Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Ahad, Mac 17, 2013

KISAH SUSANA DAN DANIEL


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 18 Maret 2013)

Lalu hukuman mati dijatuhkannya kepada Susana. Maka berserulah Susana dengan suara nyaring: “Allah yang kekal yang mengetahui apa yang tersembunyi dan yang mengenal sesuatu sebelum terjadi. Engkaupun tahu pula bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku. Sungguh, aku mati meskipun tidak kulakukan sesuatupun dari apa yang mereka bohongi aku.”

Maka Tuhan mendengarkan suaranya. Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya, maka Allah membangkitkan roh suci dari seorang anak muda, Daniel namanya. Berserulah ia dengan suara nyaring: “Aku ini tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!” Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya: “Apakah maksudnya yang kaukatakan itu?” Daniel pun lalu berdiri di tengah-tengah mereka, katanya: “Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel? Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti?” Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini!”

Bergegas-gegas kembalilah rakyat lalu orang-orang tua itu berkata kepada Daniel: “Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahukanlah kami. Sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua.” Lalu kata Daniel kepada orang-orang yang ada di situ: “Pisahkanlah mereka berdua itu jauh-jauh, maka mereka akan kuperiksa.” Setelah mereka dipisahkan satu sama lain maka Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya: “Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kauperbuat dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum orang yang tidak bersalah dan melepaskan orang yang bersalah, meskipun Tuhan telah berfirman: Orang yang tak bersalah dan orang benar janganlah kaubunuh. Oleh sebab itu, jika engkau sungguh-sungguh melihat dia, katakanlah: Di bawah pohon apakah telah kaulihat mereka bercampur?” Sahut orang-orang tua itu: “Di bawah pohon mesui.” Kembali Daniel berkata: “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri! Sebab malaikat Allah sudah menerima firman dari Allah untuk membalas engkau!” Setelah orang itu disuruh pergi Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya. Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu: “Hai keturunan Kanaan dan bukan keturunan Yehuda, kecantikan telah menyesatkan engkau dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu. Kamu sudah biasa berbuat begitu dengan puteri-puteri Israel dan merekapun terpaksa menuruti kehendakmu karena takut. Tetapi puteri Yehuda ini tidak mau mendukung kefasikanmu!” Oleh sebab itu, katakanlah kepadaku: Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?” Sahut orang tua-tua itu: “Di bawah pohon berangan.” Kembali Daniel berkata: “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya membinasakan kamu!”

Maka berseru-serulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring. Mereka memuji Allah yang menyelamatkan siapa saja yang berharap kepada-Nya. Serentak mereka bangkit melawan kedua orang-orang tua-tua itu, sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu. Lalu mereka diperlakukan sebagaimana mereka sendiri mau mencelakakan sesamanya. Sesuai denganTaurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah. (Dan 13:41c-62)

Bacaan Harian: (versi lebih panjang: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Injil: Yoh 8:1-11

Kisah Susana mungkin merupakan salah satu cerita detektif yang pertama di dunia. Kisah ini dengan hati-hati menyusun berbagai unsur dari karakter-karakter yang terlibat, ketegangan cerita dan plot-plotnya agar dengan demikian menghasilkan bacaan yang menarik dan sementara itu juga menyediakan suatu “model” bagi umat Allah. Kisah ini disusun dalam periode Makabe (pada masa orang-orang Yahudi menderita di bawah penganiayaan dibawa penguasa Yunani, Anthiokus Epifanes IV), Kisah ini mengajarkan dua pelajaran: Iman akan berkemenangan atas kemalangan, dan bahkan orang yang tidak percaya pun dapat belajar tentang kuat-kuasa Allah dan otoritas-Nya.

Menurut cerita ini, Susana – anak Hilkia dan istri Yoyakim – adalah seorang perempuan muda soleha yang hidup di Babel pada masa pembuangan. Orang tuanya mengajarnya untuk takut akan Allah dan mentaati Hukum Musa (Dan 13:2-3). Di lain pihak para antagonis dalam cerita ini adalah dua orang tua-tua yang memiliki pikiran bengkok (Dan 13:9) dan dipenuhi dengan “hasrat penuh nafsu” (Dan 13:11). Kedua orang tua-tua itu lupa daratan dan tidak memandang surga (Dan 13:9) sedangkan Susana sendiri menengadah ke surga sambil menangis (Dan 13:35). Akibatnya: Susana yang percaya pada Allah, dibebasksn; sedangkan kedua orang tua-tua memalingkan pandangan mereka dari Allah kemudian dihukum.

Pentinglah bagi kita untuk mengingat bahwa Susana tidak mengetahui apakah dirinya akan dihukum atas tuduhan perzinahan. Keprihatinan Susana hanyalah bahwa kebenaran Allah tidak akan ternoda. Inilah sebagian dari doa Susana: “Namun demikian lebih baiklah aku jatuh ke dalam tangan kamu dengan tidak berbuat demikian, dari pada berbuat dosa di hadapan Tuhan” (Dan 13:23). Ancaman kematian tidak berhasil menggoyang imannya. Oleh karena itu Tuhan menghargai kesetiaannya dan membangkitkan Daniel untuk membantu dirinya.

Apa urusan cerita ini dengan masa Prapaskah? Mengapa cerita ini menjadi salah satu bacaan masa Prapaskah? Cerita ini tidak hanya merupakan sebuah “model” bagi kita, melainkan juga menunjuk kepada Yesus yang tidak pernah menyangkal Bapa-Nya atau berupaya untuk melindungi diri-Nya sendiri dengan menghindarkan diri dari rasa sakit dan penderitaan. Yesus mengasihi bahkan mereka yang memusuhi dan melawan diri-Nya (Ibr 12:3) – kita semua – dengan cintakasih yang tak dapat kita lukiskan dengan kata-kata – cintakasih setia dan penuh ketaatan, sampai mati di kayu salib (Flp 2:5-8). Semoga hal yang sama juga benar bagi diri kita masing-masing!

Mengikuti jejak Kristus tidak senantiasa mudah dan tanpa rasa sakit, namun yang jelas selalu menggiring kita kepada kemenangan. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk mencurahkan “sikap Kristus” ke dalam hati kita masing-masing. Marilah kita mohon diberikan rahmat agar mampu menegakkan kebenaran Allah – berapa dan apa pun biayanya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memanggil kami untuk mengenal dan menerima kasih-Mu. Bukalah hati kami bagi hal itu, dengan demikian – seperti Yesus – kita tidak akan pernah menjadi lelah atau putus-asa. Melalui kuata kuasa Roh Kudus-Mu, semoga kami tetap teguh dalam beriman dan memiliki keyakinan akan kemenangan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V – 17 Maret 2013)

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11)

Bacaan Pertama: Yes 43:16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:2-6; Bacaan Kedua: Flp 3:8-14

“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11).

Setiap hari Yesus mengasihi kita dengan kasih yang sama dengan yang telah ditunjukkan-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah dalam bacaan Injil hari ini. Maka, sepatutnyalah kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya. Dari antara orang-orang yang hadir pada hari itu, barangkali Yesus sajalah yang memenuhi syarat untuk dapat melemparkan batu pertama kepada perempuan itu. Namun Yesus tidak memperhitungkan dosa perempuan itu. Kita harus berterima kasih penuh syukur kepada Yesus karena memandang diri kita yang berdosa ini tidak berbeda dengan pada saat Ia memandang perempuan yang kedapatan berzinah itu sekitar 2.000 tahun lalu. Ya, kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus tidak mencintai dosa kita, namun Ia sungguh sangat mengasihi kita. Kasih seperti ini memang tidak mudah untuk dipahami oleh pikiran manusia.

Kasih Yesus penuh dengan bela rasa. Perempuan ini menyadari bahwa dirinya berdosa – barangkali dia pun menyesali dosanya dan bertobat – namun ia tidak menerima apa-apa selain cemoohan dan caci-maki dari para ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. Sementara para tokoh agama Yahudi itu menekankan keharusan diterapkannya keadilan tanpa mempertimbangkan belas kasih, Yesus malah melimpahkan belas kasih-Nya kepada perempuan itu.

Ketika Yesus mengatakan kepada perempuan itu, “Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi,” sebenarnya Yesus memberikan kepadanya kemampuan untuk melepaskan masa kegelapan dari kehidupannya. Kita juga harus berterima kasih kepada Yesus karena Dia pun melakukan yang sama bagi diri kita masing-masing. Tidak ada dosa sebesar apa pun yang tidak dapat ditaklukkan oleh Yesus! Tidak ada kegelapan yang jatuh di luar kuasa dan terang kasih Yesus. Manakala Yesus menunjukkan dosa-dosa kita, Dia juga menawarkan pengampunan yang lengkap. Kombinasi sedemikian membuat hati kita terbakar dengan sukacita dan memenuhi diri kita dengan suatu hasrat untuk meninggalkan dosa dan melangkah maju mendekati terang kehadiran-Nya.

Teristimewa dalam masa Prapaskah ini, marilah kita memohon agar Tuhan Yesus menguatkan hati dan pikiran kita agar mampu menolak segala godaan dan dakwaan Iblis dan roh-roh jahatnya. Marilah kita mohon kepada Yesus untuk menutup telinga kita terhadap segala ocehan dan gangguan si Jahat dan lari kepada-Nya untuk menerima hikmat dan semangat serta dorongan dari sang Mesias. Memang kasih Yesus menyadarkan kita akan kedosaan kita namun Dia tidak menuduh-nuduh dan menghukum kita. Kasih Yesus memisahkan kita secara khusus dari segalanya yang tidak menghormati diri-Nya. Kasih Yesus meyakinkan diri kita bahwa kita dapat mengalami kehidupan penuh dalam kehadiran-Nya. Kasih Yesus membuktikan kepada kita bahwa kita dapat berjalan bersama-Nya setiap saat dalam kehidupan kita.

DOA: Yesus, aku mengasihi Engkau dengan segenap hatiku. Biarlah api cintakasih-Mu berkobar-kobar dalam diriku. Utuslah Roh Kudus-Mu agar membimbingku di jalan kebenaran-Mu. Aku menyadari bahwa sering kali aku jatuh ke dalam dosa. Namun bersama saudariku yang dikenal sebagai “perempuan yang berzinah”, Aku bergembira dalam/karena belas kasih-Mu, cintakasih-Mu dan belarasa-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mac 14, 2013

ASAL USUL YESUS


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 15 Maret 2013)

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.
Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kia benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30)

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-21,23

Yesus berkata kepada orang-orang di Bait Allah yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:28-29).

Ada pandangan orang-orang Yahudi pada zaman itu, bahwa manakala Mesias datang, tidak seorang pun mengetahui asal-usul-Nya (lihat Yoh 7:27). Akan tetapi, bukankah umat pilihan Allah ini telah mengetahui bahwa bilamana Mesias datang, maka Ia datang dari Allah yang mereka klaim telah mengenal-Nya dan menyembah-Nya? Namun demikian, Yesus berkata tentang Bapa yang mengutus-Nya, Allah dari Umat-Nya, yang mereka tidak kenal.

Ini tentunya bukan salah dari para nabi dan para kudus Perjanjian Lama, yang senantiasa mendesak umat pilihan Allah ini untuk menaruh kepercayaan kepada YHWH, tidak kepada manusia. Dan apabila para penulis suci kelihatan terkadang memandang Allah dari kejauhan, menempatkan Dia terlalu jauh dari Umat-Nya, mereka dapat mengejutkan kita kemudian dengan membuat Dia terlalu manusiawi, berpikir tentang Dia dengan istilah-istilah yang sangat manusiawi dan membumi. Dan walaupun mereka belum/tidak siap untuk memahami misteri inkarnasi – Mesias sebagai Allah yang menjadi manusia – mereka sudah siap mengharapkan seorang Mesias yang manusia.

Lalu, mengapa mereka tidak mau menerima orang ini, yang telah diutus oleh Bapa surgawi?

Apakah karena Dia terlalu mirip dengan Allah yang mereka klaim telah mengenal-Nya, dan terlalu jauh dari standar-standar dunia yang telah ditetapkan bagi seorang Mesias oleh mereka? Bukankah ini kasus sebuah umat yang berkata – barangkali juga berpikir – bahwa mereka mengenal dan menyembah Allah yang benar, namun sesungguhnya mereka menyembah gambaran Dia yang salah?

Orang-orang Yahudi itu tidak dapat menerima “skandal” Yesus, “skandal” tentang Allah mereka, yang melepaskan diri-Nya dari kekayaan ilahi-Nya untuk menjadi satu dengan orang-orang miskin; Allah mereka, yang memilih untuk lahir ke dunia di tengah-tengah orang miskin dan mengenakan kemiskinan yang luarbiasa dan ketiadaan arti dalam masyarakat; Allah mereka, yang dalam kasih ilahi-Nya tidak dapat mengambil apa pun bagi diri-Nya sendiri, melainkan hidup dalam penghayatan suatu kehidupan yang memberikan diri-sendiri secara lengkap dan total.

DOA: Tuhan Yesus, apakah kami mengenal Engkau dengan lebih baik? Apakah kami sungguh menerima Engkau sebagai Mesias kami? Tuhan, kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah sungguh sang Mesias, Tuhan dan Juruselamat kami. Ampunilah kami yang terkadang kurang percaya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Mac 13, 2013

PENGAKUAN DOSA BEATO YOHANES PAULUS II



Kisah Beato Yohanes Paulus II dan Pengemis


Dalam Masa Prapaskah ini yang merupakan masa pertobatan, Gereja-gereja Katolik menyediakan jadwal khusus untuk penerimaan Sakramen Tobat dan mengajak umat-umat Katolik sekalian menggunakan momen tersebut untuk mengakukan dosanya. Berkenaan dengan Sakramen Tobat / Sakramen Pengakuan Dosa, ada sebuah cerita nyata menarik* di mana seorang Paus, Beato Yohanes Paulus II, mengakukan dosanya kepada seorang imam yang sekali waktu meninggalkan imamatnya dan menjadi pengemis.** Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita dan meneguhkan kita untuk datang ke Gereja dan mengakukan dosa kita dalam Sakramen Tobat. Mari kita simak:

Seorang imam teman Scott Hahn kembali dari Roma dan menceritakan kisah ini kepada  Scott Hahn. Imam tersebut dalam perjalanan untuk audiensi pribadi dengan Paus Yohanes Paulus II. Imam itu berangkat lebih awal dan kemudian memutuskan untuk berhenti sejenak dan berdoa di sebuah gereja sebelum pertemuan dengan Paus. Beberapa langkah dari gereja tersebut terdapat sejumlah orang pengemis, hal yang cukup biasa di Roma. Ketika imam tersebut berjalan mendekati gereja, imam itu berpikir bahwa ia mengenali salah satu pengemis. Setelah masuk ke dalam gereja, imam itu berlutut berdoa sementara ia mengingat-ingat seorang pengemis yang familiar baginya. Setelah berdoa, imam tersebut segera keluar dan mendekati pengemis tersebut dan berkata: “Saya mengenal engkau. Bukankah kita pernah studi di seminari yang sama?”

Pengemis tersebut mengiyakan, “Iya, memang benar.”

“Jadi engkau adalah imam sekarang?” Imam tersebut bertanya lagi.

“Tidak. Tidak lagi. Saya telah jatuh. Tinggalkan saya sendirian.”,  jawab pengemis tersebut.

Imam tersebut yang sadar ia harus bergegas untuk pertemuan dengan Paus hanya berkata, “Saya akan berdoa untuk engkau.”

Imam itu lalu meninggalkan pengemis tersebut dan berangkat ke pertemuannya dengan Paus Yohanes Paulus II. Pertemuan dengan Paus ini adalah sangat formal. Ada beberapa orang yang dianugerahi kesempatan untuk menghadiri audiensi pribadi dengan Paus pada waktu yang sama dan ketika Bapa Suci berjalan ke arah anda, sekretarisnya akan memberikan rosario yang sudah terberkati kepadanya dan kemudian Ia (Bapa Suci) akan memberikan rosario itu kepada anda. Pada saat tersebut, seseorang boleh mencium cincin Paus dan berkata sesuatu dengan rendah hati umumnya seperti memohon Paus mendoakannya, berterimakasih atas pelayanan Paus atau mendoakan Paus. Tetapi, ketika Bapa Suci Yohanes Paulus II mendekat, Imam tersebut tidak dapat menahan dirinya dan berkata, “Saya mohon berdoalah untuk teman saya.” Tidak hanya itu, imam tersebut lalu menceritakan semuanya mengenai teman seminarinya yang menjadi pengemis tersebut. Bapa Suci dengan penuh perhatian meyakinkan imam tersebut bahwa ia akan mendoakan temannya itu.

Beberapa hari kemudian, imam tersebut menerima sebuah surat dari Vatikan. Dengan bahagia dan heran, imam tersebut membawa surat itu ke gereja di mana ia terakhir bertemu teman sekelasnya di seminari. Hanya sedikit pengemis yang tinggal dan ia bersyukur temannya termasuk di antara yang masih tinggal di gereja itu. Imam tersebut mendekati teman pengemisnya itu dan berkata, “Saya telah bertemu Paus dan ia berkata bahwa ia akan mendoakan engkau juga.”

Imam tersebut melanjutkan, “Lebih dari itu, Paus mengundang engkau dan saya ke kediaman pribadi Beliau untuk makan malam.”

Pengemis itu berkata, “Mustahil. Lihatlah saya. Saya seorang yang kotor. Saya sudah lama sekali tidak mandi dan baju saya kotor.”

Sadar bahwa Paus ingin bertemu dengan temannya itu, Imam tersebut berkata, “Saya tinggal di sebuah kamar hotel di seberang jalan. Di sana engkau dapat mandi dan bercukur. Saya akan mencarikan baju yang cocok untuk engkau.”

Oleh karena rahmat Allah, pengemis tersebut setuju dan kemudian mereka berdua pergi berangkat untuk makan malam dengan Paus Yohanes Paulus II.

Keramahan Paus menakjubkan. Menjelang akhir makan malam sebelum menikmati makanan pencuci mulut, Paus melalui sekretarisnya meminta imam tersebut meninggalkan Paus sendirian bersama dengan pengemis tersebut.

Setelah 15 menit, pengemis tersebut keluar dari ruangan dengan air mata.

“Apa yang terjadi di sana?” tanya imam tersebut.

Jawaban tak terduga muncul: “Paus meminta saya mendengarkan pengakuan dosanya.”, kata pengemis tersebut.

Pengemis itu melanjutkan, “Saya berkata kepadanya: ‘Yang Suci, lihatlah saya. Saya seorang pengemis. Saya bukan seorang imam.’ Paus melihat saya dan berkata: ‘Anakku, sekali engkau imam, engkau adalah selamanya imam dan siapa yang di antara kita yang bukan seorang pengemis? Saya juga datang ke hadapan Tuhan sebagai seorang pengemis meminta pengampunan atas seluruh dosa-dosa saya.’ Saya memberitahunya: 'Tetapi, saya tidak berada dalam persatuan dengan Gereja.' Tetapi Paus meyakinkan saya: 'Saya seorang Paus, seorang Uskup Roma. Saya dapat mengembalikan engkau sekarang juga.'

Pengemis itu melanjutkan bahwa ia telah lama tidak mendengarkan pengakuan dosa sehingga Paus harus membantunya untuk mengucapkan kata-kata absolusi.

Imam itu bertanya, “Tetapi engkau di dalam selama 15 menit. Tentu pengakuan dosa Paus tidak berlangsung selama itu.”

“Tidak”, jawab pengemis itu, “Tetapi setelah saya mendengarkan pengakuan dosanya, saya meminta ia mendengarkan pengakuan dosa saya.”

Kata-kata penutup dari Paus Yohanes Paulus II untuk anaknya yang hilang datang dalam bentuk form dari sebuah komisi. Bapa Suci memberikan tugas pertama kepada imam-pengemis tersebut untuk pergi dan melayani orang-orang tunawisma dan pengemis di gereja tempat imam itu dulu mengemis.

Apa yang bisa kita lihat adalah teladan yang agung dari Bapa Suci Yohanes Paulus II. Ia adalah seorang yang mampu melihat tidak hanya pribadi Yesus Kristus, tetapi juga Imamat Kristus dalam mata seorang pengemis yang adalah imam. Tidak hanya itu, Bapa Suci berlutut di hadapan pengemis dalam kerendahan hati dengan penuh kesadaran akan dosanya. Perlu diketahui bahwa Paus Yohanes Paulus II pergi mengaku dosa setiap minggu.*** Bila kita mengikuti teladan Paus ini, entah berapa banyak dari kita akan menjadi orang kudus.

Post Scriptum:
*. Artikel ini diterjemahkan oleh Indonesian Papist dari Causa Finita Est.
**. Kisah yang hampir sama pernah terjadi pada St. Yohanes Maria Vianney. Bisa dilihat di artikel ini.
***. Para Paus mengakukan dosanya setiap minggu kepada seorang  imam yang mereka pilih dan identitas imam  tersebut dirahasiakan. Setiap Paus memiliki karunia infallibilitas tetapi tidak memiliki impeccabilitas. Untuk mengetahui perbedaannya, silahkan baca artikel ini


Pax et Bonum
follow Indonesian Papist's Twitter

MEMBUKA DIRI BAGI ROH KUDUS


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 14 Maret 2013)

Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namu kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh 5:39-40).

Apa dan bagaimana pandangan anda tentang Gereja? Apakah Gereja memiliki doktrin-doktrin yang akurat secara teologis? Tradisi yang kaya dan patut dimuliakan? Ajaran moral yang teguh-kokoh? Liturgi-liturgi dan berbagai rituale yang menggerakkan hati? Semua hal ini merupakan unsur-unsur vital dalam Gereja, namun apabila kita menempatkan salah satu saja dari unsur-unsur itu di atas Yesus, maka kita tidak akan menmgalami hidup dari Yang Ilahi dalam diri kita. Tidak ada satu pun dari unsur-unsur itu mempunyai makna jika dipisahkan dari hubungan/koneksi vital dengan Yesus, mempelai laki-laki dari Gereja (yang adalah anda dan saya). Prinsip yang sama juga berlaku untuk Kitab Suci. Jika kita tidak memperkenankan Roh Kudus untuk menuliskan sabda Allah pada hati kita, maka Kitab Suci itu direduksi menjadi sekadar informasi historis dan/atau cerita-cerita yang penuh intrik. Santo Paulus bahkan mengingatkan bahwa kalau tidak digunakan seturut tujuan yang telah ditetapkan Allah, Kitab Suci dapat menjadi instrumen kematian, “sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6).

Cara mentaati Kitab Suci tanpa membuka diri bagi Roh Kudus adalah masalah yang dijumpai Yesus dalam banyak diri para pemimpin agama Yesus pada zamannya. Orang-orang itu mengetahui dan mengenal Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) lebih baik daripada kebanyakan orang, namun mereka gagal melihat bahwa semua itu menunjuk pada Yesus. Jadi, mereka luput memperoleh hidup yang Allah tawarkan kepada mereka melalui Putera-Nya, Yesus.

Kita boleh saya bertanya bagaimana mereka gagal melihat siapa sebenarnya Yesus itu. Namun kuasa dosa yang sama yang telah menyebabkan kita tidak mampu mengenali Yesus juga telah membutakan mereka. Kesombongan manusia, sikap membenarkan diri-sendiri, kedegilan hati dapat menumpulkan kepekaan siapa saja yang sedang mencari Tuhan. Kita dapat saja mempunyai informasi tentang Dia dan tetap luput memiliki koneksi yang hidup dengan Dia. Bahkan kita pun dapat saja mencoba untuk hidup seturut prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus tanpa mampu untuk menjalin relasi yang hidup dengan diri-Nya. Hal ini hanya menyebabkan kita berjuang untuk mencapai kesempurnaan dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, suatu upaya yang seringkali malah berakhir dalam frustrasi dan kehilangan semangat serta keputusasaan.

Pada hari ini Yesus masih saja memanggil kita kepada suatu kehidupan yang diceritakan dalam Kitab Suci dan yang dengan indahnya dijunjung tinggi oleh Gereja. Oleh karena itu marilah kita berpaling kepada Yesus dalam doa untuk memperoleh hidup ilahi yang ditawarkan oleh-Nya. Marilah kita memohon agar dapat mengalami belas kasih-Nya, dengan demikian menyingkirkan sikap membenarkan diri sendiri dan sikap keras serta kasar terhadap orang-orang lain, dan menjadi penuh belas kasih seperti Yesus sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, aku berpaling kepada-Mu agar dapat memperoleh hidup. Aku tidak memiliki sumber cintakasih apabila terpisah dari diri-Mu. Penuhilah diriku dengan diri-Mu sendiri, agar cintakasih-Mu dapat mengalir melalui diriku kepada orang-orang lain. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Mac 12, 2013

MENURUTI KEHENDAK DIA YANG MENGUTUS-NYA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 13 Maret 2013)

Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30)

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Yesus telah melakukan penyembuhan pada hari Sabat beberapa kali. Orang-orang Yahudi tidak dapat menerima hal ini dan mulai berusaha untuk membunuh-Nya. Pertama-tama Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan, mengapa Ia sebagai Putera tidak dapat bekerja pada hari Sabat, karena Bapa-Nya tentu saja bekerja. Tindakan kreatif Allah senantiasa berlangsung setiap hari. Pertanyaan sekaligus pernyataan Yesus ini malah membuat orang-orang itu menjadi lebih marah karena sekarang Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya, jadi membuat diri-Nya setara dengan Allah sendiri.

Yesus menjawab dengan berbicara tentang relasi antara Putera dengan Bapa. Seperti yang dilakukan oleh Bapa demikian pula Putera akan melakukan. Bapa mengasihi Putera. Bapa akan menunjukkan kepada Putera karya-karya yang lebih besar, bahkan lebih besar daripada menyembuhkan orang-orang yang menderita berbagai sakit-penyakit. Ia akan membangkitkan orang dari alam maut dan menjadikannya hidup kembali, sebuah karya yang telah dilakukan Bapa dalam setiap tindakan penciptaan manusia.

Sepanjang bacaan Injil hari ini Yesus mengindikasikan relasi kasih antara Bapa dan Putera. Yesus sang Putera mengatakan bahwa Dia tidak bertindak dari diri-Nya sendiri, melainkan melakukan apa yang dilihat-Nya dilakukan oleh Bapa-Nya. Putera hanya bertindak seturut kehendak Bapa. Putera berada dalam keharmonisan lengkap dengan Bapa.

Pada waktu berumur 12 tahun Yesus telah mengatakan kepada ibu dan ayah-Nya, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” (Luk 2:49). Kira-kira juga dapat dibaca begini: “Bukankah aku mengerjakan bisnis Bapa-Ku?” Setelah dikenal sebagai rabi dari Nazaret yang suka berkhotbah berkeliling, Yesus juga menunjukkan bahwa walaupun Ia semakin dimusuhi, Dia tetap akan mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya, pekerjaan-pekerjaan Bapa-Nya yang diberikan Bapa-Nya untuk dilakukan oleh-Nya. Yesus bersabda: “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Kita pun mempunyai pekerjaan atau bisnis yang harus dilakukan. Kita semua mempunyai sebuah misi untuk dilaksanakan. Kita tidak dapat mencari kehendak kita sendiri, melainkan mencari kehendak Allah. Seperti Yesus yang setia dalam melakukan pekerjaan-Nya walaupun semakin banyak menghadapi perlawanan, kita pun harus setia dalam melakukan pekerjaan kita, walaupun menghadapi berbagai kesulitan, oposisi atau ketiadaan penghargaan/respek dari orang-orang lain. Atas dasar inilah tergantung relasi kasih personal kita dengan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu mendengar sabda-Mu dan memiliki iman-kepercayaan akan Dia yang mengutus Engkau, dengan demikian kami akan memiliki hidup yang kekal. Terima kasih, Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mac 11, 2013

PERKENANKANLAH YESUS MENJADI KYRIOS DALAM HIDUP KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 12 Maret 2013)

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-16)

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9

Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat membaca cerita begitu indah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang sakit lumpuh. Ini adalah satu lagi cerita tentang penyembuhan yang dilakukan-Nya pada hari Sabat, hal mana sangat membuat marah orang-orang Farisi, yaitu “front pembela” agama Yahudi.

Kolam Betesda ini memang memiliki reputasi sebagai tempat penyembuhan-penyembuhan. Kolam ini kelihatannya mempunyai sumber mata air yang sekali-sekali menggelembung ke atas dan orang-orang percaya bahwa gelembung-gelembung dari mata air tersebut memiliki daya penyembuhan. Secara popular-kerakyatan dikatakanlah bahwa ‘seorang’ malaikat Tuhan turun dan mengguncangkan air yang ada di kolam itu. Orang yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.

Kita melihat di sini ada seseorang yang telah menunggu selama 38 tahun agar dapat disembuhkan. Yesus melihat orang itu berbaring di atas tikar dan mengetahui kondisinya. Yesus bertanya kepada orang itu: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Orang sakit itu menjawab: “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” (Yoh 5:7). Lalu Yesus mengucapkan kalimat sederhana berikut ini: “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah” (Yoh 5:8). Orang itu pun sembuhlah dan melakukan apa yang diperintahkan Yesus kepadanya. Yang dikatakan Yesus kepada orang ini sebenarnya berarti: “Engkau tidak membutuhkan orang untuk menurunkanmu ke dalam kolam karena engkau telah mempunyai Aku. Aku-lah satu-satunya yang kaubutuhkan!”

Bukankah hal ini seringkali merupakan masalah kita? Kita merasakan tidak mempunyai seorang pun untuk menolong kita. Terasa tidak ada seorang pun yang mengasihi diri kita, tidak ada yang memperhatikan diri kita, padahal Tuhan Yesus senantiasa berdiri di dekat kita. Dia akan menyentuh kita dengan tangan-tangan kasih-Nya ketika kita sekadar melakukan tindakan sederhana, yaitu membuka diri bagi Dia dan kasih-Nya.

Bilamana berbagai masalah membebani diri kita, ketika para sahabat kita tidak peduli dan malah meninggalkan kita, maka hanya ada satu jawaban. Berpalinglah kepada Yesus. Perkenankan Dia menjadi Tuhan (Kyrios) dalam hidup kita dan dalam waktu yang relatif tidak lama kita pun akan menemukan suatu damai-sejahtera yang baru, bahkan ketika kita masih menghadapi banyak kesulitan hidup.

DOA: Ya Tuhan Allahku, bagi kami Engkau adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kami tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut, sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya (bdk. Mzm 46:2-3). Terpujilah Allah selama-lamany. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Mac 09, 2013

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV – 10 Maret 2013)


Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Yos 5:9a,10-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Kedua: 2Kor 5:17-21

 Cerita yang ada dalam bacaan Injil hari ini telah lama dikenal sebagai “perumpamaan anak yang hilang”. Sebenarnya cerita ini dimaksudkan bagi para pembacanya untuk memfokuskan perhatian mereka pada sang ayah/bapak, bukan pada salah satu anak bapak itu, dan barangkali secara lebih akurat lagi dinamakan “perumpamaan seorang bapak yang mengasihi”.

Latar belakang cerita ini adalah bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi marah ketika melihat Yesus yang mengasosiasikan dirinya dengan orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk mengungkapkan ide bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi para pendosa dan berhasrat untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Yesus ingin meyakinkan para pendengar-Nya tentang kebenaran bahwa Allah adalah ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami anak-anak-Nya.

Yesus menggambarkan anak yang bungsu begitu rupa realistisnya sehingga berabad-abad lamanya gambaran inilah yang menarik perhatian kebanyakan orang. Gambaran ini adalah tipikal bagi seorang anak muda yang ingin menjadi independen, bebas dari kontrol orangtua, untuk pergi dalam suatu petualangan pribadi … untuk melihat dan melakukan semua hal yang tidak pernah merupakan bagian dari kehidupannya di dalam rumahnya. Akibat-akibat dari petualangan seperti ini juga tipikal: yang bersangkutan menemukan nilai sesungguhnya dari uang, kebutuhan akan teman-teman sejati, pentingnya sense of belonging.

Kita tahu apa dan bagaimana yang dirasakan oleh si anak bungsu. Kita tahu bahwa apa artinya hidup sendiri, merasa bersalah, dirundung rasa takut. Setelah dia menghambur-hamburkan uangnya, semua teman-temannya (hanya pada waktu senang saja) meninggalkan dirinya. Si anak bungsu ditinggalkan sendirian dengan kesusahan hidupnya, rasa bersalahnya dan ketakutannya. Dia mulai menyadari betapa buruk kesalahan yang telah dibuatnya ketika meninggalkan ayahnya.

Anak yang sulung dalam perumpamaan ini juga seorang pribadi yang dapat kita pahami. Ketika dia pulang dari kerjanya di ladang milik ayahnya, dia marah ketika mengetahui berlangsungnya pesta bagi saudara laki-lakinya “yang tak berguna” itu. Sekilas lintas kelihatannya si anak sulung ini seakan dikhianati, namun sedikit ruang saja bagi kita untuk membenarkan sikap dan perilakunya yang dipenuhi kecemburuan. Seyogianya dia merasa berbahagia karena adiknya sudah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Marilah kita lihat lagi protes si anak sulung kepada ayahnya: “Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” (Luk 15:29). Terasa bahwa anak sulung itu memandang bekerja untuk ayahnya sebagai suatu bentuk perbudakan dan ketaatannya adalah ketaatan seorang pekerja bayaran, bukan karena relasi antara anak dan ayahnya. Jelas kelihatan bahwa dia melakukan pekerjaan dengan ekspektasi pada suatu hari dia dapat memperoleh ganjaran besar dari ayahnya. Pekerjaannya dimotivasi oleh kepentingan diri, bukan cintakasih. Si anak sulung ini dapat dikatakan mewakilkan para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengeluh dan memprotes perlakuan penuh belas kasih Yesus terhadap para pendosa.

Apabila kita sudah mengetahui kebenaran tentang kedua anak laki-laki bersaudara itu, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya cerita ini dimaksudkan bagi kita untuk memfokuskan perhatian kita pada sang ayah agar dapat dapat memperoleh sesuatu gambaran tentang Allah. Ketika si anak bungsu mengungkapkan ide untuk meninggalkan rumah, sang ayah sungguh merasa susah-hati. Ia tahu bahaya-bahaya apa saja yang akan dihadapi anaknya. Namun pada saat bersamaan dia juga memahami kebutuhan anaknya dan adalah hak si anak untuk menjadi seorang bebas. Keputusan sang ayah untuk tidak mau mendominir atau mengontrol anaknya pada saat itu dalam kehidupan anaknya karena dia sadar bahwa cintakasih untuk menjadi sejati harus diberikan secara bebas, artinya tidak dapat dipaksakan. Jadi, ketika si anak “ngotot” untuk memperoleh kebebasannya, sang ayah dalam kebaikannya yang penuh kasih dengan hati sedih memberikan persetujuannya.

Setelah si anak bungsu meninggalkan rumah, sang ayah berharap bahwa pengalaman dalam petualangannya akan mengajar dia tentang nilai-nilai sejati, karena kelihatannya kata-kata sang ayah tidak didengarkan. Setiap hari sang ayah naik ke atas bukit dan melihat jalan yang membentang sejauh matanya memandang dengan pengharapan bahwa siapa tahu dia akan melihat dari kejauhan anak bungsunya yang sedang berjalan pulang. Pada suatu hari pengharapannya dipenuhi. Dia berlari menjemput anak bungsunya, lalu dia merangkulnya dan dengan ketidaksabaran yang mengungkapkan emosinya secara mendalam. Bahkan dia tidak memberi kesempatan kepada anaknya menyelesaikan permohonan ampunnya yang sudah dihafalkan baik-baik olehnya. Si anak bungsu mengetahui bahwa dia pantas mendengar ayahnya mengucapkan kata-kata keras, namun apa yang didengarnya adalah penerimaan penuh kasih dari sang ayah. Sang ayah memang tidak menikmati penghinaan atas diri anak-Nya sendiri.

O, betapa besar kasih sang ayah bagi si anak bungsu. Namun kasihnya kepada anaknya yang sulung pun tidak berkurang sedikitpun. Sang ayah menolak untuk dipaksa berpihak kepada salah satu anaknya. Dua-dua anaknya telah menunjukkan kesalahan mereka, namun sang ayah tidak pernah berhenti mengasihi kedua-duanya. Dengan segala kelemahan dan kekurangan masing-masing, sang ayah mengasihi kedua-duanya karena mereka memang adalah anak-anaknya.

Dalam artian tertentu, kita adalah seperti si anak bungsu, namun kita juga seperti si anak sulung. Di mana pun kita berdiri, Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Allah memberikan kepada kita kebebasan karena Dia ingin suatu kasih yang diberikan secara bebas, tidak dipaksakan. Yesus juga menginginkan kita mengetahui bahwa bahkan setelah melakukan kesalahan yang paling tolol dan dosa-dosa yang paling tragis sekali pun, Allah akan tetap mencari kita dengan tangan-tangan terbuka agar dapat mengambil kita kembali sebagai anak-anak-Nya. Allah kita adalah sungguh-sungguh ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami kita, anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Mac 08, 2013

DUA SIKAP YANG SANGAT BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 9 Maret 2013)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14)

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Sangat pentinglah bagi kita semua untuk memahami bahwa kita diselamatkan oleh rahmat melalui iman. Hal ini adalah perbedaan fundamental antara orang Farisi dan si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus ini. Orang Farisi itu percaya bahwa dirinya akan dibenarkan oleh hasil kerjanya sendiri, sementara si pemungut cukai menyadari bahwa dirinya adalah seorang pendosa dan bahwa pengharapan satu-satunya bagi dirinya adalah belas kasih Allah. Dua sikap yang saling berbeda ini sungguh dapat membawa dampak atas cara hidup kita.

Apabila kita mengikuti jalan pemikiran orang Farisi itu, kita akan secara konstan mengingatkan Allah betapa keras kita telah bekerja untuk menyenangkan hati-Nya; dengan demikian kita akan mengharapkan Dia untuk memberikan ganjaran kepada kita untuk segala jerih payah kita itu. Perhatikanlah dari bacaan Injil di atas, bahwa orang Farisi itu samasekali tidak mohon belas kasih (kerahiman) Allah bagi dirinya. Di lain pihak kita, jika kita mengikuti teladan yang diberikan oleh si pemungut cukai, maka kita akan menyadari bahwa kita tidak dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kekuatan kita sendiri. Kita hanya dibenarkan oleh rahmat Allah melalui kebaikan-kebaikan Yesus. Fondasi kita akan terjamin karena Yesus telah membayar harga dosa kita, dan kita tidak akan merasakan seakan kita harus membuat deals ini-itu dengan Allah.

Apabila kita dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kebaikan kita sendiri, maka Yesus tidak perlu mati di kayu salib. Akan tetapi, karena kita sudah hidup terpisah dari Allah gara-gara dosa dan tidak mempu menyelamatkan diri sendiri, maka Allah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal guna membayar denda-denda atas dosa kita. Hanya melalui penderitaan sengsara-Nya yang sempurna, maka kita dapat diampuni dan dibawa kembali ke hadapan hadirat Allah.

Bagaimana kiranya kebenaran-kebenaran sedemikian membawa dampak atas tindak-tanduk kita dalam kehidupan kita? Pengetahuan bahwa Yesus telah memenangkan keselamatan kita dapat meringkan kita dari banyak beban. Kita telah diterima oleh Bapa surgawi apabila kita berpaling kepada-Nya dan menggantungkan diri pada rahmat-Nya guna membebaskan kita dari dosa. Hal ini sangatlah berbeda dengan upaya keras kita untuk memenangkan surga dengan menggunakan segala kekuatan kita sendiri, di mana setiap kegagalan berakibat pada rasa takut dihukum, dan setiap keberhasilan mengakibatkan kesombongan dan pembenaran diri sendiri. Terpujilah Allah bahwa setiap kali kita mempraktekkan iman kita berkaitan dengan keselamatan kita, maka kita kian bertumbuh dalam rasa percaya dan lebih mentaati Allah lagi, dan kita pun menjadi lebih penuh semangat untuk mensyeringkan Kabar Baik dengan setiap orang yang kita jumpai. Oleh karena itu marilah kita meneladan si pemungut cukai dan terus membuat belas kasih (kerahiman) Allah dan kasih-Nya sebagai fondasi hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Mu Engkau telah menebus kami bagi Allah. Kasih-Mu yang tanpa batas bagi kami memang melampaui segala ukuran. Tolonglah kami agar dapat hidup dalam iman pada hari dan selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Mac 07, 2013

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 8 Maret 2013)

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17

Kelihatannya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Jawaban Yesus mengacu pada apa yang tertulis dalam Ul 6:4-5 dan Im 19:18. Dan, ahli Taurat itu menanggapi jawaban Yesus itu dengan positif: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Luk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat untuk pemahamannya bahwa kasih adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama – ini adalah perintah paling utama, kata Yesus kepadanya. Dan orang itu pun setuju sepenuh hatinya dengan jawaban Yesus itu.

Namun mengasihi Allah dan sesama tidaklah semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah sebuah tantangan bagi orang-orang pada umumnya, teristimewa mereka yang tergolong menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar. Mereka memiliki banyak kenikmatan materiil, dan hal ini cenderung membuat orang menjadi semakin serakah, semakin tamak. Mereka pun tidak secara otomatis merasakan adanya kebutuhan besar akan satu sama lain. Pengaruh iklan-iklan di media massa, misalnya televisi, juga ada (kalau saya tidak katakan banyak) yang bersifat negatif. Ujung-ujungnya membuat orang-orang menjadi ingin mendapat/memperoleh saja daripada memberi. Dengan demikian cinta atau kasih hanya menjadi daya tarik pada tingkat permukaan saja yang tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati.

Sungguh merupakan suatu tragedi, apabila seseorang memiliki sebuah rumah indah yang dilengkapi dengan dengan segala aksesorinya seperti mebel-mebel mahal, televisi dengan layar lebar di ruang keluarga, beberapa buah mobil dlsb., namun rumah itu bukanlah rumah yang membahagiakan para penghuninya …… karena kasih-sejati tidak ada dalam rumah itu. Tidak ada kasih-sejati yang tidak terbuka, penuh kemurahan-hati, penuh pengorbanan dan berdisiplin. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Kasih yang sejati mengalir ke luar dari diri seorang pribadi kepada orang-orang lain. Apabila kasih yang sejati tidak bertumbuh secara aktif dan hidup subur dalam keluarga, bagaimana kasih sejati itu mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Ini adalah tanggung-jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar kasih sejati kepada anak-anak mereka, dan mereka sendiri harus memiliki kasih sejati tersebut. Para orangtua itu harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.
DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS