Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Mei 10, 2012

SAHABAT-SAHABAT YESUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 11-5-12 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan Santo Ignatius dari Laconi, Biarawan Kapusin

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12

Sungguh suatu kehormatan menjadi sahabat-sahabat Yesus! Kita tidak sembarang memakai gelar “sahabat-sahabat Yesus” itu, karena memang diberikan oleh Allah sendiri. Yesus mengasihi kita masing-masing sebagai pribadi dengan kasih yang tak dapat dilampaui oleh kasih yang mana pun juga. Dia bersabda kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Karena ini adalah yang dilakukan Yesus bagi kita, maka kita dapat sepenuhnya percaya bahwa kita memang adalah para sahabat-Nya.

Yesus adalah seorang sahabat yang paling sempurna dari segala sahabat. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang diberikan-Nya kepada kita. Kasih-Nya bukanlah kasih yang bersifat abstrak, melainkan suatu kasih penuh afeksi yang dapat kita alami. Dia menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan cara-cara konkret. Yang paling penuh dengan kuat-kuasa tentunya adalah kerelaan-Nya untuk mati bagi kita. Akan tetapi, setiap hari Dia menawarkan karunia-karunia-Nya: “kesabaran” manakala jiwa kita terancam iritasi sehingga mau berontak; “kelemah-lembutan” manakala kekerasan sudah mulai melanda diri kita; “hikmat-kebijaksanaan” manakala hikmat manusiawi kita mulai habis. Dan akhirnya ada karunia “keselamatan” – pengampunan kita, kelahiran baru kita, dan janji akan hidup kekal!

Pada saat Roh Kudus menuliskan kata “sahabat” pada hati kita, kita mulai mencicipi kasih Yesus bagi kita. Menuduh dan menghukum orang lain – dan diri sendiri – selesailah sudah. Rasa takut, rasa bersalah dan rasa cemas serta was-was digantikan oleh pengampunan, dapat menerima, dan damai-sejahteera. Keyakinan bahwa hidup kita terjaga akan menghilangkan rasa ragu dan takut. Hidup kita pun akan memiliki tujuan yang lebih besar selagi kita menanggapi panggilan Yesus sebagai terang dunia dan garam bumi (Mat 5:13-16). Setiap hal yang diterima oleh Yesus dari Bapa-Nya juga menjadi bagian dalam roh kita, dan kita pun mulai menghasilkan buah (Yoh 15:16).

Setiap hari, banyak kali dalam sehari, Yesus menawarkan kepada kita bukti-bukti kasih-Nya dan persahabatan-Nya. Tidak bagi kita saja – tidak untuk disimpan di bawah bantal atau tabungan rohani – melainkan dimaksudkan agar kita dimampukan untuk mengasihi orang-orang lain sebagaimana kita sendiri dikasih oleh-Nya. Dengan cara ini, kita mematuhi perintah-Nya untuk saling mengasihi, dengan demikian semakin serupa dengan gambaran-Nya (Yoh 15:12). Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus bagi Gereja-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah memilih kami sebagai sahabat-sahabat-Mu. Kami sungguh bersukacita dalam persahabatan ini dan dalam transformasi yang dibawa oleh Roh Kudus dalam hidup kami. Kami mengkomit diri kami untuk mengasihi-Mu, melayani-Mu, dan untuk taat kepada-Mu sepanjang hidup kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mei 07, 2012

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Rabu 9-5-12 )
 Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Katarina dari Bologna, Perawan – Ordo II/Klaris
  
“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, teristimewa di kalangan orang-orang muda sudah cukup lama ada gejala yang mengekspresikan pandangan berikut ini: “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Saya yakin dalam masyarakat kita pun ada hal yang serupa kalau pun tidak sama.

Bagi banyak orang memang terdapat pemisahan yang sungguh riil antara mengikuti Yesus dan menjadi anggota Gereja. Motif-motif mereka cukup banyak. Beberapa yang cukup sering terdengar a.l. adalah: (1) Gereja terlalu besar, formal dan impersonal; (2) Kami pergi ke gereja dan merasa seakan kami berdiri dalam sebuah toserba atau stasiun kereta. Sedikit saja terasa adanya kehangatan, kasih atau persekutuan; (3) Yang kami lakukan dalam gereja hanyalah duduk, berdiri, berlutut dan sekali-kali turut bernyanyi dan menyerukan aklamasi bersama orang-orang lain; (4) Homili atau khotbah-khotbahnya seringkali tidak membumi, jauh dari kenyataan hidup kami sehari-hari; (5) Bacaan-bacaan terasa aneh atau sudah kami kenal baik; (6) Kami merasa sulit mengasosiasikan iman dan cintakasih kami kepada Yesus Kristus dengan Gereja yang begitu melembaga.

Sebaliknya, kami merasa tertarik kepada pribadi Yesus: (1) Pesan kasih Yesus, pelayanan-Nya dalam menyembuhkan serta mengampuni, dan keakraban-Nya dengan Bapa di surga sungguh berkesan di hati kami; (2) Kami ingin menjadi anggota sebuah komunitas di mana kami dikasihi dan diterima; (3) Kami tidak mau dianggap sekadar sebagai satu wajah lain lagi dalam jemaat; (4) Kami ingin merasakan iman kami sebagai suatu kekuatan vital dalam hidup kami sehari-hari: (5) Bukan struktur atau organisasi yang penting, melainkan relasi kami dengan Yesus dan kasih antara kami satu sama lain; (6) Bagi banyak dari kami, struktur adalah batu sandungan bagi pertumbuhan spritualitas.

Suatu pemisahan antara Yesus dan Gereja institusional sungguh ironis. Konsili Vatikan II memakai banyak tenaga dan wawasan dalam mempertimbangkan sifat dan misi Gereja. Pengharapan dari Konsili adalah untuk melibatkan umat beriman dalam kehidupan Gereja. “Umat adalah Gereja” tidak dimaksudkan sebagai sekadar slogan. Diharapkan bahwa umat Allah akan memainkan peranan yang aktif dan bertanggung-jawab dalam kehidupan gereja lokal. Rasa memiliki (sense of belonging) yang lebih besar dan identitas umat sebagai Gereja juga diperkokoh. Visi Konsili Vatikan II masih harus terus diwujudkan. Walaupun begitu, tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa berbagai kemajuan telah berhasil diwujudkan.

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita sebuah gambaran yang indah dan kuat tentang Gereja sebagai sebuah komunitas iman dan persekutuan (Latin: communio) dengan Yesus. Bukannya memisahkan Gereja dari Yesus, gambaran yang diberikan justru mengasosiasikan para anggota komunitas dengan Pribadi Yesus. Yesus bersabda: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5). Gambaran tentang pokok anggur dapat kita lihat dalam Perjanjian Lama (Yes 5:2; Yer 2:21). Pokok anggur dipahami sebagai umat pilihan Allah. Allah mengasihi dan merawat pokok anggur itu agar menghasilkan banyak buah. Hal ini hanya mungkin apabila komunitas itu hidup dalam relasi yang intim dengan Yesus. Yesus berdiam dalam hati para murid-Nya, memberikan kepada mereka rahmat yang diperlukan untuk mendatangkan karya-karya Roh (teristimewa kasih persaudaraan). Di luar Yesus tidak akan ada pertumbuhan yang langgeng dan/atau tahan lama. Tanpa Yesus segala upaya baik yang dilakukan – cepat atau lambat – dapat menjadi rusak disebabkan oleh egoisme dan perpecahan-perpecahan.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya tidaklah bertentangan dengan Gereja sebagai lembaga (institusi). Gambaran ini dapat dipakai sebagai suatu upaya indah untuk mendorong (juga mengoreksi) pertumbuhan lebih lanjut dalam Yesus. Manakala struktur-struktur institusional menjadi tujuan dalam dirinya, maka hal ini sama saja dengan penyembahan berhala (Inggris: idolatry). Struktur-struktur gerejawi tetap diperlukan untuk menjaga ajaran Gereja, penyembahan/tata ibadat, dan nilai-nilai moral. Gereja hari ini jauh lebih besar dan jauh lebih kompleks daripada Gereja Perdana pada abad pertama. Kita membutuhkan struktur-struktur untuk menangani jumlah anggota jemaat yang memang tidak sedikit. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memperkenankan struktur-struktur menjadi begitu dominan sehingga merusak persekutuan dan relasi kita dengan Yesus.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya mendorong serta menyemangati kita untuk mempererat persekutuan dalam komunitas iman. Sebuah komunitas iman yang dipenuhi Roh Kudus adalah sebuah komunitas yang memperkenankan anggotanya untuk mengenal Yesus dengan lebih baik dan untuk para anggotanya saling mengasihi sebagai saudari dan saudara dalam Yesus Kristus. Apabila kita sungguh mengenal Yesus (bukan Yesus sebagai ide, melainkan sebagai seorang Pribadi yang hidup dalam kehidupan kita) dan ada saling mengasihi antara kita, maka karya-karya Roh Kudus menjadi terbukti-nyata.

Kelirulah kalau kita berpandangan “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Gereja dipanggil untuk menjadi “pengingat” historis-konkret akan kasih Allah yang tanpa syarat kepada semua orang dan ciptaan-Nya. Gereja dipanggil untuk semakin dalam bersatu dengan Yesus dan menghasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai-sejahtera, persekutuan dan integritas” (bdk. Gal 5:22-23). Kita semua dipanggil untuk membantu membuat Gereja menjadi sebuah komunitas di mana Roh Kudus berdiam dan Yesus dikenal serta dikasihi. Panggilan ilahi sedemikian sungguh sangat menantang dan tidak pernah membosankan.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami, para murid-Mu, tidak dapat berbuat apa-apa. Ajarlah kami bagaimana seharusnya kami berdiam dalam Engkau. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Selasa 8-5-12 )

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Yeremias dari Salakhia

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku ( Yoh 14:27-31a ).

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

Pada “Perjamuan Terakhir”, Yesus meninggalkan damai-sejahtera-Nya bagi para murid-Nya. Damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus ini adalah kasih-Nya yang kekal dan keselamatan daripada-Nya yang kekal pula. Kita memiliki damai-sejahtera ini apabila kehidupan kita berpusat pada Yesus dan relasi-Nya dengan kita yang penuh kasih, sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sayangnya, ide kita tentang damai-sejahtera tidak selalu sama dengan damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus. Damai-sejahtera bagi kita seringkali berarti menikmati saat hening, bebas dari kecemasan untuk waktu tertentu. “Damai-sejahtera” sedemikian dapat dengan cepat dibuat menjadi berantakan oleh hal-hal kecil yang terjadi pada hari kita – perselisihan, kemacetan di jalan, sakit-penyakit yang tak henti-hentinya. Damai-sejahtera yang terbatas pada bagaimana kita merasakan segala sesuatu pada saat-saat tertentu, dan sementara semuanya baik maka kita tidak merasa cemas, jadi damai-sejahtera seperti ini paling-paling merupakan bayangan dari damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus.

Damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus adalah keselamatan dan kehidupan. Karunia damai-sejahtera dari Yesus tergantung pada hal yang dikatakan-Nya kepada para murid – saling mengasihi (Yoh 13:34), menuruti perintah-perintah-Nya (Yoh 14:15,23). Apabila kita berusaha keras – melalui kuasa Roh Kudus – untuk saling mengasihi Yesus dan mengasihi taat kepada-Nya, kita akan mengenal kepenuhan damai-sejahtera yang diberikan-Nya kepada kita. Damai-sejahtera ini kokoh dan kekal; tidak dapat digoncang oleh pencobaan-pencobaan yang kita hadapi sehari-hari karena dibangun dalam kasih Kristus – dan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih ini (Rm 8:35-39).

Damai-sejahtera Yesus berasal dari hidup dekat dengan diri-Nya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yoh 16:33). Kita tahu bahwa setelah kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, para rasul harus menghadapi banyak pencobaan; mereka dijebloskan ke dalam penjara, ditimpuki batu, dianiaya oleh para penguasa. Kendati demikian, mereka terus mewartakan Injil karena kasih mereka kepada Yesus. Damai-sejahtera yang mereka alami terikat pada Kerajaan Allah dan kemajuannya. Karena relasi mereka dengan Yesus, para rasul/murid mampu memiliki damai-sejahtera walaupun menanggung derita dan hidup mereka penuh perjuangan. Hal ini berarti bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami damai-sejahtera bilamana kita memiliki keprihatinan atas upaya memajukan Kerajaan Allah dalam hidup kita sendiri, keluarga kita, gereja kita dan komunitas kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami mengetahui bahwa Engkau sangat mengasihi kami. Engkau ingin memberikan kepada kami damai-sejahtera-Mu. Tolonglah kami untuk mau dan mampu melibatkan diri dalam upaya memajukan Kerajaan-Mu, agar damai-sejahtera-Mu dapat menyebar-luas ke seluruh dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, April 29, 2012

BUKALAH TELINGA KITA BAGI SUARA YESUS !!!


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Senin 30-4-12)
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Benediktus dari Urbino, Biarawan
  
“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah.(Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3;43:3-4

Yesus adalah sang “Gembala yang Baik” yang datang untuk memelihara dan memimpin umat-Nya. Seperti anak-anak atau domba-domba yang hilang dalam semak belukar di padang gurun, kita sering merasa bingung dan dibuat takut oleh dunia di sekeliling kita. Kita bertanya-tanya kepada diri kita sendiri, di mana sih rumah kediaman kita yang sejati? Di tengah-tengah berbagai pertanyaan kita itu, Yesus memanggil kita agar mendengarkan suara-Nya yang akan membimbing serta menuntun kita. Bilamana Dia melihat kita mencoba dengan keras untuk melakukan yang terbaik, namun tetap saja jatuh tersandung, Ia tidak menghukum kita. Sebaliknya, Yesus memanggil kita dan memimpin kita ke luar dari rasa takut yang melanda kita, perjuangan kita yang dipenuhi kesalahan-kesalahan, untuk menuju kehangatan kehadiran-Nya.

Karena kita diciptakan oleh Allah yang Mahakasih, maka kita masing-masing dianugerahi kemampuan untuk dapat mengenali suara Yesus. Kadang-kadang suara-Nya “nyaring, seperti bunyi sangkakala” (Why 1:10), atau “bagaikan desau air bah” (Why 1:15). Namun seringkali suara-Nya datang dengan lemah-lembut berupa “bunyi angin sepoi-sepoi basa, seperti dialami oleh Elia (1Raj 19:12-13); dengan lemah-lembut menyentuh hati kita dan menggerakkan kita untuk menyerahkan diri kepada-Nya secara lebih mendalam lagi. Dia mengucapkan sabda-Nya yang mendorong serta menyemangati, menyembuhkan dan mengampuni kita (Yes 40:1-3; Yer 31:3). Pada saat Ia mengoreksi kita, Allah bersabda tanpa menghukum (Yeh 18:31). Selagi kita mendengar suara-Nya, kita ditarik untuk mengikuti-Nya.

Kita juga tentunya telah mendengar suara-suara lain yang berusaha untuk “mengacaukan” suara Yesus. Suara Iblis selalu negatif, betapa banyaknya pun kebenaran yang mungkin digunakan olehnya sebagai kamuflase. Kebohongan-kebohongannya menyebabkan kegelisahan, kecemasan, rasa was-was dan sejenisnya. Sebaliknya, suara Allah selalu positif, bahkan ketika Dia menunjukkan dosa-dosa kita. Kadang-kadang, pemikiran-pemikiran kita sendiri pun dapat menjadi penghalang bagi kita untuk mendengar suara Yesus; kita dapat menjadi sedemikian sibuknya dengan berbagai tugas-kewajiban sehari-hari kita (baik dalam dunia sekular maupun dalam lingkup gerejawi), sehingga kita luput mendengar suara-Nya.

Akan tetapi, sekali kita mendengar suara Yesus, kita akan mengalami rasa dahaga untuk lebih banyak lagi mendengar suara-Nya, kita dipenuhi kerinduan untuk mengalami kehadiran-Nya setiap saat. Kita dapat mendengar suara-Nya dalam liturgi, selagi Dia mendorong kita untuk bergabung dengan diri-Nya dalam kasih penuh pengorbanan diri-Nya (Ekaristi). Dia mengajar kita dalam Kitab Suci, menantang cara kita berpikir karena “begitu ‘tinggi’ tingkat pendidikan kita di dunia ini”. Melalui sahabat-sahabat yang sungguh “caring”, Tuhan juga mengucapkan kata-kata penghiburan bagi kita yang sedang dilanda kesedihan karena berbagai kesusahan hidup. Bahkan dalam keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, suara-Nya dapat didengar, memanggil-manggil kita untuk mengangkat hati kita kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Oh, betapa berbahagialah kita mempunyai ‘seorang’ Allah yang selalu siap untuk berbicara dengan kita!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang supaya kami mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah. Tuhan, kami sungguh ingin kehidupan berlimpah seperti yang Engkau janjikan itu. Bukalah telinga kami agar mampu mendengar suara-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, April 28, 2012

GEMBALA YANG BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV, 29-4-12)

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yoh 10:11-18)

Bacaan Pertama: Kis 4:8-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,21-23,26,28-29; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2

Semua bacaan Kitab Suci dalam Misa hari ini secara bersama mengungkapkan dan mempermaklumkan pengorbanan Yesus yang penuh kasih bagi kita. Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Dia adalah “Gembala yang Baik”, yang akan memberikan nyawa-Nya bagi kita, domba-domba-Nya (Yoh 10:11). Kemudian, pada malam sebelum sengsara-Nya, Ia akan mengatakan kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseroang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Dengan sempurna Yesus menunjukkan kasih-Nya itu pada waktu Dia mati di kayu salib, menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk menebus kita masing-masing.

Bukankah mengejutkan untuk berpikir bahwa sekiranya anda adalah orang satu-satunya yang tinggal di dalam dunia, Yesus tetap akan dengan sukarela memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkan anda? Kesadaran akan hal inilah yang kiranya memberikan kepada Petrus keberanian untuk mengatakan kepada para imam umat dan tua-tua Yahudi: “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).

Inilah alasan besar bagi kita untuk bersukacita! Hikmat Allah, walaupun kelihatan bodoh bagi pikiran manusia, berjaya bahkan di momen-momen paling gelap dalam kehidupan kita. Siapa lagi selain Allah yang dapat “mentakdirkan” bahwa Yesus, Putera-Nya terkasih, akan ditolak oleh umat-Nya sendiri, ditinggalkan oleh para pengikut-Nya yang terdekat? Ia bahkan diabaikan dan ditinggalkan oleh Allah, Bapa-Nya sendiri! Namun demikian, inilah hikmat Allah yang tak dapat diduga-duga oleh akal-budi manusia. Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia mengorbankan anak-Nya yang tunggal, yang dikasihi-Nya di atas siapa saja dan apa saja, hanya untuk membawa kita kembali ke dalam pelukan-Nya. Hal ini digaris-bawahi dalam bacaan kedua hari ini: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1).

Pada masa-masa ketika segala sesuatu terasa gelap dan tanpa harapan, kita harus melihat tangan-tangan Allah yang siap menolong kita. Bahkan di dalam peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan samasekali, Allah bekerja. Ada saat-saat di mana hikmat-Nya sungguh melampaui segala akal-budi kita sehingga tanggapan kita hanyalah dapat berupa iman dan kepercayaan. Pada saat-saat seperti itu Dia mengundang kita untuk berdoa: “Yesus, Engkaulah andalanku.” Ketika berbagai kesusahan dan kegelapan mengepung diri kita dari segala penjuru kehidupan kita, kita dapat berdoa: “Bapa surgawi, biarlah tangan-tangan kasih-Mu memegang dan menuntun aku.” Ketika kita merasakan beban hidup ini begitu berat, kita dapat memandang salib Kristus dan berkata: “Tuhan, Engkau mati untuk aku secara pribadi. Aku percaya, ya Tuhan, tolonglah ketidakpercayaanku.”

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah penghiburku. Jadilah kekuatanku pada hari ini dan nyatakanlah kepadaku Injil Yesus Kristus yang penuh kemuliaan. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan percaya kepada-Mu dengan segala keberadaan diriku dan segalanya yang kumiliki. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, April 27, 2012

TUHAN, KEPADA SIAPAKAH KAMI AKAN PERGI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah, Sabtu 28-4-12)

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69)

Bacaan Pertama: Kis 9:31-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17

TUHAN (YHWH) bersabda lewat mulut sang Nabi: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu., dan jalanmu bukanlah jalan-Ku … Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8,9). Sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan beberapa dari pemikiran-pemikiran agung dan tinggi yang diungkapkan-Nya dalam bab 6 Injil Yohanes. Ia berbicara, baik mengenai relasi-Nya dengan Bapa-Nya dan relasi-Nya dengan kita sebagai “roti kehidupan”. Mereka yang mendengar Dia, menerima pandangan sekilas Yesus sebagai “AKU ADALAH AKU” (Kel 3:14), yang mentransenden segala batasan eksistensi yang membatasi dan menentukan kemanusiaan kita.
Kedalaman pengajaran-pengajaran-Nya ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang mendengar Yesus memproklamasikannya. Mereka mencoba untuk memahami hal-hal ilahi dari Allah hanya dengan intelek manusia. Sebagai akibatnya, tibalah saat yang tidak dapat dicegah lagi ketika kata-kata Yesus (khususnya tentang Ekaristi) menjadi tidak mungkin untuk dicerna otak manusia dan diterima (Yoh 6:66). Banyak yang mengundurkan diri sebagai pengikut-Nya. Sungguh suatu tragedi! Justru ajaran yang ditolak oleh mereka adalah pemberian Yesus mengenai satu cara lain untuk dikuatkan dalam mengikuti Dia.
Dalam awal Injil Yohanes, Yesus digambarkan sebagai Sabda (Firman) Allah (Yoh 1:1). Dalam membawa sabda Allah kepada kita, Yesus memberikan kepada kita hikmat yang kita perlukan untuk menghayati kehidupan seturut niat Allah atas diri kita. Dalam membawa hikmat, Yesus datang dalam sabda dan sakramen; Ia memberikan diri-Nya kepada kita secara lengkap. Dengan memberikan kepada kita sabda dan Ekaristi, Dia memberikan kepada kita “makanan penguat penuh gizi” yang kita perlukan untuk menghayati suatu hidup Kristiani di dunia. Dalam hal ini Yesus sungguh membuat diri-Nya menjadi sumber kehidupan sejati agar kita dapat memperoleh hidup kekal.
Walaupun begitu, ada sejumlah pengikut-Nya yang pergi meninggalkan-Nya karena mereka tidak memperkenankan kebenaran menyentuh hati mereka. Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153] menulis: “Bagi sebagian orang jelas bahwa kata-kata Yesus adalah roh dan hidup, dengan demikian mereka dapat mengikuti Dia; sedangkan orang-orang yang lain menilai kata-kata-Nya terlalu keras dan mereka mencari penghiburan sial-menyedihkan di tempat lain” (Sermons on Various Occasions, 5). Kita semua dihadapkan pada pilihan yang sama – Yesus atau dunia ini!
Kita mempunyai bukti nyata karya Roh Kudus dalam hati kita, apabila kita dapat berkata bersama Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68).
DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti yang turun dari surga untuk mengangkat kami ke surga. Engkau menyisihkan mahkota kemuliaan-Mu di surga dan datang ke tengah-tengah kami di dunia sebagai manusia dina dan miskin, menawarkan kepada kami keikutsertaan dalam kehidupan kekal. Bahkan sekarang pun – setiap hari – Engkau memberikan Ekaristi kepada kami. Engkau datang untuk menemui kami dalam doa dan dalam sabda-Mu dalam Kitab Suci, menguatkan kami dan mencurahkan kasih-Mu ke atas diri kami setiap hari. Tolonglah agar kami dapat memegang segala karunia sangat berharga yang telah Kauberikan kepada kami. Amin.
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, April 17, 2012

ALLAH SENANTIASA MENGASIHI KITA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Rabu 18-4-12 )

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21).
Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9

Sepanjang masa Paskah, Gereja merefleksikan kehidupan Yesus dan pemenuhan rencana penyelamatan Allah melalui diri Yesus. Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya tentang niat Bapa surgawi, bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nyalah keselamatan dimenangkan bagi semua orang dan mereka akan memperoleh kehidupan kekal melalui diri-Nya.

Yesus bersabda: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Bahkan ketika kita tidak mengasihi Allah atau merasa perlu untuk mencari-Nya, Dia tetap mengasihi kita. Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal agar kita tidak sampai binasa, melainkan dapat memperoleh kehidupan kekal. Di atas kebenaran inilah kita menaruh pengharapan kita. Kita tahu bahwa pengharapan ini tidaklah sia-sia apabila kita memperkenankan Allah mentransformasikan hidup kita.

Bapa surgawi memberikan kepada kita seorang Penebus untuk membebaskan kita dari kematian (maut). Ia adalah terang yang mengalahkan segala kegelapan, kebohongan dan tipu-daya Iblis dan menunjukkan bahwa “siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah” (Yoh 3:21). Melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, kita dapat menjadi menjadi pemenang atas pola-pola kedosaan dalam kehidupan kita.

Apabila kita harus berbagi (syering; Inggris: sharing) dalam kehidupan ini, kita harus merangkul apa yang kita terima melalui iman dan baptisan. Selagi kita berdiri atas kebenaran bahwa kita telah mati dan bangkit bersama Kristus Yesus, kita akan mengalami kehidupan itu. Kuasa hidup baru datang dari Roh Kudus yang telah ditanamkan ke dalam diri kita dan memberdayakan kita untuk mengalami suatu hidup kebangkitan. Selagi kita menyerahkan diri kita kepada Allah, kita akan melihat bahwa kuat-kuasa yang sama juga bekerja dalam diri kita; kuat-kuasa yang membangkitkan Yesus dari alam maut.

Kita akan memiliki kuat-kuasa untuk mengalahkan dosa, kuasa untuk dengan gigih bertahan dalam menghadapi godaan. Yesus memanifestasikan semua ciri hidup baru sebagai ciptaan baru. Warisan kita sebagai sebagai anak-anak Bapa surgawi adalah untuk memperoleh Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita agar membuat hidup kita semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengutus Putera-Mu agar kami semua dapat memperoleh kehidupan kekal. Tolonglah kami agar dapat berjalan dalam Roh pada hari ini, dan setiap hari; bersukacita dalam kemenangan dan kebebasan hidup yang telah dimenangkan oleh Yesus bagi kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, April 16, 2012

LAHIR DARI ROH

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Selasa 17-4-12 )

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Dengan demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15)
Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5

Apa yang dimaksudkan dengan “lahir dari Roh” (Yoh 3:8)? Barangkali cara terbaik untuk memahami arti ungkapan itu adalah dengan melihat orang-orang yang lahir dari Roh.

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia bersabda kepada para rasul/murid, “Kamu akan menerima kuasa-Nya bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis 1:8). Para murid kepada siapa Yesus membuat janji yang indah ini adalah sekelompok orang-orang yang lemah dan sedang dihinggapi rasa takut. Kelihatannya mereka tidak melakukan pelayanan apa pun sementara mereka menanti-nantikan dipenuhinya janji di atas, di ruang atas di Yerusalem. Akan tetapi, pada waktu Roh Kudus datang ke atas mereka pada hari Pentakosta, mereka pun ditransformasikan menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Akhirnya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, bahkan dengan risiko dibunuh sebagai martir-martir.

Demikian pula, Saulus dari Tarsus mengejar dan menganiaya umat Kristiani sampai saat Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan seorang Kristiani yang bernama Ananias berdoa baginya “agar dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 9:17). Hal ini mengubah arah kehidupan Saulus. Berganti nama menjadi Paulus, ia menjadi seorang saksi Kristus yang berani, menderita dan pada akhirnya mati demi iman-kepercayaannya.

Sepanjang sejarah Gereja kita melihat begitu banyak umat (baik orang-orang kudus yang resmi maupun umat biasa) telah ditransformasikan oleh Roh Kudus. Sebagaimana halnya dengan murid-murid Yesus yang awal, kita seringkali merasa tak berdaya apabila berhadapan dengan situasi di mana kita harus mensyeringkan/mewartakan Injil Yesus Kristus. Barangkali hal ini disebabkan karena kita menggantungkan diri pada kekuatan kita sendiri, bukannya mengandalkan diri pada kuasa Roh Kudus.

Berita baiknya adalah, bahwa Roh Kudus yang sekitar 2.000 tahun lalu turun atas para rasul pada hari Pentakosta, dan yang turun atas umat Kristiani pada segala zaman juga tersedia bagi kita masing-masing, hari ini dan di sini juga. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus setiap hari agar memenuhi diri kita dan membuat kita menjadi pewarta-pewarta yang berani dari Kabar Baik Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku mengakui kelemahanku apabila terpisah dari-Mu. Aku membutuhkan Roh Kudus-Mu untuk memampukan diriku menjalani kehidupan yang menyenangkan-Mu. Aku ingin dipenuhi lagi dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin diberdayakan oleh Roh-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi lebih serupa dengan Putera-Mu dan menjadi saksi-Nya yang berani. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, April 15, 2012

JIKA SESEORANG TIDAK DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH …

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Senin 16-4-12 )

Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:1-8)

Bacaan Pertama: Kis 4:23-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9

Nikodemus, seorang Farisi dan anggota Sanhedrin, datang menemui Yesus di malam hari. Orang Yahudi yang “saleh” ini menyadari bahwa Yesus adalah “seorang guru (rabi) yang diutus Allah” (Yoh 3:2), namun ia datang untuk lebih mengetahui Yesus secara lebih mendalam lagi. Yesus menggiring percakapan langsung ke inti masalahnya ketika Dia berkata kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Ketika Nikodemus bertanya bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua; dapatkah ia masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi, maka Yesus menjawab bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:4-5).

Gereja telah sampai kepada pemahaman atas kata-kata Yesus di atas ini sebagai sebuah refleksi atas baptisan dan iman. Hidup Allah diberikan kepada kita pada waktu baptisan, namun kita tetap perlu memberi tanggapan kepada Allah dalam iman agar supaya kehidupan ini bertumbuh. Yang kita terima sebagai sebutir benih dalam baptisan perlu diberi asupan-bergizi dengan suatu “hidup-iman” sehingga benih itu dapat bertunas, bertumbuh dan berbuah. Tanggapan kita terhadap Allah perlu mencakup upaya-upaya kita untuk menempatkan diri kita dalam suatu posisi yang siap menerima kehidupan yang dianugerahkan Allah sendiri – seperti keiikut-sertaan aktif dan sering dalam liturgi dan sakramen-sakramen, doa pribadi dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci. Kalau tidak demikian halnya, maka iman kita tidak akan bertumbuh menjadi matang.

Yesus menekankan sifat radikal dari transformasi yang terjadi dalam diri kita sementara hidup-Nya bertumbuh dalam diri kita dengan mengkontraskan antara “jasmani” (“daging”) dan “roh” (Yoh 3:6; 6:63). Hasrat-hasrat kedosaan dari kedagingan kita dan bujukan memikat dunia ini harus disingkirkan agar hidup Allah dapat bertumbuh dalam diri kita (lihat Rm 6:3-11). Hal ini tidaklah berarti sekadar membuktikan kekuatan kehendak kita melawan dosa, melainkan merangkul Kristus yang ditinggikan di atas kayu salib untuk mengalahkan dosa dan maut (baca Yoh 3:14-15).

Nikodemus pada waktu itu mengakui Yesus sebagai seorang guru yang diutus Allah, namun ia masih belum dapat memahami kedalaman karya Allah dalam diri Yesus (Yoh 3:2-4). Akan tetapi mereka yang “dilahirkan dari atas” membuka diri mereka bagi karya Allah melalui Roh Kudus yang menyatakan kebenaran Allah. Orang-orang seperti itu memperkenankan karya Allah mulai pada saat baptisan sampai mencapai kematangan sehingga mereka menajdi rohani (spiritual) dan lebih mampu dalam mengenal gerakan Roh dalam rangka mengetahui kehendak Allah. Roh Kudus yang kita terima pada waktu baptisan dan krisma (penguatan) menyatakan pikiran Allah bagi kita dan menolong kita untuk hidup sebagai umat-Nya (1Kor 2:12-16).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk senantiasa bersyukur atas rahmat baptisan kami. Ajarlah kami untuk menanggapi Engkau dalam iman sehingga hidup baru yang Kauberikan dapat bertumbuh mencapai kepenuhannya dalam diri kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, April 13, 2012

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TIDAK MELIHAT, NAMUN PERCAYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II, Minggu Kerahiman Ilahi, 15-4-12 )

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”


Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31)Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Bacaan Pertama: Kis 4:32-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,16-18,22-24; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-6

Para rasul/murid Yesus untuk sekian lama berkumpul dalam ruang tertutup pada bagian atas sebuah bangunan di Yerusalem. Mereka diliputi rasa khawatir apakah sebentar lagi tibalah giliran mereka untuk ditangkap dan diadili serta dijatuhi hukuman. Ditengah-tengah kekhawatiran dan kegalauan mereka muncullah Yesus. Kehadiran Yesus ini membuat mereka bersukacita dan penuh damai. Hanya seorang rasul yang tidak hadir, yaitu Tomas. Pengkhianatan dan penyaliban atas diri Yesus membuat Tomas patah hati, dan kelihatannya dalam kesedihannya dia memilih isolasi, bukannya suatu persekutuan yang memberi penghiburan dari para rasul/murid yang lain.

Bayangkanlah betapa terkejutnya Tomas ketika Yesus secara tiba-tiba muncul lagi satu pekan kemudian. Dikelilingi oleh para saudari dan saudara seiman, Tomas akhirnya melihat dengan matanya sendiri Tuhan yang telah bangkit, dan keragu-raguannya semula berganti menjadi keyakinan iman yang kokoh, dan ia juga mengalami sukacita yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tomas tidak hanya melangkah dari “ketidakpercayaan kepada kepercayaan”, dia juga melangkah dari “isolasi” kepada “komunitas”. Ungkapan iman Tomas singkat saja namun tak meragukan sedikitpun: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Jawaban Yesus kepada Tomas dalam menanggapi pernyataan imannya adalah “pegangan-abadi” bagi kita semua: “Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Tentang karya kerasulan Tomas sesudah itu, Kitab Suci tidak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tidak ada surat (epistola) peninggalan Tomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, Tomas menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus ke arah timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Siria, Armenia, Persia dan India. Orang kudus ini mengalami kematian sebagai seorang martir sejati. Sisa potongan tombak yang dipakai untuk membunuhnya ditemukan kembali sewaktu makamnya di Mailapur dekat kota Malabar, India dibuka kembali pada tahun 1523.

Paus Santo Gregorius Agung [540-601] pernah menulis, bahwa Allah “mentakdirkan murid yang tak percaya itu, ketika dia menyentuh luka-luka Gurunya, untuk menyembuhkan luka-luka ketidakpercayaan dalam diri kita”. Orang kudus ini lebih lanjut mengatakan, bahwa keragu-raguan Tomas dapat menolong kita untuk lebih percaya ketimbang iman para murid yang percaya. Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Ada Tomas, seorang dari 12 rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri – juga seperti kita …… tidak sempurna!

Apakah anda sekarang mengenal seseorang yang sedang mengalami kegoncangan dalam imannya atau merasa ditinggalkan oleh Allah? Baiklah anda berdoa agar Tuhan Yesus “muncul” di depan orang itu dan meyakinkan dirinya, menghiburnya, menyemangatinya, serta menguatkannya dengan kehadiran-Nya. Barangkali kita (anda dan saya) juga merasakan adanya “jarak” yang mengganggu antara diri kita dengan Tuhan, atau kita merasa galau, bingung karena kita telah melakukan sesuatu yang menurut kita tidak akan dapat diampuni oleh-Nya. Dalam hal ini patutlah kita ingat, bahwa keberadaanYesus senantiasa disertai belas-kasih-Nya dan rahmat-Nya.

Dalam Misa Kudus hari ini, selagi kita sujud menyembah bersama saudari-saudara kita lainnya, Tuhan Yesus ingin menunjukkan betapa mendalam Ia mengasihi kita masing-masing. Ia selalu siap untuk berbicara kepada kita, bahkan pada saat-saat kita merasa sangat tertekan oleh berbagai masalah/kesulitan kehidupan ini; ketika kita merasa ditinggalkan oleh para sahabat yang kita kasihi dan percayai; atau ketika kita berada di tengah-tengah godaan serius. Marilah kita membuka hati kita dan memperkenankan Dia memperkuat iman kita seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri Tomas.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa kemenangan-Mu atas dosa dan maut dapat membebaskan setiap orang dari ketidakpercayaannya. Anugerahilah karunia iman kepada orang-orang yang hampir putus-asa dan tanpa harapan sebagai pengikut-Mu, sehingga dengan demikian setiap orang dapat menemukan kehidupan, kedamaian dan sukacita karena kehadiran-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MENERIMA ROH KUDUS YANG SAMA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Sabtu dalam Oktaf Paskah, 14-4-12 )

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15.

Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya.

Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak orang laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh dunia (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan), Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman. Di India ada Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia. Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Sri Paus tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, April 12, 2012

YESUS SENANTIASA HADIR UNTUK MENGUATKAN IMAN KITA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH, 13-4-12 )

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14)

Bacaan Pertama: Kis 4:1-12; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27

Yesus dapat datang atau hadir pada saat-saat yang tidak diharap-harapkan. Para murid yang dipimpin oleh Petrus mengalami kegalauan, stres, depresi dan/atau yang sejenisnya. Mereka telah kembali kepada cara hidup lama, yaitu bekerja sebagai nelayan, dan tokh tidak mampu menangkap ikan barang seekor pun. Pada saat yang mengecewakan seperti inilah Yesus menyatakan diri-Nya kembali kepada mereka. Mereka mendengarkan dan melaksanakan “instruksi” Yesus yang berdiri di pantai, hasilnya adalah “panen ikan” yang berlimpah. Lagi-lagi sebuah mukjizat! Sesampainya di darat para murid dijamu dengan ikan dan roti oleh Yesus. Sekali lagi Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia telah bangkit dan hidup para murid berada di bawah perhatian-Nya yang penuh kasih. Kita dapat membayangkan bagaimana para murid merasa dikuatkan oleh pertemuan mereka dengan Yesus itu.

Yesus juga menginginkan kita memiliki iman kuat dalam hasrat-Nya memberikan kepada kita segala kebutuhan kita. Kita dapat merasa sangat tertekan oleh beban-beban kehidupan: beratnya untuk bertahan hidup, mencari nafkah untuk keluarga dan tanggung jawab kita dalam beberapa hal lainnya. Seperti Petrus dan para murid lainnya, kita dapat merasa bingung mau ke mana hidup kita dibawa. Namun, terpujilah Allah! Karena Yesus sering datang kepada kita dengan cara-cara yang tidak kita harap-harapkan dan Ia membuat mukjizat yang kita butuhkan. Ia senantiasa melakukan intervensi dan mengingatkan kita dengan penuh kekuatan akan kasih-Nya yang mendalam kepada kita. Sebagai Tuhan yang bangkit, Ia penuh dengan kuasa dan hidup, dan Ia menginginkan kita untuk mengalami kuasa dan hidup tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagian kita adalah untuk menanggapi Yesus dengan iman. Satu cara kita dapat bertumbuh dalam iman kita adalah dengan berpaling kepada Tuhan setiap hari dan mohon kepada-Nya untuk bertindak dalam kehidupan kita. Misalnya kita dapat mendoakan secara teratur doa sederhana berikut: “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku orang yang berdosa ini!”; bahkan pada saat-saat kita bekerja.

Keadaan macam apapun yang kita hadapi, apakah di rumah, di tempat kerja, atau di gereja, Yesus ingin datang kepada kita dan menolong kita. Selagi kita berdoa setiap hari, baiklah kita mengharapkan Tuhan datang kepada kita dan orang-orang yang kita kasihi dengan kuasa dan rahmat-Nya. Kita akan melihat Dia melakukan intervensi dalam kehidupan kita (kadang-kadang dengan cara-cara yang mengejutkan dan di luar ekspektasi kita) dan menguatkan iman-kepercayaan kita. Kita pun akan bertumbuh dalam keyakinan bahwa Penebus kita yang penuh kasih sungguh menyelamatkan kita dari setiap kejahatan – bahkan dari kejahatan kematian kekal.

DOA: Tuhan Yesus, tambahlah imanku kepada-Mu dan kuasa-Mu untuk melakukan intervensi dalam kehidupanku. Datanglah dengan kuat-kuasa-My, ya Tuhan, untuk mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi sekarang. Ubahlah masalah-masalah itu menjadi berkat, ya Tuhan. Ubahlah juga diriku agar semakin dekat pada-Mu, agar menjadi murid-Mu yang sejati! Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS