Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, Februari 10, 2017

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 11 Februari 2017)
HARI ORANG SAKIT SEDUNIA, Peringatan SP Maria dari Lourdes 
1-pppas0108
Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6,12-13 
Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.
Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:34-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.
Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi, Roti Kehidupan. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak itu.
Yesus mengasihi kita masing-masing. Kita seharusnya tidak pernah boleh merasa “tidak penting” atau “tidak diinginkan” untuk hadir pada meja perjamuan-Nya. Kita semua berharga di mata-Nya dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.
DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.
Sumber :

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Jumat, 10 Februari 2017) 
0-0-yesus-menyembuhkan-orang-tuli
Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Kej 3:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 
Yesus adalah pribadi yang paling bermurah hati yang pernah hidup di dunia. Melihat TKP-nya yang berlokasi di Dekapolis, ada kemungkinan orang yang gagap-tuli itu adalah seorang non-Yahudi atau ‘kafir’ di mata orang Yahudi. Posisi orang-orang seperti itu dipandang oleh kebanyakan orang Yahudi sebagai berada di luar perjanjian-perjanjian dan janji-janji Israel. Namun demikian, dengan sukarela dan bebas Yesus menunjukkan kasih Allah kepadanya … dengan menyembuhkannya. Karena Yesus begitu mengasihi Bapa-Nya, Dia mampu untuk mengasihi semua orang sepenuhnya. Yesus mengasihi mereka dengan menyediakan segenap waktu dan energi-Nya dengan tujuan agar Dia dapat membawa orang-orang lain untuk mengenal kasih Bapa, sama penuhnya seperti Dia sendiri mengalaminya. Inilah bagaimana perintah-perintah Yesus hendaknya kita hayati.
Santa Ibu Teresa dari Kalkuta adalah contoh modern dari seorang pribadi yang hatinya mencerminkan kasih dan kemurahan hati Yesus. Karena dia mengasihi Yesus, satu hasratnya adalah untuk menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang. Kemana saja Ibu Teresa pergi, dia tidak pernah bertanya dan/atau mempermasalahkan apakah seseorang itu Kristiani atau bukan. Kasih Yesus begitu saja mengalir dari dirinya karena dia telah begitu mengosongkan diri dan memenuhi dirinya itu dengan Yesus. Hidup setiap orang yang disentuhnya diubah oleh kasih Yesus yang menyembuhkan dan menebus.
Kita semua dipanggil untuk bekerja bagi pertobatan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Begitu banyak orang yang berada di luar  tembok-tembok gereja yang sesungguhnya lapar dan haus akan Allah. Telinga mereka juga dapat dibuka untuk mampu mendengar firman-Nya dan membuat tanggapan dalam kasih. Yesus  telah memberi amanat kepada  kita untuk pergi keluar atas nama-Nya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar – bahkan lebih besar daripada apa yang telah dilakukan-Nya (lihat Mrk 16:17-18). Dia adalah Imanuel yang selalu menyertai kita (lihat Mat 28:20) dan Dia ingin agar kita menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya yang menyembuhkan dan membawa keselamatan.
Baiklah kita perkenankan Tuhan untuk menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang menyembuhkan agar dengan demikian kita dapat dengan bebas melayani-Nya. Hari ini juga anda dapat mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kesempatan-kesempatan kepada anda menyebarkan kasih Yesus kepada orang-orang lain. Barangkali seseorang di rumah/komunitas/persaudaraan anda sendiri atau rekan kerja anda di kantor/pabrik sungguh mempunyai kebutuhan. Apa pun kesempatan yang disediakan oleh Roh Kudus kepada anda, laksanakanlah tugas anda itu dengan penuh kasih, dan mohonlah kepada Allah agar anda dimampukan untuk membawa seseorang mengenal kasih dan kerahiman Yesus.
DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.
Sumber :

Rabu, Februari 08, 2017

KETEKUNAN DAN IMAN YANG DITUNJUKKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN KAFIR

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 9 Februari 2017) 
YESUS DAN PEREMPUAN KANAAN
Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan orang jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5
Perempuan Yunani keturunan Siro-Fenisia itu tahu bahwa Iblis dan begundal-begundalnya tidak memiliki rasa hormat atau respek terhadap pribadi-pribadi manusia – ras mereka atau agama yang mereka anut. Dengan demikian dia tidak membiarkan iman-kepercayaannya dibutakan oleh prasangka atau praduga buruk. Ketetapan hatinya untuk mencari kesembuhan bagi puterinya berasal dari rasa pedihnya melihat puterinya menderita dari hari ke hari. Apalagi dia sadar sekali bahwa dia tidak memiliki kuasa atau kemampuan apapun untuk menolong puterinya itu. Oleh karena itu, ketika dia mendengar bahwa sang rabi Yahudi masuk ke kotanya, maka baginya perbedaan budaya menjadi tidak ada artinya samasekali. Yang penting baginya, Yesus inilah yang dapat menolong puterinya yang sedang menderita.
Perempuan Siro-Fenisia itu menunjukkan dua kualitas pribadi yang mutlak berkenan di hati Yesus, yaitu “ketekunan” dan “iman”. Kita memang dapat terkagum-kagum akan kemauan keras yang ditunjukkan oleh perempuan ini. Sebagai seorang non-Yahudi dia melanggar kebiasaan sosial yang berlaku pada saat itu dan dia sujud di depan kaki Yesus dan mohon belaskasih dari rabi Yahudi itu. Sebagai seorang non-Yahudi (baca: kafir) memang dia tidak dapat mengharapkan banyak dari para tetangganya yang Yahudi: dia hanyalah seorang perempuan dan non-Yahudi. Akan tetapi dia telah mendengar mengenai pengkhotbah yang bernama Yesus ini dan kuat-kuasa yang menyertai-Nya – kuat-kuasa yang dapat menghancurkan roh-roh jahat. Maka dia tidak akan berhenti minta tolong demi putri yang dicintainya. Yang diinginkannya hanyalah “remah-remah” dari rahmat penyembuhan Yesus (lihat Mrk 7:28). Perempuan itu percaya hanya inilah yang dibutuhkan untuk pelepasan puterinya dari cengkeraman roh jahat, dan tanggapan imannya membuat Yesus tergerak secara mendalam. Mengapa? Karena inilah macam iman yang membuka diri kita bagi kuasa penyembuhan Yesus. Perempuan ini datang kepada Yesus dengan iman yang penuh ketekunan dan Yesus pun menanggapinya, sehingga kita semua juga dapat mengetahui dan mengenal karyanya dalam kehidupan kita. Yesus memang tidak  pernah mengecewakan siapa saja yang datang kepada-Nya dengan iman yang tekun. Marilah sekarang kita soroti dua hal dari bacaan ini, yaitu keberadaan roh-roh jahat dan kondisi iman kita sendiri.
Keberadaan roh-roh jahat. Tidak seperti pada zaman modern ini, dunia kuno sangat menyadari akan realitas roh-roh jahat dan efek merusak yang ditimpakan roh-roh jahat itu atas pribadi-pribadi manusia. Mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dan sentral dari pelayanan Yesus di depan umum, dan hal ini dilakukannya sejak awal (lihat Mrk 1:21-28; 5:1-20; 9:14-29). “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (1Yoh 3:8). Kita pun dihadapkan dengan serangan-serangan terus-menerus dari Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Petrus menulis, “Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8). Hati anda mungkin saja dipenuhi dengan kemarahan, tidak mau mengampuni dll. Perkenanlah Yesus membebaskan anda dari cengkeraman Iblis dan mengembalikan anda kepada sukacita sejati sebagai anak-anak Bapa surgawi.
Kondisi iman kita. Hari ini adalah hari yang baik untuk memeriksa kondisi iman anda. Apakah anda percaya bahwa “remah-remah” sederhana dari Yesus sudah cukup untuk memindahkan gunung-gunung dalam hidup anda dan dalam kehidupan orang-orang yang anda cintai? Atau anda merasa khawatir, malah takut, bahwa Yesus samasekali tidak berminat atas kebutuhan-kebutuhan anda? Apakah anda percaya bahwa Dia telah memanggil anda dengan namamu dan memandang anda dengan penuh kasih? Apakah anda percaya bahwa darah-Nya telah membuang segala hal yang menghalangi persekutuan dengan-Nya? Apakah anda percaya bahwa dengan menerima Yesus anda menjadi seorang “ciptaan baru”? Sampai berapa tekun anda dengan Tuhan? Apakah anda mohon kepada Yesus hanya sekali, dan menyerah setelah permintaanmu tidak langsung diluluskan oleh-Nya? Apakah anda langsung pergi setelah satu permintaan itu tadi? Atau anda tetap mengetuk pada pintu-Nya? Ingatlah bahwa perempuan Siro-Fenisia itu harus berbicara kepada Yesus sebanyak dua kali sebelum permintaannya dipenuhi. Yesus menginginkan agar kita terus meminta, terus mencari dan terus mengetuk (lihat Luk 11:9-10). Percayalah, Yesus akan memberi tanggapan! Lakukanlah inventarisasi atas iman dan ketekunan yang anda miliki. Kalau imanmu terasa lemah, tidaklah salah kalau kita berseru kepada-Nya: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24).
Tidak ada sesuatu pun yang dapat membatasi apa yang dapat dilakukan oleh Allah atas iman yang penuh ketekunan dan hati yang diserahkan sepenuhnya kepada-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dari pengaruh Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Amin.
Sumber :

Selasa, Februari 07, 2017

SEMUA HAL JAHAT TIMBUL DARI DALAM, BUKAN DARI LUAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu, 8 Februari 2017) 
jesus-christ-super-star
Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23)

Bacaan Pertama: Kej 2:4b-9,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,27-29
Pernahkah anda memperhatikan betapa bersinarnya wajah orang-orang yang sedang jatuh cinta? Memang anda seringkali dapat “membaca” apa yang sedang terjadi dalam hati mereka dengan sekadar memperhatikan wajah-wajah mereka. Demikian pula, tindakan-tindakan kita seringkali mengungkapkan sikap-sikap kita. Tidak sulitlah untuk memandang kehidupan sehari-hari dari seseorang dan mulai memahami bagaimana atau apa yang dirasakannya sehubungan dengan isu-isu poleksosbud, bahkan tentang Allah.
Ada orang-orang yang tidak banyak berbicara mengenai hidup batiniah mereka, namun kasih dan damai-sejahtera terpancar dari wajah mereka, berbagai sikap dan perilaku yang ditunjukkannya ketika berbelanja di pasar, ketika memimpin rapat dalam perusahaan dlsb. Sebaliknya ada juga orang-orang yang mungkin “melakukan” segala hal yang dirasakan benar atau kelihatan benar, namun tidak memiliki relasi yang hidup dengan Kristus.
Orang-orang Farisi adalah ahli-ahli menyusun berbagai peraturan dan jago dalam mentaati peraturan-peraturan yang berdasarkan tradisi-tradisi kuno. Akan tetapi, untuk sebagian dari mereka, hati mereka jauh dari Allah para nenek-moyang mereka. Kita juga suka begitu, bukan? Kita terkadang (atau sering?) mencampur-adukkan antara kesalehan praktek rituale dengan kesalehan sejati seorang abdi Allah, atau antara mentaati tradisi dengan kemurnian batiniah. Apabila menepati peraturan dilihat sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, dan bukan sebagai pencerminan suatu cintakasih dan rasa hormat kepada Allah, maka kita kehilangan kehidupan penuh sukacita dan damai-sejahtera yang dijanjikan oleh Kristus.
Memang mudahlah untuk percaya bahwa ada tembok yang memisahkan antara hati kita dan tubuh kita, antara diri kita yang terdalam dan tindakan-tindakan kita. Akan tetapi Allah menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi yang satu dan tidak terpisah-pisah (Inggris: unified persons), dengan tubuh-tubuh yang dirancang untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati kita, dan hati kita secara intim dikaitkan dengan relasi-relasi kita dunia. Allah sungguh prihatin dengan hati kita; dan Ia sungguh meminati secara mendalam cara kita berelasi dengan orang lain. Apabila kita menemukan hal-hal yang jahat dalam relasi-relasi kita seperti disebutkan oleh Yesus – pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mrk 7:21-22) – maka kita perlu memahami bahwa itu semua adalah pencerminan dari sebuah hati yang memerlukan pemurnian oleh Tuhan. Apabila kita memperkenankan hal-hal jahat ini masuk ke dalam relasi kita dengan orang-orang lain, maka kita terus membawa ketidakmurnian ke dalam hati kita.
Yesus mengatakan bahwa perintah yang paling utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita dan dengan segenap kekuatan kita; dan mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri (Mrk 12:28-31). Apabila kasih sedemikian yang merupakan urusan kita, maka kita berada dalam jalan menuju kemurnian hati; kita memperoleh kehidupan dan asupan yang diperlukan dari kepatuhan kita; dan kita pun dimampukan untuk berelasi dengan orang lain dalam ketulusan hati dan cintakasih.
DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah diriku dan tolonglah aku agar mampu melihat bagaimana aku dapat memberi tanggapan kepada-Mu secara lebih mendalam dan saling mengasihi dengan para saudari-saudaraku dengan lebih baik lagi. Amin.
Sumber :

Isnin, Februari 06, 2017

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 7 Februari 2017)
Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Koleta dari Corbie, Ordo II
jesus_christ_picture_013
Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah -, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20 – 2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9
Bayangkan seorang anak muda pada hari ulang tahunnya yang ke-21 berkata kepada ayah dan ibunya, “Aku telah mencintai bapak dan ibu sampai titik yang dituntut dari diriku. Namun sekarang jasa bapak dan ibu sudah tidak lagi kubutuhkan, dengan demikian aku tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi kepada bapak dan ibu.”  Siapa saja tentunya akan kaget bercampur sedih mendengar pernyataan “kurang ajar” seperti itu. Namun sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (Mrk 7:11-12).
Meskipun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita.
Pengorbanan-pengorbanan keuangan, fisik dan emosional yang dibuat oleh para orangtua bagi anak-anak mereka memberikan kepada kita gambaran yang hidup dari cintakasih Bapa surgawi bagi kita. Di sisi lain, cintakasih kita kepada orangtua kita adalah salahsatu  pengungkapan yang paling alamiah mengenai cintakasih kita bagi Allah. Karena orangtua kita telah memainkan suatu peranan yang hakiki dalam anugerah kehidupan Allah bagi kita, maka menghormati dan memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang merupakan satu cara untuk menunjukkan rasa hormat dan syukur kita kepada Allah, yakni Dia yang adalah Sang Pemberi kehidupan bagi kita. Jadi, Yesus menuntut dengan tegas bahwa, apapun tradisi atau kesepakatan-kesepakatan sosial yang sedang menjadi mode, perintah-Nya untuk menghormati orangtua kita tetap berlaku. Dan kita harus mengasihi mereka, bukan dengan cintakasih yang dibatasi dengan kepentingan diri, tetapi tanpa reserve. Kita harus mengasihi mereka tanpa syarat, seperti juga Allah mengasihi kita.
Bagaimana kita dapat mengasihi seperti itu? Dengan menerima cintakasih Allah bagi kita, sebagai anak-anak-Nya dan dengan mengesampingkan apa saja yang menjauhkan atau memisahkan kita daripada-Nya. Oleh karena itu mendekatlah kepada Allah sekarang juga, apa pun yang sedang anda lakukan. Perkenankanlah Dia mengasihimu sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, sehingga pada gilirannya nanti anda pun dapat membagikan cintakasih itu dengan orang-orang lain – dengan orangtuamu, keluargamu dan siapa saja yang membutuhkan.
DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orangtua. Biarlah anak-anak menunjukkan cintakasih mendalam kepada mereka. Biarlah semua orang akhirnya mengenal dan mengalami cintakasih kebapaan-Mu. Amin.
Sumber :

ALLAH MEMBUAT SEGALANYA INDAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Paulus Miki, Imam dkk. Martir – Senin, 6 Februari 2017)
Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus dkk. Martir 
beautiful-nature-desktop-background-wallpapers
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadi petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.
Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang  berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis  pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.
Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua  benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat. (Kej 1:1-19) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,5-6,10,12,35; Bacaan Injil: Mrk 6:53-56
Pada suatu pagi hari yang cukup cerah, Pak Budiono terlihat sedang berjalan pagi di kawasan Jakarta Selatan, namun wajahnya tak terlihat cerah-ceria seperti biasanya. Memang pekan itu merupakan pekan yang teramat berat dan sulit baginya. Pertama-tama soal mobil tuanya yang suka ngambek dan ngadat, padahal dia tidak mempunyai cukup uang untuk reparasi. Lalu, beberapa hari sebelumnya ada peristiwa di kantor yang membuatnya mangkel. Beberapa rekannya mengejek dia karena presentasinya dalam rapat dirasakan kurang Joss, dan hal itu menyakiti hatinya. Pekerjaan kantor semakin menumpuk di mejanya, dan perkembangan terakhir di Lingkungan Santo Petrus juga tidak baik … muncul konflik antara beberapa warga lingkungan karena hal yang sepele. Sebagai kepala lingkungan, tentu Pak Budiono harus turun tangan, dan …… banyak waktu lagi yang akan terpakai, sehingga quality time yang tersedia bagi keluarganya semakin sedikit saja. Belum semua masalah terselesaikan, ada lagi masalah baru yang muncul: salah satu kamar mandi di rumahnya mengalami kerusakan yang sangat mengganggu. Ke arah mana saja Pak Budiono memandang, yang dilihatnya hanyalah masalah!
Selagi berjalan pagi itu, tiba-tiba Pak Budiono melihat sekuntum bunga liar kecil yang tumbuh di pinggir jalan. Ia berhenti dan memandangi bunga itu dari jarak yang lebih dekat. Warnanya yang ungu benar-benar memikat hatinya. Sungguh indah bunga itu! Hatinya tersentuh melihat keindahan bunga kecil itu. Dia berkata dalam hatinya, bahwa dirinya begitu dibuat pusing karena berbagai masalah yang dihadapinya, sehingga hampir luput melihat ciptaan Allah yang kecil dan indah ini. Kemudian muncullah dalam pikirannya: Allah memancarkan terang cahaya-Nya lewat sekuntum bunga kecil ini untuk menghibur dirinya. Berbagai masalahnya terasa semakin menyusut selagi dia terus memandangi bunga indah itu dan bersyukur penuh takjub atas kreativitas Allah.
Kitab Kejadian menggambarkan tindakan-tindakan kreatif Allah “pada mulanya”. Kitab ini menceritakan kepada kita bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang ada, dan Ia membuat segalanya itu indah. Kalau kita memeditasikan segala keajaiban dari dunia yang diciptakan-Nya ini dapat menolong kita mengalami Allah sendiri, dan memberikan kepada kita suatu perspektif yang lebih luas, barangkali lebih penuh damai-sejahtera terhadap berbagai kesulitan dan masalah yang kita sedang hadapi. Apabila Allah begitu  baik sehingga Dia memberikan kepada kita sebuah dunia yang  sangat indah, mengapa kita harus meragukan kemampuan-Nya untuk memperhatikan segala kebutuhan kita? Yesus sendiri pernah bersabda: “Perhatikanlah bunga  bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!” (Luk 12:27-28).
Pekan ini baiklah kita keluar rumah dan ambillah waktu yang cukup untuk menikmati ciptaan Allah yang indah. Biarlah keindahan Allah menangkap perhatian kita dan menghibur kita. Perkenankanlah Dia mengangkat roh kita dan menyegarkan kita melalui segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.
DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk keindahan ciptaan-Mu. Segarkanlah kami semua hari ini, ya Bapa, dengan keindahan dan kasih yang Kautunjukkan kepada kami melalui dunia di sekeliling kami. Amin. 
Sumber :

DUA ARUS UTAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [TAHUN A] – 5 Februari 2017)

jesus5
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 
Bacaan Pertama: Yes 58:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:4-9; Bacaan Kedua: 1Kor 2:1-5
Silahkan anda hening sejenak dan cobalah melakukan perjalanan ke zaman dahulu, yaitu zaman Yesus hidup di dunia. Pada waktu itu belum ada listrik, belum ada air conditioning, belum ada lemari pendingin. Orang belum ribut-ribut soal air sungai yang terkonteminasi oleh zat-zat kimia yang berasal dari limbah industri. Makanan yang tidak dimakan menjadi basi. Pada malam hari, yang ada hanyalah kegelapan total …gelap pekat sepekat-pekatnya. Dengan demikian, kalau Yesus berbicara tentang “garam” dan “terang”, Ia sebenarnya mengacu kepada dua arus utama dalam kehidupan manusia. Semua itu vital bagi kebaikan dan keutuhan, dan bagi kebebasan dari ketidakjelasan/kekaburan.
Yesus mengatakan bahwa kita  adalah “garam” untuk meningkatkan nilai kehidupan di sekeliling kita, dan untuk menjaganya dari kerusakan. Garam itu membuat makanan tidak hambar (“ada rasa”), dengan demikian sebagai “garam” kita harus meningkatkan kebaikan dan kehidupan Ilahi dalam diri orang-orang lain. Santo Khromatius – seorang uskup di Italia utara sekitar 16 abad yang lalu – menulis sebagai berikut: “Tuhan menamakan para murid-Nya “garam bumi” (salt of the earth) karena mereka menambahkan “bumbu penyedap” pada hati manusia berupa hikmat surgawi,  hati yang telah dibuat hambar oleh Iblis” (Risalat 5,1). Banyak orang benar-benar percaya bahwa Kekristenan (Kristianitas) merupakan hidup keagamaan yang membosankan, lemah dan sungguh hambar menjemukan. Oleh karena itu betapa indahnya kalau orang-orang itu melihat dalam diri kita sukacita Injili yang sejati.
Kehidupan Kristiani yang sejati sebenarnya jauh dari sifat bosan-menjemukan. Allah memanggil kita untuk menunjukkan kebenaran ini agar orang-orang lain akan melihat sukacita, hikmat-kebijaksanaan dan pengendalian-diri yang dihasilkan oleh kehidupan Kristiani itu. Allah minta kepada kita untuk memelihara sabda-Nya, menjaganya dari kerusakan karena sikap acuh-tak-acuh kita. Melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan kita, melalui cintakasih kita kepada Yesus dan tindakan saling mengasihi dengan sesama kita, kita dapat memproklamasikan Injil Tuhan Yesus Kristus oleh kuasa dan otoritas yang berasal dari-Nya – tanpa itu dunia akan menjadi layu dan loyo dalam arti rohani – ramai dan gegap gembita di atas permukaannya namun sesungguhnya hampa-melompong dalam jiwa. Banyak orang yang sudah bosan dengan kenikmatan badani, mulai mencari-cari hal yang “rohani” lewat berbagai praktek dan ajaran dari nabi-nabi palsu yang banyak berkeliaran. Kenikmatan rohani yang diperoleh pun akhirnya hanyalah kenikmatan rohani palsu belaka.
Yesus juga menamakan kita para murid-Nya “terang dunia”. Rencana abadi-Nya adalah agar melalui kita, “seperti melalui pancaran sinar bercahaya, Dia dapat mencurahkan terang-pengetahuan tentang diri-Nya ke seluruh dunia” (Chromatius, Risalat 5,1). Ah, sungguh sebuah panggilan yang indah! Yang menguatkan kita lagi adalah ketika mengetahui, bahwa kuasa untuk tetap setia kepada  panggilan kita tidaklah datang dari diri kita sendiri, melainkan dari Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, seperti yang ditulis oleh Santo Paulus: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Oleh karena itu, setiap hari marilah kita membuka hidup kita lebih-lebih lagi kepada-Nya, sehingga terang-Nya dapat semakin memancar terang-benderang di dalam diri kita dan membuat terang jalan bagi orang-orang lain.
DOA: Roh Kudus Allah, datanglah dan penuhilah hati kami dengan hikmat-Mu dan kasih-Mu. Ajarlah kami, aturlah hidup kami, dan bimbinglah kami. Kuatkanlah kami agar setiap hari kami benar-benar berfungsi sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.
Sumber :

Jumaat, Februari 03, 2017

HANYA SETELAH IA MENGENYANGKAN HATI DAN PIKIRAN KITA DENGAN PESAN INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Sabtu, 4 Februari 2017)
Keluarga Fransiskan Kapusin: S. Yosef dari Leonissa, Imam Biarawan 
jesus_christ_image_227
Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 
Bacaan Pertama: Ibr 13:15-17,20-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 
Berbagai jenis burung dalam kelompok-kelompok besar bermigrasi ke tempat-tempat tertentu secara rutin musiman, tetapi semua didasarkan naluri saja. Di lain pihak, manusia yang mempunyai hati-nurani berani bertanya, “Mengapa aku hidup dan mengapa aku mati?” Kita – manusia – mempunyai rasa lapar dan haus akan kebenaran yang akan membebaskan diri kita, dan dalam menemukan Yesus, kita  menemukan kebebasan itu. Kebenaran-Nya memuaskan rasa dahaga kita dan membuat kenyang rasa lapar kita, dan kita pun dibebaskan sehingga dapat seperti sebatang anak panah  yang terbang lurus-langsung ke surga.
Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia untuk membebaskan kita dari sikap masa bodoh dan dosa-dosa kita. Sepanjang pelayanan-Nya di depan publik, Yesus senantiasa dikelilingi oleh orang banyak, dan dengan bela-rasa dan empati yang besar, Ia mengambil waktu untuk “mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Hanya setelah Ia mengenyangkan hati  dan pikiran orang banyak itu dengan pesan Injil, maka Yesus memperhatikan pula kebutuhan-kebutuhan fisik mereka dan memberikan roti dan ikan untuk mengenyangkan mereka, lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44). Acara makan roti dan ikan ini  terjadi pada sebuah sesi pengajaran, seakan kedua hal itu tak terpisahkan. Roti dalam peristiwa ini adalah suatu “foretaste” – katakanlah “icip-icip pendahuluan” – dari perjamuan Ekaristi.
Bahkan sekarang pun, dalam perayaan Misa Kudus, “Liturgi Sabda” senantiasa mendahului “Liturgi Ekaristi”. Kita tidak mendekati meja Tuhan sebelum hati dan pikiran kita dipenuhi dengan kebenaran-Nya. Konsili Vatikan II menyatakan: “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua  bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 56). Dengan demikian, sesungguhnya adalah vital bagi kita untuk menaruh perhatian yang serius pada Sabda Allah dan merefleksikan apa yang dibacakan dari Kitab Suci dalam Misa. Mengalami kasih Allah bersifat vital, namun itu hanya sebagian saja dari “persamaan matematika” yang ada. Kita manusia dikaruniai Allah dengan intelek, emosi dan kehendak. Kalau pikiran kita tidak diberi asupan positif, maka kita tidak akan mengetahui bagaimana cara yang baik untuk melawan kecenderungan kita untuk berdosa. Kita tidak akan mengetahui caranya bagaimana untuk melakukan discernment atas cara-cara Allah bekerja dalam hati kita dan di dalam dunia. Tidak cukuplah bagi kita mengalami sentuhan Allah. Kita juga perlu belajar jalan-jalan-Nya (cara-cara-Nya) dan bagaimana untuk mencocokkan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-Nya.
Apakah anda ingin mengenal dan mengalami damai-sejahtera Kristus? Apakah anda ingin dibebas-merdekakan dari dosa yang membelenggu diri anda selama ini? Upayakanlah diri anda untuk semakin akrab dengan sabda Allah dalam Kitab Suci. Pelajarilah hikmat-kebijaksanaan Allah. Mohonlah kepada  Roh Kudus untuk membuka pikiran anda setiap saat anda menghadiri Misa Kudus. Tempatkanlah Alkitab anda di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau (maksudnya jangan ditaruh di rak paling tinggi/atas). Kreatif-lah dalam mencari waktu yang cocok untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam keheningan. Dari banyak metode pendalaman Kitab Suci, gunakanlah cara yang paling cocok dengan anda sendiri, misalnya dengan melakukan Lectio Divina. Satu hal yang harus kita sadari: Setiap hari, Yesus sang Guru, berdiri menanti-nanti di depan pintu hati anda!
DOA: Bapa surgawi, aku mohon agar Engkau berkenan untuk mengaruniakan kepadaku lebih dan lebih lagi dari hikmat-Mu. Pada waktu aku mempelajari dan merenungkan sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci, jagalah aku dari segala gangguan dan godaan. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa membimbingku. Aku berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.
Sumber :

YESUS KRISTUS TETAP SAMA, BAIK KEMARIN MAUPUN HARI INI DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Jumat, 3 Februari 2017)
1-0-jesus_christ_image_219
Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lalai memberi tumpangan  kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. Ingatlah orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini. Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab Allah akan menghakimi orang-orang sundal dan pezina. Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah yang berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibr 13:1-8) 
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,3,5,8-9; Bacaan Injil: Mrk 6:14-29
“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).
Yesus Kristus: penuh hikmat, penuh kebaikan, penuh kuasa, tidak pernah berubah! Dalam dunia di mana nilai-nilai dan moral berubah-ubah sesuai “tiupan angin perubahan”. Yesus tetap merupakan batu karang kestabilan dan permanensi kita. Sebagai umat Kristiani kita hidup di dalam dunia, namun Allah memanggil kita untuk memusatkan pandangan kita pada sebuah dunia lain – sebuah dunia yang kebenaran-kebenaran abadinya telah mencerahkan jalan para kudus yang tak terbilang banyaknya sepanjang masa. Para perempuan dan laki-laki memberikan hati mereka kepada Allah dan mereka diberi amanat oleh-Nya untuk melakukan pelayanan kasih-Nya. Karena percaya kepada Yesus, mereka menaruh pengharapan mereka dalam janji-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5).
st_john_bosco
Termasuk kelompok itu adalah seorang laki-laki yang bernama Santo Yohanes Bosco yang kita peringati tanggal 31 Januari yang baru lalu. Yohanes Bosco dilahirkan di tengah keluarga Italia miskin pada tahun 1815. Diinspirasikan oleh sebuah mimpi pada masa mudanya, Rm. Yohanes Bosco, yang juga anggota Ordo III-Sekular Santo Fransiskus, mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurusi anak-anak lelaki yang keras, tak terdidik dan berasal dari kelas rendahan dalam masyarakat. Orang Kudus ini mendirikan Serikat Salesian Don Bosko (SDB). Kisah hidupnya dipenuhi dengan contoh-contoh indah bagaimana Allah menolongnya selagi dia berjuang untuk mengatasi berbagai penghalang yang merintangi misinya – kemiskinan, oposisi dari pihak para klerus (Gereja) dan oposisi dari pihak pemerintah juga.

ddsq10
Pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat ada seorang perempuan yang bernama Dorothy Day. Perempuan ini merasakan dirinya dipanggil Yesus untuk mengurusi para imigran miskin dan para tuna wisma di New York City. Sebagai seorang jurnalis, Dorothy menulis laporan-laporan yang bermutu tentang kehidupan para imigran miskin dan tuna wisma, namun dia sendiri merasa tidak puas. Oleh karena itu dia kemudian hidup di tengah-tengah mereka dan mendirikan sebuah tempat penampungan yang dipenuhi damai-sejahtera,kasih dan perhatian di tengah-tengah kemiskinan yang begitu menggerogoti martabat manusia. Dengan menunjukkan hospitalitas Kristiani yang sejati kepada begitu banyak orang, maka sesungguhnya Dorothy “tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr 13:2).

Bagaimana kita menanggapi panggilan kasih Kristiani pada masa kini? Hanya dalam kekuatan Tuhan. “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibr 13:6; bdk. Mzm 118:6). Apabila kita memperkenankan diri kita dipenuhi setiap hari dengan kasih Tuhan, maka kasih itu tentunya akan mengalir juga ke orang-orang lain yang kita temui. Ini adalah tugas dan privilese kita. Apabila kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi setia setiap hari terhadap perintah-Nya untuk mengasihi, maka kita akan takjub pada kebutuhan-kebutuhan yang akan kita lihat – dan pada rahmat yang akan kita miliki untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan itu. Kita sungguh mempunyai Allah yang Mahalain dalam segala sesuatu yang baik. Allah kita ini memperkenankan kita untuk saling bekerja sebagai para pelayan rahmat-Nya: satu terhadap yang lain. Jadi, “peliharalah kasih persaudaraan! (Ibr 13:1).
DOA: Yesus yang baik, panggilan-Mu sepanjang masa adalah sama. Aku menyerahkan diriku kepada panggilan-Mu – untuk mengenal Engkau, dan melalui Engkau kepada orang-orang lain. Amin.
Sumber :

Rabu, Februari 01, 2017

HANA DAN SIMEON DENGAN PENUH SUKACITA MELIHAT BAHWA JANJI ALLAH DIPENUHI DALAM DIRI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah – Kamis, 2 Februari 2017) 
006-simeon-anna
Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 
Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 
Pada masa Yesus, keluarga-keluarga Yahudi melaksanakan beberapa upacara tidak lama setelah kelahiran anak sulung laki-laki, yaitu penyunatan, penebusan sang bayi, dan pemurnian sang ibu. Pada waktu Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah guna melaksanakan rituale yang kedua dan ketiga, mereka bertemu dengan Simeon dan Hana – dua orang tua yang menjalani hidup doa terus-menerus dalam antisipasi penuh-hasrat akan kedatangan Mesias. Baik Simeon maupun Hana dibimbing oleh Roh Kudus agar mampu mengenali Yesus dan kemudian bersukacita melihat janji-janji Allah dipenuhi dalam diri Anak ini.
Dalam suatu nubuatan, Simeon berkata kepada Maria, bahwa Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwa Maria sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang (lihat Luk 2:35-36). Dari pengalamannya Simeon mengetahui bahwa pernyataan kasih Allah akan membawa serta dengannya suatu pengungkapan dosa manusia yang menusuk hati dan menyedihkan. Sekarang, Maria pun sungguh bersedih hati melihat bahwa dosa ini memanifestasikan dirinya dalam oposisi yang mengandung kekerasan.
Seperti terjadi dengan Simeon, demikian pula akan terjadi dengan diri kita. Dengan pernyataan Kristus dalam diri kita, kita akan mampu melihat kegelapan yang ada dalam hati kita dengan lebih jelas. Di bawah pencerahan Roh-Nya, kita akan melihat kecenderungan dalam diri kita untuk memusatkan segenap perhatian kita atas hal-ikhwal dunia ini dan mencampakkan janji-janji Kerajaan-Nya. Selagi kita merenungkan kebaikan Allah, kita akan mulai melihat betapa kita sungguh membutuhkan belaskasih Yesus, dan kita akan bersukacita bahwa belaskasih-Nya dicurahkan ke atas diri kita dengan melimpah. Kita pun mulai merindukan lebih lagi Roh Kudus, agar supaya segala oposisi terhadap Allah yang ada di dalam diri kita dapat sungguh dibuang.
Kerinduan Simeon dan Hana akan kedatangan Mesias membawa mereka kepada suatu pengalaman padang gurun. Bapa surgawi juga menghendaki agar hal serupa terjadi pada diri kita – bukan untuk membuat kita jatuh ke dalam depresi, tetapi untuk membawa kita kepada kebebasan yang lebih besar. Allah ingin mengangkat jiwa kita ke dalam “dunia atau alam yang tanpa batas”  sehingga kita masing-masing dapat mengalami kemuliaan-Nya dan menjadi seorang “ciptaan baru”. Dia rindu sekali untuk membersihkan diri kita dari dosa dan memenuhinya dengan segala hal yang baik. Pada hari “Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah” ini, marilah kita menyerahkan hati kita kepada Yesus dan mohon dari Dia agar menyatakan kasih-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi.
DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau sudi mengutus Putera-Mu ke tengah dunia kami yang sebagian besar berada dalam situasi yang menyedihkan. Dengan kedatangan-Nya, kami telah menerima sukacita dan pengharapan, damai-sejahtera, dan penghiburan. Semoga setiap orang berkehendak baik yang datang ke hadapan hadirat-Mu memperoleh penghiburan karena menjadi mengenal dan mengalami Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Amin. 
Sumber :