Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Jumaat, Januari 13, 2012

BUKALAH HATI KITA BAGI KEHADIRAN ROH KUDUS

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Sabtu 14-1-12 )

Keluarga Fransiskan: Peringatan Beato Odorikus dari Pordenone, Imam

Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kisy bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku


Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” Dalam pada itu itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?” Jawab


Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.
Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.Benyamin, seorang yang berada. Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. Kisy, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kisy kepada Saul, anaknya: “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu.” Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul,

diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat YHWH, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri. (1Sam 9:1-4,17-19;10:1)

Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7; Bacaan Injil: Mrk 2:13-17

Saul – raja Israel yang pertama – dikedepankan dalam bacaan hari ini sebagai seorang pribadi yang “takut akan Allah” dan “memiliki kemampuan”. Ia dikirim oleh ayahnya untuk mencari keledai-keledai betina yang hilang entah ke mana. Bukannya mendapatkan keledai, Saul malah mendapatkan singgasana kerajaan. Apakah Saul dapat menjadi seorang raja Israel yang ideal? Tidak meragukan lagi, dia dapat menjadi seorang raja yang baik. Namun apabila kita membaca cerita selanjutnya dalam Kitab 1Samuel, maka satu persatu kelemahan atau kejelekan pribadinya akan bermunculan ke

permukaan selagi Saul gagal memerintah Israel (umat Allah sendiri) dengan rasa penuh kepercayaan kepada kesetiaan Allah dan bimbingan-Nya.

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa dalam tindakan mereka menuntut untuk mempunyai seorang raja tanpa peduli akan niat-niat Allah sendiri, orang-orang Israel sebenarnya mengidap penyakit dalam jiwa mereka, walaupun mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak melihat bahwa berbagai falsafah duniawi telah mengendap dalam pikiran mereka dan sekarang mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan mereka. Mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya mereka membutuhkan bimbingan dari YHWH-Allah.

Independensi dan kemandirian yang keliru ini menciptakan suatu jurang pemisah yang lebar antara Allah dan umat-Nya. Orang-orang yang tidak mengetahui kebutuhan mereka akan Allah akan menggantungkan diri pada berbagai falsafah duniawi, teristimewa penekanan falsafah-falsafah tersebut pada pemusatan (kepuasan/kepentingan) diri sendiri (self-centeredness). Sebaliknya, orang-orang yang mengetahui kebutuhan mereka akan berpaling kepada Tuhan agar supaya membimbing mereka dengan rendah hati menundukkan diri kepada kehendak-Nya.

Saul akan menjadi sebuah contoh yang sempurna tentang seorang yang gagal untuk menyadari kebutuhannya akan Allah. Sementara kita terus membaca Kitab 1Samuel, kita akan melihat upaya Saul untuk memimpin Israel secara bebas-lepas dari bimbingan Allah. Saul akan tidak mentaati instruksi-instruksi Allah yang diberikan melalui Samuel dan dengan demikian membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga bagi bangsa Israel secara keseluruhan. Saul dibutakan oleh falsafah-falsafah duniawi tentang kekuasaan, pengejaran kepentingan-diri sendiri akan kemuliaan, dan ketakutannya sendiri. Akibatnya adalah, bahwa raja pertama Israel ini luput melihat kebutuhannya yang mendalam akan rahmat Allah, dan ia secara berkelanjutan mengandalkan dirinya sendiri dalam menangani segala masalah yang dihadapinya.

Santo Paulus menulis, “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Dengan lemah-lembut namun pasti, Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita itu akan menyatakan hal ini kepada kita masing-masing. Selagi Dia melakukan hal ini, kita seharusnya merasa terhibur karena kenyataan bahwa Dia tidak ingin menyalahkan/menghukum kita, melainkan hanya menunjukkan kepada kita bela-rasa-Nya. Allah Bapa hanya ingin menolong kita untuk mengakui bahwa hanya Yesus lah yang dapat menyembuhkan segala sakit-penyakit yang kita derita dalam jiwa kita. Mengakui kebutuhan besar kita akan Allah tidak akan mengecilkan diri kita, melainkan justru memperbaiki rasa percaya kita akan nilai berharga diri kita ini sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, marilah kita selalu membuka hati kita bagi kehadiran Roh Allah dalam diri kita masing-masing.

DOA: Pancarkanlah sinar terang-Mu ke dalam hatiku, ya Roh Kudus Allah. Nyatakanlah kepadaku area-area yang membutuhkan sentuhan kasih-Mu. Datanglah, ya Dokter Ilahi, dan buatlah aku menjadi seorang pribadi yang utuh: roh, jiwa dan badan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Januari 12, 2012

JANGANLAH “NGOTOT” DENGAN IDE-IDE KITA SENDIRI

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Jumat 13-1-12 )

Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN (YHWH). YHWH berfirman kepada Samuel; “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

Dan Samuel menyampaikan segala firman YHWH kepada bangs itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya: pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh, mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawi istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnhya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi YHWH tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.”

Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada YHWH. YHWH berfirman kepada Samuel: “Dengarlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.” (1Sam 8:4-7,10-22a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19; Bacaan Injil: Mrk 2:1-12

Keluhan-keluhan orang-orang Israel tentang korupsi para pemimpin mereka dapat dinilai cukup legitim (Inggris: legitimate). Kedua anak Samuel – Yoel dan Abia – yang menjadi hakim di Bersyeba memang sangat korup, tidak seperti ayah mereka yang pada waktu itu sudah tua (lihat 1Sam 8:1-4). Kesalahan orang-orang Israel itu terletak pada anggapan mereka, bahwa solusi atas masalah mereka adalah seorang raja dunia. Mereka menderita di bawah pemerintahan hakim-hakim yang tidak adil dan korup dan mereka berpikir situasinya akan lebih baik apabila ada seorang raja yang memerintah seperti bangsa-bangsa lain. Samuel mengingatkan mereka bahwa situasinya akan menjadi lebih buruk apabila bangsa Israel bergerak ke depan tanpa YHWH, Allah. Ternyata orang-orang Israel “ngotot” untuk mempunyai seorang raja, dan mereka menolak uraian penjelasan yang diberikan oleh Samuel.

Sampai seberapa sering kita “ngotot” atau bersikukuh dengan ide-ide kita sendiri tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang kita hadapi? Kita beranggapan bahwa kita tidak akan membuat kesalahan-kesalahan sama yang telah diperbuat oleh orang-orang lain. Kita memprediksi suatu hasil yang lebih indah, karena kita pikir kita tahu bagaimana menghadapi tekanan-tekanan yang telah menyebabkan banyak orang lain menjadi jatuh-gagal. Inilah kiranya sikap yang diperagakan oleh orang-orang Israel. Dengan demikian, pandangan pribadi mereka menggantikan rencana Allah bagi mereka. Ide mereka adalah, bahwa seorang raja akan memimpin mereka dalam berperang melawan bangsa lain, memerintah dengan adil dan mengelola segalanya yang begitu carut-marut dalam masyarakat. Seorang raja juga diharapkan akan memberikan alasan bagi mereka untuk berbangga. Akan tetapi, seperti diingatkan oleh Samuel, rumput di seberang pagar itu jarang lebih hijau sebagaimana dibayangkan. Dengan tegas-gamblang Samuel mengingatkan mereka, bahwa raja akan memanfaatkan rakyatnya dan mengambil dari mereka, semuanya demi kepentingan dirinya sendiri. Namun karena mereka memang kepala batu, maka peringatan Samuel itu tidak digubris. Mereka tetap menginginkan seorang raja.

Pekan depan (Rabu, 18 Januari 2012), kita akan bergabung dengan saudari-saudara Kristiani lainnya dalam pembukaan “PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI”. Dalam kesempatan ini kita dapat melihat dalam diri kita sesuatu sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh bangsa Israel seperti dikisahkan dalam bacaan hari ini. Banyak umat Kristiani dari banyak denominasi yang berbeda-beda selama satu pekan lamanya akan berdoa untik persatuan umat Kristiani, dan kenyataannya adalah setiap komunitas gerejawi mempunyai pandangan masing-masing tentang bagaimana seharusnya persatuan itu dicapai. Argumentasi dari berbagai cabang ilmu Teologi (Eklesiologi, Kristologi dlsb.), sejarah Gereja dlsb. digunakan oleh para pakar gereja-gereja. Dengan demikian, mudahlah bagi kita untuk melupakan bahwa sesungguhnya kita harus mempercayakan situasi ini kepada Raja surgawi, Tuhan Yesus. Kita semua tentunya ingin melihat segala perpecahan yang ada dalam Tubuh Kristus itu disembuhkan, namun apabila kita hanya berpegang pada ide manusiawi kita sendiri tentang “persatuan dan kesatuan Kristiani”, maka dengan mudah kita membuat masalahnya menjadi semakin rumit dan lebih susah lagi. Kita tidak menjadi part of the solution, melainkan menjadipart of the problem. Semua ide dan gambaran harus disampaikan kepada Roh Kudus, yang bertanggung jawab untuk membimbing dan membangun TUBUH KRISTUS!!!

Oleh karena itu, baiklah kita menyingkirkan bias-bias pribadi kita dan berdoa untuk persatuan umat Kristiani seturut kehendak Allah. Menyerahkan ide-ide kita sendiri dapat menjadi katalis bagi rencana-rencana Allah yang indah untuk bergerak maju. Ingatlah firman YHWH berikut ini: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes 55:8). Selalu mungkin bagi Roh Allah untuk membuat mukjizat-mukjizat guna mempersatukan Gereja Kristus, hanya apabila kita memperkenankan-Nya bertindak seturut kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Ingatlah, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau berdoa agar kami semua dapat menjadi satu seperti Engkau dan Bapa adalah satu. Oleh kehadiran-Mu dalam semua umat-Mu, bimbinglah dan giringlah kami kepada persatuan yang Kauinginkan bagi kami semua. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Januari 10, 2012

BERBICARALAH TUHAN, SEBAB HAMBA-MU INI MENDENGARKAN

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Rabu 11-1-12 )

Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN (YHWH) di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman YHWH jarang; penglihatan-penglihatan tidak sering.

Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci YHWH, tempat tabut Allah. Lalu YHWH memanggil: “Samuel! Samuel!”, dan ia menjawab: “Ya, bapa.” Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: “Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.” Lalu pergilah ia tidur. Dan YHWH memanggil Samuel sekali lagi. Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” tetapi Eli berkata berkata: “Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.” Samuel belum mengenal YHWH; firman YHWH belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan YHWH memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa YHWH lah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, YHWH, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. Lalu datanglah YHWH, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

Dan Samuel makin besar dan YHWH menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi YHWH. (1Sam 3:1-10,19-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10; Bacaan Injil: Mrk 1:29-39

Samuel muda sudah diserahkan oleh Hana kepada imam Eli untuk dibimbing oleh sang imam sebagai seorang pelayan YHWH, di tempat bait suci YHWH di Silo. Hana – ibu dari Samuel – menepati nazarnya kepada Allah, bahwa apabila kepadanya dikaruniai seorang anak laki-laki, maka dia akan mempersembahkan anak itu untuk bekerja melayani Allah. Pada bacaan hari ini kita melihat bagaimana Allah memanggil Samuel ke dalam sebuah tugas pelayanan yang lebih –luas-mendalam lagi daripada yang dia atau ibunya telah bayangkan selama itu. Mengikuti nasihat yang diberikan oleh Eli – seorang yang dipenuhi hikmat dan sudah cukup umur – Samuel menanggapi sapaan Allah dengan sederhana:“Berbicaralah, ya YHWH, sebab hamba-Mu ini mendengarkan” (lihat 1Sam 3:9,10).

Kata-kata nasihat imam Eli kepada Samuel adalah hikmat-kebijaksanaan bagi kita juga yang hidup di abad ke-21 ini. Ketika kita memulai hidup spiritual kita, kebanyakan dari kita berada dalam situasi penuh takjub karena mengetahui bahwa kita dapat berbicara kepada Tuhan Allah – Sang Pencipta langit dan bumi – dan Ia mendengar dan menjawab doa-doa kita. Sungguh merupakan suatu berkat untuk datang menghadap hadirat-Nya dan menyampaikan segala kebutuhan, rasa takut, masalah, rasa syukur dan sukacita kita. Ketika untuk pertama kalinya kita sadar akan hal ini, kita cenderung untuk lebih banyak berbicara dan mengajukan permohonan-permohonan kita, seakan-akan kita berkata:“Dengarlah Tuhan, hamba-Mu ini sedang berbicara!”

Namun dengan bertumbuhnya kehidupan doa kita, maka setahap demi setahap kita pun semakin kurang berbicara dan lebih banyak memakai waktu kita untuk mendengarkan suara Tuhan Allah. Kita memperkenankan Allah sebagai pihak yang membuat rencana kerja-Nya atau agenda-Nya bagi diri kita. Kita percaya bahwa Dia mengetahui berbagai kebutuhan kita, sehingga kita tidak lagi terus-menerus mengemukakan semua itu kepada-Nya. Kita akan bersukacita karena mengalami kehadiran-Nya dalam keheningan; kita merasa takjub dan mulai menyembah-Nya sebagaimana apa adanya Dia. Kita menikmati sabda-Nya dan merenungkannya di bagian terdalam hati kita. Kita memperkenankan Dia mengubah kita, bukannya mencoba agar Dia mengubah situasi yang sedang kita hadapi.

Marilah kita terus mencoba “bereksperimen” mendengarkan Yesus selagi kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, memilih sebuah tempat yang hening di mana kita dapat menenangkan pikiran dan roh kita. Kita dapat membuat catatan apa saja yang kita dengar. Kemudian kita menentukan bagaimana seharusnya kita bertindak seturut sabda Allah kepada kita itu. Ingatlah bahwa Allah begitu rindu untuk berbicara kepada kita masing-masing, umat-Nya. Ia hanya menantikan kita untuk cukup mengheningkan diri agar dapat mendengarkan suara-Nya. “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada YHWH” (Mzm 40:5).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku akan hening di hadapan hadirat-Mu dan menanti dengan sabar untuk dapat mendengarkan panggilan-Mu. Berbicaralah, ya Tuhanku dan Allahku. Ucapkanlah sabda kebenaran-Mu kepadaku, sehingga aku sungguh dapat mengenal Engkau, melayani Engkau, dan berbuah demi Kerajaan Allah. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Januari 09, 2012

KEHIDUPAN ITU KARUNIA DARI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Selasa 10-1-11)

Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN (YHWH), dan dengan hati pedih ia berdoa kepada YHWH sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan YHWH, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah diri dari pada mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur atau pun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan YHWH. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.” Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan YHWH; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, YHWH ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada YHWH.” (1Sam 1:9-20)

Mazmur Tangggapan: 1Sam 2:1,4-7; Bacaan Injil: Mrk 1:21-28

Dalam sebuah dunia di mana anak-anak yang belum sempat dilahirkan diperlakukan sebagai “barang” yang dapat dibuang begitu saja dan di mana anak-anak yang tak diinginkan dibiarkan hidup tanpa rumah/tempat tinggal dan dibiarkan hidup sebagai anak-anak jalanan di kota-kota, maka kerinduan Hana untuk dapat mempunyai seorang anak laki-laki dapat terasa seakan suatu hembusan angin segar. Inilah seorang pribadi manusia yang begitu menghargai kehidupan sebagai suatu karunia yang sangat berharga dari Allah, sehingga dia berjanji untuk mengabdikan anaknya kembali kepada Allah, hanya apabila dia dapat memperoleh seorang anak laki-laki. Hasratnya untuk memperoleh seorang anak laki-laki begitu mendalam sehingga dia bersedia untuk tidak bersama anaknya itu lagi sepanjang hidupnya, agar supaya anaknya itu dapat melayani Allah dan umat-Nya secara purna-waktu.

Sekarang, marilah kita berpikir sejenak mengenai anak-anak di seluruh dunia yang dibuang, tidak diperhatikan, karena faktor kemiskinan maupun karena memang tidak diinginkan oleh para orangtua mereka. Pikirkanlah juga anak-anak yang terbunuh lewat tindakan aborsi atau yang menderita karena terjebak dalam rumah tangga yang suka melecehkan mereka, entah dalam bentuk KDRT atau pelecehan seksual oleh anggota keluarga yang lebih dewasa. Bukankah dunia kita ini akan sangat berbeda apabila anak-anak tidak dilecehkan, diabaikan, atau dieksploitasi, melainkan diajar tentang kasih Allah, diperhatikan dengan penuh afeksi, dan diperlakukan dengan respek dan hormat yang sepantasnya mereka terima? Dengan demikian berapa banyak lagi kita mempunyai hamba-hamba Allah pada hari ini! Berapa banyak lagi orang-orang – baik perempuan maupun laki-laki – yang produktif, berbela-rasa dan berkepribadian stabil yang akan memberikan kontribusi bagi kebaikan Gereja maupun keamanan masyarakat dunia!

Paus Yohanes Paulus II menulis: “Apabila keluarga begitu penting bagi peradaban kasih, maka hal itu disebabkan oleh kedekatan dan intensitas khusus dari ikatan-ikatan yang terwujud di antara pribadi-pribadi dan generasi-generasi di dalam keluarga” (Letters to Families, 1994). Allah menginginkan umat manusia menjadi sebuah keluarga dari keluarga-keluarga yang bersatu dalam diri-Nya. Sebaliknya, Iblis senantiasa berupaya untuk memecah-belah dan menghancurkan kesatuan dan persatuan umat manusia. Target/sasaran utama si Iblis adalah kehidupan keluarga. Iblis mengetahui, bahwa apabila dia dapat menyerang sebuah generasi anak-anak secara keseluruhan, maka dia akan secara serius membawa dampak buruk atas masa depan Gereja dan dunia.

Kita harus senantiasa mengingat, bahwa pertempuran guna melindungi generasi ini hanya dapat diperjuangkan melalui kuasa Roh Kudus.dengan menggunakan senjata-senjata spiritual (lihat Ef 6:10-18). Allah memanggil kita untuk secara berkelanjutan melakukan doa-doa pengantaraan (syafaat) untuk anak-anak yang tidak sempat dilahirkan karena aborsi, juga untuk anak-anak yang hidup sekarang, yang tidak diinginkan, yang ditelantarkan, atau korban berbagai macam pelecehan. Melalui doa-doa yang dilakukan dengan tekun – seperti dicontohkan oleh Hana dalam bacaan hari ini – kita pun dapat melawan kegelapan yang begitu pekat ini, dan ikut ambil bagian dalam menyelamatkan suatu generasi secara keseluruhan.

DOA: Tuhan Allah, Engkau adalah pemberi seluruh kehidupan. Kami mohon, lindungilah semua anak-anak. Berkatilah dan kuatkanlah semua orangtua. Biarlah api Roh-Mu datang ke atas generasi ini sehingga mereka dapat bertumbuh dalam hikmat-kebijaksanaan dan semangat untuk mengikuti Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DIBAPTIS

( Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan, Senin 9-1-12 )

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia melihat langit terkoyak dan misteri “Allah Tritunggal Mahakudus” (Trinitas) dibuat menjadi nyata. Ia mendengar suara Bapa-Nya yang mencurahkan berkat-Nya atas diri-Nya, dan Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas diri-Nya.

Yesus dari Nazaret seorang manusia tanpa dosa (lihat Ibr 4:15), mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia berdosa dengan cara menerima pembaptisan-tobat. Karena ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa bagi diri-Nya, karena kemauan-Nya untuk memeluk dosa-dosa kita dan menghancurkan semua itu pada kayu salib, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Putera Allah yang setia. Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah hamba Tuhan yang kematian-Nya akan berakibat terwujudnya pencurahan Roh Kudus atas diri kita semua.

Setelah dibenamkan dalam kehidupan yang telah “ditakdirkan” oleh Allah bagi diri-Nya, Yesus masuk ke tengah dunia memproklamasikan Kerajaan Allah dan membuat banyak mukjizat serta tanda heran lainnya. Karena kelimpahan Roh dalam diri-Nya, Yesus mampu untuk melakukan segala keajaiban ini dan untuk memanifestasikan kasih Allah secara begitu lengkap. Ia menyiapkan para pengikut-Nya untuk menerima Roh Kudus yang sama.

Kita yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus ini. Kita pun dapat mendengar Bapa surgawi berkata tentang diri kita masing-masing: “Ini adalah anak-Ku yang terkasih.” Kita dapat mengenal dan memberi kesaksian tentang kasih dan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan kita. Pater Raniero Cantalamessa OFMCap., pengkhotbah untuk rumahtangga Kepausan pada masa Paus Yohanes Paulus II menulis dalam sebuah bukunya: “Kita telah diselamatkan sehingga pada gilirannya kita akan mampu untuk melakukan – melalui rahmat dan iman – pekerjaan-pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan sebelumnya bagi kita yang adalah buah-buah Roh” (Mary Mirror of the Church, hal. 71). Satu lagi: “Api Roh diberikan kepada kita pada saat Baptisan. Kita harus membuang abu yang telah membuat-Nya kurang dapat bernapas, agar dengan demikian dapat berkobar lagi dan membuat kita mampu mengasihi” (Life in the Lordship of Jesus Christ, hal. 154).

Hari ini, marilah kita memeriksa kembali baptisan kita dalam terang pembaptisan Yesus bagi kita. Kita dibaptis ke dalam kematian Yesus. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita juga bangkit bersama dengan-Nya, diampuni dan dipenuhi dengan kehidupan ilahi. Semuanya telah diberikan kepada kita dalam Kristus! Yang kita harus lakukan hanyalah dari hari ke hari menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mencari pekerjaan Roh dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Putera-Mu yang terkasih, pada waktu Dia dibaptis di Sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas diri-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami menghaturkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Januari 07, 2012

KEMULIAAN SION YANG AKAN DATANG

( Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN, Minggu 8-1-12 )

Hari Anak Misioner Sedunia

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan TUHAN (YHWH) terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang YHWH terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur YHWH. Segala kambing domba Kedar4 akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai kurban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.

Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung merpati ke pintu kandangnya? Sungguh, Akulah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh; kapal-kapal Tarsis berlayar di depan untuk membawa anak-anakmu laki-laki dari jauh, perak dan emasnya dibawa serta, untuk nama YHWH, Allahmu, dan oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, sebab Ia mengagungkan engkau. Orang-orang asing akan membangun tembokmu, dan raja-raja mereka akan melayani engkau; sebab dalam murka-Ku Aku telah menghajar engkau, namun Aku telah berkenan untuk mengasihani engkau. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan. Sungguh, bangsa dan kerajaan yang tidak mau mengabdi kepadamu akan lenyap; bangsa-bangsa itu akan dirusakbinasakan. (Yes 60:1-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6; Bacaan Injil: Mat 12:1-12

Pada waktu nubuatan di atas dikumandangkan oleh sang nabi, kota suci Yerusalem telah diporakporandakan oleh pasukan tentara Nebukadnezar, raja Babel (tahun 586 SM). Bait Allah praktis dimusnahkan dan sebagian penduduknya di singkirkan ke tempat pembuangan di Babel. Dan kondisi Yerusalem tetap begitu selama berjalannya tahun-tahun pembuangan. Walaupun begitu, di tengah kegelapan ini YHWH berbicara lewat nabi-Nya dalam suatu nubuatan tentang tindakan yang akan dilakukan-Nya, yaitu membuat Yerusalem sebagai suatu terang yang akan menarik orang-orang non-Yahudi kepada Allah.

Dengan cara yang sama, kelahiran Yesus merupakan saat terbit suatu terang yang penuh kemuliaan, namun sebagai seorang bayi lemah Yesus sama sekali tidak kelihatan memiliki kuasa atau gilang-gemilang. Ia dilahirkan di tengah kegelapan sebuah kandang hewan. Hanya sejumlah kecil orang yang mengenali-Nya. Di antara sedikit orang ini ada orang-orang majus yang dipimpin kepada Yesus oleh perwahyuan Allah sendiri. Para bijak dari Timur ini dalam Kitab Suci mewakili bangsa-bangsa non-Yahudi yang pada akhirnya akan datang kepada terang Allah (Yes 60:3).

Pada hari ini, nubuatan ini terus mewujudkan kepenuhannya selagi Gereja dipanggil untuk “bangkit dan menjadi terang” (Yes 60:1), agar dapat menarik setiap orang dari segala bangsa kepada Kristus. Sayangnya, bahkan hari ini pun Gereja hanyalah semacam “bayangan” saja dari apa yang Allah telah rencanakan baginya! Bahkan aspek-aspek yang paling indah sekalipun dari Gereja masih terasa gelap ketimbang terang yang akan bercahaya diatasnya pada saat Kristus kembali kelak untuk menjemput mempelai-Nya (Gereja-Nya) – artinya umat-Nya – ke dalam kemuliaan Kerajaan-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita berdoa untuk Gereja pada hari ini, mohon kepada Roh Kudus agar terang kemuliaan Allah bercahaya melalui umat Allah dan mencerminkan Kristus ke segala penjuru bumi. Marilah kita berdoa untuk menyambut Kristus ke dalam hati kita masing-masing setiap hari, artinya memperkenankan terang-Nya meresap ke dalam diri kita dan mengalahkan kegelapan apa pun yang ada dalam diri kita. Baik sebagai pribadi-pribadi dan sebagai anggota Gereja, kita dapat mencerminkan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Bukankah seharusnya begitu?

DOA: Tuhan Yesus, biarlah benih rahmat-Mu dalam diri kami bertumbuh-mekar ke dalam rencana-Mu yang sempurna bagi Gereja-Mu. Semoga kami masing-masing dapat mencerminkan rencana ini dengan lebih penuh setiap hari, sehingga kemuliaan-Mu akan bercahaya ke atas semua bangsa. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Januari 06, 2012

YANG PERTAMA DARI TANDA-TANDA-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal, Sabtu 7-1-12 )

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

“Tanda pertama” Yesus ini mengawali karya perutusan-Nya di depan publik. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah digenapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini. Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah yang Mahamurah, bentuklah kami agar senantiasa menjadi murid-murid Kristus yang baik, sehingga pada saat kedatangan-Nya kembali kelak, kami – Gereja-Nya dan Umat-Mu – diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta perjamuan surgawi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Januari 05, 2012

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal, Jumat 6-1-12 )

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Didakus Yosef dari Sadis, Imam

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk dibaptis oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

Kalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.” Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13, 14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Oleh karena marilah kita memohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Januari 04, 2012

ENGKAU AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal, Kamis 5-1-12 )

Keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya,

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-5“Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepada kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:43-51)


Natanael hanya disebut dalam Injil Yohanes, tetapi banyak ahli percaya bahwa dia adalah Santo Bartolomeus yang disebut dalam Injil-injil sinoptik, salah seorang dari 12 rasul. Sebagai salah satu pilar Gereja, pengalaman Natanael akan Yesus merupakan suatu kesaksian penting mengenai apa artinya perjumpaan dengan Tuhan itu. Kesaksian Natanael menceritakan banyak mengenai bagaimana seharusnya relasi kita dengan Yesus itu.
Yohanes Penginjil menunjukkan kepada kita bagaimana teman Natanael yang bernama Filipus memperkenalkan Yesus kepadanya. Pada waktu Natanael mendengar bahwa Yesus berasal dari Nazaret, dia samasekali tidak terkesan. Bagaimana mungkin Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu kedatangan-Nya justru berasal dari kota kecil tak terkenal di Galilea? Namun untuk menghormati Filipus, Natanael memutuskan untuk melihat sendiri siapa Yesus itu.
Kita lihat dari bacaan di atas, bahwa sikap skeptis Natanael membuka jalan kepada iman dan rasa takjub ketika dirinya bertemu dengan Yesus secara face-to-face. Sang Rabi dari Nazaret ternyata mampu membaca isi hatinya seperti sebuah buku yang terbuka! Yesus melihat bahwa Natanael adalah seorang “Israel sejati” yang tidak mengenal kepalsuan. Yesus juga mengatakan bahwa dia telah melihat Natanael “di bawah pohon ara.” Ini adalah suatu gambaran populer di kalangan para rabi di abad pertama tentang seorang yang dalam suasana doa merenungkan hukum TUHAN (YHWH).

“Di bawah pohon ara” adalah sebuah ungkapan Yahudi untuk menggambarkan seseorang yang mempelajari sabda Allah di Kitab Suci dalam suasana dan semangat doa. Pohon ara adalah lambang berkat Allah dan damai-sejahtera dari-Nya. Pohon ara ini memberikan naungan dari terik sinar matahari di siang hari dan tempat yang sejuk bagi seseorang untuk melakukan ‘rekoleksi’, ‘retret’ dan berdoa secara pribadi. Yesus melihat ke dalam hati Natanael dan melihat bahwa dia adalah seorang pendoa. Sebagai konsekuensi, Yesus menjanjikan kepadanya ganjaran bagi seorang pendoa: Natanael akan menerima wahyu tentang surga yang terbuka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51). Sesuai dengan sabda Yesus itu, Natanael memang juga kemudian diperkenankan melihat hal-hal yang lebih besar. Ia adalah salah seorang murid yang bertemu dengan Yesus yang telah bangkit di pantai Danau Tiberias (lihat Yoh 21:1-14).

Juga hari ini Yesus melihat ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan ganjaran yang sama. Dia akan membuka pintu gerbang surga bagi semua orang yang berdoa dengan rendah hati dan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dia akan mewahyukan/menyatakan misteri-misteri Kerajaan Surga kepada siapa saja yang mencari hadirat-Nya dalam doa. Apabila kita menyediakan waktu untuk berdoa dan melakukan studi atas sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci, maka kita pun akan diberkati, seperti juga Natanael diberkati. Allah akan mewahyukan/menyatakan kepada kita kebenaran-kebenaran kerajaan-Nya. Dia akan menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah Putera Allah, “Raja segala bangsa” (Why 15:3), “Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja” (Why 17:14; bdk. 19:16). Kita tidak akan sekadar melihat hal-hal ini secara intelektual. Kita akan sampai pada titik di mana kita dapat melihat hal-hal itu di kedalaman hati kita, dan perwahyuan/pernyataan ilahi itu pun akan mentransformasikan kita.
Marilah kita membuka hati kita terhadap perwahyuan Yesus, seperti yang dilakukan oleh Natanael. Selagi kita melakukannya, kobaran api Roh Kudus akan mulai membakar hati kita bagi Juruselamat kita. Hasrat kita untuk mengenal Tuhan akan lebih berkobar-kobar lagi, akhirnya menyerap ke dalam seluruh kehidupan kita. Kalau kita mencari Allah dengan rendah hati, kita dapat yakin bahwa Dia akan mentransformasikan hati kita, membuat hati itu menjadi lebih murni lagi. Marilah kita menyediakan waktu untuk mempertimbangkan sabda-Nya dalam Kitab Suci dan mendoakannya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun akan ditransformasikan, dan surga pun akan dibukakan bagi kita.
DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar senantiasa berdoa dan mempelajari sabda Allah. Siapkanlah hatiku untuk memahami kehendak-Mu. Murnikanlah hatiku selagi aku mencari jalan-jalan-Mu. Tunjukkanlah kepadaku Yesus. Bukalah surga bagi mata hatiku agar aku dapat melihat-Mu dalam segala kemuliaan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Januari 01, 2012

LURUSKANLAH JALAN TUHAN !!!

( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja, Senin 2-1-12 )

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa im


Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”
am dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu

tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:19-28)

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:22-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Yohanes Pembaptis bukanlah orang biasa karena orang kudus ini memang sungguh luarbiasa. Dia menghayati hidup asketis di padang gurun, memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (lihat Mat 3:4). Isi pewartaannya melawan ketidakadilan dalam masyarakat yang ada pada waktu itu dan dia menyerukan pertobatan. Praktis bekerja seorang diri (tentunya dengan bantuan rahmat Allah), Yohanes Pembaptis menyebabkan timbulnya suatu kebangunan rohani yang menyentuh hati banyak orang, termasuk Raja Herodus Antipas sendiri, meskipun berlainan di ujung ceritanya (Mrk 6:17-20). Sementara orang-orang sederhana memuji-muji Yohanes sebagai seorang nabi, para pemuka agama di Yerusalem masih dihinggapi keraguan.

Siapakah sebenarnya sosok yang bernama Yohanes ini? Apakah dia Elia, yang dibawa ke surga dalam kereta khusus, yang akan datang kembali ke dunia untuk mempermaklumkan kedatangan sang Mesias (2Raj 2:11; Mal 4:5-6)? Ataukah dia nabi yang telah dinubuatkan dalam Ul 18:18, yang akan datang untuk menyampaikan segala perintah YHWH-Allah? Jangan-jangan ia ini memang Mesias itu sendiri! Ketika ditanyakan kepadanya, Yohanes memberi tanggapan, bahwa dirinya bukanlah semua itu, melainkan hanyalah “suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’” (Yoh 1:23).

Yohanes berkata kepada orang-orang itu bahwa dia hanya membaptis dengan air, sedangkan Dia yang akan memberikan Roh Kudus ada di tengah-tengah mereka, walaupun mereka tidak mengenali Dia (Yoh 1:26,33). Banyak orang pada masa itu sungguh merindukan Mesias dan menanti-nantikan penuh pengharapan akan hari pada waktu mana Dia akan dinyatakan. Akan tetapi, sayangnya ekspektasi mereka itu sudah terbentuk menurut pola pemikiran tertentu tentang “macam apa” Mesias itu, maka hanya sedikit orang saja yang dapat mengenali-Nya ketika sang Mesias benar-benar muncul di depan publik. Banyak orang Yahudi itu mengharapkan Mesias yang adalah seorang Raja perkasa yang akan mengakhiri penjajahan kekaisaran Romawi dan merestorasi Israel kepada kemuliaannya pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi, Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka sebagai sang “Anak Domba Allah” yang dengan rendah hati akan menyerahkan diri-Nya kepada salib demi keselamatan umat manusia.

Bilamana kita berupaya untuk mengetahui tindakan Allah dalam kehidupan kita, sebenarnya apa yang sedang kita cari? Apakah kita membatasi cara-cara Allah untuk dapat bekerja, misalnya dengan berpikir bahwa dosa kita sudah terlalu besar atau iman kita terlalu lemah? Apakah kita “mengirim” orang lain – seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis – untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menimbang-nimbang gerakan Allah, berdasarkan asumsi bahwa Allah tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita? Ingatlah, bahwa Allah telah merestorasikan kita kepada suatu hubungan peribadi dengan Allah. Sebagai Sang Pencipta, Allah ingin menyatakan diri-Nya kepada kita dalam keheningan doa, dalam kata-kata yang terdapat dalam Kitab Suci, dan dalam perayaan Ekaristi Kudus. Ia ingin berbicara kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita dan situasi-situasi kehidupan kita sehari-hari. Yesus tidak pernah berada jauh dari kita, karena Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20). Yang kita perlukan adalah menyediakan waktu yang cukup setiap harinya untuk membuka hati kita bagi-Nya dan menantikan-Nya. Apabila kita melakukannya, maka Dia pun akan berbicara.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku menyerahkan kehidupanku ke dalam tangan-tangan-Mu. Tolonglah aku agar mampu memandang diriku sebagaimana Engkau memandang diriku. Semoga Engkau semakin besar dalam diriku sehinga aku dapat menarik orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS