Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Disember 15, 2011

KESAKSIAN YANG LEBIH PENTING DARIPADA KESAKSIAN YOHANES PEMBAPTIS

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven, Jumat 16-12-11 )

Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa telah mengutus Aku. (Yoh 5:33-36)

Bacaan Pertama: Yes 56:1-3a,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8

Allah telah memberkati kita dan akan terus memberkati kita, seperti dikatakan oleh sang pemazmur: “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!” (Mzm 67:7-8); Ia ingin mengumpulkan semua orang kepada diri-Nya, bahkan orang-orang asing bukan Yahudi dan orang-orang yang terbuang atau para sampah masyarakat (lihat Yes 56:6-8), juga mereka yang tidak merasa mengenal-Nya dengan baik. Dalam kemurahan hati-Nya, Allah mengutus para nabi untuk mengajarkan umat-Nya tentang kebenaran; Yohanes Pembaptis adalah nabi-Nya yang terakhir dan terbesar dari para nabi tersebut, jadi bukan orang lain! Tidak ada nabi lainnya yang menyusul !!!!! (baca dan renungkanlah Ibr 1:1-4).

Kebesaran jiwa Yohanes Pembaptis dapat kita lihat ketika dia berkomentar tentang Yesus: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11). Sebagai seorang saksi Yesus yang sejati, dia mengarahkan perhatian orang-orang kepada Yesus, dan untuk ini Yesus memuji Yohanes, mengakui Yohanes Pembaptis sebagai seseorang yang memberikan kesaksian tentang kebenaran (lihat Yoh 5:33). Yesus tidak memanggil Yohanes untuk membela diri-Nya; Dia memanggilnya sebagai seorang saksi yang dapat diandalkan demi kepentingan kita, agar kita dapat mendengarkan testimoninya.

Sekarang, inilah Pribadi yang dibicarakan oleh Yohanes, Ia yang membuat mukjizat-mukjizat dan banyak tanda heran lainnya. Karya-karya Yesus bahkan merupakan testimoni yang lebih besar daripada kata-kata baik yang diucapkan Yohanes tentang diri-Nya. Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan ini yang telah jauh-jauh hari dikatakan (dinubuatkan) oleh para nabi sebagai pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan oleh Mesias. Pekerjaan-pekerjaan itu yang dilakukan oleh Yesus itulah yang memberi kesaksian tentang Dia bahwa Bapa surgawi telah mengutus-Nya (lihat Yoh 5:36).

Kita mempunyai banyak saksi akan kebenaran dan kita memerlukan testimoni dari para saksi ini guna berbicara kepada hati kita. Dalam Kitab Suci, ada saksi Hukum, nabi-nabi, nabi istimewa Yohanes Pembaptis dan para rasul – semuanya berbicara mengenai Yesus dan membantu kita untuk mengenal Yesus dengan lebih mendalam lagi. Melalui mereka semua dan juga melalui karya-karya Yesus yang dilakukan-Nya dengan penuh keajaiban, Roh Kudus berbicara kepada kita, untuk membuat kemuliaan Yesus dikenal.

Selagi kita mendekati perayaan besar berkaitan dengan kedatangan Yesus ke tengah dunia, kita dapat memohon kepada Roh Kudus untuk memberi kesaksian dalam hati kita tentang kebenaran Yesus. Marilah kita sungguh terbuka bagi testimoni Roh Kudus ini, membaca Kitab Suci setiap hari, dan memberikan waktu kepada-Nya dalam doa dan ungkapan syukur kita. Selagi Roh Kudus mengajar kita tentang Yesus, kita pun akan digerakkan untuk lebih lagi mengasihi Allah dan sesama kita.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau adalah Roh Kebenaran. Engkau selalu beserta kami dan kami membuka hati kami bagi sabda kebenaran-Mu. Luaskanlah pengetahuan dan pemahaman kami tentang Yesus dan buatlah kasih kami kepada-Nya agar menjadi semakin mendalam, juga kasih kami kepada orang-orang lain yang begitu dikasihi-Nya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Disember 14, 2011

KASIH SETIA-KU TIDAK AKAN BERANJAK DARI PADAMU

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven, Kamis 15-12-11 )

Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak daripada yang bersuami, firman TUHAN (YHWH). Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi. Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu. Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, YHWH semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati, YHWH memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? firman Allahmu. Hanya sesaat lamanya aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman YHWH, Penebusmu. Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman YHWH, yang mengasihani engkau. (Yes 54:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6,11-13; Bacaan Injil: Luk 7:19-23

Kasih Allah kepada umat-Nya, Israel, seringkali kita baca sepanjang Kitab Suci Perjanjian Lama. Yesaya Kedua (Deutero-Yesaya [lihat Yes 40-55 dan Yes 34-35]; seorang nabi yang hidup sekitar 150 tahun kemudian namun menulis seturut tradisi Yesaya yang pertama), berbicara kepada bangsa Israel yang hidup dalam pengasingan setelah Raja Babel, Nebukadnezar (605-562 SM) menaklukkan negeri Yehuda dan menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci (587 SM). Nubuatan dari Deutero-Yesaya adalah untuk memberikan pengharapan kepada umat Allah.

Pengharapan itu bahkan melampaui apa yang dilihat oleh nabi Deutero-Yesaya dalam restorasi Yerusalem dan peresmian kembali Bait Suci yang kedua di tahun 515 SM. Sang nabi di sini mengacu kepada seorang perempuan mandul yang akan mempunyai lebih banyak anak daripada seorang perempuan daripada yang bersuami (lihat Yes 54:1). Anak-anak yang dilahirkan oleh Israel adalah bangsa-bangsa kafir, karena keselamatan datang orang-orang Yahudi melalui Yesus dari Nazaret (lihat Yoh 4:22).

Pada waktu Putera Allah datang ke tengah dunia sebagai seorang Yahudi, Dia mengumpulkan semua orang yang mengikut-Nya ke dalam Israel milik Allah (lihat Gal 6:16). Melalui Yesus, bangsa-bangsa kafir dapat menyembah Allah Israel, dengan demikian mereka menjadi umat pilihan Allah dalam tubuh Kristus (Tubuh Kristus = Gereja). Dalam Tubuh Kristus ini, kita semua mencicipi buah-buah pertama kehidupan yang telah dijanjikan kepada kita dan yang kita telah kehilangan karena kejatuhan manusia dalam dosa. Pengharapan kita besar karena Yesus adalah Kepala kita dan jalan menuju kehidupan. Melalui Dia dan dalam Dia, kita ambil bagian dalam kehidupan yang dijanjikan dalam nubuatan ini.

Dalam sebuah metafora lainnya, nabi Deutero-Yesaya menubuatkan restorasi relasi antara Israel dan Allah seperti halnya perkawinan, khususnya perkawinan seorang janda (Yes 54:4-5). Perkawinan adalah perjanjian suci, dan Allah tidak pernah melupakan perjanjian-Nya untuk menjadi Allah Israel. Tradisi Kristiani mengikuti metafora perkawinan antara Allah dan Israel, dengan menggambarkan Yesus sebagai sang mempelai laki-laki dan Gereja sebagai mempelai perempuan-Nya selagi Dia menggenapi nubuatan tentang sebuah perjanjian yang baru (lihat Yer 31:31-34).

Dengan membuat alusi kepada air bah pada zaman Nuh, nabi Deutero-Yesaya membuat ringkasan janji penebusan Allah dalam situasi kedosaan yang tidak dapat ditoleransi (Yes 54:9-10). Air sebagai pembersih dosa menjadi perlambangan Roh Allah dalam nubuatan nabi Yehezkiel (Yeh 43:2-5; 47:1-12). Gereja memahami air itu melambangkan pelepasan Roh dan dengan demikian memandangnya sebagai pencerminan kehidupan ke dalam mana kita dibawa melalui air baptisan.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah pengarang kehidupan dan pengharapan kami adalah Engkau saja. Engkau senantiasa mengasihi umat yang telah Kaupilih menjadi milik-Mu dan melalui Yesus Engkau telah menjadikan kami bagian dari umat itu. Terima kasih, Bapa, untuk kasih-Mu yang tak terhingga kepada kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GAMBARAN TENTANG YESUS – SEBUAH PERMENUNGAN MASA ADVEN

Bacaan Injil: Luk 7:19-23 – Hari Rabu Pekan III Adven ( Tahun II )

Yohanes Pembaptis dipanggil dan diutus sebagai perintis jalan bagi sang Mesias. Karena keculasan hati manusia, Yohanes dijebloskan ke dalam penjara. Dari suatu wilayah luas-terbuka dan bebas-lepas, ia sekarang berada dalam sebuah ruang sel tertutup dan sempit …… bagaikan seekor burung yang digunting sayap-sayapnya.

Dalam situasi yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila seseorang sampai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengenai masa lampau kehidupannya, juga mengenai tujuan hidupnya. Begitu pula halnya dengan Yohanes!

Kiranya menurut pandangan Yohanes, pribadi Yesus itu tidak cocok dengan beberapa segi pemahamannya tentang sosok seorang Mesias. Gambarannya tentang Yesus tidak sesuai dengan apa yang ia telah terima dengan ketulus-ikhlasan hati dari berbagai nubuatan Perjanjian Lama. Yesus itu dibayangkannya sebagai seorang yang sudah mengayunkan kapak guna menebang pohon beserta akar-akarnya; atau sebagai orang yang memegang nyiru untuk menapis dengan cermat lalu menyimpan gandum dalam lumbungnya, sedangkan sekam yang tinggal dibuangnya dalam api yang tak terpadamkan: “Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan” (Luk 3:17).

Dalam penjara Yohanes menyadari bahwa Yesus bertindak lain sekali dengan persepsinya tentang Yesus. Yesus tidak memutuskan buluh yang patah terkulai dan tidak memadamkan sumbu yang pudar (lihat Yes 42:2). Yesus lebih menyerupai Hamba YHWH, sesuai yang dilukiskan dalam Kitab Yesaya (lihat Yes 52:13-53:12), daripada seorang nabi besar dan dahsyat-perkasa, yang dengan segala kekuatannya memusnahkan ketidakadilan dan mendirikan sebuah kerajaan keadilan di atas bumi ini. Singkatnya: Yesus tampak lain daripada apa yang diinginkan/dibayangkan oleh Yohanes.

Kita tahu bahwa pada awalnya para rasul juga mempunyai gambaran lain tentang Yesus. Ingatlah peristiwa di mana Simon Petrus dihardik oleh Yesus karena dia berpandangan bahwa “Mesias, Anak Allah” tidak cocoklah untuk menderita sengsara (lihat Mat 16:22-23). Hal yang sama terdapat pada banyak orang Yahudi pada zaman itu, terutama di kalangan para pemuka agama bangsa itu. Akan tetapi Yohanes mengambil sikap sangat tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan-kebimbangannya sendiri, yakni dia minta penjelasan dari Yesus sendiri. Hal inilah yang menggambarkan Yohanes sebagai “pahlawan kepercayaan” yang luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan-kebimbangannya sendiri tidak mempengaruhi kepercayaannya kepada Yesus. Betapapun lainnya sosok Yesus daripada yang dibayangkan olehnya, Yohanes tetap setia kepada-Nya.

Oleh karena itu, disuruhnyalah dua orang muridnya bertanya kepada Yesus apakah Ia-lah Yang-Akan-Datang itu, atau seorang lain yang harus dinantikan (Luk 7:18-20). Jawaban yesus cocok seluruhnya dengan tindakan-Nya; cintakasih, bela rasa dan kasih-Nya terhadap orang miskin, menderita sakit-penyakit dan berkekurangan. Jawaban itu diakhiri-Nya dengan suatu peringatan yang bukan hanya bagi Yohanes, melainkan juga bagi semua orang segala zaman yang berupaya mencari relasi dengan Yesus: “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Luk 7:23).

Apa yang terjadi pada diri Yohanes dapat terjadi pula pada diri setiap insan. Gambaran yang dimilikinya tentang Yesus mungkin saja tidak cocok dengan kenyataan. Semakin kita menyerahkan diri kepada Yesus Kristus, semakin besar pula kemungkinan timbulnya pertanyaan dan kebimbangan. Namun justru dalam situasi sedemikianlah akan menjadi nyata kebesaran dan kekuatan iman-kepercayaan kita. Yohanes yang seakan-akan berdiri di ambang peralihan dari masa lama kepada masa baru, menunjukkan jalan yang harus kita tempuh: Pada jalan ini dia masih memegang peranan yang luhur sebagai pendahulu dan perintis bagi Yesus Kristus.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 13, 2011

“YESUS MEMANGLAH SANG MESIAS YANG DINANTIKAN ITU”

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes dari Salib, Rabu 14-12-11 )

Ketika Yohanes mendapat kabar tentang

semua peristiwa itu dari murid-murid-Nya, ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata, “Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya


Bacaan Pertama: Yes 45:6b-8,18,21b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14
kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Lalu Yesus menjawab mereka, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.” (Luk 7:18-23)

Yohanes Pembaptis sedang berada dalam penjara Herodes (Luk 3:19-20), menghadapi kemungkinan untuk dihukum mati. Dalam kegelapan selnya, kiranya dia juga bertanya kepada dirinya sendiri apakah “nasib” seperti itu memang ada dalam rencana Allah? Apakah ada yang salah dalam khotbah-khotbahnya? Salahkah dia jikalau berani berkonfrontasi dengan raja Herodes? Apakah dia membuat kesalahan ketika mengatakan kepada para muridnya bahwa Yesus adalah sang Mesias? Semua pertanyaan ini telah mendorong dirinya mengutus beberapa orang muridnya untuk bertemu dengan Yesus dan bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu?” (Luk 7:19). Dan jawaban dari Yesus barangkali membuatnya menjadi terkaget-kaget. Yesus mengacu pada segala mukjizat yang dibuat-Nya untuk kepentingan orang banyak (Luk 7:22), bahkan ketika Dia “membiarkan” Yohanes – sepupunya sendiri – untuk “tamat” dalam penjara.

Hidup dalam/oleh iman tidak selalu mudah. Melakukan discernment atas panggilan Allah bagi kehidupan kita, pada waktu kita sedang mempertimbangkan pengambilan keputusan-keputusan sulit, menjalani penderitaan karena sakit-penyakit – semua dapat menyangkut banyak kesakitan serta kepedihan. Seringkali jawaban-jawaban atas doa-doa kita tidak langsung datang, atau tidak datang dengan cara seperti kita harapkan atau inginkan, sehingga kita menemukan diri kita berada dalam pergumulan batin (katakanlah intra-personal conflict). Isu-nya di sini adalah apakah


Yesus sungguh mendengarkan doa-doa kita dengan penuh bela rasa. Satu alasan mengapa Yesus tidak selalu menjawab doa-doa kita pada saat dan dengan cara seperti kita inginkan, adalah karena Dia ingin memberikan kepada kita sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang hanya dapat kita terima selagi kita bertekun dalam iman. Yesus mengetahui bahwa apabila kita sampai ke titik penyerahan diri secara lengkap-total kepada-Nya dan kepada rencana-Nya atas diri kita, maka kita akan mengenal dan mengalami kedamaian yang tak tergoyahkan. Yesus menginginkan iman kita. Dia mencari hati yang akan menjadi semakin kecil agar Dia dapat menjadi semakin besar – suatu rumusan kehidupan yang diproklamasikan oleh Yohanes Pembaptis (Yoh 3:30).kita akan menaruh kepercayaan kepada Tuhan Yesus dan menggantungkan diri kepada kasih dan hikmat-Nya, ataukehilangan iman-kepercayaan kepada-Nya.

Dalam bacaan pertama ada tertulis: “Akulah TUHAN (YHWH) dan tidak ada yang lain” (Yes 45:18). Marilah kita masing-masing melakukan pemeriksaan batin untuk mengidentifikasikan apa saja yang menggoda kita sampai kehilangan kepercayaan kepada Allah. Di sinilah pergumulan itu terjadi. Di sinilah kita mempunyai kesempatan untuk menjadi kecil – melepaskan rencana-rencana “hebat dan besar” kita sendiri, membuang rasa takut kita tentang apa yang akan terjadi, dan

percaya penuh keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan kepada kita hikmat-kebijaksanaan, kekuatan dan kasih yang kita butuhkan.

Santo Yohanes dari Salib [1542-1591]. Pada hari ini kita memperingati Santo Yohanes dari Salib (Juan de la Cruz). Imam Karmelit ini adalah salah seorang teolog-mistik terbesar dalam sejarah Gereja dan pendiri Ordo Karmelit tak berkasut. Sebagai seorang Pujangga Gereja, gelarnya adalah ‘Doktor Teologi Mistik (Inggris: Doctor of Mystical Theology). Yohanes kuliah di Universitas Salamanca. Dia kemudian menginisiasi pembaharuan-pembaharuan dalam ordo Karmelit karena menurut pandangannya kehidupan para biarawan karmelit itu terlalu santai dan mewah. Dalam gerakan pembaharuan itu Yohanes bekerja sama dengan Santa Teresa dari Avila yang jauh lebih tua umurnya. Yohanes adalah seorang pencinta Kristus, seorang mistikus … dan dia menderita demi Yesus yang dikasihinya. Dia dipenjarakan dalam ruangan bawah-tanah biara di Toledo oleh saudara-saudaranya para biarawan Karmelit sendiri. Terjadilah mukjizat setelah 9 bulan dia meringkuk dalam penjara. Yohanes secara ajaib dapat melarikan diri dari biara di Toledo dan berlindung di biara San Jose. Setelah itu Yohanes banyak menulis tentang mistisisme, salah satu bukunya adalahMendaki gunung Karmel. Dari cerita singkat berkaitan dengan Santo Yohanes dari Salib ini, sekali lagi kita diyakinkan, bahwa kita tidak dapat membatasi bagaimana dan/atau di mana Allah akan bekerja! Allah kita itu ‘Mahalain’, tentunya dalam arti yang baik. Kita tidak mungkin lebih tahu daripada Allah yang Mahatahu!

DOA: Tuhan Yesus, aku mempersembahkan segala pertanyaanku, rasa takutku dan kelemahanku. Biarlah hidup-Mu meningkat dalam diriku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya agar dipimpin oleh Roh Kudus-Mu saja, sehingga aku akan mendengarkan sabda-Mu dan menaruh kepercayaan kepada-Mu, hari ini dan selamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Disember 12, 2011

MARILAH KITA BERBALIK DARI KEHIDUPAN DOSA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir, Selasa 13-12-11 )

Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan! Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada TUHAN (YHWH) ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap.

“Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama YHWH, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku. Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu


Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,6-7,17-19,23; Bacaan Injil: Mat 21:28-32
Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama YHWH, yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.” (Zef 3:1-2,9-13)

Zefanya mempunyai wawasan kenabian bahwa orang-orang berdosa dan sombong akan dihancurkan sementara sebuah bangsa yang dimurnikan, yang terdiri dari mereka yang rendah hati, miskin dan lemah – sisa Israel – akan bertahan di bawah perlindungan-Nya. “Hai kota yang penuh penindasan! Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada YHWH ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap” (Zef 3:1-2). Kata-kata ini mengungkapkan dengan baik kondisi universal dari kemanusiaan yang sedang jatuh menuju kehancuran.

Konsili Vatikan II, dalam ‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini’, mengungkapkan hal yang kurang lebih senada: “Manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awalmula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk daripada Sang Pencipta (lihat Rm 1:21-25)” (Gaudium et Spes, 13).

Nabi Zefanya belakangan mengungkapkan banyak janji yang telah dibuat oleh Allah bagi mereka yang mencari perlindungan pada-Nya (Zef 3:9-13). Janji restorasi (pemulihan) dipenuhi secara definitif dalam kedatangan Yesus, sang Mesias. Karena banyak orang pada masa kehidupan Zefanya sudah merasa lelah terhadap dunia, realitas dosa, dan efek-efek dosa dalam kehidupan mereka, maka mereka memandang janji-janji YHWH tersebut sebagai sesuatu yang sungguh memikat.

Pada hari inipun kita menemukan janji ini yang mengundang kita masing-masing. Akan tetapi kita harus bertanya kepada diri sendiri: “Mengapa realitas janji ini tidak lagi menjadi bagian dari pengalaman kita?” Alasannya adalah, bahwa Allah telah memberikan kepada kita “kehendak bebas”; dan seringkali kita menggunakan energi manusiawi kita untuk melawan Tuhan Allah – bukan untuk mematuhi perintah-perintah-Nya (kita menyalahgunakan kehendak bebas kita). Kita akan ikut ambil bagian dalam realitas ini sepanjang kita merangkul Yesus, Dia yang adalah pemenuhan nubuat ini. Kita akan ikut ambil bagian sepenuhnya pada saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya kelak.

Kita seharusnya terhibur dalam kenyataan bahwa bahkan sekarang pun kita mengenal buah-buah pertama dari janji Allah melalui karya Roh Kudus dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, baiklah kita berbalik dari kehidupan dosa, merangkul Tuhan, dan memperkenankan Roh Kudus untuk secara mendalam bekerja dalam diri kita. Agar dapat melakukan hal ini, kita harus melakukan suatu pemeriksaan batin secara khusus dan menyiapkan diri untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dalam masa Adven ini.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami yang suka menyalahgunakan kehendak bebas yang telah Kauanugerahi kepada kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bimbinglah kami pada waktu melakukan pemeriksaan batin secara khusus, sehingga kami pun dalam menyiapkan diri dengan baik untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dalam masa Adven ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Disember 11, 2011

MARILAH KITA BELAJAR DARI YESUS SENDIRI

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven, Senin 12-12-11 )

Suster-suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus ( Sorores Missionariae Clarissae A SS Sacramento ) [MC]: HARI RAYA SP MARIA YANG TETAP PERAWAN, BUNDA ALLAH PENCIPTA SURGA DAN BUMI GUADALUPE, Pelindung Utama Tarekat

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Jawab Yesus kepada mereka, “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.” Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Yesus pun berkata kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mat 21:23-27)

Bacaan pertama: Bil 24:2-7,15-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Yesus dari Nazaret menghayati suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kedamaian dan sukacita yang berasal dari Allah sendiri, namun kita juga mengetahui bahwa kehidupan sedemikian bukanlah kehidupan yang mudah bagi-Nya. Di samping penderitaan sengsara yang ditanggung-Nya untuk dosa-dosa kita, Dia terus saja menghadapi oposisi dari para pemuka/pemimpin agama Yahudi yang menentang diri-Nya, malah senantiasa mencoba menjebak-Nya agar terperangkap oleh ucapan-ucapan-Nya ketika mengajar khalayak ramai.

Yesus bukannya tidak mengetahui atau menyadari kebutaan, kedegilan dan kekerasan-kepala para lawan-Nya. Setiap kali mereka mencoba menjebak-Nya atau menuduh diri-Nya, Yesus selalu menanggapi semua itu dengan hikmat-kebijaksanaan, yang tidak hanya mampu membungkam para lawan-Nya, melainkan juga menawarkan kepada mereka kesempatan-kesempatan untuk bertobat dan menerima “pesan keselamatan”-Nya. Marilah sekarang kita mengingat kembali beberapa tanggapan Yesus itu: (a) “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7); (b) “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (Mat 19:17); (c) “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Mrk 12:17).

Yesus seringkali mau menjawab secara langsung pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada-Nya. Sebaliknya, jawaban-jawaban diberikan oleh-Nya dengan cara-cara yang menyingkap topeng ketidakpercayaan para penanya-Nya dan membungkam juga orang-orang itu. Patut kita catat, bahwa orang-orang yang suka mengajukan pertanyaan jebakan kepada Yesus pada masa itu dikenal sebagai orang-orang berhikmat. Yesus memberi tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan menjebak dari para lawan-Nya, tidak dengan kemarahan atau kepahitan, melainkan dengan penuh hikmat dan kasih yang berasal dari relasi-Nya yang intim dengan Bapa-Nya di surga seperti dikatakan-Nya sendiri ketika bersaksi tentang diri-Nya: “Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga menjadi heran” (Yoh 5:20). Kehidupan doa Yesua dan perhatian-Nya yang mendalam tentang pimpinan Roh Kudus merupakan sumber kasih-Nya, hikmat-Nya, dan kekuatan-Nya.

Tidak ada seorang pun dari kita yang kebal terhadap penolakan, tuduhan, atau pengejaran serta penganiayaan selagi kita mengikuti jejak Yesus. Akan tetapi, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita dijadikan-Nya “ciptaan baru” dan dibawa semakin dekat lagi dengan hati Bapa surgawi. Dengan mencari keintiman yang lebih mendalam dengan Tuhan melalui doa-doa, liturgi – teristimewa Ekaristi, dan juga pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, maka kita pun belajar untuk menanggapi berbagai dari para lawan kita – dengan kasih dan hikmat Allah sendiri. Sekarang, selagi kita memohon kepada Allah untuk diberikan hikmat-Nya dan hati yang dipenuhi kasih, kita membuka diri kita bagi kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan itu, sehingga kita pun dapat menjadi semakin serupa dengan Yesus, yang selalu berbicara tentang kebenaran dengan penuh kasih.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh Roh Kudus-Mu, transformasikanlah hati kami dan tariklah kami agar dapat semakin dekat dengan Bapa surgawi. Biarlah Roh Kudus-Mu membimbing kami, memimpin kami, memberdayakan kami agar dapat hidup sehari-hari dengan cara yang menyenangkan hati-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Disember 09, 2011

SIAPAKAH ENGKAU ?

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III (Tahun B), 11-12-11 )

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28)

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11;Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24

“Siapakah engkau?” (Yoh 1:19). Dibuat “bingung” oleh apa yang mereka lihat dan dengar, sekelompok pemuka/pemimpin agama mendekati Yohanes Pembaptis dengan sebuah pertanyaan fundamental ini. Yohanes memang berpenampilan sangat lain apabila dibandingkan dengan orang-orang pada masa itu, juga caranya bertutur-kata: polos, lugas dan straight to the point. Dia adalah seorang “tanda lawan” pada zamannya, dan para pemuka agama itu sungguh ingin mengetahui mengapa sosok Yohanes Pembaptis itu lain daripada yang lain? Oleh karena itu mereka mengutus beberapa orang untuk mengajukan pertanyaan ini kepada Yohanes Pembaptis: “Siapakah engkau?”

Tiga tahun kemudian, para pemuka agama itu menjadi semakin bingung dan risau, maka mereka mengajukan pertanyaan yang sama kepada Yesus, sang Rabi dari Nazaret. Apa yang sebenarnya membuat dua orang pribadi ini berbeda secara radikal dengan anggota masyarakat di Israel masa itu pada umumnya? Perbedaannya adalah dalam hal kehadiran dan kuasa Roh Kudus dalam diri kedua orang itu. Mereka berbicara dan bertindak-tanduk dengan keyakinan teguh bahwa Allah beserta mereka.

Seperti Yohanes dan Yesus, kita masing-masing pun diharapkan untuk bersikap dan berperilaku sebagai seorang “tanda lawan” dalam masyarakat kita masing-masing. Relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap Roh Kudus seharusnya mendorong orang untuk bertanya tentang diri kita “Siapakah orang ini?” Setiap dan masing-masing kita memiliki Roh dari Tuhan yang berdiam dalam diri kita, dan kehadiran Roh ini mempunyai potensi untuk membuat diri kita masing-masing menjadi berbeda secara radikal dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Nilai-nilai yang kita anut, kemauan kita untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, damai-sejahtera kita, dan pengharapan kita – semua ini dapat berbicara panjang-lebar kepada dunia di sekeliling kita.

Sebagai umat Kristiani, kita dimaksudkan untuk ikut ambil bagian dalam suatu relasi yang hidup dengan Tuhan. Melalui Roh Kudus-Nya kita dapat mengetahui pikiran Allah, seperti yang ditulis oleh Paulus: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16). Belas kasihan yang kita tunjukkan kepada orang-orang lain dapat merupakan percerminan dari “kasih yang menebus” (redeeming love) Bapa surgawi yang bekerja melalui diri kita. Melalui kata-kata yang kita ucapkan, Allah sendiri dapat membuat kenyang rasa lapar orang-orang akan kebenaran.

Kita mempunyai suatu panggilan yang secara intim terjalin dengan kehidupan Yesus. Sebab itu dalam masa Adven ini, marilah kita mohon kepada Allah agar disegarkan kembali dengan pencurahan Roh Kudus-Nya, agar kita dapat menjadi para pelayan sabda-Nya, memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus, menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menyembuhkan mereka yang menderita sakit-penyakit, termasuk menyembuhkan mereka yang sakit dan menderita karena luka-luka batin.

Doa Santo Paulus kepada umat di Tesalonika sekitar 2.000 tahun lalu masih berlaku bagi diri kita, para murid Yesus di abad ke-21 ini: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semora roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:23-24). Dengan demikian, kita dapat dipisahkan serta dibedakan sebagai “terang” dalam dunia yang gelap ini. Kesaksian hidup kita pun dapat menyebabkan orang-orang lain bertanya: “Siapakah engkau?”

DOA: Tuhan Yesus, dari generasi ke generasi Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar dapat memberitakan Kabar Baik ke tengah-tengah dunia. Biarlah lewat karya Roh Kudus dalam diriku hari ini, aku dapat memuliakan nama-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ELIA SUDAH DATANG DAN DIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven, Sabtu 10-12-11 )

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13)

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19

Bertahun-tahun lamanya sebelum kelahiran Yesus Kristus, nabi Maleakhi mempermaklumkan bahwa nabi Elia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan hari YHWH:“Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Empat ratus tahun kemudian, Simon Petrus memproklamasikan bahwa “Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Dalam Yesus, “hari TUHAN” sudah dekat. Namun tidak kembali-kembalinya Elia membingungkan para murid. Bukankah Elia harus datang dulu sebelum kedatangan sang Mesias?

Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Elias telah datang dan menderita di tangan orang-orang yang tidak percaya (Mat 17:12). Dari kata-kata Yesus, para murid memahami bahwa yang dimaksudkan oleh-Nya adalah Yohanes Pembaptis, bentara Tuhan yang dipenggal kepalanya oleh Herodus (lihat Mat 14:1-12).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Elia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang “radikal”. Dua-duanya tinggal di padang gurun; menghayati suatu kehidupan yang ekstrim dan keras; tidak memiliki apa-apa, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota (lihat Mat 3:4; 1Raj 17:1-7). Dua-duanya adalah nabi-nabi yang berapi-api, yang menolak dengan tegas ketidakadilan dan dosa yang ada dalam kehidupan mereka yang berkuasa. Yohanes Pembaptis melihat dosa Herodes karena mengambil istri saudaranya sebagai “isteri”, dan Yohanes Pembaptis kemudian mengkonfrontir sang raja (Mat 14:3-5). Di sisi lain Elia mengenali tipu-muslihat para nabi Baal dan sendirian ia menantang para nabi Baal itu dalam sebuah “duel mati-hidup ilahi” (1Raj 18:17-39). Ia juga mengkonfrontir raja Ahab dan istrinya yang bernama Izebel karena pembunuhan atas diri Nabot agar supaya mendapatkan kebun anggurnya (1Raj 21:17-29).

Yohanes Pembaptis dan Elia adalah pribadi-pribadi yang heroik, yang menempatkan diri mereka dalam risiko (Yohanes Pembaptis sampai kehilangan nyawanya) dengan secara setia memproklamirkan sabda Allah. Di atas segalanya, taat kepada Allah adalah hal yang terpenting bagi mereka.

Pada hari ini memang kita tidak makan belalang dan madu, hidup menyendiri di padang gurun, atau sendirian berdiri melawan para penguasa jahat seperti yang dilakukan oleh Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, seperti kedua nabi itu. Dalam kehidupan kita yang lebih “biasa-biasa/normal”, kita dapat mohon kepada Allah agar memberikan kepada kita suatu visi yang lebih besar tentang apa artinya melayani Tuhan dalam situasi kita sehari-hari. Seringkali kita membatasi diri kita karena pandangan yang keliru seperti berikut ini. Kita berpikir, karena kita tidak dapat sehebat atau sebesar para kudus di masa lampau, maka tidak banyaklah yang dapat kita persembahkan. Akan tetapi, apabila kita membuka diri bagi kehendak Bapa, maka Dia dapat bekerja melalui kita sehebat yang telah dilakukan-Nya melalui Elia dan Yohanes Pembaptis.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan pikiranku, kata-kataku, dan perbuatan-perbuatanku kepada-Mu. Aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak dapat melakukan sesuatu pun, namun dengan Engkau aku dapat melakukan apa saja yang baik. Biarlah kuasa-Mu mengalir melalui diriku sehingga Engkau dimuliakan pada hari ini dan selamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 08, 2011

MARILAH KITA MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven, Jumat 9-12-11 )

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19)

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Mengapa Yesus melakukan hal-hal seperti dilakukan-Nya, walaupun Ia jelas mengetahui bahwa hal-hal yang dilakukan-Nya itu akan disalahtafsirkan? Ketika beberapa orang Farisi melihat Yesus bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya, dan menawarkan sentuhan kesembuhan dari Allah, mereka menamakan-Nya “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:19) dan memperkuat perlawanan mereka terhadap Yesus. Dengan demikian, mengapa Yesus terus saja “membuang” begitu banyak waktu dengan orang-orang ini? Mengapa membuat mereka menjadi semakin membenci diri-Nya?

Kadang-kadang Allah melakukan hal-hal dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kita. Siapa yang akan berpikir bahwa seorang anak yang lahir dari seorang perempuan muda yang menjadi hamil di luar perkawinan itu adalah sang Mesias yang sudah dinanti-nantikan? Siapa yang akan habis berpikir bahwa Allah akan memberikan kunci kerajaan-Nya kepada seorang nelayan Galilea yang tidak sabaran itu? Apabila seorang pemikir agama terkenal hari ini memberi kesaksian bahwa dirinya menjadi buta karena kilat yang dahsyat dari langit dan telah mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain, bagaimanakah kiranya reaksi orang-orang terhadap kesaksiannya itu?

Sejak awal mula, Allah memang telah melakukan hal-hal yang berada di luar ekspektasi – meninggikan orang yang lemah, menurunkan orang-orang yang berkuasa, membuka rahim yang mandul, menghujani umat-Nya dengan manna dari surga, bahkan membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Sebagai para pengikut-Nya, tanggapan terbaik yang dapat kita berikan adalah untuk tetap rendah hati dan terbuka, siap untuk menerima Allah berdasarkan ketentuan-ketentuan-Nya, bukan ketentuan-ketentuan kita. Pada akhirnya, kita akan menemukan Hikmat Allah yang dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan-Nya.

Sebuah contoh yang baik ditunjukkan oleh Gamaliel (guru dari Paulus), seorang tokoh Farisi yang dihormati. Ketika mendengar berita tentang suatu gejala “aneh” yang sedang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu – orang-orang tanpa latar pendidikan membuat mukjizat-mukjizat dan memproklamasikan bahwa Yesus adalah Putera Allah yang bangkit – Gamaliel mampu mengangkat dirinya melampaui pemikiran-pemikiran dan ekspektasi-ekspetasinya sendiri. Nasihatnya adalah agar para pemuka agama Yahudi mengambil sikap wait and see, apakah Allah sungguh bekerja dalam diri orang-orang sederhana dan tak terpelajar ini. Gamaliel berkata: “Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah” (Kis 5:38-39). Gamaliel tidak membuat praandaian bahwa dia tahu segalanya tentang sikap dan perilaku Allah. Ia cukup rendah hati untuk “memperkenankan” Allah bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga.

Seperti Gamaliel, marilah kita juga menjaga diri kita agar tetap rendah hati dan terbuka agar dapat mengenali Allah – walaupun ketika pesan-Nya sungguh di luar ekspektasi.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Engkau datang ke tengah dunia, semuanya terjadi dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kami. Apabila Engkau datang kembali kelak, kami percaya bahwa Engkau pun akan melakukannya dengan cara-cara yang tak terduga-duga. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami selalu dekat dengan Engkau dalam doa dan tolonglah kami agar terbuka bagi karya-Mu dalam kehidupan kami dan dalam dunia ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Disember 07, 2011

MARIA ADALAH HAWA YANG BARU

( Bacaan Pertama Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA, Rabu 8-12-10 )

[Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT]

Tetapi TUHAN (YHWH) Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman itu, aku menjadi takut karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Ku-larang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau-tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah YHWH Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memberdayakan aku, maka kumakan.” Lalu berfirmanlah YHWH Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan peutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. (Kej 3:9-15,20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12; Bacaan Injil: Luk 1:26-38

Pada ‘Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa’ ini, kita membaca cerita tentang kejatuhan Adam dan Hawa dan janji keselamatan dari Allah melalui seorang keturunan Hawa. Selagi dia membaca potongan bacaan dari Kitab Kejadian ini, Santo Hieronimus [342-420] memahami bahwa bahwa seorang Hawa yang barulah yang akan meremukkan kepala si ular. Sebagaimana Hawa yang pertama, Hawa yang baru ini akan dipanggil sebagai “ibu semua yang hidup” karena dia akan melahirkan Yesus Kristus yang akan membebaskan diri kita dari maut dan menjadikan kita yang percaya kepada-Nya sebagai ciptaan baru.

Terkandungnya Maria tanpa dosa menandakan awal dari ciptaan baru dalam Kristus. Pada awalnya Allah menciptakan segala sesuatu, demikian pula sekarang bersama Maria Dia mulai menciptakan kembali segala sesuatu, memperbaharui seluruh surga dan bumi melalui penebusan yang akan dicapai oleh Putera-Nya. Sepanjang masa Maria telah dikenal sebagai Hawa yang baru. Tanggapan “ya” Maria (lihat Luk 1:38) telah menggantikan “tidak”-nya Hawa yang pertama, seperti Yesus – sang Adam yang baru – yang melayani dalam kehidupan baru dalam Roh bagi umat Allah (lihat 1Kor 15:22; 15:45). Dalam kerendahan hati dan kesetiaannya, Maria berdiri tegak sebagai sebuah tanda ciptaan baru ini.

Pada hari raya yang istimewa ini, kita secara khusus memandang kekudusan Maria yang secara unik dipilih sebelum dunia dijadikan, supaya kudus dan tak bercela di hadapan Allah (Ef 1:4). Dijaga dari noda dosa asal, Maria secara khusus terbuka bagi karya Roh Kudus dalam dirinya. Kata-katanya,“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), merupakan suatu pengudusan mendalam yang tidak pernah ditarik kembali, melainkan hanya semakin mendalam dan mendalam lagi sepanjang sisa hidupnya di dunia.

Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk membuang segala penghalang yang akan merintangi karya-Nya dalam diri kita masing-masing. Semoga kita semua dapat memberi tanggapan “ya” secara sempurna seperti yang dilakukan Maria, dengan demikian mengenal serta mengalami berkat-berkat Allah dan kasih karunia-Nya. Allah sedang memperbaharui seluruh ciptaan, demikian pula Dia ingin memperbaharui setiap dan masing-masing kita.

DOA: Bapa surgawi, kami mohon agar Engkau terus menciptakan kami kembali menurut gambar dan rupa-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjadi seperti Maria, yang dengan rendah hati merangkul kehendak-Mu dan bersukacita dalam kasih-Mu. Penuhilah diri kami dengan kehadiran-Mu, sementara kami menantikan kedatangan hari di mana kami akan dapat memandang Engkau – muka ketemu muka. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS