Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Februari 22, 2018

MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 23 Februari 2018)
Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 
Bacaan Pertama: Yeh 18:21-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8
Tafsir Yesus tentang hukum Musa tentunya telah mengejutkan para pendengar-Nya. Bagi Yesus, kemarahan, caci-maki dan penghinaan dengan mengata-ngatai “jahil” sudah berada di luar batas, sudah kelewatan. Bukan hanya apa yang kita lakukan yang penting, melainkan juga apa yang ada dalam pikiran kita. Sekarang, mengapa Yesus  begitu menekankan pentingnya relasi atau hubungan? Karena kita adalah anak-anak Allah, dengan kita bersaudara satu sama lain. Kita begitu erat diikat bersama, sehingga setiap perpecahan akan merusak seluruh tubuh Kristus.
Sebagai orang-orang Kristiani, kita ditantang untuk memelihara, melestarikan dan membangun persatuan dan kesatuan kita dalam Kristus. Tantangan ini berlaku sampai kepada setiap interaksi dengan orang-orang lain. Misalnya, bagaimana kita berelasi dengan para anggota keluarga kita sendiri, para tetangga, dan para kolega kita di tempat kerja? Apakah kita baik hati? Apakah kita memperlakukan mereka dengan adil? Apakah kita memperhatikan mereka yang mempunyai berbagai kebutuhan, teristimewa saudari dan saudara kita yang miskin dan berada dalam kesendirian.
Kita begitu erat berhubungan satu sama lain dalam tubuh Kristus (Gereja), sehingga dosa apa saja yang kita komit mempunyai konsekuensi-konsekuensi tidak hanya atas diri kita, melainkan terhadap orang-orang lain juga. Persatuan dan kesatuan kita bersifat integral sehubungan dengan kehidupan dalam Kristus! Kita hanya dapat menjadi pihak yang turut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sejauh kita terikat satu sama lain. Inilah rencana Bapa surgawi bagi kita semua. Di lain pihak, apa bila kita berdosa melawan sesama kita atau melawan Allah, maka kita mengaburkan relasi kita dengan para anggota tubuh Kristus lainnya. Celakanya, perseteruan kita dengan sesama dan/atau Allah inilah yang diinginkan oleh Iblis. Itulah sebabnya, mengapa pengampunan dan perdamaian (rekonsiliasi) itu penting.
Dengan demikian, marilah kita berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan Kristiani, satu-satunya pengharapan kita akan sukacita dan damai-sejahtera. Seringkali kesombongan dan kekerasan kepala dan hati kita menghalangi kita untuk mengakui keikutsertaan atau peranan negatif kita yang telah mengakibatkan suatu relasi menjadi rusak,  bahkan sampai berantakan. Kita harus belajar untuk menggantungkan diri pada Allah guna menolong kita melihat dengan mata yang baru situasi-situasi yang kita hadapi, teristimewa relasi-relasi. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi agen-agen guna tercapainya rekonsiliasi,  bukan perpecahan.
Bahkan dalam situasi-situasi di mana rekonsiliasi terasa sulit untuk tercapai, kita tetap dapat membuat suatu perbedaan dengan menyerahkan segala perasaan yang mengandung kepahitan dan penolakan kepada Allah, dan mohon kepada-Nya dari kedalaman hati kita agar mengampuni kita.
DOA: Roh Kudus Allah, inspirasikanlah dalam diriku suatu hasrat mendalam untuk bersatu secara dekat serta erat dengan saudari-saudari dan saudara-saudaraku. Persatukanlah semua orang Kristiani ke dalam sebuah keluarga dan ciptakanlah ikatan cintakasih yang tidak dapat dipatahkan. Amin.
Sumber :

Selasa, Februari 20, 2018

TANDA NABI YUNUS ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 21 Februari  2018)
Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 
Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 
Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus”? Injil Lukas memahami tanda ini sebagai pewartaan atau pemberitaan tentang pertobatan (Luk 11:29,32). Tidak seperti penulis Injil Matius, dia tidak membuat allusi kepada Yunus yang tiga hari tiga malam lamanya berada dalam perut ikan paus (lihat Mat 12:40).
Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus. Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).
Kata “tanda” mengacu pada sebuah peringatan atau petuah, juga dapat berarti suatu tanda atau indikasi tentang “alam surgawi”. Yesus adalah “tanda” untuk generasi-Nya karena Dia membawa Kerajaan Allah, “alam surgawi”, ke tengah-tengah orang banyak. Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah.

Yesus adalah suatu “tanda” bagi kita pada zaman ini juga. Kata-kata-Nya (sabda-Nya; firman-Nya) masih dapat dibaca dalam Kitab Suci. Firman-Nya itu memiliki kuat-kuasa yang sama bagi kita seperti dua ribu tahun lalu, karena diberdayakan oleh Roh Allah yang kekal-abadi. Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani” : “… firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita” (Ibr 4:12). Marilah kita memperkenankan firman Yesus menjadi pedang ini, yang memotong sampai ke hati-terdalam kita dan mengungkapkan tanggapan terhadap Allah yang seharusnya kita buat.
DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membuat hatiku tidak keras-alot terhadap-Mu. Tembuslah hatiku dengan firman-Mu agar aku dapat menanggapi pesan pertobatan yang Kauberitakan. Amin.

Isnin, Februari 19, 2018

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 20 Februari 2018)
Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 
Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19
Kadang-kadang kita dibuat sadar bahwa kata-kata Yesus yang paling sederhana juga berisikan jawaban terhadap keadaan-keadaan kehidupan kita yang paling menantang. Demikian pula dengan doa “Bapa Kami” ini. Karena sedemikian seringnya kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, maka kita dapat saja luput menangkap maknanya yang begitu kaya.
Mendoakan doa “Bapa Kami” dapat membawa pengharapan kepada kita dan juga kesembuhan  Doa ini juga dapat membuka pintu bagi suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah, suatu relasi yang dapat menjadi begitu mendalam sehingga mencerminkan kasih dan keintiman antara Yesus dan Bapa-Nya. Melalui doa ini, kita semua dapat mengalami berkat yang indah: Allah menawarkan kepada kita kasih-Nya, yaitu kasih sama dengan yang diberikan-Nya kepada Yesus, Putera-Nya yang terkasih (lihat Yoh 17:26).
Kata-kata pertama dari doa ini, “Bapa kami”, memperkenalkan kita kepada kasih Allah bagi kita. Dapatkah kita membayangkan seorang pribadi yang begitu berkuasa di dunia ini menawarkan diri untuk memelihara serta memperhatikan segala kebutuhan kita, sebagai anak-anaknya? Namun TUHAN semesta alam, yang kilat-kilat-Nya menerangi dunia dan yang keadilan-Nya diberitakan oleh surga/ langit (Mzm 97:4-6), …… Ia mengundang kita semua untuk memanggil diri-Nya “Bapa”. Betapa kecil pun kita merasakan diri kita di hadapan-Nya, betapa tidak berartinya kita, betapa tidak berharganya, faktanya adalah bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang sungguh sangat berharga di mata Dia, sangat dikasihi-Nya, sejak permulaan waktu.
Manakala kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”, kita tidak sekadar menyerahkan diri kita kepada “seorang” Allah yang suka mengambil keputusan dengan sewenang-wenang. Sebaliknyalah, dengan mengatakan “jadilah kehendak-Mu” kita secara aktif merangkul segalanya yang telah disediakan oleh Bapa untuk kita. Kita menaruh kepercayaan kita dalam diri seorang pribadi yang rencana-Nya bagi kita jauh melampaui harapan kita yang seringkali terbatas. Selagi kita mengalami iman seperti ini, kita pun belajar tentang kebenaran janji-janji Allah. Ia menunjukkan kepada kita, hari lepas hari, bahwa rencana-rencana-Nya bagi kita adalah untuk/demi kebaikan kita, “yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan” (lihat Yer 29:11).
Allah, Bapa surgawi, tidak pernah meninggalkan kita dan tidak pernah Dia merencanakan sesuatu yang jahat atas diri kita, sesuatu yang akan mencelakakan diri kita. Kasih-Nya sempurna. Oleh karena itu, hari ini selagi kita berdoa “Bapa kami”, baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membawa kita kepada suatu relasi yang lebih mendalam lagi dengan Allah. Kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, dan hanya Dialah yang dapat memenuhi semua kebutuhan dan harapan kita. Daripada percaya kepada segala sumber daya  kita sendiri yang serba terbatas, marilah kita mencari pertolongan-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita hari ini. Pada waktu kita berdoa, baiklah kita mohon agar diberikan hati seperti Hati Yesus, selagi kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”.
DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah kami untuk berdoa seperti yang diajarkan Yesus kepada kami. Bukalah diri kami agar dapat sampai pada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Bapa surgawi. Penuhilah diri kami dengan pengetahuan akan martabat kami sebagai anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Oleh kuasa-Mu, mampukanlah kami untuk menyerahkan hidup kami ke dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Amin.

Sumber : 

Sabtu, Februari 03, 2018

KEHADIRAN YESUS MEMANIFESTASIKAN PERPADUAN KUAT-KUASA, OTORITAS DAN KASIH-NYA SECARA MENAKJUBKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [Tahun B], 4 Februari 2018)
Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)
Bacaan Pertama: Ayb 7:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6; Bacaan Kedua: 1Kor 9:16-19,22-23
Pernahkah anda merasa pada suatu pagi hari, bahwa anda sungguh merasa tidak mampu bangkit dari tempat tidurmu? Barangkali sesuatu yang anda tidak/kurang senangi masuk dalam jadual  hari itu; misalnya pertemuan dengan para wakil serikat sekerja dalam rangka PHK puluhan orang buruh pabrik karena kebijakan reduksi biaya perusahaan, mengunjungi ibu mertua yang sedang diopname di rumah sakit, atau karena anda memang sedang tidak enak badan, dlsb.

Seperti ibu mertua Simon Petrus yang sedang menderita sakit demam, kita juga dapat dibuat tertekan oleh beban-beban yang bersifat fisik, emosional atau spiritual. Selama masa-masa “penderitaan” seperti itu, kita dapat mengalami depresi, sehingga hampir tidak dimungkinkanlah bagi kita untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang lain. Bahkan pada saat-saat seperti itu tidak mudahlah bagi kita untuk percaya bahwa Allah (atau siapa saja) sungguh memperhatikan diri kita.
Ketika Yesus mendengar tentang ibu mertua Simon Petrus, langsung Ia pergi ke tempat tinggal perempuan itu. Yesus memegang tangan perempuan itu dan membangunkannya, lalu lenyaplah demamnya. Singkatnya, Yesus menyembuhkan ibu Simon Petrus, dan perempuan itu mulai melayani Yesus dan para murid yang hadir di tempat itu. Kuat-kuasa, otoritas dan kasih yang sungguh luarbiasa, dimanifestasikan dalam kehadiran Yesus. Tidak sesuatu pun – penyakit, dosa, roh jahat – yang dapat melawan Dia.
Markus menyajikan cerita ini dalam Injilnya untuk menunjukkan bagaimana Yesus menggunakan otoritas-Nya dengan penuh kasih. Ia sedemikian mengasihi kita sehingga Dia menjadi seorang manusia dan masuk ke dalam kondisi kita-manusia yang lemah dan terluka, lalu Dia berjaya lewat penyerahan hidup-Nya sendiri di atas kayu salib. Ia mengambil segala penderitaan kita dan memikul sendiri sakit-penyakit kita. Sekarang Ia mengundang kita menerima kasih-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Sang pemazmur menulis: “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mzm 147:3). Yesus sungguh ingin menyembuhkan kita sedalam mungkin – dengan meningkatkan kapasitas kita untuk menerima dalam iman segala sesuatu yang dilakukan-Nya bagi kita di atas kayu salib, dengan menarik kita lebih dekat lagi kepada diri-Nya.
Karena senantiasa berjuang untuk menjadi serupa dengan Gurunya, Santo Paulus dengan tulus dan berani menulis kepada jemaat di Korintus seperti berikut: “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya” (1Kor 9:22-23). Apabila kita sungguh percaya kepada Yesus Kristus, maka harus turut ambil bagian dalam misteri-misteri-Nya di atas altar, dan senantiasa patuh serta taat kepada perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, Roh Kudus akan masuk ke dalam diri kita dengan lebih mendalam lagi dan memberikan kepada kita kuasa untuk mencerminkan kasih Kristus dengan lebih penuh lagi. Yesus ingin memerintah atas segala kegiatan kita melalui Roh-Nya, untuk membuat kita mengasihi Tuhan dan melayani umat-Nya dengan kerendahan hati dan bela-rasa.

Karena diperkuat oleh kehadiran Roh Kudus dalam diri kita, marilah kita berjalan dalam otoritas dan bela-rasa Yesus. Selagi kita melakukannya, maka – berkat rahmat Tuhan – kita pun akan menerima kemampuan seperti Paulus, yaitu untuk menjadi segalanya bagi semua orang, melayani mereka dalam kasih.
DOA: Tuhan Yesus, memerintahlah atas segala kegiatan kami melalui Roh Kudus-Mu, agar kami dapat mengasihi-Mu secara total, dengan demikian mampu melayani umat-Mu dengan kerendahan hati dan bela-rasa. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku menjadi murid-Mu yang baik, sehingga – seperti Paulus dan Engkau sendiri – aku dapat menjadi segalanya bagi semua orang.  Amin.
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, September 15, 2017

FONDASI YANG KOKOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup Martir – Sabtu, 16 September 2017) 
“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan apa yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan – ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi, siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Luk 6:43-49) 
Bacaan Pertama: 1Tim 1:15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7 
Kita akan menyoroti Luk 6:47-49 saja. Perikop ini mengingatkan kita pada perikop Mat 7:14-27, yang membedakan dua macam orang, yaitu (1) orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu dan  (2) orang yang bodoh, yaitu yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Bacaan yang sedang kita soroti ini menunjukkan bahwa fondasi kokoh satu-satunya untuk hidup kita adalah firman (sabda) Allah. Firman Allah ini tersedia secara istimewa bagi kita dalam Kitab Suci. Kitab Suci ini dapat bertahan terhadap segala terpaan hujan-badai dan gangguan-gangguan lain dalam kehidupan kita.
Bagaimana anda memandang Kitab Suci? Apakah di mata anda, Kitab Suci merupakan sekadar sebuah daftar yang memuat hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan? Apakah Kitab Suci (Alkitab) bagi anda adalah textbook  yang hanya pantas digeluti oleh para pakar dan orang-orang yang berlatar-belakang pendidikan cukup tinggi saja? Apakah bagi anda Kitab Suci adalah semacam buku sejarah? Atau, apakah Kitab Suci ini merupakan perwahyuan hati dan pikiran Allah kepada setiap orang yang mengambil dan membacanya? Bagaimana kita memandang Kitab Suci itu memang penting.
Mendengarkan Roh Kudus dalam doa (prayerful listening to the Holy Spirit) adalah kunci dalam upaya membuat Kitab Suci itu menjadi hidup. Roh Kudus ini biasanya berbicara kepada hati kita dan Gereja: dengan lemah-lembut, tidak dengan cara yang sensasional atau pun spektakuler. Tanpa bimbingan Roh Kudus,  Kitab Suci dengan mudah dapat menjadi membosankan dan tidak menarik!
Saudari dan Saudaraku, Roh Kudus ingin membimbing kita masing-masing. Seperti membangun rumah di atas fondasi yang kokoh, kita juga dapat membangun hidup kita sesuai dengan berbagai wawasan yang kita peroleh dari Kitab Suci. Hal seperti ini menyenangkan hati Allah. Hal yang lebih menyemangati kita adalah: selagi kita bertindak atas dasar firman Allah, kita mengetahui bahwa kita bukanlah satu-satunya yang sedang membangun. Allah sendiri juga sedang bekerja membangun hidup-Nya dalam diri kita. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa Allah akan menolong kita membangun hidup kita masing-masing di atas batu yang kokoh, yaitu firman-Nya. Dengan demikian kita harus mencari sebuah tempat dan menyediakan waktu yang hening, khusus di tengah rutinitas kita sehari-hari ……… untuk menggumuli firman Allah dalam Kitab Suci itu.
DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku membangun hidupku di atas batu yang kokoh, yaitu firman-Mu yang terdapat dalam Kitab Suci. Teristimewa dalam bulan Kitab Suci ini,  biarlah Roh-Mu mendorong daku untuk lebih mencintai firman-Mu dalam Kitab Suci. Semoga Roh hikmat-Mu membimbing daku dalam segala hal hari ini. Amin.
Sumber :

Jumaat, September 08, 2017

HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII –  Sabtu, 9 September 2017)
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23 Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8
Lukas menulis Injilnya teristimewa bagi orang-orang dengan latar belakang Yunani, yang tidak memiliki pemahaman atau sedikit saja memiliki pemahaman tentang tradisi Yahudi. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Lukas sering menekankan konfrontasi-konfrontasi Yesus dengan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya yang pada umumnya berlawanan paham dengan sang Rabi dari Nazaret. Dengan demikian ketika orang-orang Farisi menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat, maka dengan cepat Yesus membela para murid-Nya dan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan mereka masih tetap berada dalam batas-batas hukum. Di sini, dan juga dalam peristiwa-peristiwa lain, Yesus menunjukkan bahwa Dia datang bukan untuk menghapuskan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Dengan tegas Yesus menyatakan kepada para lawan-Nya: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).
Yesus dapat melihat  bagaimana orang-orang Farisi berupaya untuk memegang kendali atas Allah (yang benar kebalikannya, bukan?) dengan menyusun peraturan-peraturan dan panduan-panduan ketat yang seringkali bahkan melampaui tuntutan-tuntutan hukum itu sendiri. Misalnya, tafsiran mereka atas hukum Sabat memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat itu. Sebaliknya, Yesus ingin mengindentifikasikan hakekat dari hukum itu dan mengundang umat-Nya untuk mengalami kebebasan yang dimungkinkan apabila mereka memahami tujuan sentral dari setiap hukum Allah. Allah menetapkan hari Sabat karena cintakasih-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya kebebasan dari beban-beban kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat datang menghadap hadirat-Nya dan menyembah-Nya. Memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan berarti salah sasaran. Artinya, kita kehilangan kesempatan menerima undangan untuk beristirahat dan disegarkan kembali.
Selagi mereka berjalan di ladang gandum, murid-murid Yesus mempunyai kesempatan menikmati jalan bersama dengan Yesus tanpa “gangguan” dari orang banyak. Ini adalah peluang bagi para murid untuk berada dekat Yesus. Mereka dapat berdoa bersama dengan Dia dan menyaksikan serta mengalami betapa dekat Yesus dengan Bapak-Nya. Waktu Sabat untuk beristirahat dalam keheningan merupakan suatu bagian penting dari relasi mereka dengan Yesus. Disegarkan kembali dengan Dia dengan cara ini akan memampukan mereka untuk menjawab berbagai tuntutan pelayanan yang Yesus ingin percayakan kepada mereka.
Bahkan hari ini pun, Allah ingin agar Sabat merupakan hari di mana kita dapat mengalami kebebasan-Nya yang menyelamatkan dan sukacita. Sebagaimana orang-orang Farisi, kita dapat berhenti bekerja guna memuaskan huruf-huruf yang tersurat dalam Hukum, atau  kita dapat membuat hening hati kita dan beristirahat di depan Yesus. Hari ini, selagi kita mempersiapkan Sabat, marilah kita memohon kepada Yesus agar menyatakan hati-Nya yang penuh kasih dan menyegarkan kita kembali dalam persiapan untuk pekan mendatang.
DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena paling sedikit Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.
Sumber :

Khamis, September 07, 2017

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Jumat, 8 September 2017)
Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi seerupa dengan gambaran Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm 8:28-30)
Bacaan Pertama alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23
Latar belakang Sejarah: Pesta Kelahiran Maria barangkali berasal-usul di Yerusalem  sekitar abad ke-6. Namun sejak sekitar abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, Patriarkh (Beatrik) Yerusalem menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran S.P. Maria. Pilihan yang dijatuhkan pada sebuah hari di bulan September kiranya berasal dari kenyataan bahwa di Konstantinopel tahun penanggalan di mulai pada tanggal 1 September – yang masih berlaku di Gereja Timur. Tanggal 8 September ini kemudian menentukan tanggal “Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa” yang jatuh pada tanggal 8 Desember, yaitu 9 (sembilan) bulan sebelumnya. Pesta Kelahiran Maria mulai diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7. Sumber: Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH  MARY – A Pastoral and Theological Study. 
Lebih sempurna dari siapa saja, Maria memenuhi gambaran yang diberikan Santo Paulus tentang bagaimana Allah mengerjakan kebaikan dalam kehidupan semua orang yang “mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (lihat Rm 8:28). Dalam hikmat kekal-abadi, Allah menakdirkan Maria sejak awal untuk menjadi ibu Putera-Nya. Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengatakan: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea” (KGK, 488)Melalui sebuah mukjizat rahmat Allah, dia (Maria) “sudah ditebus sejak ia dikandung” (KGK, 491), oleh karenanya menjadi “dibenarkan” di hadapan Allah. Dan, pada akhir kehidupannya di dunia, Maria dimuliakan pada waktu dia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya.
Maria berdiri di atas garis pemisah antara Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru. Tanggapannya yang positif (“ya”=persetujuan=fiat) terhadap panggilan untuk menjadi ibu dari Putera-Nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), menandakan secara resmi kepenuhan waktu yang selama itu dinanti-nantikan seluruh umat manusia.
Santo Paulus menulis: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Membawa sang Sabda yang menjadi daging, Maria melahirkan sang Juruselamat, dengan demikian menjadi baik Bunda Allah maupun “Bunda kita semua.” Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana Penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta-kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (Lumen Gentium, 61).
Kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Maria telah membuat dirinya menjadi “mahkota ciptaan”. Dalam dirinya kita mempunyai suatu “pengingat-ingat’ yang kelihatan akan segalanya yang Allah telah janjikan kepada kita semua. Hidup Maria bukanlah suatu kehidupan yang enak-enak, namun dia tetap setia kepada Allah dan dia terus merangkul panggilan yang telah diberikan Allah kepadanya. Sekarang Maria yang telah dimuliakan di surga senantiasa siap untuk – untuk kepentingan umat yang masih hidup di dunia – melakukan pengantaraan (syafaat) kepada Yesus, Allah Putera.
Maria adalah suatu tanda pengharapan bagi setiap anggota Gereja, karena kita semua telah dipilih dan ditakdirkan dalam Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” [lihat 2Ptr 3:10] (Lumen Gentium, 68).
DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh rasa syukur atas karya-Mu dalam diri Maria, bunda-Mu. Oleh karena dia bersedia bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah, maka dia menjadi bunda kami semua. Terima kasih untuk pemeliharaan dan perhatian keibuannya yang telah diberikannya kepada kami, anak-anaknya, yang masih berziarah di atas bumi ini; juga untuk teladannya dalam hal iman, pengharapan dan cintakasih. Amin.
Sumber :

Jumaat, September 01, 2017

BIAYA KEMURIDAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII [TAHUN A], 3 September 2017) 
Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahl-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanhya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. (Mat 16:21-27)
Bacaan Pertama: Yer 20:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9; Bacaan Kedua: Rm 12:1-2 
Siapa saja yang ingin menekuni profesi yang membutuhkan keterampilan tertentu, mengakui bahwa ada “biaya” atau “harga” yang harus dibayar untuk memperoleh privilese tersebut. Studi, magang dan ketekunan dibutuhkan untuk mempelajari profesi, dan selama masa tersebut banyak hal lain harus dikesampingkan/dikorbankan.
Dengan cara serupa, Yesus mengajar bahwa ada “biaya” yang harus dibayar untuk mengikut Dia. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia sedang menuju Yerusalem untuk menderita dan mati (Mat 16:21). Mereka yang menjadi murid/pengikut-Nya harus memikul salib karena seorang hamba/pelayan haruslah seperti tuannya (Mat 16:24; 10:24-25).
Memikul salib bukanlah masalah dengan sedih menanggung sengsara atau kesulitan hidup, atau mendisiplinkan diri kita agar dapat melakukan hal-hal yang benar secara moral. Salib seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah instrumen kesedihan dan kematian saja, melainkan sebagai instrumen pilihan Allah sendiri untuk mengalahkan kuasa dosa. Melalui salib-lah orang-orang menerima kehidupan dan dengan demikian mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Memikul salib berarti mengembangkan suatu sikap hati yang …. mengikut Yesus dalam jalan kematian ke dalam kehidupan.
Kata-kata Yesus tentang membuang cara-cara duniawi mungkin terasa keras (Mat 16:25). Bagaimana pun juga kita-manusia adalah pengada spiritual (spiritual being, di samping rational being, cognitive being, emotional being, social being). Sebagai spiritual being, rumah kita yang sesungguhnya adalah di surga dan sekarang kita dipanggil oleh Yesus untuk membuang segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Allah dan tujuan kekal kita. Hal-hal yang kita hasrati, paling sering kita pikirkan, dan memakai sebagian waktu kita untuk itu, adalah hal-hal cinta kita yang pertama. Para pengikut/murid Yesus tidak dapat disibukkan dengan hal-hal yang spiritual dan pengejaran hal-hal duniawi. Sang Guru telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan.
Memang kemuridan/pemuridan menyangkut “biaya”, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dari salib datanglah kehidupan. Salib adalah tanda kematian, pada saat bersamaan salib adalah tanda kemenangan bagi para pengikut/murid Yesus. Salib membuka pintu bagi kita untuk memasuki kehidupan yang sejati – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajar bahwa “siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” dan bahwa Anak Manusia “… akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:25,27).
DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam hatiku suatu hasrat mendalam untuk memikul salib sehingga dengan demikian aku dapat menerima kehidupan sesuai dengan kehendak Bapa surgawi. Semoga aku dapat seperti Engkau yang dengan bebas memikul salibku dalam kehidupan ini. Amin. 
Sumber :

MELIPAT-GANDAKAN TALENTA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 2 September 2017)
Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Fransiskus Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk. Martir Revolusi Perancis 
“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorng lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu  talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 
Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Maznur Tanggapan: Mzm 98:1-9  
Seringkali kita dinasihati serta didorong untuk memeriksa batin kita sehingga dengan demikian kita dapat diampuni untuk dosa-dosa dalam bentuk pikiran-pikiran, kata-kata, perbuatan-perbuatan dan kelalaian-kelalaian kita, yang telah memisahkan kita dari Allah. Akan tetapi, lewat pemberian ‘perumpamaan talenta’ ini Yesus mengundang kita untuk merenungkan karunia-karunia / anugerah-anugerah kita – bukan kesalahan-kesalahan kita – dan Ia bertanya bagaimana kita menggunakan berbagai karunia/anugerah tersebut. Apakah kita mengembangkan segala karunia/anugerah yang kita terima dari Allah itu untuk memuliakan Bapa-Nya itu?
Memang perumpamaan-perumpamaan Yesus – kalau dibaca dengan serius – selalu membuat kita berpikir dan merenungkan maknanya. Misalnya, setelah membaca ‘perumpamaan talenta’  ini, kita dapat mulai berpikir-pikir apakah kita pernah seperti hamba yang menyembunyikan uang talentanya di dalam tanah? (Mat 25:18). Melalui bacaan-bacaan yang menyangkut ekonomi/keuangan, nasihat/wejangan para guru dan orangtua serta pengalaman hidup,  bukankah kita diajarkan untuk menjamin ‘keamanan keuangan’ kita? Maka kalau dilihat dari pandangan ini, bukankah si hamba dengan satu talenta itu telah memilih alternatif yang paling aman, pendekatan yang paling bebas dari risiko? [istilah keren-nya dalam bahasa teknis ilmu keuangan: most risk-free approach]. Memang hal ini dapat merupakan sebuah keputusan bidang keuangan yang bijaksana, akan tetapi sepanjang berurusan dengan Yesus sebagai murid-murid-Nya, “memendam/menguburkan/menyembunyikan talenta” bukanlah sebuah opsi bagi kita untuk mengambil keputusan.
Merasa susah dan khawatir akan kegagalan atau penolakan tidak akan dipuji oleh Guru kita. Dia memberikan kepada kita sejumlah karunia dan talenta yang ‘pas’ bagi kita masing-masing, ada yang banyak – ada juga yang tidak banyak. Bisa saja kita bergumul dalam hati: “Koq lain-lain ya, ada yang banyak – ada yang sedikit? Kalau gitu Dia tidak adil donk! Katanya, Dia Mahaadil? Semua ini adalah urusan Tuhan Allah, yang menciptakan kita, nggak usah dipikirin!” Pada titik ini kita harus ingat, bahwa di mata Allah yang penting bukanlah berupa-rupa macam karunia dan talenta yang kita punya, melainkan bagaimana kita menggunakan segala karunia dan talenta itu. Allah menghendaki agar kita mengidentifikasikan berbagai karunia dan talenta kita yang bersifat unik dan ‘menginvestasikan’ semua itu dalam kerajaan-Nya. Mungkin saja anda diberikan olehnya ‘talenta sebagai pendengar yang baik’. Dapatkah anda ‘melebarkan sayapmu’ dan mengunjungi seseorang yang sedang mengalami kesendirian, yang merasa telah dibuang oleh komunitasnya? Apakah anda memiliki talenta dalam pekerjaan membuat alat-alat dari kayu? Bersediakah anda mempertimbangkan untuk membuat main-mainan yang terbuat dari kayu dengan menggunakan sisa-sisa kayu, khususnya untuk dihadiahkan kepada anak-anak dari keluarga sangat miskin yang sedang dirawat di rumah sakit atau mereka yang tinggal di panti asuhan?
Jikalau kita menginvestasikan talenta yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, maka dividennya pun tidak sedikit. Bahkan kalau kita tidak menggunakan talenta secara langsung untuk membangun kerajaan-Nya, misalnya hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan manusiawi kita, maka hal sedemikian memuliakan Allah juga. Adalah suatu testimoni kuat atas kreavitas Allah, apabila kita sungguh mengembangkan bakat manusiawi kita, maka kita cenderung untuk bertumbuh secara rohani juga. Mengapa? Karena seluruh keberadaan kita – tubuh, jiwa dan roh – saling terjalin dengan erat, sehingga kalau salah satunya diperkuat, maka yang lainnya juga diperkuat. Dengan demikian, janganlah pernah takut untuk menginvestasikan talenta-talenta anda. Allah ingin membuat anda menjadi seorang hamba/pelayan yang “berbuah” dalam segala hal yang anda lakukan! Kita semuanya seharusnya merindukan bahwa pada  suatu hari kelak, Bapa surgawi berkata kepada kita seperti sang Tuan kepada dua orang hambanya yang telah menunjukkan kemauan serta kemampuan untuk melipat-gandakan talenta yang mereka miliki masing-masing: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:23; bdk. 25:21).
DOA: Bapa surgawi, bukalah mataku agar dapat melihat bagaimana aku dapat memuliakan Dikau dengan talenta-talenta yang telah Kau anugerahkan kepadaku. Aku menghaturkan puji-pujian dan syukur kepada-Mu untuk segala karunia dan talenta  yang telah Engkau percayakan kepadaku untuk dimanfaatkan demi pembangunan kerajaan-Mu lewat perbuatan-perbuatan baik bagi orang-orang yang ku jumpai dalam hidup di dunia ini. Amin.
Sumber :