Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Disember 06, 2011

DIA MEMBERI KEKUATAN KEPADA YANG LELAH DAN MENAMBAH SEMANGAT KEPADA YANG TIADA BERDAYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup & Pujangga Gereja, Rabu 7-12-11 )

Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.


Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10; Bacaan Injil: Mat 11:28-30
Mengapa engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel; “Hidupku tersembunyi dari TUHAN (YHWH), dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? YHWH ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan

YHWH mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yes 40:25-31)

Walaupun para nabi seringkali menggambarkan Allah sebagai Dia yang tak dapat disentuh (untouchable) dan jauh lebih berkuasa daripada apa yang kita dapat bayangkan, mereka (para nabi) juga menggambarkan Dia sebagai ‘seorang’ Allah yang sangat mengasihi anak-anak-Nya dan berkomitmen untuk menopang serta menolong mereka pada saat-saat anak-anak-Nya itu berada dalam kesulitan. “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes 40:29).

Namun demikian, pada kenyataannya kita seringkali merasa sepertinya Allah telah melupakan kita. Kita menggemakan kata-kata orang Israel seperti diucapkan sang nabi: “Hidupku tersembunyi dari YHWH, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (Yes 40:27). Bukankah tidak jarang kita merasakan seakan-akan Tuhan Allah tidak peduli atas segala kesusahan hidup kita? Namun sebaliknya, bukankah seringkali kita juga berdoa di depan sang Tersalib, namun lupa

bahwa Yesus wafat di atas kayu salib justru karena Dia memahami sekali kebutuhan-kebutuhan kita?

Karena kita hidup di tengah suatu lingkungan yang diwarnai dosa, dan karena kita hari demi hari berjuang melawan godaan-godaan dan kecenderungan kita untuk berdosa, maka tidak mengherankanlah apabila kita dapat mulai meragukan kepedulian Tuhan atas diri kita. Dalam situasi sedemikian, kita selalu dapat dikuatkan kembali dengan mengingat kebenaran-kebenaran tentang siapa Allah kita sesungguhnya. Seperti dikatakan di atas, Ia adalah ‘seorang’ Bapa yang sangat mengasihi kita sehingga Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita; membebaskan kita dari hukuman dan memberikan kehidupan kekal kepada kita (lihat Yoh 3:16-17). Kita tidak pernah dapat melakukan sendiri apa yang telah dicapai oleh Yesus! Allah itu mahakuasa dan mahakuat (lihat Yes 40:26), Ia yang memiliki kuasa untuk menyerahkan Putera-Nya sampai pada titik kematian di atas kayu salib dan kemudian membangkitkan-Nya kembali dari alam maut – Allah seperti ini tentunya dapat menegakkan dan menguatkan kita.

Setiap orangtua mengetahui apa artinya mengasihi anak mereka dengan sepenuh hati. Kasih orangtua itu hanyalah bayangan dari kasih Allah bagi kita semua! Orangtua mana yang menyerahkan anak mereka kepada kematian demi menyelamatkan orang lain? Inilah justru yang dilakukan oleh Bapa surgawi dengan segala senang hati – bagi kita, manusia: “Tetapi YHWH berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan” (Yes 53:10), sehingga dengan demikian kita dapat diampuni dan mengenal kasih-Nya dengan penuh keintiman.

Allah selalu setia dari masa ke masa. Sang pemazmur menulis: “Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. YHWH setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mzm 145:13). Ia tidak pernah membuang atau meninggalkan kita, tidak pernah menarik Roh-Nya dari diri kita. Dengan sabar Ia menantikan saat untuk menyatakan diri-Nya kepada hati kita masing-masing dan disambut dengan penuh rasa syukur dan kasih (lihat Why 3:20). Ini adalah Allah yang telah datang ke tengah-tengah kita dalam diri Yesus Kristus. Ini adalah Dia yang kita

nanti-nantikan kedatangan-Nya kembali. Oleh karena itu, janganlah sampai kita berputus-asa, melainkan menaruh kehidupan kita dalam tangan-tangan-Nya dan percaya bahwa Dia akan melakukan segala hal yang telah dijanjikan-Nya sementara kita mencari Dia dan mentaati perintah-perintah-Nya.

Santo Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provisi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis.

Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan

mempertobatkan orang-orang berdosa. Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat. Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menerima undangan dari Roh Kudus untuk menerima segala berkat-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau adalah Imanuel – Allah beserta kita – yang senantiasa berada bersama aku dan saudari-saudaraku yang lain. Jauhkanlah keragu-raguan dari diriku bahwa Engkau sungguh ingin menolongku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Disember 05, 2011

PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA YANG HILANG

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven, Selasa 6-12-11 )

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13

Marilah kita berempati dengan sang gembala dalam perumpamaan ini dengan menempatkan diri sebagai dirinya. Apabila anda adalah gembala yang bertanggung jawab atas seratus ekor domba, apakah anda akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor domba yang hilang? Tidak seorang pun yang masih atau pernah berkecimpung di dunia bisnis akan melakukannya! Yang jelas seorang pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan (istilah kerennya: profit making) dan memahami manajemen risiko (risk management) tidak akan melakukannya. Orang itu mempertimbangkan lebih baik kehilangan seekor dombanya dan bekerja lebih keras untuk melindungi domba-dombanya yang masih ada.

Namun demikian, justru pesan Yesus kepada kita adalah yang terasa tak masuk akal itu. Ajaran-Nya terasa radikal, bukan? Nah, Yesus kita ini memang tidak berminat untuk terlibat dalam penghitunganbottom line, untung atau rugi, dan Ia juga tidak tertarik dengan cost analysis seperti saya, atau kita-kita ini yang sekolahnya di bidang ekonomi/bisnis. Yesus telah menginvestasikan dalam diri kita masing-masing gairah dan komitmen yang sama dalam jumlah dan substansinya, tidak peduli siapa kita ini dan jalan apa yang ditempuh oleh kita masing-masing.

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Kepada kita – satu per satu – Yesus memberi kesempatan untuk memeluk-Nya, merangkul diri-Nya. Bukankah ini adalah prinsip dasar cintakasih dan bela rasa yang kita sedang persiapkan guna merayakan Hari Natal?

Sebenarnya kita masing-masing adalah seekor domba yang hilang. Bayangkanlah di mana kita pada saat ini seandainya cara berpikir Yesus itu tidak berbeda dengan cara berpikir para pelaku bisnis yang menekankan perhitungan rugi-laba belaka: “Ah, biarlah kita menerima sedikit kerugian agar supaya dapat menyelamatkan margin keuntungan kita.” Lalu, pertimbangkanlah cintakasih begitu mengagumkan yang menggerakkan Yesus untuk mengorbankan segalanya untuk membawa kita kembali kepada hati-Nya. Kita berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan Allah, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes 55:8)! Dalam hal kebaikan, Allah kita memang Mahalain!

Dalam doa-doa kita hari ini, pertimbangkanlah bagaimana cara berpikir kita apabila dibandingkan dengan cara berpikir Yesus. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melihat keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan sesama kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, dan negeri kita tercinta mengalami kelimpahan berkat karena mengenal Kristus? Marilah kita bertanya kepada Roh Kudus, langkah-langkah apa yang harus kita ambil hari ini agar cara berpikir kita semakin dekat dengan cara berpikir Yesus. Memang hal ini tidak selalu mudah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus – sang Gembala Baik – tidak akan meninggalkan kita. Dan …… Roh Kudus-Nya akan mengajar kita agar cara-cara-Nya dapat menjadi cara-cara kita, dan pikiran-pikiran-Nya menjadi pikiran-pikiran kita. Marilah kita menjalani masa Adven ini dengan memuji-muji Yesus yang akan datang menyelamatkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau datang ke tengah dunia untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Aku mencintai Engkau, Yesus, dan akan selalu mengikuti jejak-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Disember 02, 2011

SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN !!!

( Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun B), 4-12-11 )

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.


Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu

Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Yes 40:1-5,9-11).Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: 2Ptr 3:8-14; Bacaan Injil: Mrk 1:1-8

Sekitar 500 tahun sebelum kedatangan Putera Allah sebagai Yesus dari Nazaret, seorang nabi menulis tentang sang Mesias yang diharap-harapkan kedatangan-Nya. Kata-kata yang diucapkannya menceritakan tentang tibanya suatu saat di mana seluruh dosa Israel akan diampuni dan saat di mana kesulitan dan penderitaan bagi Yerusalem akan berlalu. Hal itu adalah sebuah pesan akan datangnya kenyamanan dan damai-sejahtera. Sebuah pesan tentang restorasi dan pengharapan.

Yohanes Pembaptis memilih ayat-ayat khusus ini dari Kitab Yesaya untuk menggambarkan panggilan hidupnya sendiri. Sebagaimana juga seorang raja pada zaman kuno didahului oleh para bentaranya untuk mempersiapkan jalan bagi sang raja, maka Yohanes Pembaptis adalah sang bentara yang mempersiapkan jalan bagi Yesus: Ia mempersiapkan jalan di padang gurun untuk Yesus, meluruskan di padang belantara jalan raya bagi-Nya, menutup setiap lembah, meratakan setiap gunung dan bukit agar menjadi tanah yang rata dan dataran, dan mengajak orang-orang Israel untuk memandang surga (Yes 40:3-5; bdk. Mrk 1:1-3). Yohanes mengajak para pendengarnya untuk bertobat dari dosa-dosa dan mempersiapkan diri mereka untuk menyambut kedatangan Dia yang lebih besar daripada dirinya (Mrk 1:7-7).

Yesus memang telah datang ke tengah dunia. Setelah Ia bangkit dari antara orang mati, Yesus berjanji bahwa Dia akan datang kembali, kali ini sebagai seorang Raja. Sementara itu, kita telah melihat berbagai karya Roh Kudus terus berlangsung. Pada setiap zaman, Roh Kudus telah membangkitkan para pelayan/hamba yang akan berseru kepada kita agar kita “menyiapkan jalan” bagi kedatangan Yesus untuk kedua kalinya.

Dari para pelayan/hamba itu ada yang memanggil agar kehidupan doa kita diperdalam. Ada pula pelayan/hamba yang memanggil kita untuk bertobat dan meninggalkan hidup kedosaan kita. Siapa dari kita yang belum disentuh oleh kehidupan orang-orang kudus ini? Melalui para bentara yang mendahului kita ini, Roh Kudus ingin membimbing kita dan melindungi kita. Dia ingin menolong kita agar dapat melihat dosa-dosa kita dan menyemangati kita bilamana kita sedang sedang mengalami keputusasaan. Manakala kita sedang menderita, Roh Kudus sungguh ingin memegang tangan kita dan mendukung kita. Jika kita sedang ngawur kesana kemari, Dia ingin menjaga kita agar tetap berjalan di jalan yang benar.

Lebih dari segalanya, Roh Kudus ingin sekali menolong agar kita senantiasa memiliki pengharapan tinggi. Dia ingin agar kita mengetahui betapa terang benderang dan indahnya surga itu. Dia ingin agar kita bermimpi akan adanya sebuah dunia tanpa kemiskinan, tanpa perang, tanpa kebencian, dan tanpa dosa. Itulah sebabnya mengapa Dia ingin agar kita berdoa: “Datanglah, Tuhan Yesus.” (Why 22:20) Oleh karena itu marilah kita masing-masing mengatakan kepada Yesus, bahwa kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena Dia telah mengirimkan kepada kita para nabi-Nya, para kudus pendahulu kita yang memiliki suara-suara profetis, yang berseru, Siapkanlah jalan bagi Tuhan!”

DOA: Roh Kudus Allah, bekerjalah dalam diriku. Ratakanlah berbagai gunung dan bukit dalam diriku sehingga dapat menjadi jalan rata bagi kedatangan Yesus kembali kelak. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA AKU MEMBERITAKAN INJIL, AKU TIDAK MEMPUNYAI ALASAN UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Fransiskus Xaverius, Sabtu 3-12-11 )

Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keh


Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya. (1Kor 9:16-19,22-23)arusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil! Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadaku. Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan

Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

Cinta S. Paulus kepada Yesus Kristus diawali pada waktu dia dalam perjalanan ke Damsyik di mana dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit (Kis 9:1-9). Pada waktu itu dia masih bernama Saulus. Selama tiga hari setelah peristiwa tersebut, Paulus mengalami kebutaan. Dia tidak makan atau pun minum selagi dia – lewat doa-doanya dalam keheningan – berupaya untuk memahami apa yang telah dan sedang dikerjakan Tuhan atas dirinya. Bayangkanlah betapa berat beban dosa yang dirasakan menindih dirinya, teristimewa ketika dia mengingat dosa yang menyangkut pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani yang diperintahkan olehnya dan di mana dia sendiri turut ambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, begitu dia dibaptis, kesadaran Paulus akan kasih Allah dan kuasa Yesus yang bangkit langsung saja menggerakkan dia untuk mulai mewartakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:17-20).

Pengabdian Paulus yang penuh gairah kepada Yesus memampukan dirinya menanggung kesusahan dan oposisi terhadap dirinya karena dia mewartakan Injil. Paulus akan menanggung apa saja asal dia dapat memenangkan orang-orang kepada cintakasih Kristus – cintakasih yang telah mentransformir hidupnya sendiri. Paulus dapat melihat bahwa umat di Korintus cenderung untuk melakukan segala hal dengan semangat berapi-api – meski terkadang terasa berlebihan. Mereka merasa tertarik pada pengkhotbah-pengkhotbah (pewarta-pewarta) tertentu, lalu membentuk kelompok-kelompok yang sayangnya menjadi saling bersaing satu sama lain, agar memperoleh reputasi tertinggi. Dalam entusiasme itu, mereka kehilangan “kerendahan-hati” dan “cintakasih persaudaraan”. Paulus berupaya menyatukan mereka itu kembali.

Inilah sebabnya mengapa Paulus mengatakan kepada umat di Korintus: “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. …… Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor 9:19.22). Kemauan Paulus untuk berbagi Kabar Baik Yesus Kristus dengan siapa saja yang mau mendengarkan, sungguh mengena di jantung kesombongan dan sikap serta perilaku orang-orang Korintus yang suka terpecah-pecah dan saling bersaing secara tidak sehat.

Cintakasihnya kepada Kristus begitu berdampak pada dirinya, sehingga memungkinkan Paulus mengatasi masalah pemisahan antara orang Yahudi dan bukan-Yahudi (Yunani; kafir), hamba dan orang merdeka, perempuan dan laki-laki, karena dia sudah mempunyai keyakinan teguh bahwa semua adalah satu dalam Kristus Yesus (lihat Gal 3:28). Bagi Paulus, satu-satunya garis pemisah adalah antara mereka yang mengenal serta mengalami kasih Allah yang dicurahkan dalam Kristus, danmereka yang belum mendengar mengenai Sang Juruselamat atau mengalami sentuhan-Nya. Bagi Paulus, hal-hal lainnya tidak perlu dipikirkan, demikian pula seharusnya dengan sikap yang harus diambil oleh umat di Korintus dan kita yang telah membaca suratnya ini.

S. Fransiskus Xaverius. Pada hari ini kita merayakan pesta S. Fransiskus Xaverius [1506-1552], yang bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesiia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Cina yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kasih-Mu kepada kami sehingga hidup kami dapat ditransformasikan. Kami ingin menjadi seperti Paulus dan Fransiskus Xaverius, para pewarta Kabar Baik sejati yang menjadi segala-galanya bagi semua orang, sehingga kami juga dapat menunjukkan apa artinya menjadi anak-anak Allah dan pewaris Kerajaan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 01, 2011

KARENA KITA MENERIMA SEGALANYA YANG BAIK DARI ALLAH

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Jumat 2-12-11 )

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Ordo II/Klaris Kap.

Bukankah hanya sedikit waktu lagi, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan? Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN (YHWH), dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel! Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, dan yang memasang jerat terhadap orang yang menegor mereka di pintu gerbang, dan yang mendesak orang benar dengan alasan yang tidak-tidak. Sebab itu beginilah firman YHWH, Allah kaum keturunan Yakub, Dia yang telah membebaskan Abraham: “Mulai sekarang Yakub tidak lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat. Sebab pada waktu mereka, keturunan Yakub itu, melihat apa yang dibuat tangan-Ku di tengah-tengahnya, mereka akan menguduskan nama-Ku; mereka akan menguduskan Yang Kudus, Allah Yakub, dan mereka akan gentar kepada Allah Israel; orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.” (Yes 29:17-24)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Mat 9:27-31

“Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN (YHWH), dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!” (Yes 29:19).

Siapa yang dimaksudkan dengan orang-orang ini? Siapakah mereka sebenarnya? Apakah mereka segerombolan orang-orang pengecut, orang-orang lembek yang tidak mempunyai nyali untuk turut serta berpetualang dalam dunia yang keras dan penuh tipu-daya ini? Sama sekali bukan! Orang-orang yang dikatakan “lembek” ini adalah orang-orang yang mengakui ketergantungan mereka pada Allah dan tidak memperlakukan orang-orang lain secara angkuh-sombong. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki disposisi batin “kedinaan” / “kerendahan” di hadapan Allah. Seseorang yang sungguh rendah hati (dina) mengakui kenyataan bahwa dia menerima segalanya yang baik dari Allah.

Rendah atau dina di hadapan Allah samasekali tidak berarti “lembek”. Yesus adalah yang paling rendah hati di antara manusia, namun Ia juga memiliki karakter yang paling kuat di antara semua orang. Santo Paulus dengan baik menggambarkan hal itu seperti berikut: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:511). Dengan demikian, barangsiapa merendahkan diri mereka dengan mengalami pencobaan-pencobaan di bawah tangan Allah dan bersekutu dengan Yesus yang tersalib, maka orang itu pada akhirnya akan ditinggikan dan ikut ambil bagian dalam kemuliaan Allah. Tindakan merendahkan diri kita sendiri dan mengalami pencobaan-pencobaan dengan cara begini membutuhkan kekuatan yang datang dari Allah sendiri, hal mana sangat bertentangan dengan kepengecutan atau kelembekan pribadi.

Namun demikian, apa artinya kerendahan-hati atau kedinaan tanpa disertai iman? Sebaliknya, apa artinya iman tanpa kerendahan-hati atau kedinaan? Kedua hal itu terkait satu sama lain dengan intimnya, karena keduanya adalah sikap-sikap keterbukaan kepada Allah dan penundukkan diri penuh keyakinan kepada rahmat-Nya. Orang yang angkuh tidak akan menunggu Allah untuk membangkitkannya. Mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada kekuatan mereka sendiri, juga segala sumber-daya yang mereka miliki. Mereka berkata: “God only helps those people who help themselves!”, dan mereka tidak menyukai kata-kata indah dalam lagu “YOU RAISE ME UP” dari Josh Groban.

Bagaimana dengan orang-orang yang rendah-hati atau dina? Mereka memiliki kekuatan untuk menantikan tindakan Allah mendatangi mereka. Mereka menaruh kepercayaan pada Yesus seperti orang-orang buta berteriak memohon belas kasihan. Yesus bertanya kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” (lihat Mat 9:28; dari bacaan Injil hari ini), lalu mereka pun menjadi sembuh.

Pada masa Adven ini, ketika kita mendekati Yesus dalam doa, ingatlah SIAPA Dia sesungguhnya dan siapa kita di hadapan diri-Nya. Manakala peristiwa-peristiwa buruk menimpa diri kita pada saat-saat di mana kita tidak siap – ketika orang-orang yang kita kasihi membuat diri kita kecewa dan sedih, ketika kita digoda untuk terjebak dalam berbagai urusan dunia – marilah kita mengingat bahwa kita dikasihi oleh Allah dengan teramat sangat. Pada saat Yesus datang kepada orang-orang buta, maka kegelapan mereka dilenyapkan. Pada saat Ia masuk ke dalam hati kita, maka kegelapan hati kita pun akan hilang lenyap.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memenuhi setiap kebutuhanku melalui Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus! Aku membuka lebar-lebar pintu hatiku bagi kuasa rahmat-Mu. Kasih-Mu dan kerahiman-Mu adalah sukacita dan kekuatanku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, November 30, 2011

MENJADI SAKSI-SAKSI HIDUP DARI KUASA DAN RAHMAT ALLAH

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan Martir Indonesia, Kamis 1-12-11 )

Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: “Pada kita ada kota yang kuat, untuk


Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27; Bacaan Injil: Mat 7:21,24-27
keselamatan kita TUHAN (YHWH) telah memasang tembok dan benteng. Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada YHWH selama-lamanya, sebab YHWH ALLAH adalah gunung batu yang kekal. Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.” ( Yes 26:1-6 )

Dalam visinya tentang zaman mesianis, Yesaya melihat sebuah kerajaan yang dihuni oleh “bangsa-bangsa yang benar, yang tetap setia pada iman” – orang-orang miskin dan membutuhkan – sementara yang angkuh dan ditinggikan direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu (lihat Yes 26:2-6). Banyak sekali ayat-ayat dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai kasih Allah terhadap orang-orang lemah dan rendah hati dan penghakiman-Nya atas orang-orang yang angkuh-sombong, seperti yang ditulis oleh sang pemazmur: “YHWH itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh” (Mzm 138:6). Seperti yang dikatakan Maria dalam kidungnya: “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:53). Juga seperti yang disabdakan-Nya sendiri: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

Allah lebih menyukai orang-orang yang rendah hati, bukannya karena mereka lebih baik, melainkan karena mereka lebih terbuka kepada-Nya. Disposisi hati mereka memperkenankan Allah bekerja dalam diri mereka sebagaimana Dia ingin bekerja dalam diri setiap orang – baik yang angkuh-sombong maupun yang rendah hati. Karena mereka mengetahui bahwa kasih Allah merupakan suatu anugerah yang diberikan secara bebas-gratis, maka orang-orang rendah hati ini tidak merasa terdorong untuk memperoleh kasih Allah melalui capaian-capaian besar berdasarkan upaya mereka sendiri. Sebaliknya, mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada
Allah untuk segala kebutuhan mereka (dan kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi), dengan demikian secara alamiah mereka pun menjadi saksi-saksi hidup dari kuasa dan rahmat Allah.
Sebuah contoh kerendahan hati (kedinaan) sedemikian adalah Santa Jeanne Jugan [1792-1879] yang melakukan pelayanan kasih terhadap orang-orang miskin dan lansia di Perancis pada masa pasca revolusi. Digerakkan oleh Roh Kudus, Jeanne mendirikan komunitas “Suster-suster Kecil dari Orang Miskin”. Jeanne sering berkata kepada para susternya: “Perkenankanlah dirimu dibentuk oleh ‘Roh kekecilan’ …… Kita tidak memiliki apa pun dan menantikan semuanya dari Allah.” Jeanne memahami bahwa nilai dirinya tidak tergantung kepada seberapa berhasil pekerjaannya, melainkan hanya karena melakukan apa yang diminta Allah dari dirinya.

Sementara komunitas suster-suster kecilnya semakin bertumbuh-kembang dan popular, seorang imam dengan ambisi berlebihan yang berafiliasi dengan mereka mulai mengambil semakin banyak kredit atas karya kasih Jeanne dan para susternya. Pada akhirnya si imam itu berhasil mendesak Jeanne untuk “pensiun dini”, sedangkan dia sendiri bertumbuh menjadi semakin populer. Selama masa susah ini Jeanne tidak pernah protes di muka publik. Ia tahu sekali, bahwa “Suster-suster kecil dari Orang Miskin” adalah karya Allah sendiri – bukan karyanya – sehingga dengan demikian Jeanne mampu menyerahkannya dan melanjutkan pemusatan perhatiannya pada tujuan tertinggi, yaitu mengasihi Tuhan Allah dalam segala situasi. Jeanne Jugan dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 3 Oktober 1982 dan dikanonisasikan sebagai seorang Santa oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 11 Oktober 2009.

DOA: Bapa surgawi, rahmat-Mu cukuplah bagiku dalam segala situasi yang kuhadapi dalam hidup ini. Ajarlah aku untuk tetap berdiri tegak dalam segala kelemahanku dan bergembira untuk rahmat berlimpah dari-Mu yang ada dalam diriku. Bapa, aku sungguh rindu untuk bertemu dengan-Mu – muka ketemu muka – dan melihat sendiri segala kebesaran-Mu. Tolonglah aku agar tetap setia pada hal-hal yang akan membawaku lebih dekat lagi kepada-Mu, sehingga pengenalan dan kasihku kepada-Mu menjadi semakin dalam pula. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, November 29, 2011

ANDREAS DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul, Rabu, 30-11-11)

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22)

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Santo Andreas adalah salah seorang murid Yesus yang pertama. Sebagai seorang murid dari Yohanes Pembaptis yang dekat dengan gurunya, Andreas sungguh serius dalam memandang hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Pengabdiannya yang sedemikian menunjukkan bahwa untuk waktu yang lama dia barangkali telah memiliki hasrat mendalam untuk mengenal Allah secara pribadi. Kita dapat membayangkan betapa penuh sukacita yang dialami Andreas ketika dia berjumpa dengan Yesus untuk pertama kalinya.

Ketika Yesus menyaksikan Andreas bersama saudaranya – Simon Petrus – menebarkan jala di danau Galilea, Ia mengundang mereka menjadi “penjala manusia”, artinya menarik orang-orang ke dalam kerajaan dengan menggunakan jala Injil (lihat Mat 4:19). Andreas langsung saja menunjukkan ketaatannya, dengan senang hati dia menukar keuntungan materiil dengan ganjaran spiritual. Kisah panggilan Andreas di atas memang agak berbeda dengan penuturan yang terdapat dalam Injil Yohanes, namun perbedaan tersebut tidaklah bersifat hakiki. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Andreas adalah satu dari dua orang murid Yohanes Pembaptis yang mengikut Yesus, menjadi dua orang murid pertama yang menanggapi panggilan Yesus. Kedua murid itu berdiam bersama-sama dengan Yesus pada hari pertama perjumpamaan mereka. Keyakinan Andreas kepada diri Yesus bertumbuh dengan cepat. Hal ini dapat kita rasakan ketika dia bertemu dengan Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)”, lalu Andreas membawa saudaranya itu kepada Yesus (lihat Yoh 1:35-42). Jadi, kelihatannya Andreas lah yang memperkenalkan Simon Petrus, Yakobus, Yohanes (entah berapa banyak lagi) kepada Yesus.

Pada waktu Yesus memanggil para murid-Nya, Ia memilih orang-orang biasa seperti Andreas, orang-orang yang tidak memiliki kekayaan berlebih, tidak memiliki status, latar belakang pendidikan, apalagi status sosial. Yesus tidak memilih karya-karya mereka atau berbagai karunia atau talenta yang mereka miliki. Yesus memilih hati mereka! Yesus tidak memilih para murid-Nya siapa dan apa mereka dulunya, melainkan akan menjadi apa mereka di bawah pengarahan dan kuasa-Nya. Hal yang sama berlaku untuk kita. Yesus terus memanggil setiap dan masing-masing kita untuk masuk ke dalam suatu relasi yang intim dengan diri-Nya dan Ia mengundang kita untuk ke dalam jalan kekudusan-Nya. Yesus ingin mentransformasikan diri kita melalui kuasa Roh Kudus agar kita dapat meniru Andreas dan orang-orang sepanjang segala masa yang dengan penuh dedikasi mengikuti jejak-Nya. Mereka yang memberikan segalanya demi cintakasih mereka kepada Kristus. Banyak dari orang kudus ini hidup tersembunyi dan sehari-harinya membuat mukjizat-mukjizat lewat cintakasih mereka yang penuh pengorbanan. Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti mereka, selagi kita mengikuti-nya semakin dekat dan dekat lagi.

Apakah ada biayanya dalam upaya kita mengikuti jejak Tuhan Yesus? Kalau ada, berapa besar biayanya? Santo Gregorius Agung pernah berkata: “Kerajaan Surga tidak mempunyai tanda harga. Nilai atau harganya adalah sebanyak apa yang anda miliki. Bagi Zakheus harganya adalah separuh dari harta miliknya, karena separuhnya lagi yang telah diperolehnya lewat praktek “haram” yang tidak adil akan diganti olehnya empat kali lipat. Bagi Simon dan Andreas harganya adalah jala-jala dan perahu yang mereka tinggalkan; bagi si janda miskin dua keping uang tembaga, bagi orang lain mungkin segelas air putih.” Bagaimana dengan kita masing-masing? Mungkin kehilangan posisi top management, mungkin ejekan, cercaan dan caci-maki dari orang-orang yang mengenal anda.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tanpa batas kepadaku. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur dan sukacita karena menjadi murid-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, November 28, 2011

GAMBARAN SEBUAH DUNIA YANG DAMAI DAN ADIL
( Bacaan Pertama, Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Selasa 29-11-11 )

Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN (YHWH) akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan YHWH; ya, kesenangannya ialah takut akan YHWH. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.
Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular berludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan YHWH, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia ( Yes 11:1-10 )

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13,17; Bacaan Injil: Luk 10:21-24

Penggambaran Yesaya tentang pemerintahan raja yang dijanjikan dari garis keturunan Isai mempunyaiappeal terhadap suatu kerinduan mendalam dalam hati manusia – kerinduan akan terciptanya perdamaian dan keadilan selama-lamanya. Sang Nabi di sini berbicara mengenai seorang Penguasa, yang dipenuhi dengan Roh Allah, yang membuat keputusan-keputusan yang adil. Yang ditransformasikan di bawah pemerintahannya bukan saja hubungan kemanusiaan (human relationships), melainkan juga dunia alamiah (natural world); hukum konflik dan kekerasan – yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang biasa – akan diputar-balikkan. “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya” (Yes 11:6).
Akan tetapi, bagaimana sebuah dunia seperti digambarkan itu dapat menjadi suatu kenyataan? Begitu banyak upaya untuk mencapai perdamaian dan keadilan (ingatlah istilah kerannya: peace and justice) hampir selalu kandas dan kiranya berakhir dalam kekecewaan dan kegagalan. Apakah yang dapat membuat perbedaan? Yesaya mendeklarasikan bahwa keharmonisan penuh hanya akan terjadi bilamana “seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan YHWH, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes 11:9). Pengenalan akan akan TUHAN – persekutuan yang erat dengan Dia – adalah hal yang memampukan kita untuk hidup damai-sejahtera, seturut rencana Allah sendiri. Sebaliknya ketiadaan pengenalan akan Allah hanya akan menggiring manusia kepada dosa, alienasi, dan penghancuran (lihat Hos 4:1-6).
Yesus datang untuk memberikan kepada kita pengenalan akan Allah: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). “Pengenalan akan Allah” yang diberikan oleh Yesus bukanlah sekadar informasi. Ini adalah pernyataan (perwahyuan) yang intim-batiniah, tentang kasih Allah yang menggerakkan kita untuk mengasihi-Nya dan mengikuti jejak-Nya. Yesus membuat relasi ini menjadi mungkin pada saat Ia wafat di atas kayu salib dan mengalahkan dosa dan maut bagi kita. Sekarang, melalui Roh Kudus-Nya yang telah dicurahkan-Nya ke atas Gereja, hati manusia dapat disentuh dan distransformasiksn oleh kasih Allah. Kita dapat sampai mengenal Allah dengan semakin intim dan mulai mengalami – bahkan sekarang juga – damai sejahtera dan tatanan yang ada dalam visi Yesaya. Sukacita kita adalah dalam mengenal bahwa hidup kita berada di tangan-tangan Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita semua.
DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah hati kami masing-masing dengan pengenalan akan Allah, agar kami dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang tangguh. Biarlah orang-orang melihat dalam diri kami keadilan dan damai sejahtera yang mereka rindukan, sehingga mereka pun tertarik untuk mencari Engkau, mengenal Engkau dan mengasihi Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, November 27, 2011

IMAN SEBESAR INI TIDAK PERNAH AKU JUMPAI PADA SEORANG PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Senin 28-11-11 )

OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dari Marka

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. ( Mat 8:5-11 )


Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Apa yang hebat dalam iman sang perwira sehingga membuat Yesus tergerak untuk sangat menghargainya? Di atas segalanya, perwira Romawi ini menunjukkan suatu iman yang didasarkan raja percaya pada seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret. Tidak terbatas pada tataran intelektual belaka, misalnya sehubungan dengan doktrin-doktrin tertentu, melainkan mencari suatu relasi pribadi dengan Yesus. Tentunya sang perwira dengan akal budinya telah mengambil kesimpulan bahwa Yesus memiliki otoritas untuk menyembuhkan, akan tetapi imannyalah yang menggerakkan dirinya untuk melakukan pendekatan kepada Yesus dengan permintaan/permohonannya yang berani itu.

Iman kita pun harus melampaui tataran intelektual agar dapat mencapai suatu relasi pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Apabila iman kita itu sekadar berdasarkan doktrin-doktrin keagamaan, maka kita luput sesuatu yang sangat diperlukan dan mempunyai daya sebagai pemberi kehidupan. Hanya apabila kita melangkah keluar sampai mengenal Yesus secara pribadi, maka kehidupan kita dapat ditransformasikan. Sebenarnya sang perwira dapat saja tinggal di rumah dengan hambanya dan berpikir bahwa Allah dapat menyembuhkan hambanya itu – dengan atau tanpa intervensi Yesus dari pihak Yesus. Namun, apakah yang terjadi? Sang perwira sendiri datang menghadap Yesus dan secara pribadi mohon pertolongan-Nya (bdk. Luk 7:1-10 yang ceritanya agak berbeda). Iman yang murni sepenuhnya berdasarkan logika disertai dengan sikap “ja-im” tidaklah cukup bagi sang perwira. Ingatlah bahwa sang perwira adalah seorang centurion (komandan kompi) dari pasukan pendudukan yang sangat berkuasa. Inilah yang harus kita teladani dari sang perwira!

Sementara kita mengawali masa Adven ini, kita sungguh mempunyai suatu kesempatan riil untuk bertemu dengan Yesus dalam doa-doa kita, Kitab Suci dan sakramen-sakramen. Kontak regular dengan Yesus seperti ini dapat memperdalam iman kita dan mengembangkan dalam diri kita suatu relasi yang hidup dengan Yesus sendiri. Bilamana kita merasakan kekosongan, Yesus akan mengisinya. Bilamana rasa percaya kita lemah, Ia dapat menguatkan diri kita. Bilamana kita berpuas-puas diri, Yesus dapat memberikan kepada kita kerinduan mendalam akan kehidupan-Nya. Bilamana kita sedang berjuang untuk melangkah melampaui Kekristenan kita yang sekadar intelektual, maka Yesus akan meningkatkan iman kita riil dan berwujud.

“Mari, kita naik ke gunung TUHAN (YHWH), ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya” (Yes 2:3). Marilah kita menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk mencari kehadiran Tuhan Yesus. Semoga Yesus menghembuskan kehidupan ke dalam iman kita dan memberikan kepada kita segala rasa keyakinan akan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh merindukan suatu perjumpaan pribadi yang mendalam dengan Engkau pada masa Adven ini. Aku mau bergerak maju mengatasi segala kelemahan yang ada dalam imanku untuk mengalami kehadiran-Mu yang riil dan menakjubkan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku sehingga dapat mengenal-Mu dengan lebih baik. Aku percaya, ya Tuhan, tolonglah aku yang terkadang tidak percaya! Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, November 25, 2011

Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I, 27 November 2011
Bacaan Pertama: Yes 63:16b-17; 64:1,3b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19; Bacaan Kedua: 1Kor 1:3-9

HATI-HATILAH DAN BERJAGA-JAGALAH!

Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bila saatnya tiba. Keadaannya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penjaga pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah! ( Mrk 13:33-37 )

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang” (Mrk 13:35).

Masa Adven adalah suatu masa sangat istimewa bagi umat Kristiani. Pada awal masa Adven ini, Gereja berseru kepada umatnya untuk menantikan dengan antisipasi besar kedatangan kembali Yesus Kristus yang ingin menarik kita kepada hati-Nya. Masa Adven sejatinya adalah masa penantian dan berjaga-jaga, masa pencurahan rahmat secara berlimpah dari takhta Allah.
Sebagaimana seorang penjaga pintu tidak dapat berjaga-jaga sendirian untuk selamanya, maka demikian pula halnya dengan kita: kita membutuhkan pertolongan agar dapat terus berjaga-jaga menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus. Untuk kedatangan kembali Yesus, kita harus berjaga-jaga bersama-sama, sebagai satu tubuh. Kiranya sangat menyenangkan hati Bapa ketika Ia melihat kita semua memusatkan perhatian untuk menjadi semakin dekat dengan Putera-Nya dan mempersiapkan hati kita untuk menyambut-Nya pada hari Natal!

Sepanjang sejarah, Allah terus-menerus mendatangi dan menyapa umat-Nya, mula-mula diungkapkan dalam sabda-Nya dan Perjanjian-Nya, dan akhirnya dalam wujud kelahiran Putera-Nya terkasih. Karena kasih Allah yang sedemikian besar, Yesus datang masuk ke tengah dunia untuk memberikan hidup-Nya sendiri di atas kayu salib bagi kita semua. Sekarang, sudah dibangkitkan dalam kemuliaan, Yesus Kristus mengundang kita agar membuka hati kita bagi Roh Kudus-Nya sehingga dipenuhi dengan pengharapan dan sukacita akan kedatangan-Nya kembali kelak.
Apa artinya semua ini? Yang pertama dan utama, hal ini berarti bahwa kita semua sangat, sangat, sangat dikasihi oleh Bapa di surga. Allah menciptakan kita untuk menjadi umat-Nya, untuk berjalan bersama Dia, dan untuk dipenuhi hidup dan kasih-Nya. Setelah Adam dan Hawa menolak Allah, Ia menyerahkan Putera-Nya yang tunggal agar merestorasi kita, agar tercipta rekonsiliasi dengan diri-Nya. Sekarang, melalui Yesus, kita telah menerima Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, hal mana memampukan kita untuk mengikuti jejak Kristus. Allah selalu dekat dengan diri kita masing-masing. Ia telah mempersiapkan sebuah tempat bagi kita di surga sehingga kita dapat tinggal bersama-Nya selama-lamanya.
Masa Adven ini akan jauh berbeda apabila kita mengenal lebih mendalam lagi kasih Allah bagi kita semua! Kita akan mengalami kebebasan untuk hidup dengan suatu cara yang menarik kita untuk lebih dekat lagi dengan Allah; kita akan memiliki hasrat yang lebih besar untuk melakukan kehendak-Nya. Aman dalam kasih Bapa surgawi, kita dapat menghadap-Nya dengan penuh kepercayaan guna menerima hikmat-kebijaksanaan dalam menghadapi situasi sehari-hari. Apabila kita semakin dalam mengalami amannya berada di bawah perlindungan Bapa surgawi, maka kita pun diperlengkapi dengan keberanian, pengharapan dan kekuatan pada saat-saat kita menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan kita. Kita juga akan mengasihi orang-orang di sekeliling kita dengan kasih Allah yang ada dalam diri kita.
Pada masa Adven ini, marilah kita mempersiapkan hati kita dengan menyambut Yesus ke dalam kehidupan kita setiap kali kita memulai hari kita. Marilah kita mohon kepada-Nya agar membuka mata (hati) kita untuk memampukan kita melihat betapa dekat Dia sebenarnya dengan kita dan betapa berharga kita semua bagi diri-Nya. Dalam masa yang sangat istimewa ini, sangat pantaslah bagi kita menyediakan waktu lebih banyak lagi untuk pembacaan dan permenungan sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci, untuk melihat betapa besar kasih-Nya kepada kita. Semoga setiap hari kita dapat mengalami sukacita dalam menanti-nantikan kedatangan kembali Tuhan dan Juruselamat kita.
DOA: Datanglah, ya Tuhan Yesus! Kejutkanlah diriku dengan berbagai anugerah-Mu dalam masa Adven ini. Buatlah aku mampu mengenali dan mengalami kehadiran-Mu dalam diri saudari-saudara yang kulayani, dalam Kitab Suci sebagaimana dialami oleh Fransiskus dari Assisi, dalam kegiatan-kegiatanku mempersiapkan hari Natal, dalam Sakramen Rekonsiliasi, dan teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Biarlah aku mengongsikan anugerah-anugerah ini dengan saudari-saudaraku yang lain – termasuk mereka yang beriman lain, sehingga mereka semua pun dapat mengenal Engkau, Tuhan dan Juruselamat semua orang. Amin.
Cilandak, 16 November 2011 [Peringatan S. Gertrudis, Perawan]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS