Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, Disember 09, 2011

SIAPAKAH ENGKAU ?

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III (Tahun B), 11-12-11 )

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28)

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11;Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24

“Siapakah engkau?” (Yoh 1:19). Dibuat “bingung” oleh apa yang mereka lihat dan dengar, sekelompok pemuka/pemimpin agama mendekati Yohanes Pembaptis dengan sebuah pertanyaan fundamental ini. Yohanes memang berpenampilan sangat lain apabila dibandingkan dengan orang-orang pada masa itu, juga caranya bertutur-kata: polos, lugas dan straight to the point. Dia adalah seorang “tanda lawan” pada zamannya, dan para pemuka agama itu sungguh ingin mengetahui mengapa sosok Yohanes Pembaptis itu lain daripada yang lain? Oleh karena itu mereka mengutus beberapa orang untuk mengajukan pertanyaan ini kepada Yohanes Pembaptis: “Siapakah engkau?”

Tiga tahun kemudian, para pemuka agama itu menjadi semakin bingung dan risau, maka mereka mengajukan pertanyaan yang sama kepada Yesus, sang Rabi dari Nazaret. Apa yang sebenarnya membuat dua orang pribadi ini berbeda secara radikal dengan anggota masyarakat di Israel masa itu pada umumnya? Perbedaannya adalah dalam hal kehadiran dan kuasa Roh Kudus dalam diri kedua orang itu. Mereka berbicara dan bertindak-tanduk dengan keyakinan teguh bahwa Allah beserta mereka.

Seperti Yohanes dan Yesus, kita masing-masing pun diharapkan untuk bersikap dan berperilaku sebagai seorang “tanda lawan” dalam masyarakat kita masing-masing. Relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap Roh Kudus seharusnya mendorong orang untuk bertanya tentang diri kita “Siapakah orang ini?” Setiap dan masing-masing kita memiliki Roh dari Tuhan yang berdiam dalam diri kita, dan kehadiran Roh ini mempunyai potensi untuk membuat diri kita masing-masing menjadi berbeda secara radikal dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Nilai-nilai yang kita anut, kemauan kita untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, damai-sejahtera kita, dan pengharapan kita – semua ini dapat berbicara panjang-lebar kepada dunia di sekeliling kita.

Sebagai umat Kristiani, kita dimaksudkan untuk ikut ambil bagian dalam suatu relasi yang hidup dengan Tuhan. Melalui Roh Kudus-Nya kita dapat mengetahui pikiran Allah, seperti yang ditulis oleh Paulus: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16). Belas kasihan yang kita tunjukkan kepada orang-orang lain dapat merupakan percerminan dari “kasih yang menebus” (redeeming love) Bapa surgawi yang bekerja melalui diri kita. Melalui kata-kata yang kita ucapkan, Allah sendiri dapat membuat kenyang rasa lapar orang-orang akan kebenaran.

Kita mempunyai suatu panggilan yang secara intim terjalin dengan kehidupan Yesus. Sebab itu dalam masa Adven ini, marilah kita mohon kepada Allah agar disegarkan kembali dengan pencurahan Roh Kudus-Nya, agar kita dapat menjadi para pelayan sabda-Nya, memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus, menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyembuhkan mereka yang menderita sakit-penyakit, termasuk menyembuhkan mereka yang sakit dan menderita karena luka-luka batin.

Doa Santo Paulus kepada umat di Tesalonika sekitar 2.000 tahun lalu masih berlaku bagi diri kita, para murid Yesus di abad ke-21 ini: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semora roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:23-24). Dengan demikian, kita dapat dipisahkan serta dibedakan sebagai “terang” dalam dunia yang gelap ini. Kesaksian hidup kita pun dapat menyebabkan orang-orang lain bertanya: “Siapakah engkau?”

DOA: Tuhan Yesus, dari generasi ke generasi Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar dapat memberitakan Kabar Baik ke tengah-tengah dunia. Biarlah lewat karya Roh Kudus dalam diriku hari ini, aku dapat memuliakan nama-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ELIA SUDAH DATANG DAN DIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven, Sabtu 10-12-11 )

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13)

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19

Bertahun-tahun lamanya sebelum kelahiran Yesus Kristus, nabi Maleakhi mempermaklumkan bahwa nabi Elia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan hari YHWH:“Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Empat ratus tahun kemudian, Simon Petrus memproklamasikan bahwa “Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Dalam Yesus, “hari TUHAN” sudah dekat. Namun tidak kembali-kembalinya Elia membingungkan para murid. Bukankah Elia harus datang dulu sebelum kedatangan sang Mesias?

Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Elias telah datang dan menderita di tangan orang-orang yang tidak percaya (Mat 17:12). Dari kata-kata Yesus, para murid memahami bahwa yang dimaksudkan oleh-Nya adalah Yohanes Pembaptis, bentara Tuhan yang dipenggal kepalanya oleh Herodus (lihat Mat 14:1-12).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Elia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang “radikal”. Dua-duanya tinggal di padang gurun; menghayati suatu kehidupan yang ekstrim dan keras; tidak memiliki apa-apa, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota (lihat Mat 3:4; 1Raj 17:1-7). Dua-duanya adalah nabi-nabi yang berapi-api, yang menolak dengan tegas ketidakadilan dan dosa yang ada dalam kehidupan mereka yang berkuasa. Yohanes Pembaptis melihat dosa Herodes karena mengambil istri saudaranya sebagai “isteri”, dan Yohanes Pembaptis kemudian mengkonfrontir sang raja (Mat 14:3-5). Di sisi lain Elia mengenali tipu-muslihat para nabi Baal dan sendirian ia menantang para nabi Baal itu dalam sebuah “duel mati-hidup ilahi” (1Raj 18:17-39). Ia juga mengkonfrontir raja Ahab dan istrinya yang bernama Izebel karena pembunuhan atas diri Nabot agar supaya mendapatkan kebun anggurnya (1Raj 21:17-29).

Yohanes Pembaptis dan Elia adalah pribadi-pribadi yang heroik, yang menempatkan diri mereka dalam risiko (Yohanes Pembaptis sampai kehilangan nyawanya) dengan secara setia memproklamirkan sabda Allah. Di atas segalanya, taat kepada Allah adalah hal yang terpenting bagi mereka.

Pada hari ini memang kita tidak makan belalang dan madu, hidup menyendiri di padang gurun, atau sendirian berdiri melawan para penguasa jahat seperti yang dilakukan oleh Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, seperti kedua nabi itu. Dalam kehidupan kita yang lebih “biasa-biasa/normal”, kita dapat mohon kepada Allah agar memberikan kepada kita suatu visi yang lebih besar tentang apa artinya melayani Tuhan dalam situasi kita sehari-hari. Seringkali kita membatasi diri kita karena pandangan yang keliru seperti berikut ini. Kita berpikir, karena kita tidak dapat sehebat atau sebesar para kudus di masa lampau, maka tidak banyaklah yang dapat kita persembahkan. Akan tetapi, apabila kita membuka diri bagi kehendak Bapa, maka Dia dapat bekerja melalui kita sehebat yang telah dilakukan-Nya melalui Elia dan Yohanes Pembaptis.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan pikiranku, kata-kataku, dan perbuatan-perbuatanku kepada-Mu. Aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak dapat melakukan sesuatu pun, namun dengan Engkau aku dapat melakukan apa saja yang baik. Biarlah kuasa-Mu mengalir melalui diriku sehingga Engkau dimuliakan pada hari ini dan selamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 08, 2011

MARILAH KITA MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven, Jumat 9-12-11 )

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19)

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Mengapa Yesus melakukan hal-hal seperti dilakukan-Nya, walaupun Ia jelas mengetahui bahwa hal-hal yang dilakukan-Nya itu akan disalahtafsirkan? Ketika beberapa orang Farisi melihat Yesus bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya, dan menawarkan sentuhan kesembuhan dari Allah, mereka menamakan-Nya “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:19) dan memperkuat perlawanan mereka terhadap Yesus. Dengan demikian, mengapa Yesus terus saja “membuang” begitu banyak waktu dengan orang-orang ini? Mengapa membuat mereka menjadi semakin membenci diri-Nya?

Kadang-kadang Allah melakukan hal-hal dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kita. Siapa yang akan berpikir bahwa seorang anak yang lahir dari seorang perempuan muda yang menjadi hamil di luar perkawinan itu adalah sang Mesias yang sudah dinanti-nantikan? Siapa yang akan habis berpikir bahwa Allah akan memberikan kunci kerajaan-Nya kepada seorang nelayan Galilea yang tidak sabaran itu? Apabila seorang pemikir agama terkenal hari ini memberi kesaksian bahwa dirinya menjadi buta karena kilat yang dahsyat dari langit dan telah mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain, bagaimanakah kiranya reaksi orang-orang terhadap kesaksiannya itu?

Sejak awal mula, Allah memang telah melakukan hal-hal yang berada di luar ekspektasi – meninggikan orang yang lemah, menurunkan orang-orang yang berkuasa, membuka rahim yang mandul, menghujani umat-Nya dengan manna dari surga, bahkan membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Sebagai para pengikut-Nya, tanggapan terbaik yang dapat kita berikan adalah untuk tetap rendah hati dan terbuka, siap untuk menerima Allah berdasarkan ketentuan-ketentuan-Nya, bukan ketentuan-ketentuan kita. Pada akhirnya, kita akan menemukan Hikmat Allah yang dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan-Nya.

Sebuah contoh yang baik ditunjukkan oleh Gamaliel (guru dari Paulus), seorang tokoh Farisi yang dihormati. Ketika mendengar berita tentang suatu gejala “aneh” yang sedang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu – orang-orang tanpa latar pendidikan membuat mukjizat-mukjizat dan memproklamasikan bahwa Yesus adalah Putera Allah yang bangkit – Gamaliel mampu mengangkat dirinya melampaui pemikiran-pemikiran dan ekspektasi-ekspetasinya sendiri. Nasihatnya adalah agar para pemuka agama Yahudi mengambil sikap wait and see, apakah Allah sungguh bekerja dalam diri orang-orang sederhana dan tak terpelajar ini. Gamaliel berkata: “Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah” (Kis 5:38-39). Gamaliel tidak membuat praandaian bahwa dia tahu segalanya tentang sikap dan perilaku Allah. Ia cukup rendah hati untuk “memperkenankan” Allah bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga.

Seperti Gamaliel, marilah kita juga menjaga diri kita agar tetap rendah hati dan terbuka agar dapat mengenali Allah – walaupun ketika pesan-Nya sungguh di luar ekspektasi.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Engkau datang ke tengah dunia, semuanya terjadi dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kami. Apabila Engkau datang kembali kelak, kami percaya bahwa Engkau pun akan melakukannya dengan cara-cara yang tak terduga-duga. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami selalu dekat dengan Engkau dalam doa dan tolonglah kami agar terbuka bagi karya-Mu dalam kehidupan kami dan dalam dunia ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Disember 07, 2011

MARIA ADALAH HAWA YANG BARU

( Bacaan Pertama Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA, Rabu 8-12-10 )

[Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT]

Tetapi TUHAN (YHWH) Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman itu, aku menjadi takut karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Ku-larang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau-tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah YHWH Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memberdayakan aku, maka kumakan.” Lalu berfirmanlah YHWH Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan peutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. (Kej 3:9-15,20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12; Bacaan Injil: Luk 1:26-38

Pada ‘Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa’ ini, kita membaca cerita tentang kejatuhan Adam dan Hawa dan janji keselamatan dari Allah melalui seorang keturunan Hawa. Selagi dia membaca potongan bacaan dari Kitab Kejadian ini, Santo Hieronimus [342-420] memahami bahwa bahwa seorang Hawa yang barulah yang akan meremukkan kepala si ular. Sebagaimana Hawa yang pertama, Hawa yang baru ini akan dipanggil sebagai “ibu semua yang hidup” karena dia akan melahirkan Yesus Kristus yang akan membebaskan diri kita dari maut dan menjadikan kita yang percaya kepada-Nya sebagai ciptaan baru.

Terkandungnya Maria tanpa dosa menandakan awal dari ciptaan baru dalam Kristus. Pada awalnya Allah menciptakan segala sesuatu, demikian pula sekarang bersama Maria Dia mulai menciptakan kembali segala sesuatu, memperbaharui seluruh surga dan bumi melalui penebusan yang akan dicapai oleh Putera-Nya. Sepanjang masa Maria telah dikenal sebagai Hawa yang baru. Tanggapan “ya” Maria (lihat Luk 1:38) telah menggantikan “tidak”-nya Hawa yang pertama, seperti Yesus – sang Adam yang baru – yang melayani dalam kehidupan baru dalam Roh bagi umat Allah (lihat 1Kor 15:22; 15:45). Dalam kerendahan hati dan kesetiaannya, Maria berdiri tegak sebagai sebuah tanda ciptaan baru ini.

Pada hari raya yang istimewa ini, kita secara khusus memandang kekudusan Maria yang secara unik dipilih sebelum dunia dijadikan, supaya kudus dan tak bercela di hadapan Allah (Ef 1:4). Dijaga dari noda dosa asal, Maria secara khusus terbuka bagi karya Roh Kudus dalam dirinya. Kata-katanya,“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), merupakan suatu pengudusan mendalam yang tidak pernah ditarik kembali, melainkan hanya semakin mendalam dan mendalam lagi sepanjang sisa hidupnya di dunia.

Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk membuang segala penghalang yang akan merintangi karya-Nya dalam diri kita masing-masing. Semoga kita semua dapat memberi tanggapan “ya” secara sempurna seperti yang dilakukan Maria, dengan demikian mengenal serta mengalami berkat-berkat Allah dan kasih karunia-Nya. Allah sedang memperbaharui seluruh ciptaan, demikian pula Dia ingin memperbaharui setiap dan masing-masing kita.

DOA: Bapa surgawi, kami mohon agar Engkau terus menciptakan kami kembali menurut gambar dan rupa-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjadi seperti Maria, yang dengan rendah hati merangkul kehendak-Mu dan bersukacita dalam kasih-Mu. Penuhilah diri kami dengan kehadiran-Mu, sementara kami menantikan kedatangan hari di mana kami akan dapat memandang Engkau – muka ketemu muka. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 06, 2011

DIA MEMBERI KEKUATAN KEPADA YANG LELAH DAN MENAMBAH SEMANGAT KEPADA YANG TIADA BERDAYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup & Pujangga Gereja, Rabu 7-12-11 )

Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.


Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10; Bacaan Injil: Mat 11:28-30
Mengapa engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel; “Hidupku tersembunyi dari TUHAN (YHWH), dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? YHWH ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan

YHWH mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yes 40:25-31)

Walaupun para nabi seringkali menggambarkan Allah sebagai Dia yang tak dapat disentuh (untouchable) dan jauh lebih berkuasa daripada apa yang kita dapat bayangkan, mereka (para nabi) juga menggambarkan Dia sebagai ‘seorang’ Allah yang sangat mengasihi anak-anak-Nya dan berkomitmen untuk menopang serta menolong mereka pada saat-saat anak-anak-Nya itu berada dalam kesulitan. “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes 40:29).

Namun demikian, pada kenyataannya kita seringkali merasa sepertinya Allah telah melupakan kita. Kita menggemakan kata-kata orang Israel seperti diucapkan sang nabi: “Hidupku tersembunyi dari YHWH, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (Yes 40:27). Bukankah tidak jarang kita merasakan seakan-akan Tuhan Allah tidak peduli atas segala kesusahan hidup kita? Namun sebaliknya, bukankah seringkali kita juga berdoa di depan sang Tersalib, namun lupa

bahwa Yesus wafat di atas kayu salib justru karena Dia memahami sekali kebutuhan-kebutuhan kita?

Karena kita hidup di tengah suatu lingkungan yang diwarnai dosa, dan karena kita hari demi hari berjuang melawan godaan-godaan dan kecenderungan kita untuk berdosa, maka tidak mengherankanlah apabila kita dapat mulai meragukan kepedulian Tuhan atas diri kita. Dalam situasi sedemikian, kita selalu dapat dikuatkan kembali dengan mengingat kebenaran-kebenaran tentang siapa Allah kita sesungguhnya. Seperti dikatakan di atas, Ia adalah ‘seorang’ Bapa yang sangat mengasihi kita sehingga Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita; membebaskan kita dari hukuman dan memberikan kehidupan kekal kepada kita (lihat Yoh 3:16-17). Kita tidak pernah dapat melakukan sendiri apa yang telah dicapai oleh Yesus! Allah itu mahakuasa dan mahakuat (lihat Yes 40:26), Ia yang memiliki kuasa untuk menyerahkan Putera-Nya sampai pada titik kematian di atas kayu salib dan kemudian membangkitkan-Nya kembali dari alam maut – Allah seperti ini tentunya dapat menegakkan dan menguatkan kita.

Setiap orangtua mengetahui apa artinya mengasihi anak mereka dengan sepenuh hati. Kasih orangtua itu hanyalah bayangan dari kasih Allah bagi kita semua! Orangtua mana yang menyerahkan anak mereka kepada kematian demi menyelamatkan orang lain? Inilah justru yang dilakukan oleh Bapa surgawi dengan segala senang hati – bagi kita, manusia: “Tetapi YHWH berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan” (Yes 53:10), sehingga dengan demikian kita dapat diampuni dan mengenal kasih-Nya dengan penuh keintiman.

Allah selalu setia dari masa ke masa. Sang pemazmur menulis: “Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. YHWH setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mzm 145:13). Ia tidak pernah membuang atau meninggalkan kita, tidak pernah menarik Roh-Nya dari diri kita. Dengan sabar Ia menantikan saat untuk menyatakan diri-Nya kepada hati kita masing-masing dan disambut dengan penuh rasa syukur dan kasih (lihat Why 3:20). Ini adalah Allah yang telah datang ke tengah-tengah kita dalam diri Yesus Kristus. Ini adalah Dia yang kita

nanti-nantikan kedatangan-Nya kembali. Oleh karena itu, janganlah sampai kita berputus-asa, melainkan menaruh kehidupan kita dalam tangan-tangan-Nya dan percaya bahwa Dia akan melakukan segala hal yang telah dijanjikan-Nya sementara kita mencari Dia dan mentaati perintah-perintah-Nya.

Santo Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provisi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis.

Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan

mempertobatkan orang-orang berdosa. Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat. Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar menerima undangan dari Roh Kudus untuk menerima segala berkat-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau adalah Imanuel – Allah beserta kita – yang senantiasa berada bersama aku dan saudari-saudaraku yang lain. Jauhkanlah keragu-raguan dari diriku bahwa Engkau sungguh ingin menolongku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Disember 05, 2011

PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA YANG HILANG

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven, Selasa 6-12-11 )

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13

Marilah kita berempati dengan sang gembala dalam perumpamaan ini dengan menempatkan diri sebagai dirinya. Apabila anda adalah gembala yang bertanggung jawab atas seratus ekor domba, apakah anda akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor domba yang hilang? Tidak seorang pun yang masih atau pernah berkecimpung di dunia bisnis akan melakukannya! Yang jelas seorang pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan (istilah kerennya: profit making) dan memahami manajemen risiko (risk management) tidak akan melakukannya. Orang itu mempertimbangkan lebih baik kehilangan seekor dombanya dan bekerja lebih keras untuk melindungi domba-dombanya yang masih ada.

Namun demikian, justru pesan Yesus kepada kita adalah yang terasa tak masuk akal itu. Ajaran-Nya terasa radikal, bukan? Nah, Yesus kita ini memang tidak berminat untuk terlibat dalam penghitunganbottom line, untung atau rugi, dan Ia juga tidak tertarik dengan cost analysis seperti saya, atau kita-kita ini yang sekolahnya di bidang ekonomi/bisnis. Yesus telah menginvestasikan dalam diri kita masing-masing gairah dan komitmen yang sama dalam jumlah dan substansinya, tidak peduli siapa kita ini dan jalan apa yang ditempuh oleh kita masing-masing.

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Kepada kita – satu per satu – Yesus memberi kesempatan untuk memeluk-Nya, merangkul diri-Nya. Bukankah ini adalah prinsip dasar cintakasih dan bela rasa yang kita sedang persiapkan guna merayakan Hari Natal?

Sebenarnya kita masing-masing adalah seekor domba yang hilang. Bayangkanlah di mana kita pada saat ini seandainya cara berpikir Yesus itu tidak berbeda dengan cara berpikir para pelaku bisnis yang menekankan perhitungan rugi-laba belaka: “Ah, biarlah kita menerima sedikit kerugian agar supaya dapat menyelamatkan margin keuntungan kita.” Lalu, pertimbangkanlah cintakasih begitu mengagumkan yang menggerakkan Yesus untuk mengorbankan segalanya untuk membawa kita kembali kepada hati-Nya. Kita berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan Allah, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes 55:8)! Dalam hal kebaikan, Allah kita memang Mahalain!

Dalam doa-doa kita hari ini, pertimbangkanlah bagaimana cara berpikir kita apabila dibandingkan dengan cara berpikir Yesus. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melihat keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan sesama kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, dan negeri kita tercinta mengalami kelimpahan berkat karena mengenal Kristus? Marilah kita bertanya kepada Roh Kudus, langkah-langkah apa yang harus kita ambil hari ini agar cara berpikir kita semakin dekat dengan cara berpikir Yesus. Memang hal ini tidak selalu mudah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus – sang Gembala Baik – tidak akan meninggalkan kita. Dan …… Roh Kudus-Nya akan mengajar kita agar cara-cara-Nya dapat menjadi cara-cara kita, dan pikiran-pikiran-Nya menjadi pikiran-pikiran kita. Marilah kita menjalani masa Adven ini dengan memuji-muji Yesus yang akan datang menyelamatkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau datang ke tengah dunia untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Aku mencintai Engkau, Yesus, dan akan selalu mengikuti jejak-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Disember 02, 2011

SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN !!!

( Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun B), 4-12-11 )

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.


Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu

Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Yes 40:1-5,9-11).Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: 2Ptr 3:8-14; Bacaan Injil: Mrk 1:1-8

Sekitar 500 tahun sebelum kedatangan Putera Allah sebagai Yesus dari Nazaret, seorang nabi menulis tentang sang Mesias yang diharap-harapkan kedatangan-Nya. Kata-kata yang diucapkannya menceritakan tentang tibanya suatu saat di mana seluruh dosa Israel akan diampuni dan saat di mana kesulitan dan penderitaan bagi Yerusalem akan berlalu. Hal itu adalah sebuah pesan akan datangnya kenyamanan dan damai-sejahtera. Sebuah pesan tentang restorasi dan pengharapan.

Yohanes Pembaptis memilih ayat-ayat khusus ini dari Kitab Yesaya untuk menggambarkan panggilan hidupnya sendiri. Sebagaimana juga seorang raja pada zaman kuno didahului oleh para bentaranya untuk mempersiapkan jalan bagi sang raja, maka Yohanes Pembaptis adalah sang bentara yang mempersiapkan jalan bagi Yesus: Ia mempersiapkan jalan di padang gurun untuk Yesus, meluruskan di padang belantara jalan raya bagi-Nya, menutup setiap lembah, meratakan setiap gunung dan bukit agar menjadi tanah yang rata dan dataran, dan mengajak orang-orang Israel untuk memandang surga (Yes 40:3-5; bdk. Mrk 1:1-3). Yohanes mengajak para pendengarnya untuk bertobat dari dosa-dosa dan mempersiapkan diri mereka untuk menyambut kedatangan Dia yang lebih besar daripada dirinya (Mrk 1:7-7).

Yesus memang telah datang ke tengah dunia. Setelah Ia bangkit dari antara orang mati, Yesus berjanji bahwa Dia akan datang kembali, kali ini sebagai seorang Raja. Sementara itu, kita telah melihat berbagai karya Roh Kudus terus berlangsung. Pada setiap zaman, Roh Kudus telah membangkitkan para pelayan/hamba yang akan berseru kepada kita agar kita “menyiapkan jalan” bagi kedatangan Yesus untuk kedua kalinya.

Dari para pelayan/hamba itu ada yang memanggil agar kehidupan doa kita diperdalam. Ada pula pelayan/hamba yang memanggil kita untuk bertobat dan meninggalkan hidup kedosaan kita. Siapa dari kita yang belum disentuh oleh kehidupan orang-orang kudus ini? Melalui para bentara yang mendahului kita ini, Roh Kudus ingin membimbing kita dan melindungi kita. Dia ingin menolong kita agar dapat melihat dosa-dosa kita dan menyemangati kita bilamana kita sedang sedang mengalami keputusasaan. Manakala kita sedang menderita, Roh Kudus sungguh ingin memegang tangan kita dan mendukung kita. Jika kita sedang ngawur kesana kemari, Dia ingin menjaga kita agar tetap berjalan di jalan yang benar.

Lebih dari segalanya, Roh Kudus ingin sekali menolong agar kita senantiasa memiliki pengharapan tinggi. Dia ingin agar kita mengetahui betapa terang benderang dan indahnya surga itu. Dia ingin agar kita bermimpi akan adanya sebuah dunia tanpa kemiskinan, tanpa perang, tanpa kebencian, dan tanpa dosa. Itulah sebabnya mengapa Dia ingin agar kita berdoa: “Datanglah, Tuhan Yesus.” (Why 22:20) Oleh karena itu marilah kita masing-masing mengatakan kepada Yesus, bahwa kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena Dia telah mengirimkan kepada kita para nabi-Nya, para kudus pendahulu kita yang memiliki suara-suara profetis, yang berseru, Siapkanlah jalan bagi Tuhan!”

DOA: Roh Kudus Allah, bekerjalah dalam diriku. Ratakanlah berbagai gunung dan bukit dalam diriku sehingga dapat menjadi jalan rata bagi kedatangan Yesus kembali kelak. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA AKU MEMBERITAKAN INJIL, AKU TIDAK MEMPUNYAI ALASAN UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Fransiskus Xaverius, Sabtu 3-12-11 )

Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keh


Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya. (1Kor 9:16-19,22-23)arusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil! Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadaku. Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan

Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

Cinta S. Paulus kepada Yesus Kristus diawali pada waktu dia dalam perjalanan ke Damsyik di mana dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit (Kis 9:1-9). Pada waktu itu dia masih bernama Saulus. Selama tiga hari setelah peristiwa tersebut, Paulus mengalami kebutaan. Dia tidak makan atau pun minum selagi dia – lewat doa-doanya dalam keheningan – berupaya untuk memahami apa yang telah dan sedang dikerjakan Tuhan atas dirinya. Bayangkanlah betapa berat beban dosa yang dirasakan menindih dirinya, teristimewa ketika dia mengingat dosa yang menyangkut pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani yang diperintahkan olehnya dan di mana dia sendiri turut ambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, begitu dia dibaptis, kesadaran Paulus akan kasih Allah dan kuasa Yesus yang bangkit langsung saja menggerakkan dia untuk mulai mewartakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:17-20).

Pengabdian Paulus yang penuh gairah kepada Yesus memampukan dirinya menanggung kesusahan dan oposisi terhadap dirinya karena dia mewartakan Injil. Paulus akan menanggung apa saja asal dia dapat memenangkan orang-orang kepada cintakasih Kristus – cintakasih yang telah mentransformir hidupnya sendiri. Paulus dapat melihat bahwa umat di Korintus cenderung untuk melakukan segala hal dengan semangat berapi-api – meski terkadang terasa berlebihan. Mereka merasa tertarik pada pengkhotbah-pengkhotbah (pewarta-pewarta) tertentu, lalu membentuk kelompok-kelompok yang sayangnya menjadi saling bersaing satu sama lain, agar memperoleh reputasi tertinggi. Dalam entusiasme itu, mereka kehilangan “kerendahan-hati” dan “cintakasih persaudaraan”. Paulus berupaya menyatukan mereka itu kembali.

Inilah sebabnya mengapa Paulus mengatakan kepada umat di Korintus: “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. …… Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor 9:19.22). Kemauan Paulus untuk berbagi Kabar Baik Yesus Kristus dengan siapa saja yang mau mendengarkan, sungguh mengena di jantung kesombongan dan sikap serta perilaku orang-orang Korintus yang suka terpecah-pecah dan saling bersaing secara tidak sehat.

Cintakasihnya kepada Kristus begitu berdampak pada dirinya, sehingga memungkinkan Paulus mengatasi masalah pemisahan antara orang Yahudi dan bukan-Yahudi (Yunani; kafir), hamba dan orang merdeka, perempuan dan laki-laki, karena dia sudah mempunyai keyakinan teguh bahwa semua adalah satu dalam Kristus Yesus (lihat Gal 3:28). Bagi Paulus, satu-satunya garis pemisah adalah antara mereka yang mengenal serta mengalami kasih Allah yang dicurahkan dalam Kristus, danmereka yang belum mendengar mengenai Sang Juruselamat atau mengalami sentuhan-Nya. Bagi Paulus, hal-hal lainnya tidak perlu dipikirkan, demikian pula seharusnya dengan sikap yang harus diambil oleh umat di Korintus dan kita yang telah membaca suratnya ini.

S. Fransiskus Xaverius. Pada hari ini kita merayakan pesta S. Fransiskus Xaverius [1506-1552], yang bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesiia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Cina yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kasih-Mu kepada kami sehingga hidup kami dapat ditransformasikan. Kami ingin menjadi seperti Paulus dan Fransiskus Xaverius, para pewarta Kabar Baik sejati yang menjadi segala-galanya bagi semua orang, sehingga kami juga dapat menunjukkan apa artinya menjadi anak-anak Allah dan pewaris Kerajaan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 01, 2011

KARENA KITA MENERIMA SEGALANYA YANG BAIK DARI ALLAH

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Jumat 2-12-11 )

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Ordo II/Klaris Kap.

Bukankah hanya sedikit waktu lagi, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan? Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN (YHWH), dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel! Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, dan yang memasang jerat terhadap orang yang menegor mereka di pintu gerbang, dan yang mendesak orang benar dengan alasan yang tidak-tidak. Sebab itu beginilah firman YHWH, Allah kaum keturunan Yakub, Dia yang telah membebaskan Abraham: “Mulai sekarang Yakub tidak lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat. Sebab pada waktu mereka, keturunan Yakub itu, melihat apa yang dibuat tangan-Ku di tengah-tengahnya, mereka akan menguduskan nama-Ku; mereka akan menguduskan Yang Kudus, Allah Yakub, dan mereka akan gentar kepada Allah Israel; orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.” (Yes 29:17-24)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Mat 9:27-31

“Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN (YHWH), dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!” (Yes 29:19).

Siapa yang dimaksudkan dengan orang-orang ini? Siapakah mereka sebenarnya? Apakah mereka segerombolan orang-orang pengecut, orang-orang lembek yang tidak mempunyai nyali untuk turut serta berpetualang dalam dunia yang keras dan penuh tipu-daya ini? Sama sekali bukan! Orang-orang yang dikatakan “lembek” ini adalah orang-orang yang mengakui ketergantungan mereka pada Allah dan tidak memperlakukan orang-orang lain secara angkuh-sombong. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki disposisi batin “kedinaan” / “kerendahan” di hadapan Allah. Seseorang yang sungguh rendah hati (dina) mengakui kenyataan bahwa dia menerima segalanya yang baik dari Allah.

Rendah atau dina di hadapan Allah samasekali tidak berarti “lembek”. Yesus adalah yang paling rendah hati di antara manusia, namun Ia juga memiliki karakter yang paling kuat di antara semua orang. Santo Paulus dengan baik menggambarkan hal itu seperti berikut: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:511). Dengan demikian, barangsiapa merendahkan diri mereka dengan mengalami pencobaan-pencobaan di bawah tangan Allah dan bersekutu dengan Yesus yang tersalib, maka orang itu pada akhirnya akan ditinggikan dan ikut ambil bagian dalam kemuliaan Allah. Tindakan merendahkan diri kita sendiri dan mengalami pencobaan-pencobaan dengan cara begini membutuhkan kekuatan yang datang dari Allah sendiri, hal mana sangat bertentangan dengan kepengecutan atau kelembekan pribadi.

Namun demikian, apa artinya kerendahan-hati atau kedinaan tanpa disertai iman? Sebaliknya, apa artinya iman tanpa kerendahan-hati atau kedinaan? Kedua hal itu terkait satu sama lain dengan intimnya, karena keduanya adalah sikap-sikap keterbukaan kepada Allah dan penundukkan diri penuh keyakinan kepada rahmat-Nya. Orang yang angkuh tidak akan menunggu Allah untuk membangkitkannya. Mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada kekuatan mereka sendiri, juga segala sumber-daya yang mereka miliki. Mereka berkata: “God only helps those people who help themselves!”, dan mereka tidak menyukai kata-kata indah dalam lagu “YOU RAISE ME UP” dari Josh Groban.

Bagaimana dengan orang-orang yang rendah-hati atau dina? Mereka memiliki kekuatan untuk menantikan tindakan Allah mendatangi mereka. Mereka menaruh kepercayaan pada Yesus seperti orang-orang buta berteriak memohon belas kasihan. Yesus bertanya kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” (lihat Mat 9:28; dari bacaan Injil hari ini), lalu mereka pun menjadi sembuh.

Pada masa Adven ini, ketika kita mendekati Yesus dalam doa, ingatlah SIAPA Dia sesungguhnya dan siapa kita di hadapan diri-Nya. Manakala peristiwa-peristiwa buruk menimpa diri kita pada saat-saat di mana kita tidak siap – ketika orang-orang yang kita kasihi membuat diri kita kecewa dan sedih, ketika kita digoda untuk terjebak dalam berbagai urusan dunia – marilah kita mengingat bahwa kita dikasihi oleh Allah dengan teramat sangat. Pada saat Yesus datang kepada orang-orang buta, maka kegelapan mereka dilenyapkan. Pada saat Ia masuk ke dalam hati kita, maka kegelapan hati kita pun akan hilang lenyap.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memenuhi setiap kebutuhanku melalui Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus! Aku membuka lebar-lebar pintu hatiku bagi kuasa rahmat-Mu. Kasih-Mu dan kerahiman-Mu adalah sukacita dan kekuatanku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS