Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, April 09, 2012

MARILAH KITA MENGASIHI YESUS KRISTUS SEPERTI MARIA MAGDALENA MENGASIHI-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 10-4-12 )

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:11-18)

Bacaan Pertama: Kis 2:26-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-19,20,22

Oh betapa dalam cinta kasih Maria Magdalena pada Yesus! Kita dapat membayangkan dia pada pagi-pagi benar ketika hari masih gelap itu, bergegas menuju kubur – hanya mendapatkan bahwa kubur itu sudah kosong! Ketika mencari Yesus sambil menangis, dia bahkan menjawab pertanyaan malaikat-malaikat kepadanya dengan jawaban yang sangat terasa sungguh ke luar dari hati yang penuh cinta kasih: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh 20:13). Kita sekarang dapat membayangkan betapa penuh sukacitanya Maria Magdalena pada saat ia akhirnya mengenali suara Yesus. “… kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui ronda-ronda kota … Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku …” (Kid 3:2-4).

Maria Magdalena tahu sekali apa artinya menjadi seorang pendosa dan sampah masyarakat. Dia telah mengalami isolasi dan degradasi yang disebabkan dosa. Namun segalanya berubah pada waktu dia mengalami kasih dan pengampunan dari Yesus yang “kasih setia-Nya lebih baik dari pada hidup” (Mzm 63:3). Maria Magdalena belum/tidak sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak – keseluruhan tujuan kematian Yesus di kayu salib itu sendiri. Betapa menghancurkan hati bagi Maria Magdalena tentunya, ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana Yesus diperlakukan secara sangat tidak adil dan kejam sebelum disalibkan. Ketika dia mengenali suara-Nya di taman kuburan pada pagi hari itu, Maria Magdalena sungguh dipenuhi kegembiraan sejati.

“Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh 20:17). Dengan kata-kata ini, Yesus mengungkapkan tujuan-Nya kepada Maria Magdalena dan kita semua. Dia sedang terlibat pada suatu misi surgawi. Inilah hal yang begitu sulit untuk dipahami oleh para murid ketika Yesus mengajar mereka pada hari Kamis malam sebelum Ia ditangkap (baca Yoh 14:2-3); tujuan Yesus masih tetap tidak jelas bagi mereka. Tetapi sekarang, dengan kebangkitan Yesus, Injil menjadi terang.

Kebangkitan Yesus membuka surga bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Apakah anda telah menemukan surga yang terbuka itu? Itu tersedia bagi kita semua. Kita dapat mengalami berkat ini selagi kita dengan pertobatan yang mendalam datang menghadap Tuhan Yesus, percaya bahwa darah-Nya telah menghancur-leburkan ikatan-ikatan dosa. Yesus ingin agar kita turut serta dalam kemenangan-Nya dan menjadi pewaris-bersama dengan Dia. Marilah sekarang kita datang kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan segenap hati kita; dengan demikian kita pun dapat berkata bersama Maria Magdalena: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:18).

DOA: Yesus Kristus yang bangkit, kami datang bergegas kepada-Mu, seperti yang dilakukan oleh Maria Magdalena. Engkau telah membuka surga bagi kami dan sekarang kami dapat memandang dan menyentuh Engkau secara pribadi. Terima kasih untuk keselamatan bagi kami! Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, April 08, 2012

ALLAH SENANTIASA MEMENUHI JANJI-JANJI-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH, 9-4-12 )

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Lalu kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Sementara mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata, “Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Apabila hal ini terdengar oleh gubernur, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Cerita ini tersebar di antara orang Yahudi sampai sekarang. (Mat 28:8-15)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5-7,8-11

“Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati.” (Mat 28:5-7). Ini adalah kata-kata malaikat yang ditujukan kepada Maria Magdalena dan Maria yang lainnya, ketika mereka mengunjungi makam Yesus pada hari Minggu Paskah (Mat 28:1,5). Bayangkan betapa bingung dan galau mereka setelah peristiwa penyaliban Yesus di bukit Kalvari. Ajaran Yesus telah menimbulkan pengharapan besar dalam diri mereka dan menginspirasikan mereka untuk berharap bahwa Allah akan bertindak dengan cara-cara dramatis bagi bangsa Israel. Akan tetapi yang terjadi malah samasekali di luar dugaan dan harapan mereka. Yesus ditangkap, diadili, dianiaya dan dihukum mati di atas kayu salib, sebuah kematian yang hanya dijatuhkan atas penjahat-penjahat. Tentunya perempuan-perempuan itu sangat dirundung malang dan kepedihan yang luarbiasa menekan. Memang Yesus telah berjanji kepada para murid-Nya bahwa Dia akan bangkit kembali, namun ide seperti itu terasa terlalu besar dan berat bagi para murid untuk mencernanya serta memahaminya dengan benar.

Nah, sekarang dua perempuan itu diberitahu oleh malaikat bahwa Yesus sungguh telah bangkit, seperti yang telah dijanjikan-Nya. Hal apa lagi yang lebih mengagetkan? Lagi dan lagi, Allah membuktikan bahwa Dia selalu setia dengan janji-Nya. Jadi, sabda Allah bukanlah penyebab keprihatian – bahkan ketakutan. Sebaliknya, sabda-Nya senantiasa harus dilihat sebagai dasar kuat bagi iman dan pengharapan kedua perempuan itu dan para murid lainnya.

Sekitar dua ribu tahun kemudian, iman kita juga ditantang. Yesus telah bangkit dan mencurahkan Roh-Nya. Kita telah menjadi anak-anak Allah. Namun realitas-realitas ini dapat kelihatan terlalu besar untuk kita percayai. Hikmat dunia menasihati kita agar memusatkan perhatian kita pada realitas-realitas yang lebih kecil dan bersifat keduniaan: untuk mencari keamanan sedapat mungkin, betapa pun sementara sifatnya, di tengah ketidakpastian kehidupan kita.

Kita dapat memilih untuk berdiri bersama dua orang perempuan itu. Kita dapat diberdayakan oleh sabda Allah seperti dialami oleh mereka berdua. Janji-janji Allah sungguh riil dan dapat memberikan jaminan besar bagi kita. Kita dapat menaruh iman-kepercayaan kita pada tindakan mahadahsyat yang telah dilakukan Allah – kebangkitan Putera-Nya. Yesus telah berjanji untuk menarik semua orang kepada diri-Nya (Yoh 12:32) dan memberikan Roh-Nya kepada semua orang yang meminta (Luk 11:9,13). Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah aku merasa jauh dari Allah pada hari ini? Apakah aku mempunyai kebutuhan yang mendesak?” Yesus bersabda: “Mintalah, maka engkau akan menerima!” Apa saja yang telah dijanjikan oleh Allah, Ia akan akan mampu melakukannya!

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah membangkitkan Yesus, Putera-Mu terkasih, dari kematian ke kehidupan. Terpujilah Engkau, ya Allah! Engkau mempunyai kuasa untuk memenuhi janji-janji-Mu. Dalam Engkau, ya Tuhan Allahku, segala hal adalah mungkin. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, April 06, 2012

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS MEMBUKA SURGA BAGI SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA-NYA

( Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH, Sabtu 7-4-12 )

Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi, jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm 6:3-11).

Bacaan Perjanjian Lama: Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-28; Bacaan Injil: Mat 28:1-10.

“Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4).

Yesus – Guru dan sahabat mereka – telah tiada, korban dari suatu kematian yang sungguh kejam dan kelihatan sebagai kematian yang sia-sia. Pengharapan mereka yang sedang meningkat menjadi berantakan tanpa dapat dijelaskan. Setiap murid Yesus telah berjuang dengan serius untuk mengenal siapa sebenarnya Yesus itu dan apa yang ingin dicapai-Nya. Ada yang berpikir bahwa Yesus akan membebaskan mereka dari tirani bangsa Roma, sementara ada juga yang berpikir bahwa Dia akan menolong mereka hidup selama masa sulit di bawah penjajahan bangsa Romawi. Petruslah yang paling dekat pada kebenaran ketika dia menjawab pertanyaan Yesus: “Engkau Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Walaupun begitu, Petrus tetap saja belum siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi.

Namun kemudian – antara saat matahari terbenam pada hari Sabtu dan dini hari Minggu, Yesus dibangkitkan dari mati. Momen aktual dari kebangkitan Yesus mungkin terjadi hanya sekejab, namun peristiwa sekejab ini telah mengubah untuk selama-lamanya sejarah manusia dan juga penciptaan itu sendiri. Pada saat kebangkitan-Nya, Tuhan segala kehidupan, Raja Agung segala ciptaan, menghancurkan kuasa dosa dan kematian sekali dan selama-lamanya. Yesus mematahkan kuasa Iblis atas umat manusia dan Ia membuka sebuah jalan baru yang mulia kepada Allah.

Bagaimana kita dapat memahami hal ini? Adam dan Hawa, pada awal penciptaan memalingkan hati mereka dari sang Pencipta dan mereka berdua telah melahirkan generasi-generasi manusia yang juga berbuat sama. Dosa mereka telah menjerumuskan keturunan-keturunan mereka ke dalam pergumulan-pergumulan dengan diri sendiri. Dibingungkan dan dijerat oleh dosa dalam diri mereka dan di sekeliling mereka, orang-orang merasa tak berdaya untuk menghentikan dosa itu. Hanya dengan intervensi Roh Kudus sajalah orang-orang dapat terbebaskan. Kuasa dari kodrat manusiawi yang cenderung untuk berdosa sedemikian kuat dalam diri setiap manusia membuagt sang pemazmur meratap: “TUHAN (YHWH) memandang ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Mzm 14:2-3). Dosa telah membawa kematian kekal kepada semua manusia. Siapa yang dapat menyelamatkan mereka dari keadaan sedemikian?

Pada saat Yesus wafat di kayu salib pada hari Jumat siang, Ia tidak mati sendirian. Ia mengambil bersama diri-Nya kodrat manusia yang cenderung berdosa, diri kita yang lama yang telah begitu keras kepala menolak kasih Allah dan rencana-Nya. Di sana di salib bersama-Nya, kodrat kedosaan manusia dimatikan untuk selamanya. Yesus mengambil alih hukuman yang sebenarnya pantas kita terima, agar kita dapat siap menerima hidup baru dari pagi hari Paskah. Karena Dia yang tak berdosa menderita sebagai pendosa, maka kutukan awal dipatahkan. Anak-anak Allah dipulihkan kepada Bapa mereka dan dimampukan untuk hidup oleh Roh sama yang membangkitkan Yesus dari dunia orang mati. Kematian dan kebangkitan Yesus membuka surga bagi siapa saja yang mau percaya kepada-Nya – suatu pengharapan untuk hidup dalam Dia setelah kematian, dan suatu realitas yang dapat mulai dicicipi di sini dan sekarang.

Apakah para rasul sepenuhnya memahami semua ini pada saat terjadinya? Tentu saja tidak. Ada yang cepat percaya kepada kebangkitan, sementara ada juga merasa ragu-ragu. Akan tetapi mereka semua membutuhkan penerangan lebih lanjuta untuk dapat memahami niat-niat Allah. Itulah sebabnya, mengapa Yesus menyediakan banyak waktu bersama para sahabat-Nya itu setalah hari Paskah. Ia ingin menolong mereka memahami pemikiran Bapa-Nya. Tidak lama kemudian Ia akan mengarahkan mereka untuk menantikan karunia yang akan dikirim oleh Bapa-Nya: Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang akan memimpin mereka setelah Yesus pergi dan memberdayakan mereka untuk menghayati hidup baru-Nya.

Kita sungguh terberkati hidup pada zaman sekarang, setelah semua intervensi Allah yang indah ini terjadi! Kita tidak hanya mendengar apa yang telah dicapai oleh Yesus: Kita memperoleh hal itu melalui Roh Kudus. Roh Kudus ini rindu agar kita mengenal Yesus dan Bapa-Nya secara pribadi. Dia rindu untuk menuntun kita secara lebih mendalam ke dalam suatu kehidupan tanpa penghukuman (lihar Rm 8:1) dan rahmat yang berkelimpahan. Surga terbuka bagi kita, dan kita dapat memahami misteri-misteri ilahi melalui doa dan perwahyuan. Karena kita telah diampuni, maka kita pun dapat mengampuni. Kita dapat mengasihi dengan kasih sama yang telah dicurahkan oleh Allah ke atas diri kita. Yang paling penting adalah, bahwa kita dpat menyenbah dan Pencipta kita – semua itu karena Yesus telah menaklukkan kematian dan bangkit ke kehidupan baru!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus mencapai segala sesuatu yang ada dalam hati-Mu bagi kami. Yesus, kami berhutang kepada-Mu segalanya. Roh Kudus, ajarlah kami bagaimana berjalan dalam kebaharuan hidup ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, April 05, 2012

ENGKAU MEMBEBASKAN AKU, YA TUHAN, ALLAH YANG SETIA

( Bacaan Pertama Upacara, HARI JUMAT AGUNG, 6-4-12 )

Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi – demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN (YHWH) dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan YHWH dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi YHWH telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan gtipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi YHWH berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak YHWH akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak. (Yes 52:13-53:12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16;5:7-9Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:28

Biarlah bumi sunyi-senyap pada hari ini, karena inilah hari di mana Penciptanya mati. Penampilan Yesus terlihat begitu “rusak” disebabkan oleh penyaliban sehingga Dia kelihatan lebih-lebih sebagai seekor hewan kurban daripada seorang manusia. Yesus mencurahkan darah-Nya dan menyerahkan hidup-Nya sebagai pengganti dari hukuman yang sebenarnya pantas kita terima karena dosa-dosa kita. Walaupun kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya kelak untuk menghakimi orang hidup dan mati.

Yesus – sang Raja dari segala raja – datang ke tengah dunia dalam keadaan yang dina, lahir di kandang hewan, anak laki-laki dari seorang tukang kayu miskin dari Nazaret, sebuah “kampung” kecil di Galilea. Dia ikut ambil bagian dalam kepedihan hidup orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan orang-orang yang tertindas dalam masyarakat. Ia melayani kebutuhan-kebutuhan mereka, baik kebutuh fisik maupun kebutuhan spiritual. Akan tetapi, bagaimana pun banyaknya perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh-Nya, Dia dihina dan ditolak oleh sebagian besar pemuka/pemimpin agama Yahudi pada waktu itu. Yesus mengasihi setiap orang yang dijumpai-Nya dan menerima undangan-undangan makan dengan orang-orang dari setiap tingkatan dalam masyarakat. Ia ingin agar mereka tahu bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi mereka. Namun pada akhirnya Dia ditolak. Malahan kelihatan seakan-akan Allah telah melupakan diri-Nya, …… membuang-Nya!

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah aku sungguh menghargai kenyataan bahwa untuk menebus dosa-dosakulah Yesus mati di kayu salib? Sampai berapa mendalam kebenaran ini mempengaruhi kehidupanku sehari-hari? Sadarkah aku bahwa walaupun aku telah banyak berdosa, Allah tetap mengasihiku dan memanggil aku untuk menerima kasih-Nya? Apakah aku mengasihi sang “Anak Domba Allah” yang mengambil tanggung-jawab untuk segala dosaku? “Sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Memang Yesus tidak mempunyai dosa apapun, namun Ia diadili dalam “pengadilan dagelan”, disiksa, dihukum sampai mati di atas kayu salib. Ia tidak mengeluh dan Ia menerima penderitaan sengsara-Nya …… demi kita.

Yesus melihat ke depan bahwa setelah kematian-Nya, kita akan diberkati apabila percaya kepada-Nya. Hal itu sangat membuat-Nya penuh sukacita. Yesus sungguh rindu untuk melihat kita menerima penebusan kita. Sekarang, dapatkah anda menerima kehendak Allah untuk memanggul salib anda, menyangkal diri, dan mengikut Yesus? Dapatkah anda menaruh kepercayaan pada rencana Allah untuk memimpin anda kepada suatu kehidupan penuh kemuliaan? Ia sekarang telah bangkit, oleh karena itu baiklah kita bersama sang pemazmur berseru kepada kepada-Nya: “Engkau membebaskan aku, ya TUHAN (YHWH), Allah yang setia” (Mzm 31:6).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku percaya bahwa Engkau mencurahkan darah-Mu untuk mengampuni dosa-dosaku dan untuk menawarkan kepadaku suatu kehidupan baru. Bebas dari rasa bersalah dan malu, dengan berani aku mendekati takhta Bapa surgawi. Aku menerima anugerah darah dan kuasa-Mu untuk mengatasi godaan dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, April 02, 2012

AKUILAH DAN TERIMALAH KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI, 3-4-12 )

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33,36-38)

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Pernyataan spontan dari Petrus, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu” (Yoh 13:37) terdengar sebagai suara seorang murid gagah berani yang siap setiap saat membela Gurunya. Namun pada kenyataannya seruan Petrus itu menjadi salah satu “bualan” paling memedihkan sepanjang sejarah manusia. Manakala kita merenungkan sejenak pernyataan Petrus, kita tergoda untuk bertanya: “Apa sih yang ada dalam pikiran Petrus pada saat itu?” Namun pada kenyataannya hal-hal seperti ini terjadi sepanjang masa.

Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dan Hawa memilih untuk memakan buah dari pohon pengetahuan, bukannya dari pohon kehidupan Allah, maka kesombongan dan “kemandirian” telah menjadi aspek kejatuhan kita. Lagi dan lagi, Allah mengundang kita untuk menyisihkan agenda-agenda kita sendiri dan dipenuhi dengan hikmat-Nya. Lagi dan lagi, kita cenderung untuk berpikir bahwa kita dapat melakukan segala sesuatu dengan baik – ok ok saja – dengan segala sumber daya yang kita miliki sendiri. Namun di sisi lain kita juga dapat membayangkan Allah duduk ditakhta-Nya di surga, menantikan kita untuk akhirnya berkata: “OK, Tuhan, aku menyerah. Aku mengakui bahwa aku membutuhkan Engkau. Datanglah dan penuhilah diriku dengan rahmat dan kuat-kuasa-Mu.”

Salah satu dari pernyataan-pernyataan Yesus yang pertama di depan publik adalah, bahwa Dia tidak datang untuk menyembuhkan orang sehat melainkan orang sakit (lihat Mrk 2:17). Sepanjang Injil kita melihat bahwa orang-orang yang memberi tanggapan pada undangan Yesus secara paling positif adalah mereka yang memiliki kebutuhan paling besar: orang-orang miskin, orang-orang sakit dan orang-orang yang dirasuki roh-roh jahat. Orang-orang yang berkecukupan, yang “mandiri” atau “berdikari” (dalam arti self-sufficient) – mereka yang berpikir bahwa mereka telah memiliki segalanya untuk memecahkan masalah mereka – tidak mempunyai ruang dalam hati mereka untuk sabda Yesus. Bayangkan berapa jauh Kerajaan Allah dapat dimajukan karena semangat berapi-api orang-orang Farisi, atau karena keahlian para imam dan ahli Taurat. Sayang semuanya itu tidak pernah terjadi karena para pemimpin/pemuka agama Yahudi luput melihat privilese terbesar yang dapat diperoleh oleh seorang pribadi manusia: melayani Tuhan dengan kuat-kuasa Roh Kudus sendiri.

Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Adakah ruangan dalam hati kita yang tersedia bagi Yesus hari ini? Cukup besarkah ruangan yang tersedia dalam hati kita bagi-Nya? Janganlah kita seperti Petrus yang mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mempunyai segala sumber daya yang kita perlukan untuk melayani Dia. Akuilah dan terimalah kenyataan, bahwa kita masing-masing memerlukan rahmat dan kuat-kuasa Yesus dalam kehidupan kita. Perhatikanlah dan rasakanlah ketika Dia mencurahkan kuat-kuasa Roh Kudus ke dalam diri kita, Roh yang membawa sukacita dan damai sejahtera. Tidak ada apa/siapa pun di dunia ini yang mampu memberikan kepada kita kuat-kuasa seperti itu.

DOA: Tuhan Yesus, aku berlutut di hadapan hadirat-Mu saat ini dan mengakui serta menerima ketergantungan mutlakku pada rahmat-Mu. Tolonglah aku untuk mau dan mampu melihat, bahwa terpisah dari-Mu aku tidak melakukan apa pun. Semoga aku tidak pernah akan berbangga atas apa yang telah kucapai, melainkan hanya berbangga dalam Engkau dan belas kasih-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, April 01, 2012

KAMI MENYEMBAH ENGKAU, TUHAN YESUS KRISTUS

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI, 2-4-12 )

Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Lalu Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal ini dikatakannya bukan karena ia memperhatikan orang-orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala berencana untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh 12:1-11)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14

Dalam pekan sebelum kematian-Nya, Yesus tinggal di Betania yang terletak dekat Yerusalem. Ia tiba “enam hari sebelum Paskah” (lihat Yoh 12:1), menyediakan cukup waktu persiapan untuk pesta besar di kota suci itu dan juga persembahan kurban-Nya yang terakhir. Marilah kita semua mengikuti teladan Yesus pada pekan yang istimewa ini. Marilah kita memperlakukan hari-hari ini sebagai suatu waktu untuk mempersiapkan kedatangan Hari Raya Paskah dengan memperdalam pemahaman kita akan makna penebusan Yesus.

Kita telah mendengar bahwa pengampunan atas dosa-dosa kita adalah berkat pertama yang mengalir dari atas kayu salib Yesus. Namun sebenarnya ada begitu banyak lagi berkat lain! Maria dari Betania menunjukkan satu berkat ketika keluarganya menjamu Yesus. Belum lama berselang Yesus membangkitkan saudaranya Lazarus dari kematian, sehingga tentunya ada suatu rasa takjub dalam ruang perjamuan. Maria memahkotai perjamuan itu ketika dia meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal sekali, dan menyekanya dengan dengan rambutnya (lihat Yoh 12:3).

Jauh dari perbuatan yang sia-sia (buang-buang minyak narwastu seharga tiga ratus dinar), tindakan luarbiasa dari Maria itu merupakan tindakan yang benar di mata-Nya. Bagi Maria sendiri tindakan itu mungkin merupakan tanda atau ungkapan kasih dan syukur atas kasih Yesus yang ditunjukkan oleh-Nya dengan membangkitkan Lazarus. Pada tataran yang lain, tindakannya menunjukkan sejenis penyembahan (adorasi) dan puji-pujian yang secara alami akan muncul pada saat seseorang mengkontemplasikan kasih yang telah ditunjukkan Allah kepada dirinya.

Dalam doa kita hari ini, baiklah kita mengkontemplasikan kasih yang telah dicurahkan Yesus bagi kita semua dari atas kayu salib. Oleh kematian-Nya, dimungkinkanlah bagi kita untuk ditarik ke dalam persekutuan (communio) yang intim/akrab dengan diri-Nya. Kasih-Nya bagi kita adalah kekal-abadi, senantiasa segar, tanpa syarat, dan kreatif. Dia telah menyelamatkan kita dari kematian dan memenuhi diri kita dengan hidup ilahi. Yesus sungguh ingin memegang, merangkul anda erat-erat agar dekat pada hati-Nya.

Biarlah kebenaran-kebenaran ini mengendap ke dalam hati kita masing-masing. Kita memang mempunyai tanggung-jawab terhadap orang-orang miskin, keluarga dan komunitas masing-masing, namun dalam pekan suci ini baiklah kita membuat suatu komitmen istimewa untuk melakukan penyembahan kepada Yesus yang begitu mengasihi kita semua. “Buanglah” waktu dan energi anda untuk melakukan sembah-bakti pada pekan istimewa ini, sehingga pancaran harum-mewangi dari penyembahan anda dapat memenuhi seluruh rumah Allah.

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua Gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mac 31, 2012

MARILAH KITA MENELADAN KETAATAN DAN KERENDAHAN HATI YESUS YANG PENUH KASIH

( Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN, 1-4-12 )

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Perarakan: Mrk 11:1-10 atau Yoh 12:12-26; Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9,17-20,23-24; Bacaan Injil Mrk 14:1-15:47 (Mrk 15:1-39)

Dari segala pemandangan, bunyi/suara dan bebauan dalam liturgi kita selama Pekan Suci, ada satu gambaran yang akan sangat menonjol: Yesus Kristus yang tersalib. Pada hari ini dan sepanjang pekan ini, selagi kita mengingat peristiwa-peristiwa sengsara dan kematian Yesus, Allah mengundang kita untuk tidak hanya sekadar mengenang peristiwa-peristiwa Yesus di masa lampau. Dia mengundang kita untuk bergabung dengan Yesus di jalan menuju bukit Kalvari serta memandang dengan tajam ke dalam hati-Nya sepanjang jalan bersama itu. Selagi kita melakukan perjalanan bersama Yesus itu, baiklah kita memperkenankan “madah” tentang kerendahan-hati (kedinaan) Kristus yang biasa dinyanyikan oleh umat Gereja Perdana (bacaan di atas) untuk membimbing kita.

“Walaupun dalam rupa Allah, (Yesus) … mengosongkan diri-Nya diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Apakah ada pengosongan diri (Yunani: kenosis) yang lebih hebat dan agung daripada pengosongan diri Putera Allah yang Mahasempurna untuk menjadi manusia dan kemudian menyerahkan diri-Nya kepada penghakiman orang-orang berdosa? Apakah ada kehinaan yang lebih mendalam daripada memperkenankan ciptaan-Nya sendiri menghukum diri-Nya sampai mati di kayu salib? Mari kita membayangkan sekarang Yesus sedang berdiri di hadapan Sanhedrin dan di hadapan Ponsius Pilatus, yang dengan rendah hati menundukkan diri kepada penghakiman dan penghinaan, celaan serta olok-olok mereka. Dia membentuk mereka masing-masing dan memberi karunia-karunia berharga yang dapat mereka gunakan untuk memuliakan Bapa-Nya. Apa yang terjadi? Berbagai karunia tersebut justru digunakan untuk menyiksa diri-Nya, mengejek, dan membunuh-Nya pada kayu salib.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib” (Flp 2:8). Mari kita membayangkan betapa menyakitkan penderitaan di atas kayu salib itu, tidak hanya rasa sakit secara fisik, melainkan juga rasa sakit yang bersifat emosional dan spiritual. Dengan sedikit kekecualian, Yesus praktis dibuang, ditinggalkan oleh semua orang – termasuk oleh para pengikut-Nya sendiri. Bahkan surga pun terasa tertutup rapat-rapat. Ke arah mana saja Dia memandang, tidak ada penghiburan yang dapat ditemui, tidak ada jaminan bahwa siksaan yang diderita tubuh-Nya membawa kebaikan kepada siapa pun. Walaupun begitu, Yesus yakin bahwa Allah telah menuntun diri-Nya kepada kayu salib, oleh karena itu Dia menyerahkan diri-Nya dengan sepenuhnya percaya kepada Bapa-Nya.

Ya, Yesus memang menjalani keseluruhan hidup-Nya di atas bumi ini dalam ketaatan penuh kerendahan hati. Dia taat kepada orangtua-Nya (lihat Luk 2:51). Dia taat kepada panggilan Allah untuk hidup pelayanan di muka publik (lihat Mat 3:14-15). Dia taat kepada Allah pada saat dicobai dan digoda (Yoh 12:27-28). Dia menyediakan waktu untuk bersama Bapa-Nya dalam doa sehingga dia dapat mengetahui dan mentaati kehendak Bapa (lihat Luk 6:12-13). Akan tetapi, ketaatan tidaklah selalu mudah bagi Yesus. Lihatlah bagaimana Dia bergumul di taman Getsemani. Namun Yesus senantiasa menggantungkan diri pada kuasa Roh Kudus dan dengan demikian meraih kemenangan karena ketaatan, yakni kebangkitan-Nya ke dalam kemuliaan!

Akhirnya, Allah meninggikan diri Yesus dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama (lihat Flp 2:9). Yesus dimuliakan karena Dia mengosongkan diri-Nya dan menerima kematian. Pada kenyataannya, ringkasan dari semua bacaan alkitabiah hari ini – dan seluruh Injil – adalah: Ketaatan kepada Allah selalu membawa kita kepada peninggian. Yesus memperoleh hidup baru lewat kematian-Nya karena ketaatan-Nya, dan Ia telah membuka jalan bagi kita semua untuk mengalami transformasi “lewat kematian kepada kehidupan” yang sama dengan yang dialami-Nya. Dengan demikian, selagi kita memeditasikan kematian dan kebangkitan Yesus pada Pekan Suci ini, marilah kita secara istimewa memusatkan perhatian kita pada kemenangan penuh kemuliaan yang telah dimenangkan Yesus bagi kita lewat penundukan diri-Nya yang penuh hormat kepada Allah, Bapa-Nya.

“… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:10-11). Selagi kita membayangkan semua penghuni surga bertekuk lutut di hadapan Yesus, menyembah dan memuji-muji-Nya, lihatlah pancaran rasa takjub yang keluar dari wajah para malaikat. Mereka memandang luka-luka Yesus yang telah dipermuliakan dan mengamini kasih yang telah menggerakkan diri-Nya untuk menerima kematian demi kita manusia. Sekarang “Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia”, Dia yang membawa tanda-tanda bekas penyaliban pada tubuh-Nya yang telah dimuliakan, memperkenankan diri-Nya untuk diubah selama-lamanya … justru karena Dia mengasihi kita semua.

Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan janji Injil untuk menggerakkan kita meniru kehidupan Yesus yang penuh ketaatan. Tentu saja dalam berupaya meneladani-Nya, ada saat-saat di mana kita harus menderita, namun penderitaan tersebut akan membawa kita kepada intimasi/keakraban yang lebih mendalam dengan Yesus, juga kebebasan dan sukacita yang lebih besar. Marilah kita juga yakin dan percaya bahwa setiap saat kita dengan penuh ketaatan “mati terhadap diri kita sendiri”, maka Bapa surgawi akan membawa kita kepada hidup yang baru.

DOA: Tuhan Yesus, kerendahan hati-Mu dan ketaatan-Mu sungguh membuat diriku takjub! Tolonglah aku agar dapat meneladani ketaatan-Mu dan kerendahan hati-Mu yang penuh kasih, sehingga dengan demikian aku dapat ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Mu, baik di atas bumi ini maupun di dalam surga. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Mac 30, 2012

LEBIH BERGUNA BAGIMU, JIKA SATU ORANG MATI UNTUK BANGSA KITA DARIPADA SELURUH BANGSA KITA INI BINASA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah, Sabtu 31-3-12 )

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Aka datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56)

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Sungguh ironislah situasinya, bagaimana perbuatan-perbuatan baik Yesus yang bersifat ilahi – membuat mukjizat-mukjizat dan berbagai penyembuhan atas rupa-rupa penyakit – justru membawa diri-Nya kepada kematian-Nya sendiri. Berita-berita tentang Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah mati membuat mahkamah agama Yahudi lebih cepat memutuskan untuk membunuh Yesus (Yoh 11:45-53). Dengan demikian disiapkanlah panggung untuk drama yang akan terjadi di Yerusalem.

Bahkan ketika berita tentang komplotan untuk menangkap Yesus sudah semakin panas, Yesus sadar bahwa perkembangan-perkembangan ini adalah bagian dari sebuah rencana yang telah disiapkan Allah selama berabad-abad lamanya. Saatnya telah datang bagi rencana Allah untuk dipenuhi. Dalam waktu yang tidak lama lagi Yesus akan “mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” melalui kematian-Nya di atas kayu salib (lihat Yoh 11:52). Bahkan Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, bernubuat sebagai berikut: “… lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yoh 11:50).

Rencana Allah untuk tibanya saat seperti ini sungguh tak terjangkau oleh akal-budi manusia! Pada awal sejarah manusia, ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah memberikan isyarat-isyarat pertama tentang rencana-Nya dengan berfirman kepada ular mengenai seorang perempuan turunan Hawa yang akan meremukkan kepalanya (Iblis): “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya, keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej 3:15). Dengan berjalannya waktu, Allah berbicara melalui para nabi tentang “seorang yang diurapi” (Yes 61:1-2), seorang hamba TUHAN (YHWH) yang menderita (Yes 42:1-9) yang akan “tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita … dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:5,7). Sekarang saat pemenuhan/penggenapan telah tiba dan para lawan Yesus adalah orang-orang yang mengendalikan gerakan dari peristiwa-peristiwa yang kita akan “hidup”-kan kembali dalam Pekan Suci.

Apakah yang anda lihat ketika anda memandang(i) Salib Kristus? Apakah ini klimaks dari rencana Allah yang dijanjikan-Nya untuk dipenuhi berabad-abad lalu? Apakah ini karya seorang Bapa yang penuh kasih yang telah berusaha keras untuk membawa anda kembali kepada diri-Nya? Apakah Yesus hanyalah seorang baik, yang datang di tempat yang salah dan pada saat yang salah? Marilah kita yakini benar, bahwa melalui Salib-Nya, seluruh dunia telah ditebus. Setiap orang diundang untuk mengalami persatuan intim dengan Allah. Oleh karena itu, marilah kita mengarahkan pandangan mata kita pada Salib-Nya setiap hari, teristimewa pada pekan ini dan mohon kepada Roh Kudus untuk memperbesar visi kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk karunia keselamatan yang Kauanugerahkan kepada kami semua. Kami juga berterima kasih karena Engkau tidak membuang kami disebabkan dosa-dosa kami, melainkan mengirim Putera-Mu sendiri, Yesus Kristus, untuk menebus kami oleh kematian-Nya di atas kayu salib. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mac 29, 2012

YESUS MENGHUJAT ALLAH?

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah, Jumat 30-3-12 )

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya (Yoh 10:31-42).

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7

Bagaimana mungkin orang-orang Yahudi, bangsa Yesus sendiri, sampai melawan Dia dengan sedemikian hebatnya? Bukankah lebih mudah bagi mereka untuk menerima Dia dan ajaran-Nya? Di sisi lain, kita tidak boleh menolak kenyataan bahwa ajaran Yesus sangatlah susah dan keras, teristimewa bagi orang-orang bagi orang-orang yang bangga (sombong?) akan posisi mereka sebagai umat pilihan Allah. Sebelum pertobatannya, Santo Paulus kiranya tidak dapat menerima kenyataan bahwa Injil diwartakan oleh Petrus dan para rasul – walaupun mereka semua berkebangsaan Yahudi (dan beragama Yahudi). Kita bisa saja berpikir bahwa Paulus adalah pemenuhan sejati dari pengharapan-pengharapan segenap bangsa Israel.

Memang cukup mengherankanlah kalau ada begitu banyak orang Yahudi yang menolak Dia, namun kita selalu harus mengingat kenyataan bahwa oposisi terhadap Yesus terletak dalam setiap hati manusia, termasuk hati kita masing-masing. Orang-orang Yahudi telah menyaksikan sendiri begitu banyak mukjizat-mukjizat Yesus dan mendengar khotbah-khotbah-Nya dan perumpamaan-perumpamaan-Nya yang sedemikian membumi, akan tetapi bilamana mereka dikonfrontasikan dengan dosa mereka sendiri dan kebutuhan akan pertobatan, menjadi susahlah untuk menerima Dia. Berapa banyak mukjizat yang kita saksikan sendiri, semua itu tidak akan pernah cukup untuk meyakinkan diri kita. Ada sesuatu dalam hati kita masing-masing yang harus berubah.

Allah ingin agar kita semua mengenali apa saja perlawanan kita terhadap Yesus dan ajaran-Nya, sehingga melalui pertobatan kita akan berbalik kepada-Nya dan mengenal serta mengalami kemerdekaan yang sejati. Allah menginginkan agar kita memeriksa hati nurani kita dan melihat perlawanan terhadap Allah yang kita “bawa-bawa” terus dalam hati kita. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita dan menolong kita melihat kekerasan hati kita. Kekerasan hati dapat mengejawantah dalam kemarahan atau kepahitan. Barangkali ketidaksabaran dan sifat cepat marah. Atau yang terasa lebih halus, adalah kita berpikir bahwa diri kita lebih baik daripada orang-orang lain, atau …… kita bersikap “sombong rohani” (“Aku kan berdoa Ibadat Harian secara teratur?”; “Aku kan berdoa rosario setiap hari”; “Aku kan berdoa Kerahiman Ilahi dengan teratur?”) , kita merasa “better than thou” setiap kali berhadapan dengan orang lain. Apa pun dosa-dosa kita yang spesifik, semua menunjuk pada satu realitas sentral: oposisi terhadap Yesus dan Injil-Nya.

Itulah sebabnya mengapa Gereja menyediakan Sakramen Rekonsiliasi. Allah ingin menunjukkan kepada kita dosa-dosa kita, bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk memberikan kepada kita hidup baru dan kebebasan/kemerdekaan. Kemerdekaan yang kita dapat alami manakala kita mengakui dosa-dosa kita memampukan kita untuk berjalan lebih dekat dengan Tuhan Yesus. Oleh karena itu, janganlah sampai kita kehilangan kesempatan untuk berjalan lebih dekat dengan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku dan tunjukkanlah kepadaku cara-caraku yang salah dalam upayaku membenarkan diriku dan gagal mengakui dosa-dosaku. Aku mengakui bahwa aku adalah seorang pendosa, dan aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Berdayakanlah diriku untuk dapat berjalan bersama-Nya dan mengalami kasih-Nya yang memerdekakan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS