PADA HATI KITA


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 6 Maret 2013)

“Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu.

Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh YHWH, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti YHWH, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yanag dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.” (Ul 4:1,5-9)

Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20; Bacaan Injil: Mat 5:17-19

Sementara banyak masyarakat kuno menyembah kekuatan-kekuatan alam yang tidak personal dan berubah-ubah itu, orang-orang Yahudi berbeda secara radikal. Mereka percaya kepada ‘seorang’ Allah yang adil dan mengasihi, yang menyatakan nama-Nya kepada mereka, memberikan kepada mereka wawasan ke dalam pikiran-Nya sendiri, dan memberikan kepada mereka perintah-perintah untuk dipatuhi dalam hidup mereka. Allah ini memerintahkan mereka untuk saling mengasihi satu sama lain dan untuk bersikap dan bertindak adil dengan siapa saja – anggota keluarga, teman dan sahabat, bahkan dengan orang-orang asing. Ia memanggil Israel untuk memperhatikan orang-orang tertindas, memberi makan kepada orang-orang lapar, menunjukkan kebaikan hati kepada para janda dan yatim-piatu, dan untuk hidup damai dengan para tetangga mereka.

Karena perintah-perintah ini, Israel menjadi suatu umat/bangsa yang dipisahkan secara khusus. Ketika orang-orang Israel setia pada perintah-perintah YHWH-Allah, hal itu disebabkan mereka melihat bagaimana Allah memperlakukan mereka dengan kebaikan yang penuh kasih dan mereka percaya bahwa dengan hidup senurut jalan-Nya mereka akan mengenal dan mengalami perlindungan-Nya. Namun demikian ada seseorang yang akan datang, yang akan menarik mereka bahkan semakin dekat dengan Allah mereka dan memberdayakan mereka secara lebih mendalam. Yesus adalah kepenuhan dari segalanya yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).

Yesus datang untuk mencurahkan hidup dalam Roh Kudus – untuk memberdayakan kita memasuki suatu relasi yang baru dengan Bapa surgawi. Dengan demikian hukum tidak lagi menjadi otoritas di luar dan di atas umat Allah. Sekarang hukum itu akan ditulis pada hati kita, dan memancar ke luar sebagai mata air yang bersih dari suatu hidup baru. Hikmat ilahi dan pemahaman akan Allah yang sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang bersifat eksternal dan sulit, sekarang dapat mengisi jiwa siapa pun yang terbuka bagi karunia-karunia Roh.

Dengan rasa percaya dan iman dalam rahmat yang mengalir secara berkelimpahan yang tersedia bagi kita dalam perjanjian baru ini, marilah kita mendekati Allah dalam kebebasan yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita. Kita tidak lagi terikat dengan standar-standar kinerja/performa yang kaku – hanya pada perintah untuk mengasihi seperti Dia mengasihi. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi Roh Kudus dan memperkenankan Dia membangun karakter Allah sendiri dalam hati kita masing-masing. Hukum-Nya dapat menjadi jalan bagaimana kita berpikir dan bertindak karena Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita sedang bergerak dan aktif di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Allahku, Engkau mendekatkan diri-Mu kepada kami sehingga kami dapat dekat kepada-Mu. Tulislah hukum-hukum-Mu pada hati kami masing-masing sehingga kami dapat mentaati-Mu dalam segala hal. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mac 04, 2013

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 5 Maret 2013)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.
Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35)

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Petrus bertanya kepada Yesus berapa kali dia harus mengampuni seseorang yang berdosa terhadap dirinya: “Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21), barangkali angka 7 (tujuh) bagi Petrus sudah merupakan angka kemurahan-hati yang luar biasa ……, artinya untuk ukuran Petrus. Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Dengan mengikuti tradisi Yahudi, Petrus berpikir bahwa setelah seseorang berdosa terhadap dirinya sejumlah tertentu maka diperbolehkanlah bagi dirinya untuk tidak mengampuni. Akan tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita harus senantiasa mengampuni orang yang berdosa terhadap diri kita, berapa kali pun orang itu berdosa terhadap diri kita.

Hampir semua orang Kristiani mengetahui ajaran Yesus ini, dan kita ditantang untuk mengampuni orang lain yang berdosa terhadap diri kita karena inilah yang diperintahkan oleh Yesus. Namun, apakah realitasnya dalam kehidupan kita? Apakah kita sungguh mengampuni orang-orang lain “dari hati kita” (Mat 18:35)? Atau apakah kita menolak untuk mengampuni orang-orang yang berulang kali menyakiti hati kita?

Dasar dari kemampuan kita untuk mengampuni orang-orang lain secara mendalam adalah pengampunan Allah atas diri kita. Raja dalam perumpamaan Yesus hari ini – yang melambangkan Allah sendiri – mengampuni utang yang besar dari seorang hambanya, semua dianggap lunas. Akan tetapi hambanya ini tidak mengampuni seperti dirinya sendiri diampuni oleh sang raja, dengan demikian ia ditegur keras. Ia tidak menyadari betapa besar belas kasih yang telah ditunjukkan oleh sang raja bagi dirinya.

Kita dipanggil untuk mengampuni orang-orang lain yang melukai dan berdosa terhadap diri kita karena Allah sendiri telah mengampuni dosa-dosa kita terhadap-Nya. Baik “Doa Bapa Kami” (Mat 6:12) maupun perumpamaan Yesus hari ini membuat jelas pokok ini. Apabila kita merenungkan kebesaran/keagungan dari pengampunan Allah dan belas kasih-Nya yang terbukti dalam kematian Yesus di kayu salib, maka kita pun tertantang untuk mengampuni orang-orang lain dari kedalaman hati kita dan dengan penuh sukacita mengikuti jejak Yesus.

Bagaimana kiranya kita dapat menjadi orang Kristiani yang penuh pengampunan? Pertama-tama, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuat nyata bagi kita pengampunan penuh kasih yang telah kita terima dari Bapa surgawi. Baiklah kita juga menerima rahmat yang telah diberikan Allah kepada kita untuk mengampuni, karena pengampunan adalah karya Allah di dalam diri kita. Kemudian, dalam terang belas kasih Allah dan diberdayakan oleh rahmat-Nya, kita pun dapat mulai mengampuni orang-orang lain. Seringkali hal ini tidaklah mudah, dan kita mungkin perlu mengucapkan pengampunan kita kepada Allah dalam doa, atau bahkan kepada orang yang perlu kita ampuni. Akan tetapi ketika kita sungguh mengampuni seseorang dari hati, meka kita pun menerima kebebasan dan pembersihan, dan kita mampu untuk maju terus dalam kehidupan ini, bahkan membangun relasi cintakasih yang lebih kuat lagi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa sukar bagiku untuk mengampuni orang yang berdosa terhadap diriku. Roh-Mu adalah Roh pengampunan sedangkan roh yang tidak mau mengampuni berasal dari si Jahat. Namun dengan kekuatanku sendiri, aku tidak akan mampu mengampuni orang-orang yang telah mendzolimi aku. Aku percaya bahwa Engkau telah menang atas kuasa Iblis. Taruhlah Roh-Mu yang kudus ke dalam hatiku agar aku dapat mengampuni. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Mac 03, 2013

YESUS DITOLAK OLEH ORANG-ORANG KAMPUNG-NYA SENDIRI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Senin, 4 Maret 2013)

Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:24-30)

Bacaan Pertama: 2Raj 5:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

Penolakan yang dialami oleh Yesus di kampung halaman-Nya sendiri tentunya sangat menyakiti hati-Nya. Di tempat itu – Nazaret – ada teman-teman-Nya dan juga para tetangga-Nya yang telah dikenal-Nya dan dicintai-Nya sejak masa kecil-Nya dahulu. Barangkali Dia telah melayani mereka dalam bengkel Yusuf, berada bersama mereka dalam perayaan-perayaan pesta kampung-Nya, dan beribadat bersama mereka di dalam sinagoga. Namun demikian, ternyata mereka tega untuk mengusir diri-Nya ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung dan berniat melemparkan-Nya dari tebing itu.

Apakah yang menyebabkan orang-orang Nazaret menolak Yesus? Tentunya mereka telah bergumul dalam diri masing-masing guna membuang pandangan-pandangan sempit tentang siapa Yesus itu sebenarnya (inilah yang dinamakan intra-personal conflict). Mereka ditantang pada hari itu untuk dapat membuka diri bagi Allah yang bekerja di tengah-tengah mereka dengan cara yang baru dan tak diharap-harapkan. Menghadapi tantangan sedemikian, lebih mudahlah bagi mereka untuk menolak Yesus daripada mengambil risiko kehilangan pandangan mereka tentang Allah dan cara-Nya bekerja di tengah dunia yang sudah familiar bagi mereka. Di kemudian hari para petinggi Yahudi di Yerusalem – para anggota bangsa-Nya sendiri – juga menolak diri-Nya. Dalam masyarakat Yahudi, Yesus menjadi seorang misfit, tidak cocok dengan harapan-harapan serta gambaran masyarakat tentang Mesias, jadi Dia pun ditolak dan kemudian dihukum mati. Orang-orang Yahudi itu melakukan substitusi terhadap pandangan Allah dengan pandangan mereka sendiri, dengan demikian menolak hal baru yang dilakukan Tuhan di tengah-tengah mereka.

Dalam artian tertentu, kita mungkin seperti orang-orang Nazaret itu. Yesus sudah familiar di mata kita. Tidak sedikit dari kita telah mendengar cerita-cerita Injil sejak kita masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Tetapi sampai seberapa dalamkah kita sudah mengenal Yesus? Percayakah kita bahwa Dia dapat membuat mukjizat-mukjizat dalam kehidupan kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk melawan serta mengatasi dosa dan kuat-kuasa untuk mengampuni orang yang mendzolimi kita? Percayakah kita bahwa Yesus Kristus berdiam dalam diri kita dan memanggil kita untuk menjadi Yesus Kristus bagi orang-orang lain, untuk menjadi alter Christus? Allah ingin melakukan begitu banyak hal dalam kehidupan kita. Yang diminta oleh Allah hanyalah agar kita bersedia menanggung risiko bersama Dia dalam iman dan membiarkan Dia menyatakan kuat-kuasa-Nya.

Walaupun menghadapi kemarahan dan kekerasan orang-orang sekampung-Nya, Yesus berjalan di tengah-tengah mereka, lalu pergi …… tanpa cedera sedikit pun. Yesus tidak dapat dikalahkan oleh apa dan/atau siapapun. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia pun samasekali tidak ingin melihat kita dikalahkan oleh dosa. Dengan demikian, marilah kita mengundang Dia untuk masuk ke dalam hati kita lebih dalam lagi sehingga kita dapat mengalami berkat-berkat dari suatu relasi yang hidup dengan diri-Nya – pengalaman akan kehadiran-Nya dan kuat-kuasa-Nya yang mengalir di dalam diri kita, melalui kita, kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin agar diri kami terbuka bagi-Mu dan Engkau masuk ke dalam hati kami yang terdalam. Lebarkanlah dan luaskanlah harapan-harapan kami dan tunjukkanlah kepada kami kuat-kuasa-Mu dan kemuliaan-Mu yang bekerja di tengah dunia, dalam kehidupan kami, setiap hari, teristimewa dalam masa Prapaskah ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mac 02, 2013

MELAKUKAN PERTOBATAN


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH III (Tahun C) – 3 Maret 2013)

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9)

Bacaan Pertama: Kel 3:1-8a,13-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-8,11; Bacaan Kedua: 1Kor 10:1-6,10-12

Dari media massa kita terus-menerus disuguhi dengan begitu banyak tragedi yang terjadi di seluruh dunia yang memakan begitu banyak korban hidup manusia dan juga uang: perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung hampir dua tahun, bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir dlsb. yang terjadi di mana-mana. Tragedi-tragedi ini mengingatkan kita akan orang-orang yang disebutkan dalam bacaan Injil hari ini: Orang-orang Galilea yang dibantai oleh Pilatus dan 18 orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam. Seperti juga orang-orang pada zaman Yesus, barangkali kita juga tergoda untuk merasa bahwa korban-korban tragedi-tragedi yang terjadi secara mendadak dan tidak diharap-harpkan itu menerima hukuman yang adil atas dosa-dosa mereka.

Namun dari bacaan Injil hari ini kita diperingatkan oleh Yesus – seperti juga sering dilakukan-Nya dalam bagian-bagian lain dari keempat kitab Injil – bahwa bukanlah hak kita untuk menghakimi orang-orang lain dan kesalahan-kesalahan mereka di mata Allah. Hanya Allah-lah yang sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Daripada menghakimi korban-korban berbagai tragedi itu, kita seharusnya memanfaatkan pengalaman mereka dengan memperkenankan tragedi itu mengingatkan kita bahwa kita harus menghadapi hukuman mati abadi kita sendiri apabila kita tidak sungguh-sungguh melakukan pertobatan. Seperti diingatkan oleh Yesus: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5).

Khotbah-khotbah yang berisikan “kata-kata keras dari Yesus” diperkirakan tidak begitu disenangi oleh umat, a.l. yang menyangkut “pertobatan.” Berikut ini adalah catatan “argumentasi” mereka: Tidak ada orang yang suka duduk di dalam gereja dan mendengar khotbah-khotbah seorang pendeta/imam yang berisikan pesan-pesan dari Kitab Suci yang merupakan prediksi-prediksi mengerikan menyangkut kutukan abadi. Bukankah, umat berada di dalam gereja karena mereka berupaya untuk menjadi manusia-manusia baik dan ingin menyenangkan Allah? Bukankah mereka bukan orang-orang kafir atau atheis? Bukankah mereka yang menghadiri Misa atau kebaktian di gereja adalah orang-orang kudus yang hidup, apabila dibandingkan dengan banyak orang lain di luar? Oleh karena itu, mengapa mereka harus mendengar khotbah-khotbah keras tentang pertobatan?

Yang sangat penting untuk kita sadari adalah kebenaran bahwa kita tidak dapat menjadi puas-diri. Rasa puas-diri akan menggiring kita kepada kesombongan, dan memang ada ungkapan dalam bahasa Inggris, “Pride comes before the fall” … kesombongan datang sebelum kejatuhan. Itulah sebabnya mengapa Santo Paulus mengingatkan kita: “… siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor 10:12). Santo Paulus (lihat 1Kor 10:1-6) juga mengemukakan bahwa Allah menunjukkan perhatian-Nya yang besar kepada umat-Nya dalam “keluaran” dari tanah Mesir, dan di padang gurun Ia memberi mereka makan lewat mukjizat. Mereka mengetahui bahwa mereka telah dipilih oleh Allah, namun tetap saja mereka mengecewakan hati Allah lewat gerutu dan sungut-sungut mereka dsb. Sikap memberontak orang-orang Israel itu tidak muncul secara tiba-tiba. Orang-orang Israel itu membuat diri mereka terbuai ke dalam semangat puas-diri dengan mana mereka merasa bahwa semuanya baik dalam kehidupan mereka, tokh Allah akan memperhatikan mereka, apa pun yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Mereka percaya kepada diri mereka sendiri, oleh karena itu mereka mereasa superior atau lebih hebat dari orang-orang lain, dan dari ketinggian posisi kesombongan jatuhlah mereka di hadapan Allah yang merasa tidak senang dan kemudian menghukum mereka: “… Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun” (1Kor 10:5).

Kita (anda dan saya) adalah umat pilihan yang baru. Kita telah melalui suatu “keluaran” pada saat kita dibaptis. Dalam padang gurun dunia ini kita diberi makan dengan tubuh dan darah Kristus sendiri. Kita adalah umat beriman – umat yang percaya -, namun di dalam “Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci” dikatakan, “Kepada umat beriman pun Gereja selalu wajib mewartakan iman dan pertobatan” (SC 9). Dengan demikian, kita semua pun tidak dapat membenamkan diri dalam sikap puas-diri. Memang benar dan samasekali tidak salah bahwa Allah itu senantiasa sabar terhadap kita yang suka “mbalelo”. Allah juga akan memberikan kepada kita banyak kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Namun kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memperingatkan kita bahwa apabila pohon ara tidak menghasilkan buah pada waktu yang baik, maka pohon ara itu pun akan ditebang (lihat Luk 13:7). Kita tidak mengetahui dan tidak pernah akan mengetahui berapa lama lagi Allah akan memberikan waktu kepada kita masing-masing, tetapi Allah – dalam dan karena kasih-Nya – memberikan kepada kita masa Prapaskah ini sebagai rahmat untuk melakukan pertobatan.

Pertobatan bukanlah terutama menyangkut pembayaran denda atas dosa-dosa kita di masa lampau, melainkan dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam hidup kita untuk menjadi lebih baik pada saat ini sehingga kita dapat berdiri tegak di masa depan. Pertobatan dimulai dengan suatu tindakan kerendahan-hati, secara jujur menerima kenyataan bahwa tanpa Allah kita tidak pernah akan berhasil. Kejujuran yang rendah-hati tentunya harus mencakup suatu pemeriksaan batin secara terinci. Dan di samping puasa, pantang dan mati-raga lainnya, ada dua area yang patut disoroti selama masa Prapaskah ini, yaitu doa dan pemberian derma/sedekah.

Dalam hal berdoa, baiklah kita harus selalu mengingat dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri (Mat 6:5-8). Bagaimana kita dapat menjadi lebih khusyuk dalam berdoa? Kita harus mencoba berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam doa-doa selama Misa. Kita membaca doa-doa itu dari lembaran-lembaran atau buku Misa, yang sekadar terdiri dari huruf-huruf mati. Jadi, tergantung kepada kita sendirilah untuk memberikan kehangatan dan makna kepada kata-kata itu. Doa juga tidak boleh dibatasi hanya pada saat kita berada di gereja. Doa harus menjadi bagian riil dari kehidupan kita sepanjang pekan berjalan, kemudian dilanjutkan dengan hari Minggu yang akan datang, dan seterusnya. Dalam satu suratnya yang lain, Santo Paulus mengingatkan kita begini: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5:16-18).

Dalam hal pemberian sedekah, kita harus senantiasa mengingat dan melaksanakan ajaran Yesus sendiri (Mat 6:1-4). Bagaimana kita dapat menjadi lebih bermurah-hati dalam kegiatan memberi derma/sedekah? Kita harus secara tetap berjuang untuk semakin sedikit memikirkan diri sendiri dan semakin banyak memiliki keprihatinan terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka dengan siapa kita hidup dan bekerja. Cintakasih kita kepada Allah harus mengalir ke dalam cintakasih kita kepada sesama. Akan tetapi dalam segala hal yang kita lakukan kita harus menggabungkan suatu keyakinan yang tak tergoyahkan akan Allah dengan rasa takut yang sehat akan kelemahan kita. Itulah sebabnya mengapa kita dengan rendah-hati membuat pernyataan sebelum menyambut Komuni: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

Hari ini atau barangkali besok, kita mungkin akan mendengar lagi tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi. Bukanlah hak kita untuk menghakimi para korban tragedi. Akan tetapi ketidakberuntungan mereka seharusnya mengingatkan kita semua akan sabda Yesus: “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5).

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Saat untuk melakukan pertobatan itu adalah sekarang juga!

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, dalam Masa Prapaskah ini, terimalah pengakuan dosa-dosa kami yang tulus dan tegakkanlah kami yang selama ini tertindih oleh beban-beban dosa kami. Bimbinglah kami dalam doa-doa kami, puasa dan pantang serta pemberian derma yang kami lakukan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Februari 28, 2013

PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 1 Maret 2013)

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46)

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21

Perumpamaan Yesus yang sedikit terselubung tentang “para penggarap kebun anggur (yang jahat)” sebenarnya merupakan sebuah peringatan kepada para imam kepala dan orang-orang Farisi. Israel adalah kebun anggur Allah, dan para pemimpinnya adalah para penggarap yang jahat. Allah telah mempercayakan kepada mereka tanggung-jawab untuk melayani umat/rakyat Israel, dan mereka telah mengkhianati kepercayaan itu. Para nenek moyang mereka membunuh nabi-nabi Allah yang diutus dari abad ke abad, dan sekarang mereka akan membunuh Anak-Nya yang tunggal. Orang-orang Farisi memahami pesan Yesus dalam perumpamaan ini, dan hal ini hanya membuat mereka semakin berketetapan hati untuk membunuhnya. Karena berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi dengan cara begini, maka memulai serangkaian peristiwa yang pada akhirnya membawa diri-Nya ke kayu salib di Golgota.

Dengan menyitir Mzm 118:22 (Mat 21:42), Yesus bernubuat bahwa orang-orang Farisi akan menolak diri-Nya, sang “batu penjuru.” Mengapa? Karena mereka gagal untuk melihat apa, bagaimana dan siapa sebenarnya diri mereka sendiri. Orang-orang Farisi memandang tinggi diri mereka sendiri. Karena mereka tidak mampu melihat dosa mereka sendiri, maka mereka tidak mengakui adanya kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat. Karena mereka mengklaim telah mengikuti segala peraturan yang ada, dan karena orang-orang lain datang memohon bimbingan dari mereka, mereka membiarkan kuasa dan prestise mereka menyelubungi dosa mereka dan kebutuhan mereka akan keselamatan.

Bayangkan berapa banyak orang sepanjang 2.000 tahun ini yang telah membuat kesalahan yang sama. Pada setiap zaman, orang-orang yang memiliki kekuasaan, orang-orang yang hidup nyaman dan kaya-raya seringkali menolak Yesus. Barangkali lebih mudah bagi orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan orang-orang yang yang tersisihkan dalam masyarakat melihat kebutuhan mereka. Ini adalah orang-orang yang merangkul Yesus ketika Dia berada di dunia. Orang-orang itu tidak dapat berpaling ke mana-mana kecuali kepada Yesus, yang mereka percayai sebagai Dia yang dapat membuat diri mereka utuh.

Kita hidup di sebuah dunia di mana kata “dosa” jarang terdengar dan di mana pilihan pribadi digunakan sebagai pembenaran terhadap kejahatan. Seperti orang-orang Farisi, mata (hati) kita dapat dibutakan sehingga tidak dapat melihat adanya kebutuhan akan pengampunan. Akan tetapi, kita semua rentan terhadap dosa – terhadap keserakahan, terhadap kesombongan, terhadap kemasa-bodohan. Menyadari kebutuhan kita, mengakui dosa-dosa kita dan memohon belaskasih Allah – ini adalah sikap-sikap hati yang dapat membuka diri kita bagi suatu relasi dengan Tuhan yang lebih mendalam dan lebih penuh. Ia senantiasa menantikan kita dengan tangan-tangan terbuka untuk mengampuni kita, menghibur kita dan menyembuhkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah batu penjuru hidup kami. Berikanlah kepada kami keberanian dan kerendahan-hati agar dapat melihat kebutuhan kami akan diri-Mu. Tolonglah kami untuk datang kepada-Mu sehinga Engkau dapat menyentuh kami dan membuat kami menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Februari 27, 2013

KEBERADAAN LAZARUS-LAZARUS DALAM KEHIDUPAN KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 28 Februari 2013)

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31)

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus ini kelihatannya mempunyai segalanya: pakaian dan jubah dari kain yang tenunannya halus dan mahal, makanan-minuman yang terbaik, dan kita dapat mengasumsikan bahwa para hamba atau pelayannya senantiasa siap melayaninya dalam segala kebutuhannya. Selagi menceritakan perumpamaan ini, tentang si orang kaya itu Yesus mengatakan bahwa “setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan” (Luk 16:19) untuk menunjukkan bahwa orang kaya itu tidak kekurangan sesuatu apa pun untuk hidup baik dan nyaman. Orang ini begitu kaya dan berkuasa sehingga ada indikasi bahwa keluarganya pun bahkan memiliki salinan Kitab Taurat sendiri dan juga kitab para nabi (lihat Luk 16:29). Dengan segala harta-kekayaan yang dimilikinya dan juga Kitab Sucinya, maka tentunya tidak ada alasan baginya untuk mengabaikan kebutuhan orang miskin yang berbaring dekat pintu rumahnya. Namun sayangnya, orang kaya itu mengabaikan keberadaan si miskin itu.

Kesalahan orang kaya itu bukanlah fakta bahwa dia adalah seorang kaya, melainkan dia begitu sibuk dengan pemuasan dirinya dengan segala kenikmatan sehingga tidak memperkenankan sabda Allah dalam Kitab Suci – atau seruan orang miskin – untuk merobek hatinya. Sebagai sabda Allah, Kitab Suci memiliki kuat-kuasa untuk merobek hati kita dan membuka diri kita bagi kebenaran-kebenaran Injili dan janji-janji Allah. Ini benar dalam Perjanjian Lama seperti juga benar dalam Perjanjian Baru. Abraham mengatakan kepada si orang kaya itu bahwa saudara-saudaranya mempunyai “Musa dan para nabi” untuk mengajar mereka tentang Allah, perintah-perintah-Nya dan kasih-Nya – dan semua itu seharusnya cukup bagi mereka.

Kitab Suci sebagai sabda Allah mempunyai kekuatan untuk menyentuh dan mengubah diri kita. Sang pemazmur mengatakan: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (YHWH), dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mzm 1:1-2).

Hidup kita sehari-hari dipenuhi kesibukan, kebutuhan-kebutuhan keluarga, tuntutan-tuntutan di tempat kerja, dan urusan rumah tangga yang kelihatannya tak selesai-selesai. Ini semua adalah tanggung-jawab yang baik dan perlu. Namun apabila semua itu menjadi fokus kita satu-satunya, maka dengan mudah membuat kita luput menyadari keberadaan Lazarus-Lazarus dalam kehidupan kita, dan seperti si orang kaya dalam perumpamaan Yesus ini, kita pun akan terjerat pada urusan-urusan kita sendiri. Allah menginginkan begitu banyak lagi bagi diri kita. Yang diperlukan dari diri kita adalah membuka pintu dan jendela hati kita dan menyerahkan diri kita kepada-Nya, maka kita pun akan menemukan kekayaan berkelimpahan dari sabda-Nya, kekayaan yang dapat menjadi makanan pesta kita setiap hari. Semoga kita senantiasa membuka diri kita bagi sabda Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka dan dapat menerima pengajaran-Mu. Aku mungkin sangat sibuk hari ini, namun aku tetap memohon kepada-Mu untuk menolong aku menyerahkan waktuku dan pemusatan perhatianku kepada-Mu, sehingga aku pun dapat disentuh oleh sabda-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Februari 26, 2013

UNTUK MELAYANI, BUKAN UNTUK DILAYANI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Rabu, 27 Februari 2013)

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28)

Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16

Dalam ilmu management ada tipe pribadi yang diberi julukan “gung ho, take-charge kind of person”. Gambaran apa yang ada dalam pikiran anda seandainya anda diperkenalkan dengan orang tipe ini? Bagi banyak dari kita, kata-kata gung ho dst. ini menggambarkan seseorang yang ambisius – dan barangkali bahkan suka mendesak-desak dan mendorong-dorong agar keinginannya tercapai (Inggris: pushy). “Pukul/lakukan saja dulu, urusan belakangan!” Orang seperti ini dapat sangat baik dalam mengendalikan suatu situasi dan mewujudkan rencana/agendanya, apakah untuk kebaikan atau pun sesuatu yang buruk. Tidak meragukan lagi, pribadi seperti ini juga adalah seorang real doer dapat bergerak leluasa di lapangan, bukan sekadar seorang pemikir yang lebih banyak berada di belakang meja kerjanya. Orang seperti itu juga berkemungkinan besar untuk menjadi pemimpin yang alami (Inggris: natural).

Yakobus dan Yohanes bersaudara (anak Zebedeus sang juragan ikan) cocok sekali dengan gambaran seperti ini. Misalnya, ketika Yesus tidak diterima dengan baik di sebuah desa Samaria, dua orang bersaudara ini ingin agar para penduduk desa itu disambar api/kilat yang turun dari langit (lihat Luk 9:51-56). Markus juga menceritakan kepada kita bahwa Yesus menamakan dua orang bersaudara itu “Boanerges”, artinya: anak-anak guruh (Mrk 3:17), barangkali karena entusiasme dan sifat agresif yang mereka miliki. Sekarang, dalam bacaan Injil hari ini, kita memperoleh sedikit kesan dari mana kedua orang bersaudara itu memperoleh sifat mereka yang suka take-charge itu: dari ibunda mereka sendiri. Nyonya Zebedeus kelihatannya tanpa rasa ragu dan malu-malu melakukan pendekatan kepada Yesus dengan suatu permintaan yang “berani” menyangkut dua orang anaknya.

Dapatkah anda membayangkan betapa penuh tantangan tentunya bagi Yakobus dan Yohanes untuk mengikuti Yesus? Mereka harus mendengarkan Dia dengan penuh perhatian, bukannya memegang sendiri kendali atas situasi/orang-orang lain. Mereka juga harus belajar bersikap diam dan membuka hati mereka bagi hikmat Allah, bukan seenaknya mengikuti dorongan hati sendiri, atau ide-ide sendiri. Akhirnya, mereka harus belajar betapa pentingnya menjadi para pelayan/hamba/abdi yang rendah-hati bagi orang-orang lain – bukannya menjadi penguasa atas orang-orang lain. Hal ini sungguh tidak mudah, teristimewa bagi orang-orang yang dididik dan dibesarkan untuk menjadi pemimpin dalam artiannya yang kita kenal secara umum.

Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformir Yakobus dan Yohanes menjadi para pelayan/hamba/abdi sejati, yang memahami kebutuhan untuk mengheningkan hati mereka dan mendengarkan arahan dari Allah sendiri. Apabila Yesus dapat melakukan “mukjizat” perubahan atas dua orang bersaudara ini, maka tentunya Dia dapat melakukannya juga atas diri kita masing-masing. Satu hal bersifat kunci yang dimiliki Yakobus dan Yohanes adalah bahwa mereka tidak menjadi ciut-hati ketika Yesus mengoreksi mereka. Mereka hanya mengikuti terus Yesus, dengan penuh semangat belajar bagaimana menjadi rendah-hati – oleh karena itu menjadi efektif – seperti Yesus sendiri.

Saudari-saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita mengikuti contoh yang diberikan oleh dua orang bersaudara – Yakobus dan Yohanes – itu dan belajar betapa pentingnya bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin menjadi seorang pelayan seperti Engkau. Tolonglah aku untuk cukup mengerem diriku agar dapat berdiam dalam kasih-Mu dan kerahiman (belaskasih)-Mu, sehingga dengan demikian aku pun dapat berbagi kasih-Mu dan kerahiman (belaskasih)-Mu itu dengan orang-orang lain. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SANG MESIAS ADALAH GURU KITA YANG SEJATI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 26 Februari 2013)

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’ Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan Dia mengetahui bahwa kita membutuhkan seorang guru, namun Ia tidak ingin kita mengambil guru yang salah. Orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai para pemuka agama yang memberi pengajaran atau berkhotbah di sana-sini, namun tidak mempraktekkan apa yang mereka ajarkan atau khotbahkan, – seperti yang Yesus katakan tentang orang-orang Farisi dan para ahli Taurat – adalah orang-orang munafik, …… tentunya mereka adalah guru-guru yang salah, karena guru-guru yang baik seharusnya menjadikan hidup mereka patut diteladani atau menjadi “model” bagi para murid mereka.

Kita memang sangat membutuhkan guru-guru yang baik. Dengan banyaknya masalah yang ada di dunia ini dan betapa buruknya masalah-masalah itu dengan segala dampaknya yang buruk pula, maka kita sungguh membutuhkan guru-guru yang handal dan baik, yang mampu menunjukkan kepada kita cara untuk memecahkan berbagai masalah yang kita hadapi. Kita harus akui bahwa kita tidak kekurangan orang yang mengklaim diri mereka sebagai guru, apakah namanya “motivator” atau pun “gelar” lainnya. Mereka mengklaim diri mereka mampu memberikan solusi-solusi atas berbagai macam masalah yang ada di dalam dunia ini. Ada yang menganjurkan perlunya mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi masalah yang dihadapi dengan motto yang sangat menyesatkan: “God only helps those people who help themselves!”. Ada juga “guru-guru” yang menekankan pentingnya mengasihi Allah dan sesama, namun menyebarkan kebencian terhadap sesama manusia yang berkeyakinan-iman lain. Ada “guru-guru” yang berbicara lantang tentang keadilan, perdamaian, cintakasih, keharmonisan dalam kehidupan dlsb., namun tidak kelihatan membela mereka yang dengan tekun “berdemontrasi damai” menuntut keadilan karena para anggota keluarga mereka dahulu telah mengalami ketidakadilan karena diculik, dibunuh dll. Banyak sekali contoh yang dapat dipaparkan dalam tulisan ini, namun tidak cukup ruangan yang tersedia. Yang jelas, banyak “guru palsu” yang berkeliaran di tengah masyarakat kita.

Kenyataan apa yang kita miliki dalam masyarakat kita? Meningkatnya pemerkosaan di angkutan umum dan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur; meningkatnya KDRT; meningkatnya ketergantungan pada narkoba yang tidak hanya melibatkan kalangan menengah ke atas, namun juga kalangan menengah ke bawah yang mempunyai dampak atas meningkatnya kriminalitas; meningkatnya korupsi di kalangan para elite negara/bangsa ini yang mengaku diri mereka “agamis”, bahkan di tengah mereka yang memimpin partai-partai agama. Apabila kita menonton televisi, tidak ada satu hari pun tanpa kita menyaksikan adegan-adegan kekerasan yang terjadi dalam masyarakat. Media massa – sengaja atau tak sengaja – telah membuat kita menyerah seakan kejahatan-kejahatan yang terjadi dalam masyarakat adalah hal-hal yang dapat diterima karena tidak dapat dihindari dan/atau dicegah. Namun kejahatan tetap bercokol di sana, rasa tidak percaya kepada sesama manusia pun menjadi pudar dan kemudian hilang. Ketergantungan seseorang pada miras dan narkoba adalah upaya untuk melarikan diri dari masalah-masalah yang dihadapinya, namun akibatnya malah lebih buruk, yaitu berupa rasa tidak-aman, rasa takut akan masa depan, dan kehilangan arah ke mana orang itu harus pergi atau apa yang harus dilakukannya. Semua ini sebenarnya menyangkut soal dosa manusia, yang tidak cukup dipecahkan lewat pendekatan sosiologis, budaya, politis dll.

Masa Prapaskah ini mengajak kita untuk dengan rahmat Allah – lewat karya Roh Kudus-Nya – membebaskan diri dari kebingungan, keterpurukan karena terjerat dalam dosa dan cengkeraman si Jahat dan para pengikutnya, dengan melakukan pertobatan semestinya. Oleh karena itu, bukalah diri kita masing-masing bagi karya Roh Kudus.

Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar sabda Yesus sendiri yang dapat diungkapkan sebagai berikut: “Hanya satu Guru/Rabimu dan Pemimpinmu: sang Mesias. Hanya satu bapakmu: Allah, Bapamu di surga. Hanya pada Dia-lah kamu dapat memperoleh solusi-solusi atas masalah-masalah yang kamu hadapi. Memang hanya Dia-lah yang dapat memecahkan masalah-masalah kita. Oleh karena itu dalam bacaan pertama hari ini kita dapat membaca sabda Allah yang ditulis dalam Kitab Yesaya: “Akulah TUHAN (YHWH), Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti ……” (Yes 48:17-18). Ini adalah sebuah gambaran yang sungguh kuat. Kuat-kuasa untuk menyembuhkan sakit-penyakit kita telah diberikan kepada kita, namun kita harus menerima Yesus secara total agar dapat mengalami kuat-kuasa-Nya.

Inilah masalah riil kita: kita menaruh banyak rintangan yang menghalangi jalan Tuhan. Kita acapkali mencoba untuk menemukan pengganti-pengganti Kristus yang mudah, namun mereka tidak bekerja … tidak memberikan solusi apa pun!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah jawaban sesungguhnya dari segala masalah yang kami hadapi, hanya apabila kami memberi kesempatan kepada-Mu untuk menunjukkannya kepada kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS