Saat Koronka didaraskan, kita berdoa, "Demi sengsara Yesus yang pedih...." Justru inilah saat kerahiman ilahi memuncak. Maka Yesus bersabda, "Ingatlah akan sengsara-Ku dan kalau engkau tidak percaya akan kata2-Ku, sekurang-kurangnya percayalah akan luka2-Ku" (BCH 379)
"Anak-Ku, doronglah agar semua jiwa mendoakan koronka yang Kuajarkan padamu, sehingga Aku dapat memberi apa yang mereka minta dari-Ku. Bila para pendosa mendoakannya, Aku akan melimpahi jiwa mereka dengan damai dan saat ajalnya akan bahagia" (BCH 1541).
Buku Catatan Harian St. Faustina
Jumaat, April 24, 2015
Jumaat, April 10, 2015
NOVENA KERAHIMAN ILAHI HARI KE-IX
HARI KESEMBILAN – SABTU DALAM OKTAF PASKAH
Bacalah bagian Kitab Suci
yang ditentukan pada hari itu, dan renungkanlah … setelah itu doakanlah Teks
Novena dan disusul dengan Doa Koronka.
DOA UNTUK JIWA-JIWA YANG ACUH TAK ACUH
Sabda
Yesus kepada St. Faustina:
“Hari ini bawalah
kepada-Ku jiwa-jiwa yang acuk tak acuh dan benamkanlah mereka dalam samudera
kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa itu melukai Hati-Ku secara paling mendalam. Di Taman
Getsemani, dalam jiwa-Ku timbul rasa penolakan yang paling mendalam terhadap
jiwa-jiwa yang acuh tak acuh. Merekalah yang menjadi penyebab Aku berkata
“Bapa, jauhkanlah piala ini daripada-Ku, bila demikianlah kehendak-Mu.”
Pertolongan terakhir bagi mereka ialah bernaung di bawah perlindungan kerahiman
Ku.” ( BCH, #1228 )
DOA:
Pemimpin / Sendiri :
Yesus yang maharahim, Engkaulah belas kasih
semata-mata. Aku mengantarkan ke dalam kediaman Hati-Mu yang
penuh belas kasihan jiwa-jiwa yang acuh tak acuh. Biarlah dalam api kasih-Mu
yang murni, jiwa-jiwa yang sudah membeku, yang mirip mayat dan yang telah
menimbulkan rasa penolakan dalam diri-Mu itu, menjadi hangat kembali. Ya Yesus
yang maharahim, manfaatkanlah kemahakuasaan kerahiman-Mu, dan tariklah mereka
ke dalam kehangatan kasih-Mu serta anugerahkanlah kasih kepada mereka, sebab
Engkau mampu melakukan segala-galanya.
Umat
/ Sendiri :
Bapa yang kekal,
pandanglah dengan mata kerahiman jiwa-jiwa yang acuh tak acuh, yang sudah
tertampung dalam Hati Putra-Mu yang penuh belas kasihan. Ya Bapa yang
maharahim, demi sengsara Putra-Mu yang pedih dan demi ajal-Nya di salib selama
tiga jam, aku mohon dengan sangat kepada-Mu: izinkanlah agar mereka pun
memuliakan samudera kerahiman-Mu. Amin.
DOA KORONKA
Doa Koronka dibuka dengan doa-doa:
Bapa Kami -1x,
Salam Maria -1x, dan
Aku Percaya -1x.
Salam Maria -1x, dan
Aku Percaya -1x.
Pada manik-manik ‘Bapa Kami’ rosario biasa, diucapkan doa sebagai berikut:
Bapa Yang kekal,
kupersembahkan kepada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Putra-Mu yang
terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa
seluruh dunia.
Pada manik-manik ‘Salam Maria’ rosario biasa, diucapkan doa sebagai berikut:
Demi sengsara
Yesus yang pedih, kasihanilah kami dan seluruh dunia ( 10x
).
Koronka ditutup dengan doa:
Allah yang Kudus,
Kudus dan berkuasa, Kudus dan kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia ( 3x ).
YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU
YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU
NOVENA KERAHIMAN ILAHI HAI KE - 8
HARI KELAPAN – JUMAT DALAM OKTAF PASKAH
Bacalah bagian Kitab Suci
yang ditentukan pada hari itu, dan renungkanlah … setelah itu doakanlah Teks
Novena dan disusul dengan Doa Koronka.
DOA UNTUK JIWA-JIWA DI API PENCUCIAN
Sabda Yesus kepada St. Faustina:
“Hari ini bawalah
kepada-Ku jiwa-jiwa yang berada dalam kurungan api penyucian, dan benamkanlah
mereka dalam samudera kerahiman-Ku. Biarlah aliran-aliran Darah-Ku menyejukkan
mereka yang kepanasan. Semua jiwa itu sangat Kukasihi. Mereka sedang menebus
keadilan-Ku. Engkau mampu memberi kelegaan kepada mereka. Ambillah dari
perbendaharaan Gereja segala indulgensi dan persembahkanlah itu bagi mereka.
Oh, seandainya engkau mengetahui sengsara mereka, tentu tanpa henti-hentinya,
demi mereka itu, akan kau persembahkan amal rohani serta membayar lunas
utang-utang mereka terhadap keadilan-Ku.” (BCH, #1226)
DOA:
Pemimpin / Sendiri :
Yesus yang
meharahim, Engkau sendiri telah berkata bahwa kerahimanlah yang Kau kehendaki;
maka aku mengantarkan ke dalam kediaman Hati-Mu yang maharahim jiwa-jiwa yang
di api penyucian, yaitu jiwa-jiwa yang sangat Engkau kasihi, namun masih harus
melunasi hutang terhadap keadilan-Mu. Semoga aliran-aliran Darah dan Air yang
telah memancar dari Hati-Mu, memadamkan nyala-nyala api penyucian, supaya di
situ pun kerahiman-Mu dipuji.
Umat
/ Sendiri :
Bapa yang kekal,
pandanglah dengan mata kerahiman jiwa-jiwa yang menderita dalam api penyucian,
dan yanvg sudah tertampung dalam Hati Yesus yang maharahim. Demi sengsara pedih
Yesus, Putra-Mu, dan demi kepahitan yang memenuhi Jiwa-Nya yang tersuci, aku
mohon kepada-Mu: tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada jiwa-jiwa yang sedang
Engkau pandang dengan mata-Mu yang adil. Janganlah Engkau memandang mereka dengan
cara lain, kecuali melalui luka-luka Yesus, Putra-Mu yang terkasih, sebab kami
percaya bahwa kebaikan-Mu dan belas-kasih-Mu tidak terhingga. Amin.
DOA KORONKA
Doa Koronka dibuka dengan doa-doa:
Bapa Kami -1x,
Salam Maria -1x, dan
Aku Percaya -1x.
Salam Maria -1x, dan
Aku Percaya -1x.
Pada manik-manik ‘Bapa Kami’ rosario biasa, diucapkan doa sebagai berikut:
Bapa Yang kekal,
kupersembahkan kepada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Putra-Mu yang
terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa
seluruh dunia.
Pada manik-manik ‘Salam Maria’ rosario biasa, diucapkan doa sebagai berikut:
Demi sengsara
Yesus yang pedih, kasihanilah kami dan seluruh dunia ( 10x
).
Koronka ditutup dengan doa:
Allah yang Kudus,
Kudus dan berkuasa, Kudus dan kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia ( 3x ).
Rabu, April 08, 2015
NOVENA KERAHIMAN ILAHI
Bacalah bagian Kitab Suci yang ditentukan pada hari itu, dan renungkanlah … setelah itu doakanlah Teks Novena dan disusul dengan Doa Koronka.
DOA UNTUK ORANG-ORANG YANG MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN
KERAHIMAN TUHAN
Sabda Yesus kepada St. Faustina:
“Hari ini, antarkanlah kepada-Ku jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan kerahiman-Ku, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa itu paling menderita karena sengsara-Ku dan menembus masuk secara paling dalam ke dalam roh-Ku. Dalam hidup yang akan datang, jiwa-jiwa itu akan bersinar memancarkan terang yang istimewa. Seorang pun dari mereka tidak akan mengalami api neraka. Masing-masing jiwa itu akan Kubela secara khusus pada saat kematiannya.” ( BCH, #1224 )
DOA:
Pemimpin / Sendiri :
Yesus yang maharahim, hati-Mu kasih semata-mata. Terimalah ke dalam Hati-Mu yang penuh belas kasihan, jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan kebesaran kerahiman-Mu. Jiwa-jiwa itu tangguh karena berkekuatan Allah sendiri; dalam siksaan dan hambatan apapun mereka maju terus karena mengandalkan kerahiman-Mu. Jiwa-jiwa itu dipersatukan dengan Yesus serta memikul umat manusia atas bahu mereka. Jiwa-jiwa itu tidak akan diadili secara keras, tetapi kerahiman-Mu akan meliputi mereka pada saat ajal mereka.
Umat / Sendiri :
Bapa yang kekal, pandanglah dengan mata kerahiman, jiwa-jiwa yang memuliakan dan menghormati sifat-Mu yang paling agung, yaitu kerahiman-Mu yang tak terselami, dan yang telah tertampung dalam Hati Yesus yang Maharahim. Jiwa-jiwa itu adalah Injil yang hidup, tangan mereka penuh dengan perbuatan-perbuatan belas kasihan, sedangkan hati mereka yang penuh sukacita mengidungkan lagu kerahiman bagi Yang Mahatinggi. Aku mohon kepada-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kepada mereka kerahiman-Mu seturut kepercayaan dan pengharapan yang mereka tujukan kepada-Mu. Biarlah tergenapi pada mereka janji Yesus yang telah bersabda, bahwa jiwa-jiwa yang akan memuliakan kerahiman-Nya yang tak terselami, akan dibela oleh-Nya sendiri sebagai kemuliaan-Nya sendiri, dalam hidup ini, khususnya pada saat ajal mereka. Amin.
DOA KORONKA
Doa Koronka dibuka dengan doa-doa:
Bapa Kami -1x,
Salam Maria -1x, dan
Aku Percaya -1x.
Pada manik-manik ‘Bapa Kami’ rosario biasa, diucapkan doa sebagai berikut:
Bapa yang kekal kupersembahkan kepada-Mu, Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-AIlahan Putera-Mu yng terkasih Tuhan kami Yesus Kristus, demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia.
Pada manik-manik ‘Salam Maria’ rosario biasa, diucapkan doa sebagai berikut:
Demi sengsara Yesus yang pedih, kasihanilah kami dan seluruh dunia. (10x ).
Koronka ditutup dengan doa:
Allah yang Kudus, Kudus dan berkuasa, Kudus dan kekal,kasihanilah kami dan seluruh dunia ( 3x ).
YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU
Isnin, Mac 16, 2015
SEBUAH KISAH NYATA : SALAM MARIA ADALAH DOA YANG HEBAT
Salam Maria dari seorang Protestan sangat hebat! – (Sebuah Kisah Nyata)
Anak laki-laki, protestan, berusia 6 tahun, sering mendengar temannya yang katolik mendoakan Salam Maria. Ia menyukainya sehingga ia menirunya, mengingatnya dan mendoakannya setiap hari. ‘Lihat ibu, ini doa yang indah’, ia berkata kepada ibunya suatu hari. ‘Jangan pernah mengucapkannya’, jawab ibunya. ‘Salam Maria adalah doa tahayul orang katolik yang menyembah berhala dan berpikir bahwa Maria adalah Dewi’. Bagaimanapun, ia adalah wanita seperti yang lain. Ambillah Kitab Suci ini dan bacalah. Kitab Suci mengandung segalanya tentang apa yang harus kita lakukan.
Sejak saat itu anak laki-laki itu tidak melanjutkan Salam Maria-nya setiap hari dan menghabiskan waktunya membaca

kitab suci. Suatu hari, selagi ia membaca Injil, ia melihat kutipan tentang Kabar Gembira Malaikat kepada Bunda Kita. Dengan penuh suka cita, anak laki-laki itu berlari kepada ibunya dan berkata,”Ibu, aku telah menemukan Salam Maria di kitab suci yang berkata :’Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau diantara wanita’. Mengapa engkau menyebutnya doa tahayul?”.
Pada kesempatan lain ia menemukan pemberian hormat yang indah dari St. Elisabeth kepada Perawan Maria dan nyanyian pujian yang luar biasa. MAGNIFICAT dimana Maria diramalkan bahwa “para bangsa akan menyebutnya berbahagia”. Ia tidak mengucapkan apapun kepada ibunya namun mulai mendoakan Salam Maria setiap hari seperti sebelumnya. Ia merasakan kesenangan dalam menujukan kata-kata yang memikat itu kepada Ibu Yesus, Penyelamat kita.
Ketika ia berusia 14 tahun, suatu hari ia mendengar diskusi tentang Bunda Maria diantara anggota keluarganya. Setiap orang berkata bahwa Maria sama seperti wanita lainnya. Anak itu, setelah mendengar penalaran mereka yang keliru, tidak dapat bertahan lagi, dan dengan penuh amarah, ia berkata: ‘Maria tidak seperti anak Adam lainnya, ternoda dengan dosa. Tidak! Malaikat menyebutnya PENUH RAHMAT DAN TERBERKATI DIANTARA WANITA. Maria adalah Ibu Yesus Kristus dan konsekuensinya ia adalah Bunda Allah. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dimana ciptaan bisa diangkat seperti itu.
Injil berkata bahwa para bangsa akan memproklamasikan ia sebagai yang berbahagia dan kamu mencoba merendahkannya. Semangatmu bukanlah semangat Injil atau Kitab Suci yang kamu katakan adalah fondasi agama Kristen’. Begitu dalam kesan ucapan anak itu sehingga membuat ibunya menangis dengan sedih: ‘Oh Allahku!’ Aku takut putraku ini suatu hari akan bergabung dengan agama katolik, agama para Paus!’ Dan memang, tidak lama setelahnya, setelah melakukan pembelajaran serius tentang protestanisme dan katolisisme, anak laki-laki itu menemukan bahwa Katolik adalah satu-satunya agama yang benar dan menganutnya dan menjadi satu dari rasulnya yang paling bersemangat.
Setelah pertobatannya dari protestan ke katolik, ia bertemu saudara perempuannya yang telah menikah, yang memakinya dan berkata dengan marah :’Kau tidak tahu betapa aku mencintai anak-anakku. Jika salah satu dari mereka ingin menjadi katolik, Aku akan menusuk hatinya dengan pisau dan mengijinkannya untuk menganut agama Paus!’ Kemarahan dan wataknya sehebat kemarahan St. Paulus sebelum pertobatannya. Namun, ia akan mengubah jalannya, seperti yang dilakukan St. Paulus di jalan menuju Damaskus.
Suatu ketika putranya menderita sakit parah dan dokter menyerah untuk menyembuhkannya. Saudara laki-lakinya kemudian mendekatinya dan berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang, berkata :”Saudariku terkasih, kamu berharap anakmu disembuhkan. Baik, maka lakukanlah apa yang kuminta. Ikuti aku, mari kita berdoa satu kali Salam Maria dan berjanjilah pada Allah bahwa, jika putramu sembuh, kamu akan secara serius mempelajar doktrin katolik, dan kesimpulanmu haruslah bahwa katolisisme adalah satu-satunya agama yang benar, kamu akan menganutnya tidak peduli apapun pengorbanannya”
Saudarinya agak enggan pada awalnya tapi ia berharap akan kesembuhan putranya. Ia menerima usul saudaranya dan mendoakan Salam Maria bersama dengannya. Hari berikutnya putranya sembuh total! Ibunya memenuhi janjinya dan mempelajari doktrin katolik. Setelah persiapan panjang ia menerima sakramen baptis bersama keluarganya, berterima kasih pada saudaranya karena telah menjadi rasul baginya.
*Kisah ini diceritakan selama khotbah yang diberikan oleh Rev. Romo Tuckwel. ‘Saudara-saudara, ia berkata,’Anak laki-laki yang menjadi katolik dan mentobatkan saudara perempuannya ke katolisisme mendedikasikan seluruh hidupnya kepada pelayanan Allah. Ia adalah imam yang sedang berbicara kepadamu sekarang!’
Betapa aku berhutang budi kepada Bunda Kita, Bunda Maria. Kamu juga, saudaraku, dedikasikanlah semuanya kepada Bunda Kita dan jangan pernah membiarkan harimu berlalu tanpa mengucapkan doa yang indah, Salam Maria, dan Rosariomu. Mintalah ia menerangi pikiran para protestan yang terpisah dari Gereja Kristus yang sejati yang didirikan diatas Batu Karang (Petrus) dan ‘alam maut tidak akan menguasainya’
Sumber : https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/11/26/sebuah-kisah-nyata-salam-maria-adalah-doa-yang-hebat/#comments
Khamis, Mac 12, 2015
Jumaat, Januari 16, 2015
SEORANG PEMUNGUT CUKAI MENJADI MURID YESUS
(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan
S. Antonius, Abbas – Sabtu, 17 Januari 2015)
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak
datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ,
Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata
kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun
bangkit lalu mengikuti Dia. Kemudian
ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa
makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang
mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa
Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada
murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang
berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata
kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mrk 2:13-17)
Bacaan Pertama: Ibr 4:12-16;
Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15
Andaikan anda sedang memulai
sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang
pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), bukankah anda ingin memperoleh
orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk
anggota direksi perusahaan anda dan posisi kunci lainnya dalam perusahaan anda?
Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari
orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the
job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?
Walaupun “waras” dalam artian
sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan
yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan,
bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi anak Alfeus atau
Matius ini (Mrk 2:14). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat
dijadikan sahabat-sahabat akrab/intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan
mempercayakan Gereja-Nya.
Pilihan Yesus atas diri Lewi
barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zaman-Nya. Pada
abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam
masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma
dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat
“pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri
Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak,
dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid
yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa
dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang
kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang”
bukanlah motifnya!
Keputusan Lewi untuk meninggalkan
segalanya dan langsung mengikut Yesus memberikan petunjuk kepada kita mengapa
Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Lewi dan melihat di hati
itu adanya rasa haus, kerinduan akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi.
Lewi membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan
kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut
cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mrk
2:15).
Sejak saat itu, Lewi tak
henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu
secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Lewi atau
Matius ini mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang
Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke
Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan bahwa Matius mengalami kematian sebagai
martir Kristus.
Iman dan devosi yang terbukti
nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh
Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu!
Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi
rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus
dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai
oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang
penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin
mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada,
seperti yang dialami oleh Matius, rasul-Mu. Amin.
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
Labels:
Renungan Harian
Jumaat, September 19, 2014
MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN
(Bacaan
Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong
Hasang dkk., Martir-martir Korea – Sabtu, 20 September 2014)
Ketika
orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke
kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan,
“Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia
menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan
burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang
berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan
menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah
tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru,
“Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Murid-murid-Nya
bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu
diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada
orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun
memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di
pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah
Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan
percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah
orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira,
tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa
pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang
telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit
oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak
menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah
orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang
baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15)
Bacaan
Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14
“Yang
jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman
itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan”
(Luk 8:15).
Injil
hari ini mengingatkan kita bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah
dua hal:
(1) mendengarkan Sabda Allah dan
(2)
memeliharanya serta melaksanakannya.
Banyak
orang Yahudi dalam masa Yesus hidup di dunia sebagai seorang manusia adalah
para petani. Mereka memahami hal-ikhwal pertanian, misalnya tentang cara
menanam atau menabur benih, tanah yang baik dan tidak baik, pengairan/irigasi
dst. Yesus mengatakan bahwa menyebarkan sabda Allah adalah seperti menabur
benih, yang harus dilakukan pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan
dengan cara yang tepat pula.
Yesus
mengatakan bahwa ada orang-orang yang memang tidak ingin mendengarkan sabda
Allah pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan cara yang tepat
pula. Itulah sebabnya mengapa sabda Allah tidak menolong mereka. Itulah
sebabnya mengapa mereka tidak menghasilkan buah. Namun bagi mereka yang sungguh
ingin mendengarkan sabda Allah, dunia yang baru benar-benar terbuka! Hal ini
memberikan kepada mereka keberanian untuk terus melangkah maju, mencerahkan
pikiran-pikiran dan kata-kata yang mereka ucapkan, dan membawa kasih ke dalam
tindakan-tindakan mereka.
Bagian
yang sungguh penting dari petikan di atas adalah frase “mengeluarkan buah dalam
ketekunan”. Memang agak mudahlah untuk menjadi bagian dari orang banyak yang
mendengarkan sabda Allah tentang kasih dan keadilan, tentang hak-hak orang
lain, tentang tugas-tugas kita dalam hidup ini. Namun untuk melaksanakan semua
itu dalam ketekunan dalam hidup kita sehari-hari – hari demi hari – adalah
suatu persoalan lain. Masalah “teori vs praktek” ini juga merupakan pembahasan
yang cukup hangat dalam pertemuan Kitab Suci di lingkungan kami pada malam
tanggal 17 September lalu, ketika kami membahas masalah “hidup untuk melayani”.
Ada
juga dari kita – umat Kristiani – yang masih bersikap pilih-pilih. Kita senang
mendengarkan kata-kata indah tentang kasih dan hal-hal yang enak didengar
lainnya. Akan tetapi, ketika Yesus Kristus berbicara kepada kita tentang
dosa-dosa kita, tentang berbagai ketidakadilan yang kita lakukan, atau hukuman
macam apa yang pantas kita terima untuk semua itu, maka kita tidak sudi
mendengarkan sabda Allah itu. Dalam hal ini kita kelihatannya konsisten. Kita
hanya mencari sisi yang mudah saja dari berbagai hal yang kita hadapi.
Kalau
kita tidak menerima pesan Allah secara keseluruhan, maka kita sebenarnya
tidaklah mendengarkan sabda-Nya. Kalau kita tidak mempraktekkan keseluruhan
perintah Allah dengan cara sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, maka kita
sesungguhnya tidak mengeluarkan buah dalam ketekunan.
DOA:
Tuhan Yesus, kubuka hatiku kepada-Mu seperti sebidang tanah yang baik, siap
untuk menerima dari-Mu benih-benih sabda-Mu yang Engkau taburkan ke dalam
hatiku. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Labels:
Renungan Harian
Rabu, Ogos 27, 2014
BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA
(Bacaan
Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup-Pujangga Gereja – Kamis, 28
Agustus 2014)
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
Tetapi
ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri
akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya
dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia
datang pada saat yang tidak kamu duga.
Siapakah
hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya
untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang
didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya
Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala
miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya:
Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan
minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari
yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan
membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah
akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51)
Bacaan
Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7
“Jika
tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah
pasti ia berjaga-jaga …… Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena
Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24: 43,44).
Di
sini Yesus menggunakan sebuah gambaran tidak seperti biasanya dalam berbicara
mengenai diri-Nya sendiri – seperti seorang pencuri yang datang di malam hari.
Pokok yang mau disampaikan-Nya di sini adalah, bahwa “pencuri” tidak dapat
membuat kita terkejut, apabila kita siap-siaga menyambut kedatangannya.
Beberapa kalimat kemudian Yesus mengatakan bahwa “pencuri” yang akan
mengejutkan hamba di rumah sebenarnya adalah tuannya, yang berminat untuk
melihat apa yang dilakukan oleh para hambanya. Berbahagialah hamba yang
didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang, ……
sebaliknya, celakalah hamba yang jahat membuang-buang waktu dan kedapatan
sedang bermabuk-mabukan ketika tuannya datang.
Solusinya?
Jangan biarkan Anak Manusia datang kepada kita (anda dan saya) sebagai seorang
asing, sebagai seseorang yang kedatangannya kita tidak harapkan atau
nanti-nantikan. Seandainya kita bertanya kepada Yesus, “Bagaimana kita dapat
sungguh-sungguh bersiap-siaga?” Kiranya Yesus akan menjawab, “Berjaga-jagalah
dan berdoalah”, bukankah begitu? Jika kita mengenal Yesus dengan baik dalam
doa-doa harian pada waktu-waktu tertentu yang telah kita sediakan, tentunya
kita tidak akan menjadi terkaget-kaget bilamana Dia datang menemui kita. Kita
dapat berkata kepada-Nya: “Aku baru saja berbicara dengan Engkau, Tuhan.
Selamat datang Sahabatku!”
Apabila
kita telah berhadapan dengan Yesus secara jujur, lewat waktu-waktu teratur
sehari-hari bersama dengan-Nya, maka kita telah memperkenankan Dia menyiapkan
diri kita bagi kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.
DOA:
Tuhan Yesus, Engkau ingin agar aku senantiasa bersiap-siaga menantikan
kedatangan-Mu, seperti hamba yang baik itu. Biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa
membimbingku dan mengingatkan aku akan hal ini. Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Selasa, Ogos 26, 2014
SEORANG IBU TELADAN
(Bacaan
Injil Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Rabu, 27 Ogos 2014)
Bacaan
Pertama: 2Tes 3:6-10,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-2,4-5
“Ketika
Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13).
Pada
hari ini Gereja memperingati Santa Monika [331-387] dari Afrika Utara, salah
seorang kudus yang sangat dicintai oleh umat. Monika adalah ibunda dari seorang
kudus terkemuka dalam Gereja, Santo Augustinus dari Hippo [354-430], Uskup dan
Pujangga Gereja. Monika dibesarkan sebagai seorang Kristiani. Ketika mencapai
usia nikah, maka dia dinikahkan dengan seorang kaya, Patrisius, seorang yang
masih kafir. Monika berharap agar suaminya masuk agama Kristiani, dan ini
dilakukannya lewat teladan hidupnya yang baik. Monika percaya pada tulisan
Santo Paulus, “… suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh istrinya” (1Kor
7:14). Setelah kurun waktu yang cukup panjang, akhirnya Patrisius pun dibaptis
dan meninggal dunia tidak lama setelah itu.
Monika
dan Patrisius dianugerahi tiga orang anak, termasuk Augustinus, yang terlalu
cepat menjadi dewasa namun menjadi seorang muda yang “liar” (Inggris: wild
youth; dalam Ronda De Sola Chervin, Treasury of Women Saints, Manila,
Philippines: 1994, ST PAULS, hal. 46). Saya tidak mengetahui apakah Augustinus
adalah seorang “suwandi” (suka wanita di mana-mana) seperti dikatakan banyak
orang. Yang saya ketahui adalah bahwa dia mempunyai seorang anak yang lahir di
luar pernikahan. Monika mendoakan puteranya yang satu ini tanpa kenal lelah.
Para uskup yang dimintai nasihat olehnya mengatakan bahwa seorang anak
laki-laki yang terus-menerus didoakan dengan banyak air mata (oleh ibunya)
tidak akan “hilang”.
Suatu
insiden yang mengharukan terjadi ketika Augustinus memutuskan untuk pergi ke
Roma tanpa sang ibunda. Monika ditinggalkan oleh Augustinus dengan sebuah
tipuan. Akan tetapi Monika kemudian menyusul mengikuti puteranya ke Italia.
Monika merencanakan pernikahan Augustinus dengan seorang perempuan “baik-baik”
sebagai substitut dari teman perempuan yang telah memberikan seorang putera
seperti saya singgung di atas. Anak laki-laki tersebut diberi nama Adeodatus,
artinya karunia Allah. Augustinus memutuskan untuk hidup bertarak.
Setelah Augustinus dibaptis, Monika menjadi seorang figur ibu bagi
para murid Augustinus yang berkumpul di sekelilingnya untuk berdiskusi di
bidang filsafat dan keagamaan. Pada saat-saat itulah Augustinus memahami
hikmat-kebijaksanaan sang ibunda selama ini. Sebelum kematian sang ibu pada
usianya yang ke-56, ibu dan anak mengalami suatu pengalaman mistik bersama
ketika mereka memandangi laut dari Ostia, di dekat muara sungai Tiber (lihat
“Pengakuan-pengakuan” Kitab IX, x.23 (Penerbit Kanisius & BPK Gunung Mulia,
hal. 265). Setelah kematiannya, Augustinus menangis tersedu-sedu, mengingat
segala susah dan sakit yang telah diderita ibunya yang disebabkan ulahnya.
Sekarang,
marilah kita memusatkan perhatian kita kepada bacaan Injil hari ini. Apa
relevansinya? Monika adalah seorang janda seperti sang janda dalam Injil hari
ini. Augustinus adalah seperti anak yang sudah mati: pada masa hidupnya pernah
mengalami mati rohani walaupun masih hidup.
Apa
sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan
penuh-pengertian Yesus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan
pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi
sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Seperti
sang janda dari Nain itu, Monika sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.
Yesus berkata kepada janda itu untuk tidak menangis (Luk 7:13). Lalu Yesus
memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang
janda. Dalam keheningan doa-doa penuh air mata dari Monika yang memohon agar
Augustinus diselamatkan, kiranya Tuhan Yesus pun berkata kepadanya, “Jangan
menangis!” Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Rahmat-Nya
bekerja, dan kita pun mempunyai salah seorang kudus besar tokoh Gereja yang
juga dihormati oleh saudari-saudara kita Kristen Protestan.
DOA:
Tuhan Yesus, buatlah kami sebagai para orangtua agar senantiasa bertekun dalam
mendoakan anak-anak kami agar tetap berada di jalan-Mu. Terpujilah nama-Mu
selalu, ya Yesus. Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Labels:
Renungan Harian
Isnin, Ogos 25, 2014
NYAMUK DAN UNTA
(Bacaan
Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Selasa, 26 Agustus 2014)
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari
selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu
abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus
dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta,
nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu
telan.
Celakalah
kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang
munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah
dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah
dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat
23:23-26)
Bacaan
Pertama: 2Tes 2:1-3a,13b-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13
Banyak
orangtua dengan penuh kesadaran menyediakan sebuah rumah yang nyaman bagi
anak-anak mereka dan mereka juga sangat memperhatikan segala kebutuhan
anak-anak mereka. Namun apabila para orangtua tersebut membayar les musik bagi
anak-anak mereka dan selalu mengadakan perayaan ulang tahun yang mewah bagi
anak-anak mereka, sementara mereka gagal mengajar anak-anak mereka tentang
integritas, rasa ingin tahu, ambisi, dan bahkan makna kehidupan itu sendiri,
apakah mereka merupakan para orangtua yang baik? Apakah mereka setia dengan apa
yang diminta oleh Allah dari mereka? Tidak! Adalah suatu ketidakadilan untuk
menekankan perilaku eksternal – yang kelihatan orang lain – namun mengabaikan
hidup batiniah. Dapat dikatakan bahwa para orangtua yang begini adalah seperti
orang-orang Farisi yang diceritakan dalam Injil hari ini.
Orang-orang
Farisi itu mengajar orang-orang untuk memberi bobot lebih berat kepada
aspek-aspek praktek keagamaan yang kecil dan kurang penting daripada perintah
sentral Allah untuk memperlakukan orang-orang lain dengan belas kasih – “nyamuk
kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” ,
seperti digambarkan oleh Yesus (Mat 23:24). Kerasnya teguran Yesus menunjukkan
betapa serius Allah menilai hidup batiniah manusia, bukan yang kelihatan dengan
mata. Hal ini juga menunjukkan bahwa Yesus tidak datang sekadar untuk
merekonsiliasikan kita dengan Allah, melainkan antara kita (manusia) satu sama
lain juga. Oleh salib-Nya, Dia dapat membebaskan kita dari
keserakahan/ketamakan yang telah menyebabkan kita mengabaikan
kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita.
Marilah kita melihat isi hati kita sendiri. Dapatkah kita (anda
dan saya) melihat adanya sifat-sifat orang Farisi dalam diri kita? Tentu saja
dapat! Kita mungkin saja ingin untuk setia kepada semangat hukum Allah, namun
begitu mudah kita menjadi jatuh dan gagal. Dalam kehidupan kita ini begitu menggoda
bagi kita untuk kita salah/keliru menilai, hal-hal yang salah malah kita nilai
berharga. Kita fokus pada kepatuhan praktek agama yang bersifat eksternal, yang
mudah terlihat oleh orang-orang lain, walaupun pada kenyataannya hati kita
penuh dengan noda-noda egoisme, ketamakan, kecemburuan, dlsb. yang tak mampu
kita atasi sendiri. Hanya apabila Yesus hidup dalam diri kita maka keadilan
Allah dan belas kasih-Nya akan datang ke tengah dunia. Hanya pada saat itulah
kita akan mampu untuk membuat pilihan-pilihan yang benar dan bertindak-tanduk
seperti seharusnya.
Kemungkinan
besar tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan kita tidak akan membenarkan
hal-hal yang salah atau ketidakadilan dalam skala besar. Walaupun demikian, apa
yang kita lakukan sehari-hari sungguh berarti. Setiap kali kita menunjukkan
kebaikan hati kepada para miskin dan “wong cilik” pada umumnya, kita menganggap
lunas utang orang kepada kita, tidak menggerutu lagi karena disakiti, maka
berkat-berkat besar mengalir ke dalam diri kita. Para malaikat pun bersukacita.
Mengapa mereka bersuka-ria? Karena perubahan hati kita tidak hanya
menguntungkan kita, melainkan juga sekali lagi secara sekilas menunjukkan
kepada dunia belas kasih, kemuliaan, dan kuasa Allah sendiri.
DOA:
Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, karena kemenangan-Mu atas ketidakadilan dan
kejahatan! Ajarlah kami untuk menimbang-nimbang segala hal seperti yang
Kaulakukan, dan untuk mempraktekkan keadilan dengan melayani dan menolong
orang-orang lain. Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Ahad, Ogos 24, 2014
SERUAN-SERUAN CELAKA DARI YESUS
(Bacaan
Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Senin, 25 Agustus 2014)
Keluarga
Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX, Raja, Pelindung OFS
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di
depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang
berusaha untuk masuk.
Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang
munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang
dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman
yang lebih berat.
Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang
munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat
satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah hal itu terjadi, kamu
menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu
sendiri.
Celakalah
kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci,
sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu
mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih
penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah,
sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya,
sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting,
persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa
saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala
sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia
bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja
yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia,
yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)
Bacaan
Pertama: 2Tes 1:1-5. 11b-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-5
Mengapa
Yesus memilih untuk “mengutuk” para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang
nota bene adalah para pemimpin agama pada zamannya? Walaupun pada umumnya
mereka dipandang memiliki kuasa, tanpa tedeng aling-aling Yesus melontarkan
kritik-kritik-Nya terhadap praktek keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang
Farisi itu. Kepedihan-Nya melihat peri kehidupan para pemuka agama tersebut,
menggerakkan hati-Nya untuk menyerukan kata-kata “celaka” yang kita baca dalam
Injil hari ini. Dalam seruan-Nya, Yesus dengan jelas memperingatkan mereka
tentang konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilaku mereka. Yesus melihat
bagaimana orang-orang “suci” itu menggunakan agama sebagai sekadar tameng atau
topeng, artinya demi pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri, meninggikan diri
mereka sendiri dan sebenarnya menolak agama yang benar. Yesus juga terpaksa
mengkonfrontir dosa-dosa mereka – yang jika tidak dijaga – akan berakibat dalam
kematian spiritual.
Dalam dua seruan “celaka”-Nya,
Yesus menuduh para ahli Kitab dan orang-orang Farisi sebagai menghalang-halangi
orang-orang untuk sungguh dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat 23:13,15).
Mereka tidak hanya memilih untuk tidak masuk, melainkan juga menghalangi
orang-orang lain dengan penolakan mereka terhadap Kristus. Yesus juga menunjuk
kemunafikan mereka pada waktu mengklaim memimpin orang-orang kepada Allah,
namun gagal untuk mendorong agar tercapai kekudusan. Sebaliknya mereka datang
dengan ide-ide mereka sendiri yang sudah tidak lurus lagi, sehingga membuat
kondisi spiritual orang-orang lain menjadi lebih buruk lagi.
Pada
akhirnya, Yesus menamakan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu sebagai
“orang-orang buta yang menuntun orang-orang buta”, karena mereka melarang
orang-orang bersumpah demi benda-benda suci namun menyetujui sumpah-sumpah yang
diucapkan demi hal-hal yang kurang penting (Mat 23:16). Mereka menjadi buta
terhadap nilai sejati dari kehadiran Allah di antara mereka. Seruan “celaka”
ini menggemakan pernyataan Yesus dalam “Khotbah di Bukit” yang melarang sumpah
dan mendorong para pengikut-Nya untuk hidup jujur dan murni (Mat 5:33-37).
Seruan-seruan
“celaka” Yesus ini kiranya mengikuti contoh yang terdapat dalam Kitab Yesaya
(Yes 5:8-22), yang menyatakan kehancuran dari orang-orang – yang melalui
ketamakan dan ketidakbenaran – mendistorsikan keadilan dan kebenaran yang
sejati. Dalam Injil, Yesus menggambarkan para ahli Taurat dan orang-orang
Farisi sebagai orang-orang yang menggunakan agama untuk memperoleh kekuasaan
dan telah menukarkan kebenaran Allah dengan sekadar ide-ide manusia tentang
agama. Matius menggunakan bacaan Injil kita hari ini untuk memperingatkan
komunitas Kristiani awal akan kecenderungan-kecenderungan serupa di antara
mereka. Kita juga dapat mengambil kata-kata keras Yesus ini sebagai suatu
peringatan dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Marilah sekarang kita bertanya
kepada Roh Kudus, Roh Kebenaran, untuk menunjukkan kepada kita bagaimana kita
sendiri telah mendistorsi Injil demi memenuhi kebutuhan/kepentingan kita
sendiri.
DOA:
Roh Kudus Allah, bukalah mata kami agar dapat melihat bagaimana kami telah
menggunakan agama demi kepentingan kami sendiri. Ampunilah kami karena upaya
kami – sadar maupun tak sadar – untuk mengendalikan sabda Allah, dan bukannya
memperkenankan sabda Allah itu merobek hati kami dan membawa kami kepada
kekudusan, sehingga dapat semakin dekat lagi dengan Allah Tritunggal Mahakudus.
Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Labels:
Renungan Harian
Sabtu, Ogos 23, 2014
SIAPAKAH YESUS BAGI DIRIKU?
(Bacaan
Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI – 24 Agustus 2014)
Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya,
“Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan:
Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan:
Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka,
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias,
Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak
Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang
di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu
karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya,
kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini
akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di
surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada
siapa pun bahwa ia Mesias. (Mat 16:13-20)
Bacaan
Pertama: Yes 22:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6,8; Bacaan Kedua: Rm
11:33-36
Siapakah
Yesus? Seorang nabikah? Seorang guru moralkah? Pendiri sebuah agama barukah?
Jawabannya bervariasi, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman modern ini.
Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Apakah tanggapan kita terhadap
pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing: “Siapakah Aku ini?” (Mat 16:15).
Barangkali pertanyaan tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut:
“Bagaimana anda tahu bahwa Yesus adalah Dia yang anda katakan sebagai Dia?”
Petrus
berkata kepada Yesus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16).
Tetapi bagaimana Petrus mengetahui tentang hal ini? Oleh perwahyuan Allah.
Yesus berkata kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan
manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat
16:17). Dalam kasus Yesus, memang manusia dan cara biasa untuk memahami hal-hal
tidaklah cukup. Rahmat perwahyuan diperlukan, yang berasal dari Bapa surgawi.
Perwahyuan
ilahi dan supernatural bukanlah sesuatu yang diberikan Allah secara
sedikit-sedikit, atau hanya sepotong-potong. Allah sangat senang untuk
mewahyukan /menyatakan Yesus kepada kita. Bayangkanlah bagaimana para orangtua
baru tidak pernah lelah bercerita tentang anak-anak mereka. Sebagai Bapa, Allah
tidak banyak berbeda dengan kita. Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya pada kita
sehingga dengan demikian hasrat kita akan perwahyuan/pernyataan tentang Yesus
akan bertumbuh, sampai titik di mana kita akan sungguh mengharapkan dapat
melihat tindakan-tindakan Yesus dan mendengar suara-Nya dari hari ke hari.
Bahkan jika kita telah mengalami momen-momen perwahyuan di masa lampau, Allah
ingin memberikan kepada kita lebih lagi: “pengertian tentang rahasia Kristus”
(Ef 3:4), dan keyakinan untuk berjalan dalam kehadiran-Nya sepanjang hari.
Sungguh
menyemangati kita semua, ketika kita mengetahui bahwa walaupun mengalami momen
perwahyuan, Petrus masih saja agak “ngawur” – bahkan tidak sekali saja! Lebih
menyemangati kita lagi adalah ketika kita menyadari bahwa kesalahan-kesalahan
Petrus membuat dirinya haus dan lapar akan perwahyuan yang lebih lagi. Seperti
Petrus, walaupun ketika kita dengan rasa pedih menyadari akan
kelemahan-kelemahan kita, kita tetap dapat memohon lebih lagi pernyataan
tentang Yesus dari Bapa di surga. Kita tidak akan sampai kepada kepenuhan
kontemplasi wajah Kristus jika kita mengandalkan upaya kita sendiri. Kita harus
memperkenankan rahmat Allah untuk bekerja dalam diri kita.
DOA:
Bapa surgawi, nyatakanlah Putera-Mu, Yesus, kepadaku secara lebih lagi. Dengan
demikian aku akan lebih mengenal Dia lebih dalam lagi dan mengalami kuasa
kehadiran-Nya, dan kemudian dapat mensyeringkan kasih-Nya kepada orang-orang
lain. Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Jumaat, Ogos 22, 2014
YHWH KEMBALI KE BAIT SUCI DALAM KEMULIAAN
(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Sabtu, 23 Agustus 2014)
OFMCap.: Peringatan Beato Berardus dr Offida, Biarawan
Lalu dibawanya aku ke pintu gerbang, yaitu pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur. Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur dan terdengarlah suara seperti suara air terjun yang menderu dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya. Yang kelihatan kepadaku itu adalah seperti yang kelihatan kepadaku ketika Ia datang untuk memusnahkan kota itu dan seperti yang kelihatan kepadaku di tepi sungai Kebar, maka aku sembah sujud. Sedang kemuliaan TUHAN (YHWH) masuk di dalam Bait Suci melalui pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur, Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran dalam, sungguh, Bait Suci itu penuh kemuliaan YHWH. Lalu aku mendengar Dia berfirman kepadaku dari dalam Bait Suci itu – orang yang mengukur Bait Suci itu berdiri di sampingku – dan Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati.” (Yeh 43:1-7)
Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan
Injil: Mat 23:1-12
“Inilah
tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di
tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya” (Yeh 43:7).
Ketika
Bait Suci yang pertama masih ada (pertengahan tahun 900-an SM sampai tahun 587
SM), orang-orang percaya bahwa Allah berdiam di tempat itu (Mzm 68:17;
132:13-14). Penglihatan atau visi Yehezkiel adalah tentang restorasi Bait Suci
(belakangan dinamakan Bait Suci kedua), sebuah permulaan lagi dari rituale
persembahan kurban, dan kembalinya kehadiran Roh Allah di tempat itu. Allah
akan menjadi Raja Israel (tidak seperti raja-raja dunia) selama-lamanya dan
berdiam dalam Bait-Nya (Yeh 43:7).
Pada
waktu merefleksikan kehancuran Bait Allah yang pertama oleh bangsa Babel,
tradisi para Rabi menyatakan bahwa YHWH menangis ketika meninggalkan Bait-Nya,
seperti para Bapa bangsa diminta oleh Allah kepada Yeremia untuk dikumpulkan
dari kubur mereka. Bagaimana pun juga Bait Suci adalah rumah Allah yang telah
dibangun oleh raja Salomo di bawah arahan Allah sendiri.
Pada
tahun 587 SM, ketika orang-orang Yahudi digiring ke tanah pembuangan setelah
penghancuran Yehuda dan Bait Suci oleh bangsa Babel, mereka berkabung dan
meratapi apa yang kelihatan akhir dari janji-janji Allah kepada mereka. Akan
tetapi Allah menghibur umat-Nya dengan janji restorasi melalui seorang nabi
yang lain (Yes 40).
Visi
Yehezkiel berkaitan dengan Bait Suci kedua merupakan sebuah konfirmasi penghiburan
dari Allah. Pada tahun 538 SM, Cyrus atau Koresy yang telah mengalahkan bangsa
Babel, mengakhiri masa pembuangan orang-orang Yahudi di Babel selama 50 tahun.
Raja Persia ini memberikan izin kepada orang-orang Israel untuk pulang ke
Yerusalem dan mendirikan kembali Bait Suci (bacalah Ezr 1:1-11). Mereka
mendedikasikan (meresmikan) Bait Suci pada perayaan Paskah tahun 515 SM. Bait
Suci kedua ini berdiri sampai saat Herodus Agung mulai konstruksi sebuah Bait
Suci yang baru pada tahun 19 SM yang pada tahun 70 M dihancurkan oleh
orang-orang Romawi.
Dalam
visi Yehezkiel, ia melihat kemuliaan Allah datang kembali ke Bait Suci yang
dibangun kembali itu. Yehezkiel mendengar “suara seperti suara air terjun yang
menderu dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya” (Yeh 43:2). Ketika Allah telah
meninggalkan Bait Suci sebagai suatu tanda penghakiman, Ia telah
meninggalkannya lewat pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur; sekarang
Ia kembali lewat pintu gerbang yang sama sebagai suatu tanda
restorasi/pemulihan (Yeh 11:22-23; 43:4).
Janji
Allah dipenuhi dengan cara yang tidak dipahami bahkan oleh Yehezkiel sendiri.
Putera tunggal Allah sendiri, Yesus Kristus, mengindentifikasikan tubuh-Nya
sendiri dengan Bait Allah (Mat 26:61) dan tubuh-Nya pada gilirannya diidentifikasikan
dengan Gereja, Bait Suci yang baru (Ef 2:19-22). Gereja sekarang merupakan
tempat kehadiran Allah melalui berdiamnya Roh Kudus. Oleh karena marilah kita
bergembira bahwa janji Allah telah dipenuhi dengan indah dan Allah tetap
bersama umat-Nya seperti telah dijanjikan-Nya.
DOA:
Allah, Tritunggal Maha Kudus, terima kasih penuh syukur hati haturkan
kepada-Mu, karena Engkau: Bapa, Putera dan Roh Kudus, senantiasa berada bersama
kami, umat-Mu dalam Gereja, Bait Suci-Mu, Tubuh Kristus sendiri. Amin.
Sdr.
F.X. Indrapradja, OFS
Langgan:
Catatan (Atom)








