Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, Disember 17, 2012

IBADAT SABDA LUAR STASI

GEDAU
15 Disember 2012

KBK OLOF DAN PEWARTAAN KHABAR GEMBIRA

LADANG VICLAND, BELURAN
Balaban Jaya, 14 Disember 2012

LADANG SEMENGGA, BELURAN
Balaban Jaya, 14 Disember 2012

DIKANDUNG DARI ROH KUDUS


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 18 Desember 2012)

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24)

Bacaan pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19

Setelah mendengar bahwa Maria hamil secara misterius, Yusuf memilih alternatif tindakan yang penuh belarasa sekaligus adil (lihat Mat 1:19). Namun ketika dia merenungkan dan mendoakan pilihan-Nya, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan menunjukkan suatu jalan lain. Kita dapat mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang berbicara kepada Yusuf. Roh Kudus menjelaskan kepada Yusuf bahwa dia harus menikahi Maria, dan bahwa Anak yang dikandungnya adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Mat 1:22-23). Ini adalah suatu pernyataan yang bersifat vital untuk umat manusia, dan juga tidak kurang pentingnya bahwa kita memohon kepada Roh Kudus untuk memeteraikan kebenaran yang sama dalam hati kita masing-masing.

Yesus, yang dikandung dari Roh Kudus, datang untuk mengangkat kita ke alam surgawi. Tanpa pernyataan Roh Kudus, kecenderungan alami kita adalah untuk mereduksi kehidupan Kristiani kita menjadi sekadar sebuah daftar kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan atau tidak lakukan. Kita mulai melihat iman kita hanya sebagai sebuah polis asuransi terhadap risiko neraka, yang preminya kita bayar dengan kehadiran kita pada Misa setiap hari Minggu. Keprihatinan kita pada orang-orang miskin dipersempit menjadi isu-isu penyediaan makanan dan tempat bernaung mereka sehari-hari. Kalau kita tidak membiasakan diri dengan Roh Kudus, kita akan luput melihat jantung dari Injil.

Tanpa pertolongan Roh Kudus, kita juga akan mengalami kesulitan untuk memahami tujuan hidup kita. Namun selagi kita menenangkan hati kita dan memperkenankan Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita kebenaran-kebenaran sabda Allah dalam Kitab Suci, maka kita mulai memahami Injil secara lebih penuh lagi – termasuk panggilan Allah secara pribadi kepada kita masing-masing. Pesan keselamatan akan menjadi hidup sebagai suatu pernyataan kasih Allah Bapa. Kita akan melihat Yesus sebagai Dia yang tetap secara kekal berkomitmen untuk menyelamatkan kita dari dosa dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya untuk selama-lamanya.

Apakah kita percaya bahwa Roh Kudus ingin berbicara kepada kita tentang siapa Yesus itu sebenarnya dan tentang hidup yang dapat kita alami apabila bersatu dengan diri-Nya? Pada hari-hari menjelang Natal ini, marilah kita “bereksperimen” dalam “mendengarkan” suara yang dibisikkan Roh Kudus kepada kita masing-masing. Marilah kita duduk sendiri dengan hanya ditemani oleh Alkitab sambil terus memperhatikan gerakan-gerakan Roh Kudus dalam hati kita. Percayalah bahwa Ia akan mengangkat kita ke alam surgawi. Dia yang mahasetia akan melakukan hal tersebut.

DOA: Roh Kudus Allah, aku percaya Engkau begitu berhasrat untuk berbicara kepadaku. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku untuk sungguh mendengarkan suara-Mu ketika aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam menjalani kehidupan yang diberikan Yesus kepadaku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Disember 16, 2012

SILSILAH YESUS KRISTUS (2)


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 17 Desember 2012)

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak memunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembungan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17)

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Karena bacaan Injil hari ini adalah sebuah silsilah, maka kemungkinan besar dilewatkan begitu saja atau dibaca secara sepintas lalu karena dipandang tidak relevan. Namun kita haruslah menyadari, bahwa di sini Matius bukanlah sekadar mencatat lagi garis keturunan Yesus di dunia. Matius di sini menantang berbagai asumsi kita.

Dengan menelusuri garis keturunan Yesus sampai kepada Abraham, Matius memberi akar asal-mula Yesus dalam warisan sejarah orang Yahudi dan menyoroti kelangsungan garis keturunan-Nya yang berhubungan dengan dengan semua tokoh besar Israel. Namun demikian, Matius juga tidak selalu mengikuti tradisi garis-ayah saja dan menyebutkan dalam silsilah itu empat nama perempuan Perjanjian Lama dalam pohon keluarga Yesus: Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba (istri Uria). Dua dari mereka adalah pelacur, tiga dari mereka adalah orang asing, dan satu dari mereka adalah seorang korban nafsu laki-laki atau consenting partner (mitra yang sama-sama mau) dalam suatu perselingkuhan dan konspirasi. Kemudian disebut perempuan yang kelima: “Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Walaupun adalah “tipikal” untuk menyajikan suatu silsilah dari tokoh-tokoh besar Yahudi, munculnya nama-nama perempuan seperti diuraikan di atas dalam silsilah Yesus sungguh di luar ekspektasi kita. Hal ini memberi sinyal suatu “penyimpangan” yang radikal. Yesus memang tidak datang untuk menjaga status quo, namun untuk membawa perubahan radikal.

Dalam masa persiapan Adven, biarlah silsilah Yesus ini mengundang kita masing-masing untuk merenungkan cara-cara Allah yang “menyimpang” dari ekspektasi-ekspektasi kita berkaitan dnegan kehidupan Kristiani. Apakah Yesus telah menggoncang diri kita? Apakah ada orang-orang atau situasi-situasi yang sungguh menantang kita? Dalam hal ini kita tidak perlu terlalu terkejut atau merasa surprise. Marilah kita memperkenankan Allah mengubah diri kita. Percayalah kita dapat dimampukan untuk mengasihi orang-orang yang selama ini kita nilai sebagai pribadi-pribadi yang “sulit”. Marilah kita lihat, bahwa lewat doa-doa kita Allah dapat membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, baik fisik maupun spiritual. Kita masing-masing dapat menjadi instrumen damai-sejahtera Allah di mana ada perselisihan, perseteruan, kekacauan, dlsb.

Dengan demikian, marilah kita mempersiapkan Natal dengan memikirkan situasi-situasi yang paling sulit, dan membawa semua itu ke hadapan hadirat Allah dalam masa Adven ini. Perkenankanlah Dia untuk memberikan kepada kita pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap baru. Kita sepantasnya mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan memanifestasikan diri-Nya tidak hanya pada saat kita berdoa dan menghadiri Misa Kudus, tetapi sepanjang kehidupan sehari-hari kita. Percayalah, bahwa dengan begitu Dia akan membuat kita sungguh mengalami surprise.

DOA: Aku menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, dan memuji-muji-Mu. Aku mengasihi-Mu, ya Yesus, karena Engkau adalah andalanku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSORAK-SORAILAH, HAI PUTERI SION


(Permenungan atas bacaan-bacaan Kitab Suci Misa Kudus pada hari HARI MINGGU ADVEN III [Tahun C])

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Flp 4:4-7; Bacaan Injil: Luk 3:10-18

Bacaan Injil. Bacaan Injil hari ini kembali menampilkan Yohanes Pembaptis. Sang Bentara Mesias ini menuntut perbuatan yang nyata sebagai persiapan untuk kedatangan Yesus, sebagai bukti adanya pertobatan. Yohanes Pembaptis tidak menyuruh orang banyak yang mendengarkan khotbahnya: “Kamu harus berdoa”, Kamu harus berpuasa”, atau “Kamu harus menyiapkan acara yang “wah”-meriah untuk menyambut kedatangan Mesias yang akan datang.” Yohanes Pembaptis menanggapi pertanyaan-pertanyaan orang banyak, a.l. seperti berikut ini: “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saya yang mempunyai makanan, hendaklah ia berjuga demikian.” (Luk 3:11; lihat juga Luk 3:13,14).

Kembali kepada masalah “doa” yang disinggung di atas. Memang doa itu penting, namun doa tidak akan banyak berguna apabila setelah berdoa kita kembali melakukan korupsi, memperlakukan orang-orang lain dengan tidak adil, misalnya dengan memeras, menyalahgunakan kekuasaan kita untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, dlsb. Doa-doa kita akan menjadi semacam perbuatan menipu Allah jika tidak disusul dengan perbuatan-perbuatan baik. Tidak ada gunanyalah kiranya doa-doa kita yang panjang atau berlama-lama berbicara dengan Sang Mahatinggi apabila sedikit sekali atau bahkan samasekali tidak disertai dengan perbuatan baik kepada sesama. Tindakan nyata dalam wujud perbuatan baik senantiasa dibutuhkan, tidak boleh NATO (No Action, Talk Only!). Itulah salah satu pesan Injil pada hari ini.

Holiday Sorrow. Masa Adven ini adalah masa pertobatan yang khusus, namun juga masa menantikan hari untuk mengenang kelahiran Yesus di Betlehem, masa penuh sukacita dalam menantikan kedatangan sang Raja Damai! Namun demikian, apakah yang terjadi dengan diri kita? Bukan sukacita yang menguasai diri kita melainkan rasa sedih dan rasa tertekanlah yang menguasai diri kita. Dan hal ini terjadi justru pada saat kita “sibuk” beraktivitas dalam rangka menyambut hari kelahiran sang Penebus, menyiapkan kandal Natal, pohon Natal, menyiapkan hadiah-hadiah Natal, menyiapkan makanan yang sungguh dapat memuaskan cita-rasa, dlsb. Tidak sedikit para ahli psikologi berusaha untuk menerangkan sebab musabab dari “holiday sorrow” ini, misalnya banyak impian yang tak menjadi kenyataan sepanjang kehidupan seseorang dll. Apapun alasannya, sedikit banyak kita masing-masing tentunya telah mengalami hal yang serupa.

Kita memiliki banyak alasan untuk merasa sedih dan tertekan hidup di dunia ini. Kita tertekan oleh berbagai beban, derita, dan kesulitan yang membuat kita sungguh sedih. Dunia yang penuh kekerasan, ketidak-adilan, kemiskinan yang terus dialami oleh mayoritas penduduk dunia, dlsb. Namun sebelum kita pergi jauh ke tanah Palestina, Myanmar, Somalia dst., marilah kita merenungkan apakah yang terjadi di negara kita sendiri – Indonesia – yang tercinta ini. Begitu banyak yang terasa salah di negara kita. Setiap kali kita menonton berita di televisi, yang kita lihat adalah adegan kekerasan di segala tempat, demonstrasi di jalan raya, tawuran antara siswa-siswa sekolah, bahkan antara para mahasiswa dalam universitas yang sama (sebuah absurdity?), rektorat sebuah universitas yang dirusak oleh mahasiswanya sendiri, anak SD berdemonstrasi menuntut Kepala Sekolah mereka mundur, berkelahi di lapangan bola yang sudah dianggap lazim, para pengurus tertinggi persepakbolaan saling berseteru, kebohongan yang satu disusul dengan kebohongan yang lain terus diucapkan oleh para pejabat pemerintahan (ketiga-tiga cabangnya), korupsi yang kian menggurita karena “budaya malu” sudah menghilang dari masyarakat kita …… dan banyak lagi contoh yang dapat diberikan, yang memang dapat membuat seseorang menjadi sedih dan tidak sedikit orang yang merasa pesimis serta penuh penyesalan.

Kita memang tidak perlu dan tidak boleh menutup mata terhadap sisi gelap kehidupan yang kita hadapi, namun sebagai seorang Kristiani kita masing-masing sebenarnya tidak boleh tenggelam karena hal-hal buruk yang kita alami. Kita harus mengangkat kepala dan harus memperhatikan pula pengharapan apa yang sudah disediakan Allah bagi kita.

Hari Minggu penuh Sukacita. Pada hari ini Gereja – lewat liturginya – kembali menunjukkan hikmat-kebijaksanaan yang sudah berabad-abad umurnya, yaitu dengan mengajak kita untuk merayakan sebuah Hari Minggu penuh Sukacita, hanya beberapa hari saja menjelang Hari Raya Natal, semua ini baik untuk mengimbangi berbagai rasa sedih yang dikemukakan di atas tadi. Dalam bacaan pertama, nabi Zefanya mengajak kita untuk bersukacita: “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!” (Zef 3:14). Demikian pula Santo Paulus dalam bacaan kedua: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Flp: 4:4). Ini adalah kabar baik untuk setiap orang. Dunia pada umumnya membutuhkan pikiran-pikiran penuh sukacita yang tersedia dalam masa Adven/Natal ini.

Santo Lukas penulis Injil memandang Maria sebagai Puteri Sion, wakil umat Allah. Melalui Maria, Kabar Baik, disampaikan kepada kita: Bersukacitala dan beria-rialah! Kegembiraan ini juga untuk kamu!

Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh kita masing-masing. Sekarang, apakah kita sudah siap menyambut kegembiraan Allah ke dalam hidup kita? Apakah kita bersedia menemukan sukacita kita yang terbesar dalam Tuhan Yesus Kristus? Apakah kita berani percaya kepada Kabar Baik ini, padahal kehidupan kita sendiri terancam dirundung kemurungan dan kedukaan? Kita dapat percaya kepada Kabar Baik ini apabila dengan tulus-ikhlas kita membuka hati kita masing-masing untuk menyambut seseorang yang lebih besar dari hati kita. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menentukan dalam masa Adven ini: Apakah kita sedang menantikan kedatangan seseorang? Apakah kita memiliki kerinduan akan kedatangan Allah ke dalam hidup kita? Apakah Allah itu jauh, berdiri di pinggiran hidup kita, serupa khayalan samar-samar, tidak riil, tidak memberikan pengharapan yang teguh? Ataukah, Dia adalah Allah yang dekat, yang datang menyongsong kita? Allah yang berdiri di tengah kehidupan kita sehari-hari; di tengah bangungan cita-cita dan rencana kita, di dalam dunia impian serta dunia kenyataan kita?

Belajar dari Bunda Maria. Maria – sang Puteri Sion – mengundang kita agar kita tidak membuang-buang waktu dengan pikiran yang rumit-rumit. Bagi Maria beriman atau percaya bukanlah berarti menerima ajaran-ajaran tentang kebenaran yang tak berkaitan dengan kenyataan. Bagi Maria, percaya itu tidak dipersempit menjadi sekadar kegiatan akalbudi, yang tidak menggerakkan hati, badan dan hidup. Bagi Maria, percaya adalah mengandung bayi – Putera Allah sendiri – mengasuh-Nya dengan darahnya sendiri, mendukung-Nya dengan nyawanya sendiri. Maria menerima sang Sabda itu lebih dahulu dalam hatinya oleh iman, sebelum Sabda itu menjadi daging dalam rahimnya (Yoh 1:14). …… daging dari dagingnya, darah dari darahnya sendiri.

Jika kita memandang Maria, maka kita pun menyadari paradoks yang ada dalam iman kita. Segala-galanya menjadi konkret, sangat dekat pada kehidupan kita, pahadal hampir tidak masuk akal kita. Allah yang Mahaagung mau merendahkan diri-Nya menjadi bayi kecil, anak seorang manusia, putera seorang perempuan muda dari Nazaret. Ia lahir dan takluk kepada hukum Taurat. Allah – sang Khalik langit dan bumi – menjadi seorang bayi yang sangat kecil dan mungil, dapat ditatang dalam tangan, dibelai dengan ciuman mesra. Allah sebagai insan yang sering tersenyum dan bernapas. Ia dapat dibelai dan Ia sungguh-sungguh hidup.

Belum pernah dialami dengan begitu jelas dan nyata oleh manusia mana pun bagaimana Allah mengasihi manusia. Allah menjadi lebih insani; bahkan menjadi manusia. “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion …… Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi” (Zef 3: 14,15). Kegembiraan Maria seyogianya menjadi kegembiraan kita. Kemuliaannya semoga menjadi kemuliaan umat-Nya. Hartanya yang tak ternilai – Yesus Kristus – semoga menjadi harta kita juga yang tak ternilai.

Cilandak, 16 Desember 2012 (HARI MINGGU ADVEN III)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Disember 14, 2012

PERAYAAN HARI OLOF 2012

APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun C] – 16 Desember 2012)

Orang banyak bertanya kepadanya, “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya kepada mereka, “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” Pemungut-pemungut cukai juga datang untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya, “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.” Prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya, “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. (Luk 3:10-18)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Flp 4:4-7

Ketika Yohanes Pembaptis mulai melakukan pewartaannya dalam rangka menyiapkan orang-orang untuk menyambut kedatangan Mesias yang dijanjikan itu, dia menyebabkan “ramai-ramai” dalam masyarakat. Banyak orang mulai berkumpul di sekeliling diri Yohanes Pembaptis, meminta kepadanya nasihat-nasihat dan menerima baptisan pertobatan dari dirinya. Yohanes Pembaptis telah menyebabkan suatu sensasi sedemikian rupa sehingga banyak orang mulai bertanya-tanya apakah dia sendirilah sang Mesias yang dinanti-nantikan itu.

Akan tetapi, Yohanes Pembaptis tetap jelas tentang misi yang diembannya: Dia hanya diutus untuk membaptis dengan air, bukan dengan Roh Kudus. Baptisannya adalah suatu baptisan untuk menyiapkan baptisan penuh yang akan diberikan oleh Yesus.

Kata-kata Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini memberi pencerahan penting tentang misi Yesus, sesuatu yang berada pada jantung Natal itu sendiri, namun yang dapat luput terlihat dari waktu ke waktu. Yohanes memahami bahwa Yesus telah datang tidak hanya untuki mengusir dosa, melainkan juga membaptis umat-Nya dengan Roh Kudus. Kedatangan Mesias bukanlah untuk sekadar mengusir dosa dari hati manusia, melainkan juga teristimewa untuk mengisi diri kita dengan hidup dan kuasa Allah sendiri.

Menurut Yohanes Pembaptis, Yesus datang untuk memisahkan “gandum” dari “lalang” dalam hidup kita sehingga akan ada ruangan dalam hati kita bagi Roh Kudus-Nya. Dengan semakin mendekatnya Hari Raya Natal, maka sekarang adalah saat yang baik untuk membuat inventarisasi dari relasi kita sendiri dengan Roh Kudus. Apakah kita telah mengalami Roh Kudus menyatakan kepada kita tentang masing-masing area dosa (lalang) yang selama ini telah menghalangi aliran kasih Allah dalam hati kita? Apakah kita mengenal serta mengalami karya Roh Kudus dalam menuntun kita ke dalam pertobatan dan kebebasan? Apakah kita mengalami damai-sejahtera dalam batin kita, bahkan dalam situasi-situasi yang berat sekali pun? Apakah kebenaran-kebenaran Kristus menjadi hidup bagi kita manakala kita berdoa? Semua ini adalah tanda-tanda karya Roh Kudus, dan semua itu dijanjikan kepada siapa saja yang merangkul Yesus dalam hati mereka.

Semakin dalam kita hidup dalam persekutuan dengan Roh Kudus, semakin lebar pula kiranya pintu gerbang surga terbuka bagi kita. Roh Kudus inilah jalan kita kepada kedalaman hati Allah. Oleh karena itu, selagi kita mempersiapkan perayaan kedatangan Yesus pada hari Natal, dan selagi kita menyiapkan diri untuk kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman, marilah kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam hati kita lebih dalam lagi.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kusampaikan kepada-Mu, karena Engkau telah menyatakan Yesus Kristus kepadaku. Dalam Engkau aku dapat menemukan kasih Allah yang kekal, dalam Engkau aku dapat menghindari dosa, dan dalam Engkau pula aku dapat secara mendalam menarik pelajaran sangat berharga dari kehidupan Yesus sebagai seorang manusia. Datanglah, ya Roh Kudus, dan lanjutkanlah karya-Mu dalam diriku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG MESIAS DAN BENTARA-NYA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 15 Desember 2012)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13)

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19

Setelah mereka menyaksikan peristiwa transfigurasi Yesus (Mat 17:1-8), Petrus, Yakobus dan Yohanes menjadi lebih yakin dari sebelum-sebelumnya bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Israel. Tentu sekarang Ia akan menyatakan diri-Nya kepada Israel dengan penuh kuasa! Selagi mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati” (Mat 17:9). Lalu para murid-Nya bertanya kepada Yesus, mengapa sebagai Mesias Ia telah muncul di tengah-tengah masyarakat tanpa didahului oleh kedatangan Elia sebagaimana telah dinubuatkan oleh para nabi (lihat Mat 17:10).

Yesus menjawab bahwa Elia telah datang dalam diri Yohanes Pembaptis, namun para penguasa tidak mengenalinya dan memperlakukan dia dengan buruk dan malah membunuhnya (lihat Mat 17:11). Yesus juga menjelaskan bahwa diri-Nya akan diperlakukan sama buruknya seperti yang telah dialami sang bentara: “Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka” (Mat 17:12). Penjelasan Yesus ini kelihatan absurd di mata para murid-Nya yang baru saja menyaksikan Yesus dalam kemuliaan surgawi. Mengapa para penguasa ingin menghancurkan-Nya?

Selagi kita membaca Injil, kita pun dapat merasa heran atas kebutaan orang-orang yang ingin menyingkirkan Yesus. Bagaimana mungkin mereka sampai tidak memahami siapa Yesus itu sebenarnya? Itulah pertanyaan reflektif kita, namun adalah kenyataan bahwa Yesus terus saja menderita karena penolakan banyak pihak, bahkan sampai hari ini. Dalam dunia ini terdapat kekuatan-kekuatan yang ingin menyingkirkan Yesus dan kemurnian pesan Injil-Nya. Yang kita harus lakukan hanyalah mengikuti perkembangan pemberitaan dalam berbagai media, opini publik yang beredar, dan tingkat kekerasan yang berlangsung dalam masyarakat, untuk melihat betapa besar hasrat banyak pihak untuk “melenyapkan” Yesus.

Yang barangkali lebih sulit bagi kita untuk mempersepsikannya adalah fakta bahwa niat-niat serupa terpendam juga dalam diri kita masing-masing. Misalnya, sampai berapa seringkah kita berpikir bahwa sebenarnya Yesus tidak mengasihi diri kita, bahwa kita tidak dapat sungguh-sungguh mengharapkan Dia akan mengampuni dosa kita, bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sungguh sulit? Kita masing-masing harus jujur dengan Yesus pada saat-saat pemikiran-pemikiran seperti ini mulai menggiring kita ke arah yang salah. Kita tidak usah merasa malu untuk mengungkapkan sisi gelap diri kita di hadapan Allah dalam doa dan pengakuan dosa. Biar bagaimana pun juga, Dia tahu bahwa dosa-dosa itu ada di sana. Dia bahkan melihat dosa-dosa kita dengan lebih jelas daripada kita sendiri melihat semua itu, …… dan hasrat-Nya untuk untuk menyembuhkan diri kita jauh lebih besar daripada hasrat kita sendiri. Apa lagi yang lebih menggembirakan dan menyemangati kita?

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku dan yakinkanlah diriku tentang kasih Yesus. Tolonglah aku untuk tidak menjadi takut terhadap penyelidikan-Mu selagi Engkau memanggil aku kepada kekudusan. Engkau tetap setia walaupun aku tidak setia! Datanglah, ya Roh Kudus, dan lakukanlah karya pembebasan-Mu yang penuh kuat-kuasa dalam diriku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 13, 2012

DENGAN APAKAH AKAN KUUMPAMAKAN ORANG-ORANG ZAMAN INI?

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga Gereja – Jumat, 14 Desember 2012 )

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19)

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Dunia kita dipenuhi dengan perselisihan, percekcokan dan sakit hati. Kehidupan pribadi kita juga seringkali disentuh oleh kekecewaan dan perjuangan jatuh-bangun. Setiap kehidupan manusia memang berbeda-beda, akan tetapi kita menghadapi tantangan-tantangan dari berbagai kesulitan di tempat kerja, patah hati karena menyaksikan kehancuran perkawinan anggota keluarga kita, atau sakit hati yang disebabkan oleh relasi yang terluka, dlsb. Namun demikian, tokh kecenderungan kita adalah untuk memecahkan masalah-masalah kita yang sering “menggunung” itu dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, tanpa Allah. Kadang-kadang kita malah menyalahkan Allah untuk berbagai kesulitan hidup kita dan penderitaan yang kita tanggung, walaupun Ia sesungguhnya adalah satu-satunya sumber damai-sejahtera dan sukacita bagi kita.

Ketika berbicara mengenai reaksi-reaksi orang banyak terhadap Yohanes Pembaptis, Yesus menggambarkan bagaimana mudahnya kita menjadi tidak berbahagia dengan apa saja yang kita temui dalam kehidupan kita. Pada saat kita dikonfrontir dengan panggilan untuk bertobat, kita ingin mengesampingkannya dan menekankan sesuatu yang lebih “positif”. Pada saat kita dipanggil untuk bersukacita dalam kasih Allah, seringkali kita malah mengabaikannya dengan alasan bahwa hal tersebut terlalu idealistis dan sudah keluar dari realitas. Manusia memang suka berubah-ubah!

Yesus bersabda: “Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Hal ini berarti bahwa kebenaran dan keadilan Allah dibuktikan benar manakala umat-Nya mengikuti jalan-Nya secara serius dan mengikuti-Nya. Selagi kita memperkenankan Yesus menguasai diri kita dan menaruh kepercayaan kepada segala ketetapan-Nya, maka kita akan mengenal dan mengalami damai sejahtera. Selagi kita mengakui bahwa dosa dan keserakahan ada pada akar segala penderitaan di dalam dunia, maka kita pun akan mulai melihat hal-hal yang sama bergerak dalam hati kita sendiri dan menyadari bagaimana semua itu ada pada akar segala masalah yang kita hadapi. Pengetahuan ini akan memimpin kita kepada suatu ketaatan yang lebih mendalam dan lebih merendah.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Yesus telah datang untuk membebaskan kita. Dia memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan untuk dapat bebas dari dosa, kemarahan dan luka batin. Yang diminta oleh Yesus hanyalah bahwa kita mendengarkan sabda-Nya dan mencari pertolongan dari Roh Kudus-Nya dalam upaya kita untuk mentaati-Nya. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita berbalik kepada Yesus, dan setiap saat kita berada berjalan di jalan yang salah, berbaliklah kembali kepada-Nya. Kita akan selalu menjumpai Dia sedang menunggu di sana dengan tangan-tangan yang terbuka lebar-lebar untuk menerima kita kembali. Selagi kita berjalan semakin mendekat pada Yesus, maka kita akan melihat Allah menggunakan kita untuk mencurahkan Roh-Nya ke atas diri setiap orang di sekeliling kita.

S. Yohanes dari Salib [1542-1591] yang kita peringati pada hari ini adalah seorang imam-biarawan Karmelit tak berkasut (OCD) yang berasal dari Spanyol. Terdorong oleh pembaruan yang dilakukan oleh S. Teresa dari Avila [1515-1582] orang kudus ini mulai memperbaharui ordo Karmelit laki-laki. Upayanya yang tulus dan berani ini mengakibatkan dirinya dibuang ke dalam “penjara biara” dan diperlakukan dengan kejam oleh para saudara seordonya. Yohanes yang pandai menggubah sajak itu berhasil melarikan diri. Usaha membarui ordonya disalahtafsirkan oleh para biarawan lainnya. Karena itu dia diperlakukan dengan semena-mena sampai wafatnya. Namun demikian Yohanes tetap gembira dan menulis banyak karya klasik tentang peri kehidupan rohani dan pengalaman mistik. Ia dihormati sebagai Pujangga Gereja.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami ingin lebih mengenal Engkau lagi. Kami ingin mempersembahkan kepada-Mu keseluruhan hidup kami. Kami ingin mohon kepada-Mu untuk menolong kami berjalan bersama-Mu dan memperkenankan kami balik kembali kepada-Mu setiap kali kami tersesat. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Disember 12, 2012

LAWATAN KAROLING 2012 DI TAMAN SG. LABUK, BELURAN

KERASULAN BELIA KATOLIK
OUR LADY OF FATIMA, BELURAN
12 Disember 2012
( Lawatan Karoling Di Rumah Saudara Hendrickus B. Nadus )














12 Disember 2012 -  Kerasulan Belia Katolik, Gereja Our Lady Of Fatima, Beluran telah membuat lawatan karol di Taman Sg. Labuk, Beluran. Salah sebuah rumah yang dikunjungi ialah rumah saudara Hendrickus B. Nadus ( Penyelaras Komiti Liturgi merangkap Penasihat KBK. OLOF ). Kekuatan pelayanan para belia melalui doa dan lagu-lagu karol semasa musim Adven ini menyemarakkan lagi semangat para umat yang dikunjungi untuk terus bersedia menyambut Kelahiran Tuhan Yesus dalam setiap peribadi, keluarga seterusnya komuniti; sehingga perayaan Natal 2012 ini akan menjadi lebih bermakna. Semoga Tuhan Yesus, Raja Kerahiman Ilahi memberkati para belia dan beliawanis OLOF. TAHNIAH.

KERAJAAN SURGA DISERBU


(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir – Kamis, 13 Desember 2012)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan – jika kamu mau menerimanya – dialah Elia yang akan datang itu, Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Mat 11:11-15)

Bacaan Pertama: Yes 41:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:9-13

“Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya” (Mat 11:12). Kalimat ini terasa bertentangan dengan kata-kata Yesus yang lain, misalnya “Berbahagialah orang yang lemah lembut” (Mat 5:5)? Di sini memang Yesus tidak berbicara mengenai serbuan atau kekerasan fisik, melainkan tentang keberanian dan determinasi.

Yesus ingin agar kita memahami bahwa kita sedang berada di tengah sebuah pertempuran, sebuah peperangan di dalam pikiran kita antara aspirasi-aspirasi akan kebaikan dan kecenderungan-kecenderungan kita akan hal-hal yang jahat. Sebagian dari diri kita – Kitab Suci menyebutnya sebagai “daging” – tidak mau berurusan sama sekali dengan Yesus atau Adven atau sisi spiritual/rohani dari perayaan Natal. “Daging” hanya berminat melakukan apa yang ingin dilakukannya, dan dengan cara memaksa “daging” berupaya mencapai tujuannya. Karena keselamatan kekal manusia dalam konflik ini bagaikan berada di ujung tanduk, maka adalah sesuatu yang crucial bagi kita untuk tetap bertahan, bahkan dengan biaya melakukan “kekerasan” terhadap bagian dari kita yang bertentangan dengan jalan-jalan Allah.

Kita harus berhati-hati ketika merenungkan tentang bacaan Injil hari ini. Kekerasan yang disebutkan oleh Yesus itu tidak ada sangkut-pautnya dengan rasa sakit yang kita lakukan sendiri atas diri kita (Inggris: self inflicted pain). Yang dimaksudkan-Nya adalah dengan sekuat tenaga berpegang pada rahmat yang Allah ingin berikan kepada kita. Bagi banyak dari kita, ini adalah sebuah pertempuran untuk mendapat “waktu” lebih daripada hal lainnya. Misalnya:

Berdoa. Adven dan Natal membawa serta semua jenis kegiatan: berbagai macam pesta, berbelanja, kunjungan-kunjungan kepada anggota keluarga dan sahabat. Kegiatan membuat kue-kue dan membungkus kado-kado, semuanya membutuhkan waktu Padahal kegiatan yang paling penting yang dapat kita lakukan 12 hari ke depan adalah menyediakan waktu bersama Yesus dalam doa dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita membaca berbagai nubuat tentang kedatangan-Nya ke dunia dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Marilah kita baca dan renungkan narasi tentang Elisabet dan Maria dalam Injil Lukas. Marilah kita mohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita mengapa begitu penting bagi-Nya untuk datang menyelamatkan kita.

Menolong orang lain. Area lain di mana kita perlu menyediakan waktu adalah melayani orang-orang yang menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan ini. Apakah seorang anggota lingkungan kita atau RT kita yang sudah tua akan memperoleh manfaat dari kunjungan kita atau dari kata-kata penghiburan yang keluar dari mulut kita? Apakah kita dapat membantu tetangga kita yang sedang sakit dengan ikut ambil bagian mendekorasi rumahnya? Atau dapatkah kita membantu membelikan hadiah-hadiah Natal kepada keluarga-keluarga yang tidak mampu? Selagi kita ke luar menemui dan menolong orang-orang lain berbagai kesempatan, maka kita pun menekan kodrat kedosaan kita dan berpegang teguh pada rahmat Allah yang indah, yang mampu mentransformasi hidup manusia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kusampaikan kepada-Mu karena Engkau telah datang ke dunia dan membuka pintu gerbang surga. Tolonglah aku agar dapat memegang erat-erat rahmat yang Engkau berikan kepada-Ku. Tunjukkanlah kepadaku pada hari ini kesempatan bagiku untuk dapat menolong seseorang yang membutuhkan kasih-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUNDA MARIA DARI GUADALUPE



Pada hari ini, tanggal 12 Desember, para saudari kita dari Kongregasi “Misionaris Claris dari Sakramen Yang Mahakudus [MC]” (Sorores Missionariae Clarissae a SS Sacramento) merayakan “HARI RAYA SP MARIA YANG TETAP PERAWAN, BUNDA ALLAH PENCIPTA SURGA DAN BUMI GUADALUPE”, Pelindung Utama tarekat mereka.

Suster-suster MC
Kongregasi MC ini didirikan di Guarnavaca, Mexico pada tahun 1945 oleh Madre Maria Ines Teresa Arias Espinosa. Madre Maria ini adalah biarawati Mexico yang selama 16 tahun menjalani hidup kontemplatif di biara Ave Maria dari Ordo Santa Clara (OSC), Ordo II Santo Fransiskus dari Assisi.

Madre Maria sangat mencintai hidup doa, korban dan penyerahan setia dan ingin tetap menjalani hidup sedemikian sampai akhir hidupnya. Namun ternyata melalui dirinya Allah menginginkan sebuah kongregasi suster-suster yang bersifat misioner. Ide ini didukung oleh pemimpin biara dan sesama susternya. Pada tahun 1945 permohonan pendirian kongregasi baru yang bersifat kontemplatif-aktif dikabulkan oleh Paus Pius XII. Enam tahun kemudian jumlah anggotanya mencapai 92 orang.

Pada tanggal 22 Juni 1951, dalam sebuah dekrit Takhta Suci, kongregasi MC secara resmi terdaftar dalam Kongregasi biarawati di Vatikan dengan nama: Misioneras Clarisas Del Santisimo Sacramento (Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus) dengan hak Kepausan. Madre Maria diangkat sebagai Ibu Jendral Pertama. Tugas pelayanan ni dilaksanakan oleh Madre Maria dengan sederhana dan rendah hati sampai hari wafatnya, tanggal 22 Juli 1981.

Para Suster Misionaris Claris mulai berkarya di Indonesia pada zaman Bung Karno, yaitu sejak tanggal 15 September 1960 dan dikenal sebagai Suster-suster Mexico. Kalau anda berminat mengenal para suster MC lebih mendalam, hubungilah mereka di WISMA ST. MARIA DARI GUADALUPE, Perumahan Duren Sawit Baru Blok A-10 No. 10, Jakarta Timur 13440. Telpon: (021) 8618071.

Bunda Maria dari Guadalupe. Dalam bahasa aslinya, bahasa Aztec, kata ini berarti “dia yang menginjak ular”. Pada tanggal 12 Desember 1531, seorang petani miskin Indian yang bernama Juan Diego melapor kepada Bapak Uskup Agung bahwa dia telah melihat Santa Perawan Maria di sebuah bukit yang terletak di luar kota. Bapak Uskup Agung minta sebuah tanda, dan Juan Diego datang kembali dengan mantol yang dipenuhi dengan bunga-bunga mawar yang indah yang telah diberikan kepadanya oleh seorang tuan puteri yang misterius – suatu ketidakmungkinan pada bulan Desember. Pada mantolnya ada sebuah gambar indah dari sang tuan puteri. Perempuan (anak gadis) yang telah menampakkan diri kepada Juan Diego telah menggambar dirinya, dan dia adalah Santa Maria. Sampai hari ini unsur-unsur fisik dari gambar ini tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Ketiga hal ini mengingatkan orang pada waktu Christopher Columbus dan orang-orangnya berlayar menuju benua Amerika pada tahun 1492, yaitu dengan menggunakan tiga kapal layar, yaitu NINA (gadis), PINTA (gambar) dan SANTA MARIA (Santa Maria).

Begitu berita tentang peristiwa penampakan ini menyebar, ribuan orang Indian menjadi percaya kepada Yesus dan menerima baptisan. Juga ada pembaharuan iman di antara ribuan orang-orang Spanyol yang telah dibaptis. Cerita tentang “Bunda Maria dari Guadalupe” adalah sebuah cerita “evangelisasi” yang telah berwujud dalam pertobatan jutaan orang asli Indian di benua Amerika.

Pesan dari gambar ajaib dalam mantol Juan Diego adalah, bahwa Allah itu hidup dan memelihara masing-masing dan setiap diri umat-Nya. Allah menggunakan sarana-sarana yang luarbiasa untuk mencapai umat-Nya di benua Amerika. Tentunya Allah juga sangat berhasrat untuk membebaskan kita semua dari belenggu dosa, menyembuhkan hati kita yang patah, mendamaikan kita yang telah memisahkan diri dari-Nya. Dia begitu berhasrat sehingga kadang-kadang bersedia bahkan untuk “melanggar” hukum alam agar mendapatkan perhatian kita.

Allah tidak hanya ingin agar orang-orang yang tidak beriman Kristiani untuk percaya kepada-Nya, melainkan juga agar mereka yang telah percaya untuk mengenal diri-Nya secara lebih mendalam. Itulah sebabnya, mengapa Dia terus mengirimkan sabda-Nya kepada kita untuk mengingatkan kita bahwa Dia ada bersama kita. Setiap hari Dia menyemangati kita, mendorong kita untuk berjuang dalam menekuni iman kita. Allah menjamin bahwa Dia mengasihi kita dengan kasih yang tidak berubah.

Cilandak, 12 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Disember 11, 2012

REHAT KOPI ROHANI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 12 Desember 2012)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10

Bacaan-bacaan hari ini terdengar seakan-akan sebuah panggilan untuk “Rehat Kopi” pada pertengahan masa Adven. Nabi Yesaya melihat bahwa TUHAN “memberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes 40:29). Yesaya juga mengatakan, bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes 40:31). Yesus dalam bacaan Injil mengundang kita untuk datang kepada-Nya jika kita sedang letih lesu dan berbeban berat, dan Ia pun akan menyegarkan kita kembali (lihat Mat 11:28).

Apabila kita mengikuti sebuah seminar tentunya ada rehat kopi (kata-kata kerennya adalah coffee break). Saya masih ingat ketika bekerja di Citibank Manila di awal tahun 1970-an, setiap hari menjelang jam 10 pagi semua karyawan berhenti bekerja dan mulai membeli makanan kecil dan secangkir kopi/teh dari penjaja yang berkeliling. Ini juga saat yang digunakan untuk mengobrol sejenak. Hal yang sama diulang lagi di siang hari sekitar jam 3 siang. Nama “acara” seperti itu adalah mirienda, mungkin sebuah warisan dari zaman penjajahan Spanyol. Rehat Kopi: tentu kita semua mengharapkannya, kita menghargainya, kita membutuhkannya. Kita berkembang atas istirahat dari kerja walaupun sejenak, penyegaran yang memulihkan diri kita dan membuat pekerjaan kita menjadi lebih baik. Apakah kita begitu sibuk bekerja sehingga tidak dapat berhenti sebentar untuk memperoleh penyegaran kembali dalam bidang rohani? Yesus kiranya bersabda, “Slow down sedikit dan dengarkanlah sebentar,” dan jiwa kita juga akan dapat beristirahat.

Kita memberi terlalu banyak tekanan hanya pada “melakukan pekerjaan-pekerjaan”, menyibukkan diri dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, dari promosi jabatan yang satu ke promosi jabatan yang lain. Atau, apabila kita suka bersedekah, maka kita disibukkan dalam hal masalah-masalah sosial saja. Hal ini dapat saja baik, namun tidak boleh menjadi kegiatan yang berlebihan …… tidak boleh sampai “overkill.” Pekerjaan yang paling baik sekali pun, apabila tidak menyediakan waktu untuk penyegaran spiritual, untuk doa dan refleksi/renungan dalam keheningan, pada akhirnya akan menjadi steril.

Dedikasi membutuhkan suatu sense of direction. Karya karitatif yang paling baik, terbaik dalam tindakan Kristiani tidak dapat survive tanpa adanya “rehat kopi” rohani. Kita senantiasa membutuhkan pengarahan dari Yang Ilahi (Inggris: divine direction) di atas bumi ini. Begitu mudah kita kehilangan arah tanpa “pengarahan ilahi” termaksud. Begitu banyak peristiwa menyedihkan telah dialami oleh banyak pribadi karena mereka mengabaikan “pengarahan ilahi” yang diperlukan.

Sikap yang paling bijak adalah untuk berhenti dari kesibukan kerja secara teratur, untuk memanfaatkan menit-menit yang menyegarkan bersama Kristus, yang telah berjanji bahwa kita akan belajar dari diri-Nya dan hal tersebut akan membawa damai sejahtera kepada jiwa kita.

DOA: Bapa surgawi, lewat nabi Yeremia Engkau telah bersabda: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan” (Yer 6:16). Kami akan mentaati petunjuk-Mu, ya Allah. Kami akan secara teratur mengikuti “pengarahan ilahi” dari-Mu untuk saat-saat penyegaran spiritual, untuk doa dan melakukan refleksi dalam keheningan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu perkenankanlah kami dibentuk menjadi murid-murid Yesus yang sejati. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Disember 10, 2012

KITA ADALAH DOMBA-DOMBA HILANG YANG DISELAMATKAN OLEH YESUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 11 Desember 2012 )


“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13

Masa Adven sesungguhnya adalah suatu masa yang indah – suatu perayaan berkaitan dengan kesetiaan Allah Bapa atas janji-Nya yang sudah berabad-abad lamanya, janji-janji yang sekarang digenapi dalam diri Putera-Nya, Yesus Kristus. Sepanjang masa penuh rahmat ini, kita merayakan kasih Allah yang begitu besar yang ditunjukkan-Nya kepada kita – umat manusia – dengan mengutus Putera-Nya ke tengah-tengah dunia, untuk mencari kita dan menuntun kita ke dalam suatu relasi yang intim dengan Allah Bapa.

Kita adalah domba-domba hilang yang diselamatkan oleh Yesus, dan semua ini dilakukan oleh Yesus dengan “biaya” sangat besar, yaitu nyawa-Nya sendiri. Demi ketaatan pada kehendak Bapa, Dia meninggalkan takhta-Nya di surga dan merendahkan diri-Nya dengan menjadi bayi manusia dalam sebuah keluarga miskin. Yesus dilahirkan di tempat yang hanya layak untuk tempat pemeliharaan hewan. Ia mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, namun mayoritas penduduk – termasuk sebagian besar pemuka agama Yahudi di kala itu – mencemoohkan diri-Nya, menghina diri-Nya …… Mereka mengadili diri-Nya secara tidak adil dan pada akhirnya Dia pun wafat di kayu salib. Semua ini penderitaan ini dialami-Nya dan ditanggung-Nya agar dengan demikian kita dapat menerima pemenuhan janji-janji Allah.

Berbicara mengenai segalanya yang telah dimenangkan bagi kita oleh Yesus, Santo Augustinus dari Hippo menulis: “Ia menjanjikan keselamatan abadi, kebahagiaan yang kekal dengan para malaikat, suatu warisan abadi, kemuliaan tanpa akhir, penglihatan penuh sukacita dari wajah-Nya, tempat kediaman-Nya yang kudus dalam surga, dan setelah kebangkitan-Nya dari alam maut tidak ada lagi rasa takut akan kematian. Ini adalah kiranya janji final-Nya, tujuan dari segala upaya kita. Apabila kita mencapainya, maka kita tidak akan minta apa-apa lagi (Komentar atas Mazmur 109). Karena kita tahu bahwa kita tidak mampu mencapai semua ini dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, maka Allah memberikan kepada kita Putera-Nya yang tunggal. Santo Augustinus melanjutkan: “Tidak cukuplah bagi Allah untuk membuat Putera-Nya sekadar sebagai penunjuk jalan; Ia membuat-Nya menjadi ‘jalan’ itu sendiri, agar kita dapat berjalan bersama-Nya sebagai pemimpin dan dengan dia sebagai ‘jalan’.

Pada masa Adven ini, marilah kita tetap berada dekat dengan sang Gembala dan memperkenankan Dia menemukan diri kita dalam cara yang baru dan lebih mendalam. Ia ingin memimpin kita ke dalam suatu keakraban yang lebih dalam dengan diri-Nya, sehingga di atas bumi ini kita dapat mencicipi apa yang kita akan peroleh dalam perjamuan surgawi kekal.

Baiklah juga kita tidak menghasrati rahmat hanya bagi diri kita sendiri. Oleh karena itu marilah kita melakukan doa-doa syafaat untuk para sahabat kita, rekan kerja kita, mereka yang kita kasihi yang belum mengenal sang Gembala Baik. Kiranya belum terlambast bagi sang Gembala Baik untuk menemukan mereka yang kita doakan itu. Kita harus mempercayakan mereka ke dalam tangan-tangan kasih-Nya agar dengan demikian Ia dapat membalut segala luka yang ada dan dengan aman-selamat membawa mereka kembali pulang kepada Bapa surgawi.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami sampaikan kepada-Mu karena dengan tidak mengenal lelah Engkau senantiasa mencari kami dan memimpin kami kembali kepada Bapa surgawi. Teristimewa dalam masa Adven ini, jagalah kami agar berada di dekat-Mu dan membuat hati kami dibakar dengan hasrat akan kedatangan-Mu dalam kemuliaan pada akhir zaman. Bawalah semua umat-Mu kepada diri-Mu sehingga dengan satu suara kami akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!”. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IBADAT SABDA LUAR STASI

ST. ROBERT, KRETAM, SEPAGAYA
08 Disember 2012

Rombongan daripada Gereja Our Lady Of Fatima, Belurn
( Laura Lawrence, Lucy Marik, Alicia Lawrence dan Wilburge Lawrence )

Umat St. Robert, Kretam berusaha melengkapkan sistem suara

Sebahagian daripada umat St. Robert, Kretam

Sedang bersiap sedia untuk memulakan Ibadat Sabda

Sebahagian daripada umat St. Robert, Kretam

Saudara Robert Lawrence - Pemimpin Gereja St. Robert, Kretam, sedang  bermain keyboard

Altar
08 Disember 2012 - Rombongan daripada Gereja Our Lady Of Fatima, Beluran sekali lagi keluar melayani umat di luar stasi. Atas usaha daripada Saudara Robert Lawrence, hari ini rombongan dari OLOF telah melayani di Gereja St. Robert, Kretam, Sepagaya. 

Ahad, Disember 09, 2012

IBADAT SABDA LUAR STASI


ST. YEREMIA, BORNEO SAMUDERA SDN. BHD. SEPAGAYA
17 November 2012

Gereja St. Yeremia

Altar Gereja St. Yeremia


Saudari Laura sedang berbual dengan sebilangan umat wanita

Ibadat Sabda sedang dijalankan
17 November 2012 - Rombongan daripada Gereja Our Lady Of Fatima, Beluran yang terdiri daripada Hendrickus B. Nadus ( EMC / Katekis ), Wilburge Lawrence, Laura Lawrence, Lucy Marik, Alicia Lawrence dan keluarga saudara Mesanis Kinsung ( dari Gedau Estate ) telah mengadakan lawatan ibadat di St. Yeremia, Borneo Samudera, Sepagaya atas pelawaan daripada saudara Robert Lawrence. Ibadat Sabda yang dipimpin oleh saudara Hendrickus B. Nadus ini telah telah dihadiri oleh lebih kurang 170 orang umat yang terdiri daripada umat yang datang daripada syarikat perladangan yang berdekatan seperti Borhill, Kilang dan Manggol, Gomantung Estate dan Sepagaya Estate.

Selesai Ibadat Sabda, satu sesi perbincangan singkat telah diadakan bersama dengan umat setempat; yang antara lain membincangkan lawatan seterusnya serta usaha untuk membawa paderi bagi memberikan Sakramen-Sakramen kepada umat-umat di tempat tersebut. Rombongan bertolak pulang pada jam 9.00 malam.