Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Ahad, Januari 22, 2012

MEMPERKENANKAN YESUS BERKUASA ATAS DIRI KITA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III, Senin 23-1-12 )

Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,” dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat. (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-7,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,25-26

Pada waktu kita (anda dan saya) dibaptis, sebenarnya diri kita direbut dari cengkeraman Iblis dan kita dibuat menjadi suatu “ciptaan baru” melalui darah Yesus. Iblis dapat saja merupakan “orang yang kuat” (Mrk 3:27), namun Yesus jauh lebih kuat lagi! Sekarang masalahnya adalah, apakah Saudari/Saudara sungguh percaya bahwa Yesus telah mengikat musuh kita yang bernama Iblis itu? Yang diminta oleh Yesus dari diri kita masing-masing adalah agar kita tetap hidup berkemenangan dengan memperkenankan Dia berkuasa atas diri kita. Karena Iblis senantiasa mencari peluang untuk masuk kembali ke dalam kehidupan kita maka kita mengambil langkah-langkah praktis untuk melindungi pikiran dan hati kita. Kita harus senantiasa mengingat apa yang ditulis oleh Santo Petrus: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, …… (lihat 1Ptr 5:8-9).

Apabila kita bangun tidur di pagi hari, baiklah kita menyediakan beberapa menit untuk mengkomit hati dan keadaan kita kepada Yesus. Kemudian, di siang hari kita juga menyediakan waktu untuk dapat bersama dengan Yesus. Berbicara dengan-Nya dan mendengarkan Dia. Walaupun waktu kita terasa sangat langka, kita dapat memohon Roh Kudus untuk menolong kita menemukan peluang sebanyak sepuluh menit saja hening di hadapan hadirat Allah. Semoga dengan demikian kita dapat disegarkan kembali dan dikuatkan. Barangkali selama hari itu kita dapat menemukan waktu untuk membaca Kitab Suci dan merenungkan sabda Allah di dalamnya, dan memperkenankan sabda-Nya meresapi hati kita.

Selagi kita memperkenankan Yesus memenuhi hati kita, maka Iblis pun tidak akan dapat menemukan jalan masuk atau kelemahan kita yang dapat dimanfaatkannya. Paling-paling Iblis menjadi berhadapan dengan Yesus – orang yang lebih kuat – yang terus-menerus berdiri menjaga diri kita.

Pada saat Yesus wafat di kayu salib, Ia mengalahkan Iblis secara lengkap. Jadi sebenarnya Iblis sekarang seperti seekor anjing yang dapat menyalak keras akan tetapi tidak dapat menggigit! Iblis tidak dapat “menggigit” kita, apabila kita bertumpu pada kemenangan Yesus Kristus dan melengkapi diri kita dengan segala peralatan/senjata yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kita harus mengingat, bahwa Allah – dalam Kristus – telah mengaruniakan kepada kita “segala berkat rohani di dalam surga”, dan telah membuat kita “kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef 1:3,4).

Marilah kita menempatkan iman kita pada kuasa dan rahmat Allah! Berdirilah tegak selagi kita membangun pertahanan kita yang kuat! Perkenankanlah Yesus memerintah dan menguasai hati kita dengan lebih penuh lagi, dengan demikian Iblis pun akan pergi meninggalkan kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku mengundang Engkau untuk mendirikan takhta-Mu di dalam hatiku. Tolonglah aku dalam membangun pertahanan yang kuat untuk melawan Iblis dan roh-roh jahatnya, dengan demikian aku dapat mengasihi dan menghormati Engkau, dan berkata “YA” sekali lagi pada janji-janji baptisku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Januari 21, 2012

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III, 22-1-12 )

Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur


Bacaan Pertama: Yun 3:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Kor 7:29-31Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20)

Hanya seorang nelayan yang telah berpengalamanlah yang mengetahui di mana dia harus menghentikan perahunya. Dia tahu di mana ikan-ikan cenderung berkumpul, dengan demikian dia dapat menebarkan jalanya ke lokasi yang benar, kalau mau memperoleh tangkapan yang sungguh banyak. Demikian pula dengan Yesus yang datang ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya:“Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:14-15). Yesus menemukan orang-orang yang rindu untuk dibebaskan, tidak hanya dari cengkeraman penjajah Roma, melainkan juga dari jeratan dosa dan maut. Kepada Simon dan saudaranya, Andreas yang sedang menebarkan jala di danau, Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17).

Yesus ingin mengajar kita semua untuk menginjili teman-teman dan para anggota keluarga kita sama efektifnya sebagaimana Dia menginjili para pengikut-Nya. Yesus berbicara mengenai Kerajaan Allah sebagai sebuah “tempat” yang diperintah oleh Allah yang mahakuasa, namun juga “seorang” Allah yang mempribadi. Lalu Yesus menindak-lanjuti kata-kata-Nya dengan karya belas-

kasihan dan membuat banyak mukjizat dan tanda-heran lainnya. Orang-orang yang lapar diberi makan, orang-orang sakit disembuhkan, para pendosa diyakinkan bahwa dosa mereka diampuni karena belas kasihan Allah, orang-orang yang memandang diri “benar” ditantang-Nya, dan kepada orang-orang yang sedang merasa cemas, galau, bingung, diberikan-Nya pengharapan. Sekarang Yesus ingin mengatakan kepada kita, bahwa kita semua adalah para anggota kerajaan-Nya yang sangat berharga, yang dipenuhi oleh Roh Kudus-Nya dengan kapasitas untuk menggerakkan hati dan pikiran orang-orang sebagaimana telah dilakukan-Nya dengan penuh kuat-kuasa.

Sekarang, percayakah Saudari/Saudara kepada janji Yesus, bahwa anda dan saya akan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12)? Pada hari Minggu yang istimewa ini, marilah kita (anda dan saya) memeriksa apa yang terjadi selama pekan lalu. Apakah anda mendengar Allah berbicara kepada anda? Dalam situasi-situasi yang mana saja anda menerima kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan? Kapan anda sungguh berseru kepada-Nya mohon pertolongan, dan anda menerima hikmat-kebijaksanaan? Bilamana anda merasa bersalah karena kata-kata yang anda ucapkan, lakukan, atau pikirkan, dan mengalami pembersihan melalui pertobatan?

Masing-masing contoh di atas menunjukkan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan anda – suatu kuat-kuasa untuk memberi kesaksian tentang kasih-Nya dan kehadiran-Nya. Oleh karena itu, marilah kita semua membuka mata hati kita pada pekan ini bagi cara-cara atau jalan-jalan Allah memberikan kepada kita masing-masing hikmat-kebijaksanaan kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan untuk melakukan intervensi, kapan untuk mengundurkan diri, kapan untuk merangkul seorang pendosa dan kapan untuk memberikan waktu kepadanya untuk berpikir dan melakukan refleksi.

Percayalah Saudari-Saudariku, kita semua dapat menjadi pewarta Kabar Baik seperti Yesus sendiri, menunjukkan kepada orang-orang yang kita temui bagaimana kiranya kalau sudah mengalami transformasi oleh Allah Yang Mahakuasa sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keyakinan untuk mensyeringkan dengan orang-orang lain kehidupan yang telah Kauberikan kepadaku. Bentuklah aku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu mengasihi dengan bela rasa dan hanya menggantungkan kepada kuat-kuasa-Mu semata. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Januari 19, 2012

TETAP MENGHORMATI DAN MENDOAKAN MEREKA YANG MEMEGANG OTORITAS

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II, Jumat 20-1-12 )

Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Keluarga Fransiskan Konventual: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dari Triquerie, Imam & Martir

Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya. Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: “Tuanku raja!” Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah. Lalu berkatalah Daud kepada Saul: “Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu? Ketahuilah pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa YHWH sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi YHWH. Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. (1Sam 24:3-12)Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan. Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu. Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN (YHWH) kepadamu:

Sesungguhnya, aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan YHWH lah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku; kepada orang yang diurapi YHWH, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi YHWH.” Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul.

Mazmur Tanggapan: Mzm 57:2-4,6,11; Bacaan Injil: Mrk 3:13-19

Pembenaran apa lagi yang dibutuhkan Daud untuk menyerang Saul? Bagaimana pun juga, apabila Saul berhasil menangkapnya maka dia pasti dibunuh oleh sang raja. Kehidupannya telah dirusak oleh kecemburuan membabi-buta dari raja ini. Bahkan para pengikut Daud pun yakin, bahwa Allah telah memberikan kepada Daud kesempatan sempurna untuk membalas kejahatan Saul atas dirinya selama ini. Alasan mengapa Daud tidak “menghabiskan” raja Saul dalam “kesempatan emas” itu adalah karena Saul merupakan orang yang telah diurapi oleh YHWH-Allah, dengan demikian dirinya tidak mempunyai hak untuk membunuhnya.

Sekarang marilah kita mengacu kepada bacaan Injil hari ini. Baik dalam bacaan ini dan dalam bacaan Injil kita melihat bahwa orang-orang yang dipilih Allah bukanlah orang-orang dengan CV paling hebat. Seorang raja yang pencemburu serta merasa tidak aman dan sejumlah nelayan sederhana yang tidak memiliki latar-belakang pendidikan – mereka dipilih Allah untuk memimpin umat dan memajukan Kerajaan-Nya. Memang sulit untuk dipahami hal seperti ini, namun memang beginilah cara bagaimana Allah bekerja. Ia mengharapkan kita untuk menghormati orang-orang yang telah diberikan otoritas oleh-Nya, apakah menurut pandangan kita pantas atau tidak. Santo Paulus menulis, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Rm 13:1).

Ada dua alasan mengapa Allah memanggil kita untuk tunduk kepada otoritas. Pertama, hal ini mematikan dalam diri kita segala cinta-diri atau independensi tak beraturan, yang dapat memisahkan kita dari kehendak Allah bagi kehidupan kita. Kedua, dengan menundukkan kehidupan kita pada Allah dan percaya kepada rencana-Nya – betapa pun sulitnya – kita dapat memperoleh otoritas yang lebih besar atas nafsu-nafsu dan dorongan-dorongan dalam hati kita. Pada akhirnya Daud terbebaskan dari pengejaran Saul, dan di bawah pemerintahannya kesejahteraan umat Allah meningkat, …… mereka bertambah makmur. Perjumpaan Daud dengan Saul dalam gua-gua yang ada di En-Gedi banyak memberi pelajaran kepadanya.

Apakah ada orang-orang yang memiliki otoritas atas kehidupan kita yang anda tidak hormati? Misalnya Kepala Keluarga, Ketua Lingkungan, anggota Dewan Paroki? Pastor Paroki kita sendiri? Bahkan pemimpin pemerintahan negara kita? Kalau begitu, kita harus berhati-hati! Berbicara jelek tentang mereka dapat mendatangkan penghakiman atas diri kita dan menghalangi pertumbuhan kita dalam Kristus. Baiklah kita berdoa bagi mereka, sambil tetap menghormati mereka. Berkatilah mereka demi anda dan mereka. Dengan memberkati orang-orang yang mempunyai otoritas, anda dapat mengubah atmosfir di sekeliling mereka demi kebaikan, dan anda pun akan memperoleh otoritas yang lebih besar atas kehidupan anda sendiri selagi proses berjalan.

DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orang yang memegang otoritas pada hari ini, agar mereka menerima hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan. Oleh Roh Kudus-Mu jamahlah mereka dan bimbinglah mereka dalam segala keputusan-keputusan yang harus mereka ambil pada hari ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Januari 18, 2012

KECEMBURUAN ADALAH SUATU PENCERMINAN KETIDAKPERCAYAAN KEPADA ALLAH

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II, Kamis 19-1-12 )

Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang


Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh. Tetapi Yonatan, anak Saul, sangat suka kepada Daud, sehingga Yonatan memberitahukan kepada Daud: “Ayahku Saul berikhtiar untuk membunuh engkau; oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana. Aku akan keluar dan berdiri di sisi ayahku di padang tempatmu itu. Maka aku aku akan berbicara dengan ayahku perihalmu; aku akan melihat bagaimana keadaannya, lalu memberitahukannya kepadamu.”perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana,

dengan bersukaria dan dengan membunyikan geringcing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya.” Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya; “Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu! Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN (YHWH) telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel, Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan? Saul mendengarkan perkataan Yonatan dan Saul bersumpah: “Demi YHWH yang hidup, ia tidak akan dibunuh.” Lalu Yonatan memanggil Daud dan Yonatan memberitahukan kepadanya segala perkataan itu. Yonatan membawa Daud kepada Saul dan ia bekerja padanya seperti dahulu. (1Sam 18:6-9;19:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-11; Bacaan Injil: Mrk 3:7-12

Sebagai raja Israel, sebenarnya Saul telah diberkati Allah secara luarbiasa. Walaupun demikian, ia menjadi iri hati ketika dia melihat bahwa Daud lebih diberkati lagi. Saul merasa terancam dan dijangkiti oleh rasa tidak aman. Ia tidak dapat percaya bahwa baik dirinya maupun Daud tidak dapat dikasihi oleh Allah dalam kadar yang sama. Saul juga lebih berprihatin mengenai apa yang dipikirkan orang-orang berpikir tentang dirinya daripada apa yang Allah pikirkan. Ia lebih takut kehilangan kerajaannya di atas bumi daripada menghargai kerajaan surgawi Allah sendiri.

Kalau simpati adalah rasa sedih atas nasib buruk seseorang, maka iri-hati adalah rasa sedih atas nasib baik seseorang. Orang lain telah menerima sesuatu yang kita sendiri tidak miliki, dan kita menginginkan hal tersebut. Pada akar rasa iri hati seperti ini terdapat rasa tidak aman – suatu rasa takut bahwa kita tidak akan memperoleh kasih dan perhatian yang menurut kita dibutuhkan. Takut kalau-kalau kita akan “dicuekin” atau dilupakan, maka kita malah memusuhi orang yang kelihatannya lebih banyak memperoleh perhatian. Sebagaimana akhirnya ditunjukkan oleh cerita Saul, pola pemikiran sedemikian hanya memimpin seseorang kepada rasa sunyi, kepahitan dan perpecahan.

Kecemburuan atau iri-hati dan ketidak-pastian sedemikian sesungguhnya adalah suatu pencerminan dari ketidakpercayaan kepada Allah, …… ketidakpercayaan akan kasih-Nya kepada kita. Apabila kita tidak hidup oleh/dalam iman, maka kita dapat menjadi berpusat pada diri sendiri (self-centered) dan mengembangkan cinta-diri yang tidak sehat (unhealthy self-love). Apabila kita melihat orang-orang lain berhasil, maka mungkin saja kita berpikir, “Aku tidak diperlakukan sebaik mereka diperlakukan, padahal aku adalah seorang pribadi yang lebih baik! Mengapa dia menjadi lebih makmur, namun aku tidak?” Sungguh mengejutkan apabila kita memikirkan betapa banyaknya kehidupan dan relasi yang telah dirusak oleh penyakit macam ini.

Yesus bersabda, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Kita memang dapat mengandalkan diri kepada Allah. Manakala kecemburuan atau iri-hati muncul dalam diri kita, maka biarlah Allah menunjukkan betapa dalam Ia mengasihi kita semua dan betapa istimewa kita semua di mata-Nya. Martabat kita datang dari Allah, bukan dari orang-orang lain atau dari berkat-berkat dunia. Oleh karena itu keprihatinan kita seharusnya adalah ketaatan kepada Allah, dan segalanya pun akan diatur oleh-Nya. Apabila kita melihat adanya dosa kecemburuan atau iri-hati dalam kehidupan kita, baiklah kita klaim bahwa semua itu sudah mati disalibkan dengan Kristus. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyembuhkan diri kita masing-masing.

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih-Mu yang tanpa batas, agar supaya aku dapat dibebaskan dari rasa cemburu atau iri-hati terhadap orang-orang lain. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, sembuhkanlah diriku sehingga aku dapat mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Januari 17, 2012

BELAJAR DARI CERITA “DAUD VS GOLIAT”

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II, Rabu 18-1-12 )

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani


Pula kata Daud: “TUHAN (YHWH) yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! YHWH menyertai engkau.”Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki


Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama YHWH semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga YHWH akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa YHWH menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan YHWH lah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”
Daud. Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.”

Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnya sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka. (1Sam 17:32-33,37,40-51)

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10; Bacaan Injil: Mrk 3:1-6

Berabad-abad lamanya para kudus, mistikus dan komentator melihat cerita “Daud vs Goliat” ini sebagai pertanda awal dari kemenangan Yesus atas Iblis. Daud mengalahkan orang Filistin melalui iman dan kepercayaannya yang diungkapkan-Nya dengan rendah hati kepada Allah. Demikian pula, Yesus mengalahkan Iblis oleh ketaatan-Nya dan kepercayaan-Nya yang rendah hati bahwa Allah tidak akan meninggalkan diri-Nya. Kemenangan Daud membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman orang Filistin, demikian pula kemenangan Yesus atas Iblis membebaskan kita dan cengkeraman dosa dan maut.

Memang mudah bagi kita untuk merasa begitu familiar dengan cerita “Daud vs Goliat” ini, sehingga kita luput menyimak apa yang ingin diajarkan Allah kepada kita lewat cerita ini. Plotnya sendiri memang cukup sederhana: Seorang gembala muda usia mengalahkan seorang musuh yang kelihatan jauh lebih kuat, membebaskan Israel dari dominasi bangsa asing, kemudian menjadi raja. Sebagaimana halnya dengan cerita “Daud vs Goliat” yang dapat menjadi terlalu familiar bagi kita, kita pun dapat berhenti pada suatu pemahaman yang belum terang benar mengenai kebebasan kita dalam Kristus. Sebagai akibatnya, ekspektasi-ekspektasi kita akan karya Allah dapat direduksi, dan pengorbanan Yesus pun dapat mulai terlihat sebagai suatu tindakan yang hampa dan sia-sia belaka.

Pada hari ini, marilah kita mencoba untuk mendalami bacaan di atas. Biarlah cerita “Daud vs Goliat” ini menggerakkan kita untuk menguji iman kita akan kemenangan Yesus di atas kayu salib. Marilah kita mengingat apa saja yang telah kita pelajari dan juga pengalaman kita akan Allah selama beberapa tahun belakangan ini. Apakah yang sesungguhnya terjadi ketika Yesus wafat di atas kayu salib? Kemenangan macam apa yang diperoleh Allah bagi umat-Nya pada hari itu? Kita dapat mencatat hasil “ingat-ingat” kita itu dan/atau mensyeringkannya dengan seorang sahabat. Selagi kita melakukannya, perhatikanlah bahwa pemahaman kita tentang Injil menjadi lebih tajam dan rasa percaya kita pada Allah pun bertumbuh. Roh Kudus senang untuk mengambil upaya kecil kita itu dan mentranformasikannya ke dalam suatu wawasan spiritual dan rahmat yang mempunyai kuat kuasa untuk mengubah hati kita.

Apabila pada hari ini kita diintimidasi oleh situasi tertentu atau suatu pola dosa yang lama muncul – misalnya memori yang menyakitkan, maka sepantasnyalah kita meniru Daud. Ketika Saul meragukan kemampuannya, Daud berkata dengan penuh keyakinan: “TUHAN (YHWH) yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”(1Sam 17:37). Kita harus percaya pada pembebasan Allah yang memberikan kemenangan kepada kita. Apabila kita berdiri tegak dalam melawan Iblis, teguh dalam iman kepada Allah, maka kita pun akan melihat kejatuhannya. Tidak ada kuasa mana pun yang dapat melawan mereka yang ditanam secara kokoh dalam kasih dan kerahiman Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah membebaskanku dari kuasa dosa dan maut. Dalam Engkau aku akan berkemenangan atas setiap musuhku. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Januari 16, 2012

DAUD DIURAPI MENJADI RAJA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas, Selasa 17-1-12 )

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman YHWH; “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan kurban kepada YHWH. Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.” Samuel berbuat seperti yang difirmankan YHWH dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?” Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan kurban kepada YHWH. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan YHWH sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah YHWH kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YHWH melihat hati.”

Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih YHWH.” Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih YHWH.”

Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu YHWH berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh YHWH atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menunju Rama. (1Sam 16:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28; Bacaan Injil: Mrk 2:23-28

“Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi …… Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YHWH melihat hati” (1Sam 16:7).

Memang, seperti yang kita pelajari dari kelas “management” atau mata-mata kuliah lainnya yang menyangkut perilaku manusia, dan juga dari pengalaman hidup kita sendiri, APPEARANCE CAN BE DECEIVING, … PENAMPILAN DAPAT MENIPU. Kelihatan sekilas seperti seekor beruang grizzly, ternyata hanyalah seekor beruang panda! Bukankah cukup sering kita membuat penilaian secepat kilat, kemudian menyadari bahwa kita telah membuat kesalahan besar? Bukankah tidak jarang kita membuat penilaian salah atas diri seseorang karena kita percaya pada pepatah Belanda yang mengatakan“Kleeren maken de man” (Pakaian yang dipakai seseorang membuat diri orang tersebut)? Pernahkah anda serta-merta mengatakan tentang keluarga tetangga yang baru, “Mereka bukanlah orang-orang yang pantas bagi kita … They are just not my kind of people”? Barangkali anda pun pernah gagal mengenali Roh Allah yang bekerja dalam diri seseorang, “Bagaimana Roh Kudus dapat menggunakan orang semacam itu, padahal ada banyak orang yang lebih baik?”

Dalil bahwa appearance can be deceiving menjadi nyata-benar ketika sang nabi mengunjungi Isai dan anak-anaknya yang laki-laki. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YHWH melihat hati” (1Sam 16:7). Allah menjungkir-balikkan ide yang ada dalam benak Samuel tentang kriteria kepemimpinan. Ia memilih putera bungsu Isai yang bernama Daud, yang bahkan oleh ayahnya sendiri pun tidak diikutsertakan … dibiarkan tetap menggembalakan kawanan kambing dombanya. Daud dinilai tidak signifikan untuk ikut-serta dalam “kontes calon raja Israel”, namun justru dialah yang dipilih menjadi raja Israel yang baru. Sejarah menunjukkan bahwa Daud adalah raja Israel yang terbesar, dan sang Mesias adalah keturunannya. Sedikit catatan penghiburan bagi kita semua: Samuel (seorang nabi) saja dapat terkecoh ketika melihat Eliab yang kelihatan gagah-perkasa, apalagi rakyat kebanyakan di sebuah republik ketika mereka memilih calon presiden mereka.

Nah, Kitab Suci dipenuhi dengan pilihan-pilihan Allah yang sungguh tidak diharap-harapkan oleh “orang-orang normal” … unexpected choices! Ia memberi Rut – seorang Moab – sebuah tempat istimewa dalam daftar nenek moyang Yesus. Belum lagi nama-nama “buruk” lainnya! Allah memilih para nelayan tak berpendidikan menjadi para murid-Nya yang pertama. Ia juga memilih Saulus – seorang Farisi ekstrim yang mengejar para pengikut Kristus perdana – untuk menjadi seorang rasul agung: Paulus. “Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh 7:24). Yesus juga pernah menegur orang-orang Farisi yang tidak mengenali siapa Dia sebenarnya:“Kamu menghakimi menurut ukuran manusia” (Yoh 8:15). Jadi, Allah sungguh mempunyai cara-Nya sendiri untuk menjungkir-balikkan pandangan-pandangan dan asumsi-asumsi manusiawi kita.

Belajar memahami cara-cara atau jalan-jalan Allah – memandang dengan mata dan menilai dengan kriteria-Nya – adalah sebuah proses sepanjang hidup kita. Walaupun demikian, Ia memberi banyak kesempatan kepada kita untuk mempraktekkannya. Lain kali, kalau anda tergoda untuk membuat penilaian secepat kilat, ingatlah sabda Allah: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, …… Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9).

Oleh karena itu, marilah kita memandang segala sesuatu di sekeliling kita melampaui penampilan yang kelihatan di permukaan sambil membuang segala prasangka serta praduga yang ada dalam diri kita. Lewat proses discernment yang benar, marilah kita menemukan rencana Allah!

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu tiliklah hatiku dan ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Hancurkanlah segala pra-konsepsi yang ada pada diriku tentang Engkau, sehingga dengan demikian aku sungguh dapat mengenal Engkau. Tolonglah aku menyingkirkan segala penilaian salah tentang orang-orang lain agar aku dapat memandang mereka dengan mata-Mu dan mengasihi mereka dengan kasih-Mu. Amin.

dr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Januari 15, 2012

ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT YANG BARU

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II, Senin 16-1-12 )

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Ordo Fransiskan

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan minyak keselamatan, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin aku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.). Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa ketakutan ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Beata Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Januari 14, 2012

MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun B], 15-1-12 )

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan dia, waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:3b-10,19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 6:13-15,17-20

Andreas adalah seorang murid Yohanes Pembaptis, namun pada saat yang sama dia juga adalah seorang nelayan. Seperti kebanyakan dari kita, Andreas pun mempunyai banyak tugas dan tanggung-jawab, namun ia tetap menyediakan waktu untuk menumbuhkan hidup spiritualnya. Dengan serius Andreas memandang kehidupannya di hadapan Allah dan dengan penuh gairah menantikan kedatangan Mesias yang dijanjikan itu. Itulah sebabnya mengapa dia begitu tertarik pada pribadi Yohanes Pembaptis. Walaupun banyak “menyita” waktu dan upayanya, Andreas merangkul ajaran Yohanes perihal pertobatan dalam mempersiapkan dirinya bagi suatu kunjungan Allah yang istimewa ke tengah-tengah dunia.

Pada saat Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yoh 1:36), Andreas menyadari bahwa Pribadi yang selama itu dinanti-nantikannya sudah ada di depan matanya. Maka, dengan seorang murid Yohanes yang lain, Andreas pun pergi mengikut Yesus. Ia ingin untuk meluangkan waktu bersama Yesus sehingga dapat mengkonfirmasi apa yang telah dikatakan oleh Yohanes Pembaptis.

Kita dapat membayangkan Yesus bercakap-cakap dengan Andreas dan temannya itu sampai jauh malam tentang ajaran Yohanes Pembaptis. Andreas kelihatannya menjadi begitu yakin oleh kata-kata yang diucapkan Yesus, oleh sikap serta perilaku Yesus, dan oleh kuasa kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Barangkali Andreas masih perlu banyak belajar lagi, namun ia telah mendengar cukup – untuk diyakinkan bahwa Yesus sungguh pantas untuk diikuti. Dia langsung saja menceritakan pengalamannya tinggal bersama Yesus kepada Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias”(Yoh 1:41), dan memperkenalkan saudaranya itu kepada Yesus (Yoh 1:42).

Sekarang, marilah kita membayangkan diri kita masing-masing berbicara dengan Yesus. Kita menyusun beberapa pertanyaan dan membayangkan Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu. Misalnya, bayangkanlah Yesus sedang menceritakan kepada kita tentang semua janji-janji Allah dalam Kitab Suci, tentang pembebasan dari dosa; atau tentang karunia Roh Kudus. Kita membuat pikiran kita menjadi hening dan mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan Yesus. Segalanya yang dialami Andreas pada waktu dia dan temannya diam bersama Yesus dapat juga kita alami ketika kita menanggapi ajakan Yesus, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39). Allah ingin agar kita membuka hati kita bagi kasih-Nya sehingga – seperti Andreas – kita pun dapat bercerita kepada para saudari/saudara kita tentang pengalaman kita bersama Yesus dan membawa mereka kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau bertanya kepadaku, mengapa aku mencari-Mu. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam diriku sekarang dan tunjukkanlah kepadaku apa jawaban yang keluar dari kedalaman hatiku. Sembuhkanlah aku di mana saja aku membutuhkan penyembuhan, sehingga dengan demikian aku dapat mengikuti Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatanku, dan membawa orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Januari 13, 2012

BUKALAH HATI KITA BAGI KEHADIRAN ROH KUDUS

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Sabtu 14-1-12 )

Keluarga Fransiskan: Peringatan Beato Odorikus dari Pordenone, Imam

Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kisy bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku


Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” Dalam pada itu itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?” Jawab


Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.
Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.Benyamin, seorang yang berada. Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. Kisy, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kisy kepada Saul, anaknya: “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu.” Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul,

diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat YHWH, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri. (1Sam 9:1-4,17-19;10:1)

Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7; Bacaan Injil: Mrk 2:13-17

Saul – raja Israel yang pertama – dikedepankan dalam bacaan hari ini sebagai seorang pribadi yang “takut akan Allah” dan “memiliki kemampuan”. Ia dikirim oleh ayahnya untuk mencari keledai-keledai betina yang hilang entah ke mana. Bukannya mendapatkan keledai, Saul malah mendapatkan singgasana kerajaan. Apakah Saul dapat menjadi seorang raja Israel yang ideal? Tidak meragukan lagi, dia dapat menjadi seorang raja yang baik. Namun apabila kita membaca cerita selanjutnya dalam Kitab 1Samuel, maka satu persatu kelemahan atau kejelekan pribadinya akan bermunculan ke

permukaan selagi Saul gagal memerintah Israel (umat Allah sendiri) dengan rasa penuh kepercayaan kepada kesetiaan Allah dan bimbingan-Nya.

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa dalam tindakan mereka menuntut untuk mempunyai seorang raja tanpa peduli akan niat-niat Allah sendiri, orang-orang Israel sebenarnya mengidap penyakit dalam jiwa mereka, walaupun mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak melihat bahwa berbagai falsafah duniawi telah mengendap dalam pikiran mereka dan sekarang mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan mereka. Mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya mereka membutuhkan bimbingan dari YHWH-Allah.

Independensi dan kemandirian yang keliru ini menciptakan suatu jurang pemisah yang lebar antara Allah dan umat-Nya. Orang-orang yang tidak mengetahui kebutuhan mereka akan Allah akan menggantungkan diri pada berbagai falsafah duniawi, teristimewa penekanan falsafah-falsafah tersebut pada pemusatan (kepuasan/kepentingan) diri sendiri (self-centeredness). Sebaliknya, orang-orang yang mengetahui kebutuhan mereka akan berpaling kepada Tuhan agar supaya membimbing mereka dengan rendah hati menundukkan diri kepada kehendak-Nya.

Saul akan menjadi sebuah contoh yang sempurna tentang seorang yang gagal untuk menyadari kebutuhannya akan Allah. Sementara kita terus membaca Kitab 1Samuel, kita akan melihat upaya Saul untuk memimpin Israel secara bebas-lepas dari bimbingan Allah. Saul akan tidak mentaati instruksi-instruksi Allah yang diberikan melalui Samuel dan dengan demikian membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga bagi bangsa Israel secara keseluruhan. Saul dibutakan oleh falsafah-falsafah duniawi tentang kekuasaan, pengejaran kepentingan-diri sendiri akan kemuliaan, dan ketakutannya sendiri. Akibatnya adalah, bahwa raja pertama Israel ini luput melihat kebutuhannya yang mendalam akan rahmat Allah, dan ia secara berkelanjutan mengandalkan dirinya sendiri dalam menangani segala masalah yang dihadapinya.

Santo Paulus menulis, “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Dengan lemah-lembut namun pasti, Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita itu akan menyatakan hal ini kepada kita masing-masing. Selagi Dia melakukan hal ini, kita seharusnya merasa terhibur karena kenyataan bahwa Dia tidak ingin menyalahkan/menghukum kita, melainkan hanya menunjukkan kepada kita bela-rasa-Nya. Allah Bapa hanya ingin menolong kita untuk mengakui bahwa hanya Yesus lah yang dapat menyembuhkan segala sakit-penyakit yang kita derita dalam jiwa kita. Mengakui kebutuhan besar kita akan Allah tidak akan mengecilkan diri kita, melainkan justru memperbaiki rasa percaya kita akan nilai berharga diri kita ini sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, marilah kita selalu membuka hati kita bagi kehadiran Roh Allah dalam diri kita masing-masing.

DOA: Pancarkanlah sinar terang-Mu ke dalam hatiku, ya Roh Kudus Allah. Nyatakanlah kepadaku area-area yang membutuhkan sentuhan kasih-Mu. Datanglah, ya Dokter Ilahi, dan buatlah aku menjadi seorang pribadi yang utuh: roh, jiwa dan badan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS