Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Februari 21, 2012

PADA WAKTU AKU BERKENAN, AKU MENDENGARKAN ENGKAU, DAN PADA HARI AKU MENYELAMATKAN, AKU MENOLONG ENGKAU

( Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RABU ABU, 22-2-12 )

Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul

Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan pengantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.


Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman, “Pada waktu Aku berkenan, Aku mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. (2Kor 5:20-6:2)

“Kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah kamu terima. …… Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (1Kor 6:1,2).

Pada hari ini dimulailah “waktu perkenanan” dari Allah. Mulai hari ini, dan selama masa Prapaskah, Bapa surgawi mengundang kita untuk mengambil sejumlah langkah untuk mendekati-Nya sehingga Dia dapat membuat lompatan besar untuk mendekat kepada kita. Untuk beberapa saat, marilah kita menyingkirkan dulu rencana-rencana kita untuk masa Prapaskah dan merenungkan rahmat yang dicurahkan Allah kepada kita pada musim yang istimewa ini. Marilah kita merenungkan rahmat yang mengalir dari Bapa – yang memperkenankan Putera-Nya yang mahasempurna mati di kayu salib guna menebus dosa-dosa kita – agar kita bebas-merdeka dari kuasa dosa.

Sejak saat Ia menciptakan kita, Allah sebenarnya ingin membuka pintu gerbang surga bagi kita – tidak lebih, tidak kurang! Allah ingin agar kasih-Nya dapat dicurahkan dari surga ke atas lahan yang kekeringan. Akan tetapi hati manusia sudah mengeras dan tertutup oleh dosa. Itulah sebabnya, mengapa Yesus (sang Sabda) menjadi seorang manusia dan membawa dirinya ke kayu salib. Dia menebus dosa-dosa kita sebagai individu, juga mematikan sifat kita yang suka memberontak dan mementingkan diri-sendiri. Santo Paulus menulis: “Kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rm 6:6).

Allah sungguh ingin membawakan kebebasan ke dalam setiap bagian kehidupan kita. Dia menginginkan agar rahmat-Nya meliputi dan meresap ke dalam keseluruhan diri kita, untuk menghangatkan hati kita dan mentransformasikan pikiran kita. Dia sangat mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita. Dia juga sangat mengetahui kelemahan-kelemahan kita. Dia mengetahui hasrat-hasrat kita yang terdalam – baik ataupun buruk – dan Ia tidak akan menahan apa pun yang baik dari diri kita selagi kita menghadap-Nya dalam doa. Apabila kita mengakui kelemahan-kelemahan kita – maka ketika kita berdoa, “Tuhan, aku membutuhkan rahmat-Mu! Aku membutuhkan Engkau!” – maka Dia akan menyembuhkan kita dan mengubah kita.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang adalah “waktu perkenanan” itu! Allah mengetahui dosa mana yang paling sulit kita tanggulangi, dan Ia mempunyai semua rahmat yang kita butuhkan untuk meninggalkan dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahkan lebih penting lagi adalah kenyataan yang perlu kita imani dengan sungguh-sungguh, bahwa Allah mempunyai rahmat yang diperlukan untuk melembutkan hati kita dan mengajar kita untuk hidup dalam kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, rahmat-Mu sungguh membuat diriku takjub penuh kekaguman. Engkau senantiasa menunjukkan rahmat-Mu kepada diriku. Tolonglah aku dalam masa Prapaskah ini agar dapat melihat Engkau berlari menyambutku dengan tangan terbuka, seperti dalam “perumpamaan si anak yang hilang”. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Februari 20, 2012

HAWA NAFSU DAN PERSAHABATAN DENGAN DUNIA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII, Selasa 21-2-12 )

Dari mana datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Janganlah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata, “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”


Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23; Bacaan Injil: Mrk 9:30-37
Tetapi anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, lebih besar daripada itu. Karena itu, Ia katakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratapan dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. (Yak 4:1-10)

“Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratapan dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yak 4:9-10).

Besok hari Rabu adalah “HARI RABU ABU” , awal dari masa Prapaskah. Saya masih ingat, bahwa pada hari ini (H minus 1), di Amerika Serikat (New Orleans, kalau tidak salah) diselenggarakan festival besar-besaran yang diberi nama Mardi Gras. Di akhir tahun 1950’an atau awal 1960’an ada sebuah film bagus dengan judul “Mardi Gras” yang dibintangi oleh penyanyi kondang masa itu, Pat Boone. Film itu dengan baik menggambarkan apa dan bagaimana suasana festival itu. Hari festival itu dimaksudkan sebagai suatu hari penuh kegembiraan dan suka-ria, kesempatan terakhir untuk “heboh-heboh” sebelum melakukan puasa, pantang, mati-raga dsb. dst. dalam masa Prapaskah yang cukup lama durasinya itu. Bukankah dengan demikian petikan dari Surat Yakobus di atas (Yak 4:9-10) terasa kurang cocok dengan suasana penuh kegembiraan hari ini? Sebenarnya cukup cocok juga, karena festival Mardi Gras atau/atau sejenisnya (kalau tidak salah ada juga di Brazil) yang diselenggarakan satu hari sebelum dimulainya masa Prapaskah – tentunya yang bebas dari ekses-ekses yang tidak diinginkan – dimaksudkan untuk merayakan kebebasan kita dalam Kristus!

Allah ingin memberikan kepada kita pandangan segar tentang penyangkalan-diri yang akan kita lakukan selama sekitar 6 pekan ini sesuai undangan-Nya. Apakah alasannya sehingga kita mau-maunya mempraktekkan mati-raga dlsb., yang hanya membuat fisik kita lemah dan rentan? Karena mereka yang kuat-kekar tidak memerlukan pertolongan. Akan tetapi, mereka yang lemahlah yang lebih siap untuk datang ke bawah pemeliharaan dan otoritas “seseorang” yang lebih kuat. Hal ini sama benarnya dalam hidup Kekristenan (Kristiani) maupun di mana saja. Mereka yang tahu bahwa diri mereka lemah akan “mendekat kepada Allah” dan dengan penuh sukacita mereka juga akan melihat bahwa “Allah pun akan mendekat kepada mereka” (lihat Yak 4:8)!

Pada waktu segalanya dalam hidup kita berjalan dengan baik, kita cenderung untuk mereduksi – atau bahkan tidak menghiraukan sama sekali – kebutuhan-kebutuhan kita akan Allah. Kita dapat melontarkan pandangan kita ke sekeliling kita dan berkata, “Aku kuat; aku tidak membutuhkan pertolongan-Nya.” Namun apabila kita berada dalam “padang gurun” pribadi, maka kita menemukan kenyataan betapa diri kita itu lemah dan sangat membutuhkan pertolongan. Jadi, masa Prapaskah memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk melihat kebutuhan kita dan mengembangkan kebiasaan untuk tetap dekat pada Allah. Dengan demikian, ketika kesulitan-kesulitan datang – apakah sedikit demi sedikit atau secara bertubi-tubi – maka kita pun sudah siap menghadapi semua itu karena kita telah belajar menggantungkan diri kepada Allah dan menerima kekuatan dari Dia.

Selama 40 hari mendatang, marilah kita mendalami kesadaran kita akan kasih Allah yang dicurahkan di atas kayu salib di bukit Golgota sekitar 2.000 tahun lalu. Semoga kita dapat lebih melihat lagi bahwa rumah kita yang sejati adalah di surga. Marilah kita bersimpuh di hadapan hadirat Allah dan biarlah memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan mempersiapkan kita untuk tugas-tugas pelayanan apa saja yang direncanakan-Nya untuk kita masing-masing. Oleh karena itu nikmatilah hari Selasa yang indah ini karena besok kita akan mulai memasuki padang gurun dan datang mendekat kepada Allah.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat bertumbuh semakin dekat dengan Engkau, teristimewa dalam masa Prapaskah ini. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengakui bahwa aku sebenarnya lemah dan aku membutuhkan kekuatan-Mu untuk menjalani kehidupan dari hari ke hari. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Februari 19, 2012

KITA DIPANGGIL UNTUK MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII, Senin 20-2-12 )

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu


Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau,

keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29)

Bacaan Pertama: Yak 3:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Setiap saat dalam kehidupan-Nya, Yesus menaruh kepercayaan seperti anak-anak dalam Bapa di surga secara radikal. Ketergantungan-Nya kepada Bapa memberikan kepada-Nya kuasa untuk senantiasa melakukan kehendak Bapa.

Markus menempatkan mukjizat (yang dibuat oleh Yesus atas diri anak yang dirasuki roh jahat) itu dalam konteks yang lebih luas perjalanan-Nya ke Yerusalem, suatu “perjalanan pemuridan” (journey of discipleship:Mrk 8:31-10:52) yang sarat dengan pengajaran-pengajaran Yesus bagi para murid-Nya pada waktu itu dan hari ini juga. Peristiwa itu tidak hanya menunjukkan otoritas Yesus, melainkan juga mengungkapkan satu dimensi yang lain lagi dari kemuridan/pemuridan. Tatkala ayah dari anak yang dirasuki roh jahat itu mendekati Yesus, ia mengungkapkan pengharapannya yang sudah tergoncang dan hampir habis, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Mrk 9:22). Yesus menantang sikap orang itu dengan sebuah janji: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Ini merupakan sebuah undangan untuk ikut ambil bagian dalam rasa percaya Yesus sendiri kepada Bapa surgawi. Tanggapan orang itu merupakan sebuah contoh bagi semua orang Kristiani yang sedang bergumul dengan iman: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Karena orang itu dengan jujur menanggapi sabda Yesus, maka Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Sebagai tambahan dari pelajarannya mengenai iman, cerita ini juga menggemakan sesuatu yang bernuansa eskatologis. Dalam cerita ini diindikasikan adanya ketegangan antara dua aspek kerajaan Allah, yaitu aspek kerajaan Allah yang “sudah ada sekarang” dan aspek kerajaan Allah “yang belum/akan datang”. Kita masih ingat, bahwa sebelum itu kedua belas murid-Nya telah diberi amanat oleh Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan mereka telah berhasil mengusir roh-roh jahat (lihat Mrk 6:13). Akan tetapi, kali ini mereka gagal dalam upaya mereka untuk mengusir roh jahat keluar dari anak itu (Mrk 9:18). Yesus menjelaskan: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jadi, di sini Yesus mengindikasikan bahwa para murid perlu bertumbuh dalam kepercayaan, walaupun mereka telah mengalami sebagian dari pemerintahan Allah. Markus menginginkan para pembaca Injilnya untuk menyadari, bahwa seperti kedua belas murid, mereka dipanggil untuk mengembangkan suatu iman yang matang (dewasa) selagi mereka menantikan kedatangan kerajaan Allah dalam kepenuhannya.

Tulisan Markus ini juga menggemakan kebangkitan Yesus. Setelah dibebaskan dari kuasa roh jahat, anak itu kelihatan seperti orang mati (lihat Mrk 9:26). Kemudian Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya (lihat Mrk 9:27). Para pakar Kitab Suci mengatakan, bahwa terminologi dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Markus merupakan suatu pertanda dari kebangkitan Yesus dan merujuk kepada satu aspek lagi dari kemuridan/pemuridan: Orang-orang Kristiani kadang-kadang dapat merasa tak berdaya (powerless) dan seakan sudah kehilangan kehidupan (lifeless), tetapi bahkan mulai sekarang juga, Yesus membebaskan kita dan mengangkat kita kepada hidup baru, suatu pekerjaan yang akan dipenuhi pada hari terakhir kelak.

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mencicipi kepenuhan kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat percaya kepada-Mu secara lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri di atas iman yang matang dan mampu untuk memberi kesaksian tentang kenyataan kehadiran-Mu di tengah-tengah kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Februari 17, 2012

YANG BEGINI BELUM PERNAH KITA LIHAT!

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VII, 19-2-12 )

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu -, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 43:18-19,21-22,24b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 41:2-5,13-14; Bacaan Kedua: 2Kor 1:18-22

Sepanjang karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus secara tetap mencari kesempatan-kesempatan untuk mengajar dan mewartakan pesan dan misi-Nya kepada orang banyak. Pada banyak kesempatan Ia menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang menimpa umat manusia, baik fisik, kejiwaan maupun rohaniah.

Yesus menggunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa ilahi atas dosa dan mampu mengalahkan segala kuasa kegelapan. Dia ingin mereka mengetahui bahwa diri-Nya dapat mengampuni dosa-dosa, karena memang mempunyai hak untuk itu. Salah satu ceritanya dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini.

Mukjizat penyembuhan oleh Yesus yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini terjadi di Kapernaum, basis operasi Yesus dan para murid-Nya. Seorang lumpuh dibawa kepada-Nya. Yesus melihat iman orang-orang yang menggotong si lumpuh ke TKP dan tentunya iman si lumpuh sendiri. Kemudian Ia berkata kepada si lumpuh: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” (Mrk 2:6-7).

Inti cerita dalam bacaan ini terfokus pada otoritas Yesus untuk mengampuni dosa-dosa, sebuah pokok masalah yang diungkapkan oleh ketidaksetujuan sejumlah ahli Taurat yang hadir (lihat Mat 9:3). Para ahli Taurat itu menghakimi (dalam hati mereka) bahwa Yesus telah menghujat Allah. Meskipun masih dalam hati, Yesus mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka dan bertanya kepada mereka:“Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini”(Mrk 2:8-10). Kemudian Yesus berkata kepada si lumpuh: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikdarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:10-11). Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia memiliki kuat-kuasa ilahi untuk menyembuhkan manusia secara instan. Tentunya Dia juga mempunyai kuat-kuasa untuk mengampuni dosa. Keduanya mensyaratkan kuasa ilahi.

Sekali lagi: penyembuhan si lumpuh bukan saja merupakan bukti dari klaim Yesus, melainkan juga sesungguhnya merupakan sebuah manifestasi yang kasat mata dari kuat-kuasa-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Sebagaimana halnya dengan kasus eksorsisme, pelepasan dari kuasa jahat: dosa dan sakit-penyakit saling berkaitan – namun tidak perlu selalu dalam artian bahwa sakit-penyakit seseorang merupakan suatu penghukuman atas dosa pribadinya, melainkan sebagai gejala-gejala berbeda dari maut yang merusak ciptaan.

Reaksi orang banyak adalah ketakjuban, lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia (Mrk 2:12), kelihatannya ingin mengatakan bahwa cerita mukjizat ini juga menunjukkan kuasa untuk mengampuni yang diberikan kepada komunitas Kristiani (lihat Mat 18:18). Kuasa untuk mengampuni dosa ada di dalam Gereja (lihat Yoh 20:22-23) – dalam Sakramen Rekonsiliasi dan juga dalam tindakan-tindakan pengampunan yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap dunia yang memusuhi mereka. Dari waktu ke waktu kita harus bertanya, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Pengampunan Dosa (Sakramen Tobat/Sakramen Rekonsiliasi) ini dengan cukup wajar? Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tanda bahwa Gereja masih terus melanjutkan pelayanan penyembuhan dari Yesus. Bukankah begitu?

DOA: Tuhan Allah kami, Engkau telah banyak sekali mengampuni kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk menjadi pembawa damai di dalam dunia yang telah terkoyak-koyak oleh berbagai macam kekerasan dan permusuhan. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi murid-murid Yesus yang tangguh. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOSA KARENA LIDAH

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI, Sabtu 18-2-12 )

Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kamu tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehcndak juru mudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan hal-hal yang besar.

Lihatlah, betapa pun kecilnya, api dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; lidah merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedangkan lidah itu sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang melata dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tidak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Alllah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, Saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi. (Yak 3:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 12:2-5,7-8; Bacaan Injil: Mrk 9:2-13

Ada ungkapan dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “Sticks and stones may break my bones, but words can never hurt me”; terjemahannya kira-kira sebagai berikut: “ Tongkat-tongkat dan batu-batu dapat mematahkan tulang-tulangku, namun kata-kata tidak pernah dapat menyakitiku.” Ungkapan itu terlalu menganggap enteng dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh ucapan kata-kata. Teristimewa bagi orang yang pernah menjadi korban gossip, korban fitnah, korban character assassination, ungkapan di atas terasa seperti omong kosong, karena kata-kata yang diucapkan seseorang sungguh dapat menyakiti orang-orang lain. Lidah yang terkendali mungkin hanya menyebabkan iritasi ringan, namun dapat juga menghancurkan reputasi seseorang dan mematikan dirinya.

Dalam bacaan hari ini, Yakobus menunjukkan kuasa lidah ketika dia membandingkan lidah itu dengan kemudi kapal, yang meskipun kecil tetapi dapat mengendalikan kapal menurut kehendak juru mudi. Lidah-lidah kita juga memiliki kuat-kuasa untuk menggerakkan kita menuju ke tempat-tempat yang berbeda, yang kita ingin datangi atau pun yang kita tidak inginkan.

Sampai seberapa seringkah kita telah mengatakan sesuatu yang telah mengubah relasi kita dengan seseorang, bahkan sampai merusak reputasi orang itu. Barangkali kita ingin menarik kembali kata-kata yang telah kita ucapkan, namun semuanya telah terlambat. Kiranya tidak ubahnya dengan upaya memasukkan kembali odol ke dalam tube-nya. “The damage has already been done”, dan bagaimana pun mendalamnya pertobatan kita, ada sebagian kerusakan yang tidak pernah dapat diperbaiki.

Kalau kita mau berterus-terang, dengan kadar yang berbeda-beda tentunya, kita semua telah pernah bersalah dengan lidah kita. Yakobus mengatakan, bahwa hanya seorang pribadi yang sempurnalah yang senantiasa mampu mengendalikan lidahnya. Walaupun demikian, semua ini tidak berarti tidak ada lagi pengharapan. Dengan rahmat Allah kita dapat belajar mengendalikan apa saja yang kita katakan. Selagi kita bekerja sama dengan Roh Kudus, kita dapat mempelajari kiat seperti diajarkan Santo Paulus: “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah, Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2Kor 10:5). Ini mungkin saja merupakan sebuah proses sepanjang umur, namun kita tidak pernah terlambat untuk memulainya sekarang.

Bagaimana memulainya? Pertama-tama kita memahami kuasa menakjubkan yang kita coba untuk mengendalikannya, kemudian bertanya, “Mengapa aku ingin mengucapkan kata-kata yang akan kuucapkan? Apakah aku mengerti konsekuensi-konsekuensi dari kata-kata yang kuucapkan? Sangat pentinglah bagi kita untuk mengingat bahwa orang yang kita “omongin” adalah seorang pribadi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri (lihat Kej 1:26). Seorang pribadi yang tidak sempurna? Ya, tetapi dia tetaplah makhluk ciptaan Allah yang pantas dihormati seperti kita sendiri pun ingin dihormati dengan selayaknya.

DOA: Bapa surgawi, bebaskanlah aku dari hasrat untuk berbicara dengan tidak baik tentang orang-orang lain. Semoga lidahku tidak pernah sampai merusak reputasi sesoerang. Ya Tuhan Allahku, bersihkanlah hatiku agar yang keluar dari mulutku hanyalah puji-pujian bagi-Mu dan berkat-berkat bagi saudari dan saudaraku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Februari 16, 2012

Retret kebangunan Rohani

RETREAT KEBANGUNAN ROHANI

17 – 19 Februari 2012

OUR LADY OF FATIMA, BELURAN

“ BERDOALAH SUPAYA KAMU JANGAN JATUH

KE DALAM PERCOBAAN “ LUKAS 22:40

17 / 2 / 2012

3.00 - 6.00 PM - Pendaftaran

6.00 PM - Misa Pembukaan

7.00PM - Makan Malam

8.00PM - Pujian & Penyembahan

8.30PM - Sesi 1 : “Dosa”

10.00PM - Pengumuman Singkat / Doa Malam

18 / 2/ 2012

6 .00 AM - Doa Rosari

7.00 AM - Sarapan Pagi

8.00 AM - Pujian & Penyembahan

8.30 AM - Sesi 2 : “Peperangan Rohani”

9.30 AM - Tea Break

10.00 AM - Pujian & Penyembahan

10.30 AM - Sesi 3 : “Dipanggil menjadi Kudus”

11.30 AM - Kesaksian

12.00 PM - Makan Tengahari

2.00 PM - Pujian & Penyembahan

2.30 PM - Sesi 4 : “Buah-buah Roh Kudus”

3.30 PM - Kaunseling & Pengakuan

7.00PM - Makan Malam

8.00PM - Penerangan tentang Upacara Penyembuhan dan Pelayanan Doa

10.00PM - Doa Malam.

19 /2 /2012

6.00 AM - Doa Rosari

7.00 AM - Sarapan

8.00 AM - Misa Kudus

10.00 AM - Pujian & Penyembahan

10.30 AM - Sesi 5 : Berdoa dan Bersaksi

11.30 AM - Pujian & Penyembahan , Diteruskan dengan Upacara Pencurahan Roh Kudus

1.00 PM - Makan Tengahari

NOTA : PADERI PAROKI TELAH MEMAKLUMKAN BAHAWA MASA MISA KUDUS PADA 19 FEBRUARI 2012 ( AHAD ) TELAH DI UBAH MENGIKUT JADUAL MASA BIASA IAITU PADA JAM 11.00 PAGI. SILA MAKLUM

IMAN TANPA PERBUATAN PADA HAKIKATNYA ADALAH MATI

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI, Jumat 17-2-12 )

Apa guna, Saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata, “Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Denmikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, makan iman pada hakekatnya mati.


Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6; Bacaan Injil: Mrk 8:34-9:1
Tetapi mungkin ada orang berkata, “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”; aku akan menjawab dia, “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapak kita, dibenarkan berdasarkan perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatannya dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan demikian, genaplah nas yang mengatakan, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu, Abraham disebut “Sahabat Allah”. Jadi kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yak 2:14-24,26)

Dalam kehidupan anda sebagai seorang Kristiani yang Katolik, tentunya anda pernah (seringkali atau jarang) berinter-aksi dengan saudari-saudara kita Kristiani lainya yang berasal dari denominasi-denominasi lainnya. Barangkali anda telah mengalami rasa persatuan yang indah, namun pada saat sama merasa sedih atas kenyataan bahwa gereja-gereja masih terpisah-pisah. Salah satu “tembok pemisah” yang klasik adalah isu pembenaran. Apakah kita dibenarkan oleh iman saja, atau apakah pekerjaan baik juga diperlukan untuk keselamatan? Dapatkah kita mempunyai iman tanpa perbuatan-perbuatan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang telah membawa kepada banyak perpecahan yang kita lihat pada hari ini. Namun di sisi lain, kita mempunyai alasan untuk berpengharapan bahwa perpecahan ini dapat diatasi. Dokumen yang berjudul “Joint Declaration on the Doctrine of Justification” (Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran), mengungkapkan buah dari sebuah dialog bertahun-tahun lamanya antara gereja Lutheran dan gereja Katolik dan menunjukkan sampai berapa banyak kita dapat bersetuju.

Sementara tetap masih ada perbedaan-perbedaan yang serius yang harus dibahas lebih lanjut, dokumen ekumenis ini merupakan sebuah landmark. Dalam dokumen tertulis ini, kedua gereja mengakui bahwa pembenaran adalah karya Allah, bukan karya manusia. Kita diselamatkan oleh rahmat-Nya melalui iman sebagai suatu anugerah dari Allah kepada umat-Nya. Yang “mengejutkan” adalah, bahwa kedua gereja mengakui bahwa “pekerjaan baik” adalah sentral bagi kehidupan Kristiani kita. Sementara kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, kita tidak dapat mengklaim semua itu sebagai hasil karya kita sendiri atau sebagai sumber keselamatan kita. Seperti iman, demikian pula dengan pekerjaan-pekerjaan kasih. Semuanya datang dari Roh Kudus Allah.

Memang masih banyak yang harus dilakukan dalam perjuangan kita untuk tercapainya persatuan Kristiani, kita tidak boleh merasa ragu-ragu untuk mengakui mukjizat yang ada di belakang persetujuan antara gereja Lutheran dan gereja Katolik sehingga sampai menghasilkan dokumen di bidang ekumenisme yang sangat berarti. Apabila “kebencian” dan “rasa tidak percaya” yang sudah berabad-abad lamanya pada akhirnya menyusut, maka hasilnya tentulah adalah sebuah gereja yang lebih kuat, sebuah gereja yang sepenuhnya akan memusatkan segala sumber dayanya untuk memenuhi/melaksanakan misinya di tengah-tengah dunia, seturut “amanat agung” dari Yesus Kristun sendiri (lihat Mat 28:19-20). Oleh karena itu, marilah kita dengan penuh rasa gembira dan syukur berdoa kepada Allah dan memohon dari-Nya agar rencana-Nya untuk persatuan para pengikut/murid Kristus dapat terlaksana secara penuh. Marilah kita juga ikut ambil bagian dalam rencana itu dengan menghayati kehidupan penuh iman dan dengan pergi keluar dalam kasih kepada para saudari-saudara yang membutuhkan, di mana saja kita menjumpai mereka.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah kami mengalami dalam hidup kami apa yang Engkau sendiri doakan kepada Bapa pada malam sebelum sengsara dan kematian-Mu di atas kayu salib: “semoga mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu” (Yoh 17:22). Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, semoga kami semua anggota Tubuh-Mu bersatu dengan Engkau sebagai Kepala. Terpujilah nama-Mu yang Mahakudus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Februari 15, 2012

ENGKAULAH MESIAS!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI, Kamis 16-2-12)


Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33)

Bacaan Pertama: Yak 2:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7

“Engkaulah Mesias!” (Mrk 8:29). Ini adalah proklamasi yang sungguh luarbiasa menakjubkan – dan Simon Petrus membuat pernyataan ini setelah Yesus mengalami begitu banyak oposisi dari para pemuka agama Yahudi, dan ajaran-ajaran-Nya pun tidak kurang membingungkan para murid-Nya! Walaupun orang-orang Farisi telah menyaksikan sendiri mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, mereka tetap meminta agar Yesus memberikan tanda dari surga (lihat Mrk 8:11-13). Kemudian Yesus mencoba mengingatkan para murid-Nya agar waspada terhadap kemunafikan orang-orang Farisi dan Herodes (dan para pendukungnya), namun pesan-Nya tidak dipahami oleh para murid-Nya (lihat Mrk 8:14-21). Akhirnya, ketika Yesus berupaya untuk menyembuhkan seorang buta di Betsaida, Dia hanya dapat menyembuhkan orang buta itu secara bertahap (lihat Mrk 8:22-26). Orang itu tidak langsung dapat melihat secara penuh – demikian pula kiranya Simon Petrus dan murid-murid yang lain dalam memandang siapa Yesus bagi mereka.

Dengan proklamasinya tentang Yesus sebagai sang Mesias (lihat Mrk 8:29), kelihatannya Petrus akhirnya telah sampai kepada pemahaman tentang siapa Yesus sebenarnya dan mengapa Dia datang ke dunia. Namun, seperti orang buta yang belum sepenuhnya disembuhkan, visi Petrus masih belum jelas. Pada saat Yesus mulai menjelaskan bahwa Mesias “ditakdirkan” untuk menderita dan mati, maka Petrus memprotes. Protes Petrus ini membuktikan bahwa dia (dan murid-murid lainnya) tidak/belum memahami implikasi-implikasi sepenuhnya dari apa yang baru saja dipermaklumkannya dengan begitu meyakinkan. Beberapa menit sebelumnya Petrus memproklamasikan Yesus sebagai Mesias (Kristus) – Yang diurapi oleh Allah – sekarang Petrus malah berselisih pendapat dengan Yesus.

Sekarang, bagaimana halnya dengan kita sendiri? Kita sering sekali memproklamasikan Yesus sebagai Kristus, namun masalahnya apakah kita memahami implikasi sepenuhnya dari apa yang kita permaklumkan? Para murid Yesus berpikir bahwa mereka mengetahui apa yang harus diharapkan dari seorang Mesias: peragaan kuasa dan kemuliaan dunia. Mereka tidak memahami bahwa Yesus justru mengalahkan dosa dengan menyerahkan diri-Nya untuk menanggung hukuman yang sebenarnya pantas ditimpakan atas diri kita. Dalam penderitaan sengsara-Nya Tubuh-Nya penuh dengan luka-luka yang merupakan efek-efek dari ketidaktaatan kita.

Sebagian besar dari kita akan setuju bahwa Yesus adalah Mesias. Akan tetapi, sampai berapa jauh kita menghubungkan pernyataan itu dengan kematian-Nya di atas kayu salib? Mungkinkah kita merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan melihat kebutuhan kita akan pengampunan dan pembebasan (pelepasan) dari kedosaan kita? Inilah sebenarnya KABAR BAIK YESUS KRISTUS: Yesus telah mengampuni kita; Dia telah memenangkan bagi kita kebebasan kita dari perbudakan dosa. Kita mempunyai seorang Juruselamat yang sangat mengasihi kita, sehingga kita tidak perlu merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita, karena Dia sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati kita itu dan Ia pun menawarkan kebebasan dan kasih-Nya kepada kita. Apa yang diminta oleh-Nya dari kita adalah agar kita datang menghadap-Nya dengan rendah hati dan membuka diri kita bagi kasih-Nya yang menyembuhkan.

DOA: Yesus, kami memproklamasikan bahwa Engkau adalah Mesias, Kristus yang datang ke tengah-tengah dunia karena kasih-Mu, dan kemudian menderita karena dosa-dosa kami. Bukalah mata kami lebar-lebar, ya Tuhan! Tolonglah kami agar mau dan mampu percaya bahwa oleh kematian dan kebangkitan-Mu, Engkau telah mematahkan kuasa dosa dan memberikan kesembuhan bagi siapa saja yang datang menghadap Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS