Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Rabu, Mac 07, 2012

PESAN PRAPASKAH KEPAUSAN 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan"

"Marilah kita saling memperhatikan

supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik"

( Ibr. 10:24 )

Saudara-saudari terkasih,

Masa Prapaska ini sekali lagi memberi kita suatu kesempatan untuk merefleksikan jantung kehidupan kristiani: amal kasih. Masa ini merupakan saat yang tepat untuk memperbarui perjalanan iman kita, baik secara perseorangan maupun sebagai suatu komunitas, dengan bantuan sabda Allah dan sakramen-sakramen. Perjalanan ini adalah perjalanan yang ditandai dengan doa dan saling berbagi, dengan keheningan dan puasa, sebagai antisipasi dari kegembiraan Paska.

Pada tahun ini saya ingin mengedepankan beberapa gagasan dalam terang sebuah kutipan singkat dari Alkitab yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani: "Marilah kita saling memperhatikan, supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik". Kata-kata ini adalah bagian dari sebuah perikop di mana Penulis Kudus menasehati kita untuk menaruh kepercayaan kepada Yesus Kristus, sebagai Sang Imam Agung, yang telah memperolehkan bagi kita pengampunan dan membuka jalan menuju Allah. Memeluk Kristus menghasilkan buah dalam suatu kehidupan yang didasarkan atas tiga keutamaan ilahi: hal itu berarti mendekat kepada Tuhan "dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinaniman yang teguh" (ay. 22), sambil tetap "teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan"(ay. 23), sambil tetap memperhatikan untuk menghayati suatu kehidupan "dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (ay. 24), bersama-sama dengan saudara dan saudari kita. Penulis surat itu menegaskan, bahwa untuk mempertahankan hidup ini tetap terbentuk oleh Injil, pentinglah mengambil bagian dalam liturgi dan doa bersama, sambil tetap mengingat tujuan eskatalogis yakni persekutuan penuh dengan Allah (ay. 25). Di sini saya ingin merenungkan ay. 24 yang memberikan kepada kita sebuah ajaran singkat, berharga dan tepat waktu tentang tiga aspek dalam kehidupan kristiani: perhatian kepada orang lain, saling membantu dan kekudusan pribadi.

1. "Marilah kita saling memperhatikan": tanggungjawab terhadap saudara dan saudari kita.

Aspek yang pertama ini adalah sebuah ajakan untuk "memperhatikan": kata Yunani yang dipergunakan di sini adalah katanoein, yang berarti ‘menyelidiki', ‘menaruh perhatian', ‘memperhatikan dengan cermat' dan ‘memperhitungkan sesuatu'. Kita menjumpai kata ini di alam Injil ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk "memperhatikan" burung-burung gagak yang, meskipun tidak berusaha, tetap berada di pusat perhatian dan pemeliharaan Penyelenggaraan Ilahi (bdk. Luk. 12:24), dan untuk "memperhatikan" balok di mata kita sendiri sebelum kita melihat selumbar yang ada di mata saudara kita (bdk. Luk. 6:41). Dalam sebuah ayat lain dari Surat kepada orang Ibrani ini kita mendapatkan anjuran untuk "memandang Yesus, Rasul dan Imam Besar yang kita akui" (3:1). Demikianlah kata-kerja yang mengantar ajakan kita ini mengatakan kepada kita untuk melihat orang lain, pertama-tama kepada Yesus, untuk memperhatikan satu sama lain, dan untuk tidak tinggal terasing dan acuh-tak-acuh terhadap nasib saudara-saudari kita. Namun demikian, sangat sering sikap kita justru yang sebaliknya: suatu sikap auch-tak-acuh dan tidak ada perhatian karena perasaan egoisme dan diberi topeng sebagai penghormatan terhadap privasi. Dewasa ini pun suara Tuhan meminta kita untuk menjadi "penjaga" bagi saudara dan saudari kita (Kej, 4:9), untuk membangun relasi yang didasarkan atas saling mengingat dan saling menaruh perhatian kepada kesejahteraan, kesejahteraan yang integral dari orang lain. Perintah agung untuk saling mengasihi satu sama lain menuntut bahwa kita mengakui tanggungjawab kita terhadap mereka yang, seperti diri kita sendiri, adalah ciptaan dan anak-anak Allah. Menjadi saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dan sering juga malah sebagai saudara-saudari dalam iman, seharusnya membantu kita untuk mengenal di dalam diri sesama kita suatu "saya yang lain" (alter ego), yang juga dikasihi Tuhan secara tidak terhingga. Apabila kita memupuk cara pandang seperti ini terhadap saudara dan saudari kita itu, maka solidaritas, keadilan, belas-kasihan dan bela-rasa akan dengan sendirinya memancar dari dalam hati kita. Hamba Allah Paus Paulus VI menegaskan, bahwa dunia kita dewasa ini sedang menderita terutama kekurangan rasa persaudaraan: "Masyarakat manusia sedang menderita sakit keras. Penyebabnya bukan pertama-tama karena menipisnya sumber-sumber daya alam, bukan pula karena pengaturannya yang dilaksanakan secara monopoli oleh segelntir orang-orang yang diistimewakan saja, tetapi terutama karena semakin melemahnya ikatan persaudaraan manusiawi di antara pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa" (Populorum Progressio, 66).

Memperhatikan sesama berarti juga menghendaki yang baik bagi mereka itu dalam segala bidang: bidang jasmani, bidang moril dan bidang rohani. Budaya kontemporer kita ini sepertinya sudah kehilangan rasa terhadap yang baik dan yang jahat, kendatipun ada suatu kebutuhan yang nyata untuk menegaskan kembali, bahwa kebaikan sungguh ada dan akan menang, karena Allah "murah hati dan bertindak dengan murah hati juga" (Mzm. 119:68). Kebaikan adalah apa saja yang memberi, melindungi dan mengembangkan kehidupan, persaudaraan dan persekutuan. Maka tanggungjawab terhadap sesama berarti menghendaki dan bekerja bagi kebaikan orang lain, dengan harapan, bahwa merekapun akan suka menerima kebaikan itu bersama dengan tuntutan-tuntutannya. Memperhatikan orang lain berarti menyadari kebutuhan-kebutuhannya. Kitab Suci mengingatkan kita akan bahaya, bahwa hati kita akan dikeraskan oleh semacam "anestesi rohani", yang membuat kita mati-rasa terhadap penderitaan orang lain. Penginjil Lukas mengisahkan dua dari perumpamana-perumpamaan Yesus sebagai contohnya.

Dalam perumpaan tentang seorang Samaria yang baik, imam dan orang Lewi itu "melewati dari seberang jalan" dengan sikap acuh-tak-acuh terhadap kehadiran orang yang dirampok habis-habisan dan dipukuli oleh penyamun (lih. Luk. 10:30-32). Dan dalam perumpamaan tentang Orang Kaya dan Lazarus, si kaya itu tidak mengindahkan kemiskinan Lazarus yang hampir mati kelaparan tepat di depan pintu rumahnya (lih.Luk. 16:19). Kedua perumpamaan itu menunjukkan contoh yang sebaliknya dari "menaruh perhatian", sambil melihat orang lain dengan kasih dan bela-rasa. Lalu apa yang menghalangi kita memandang saudara-saudari kita dengan pandangan kemanusiaan dan penuh kasih itu? Sering penyebabnya adalah memiliki banyak kekayaan material dan rasa ketercukupan, akan tetapi bisa juga kecenderungan untuk menempatkan kepentingan dan masalah kita sendiri di atas semua yang lain. Kita tidak pernah boleh merasa tidak mampu "menunjukkan belas-kasih" kepada mereka yang menderita. Hati kita tidak pernah boleh tertutup oleh urusan dan masalah-masalah kita sendiri sedemikian, sehingga tidak mampu mendengarkan jeritan kaum papa. Kerendahan hati serta pengalaman pribadi sendiri atas penderitaan dapat membangkitkan di dalam diri kita perasaan bela-rasa dan simpati, "Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya" (Ams. 29:7). Maka kita bisa memahami sabda bahagia bagi mereka "yang berduka-cita" (Mat 5:4), mereka yang pada akhirnya mampu melihat lebih jauh dari pada dirinya sendiri serta memiliki bela-rasa terhadap penderitaan sesamanya. Mengulurkan tangan kepada orang lain dan membuka hati kita terhadap kebutuhan mereka dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan.

"Memperhatikan satu sama lain" juga berarti menaruh perhatian kepada kesejahteraan rohani mereka. Di sini saya ingin menyebut salah satu aspek dari hidup kristiani, yang saya yakin telah cukup dilupakan: menegur secara persaudaraan dalam kaitan dengan keselamatan kekal. Dewasa ini, pada umumnya, kita merasa sangat peka terhadap gagasan tentang kasih dan pelayanan terhadap kesejahteraan jasmani dan material orang lain, tetapi kita hampir terdiam seribu bahasa mengenai tanggungjawab rohani kita terhadap saudara dan saudari kita. Padahal tidak demikian dengan Gereja Perdana atau dengan komunitas-komunitas yang sungguh-sungguh matang di dalam iman, mereka yang prihatin bukan saja terhadap kesehatan jasmani dari saudara dan saudari mereka, tetapi juga terhadap kesehatan rohani mereka serta terhadap tujuan akhir hidup mereka. Kitab Suci mengatakan kepada kita: "Kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya; berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak; ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah (Ams. 9:8ss). Kristus sendiri memerintahkan kita untuk menegur saudara kita yang berdosa (lih. Mat. 18:15). Kata-kerja yang dipergunakan untuk melukiskan teguran persaudaraan itu „Ÿelenchein„Ÿ adalah kata yang sama yang dipergunakan untuk menyatakan tugas perutusan kenabian seorang kristiani untuk berbicara melawan suatu angkatan yang melakukan kejahatan (lih, Ef. 5:11). Tradisi Gereja telah memasukkan juga "hal menegur para pendosa" ini di antara perbuatan-perbuatan kasih yang bersifat spiritual. Pentinglah memulihkan kembali dimensi kasih kristiani ini. Kita tidak boleh diam saja terhadap kejahatan. Saya ingat akan semua orang kristiani yang, hanya karena pertimbangan manusiawi atau hanya karena kecocokan dengan selera pribadi lebih mengadaptasi mentalitas yang sedang berlaku umum dari pada menegur saudara dan saudarinya untuk menentang cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan yang tidak mengikuti jalan kebaikan.

Teguran secara kristiani, dari pihaknya, tidak pernah dimotivasi oleh semangat menuduh atau menyalahkan. Selalulah dia digerakkan oleh cinta dan belas-kasih dan memancar keluar dari perhatian yang tulus bagi kebaikan orang lain. Seperti dikataan oleh Rasul Paulus: "Kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan" (Gal. 6:1). Dalam dunia yang dilanda dengan individualisme seperti ini, adalah sangat mendasar untuk menemukan kembali pentingnya menegur secara persaudaraan, agar supaya kita, bersama-sama dapat menempuh jalan menuju ke kesucian. Kitab Suci sendiri menyebutkan, bahwa bahkan sampai "tujuh kali orang benar jatuh" (Ams. 24:16); memang kita semua ini lemah dan tidak sempurna (lih. 1Yoh. 1:8). Oleh karena itu, sungguh merupakan suatu pelayanan yang besar membantu orang lain dan membiarkan mereka memnatu kita, sehingga kita dapat terbuka terhadap seluruh kebenran tentang diri kta sendiri, meningkatkan hidup kita dan berjalan dengan lebih tegak di jalan Tuhan. Pastilah akan senantiasa dibutuhkan adanya suatu pandangan yang mengasihi dan mengingatkan, yang memahami dan mengerti, yang penuh keprihatinan dan pengampunan (bdk. Luk. 22:61), sebagaimana Allah sendiri telah bertindak dan akan senantiasa bertindak sedemikian dengan masing-masing kita semua.

2. "Saling memperhatikan": anugerah sikap timbal-balik (resiprositas).

"Menjaga" orang lain seperti ini sungguh sangat bertentangan dengan mentalitas yang, dengan menurunkan nilai hidup secara terbatas hanya sampai pada dimensi duniawi saja, gagal untuk bisa melihatnya dalam perspektif eskatalogis dan bisa menerima pilihan moril manapun dengan mengatas-namakan kebebasan pribadi. Suatu masyarakat, seperti masyarakat kita ini, dapat menjadi buta terhadap penderitaan jasmani dan terhadap tuntutan-tuntutan yang besifat spiritual dan moral dari hidup itu. Yang seperti ini tidak boleh terjadi dalam suatu komunitas kristiani! Rasul Paulus mendorong kita untuk mengejar "apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun" (Rom. 14:19), demi kesejahteraan sesama kita "untuk membangunnya" (15"2), sambil mengupayakan, bukan keuntungan pribadi, melainkan "berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, supaya mereka beroleh selamat" (1Kor 10:33). Saling menegur dan mendorong seperti ini di dalam semangat kerendahan hati dan kasih, haruslah menjadi bagian dari hidup Komunitas Kristiani.

Murid-murid Tuhan, diperstukan dengan Dia melalui Ekaristi, hidup dalam persekutuan yang mengikat mereka satu sama lain sebagai anggota dari tubuh yang satu dan sama. Ini berarti bahwa orang lain adalah juga bagian dari saya, dan bahwa hidupnya, keselamatannya juga menyangkut hidup dan keselamatan saya sendiri. Di sini kita menyentuh suatu aspek yang mendalam dari persekutuan: keberadaan kita berkaitan dengan keberadaan orang lain, yang bisa membawa kebaikan, tetapi juga keburukan. Baik dosa-dosa kita maupun perbuatan-perbuatan kasih kita memiliki dimensi sosial. Saling keterikatan ini dapat dilihat di dalam Gereja, tubuh mistik Kristus: Komunitas ini senantiasa melakukan pertobatan dan mohon pengampunan bagi dosa anggota-anggotanya, tetapi juga secara jitu bersukacita di dalam contoh-contoh keutamaan dan kasih yang ada di tengah-tengahnya. Seperti dikatakan oleh Santo Paulus: "Supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan" (1Kor. 12:25), karena kita semua membentuk satu tubuh.

Perbuatan kasih terhadap saudara dan saudari kita, „Ÿseperti terungkap misalnya dalam memberi sedekah, suatu praktek yang bersama dengan doa dan puasa, mencirikhaskan masa Prapaskah„Ÿ berakar dalam hal persekutuan bersama ini. Umat kristiani dapat juga mengungkapkan keanggotaan mereka di dalam satu tubuh yang adalah Gereja itu dengan menaruh perhatian secara konkrit kepada yang termiskin dari yang mskin. Begitu juga halnya, perhatian satu sama lain ini berarti juga pengakuan terhadap kebaikan yang diperbuat oleh Tuhan kepada sesama kita itu dan juga merupakan ucapan syukur atas mukjijat-mukjijat rakhmat yang di dalam kebaikan-Nya tetap dikerjakan oleh Allah yang Mahakuasa itu di dalam diri anak-anak-Nya. Apabila seorang kristiani melihat Roh Kudus berkarya di dalam diri orang-orang lain, mereka tidak dapat bertindak lain kecuali bersukacita dan memuliakan Bapa yang di surga itu (bdk. Mat. 5:16).

3. ‘Supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik": berjalan bersama dalam kekudusan.

Kata-kata dari Surat kepada Orang Ibrani ini (10:24) mendorong kita untuk ber-refleksi tentang panggilan kepada semua orang untuk kekudusan, yakni perjalanan yang terus-menerus dari kehidupan rohani, sementara kita mengharapkan anugerah-anugerah rohani yang lebih besar dan pada kasih yang senantiasa lebih luhur dan menghasilkan buah (bdk. 1Kor. 12:31 - 13:13). Sikap memperhatikan satu sama lain ini seharusnya memacu kita untuk semakin lama semakin mengefektifkan kasih, yang "seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari" (Ams. 4:18), membuat kita menghayati setiap hari dalam hidup kita ini sebagai antisipasi dari hari keabadian yang sedang menantikan kita di dalam Allah.

Waktu yang diberikan Allah kepada kita dalam hidup ini sungguh berharga untuk menentukan dan melaksanakan perbuatan baik dalam kasih Allah. Dengan cara demikian Gereja sendiri senantiasa berkembang menuju ke kedewasaan Kristus secara penuh (bdk. Ef. 4:13). Nasehat-nasehat yang kita berikan untuk saling mendorong satu sama lain untuk mendapatkan kepenuhan kasih dan perbuatan baik itu ditempatkan di dalam dinamika perkembangan ke masa depan.

Sayangnya, selalu saja ada godaan untuk menjadi suam-suam kuku, untuk memadamkan Roh, untuk menolak menanamkan sebagai modal talenta yang kita terima, bagi kebaikan kita sendiri dan bagi kebaikan orang lain (bdk. Mat. 25:25ss.). Kita semua telah menerima kekayaan rohani dan jasmani yang dimaksudkan untuk dipergunakan bagi pemenuhan rencana Allah, bagi kebaikan Gereja dan bagi keselamatan kita sendiri secara pribadi (bdk Luk. 12:21b.; 1Tim. 6:18). Para pakar kehidupan rohani mengingatkan kita, bahwa di dalam kehidupan beriman, mereka yang tidak mengalami kemajuan, secara tak terelakkan sama dengan mengalami kemunduran.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita terima ajakan, hari ini adalah hari yang paling tepat tiada duanya, untuk mencapai "standard yang tinggi dari hidup kristiani yang biasa itu" (Novo Millennio Ineunte, 31). Kebijaksanaan Gereja dalam mengakui dan memaklumkan orang-orang Kristiani tertentu yang menonjol sebagai Beato dan Santo juga dimaksudkan untuk memberi ilham kepada orang-orang lain untuk meneladan keutamaan-keutamaan mereka. Kepada kita Santo Paulus menasehatkan "untuk saling mendahului dalam memberi hormat" (Rom, 12:10).

Dalam dunia yang menuntut dari orang-orang Kristiani sebuah kesaksian yang terbarui akan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan, kiranya kita semua ini merasakan mendesaknya kebutuhan untuk saling mendahului dalam amal-kasih, pelayanan dan perbuatan baik (bdk. Ibr. 6:10), Tuntutan ini secara khusus sungguh mendesak dalam masa kudus untuk mempersiapkan Paskah ini. Sambil mempersembahkan dalam doa harapan saya agar masa Prapaskah ini menjadi masa yang terberkati dan berbuah limpah, saya menyerahkan kalian semua dalam pengantaraan Bunda Maria tetap Perawan dan dengan tulus hati saya berikan kepada kalian semua Berkat Apostolik saya.

Dari Vatikan, 3 November 2011

Benediktus XVI, Paus

DIBERKATILAH ORANG YANG MENGANDALKAN ALLAH

( Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah, Kamis 8-3-12 )

Beginilah firman TUHAN (YHWH): “Terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada YHWH! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan YHWH, yang menaruh harapannya pada YHWH! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, YHWH, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi batasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya” (Yer 17:5-10).

Bacaan Injil: Luk 16:19-31; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 1:1-4.6.

Dalam pergumulannya oleh karena bangsa Israel yang berdosa, nabi Yeremia mengeluh, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer 17:9). Apabila hal ini memang benar, mengapa selama ini kepada kita diajarkan tentang kebaikan seluruh ciptaan? Bukankah pernyataan Yeremia ini merupakan suatu kontradiksi dengan ajaran bahwa kita semua diciptakan baik oleh Allah?

Sesungguhnya kita memang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,28), dan setiap dan masing-masing kita sangat menyenangkan hati Allah. Walaupun begitu, kita tidak perlu melihat terlalu dalam ke dalam diri kita untuk menemukan sesuatu dalam diri kita itu yang telah “menyeleweng” atau “melenceng” dari niat-niat Allah. Hati kita mengkhianati niat-niat kita yang terbaik. Kita cenderung mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati orang-orang yang paling kita kasihi. Kita mencoba berendah-hati, namun terkadang memandang rendah orang-orang lain, atau memamerkan berbagai talenta (yang sebenarnya dianugerahkan oleh Allah kepada kita) dan juga pengetahuan yang kita miliki/ kuasai. Banyak orang kudus mengingatkan akan bahaya memulai tugas pelayanan atau proyek yang diberikan kepada kita dengan penuh kerendahan-hati, menurut inspirasi dari Roh Kudus, namun kemudian ternyata kita melaksanakannya dengan ego dan kesombongan. Santo Paulus menggambarkan “kejengkelan” yang ada kalau berurusan dengan hati ketika dia mengatakan: “Bukan apa yang kukehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (Rm 7:19).

Oleh karena itu mengapa kita harus melakukan kehendak Allah? Barangkali sebuah pertanyaan yang lebih baik adalah mengapa Allah mesti repot-repot mengurusi kita? Allah dapat melihat kegelapan hati kita dengan jauh lebih baik daripada kita sendiri dapat melakukannya, namun Ia tidak pernah berhenti mengasihi kita. Dia tidak pernah bertanya apakah kita pantas dan layak untuk waktu dan perhatian-Nya. Mengapa? Karena Dia mengetahui bahwa kita memang pantas! Kita semua lebih berharga di mata-Nya daripada apa yang dapat kita bayangkan.

Inilah kuncinya: Allah tidak hanya ingin menunjukkan kepada kita di mana saja kita telah melenceng dari jalan-Nya agar Ia dapat mengoreksi beberapa kesalahan kita, melainkan Ia juga ingin berbagi kehidupan-Nya sendiri dengan kita. Oleh kuasa yang mentransformasikan dari Roh Kudus-Nya, Allah ingin memberikan sebuah hati dan akal-budi kepada kita masing-masing, yang sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada-Nya seperti yang disampaikan oleh nabi Yeremia untuk dilaksanakan oleh orang-orang di Yerusalem: “Diberkatilah orang yang mengandalkan YHWH, yang menaruh harapannya pada YHWH! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:7-8). Dengan demikian, kita tidak perlu menanti-nanti sampai sampai saat kematian kita, atau sampai kedatangan Yesus dalam kemuliaan pada akhir zaman. Pada hari ini juga kita dapat mengambil satu langkah maju lagi menuju transformasi lengkap-total yang Yesus rindukan untuk memberikannya kepada kita.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku memuji-Mu karena Engkau memilih untuk bekerja dalam kehidupanku dengan penuh kuat-kuasa. Aku menaruh kepercayaanku sepenuhnya dalam Engkau dan menyadari bahwa kehidupanku aman di dalam tangan-tangan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mac 06, 2012

MENJADI BESAR DALAM KERAJAAN ALLAH

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah, Rabu 7-3-12 )

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28)

Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16

Dari waktu ke waktu kita semua pernah berjumpa dengan orang-orang yang agresif, yang suka mendesak-desak dan ingin memaksakan kehendak mereka atas diri kita. Dalam hal ini barangkali kita ingin naik-darah dan marah kepada mereka, atau menghindarkan diri dari orang-orang semacam itu. Para murid Yesus juga orang-orang biasa seperti kita. Oleh sebab itu, tidak mengherankanlah apabila mereka sangat marah kepada dua orang anak Zebedeus yang diberi nama oleh Yesus “Boanerges” (anak-anak guruh; Mrk 3:17) itu, pada waktu mereka mendengar tentang permintaan ibu anak-anak Zebedeus kepada Yesus, …… sebuah permintaan yang sarat dengan kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Namun tanggapan dari Yesus terkesan berbeda: penuh kasih, kesabaran dan kebenaran.

Yesus baru saja selesai mengingatkan para murid tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di Yerusalem – sengsara dan wafat-Nya (Mat 20:17-19). Akan tetapi, karena para murid lebih memusatkan perhatian mereka pada urusan-urusan dan kepentingan-kepentingan mereka sendiri, maka mereka pun tidak dapat memahami apa yang dikatakan-Nya. Sebagai akibatnya, Yesus berupaya untuk menarik mereka lebih dalam lagi ke dalam kebenaran relasi-Nya dengan Bapa-Nya yang memiliki otoritas atas segala hal, bahkan atas mereka yang akan duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus.

Yesus ingin mengajar para murid-Nya mengenai arti sesungguhnya “menjadi besar dalam Kerajaan Allah”: kerendahan-hati sejati dan pelayanan yang bersumberkan pada pengenalan akan kasih Allah. Yesus sedemikian dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia terdorong untuk mensyeringkan kasih ini dengan kita, bahkan kalau hal ini berarti penyerahan hidup-Nya sendiri bagi kita. Ini adalah puncak pelayanan-Nya yang memulihkan posisi kita sebagai anak-anak Allah, dan Yesus sungguh berkeinginan agar mereka juga sama terdorongnya oleh kasih Allah, sehingga mereka “tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:15).

Cintakasih Yesus bagi kita tidak berubah, demikian pula hati-Nya sebagai seorang Pelayan. Sekarang Ia telah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa, dan “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). Yesus sedih setiap saat Ia melihat kepentingan diri sendiri mendominir kehidupan kita, karena hal itu menunjukkan bahwa kita telah luput melihat betapa lengkap Allah mengawasi kita. Selama masa Prapaskah ini, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan lebih mendalam, sehingga kita dapat menjauh dari pemuasan-diri sendiri dan menjadi lebih serupa dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah sikap dan perilaku kami yang mementingkan diri sendiri dan angkuh. Penuhilah diri kami secara lebih mendalam dengan kasih-Mu, sehingga dalam situasi yang bagaimana pun kami akan mampu memperhatikan orang-orang di sekeliling kami, seperti Engkau telah mengasihi dan memperhatikan kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mac 03, 2012

INILAH ANAK-KU YANG TERKASIH, DENGARKANLAH DIA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH II, 4-3-12 )

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. (Mrk 9:2-10)

Bacaan Pertama: Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18; Mazmur Tanggapan: 116:10,15-19; Bacaan Kedua: Rm 8:31b-34

Sungguh suatu peristiwa yang luar biasa! Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami Yesus dalam kemuliaan kebangkitan. Selagi mereka memusatkan pandangan ke surga, mereka juga melihat Musa dan Elia dan mendengar suara Allah: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7). Mereka melihat Yesus dalam keadaan seperti setelah kenaikan-Nya ke surga. Dalam Dia mereka melihat harapan akan kebangkitan dan transformasi mereka sendiri kelak.

Yesus mengetahui bahwa suatu pernyataan penuh kemuliaan itu bersifat vital bagi para murid-Nya. Hanya seminggu sebelumnya, Dia mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31). Setelah mendengar kata-kata Sang Guru yang penuh tantangan itu, para murid perlu melihat sendiri kemuliaan yang menantikan Yesus dan mereka, kalau mereka memang akan memeluk salib-Nya.

Siapa dari kita yang secara sukarela mau melepaskan segala hasrat hati kita, kalau kita tidak merasa pasti bahwa kita akan menerima hidup baru sebagai hasilnya? Tanpa memiliki pengetahuan mengenai kemuliaan Yesus yang bangkit, tidak seorang pun dari kita akan mampu menanggung penyangkalan diri dan mati terhadap diri sendiri, yang merupakan hakekat salib. Tanpa kebangkitan Yesus, iman kita akan menjadi sia-sia, dengan demikian lebih baiklah bagi kita untuk “makan dan minum, sebab besok kita mati” (1 Kor 15:12-19,32). Akan tetapi Yesus telah bangkit dari kematian, dan Ia ingin menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita masing-masing. Janji dari transfigurasi adalah bahwa kita dapat melihat kemuliaan Yesus – dan memandang Dia – dan kemudian diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Kor 3:18).

Di jantung proses kita menjadi seperti Yesus ini, adalah bagaimana kita mengasihi seperti Dia mengasihi kita. Diperlukan tindakan iman oleh kita untuk mengasihi orang-orang yang kita jumpai setiap hari, teristimewa apabila kita sedang menanggung beban berat kita sendiri. Namun selagi kita menggabungkan diri kita dalam doa bersama Kristus yang mengalami transfigurasi itu, kita pun akan dikuatkan dan dihibur. Tuhan yang bangkit akan memuliakan kita dan memberkati kita dengan segala sukacita surgawi. Dia akan mencapai niat-Nya dengan membuat kita menjadi seperti diri-Nya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, kami mempersembahkan diri kami kepada-Mu sebagai kurban persembahan yang hidup. Kami ingin ditransformasikan dengan mendengarkan dan mengikuti ajaran-ajaran Putera-Mu. Kami ingin memeluk salib-Nya, karena kami tahu Dia akan membangkitkan kami, sekarang dan dalam keabadian. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Mac 02, 2012

PUNCAK KHOTBAH DI BUKIT

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah, Sabtu 3-3-12 )

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48).

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8


Bacaan ini menunjukkan kepada kita ajaran Yesus yang sungguh revolusioner: mengasihi musuh-musuh kita! Ini adalah puncak (antitesis keenam) dari serangkaian antitesis sebelumnya yang dimulai pada Mat 5:21. Apakah Yesus memaksudkan agar kita mengasihi musuh-musuh kita dengan cara yang sama kita mengasihi para anggota keluarga kita atau sahabat-sahabat kita? Cintakasih kita kepada para sahabat kita adalah sesuatu yang lahir dari emosi-emosi hati kita. Secara normal kita memiliki perasaan cintakasih di bagian terdalam diri kita, namun mengasihi seorang musuh adalah sesuatu yang menyangkut hati. Jadi, lebih daripada sekadar masalah kehendak. Ini adalah sesuatu di mana kehendak kita harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ini adalah suatu determinasi pikiran kita untuk mengasihi mereka yang sebenarnya kita tidak sukai dan yang mungkin juga tidak menyukai kita.“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”
(Mat 5:44). Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Tidak peduli apakah yang dilakukan seseorang atas diri kita, tidak peduli bagaimana orang itu memperlakukan kita, tidak peduli sampai berapa dalam dia telah menghina kita, melukai hati kita dan/atau membuat kita sedih, kita tidak pernah boleh memperkenankan setiap macam kepahitan terhadap orang itu melanda hati kita, melainkan memandang orang itu dengan kemauan baik dan mendoakan yang terbaik bagi orang itu. Yesus mengajarkan/memerintahkan kepada para murid-Nya untuk mengasihi siapa saja, kasih yang bersifat praktis dan asli yang keluar dari dalam hati (misalnya ungkapan seperti ini: “berdoalah bagi mereka”). Dengan cintakasih sedemikian, seorang pengikut/murid Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang anak sejati dari Allah,

Allah yang tidak pandang bulu dalam mencurahkan berbagai kebaikan kepada umat manusia, orang baik ataupun jahat. Yang dimaksudkan sebagai “musuh Allah” pada zaman Yesus adalah orang-orang non Yahudi (baca: kafir) atau orang-orang Yahudi yang tidak menepati hukum Taurat, dengan demikian dinilai pantas untuk diasingkan dari urusan orang Yahudi yang setia.

Sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat mengembangkan cintakasih seperti ini apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita perlu minta kepada Yesus untuk memberikan kepada kita rahmat yang akan memampukan kita untuk mengatasi kecenderungan alami kita untuk marah dan memendam kepahitan, dan menumbuhkan kemauan baik terhadap musuh-musuh kita. Hanya apabila Kristus hidup dalam hati kita, maka kepahitan akan mati dan cintakasih ini bersemi dalam kehidupan kita.

Walaupun kita tidak boleh membiarkan kepahitan dan kemarahan melanda hati kita, cintakasih Kristiani menuntut kita untuk memperkenankan orang-orang (musuh-musuh kita) melihat dan menyadari kesalahan-kesalahan mereka. Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa orangtua tertentu sungguh mengasihi anaknya apabila dia membiarkan anaknya melakukan apa saja yang dikehendakinya. Apabila kita memandang seorang pribadi dengan cintakasih Kristiani, hal itu berarti bahwa kita memperkenankan dia menyadari akan kesalahan-kesalahannya, dan kita melakukannya dengan pasti, bukan untuk membalas dendam melainkan untuk membantu membuat dirinya menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Bacaan Injil hari ini berurusan dengan relasi pribadi kita dengan keluarga kita, dengan para sahabat kita, para tetangga kita dan orang-orang yang kita temui setiap hari. Tentu saja hal ini jauh lebih mudah untuk diucapkan mulut/bibir kita daripada diwujud-nyatakan dalam perbuatan. Bukankah jauh lebih mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa tidak boleh ada peperangan antara bangsa-bangsa daripada duduk bersama seorang musuh lama kita yang telah begitu menyakiti hati kita?

Pesan Injil bagi kita semua adalah: cintakasih kita kepada anggota keluarga yang paling dekat adalah sesuatu yang natural dalam diri kita, tertanam dalam perasaan/emosi kita. Namun untuk mengarahkan pikiran kita sampai mengasihi seseorang – apalagi seorang musuh – sungguh sulit, dan menjadi lebih sulit lagi apabila mencapai tingkatan/tataran hati.

Antitesis terakhir – mengasihi musuh kita – menunjukkan kepada kita bahwa prinsip fundamental yang mendasari tuntutan-tuntutan Yesus adalah cintakasih: suatu cintakasih kepada Allah yang diterjemahkan ke dalam suatu ketaatan penuh kesetiaan kepada kehendak-Nya, cintakasih kepada sesama yang tidak mengenal diskriminasi. Singkatnya, seorang murid Yesus dipanggil untuk meneladan Kristus Yesus: menjadi alter Christus!

Keseluruhan bacaan Injil yang berisikan 6 (enam) antitesis ini (Mat 5:21-48) ditutup dengan sabda Yesus yang kiranya merupakan tuntutan-Nya yang paling tinggi, yaitu untuk menjadi “sempurna sama seperti Bapa yang di surga sempurna” (lihat Mat 5:48). “Sempurna” di sini bukanlah berarti suatu status kemurnian moral, melainkan berorientasi pada tindakan. Seorang murid Yesus “sempurna” apabila dia memberikan segalanya untuk tetap setia pada apa yang diminta Allah dari dirinya (lihat Mat 19:21).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu mengasihi orang-orang yang kami pandang sebagai musuh. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang pantas untuk menyapa Allah sebagai Bapa kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mac 01, 2012

MEWUJUDKAN PERDAMAIAN DENGAN SAUDARI-SAUDARA KITA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah, Jumat 2-3-12 )

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26)

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8

Selama pelayanan-Nya di muka bumi ini, Yesus suka berbicara lembut menyejukkan, namun tidak jarang pula dengan kata-kata yang menantang dan seakan menghukum, keras terdengar dan membuat telinga menjadi panas. Pada waktu Dia berbicara mengenai cara kita memperlakukan satu sama lain (Mat 5:20-26), Yesus sebenarnya mengungkapkan keprihatinan dari ‘seorang’ Allah yang karena begitu mengasihi dunia, sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal masuk ke tengah-tengah dunia guna menyelamatkan – bukan untuk menghukum – dunia itu (lihat Yoh 3:16-17). Yesus mengetahui bahwa perpecahan yang tidak diselesaikan dengan benar tidak hanya menyedihkan hati Bapa surgawi, melainkan juga merampas diri kita dari kemampuan untuk menerima kasih-Nya. Oleh karena itu diperlukan sabda yang bersifat langsung dan keras. Memang banyak dari “hard sayings of Jesus” ini tidak/kurang disenangi oleh tidak sedikit Pelayan Sabda/Pengkhotbah/Pewarta/Hamba Tuhan, justru karena memang “tidak enak didengar” dan kecenderungan manusia adalah untuk dapat mendengar kata-kata yang enak-enak, apalagi pada hari Minggu yang nota bene adalah week-end, saat untuk mendengar soft music dan sabda Tuhan yang “soft” pula, bukankah begitu?

Keprihatinan Yesus sebagaimana ditunjukkan dalam bacaan Injil hari ini secara khusus berlaku untuk keluarga-keluarga, di mana interaksi berlangsung dalam frekuensi yang sering dan akrab, di mana kata-kata kasar dari satu pihak akan dapat melukai perasaan/hati pihak yang lain. Dengan menyoroti masalah perpecahan dengan begitu kuat, Yesus sebenarnya ingin berbicara kepada hati kita, menggerakkan kita untuk melakukan refleksi. Apakah kita masih menyimpan kemarahan tersembunyi dalam hati kita, penolakan-penolakan, atau luka-luka lama? Pada saat-saat stres, “kata-kata kasar dan tak pantas” dapat meluap dari berbagai disposisi yang lama terpendam ini, dan hal ini “merusak” kedamaian yang ada. Dalam waktu sekejab – hanya dengan beberapa patah kata saja – kita dapat menyebabkan kerusakan hebat atas relasi antar-pribadi yang paling kita hargai dengan orang-orang yang kita kasihi.

Dalam situasi-situasi seperti ini, kita dapat dan harus berpaling kepada Allah dan menghadap hadirat-Nya, serta memohon agar kita diperkenankan menerima rahmat untuk direkonsiliasikan. Yesus memberikan orang banyak yang berkumpul di sekeliling diri-Nya dengan bimbingan – katakanlah panduan – praktis: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

Kita memang tidak dapat mempersembahkan hati kita kepada Allah, jikalau hati kita itu masih “bermusuhan” dengan anak-anak-Nya yang lain – saudari dan saudara kita sendiri. Belas kasihan Yesus akan menang atas penghakiman (lihat Yak 2:13), dan Ia ingin agar kita mempraktekkan belas kasihan yang sama terhadap orang-orang lain, yang adalah saudari-saudara kita. Oleh karena kematian dan kebangkitan Yesus, kita memperoleh pengampunan dan rekonsiliasi dengan Bapa di surga. Sekarang, sebagai “para duta kasih Kristus”, kita pun dipenuhi dengan Roh Kudus, yang memampukan kita untuk mengasihi orang-orang lain sebagaimana Yesus mengasihi kita. Sementara kita mengalami kasih Allah, kita dapat menghadapi tantangan ini dari perspektif ilahi dan pergi menemui para saudari-saudara kita dan berdamai.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur karena Engkau telah menempatkan Roh-Mu di dalam diri kami masing-masing dan menganugerahkan kepada kami karunia-karunia pertobatan dan rekonsiliasi, hikmat, keberanian dan kekuatan. Oleh Roh Kudus-Mu ini, mampukanlah kami untuk mewujudkan perdamaian dengan saudari-saudara kami. Tuhan, ajarlah kami untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA DI SURGA AKAN MEMBERIKAN YANG BAIK KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah, Kamis 1-3-12 )

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:7-12)

Bacaan Pertama: Est 4:10a,10c-12,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). Bacaan ini pada umumnya dikenal dengan baik oleh umat Kristiani, namun banyak juga mendatangkan “kekecewaan” kepada cukup banyak orang. Banyak sekali umat Kristiani yang menaruh kepercayaan pada sabda Yesus ini. Mereka berdoa, mereka memohon dengan sangat, namun sia-sia belaka. Dalam saat-saat yang terasa menekan, menakutkan, mengkhawatirkan, pada waktu menderita penyakit serius, pada waktu terjadi pergolakan dalam masyarakat yang menumpahkan darah sesama warga; dalam kesesakan hati mereka menghadap hadirat Bapa di surga, namun doa permohonan mereka itu seakan tidak didengarkan oleh-Nya. Mereka berdoa dengan penuh kepercayaan dan dalam nama Yesus, dengan “iman yang dapat memindahkan gunung” dan dengan sepenuhnya bersandar pada janji Injili di atas, tokh perkawinan anak mereka pecah-berantakan juga, tokh mereka kehilangan pekerjaan juga, tokh anak mereka yang menderita sakit mati juga, dlsb.

Yesus menyatakan, bahwa apabila kita orang berdosa hanya memberikan yang baik kepada anak-anak kita jika mereka meminta sesuatu kepada kita, maka Bapa surgawi pun – yang dari kodrat-Nya adalah baik – pasti hanya akan memberikan yang baik saja kepada kita, bilamana kita sebagai anak-anak-Nya meminta sesuatu kepada-Nya. Jadi inilah kunci permasalahannya: Allah itu baik! Sebagaimana ditulis dalam “Anggaran Dasar Tanpa Bulla” oleh Santo Fransiskus dari Assisi, Dialah “satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni” (AngTBul XXIII:9). Kalau Allah kita adalah seperti ini, maka tentunya Dia hanya memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang yang berdoa memohon kepada-Nya. Dengan tegas Yesus mengatakan: “Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat 7:11).

Barangkali ini pun belum merupakan jawaban yang lengkap. Dalam Injil Lukas ada tertulis ayat padanannya: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:13). Inilah yang menentukan: ROH KUDUS! Kepada setiap orang yang berdoa dengan hati jujur, Allah akan memberikan Roh Kudus-Nya, dengan demikian memberikan karunia/anugerah yang terbesar dan pengabulan doa yang terindah. Di samping Allah, segalanya yang lain tidaklah berarti apa-apa. Hanya Allah sendirilah yang tak terbatas. Barangsiapa menerima Roh Kudus, maka hal itu berarti bahwa doanya telah dikabulkan secara berlimpah. Jika manusia telah benar-benar dipenuhi dengan Roh Allah sendiri, maka sikap dan perilakunya akan sepenuhnya sesuai dengan kehendak suci Allah. Orang itu akan hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah dan menolak apa yang ditolak Allah. Dan setelah ia menerima karunia yang besar dan agung itu, ia pun tahu bahwa dia juga akan menerima karunia-karunia kecil yang telah dimintanya, asalkan itu tidak bertentangan dengan Roh

Allah yang kudus. Jadi, bagi setiap orang yang berdoa secara sungguh-sungguh, ada jaminan bahwa doanya akan didengarkan, yaitu bahwa yang terbesar akan diberikan kepadanya dan juga bahwa yang lebih kecil akan diberikan apabila hal itu baik baginya dan akan membawanya lebih dekat kepada Allah. Doa permohonan seseorang akan ditolak apabila akan berakibat tidak baik baginya dan tidak lebih mendekatkan dia kepada Allah.

Demikianlah sabda Yesus hari ini menghantarkan kita kepada isi pokok dari segala yang diuraikan-Nya, kepada sikap jiwa yang benar. Pencapaian sikap jiwa inilah yang disebut karunia, yang diberikan kepada setiap orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh dengan ketulusan hati. Bagi orang-orang yang dengan sungguh-sungguh berdoa, maka “Khotbah di Bukit” benar-benar bukan hisapan jempol, artinya benar-benar dimungkinkan terwujud dalam kehidupan mereka. Bagi mereka hal itu mungkin karena “Kebaikan yang Tertinggi” – Roh Kudus – diberikan kepada mereka. Maka di sini ditunjukkanlah dengan jelas jalan menuju kepenuhan. Dari doa “Bapa Kami” nyata sekali ciri-ciri pribadi Putera Allah, dan dari situ menyusullah cara yang tepat bagaimana kiranya kita berdoa kepada Bapa di surga. Bagaimana kita menghaturkan doa-doa permohonan kita kepada-Nya, yaitu dengan menyerahkan sepenuhnya pengabulan atas doa-doa kita itu kepada cintakasih-Nya. Dengan demikian, barulah doa permohonan kita kepada Allah Bapa di surga sungguh-sungguh bersifat ibadat dan penuh kepercayaan sejati. Doa semacam itu membawa seorang pribadi manusia kepada Allah dan menjadikan dirinya berani mengharapkan segala sesuatu dari Allah, namun senantiasa dengan disposisi hati yang benar, yaitu kepasrahan kepada hikmat-kebijaksanaan Allah serta dalam cinta kepada kehendak-Nya.

Hidup Kristiani barulah benar-benar hidup seturut semangat “Khotbah di Bukit”, apabila kehidupan kita dengan erat dipertalikan dengan Allah, jadi merupakan kehidupan yang sepenuhnya diresapi oleh Allah. Apabila seorang Kristiani menerima karunia kecil yang dimohonnya dalam doa, maka dia akan bersyukur kepada Bapa di surga dan akan tumbuh dalam cintakasih-Nya. Jikalau dia tidak menerimannya, maka tahulah dia bahwa pengabulan atas doanya tidak akan lebih mendekatkan dirinya pada Allah, dan ia pun akan bersyukur kepada-Nya, bahwa dalam hikmat-kebijaksanaan-Nya, Allah tidak mengabulkan doa permohonannya tadi. Namun haruslah kita sadari dengan penuh syukur bahwa doa permohonan kita itu tidak akan sia-sia, karena Allah memberikan kepada kita karunia yang jauh lebih besar, yaitu Roh Kudus – Allah sendiri. Inilah sikap penuh kepercayaan dari doa Kristiani yang sejati dalam konteks relasi antara seorang pribadi manusia dengan Penciptanya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih. Ajarlah kami untuk berdoa kepada-Mu dengan penuh kepercayaan dan keyakinan. Tolonglah kami untuk percaya bahwa Engkau akan memberikan hal yang baik kepada siapa saja yang memohonnya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS