Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, April 03, 2014

BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG LAIN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV – Jumat, 4 April 2014)
Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: “Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab. Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan, Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. Kita dianggap olehnya sebagai yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah. Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”
Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni. (Keb 2:1a,12-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-21,23; Bacaan Injil: Yoh 7:1-2,10,25-30

Kitab Kebijaksanaan (Salomo) adalah sebuah kitab yang relatif belakangan dimasukkan ke dalam Kitab Suci. Kapan? Tanggal/waktu yang banyak diterima sehubungan dengan munculnya Kitab Kebijaksanaan ini adalah sekitar tahun 50 S.M. Hanya versi dalam bahasa Yunani saja yang berhasil diketemukan, walaupun ada pakar-pakar yang percaya bahwa sebagian dari Kitab ini mungkin disusun dalam bahasa Ibrani. Tidak adanya suatu versi dalam bahasa Ibrani adalah salah satu alasan mengapa sejumlah tradisi iman telah menolak dimasukkannya Kitab Kebijaksanaan ini dalam kanon Kitab Suci.

Dalam Kitab ini ada suatu proklamasi kenabian tentang bagaimana orang akan bereaksi terhadap “orang yang baik” di mana ketidakbersalahannya akan mengungkap dosa-dosa mereka (Keb 2:12). Dengan memproklamasikan dirinya sebagai anak Tuhan/Allah (Keb 2:13,16), maka orang-orang memandang-Nya sebagai suatu beban “sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah laku-Nya” (Keb 2:15). “Orang benar” ini akan mengalami aniaya dan siksa (Keb 2:19), dan dirinya pun akan dijatuhi hukuman mati keji (Keb 2:20). Sungguh suatu “ramalan” yang jitu bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap Yesus!

Dua ribu tahun kemudian, kita dapat bertanya apakah sikap-sikap manusia telah banyak berubah, dengan catatan bahwa sekarang kita telah mempunyai banyak kesaksian tentang siapa “orang benar” itu sebenarnya. Bukankah sekarang masih ada banyak orang yang memandang jalan-jalan/cara-cara Yesus sangat tidak nyaman, malah seperti beban saja? Bukankah banyak orang merasa takut bahwa diri mereka akan dilihat oleh orang-orang lain sebagai “orang aneh” jika mereka mencoba untuk hidup seturut ajaran-ajaran-Nya? Tentunya anda sekalian masih ingat bagaimana Santo Fransiskus dari Assisi diolok-olok dan diejek-diejek serta dipermalukan pada saat-saat dia memutuskan untuk mengikuti jejak Yesus Kristus? Demikian pula dengan banyak orang kudus lainnya. Memang mengikuti jejak Yesus mengandung “biaya pemuridan/kemuridan” yang tidak kecil. Atas dasar alasan inilah tidak sedikit orang yang meninggalkan diri-Nya atau batal mengikuti jejak-Nya.

Ada suatu peristiwa kecil yang saya alami sendiri di bandara Surabaya di tahun 1990an, ketika saya mau pulang ke Jakarta dari sebuah perjalanan dinas yang melelahkan. Di tempat itu saya berjumpa dengan beberapa teman anggota direksi sebuah bank milik keluarga Cendana. Kami ngobrol ke sana ke mari sambil jalan karena ternyata akan berada dalam flight yang sama. Ketika mereka mau masuk “lounge” khusus penumpang “business class” saya meneruskan jalan saya untuk menuju ruang tunggu penumpang kelas ekonomi yang ramai seperti pasar itu. Seorang dari mereka berseru dengan suara keras kira-kira begini: Kenapa naik economy class, kan lu direktur bank? Apakah bank elu mau bangkrut? Menanggapi “teriakan” itu saya hanya tersenyum dan melanjutkan jalan saya. Tidak sedikit orang yang mendengar teriakan sombong dari teman saya itu. Sebagai direktur-eksekutif sebuah bank swasta nasional, memang saya berhak untuk naik “business class” atau “first class”, tapi saya berupaya untuk mengikuti teladan kesederhanaan yang diberikan oleh Yesus dan orang-orang kudus-Nya, seperti bapak rohani saya, Santo Fransiskus. Waktu berjalan terus sampai saat datang krisis ekonomi. Bank teman saya itu ditutup, tetapi bank di mana saya bekerja masih tetap ada sampai hari ini. Pengalaman serupa tapi tak sama saya alami beberapa kali di tempat dan waktu yang berbeda.

Hikmat-kebijaksanaan khusus apakah yang dimiliki Yesus, sehingga memampukan diri-Nya untuk hidup secara berbeda dengan kebanyakan orang lain? Yesus begitu yakin akan kasih dan perlindungan Bapa-Nya, sehingga Dia mampu menemui orang-orang dan memberikan kasih Allah Bapa kepada mereka semua – bahkan mereka yang menentang-Nya, melawan-Nya, memusuhi-Nya, mendzolimi-Nya. Yesus adalah puncak kepenuhan nubuat sang nabi: “Aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes 50:7). Hikmat-Nya adalah buah dari pengenalan-Nya akan kasih Bapa surgawi, menaruh kepercayaan pada kasih itu, dan berkeinginan untuk membagikan kasih itu dengan setiap orang. Yesus tidak pernah goyah dalam menjalani panggilan-Nya untuk mewujudkan penebusan bagi kita semua.

Selagi kita semakin mengenal kasih Bapa surgawi bagi kita yang diwujudkan dalam kematian Yesus di kayu salib, kita semakin penuh menanggapi kehadiran Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, kita pun akan mulai mengenakan “pikiran Kristus” (1Kor 2:16; bdk. Flp 2:5). Diberdayakan oleh Roh Allah sendiri, kita pun akan mampu bertumbuh dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan kita, sang “Orang benar”.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh kepada-Mu karena Engkau sudi mati di kayu salib demi kami, sehingga kami dapat menerima kasih Bapa surgawi. Melalui Roh Kudus-Mu, penuhi diri kami dengan hikmat-Mu, ya Tuhan, karena kami sungguh ingin menjadi serupa dengan diri-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, April 02, 2014

ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 3 April 2014)

Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23

Dengan begitu banyak cara, Allah terus-menerus memberi kesaksian kepada kita tentang Putera-Nya – Yesus – agar supaya kita dapat datang kepada-Nya untuk menerima kepenuhan hidup. Allah mengetahui bahwa jika kita tidak datang kepada Yesus, maka kita akan tetap buta, bersikap masa bodoh, dan berjalan menuju kehancuran diri kita sendiri. Oleh karena itu Yesus berseru, “Datanglah kepadaku” (bdk. Yoh 5:40; Yes 55:3). Yesus memanggil kita melalui Gereja dan dalam Kitab Suci. Suara-Nya terdengar berulang-ulang melalui berbagai penyembuhan ajaib dan pewartaan penuh inspirasi dari para pelayan-Nya. Melalui bisikan Roh Kudus-Nya dalam batin kita, Yesus menyatakan kerinduan-Nya untuk berbicara kepada pikiran kita dan juga menembus hati kita dengan kesadaran akan kedosaan kita dan pengampunan dari Allah.

Allah senantiasa memanggil kita, dan Ia meminta agar kita menanggapi panggilan-Nya dengan iman, yang adalah “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Iman bersifat hakiki karena kehidupan yang ingin diberikan Allah tidaklah datang dari dunia ini – suatu kehidupan yang dapat kita lihat, kita rasakan dan kita sentuh. Kalau begitu, kehidupan dari mana? Kehidupan dari atas sana! Yesus bersabda: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh 8:23). Artinya, hal ini melampaui pemahaman manusia. Mengapa? Karena hati mereka tertuju pada hal-hal yang kelihatan, maka sulitlah bagi orang-orang Farisi untuk menerima kesaksian Allah tentang Yesus (lihat Yoh 5:43). Akan tetapi, apabila kita mempersiapkan hati kita untuk menerima kehidupan dari “atas”, maka kesaksian Allah tersebut akan bercahaya dalam diri kita.

Dalam upaya mereka untuk memahami hukum-hukum Allah, orang-orang Farisi mempelajari Kitab Suci secara intens (Yoh 5:39-40). Kadang-kadang kita dapat tergoda untuk mempelajari Kitab Suci dengan cara serupa, yaitu mengandalkan pada kekuatan intelektual dengan harapan bahwa melalui pemahaman kita, maka kita dapat memiliki kuasa Allah. Sebenarnya Allah meminta kita untuk cukup mengheningkan jiwa kita untuk memperkenankan sabda-Nya menembus hati kita. Allah ingin agar kita menerima hidup-Nya, tidak hanya memahami-Nya, karena jika kita menerima dari Dia sendiri, Dia akan memberdayakan kita untuk menyampaikan sabda-Nya kepada orang-orang lain.

Saudari dan Saudaraku, sekarang marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuka hati kita bagi semua hal yang memberi kesaksian tentang kemuliaan Yesus Kristus. Marilah kita belajar untuk mengheningkan pikiran kita, selagi kita berdoa agar kita dapat menerima “hal-hal yang tidak kelihatan” yang datang dari takhta Allah.

DOA: Yesus, kami datang menghadap hadirat-Mu dan mohon diberikan kehidupan. Transformasikanlah setiap aspek kehidupan kami dengan kehidupan ilahi-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menyembah-Mu dan juga memuliakan Bapa surgawi. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, April 01, 2014

SIAPAKAH YESUS INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 2 April 2014)


Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30)

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Bayangkanlah diri anda sebagai salah seorang Yahudi yang baru saja menyaksikan Yesus menyembuhkan orang lumpuh di dekat kolam Betesda. Mukjizat itu membuat anda merasa takjub dan sungguh menarik perhatian anda. Namun sekarang anda mendengar Yesus mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri yang “membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya”, serta menyebut diri-Nya sebagai Anak yang juga “menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” dan menerima wewenang dari Bapa untuk melakukan semua “penghakiman” atas manusia (Yoh 5:21-22). Tradisi Yahudi anda mengajarkan bahwa hanyalah Allah yang membangkitkan orang-orang mati, memberikan kehidupan dan juga menghakimi. Oleh karena itu anda mulai bertanya dalam hati, siapakah Yesus ini? Apakah Ia sungguh mengklaim diri-Nya sebagai Allah? Apakah Ia sang Mesias yang telah dijanjikan Allah? Ataukah Ia hanya seorang nabi palsu, seorang yang berpikiran tidak waras?

Pada zaman modern ini, sekitar 2.000 tahun setelah peristiwa ini terjadi, pertanyaan tentang “Siapakah Yesus ini?” masih ada. Perwahyuan melalui kuasa Roh Kudus, kesaksian dari kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi, bukti-bukti sejarah – semuanya menunjukkan kepada kita arah yang benar, namun tidak mengecualikan kita dari kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu bagi diri kita sendiri. Masing-masing kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah aku sungguh percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias (Kristus), Dia yang dijanjikan, Anak (Putera) Allah, Dia yang satu dengan Bapa? Apakah aku percaya bahwa Dia wafat dan bangkit dari antara orang mati seturut Kitab Suci dan sekarang Dia duduk di sebelah kanan Bapa? Apakah aku percaya bahwa Yesus ingin mensyeringkan hidup-Nya sendiri dengan diriku dan menjalin relasi pribadi dengan diriku melalui kuasa Roh Kudus-Nya.

Masa Prapaskah adalah masa untuk memusatkan perhatian kita secara baru pada kematian dan kebangkitan Yesus. Ini adalah masa bagi suatu pandangan segar pada ketaatan tanpa kompromi dari Yesus pada rencana Bapa surgawi untuk menyelamatkan dan menebus kita. Hanya dengan mempercayai sepenuh hati bahwa Yesus adalah menurut apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya sendiri, maka kita akan mulai memahami rencana besar keselamatan ini.

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita mengakui dengan lebih mendalam bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidup kita. Marilah kita juga mengungkapkan iman-kepercayaan kita bahwa Yesus adalah sungguh sang Juruselamat dan janji-janji-Nya benar. Marilah kita menggantungkan diri pada-Nya sepenuhnya, berharap pada-Nya saja. Yesus adalah sungguh andalan kita!

DOA: Yesus, Engkau adalah Putera Allah yang diutus oleh Bapa surgawi untuk membangkitkan orang-orang mati dan memberi kehidupan kepada mereka. Aku percaya bahwa Engkau hidup dan aktif dalam kehidupanku sekarang, dan bahwa pada suatu hari kelak aku akan berjumpa dengan Engkau – muka ketemu muka. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Mac 03, 2014

Renungan Pagi: Senin, 03 Maret 2014 Hari Biasa Pekan VIII

Renungan Pagi: Senin, 03 Maret 2014 Hari Biasa Pekan VIII: Senin, 03 Maret 2014 Hari Biasa Pekan VIII Damai dengan Tuhan diberikan kepada kita, jika barang-barang ciptaan dipakai secara tepat. (S...

Isnin, Disember 16, 2013

SILSILAH YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 17 Desember 2013)


Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17)

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Sampai berapa seringkah kita, kalau menjumpai suatu silsilah dalam Kitab Suci, kita mengabaikannya atau membacanya secara sekilas lintas saja, kemudian membaca cerita-cerita yang lebih menarik? Akan tetapi, dengan bertindak seperti itu kita dapat kehilangan kesempatan untuk melihat wawasan yang berkenaan dengan rencana Allah. Silsilah Injil Matius tentang Yesus tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang persiapan Allah berkaitan dengan kelahiran Putera-Nya, melainkan juga membuka pikiran kita bagi kemampuan indah dari Allah untuk mendatangkan kebaikan dalam segala macam situasi yang dihadapi.

Silsilah seturut Injil Matius – yang dimulai dengan Abraham – mengokohkan posisi Yesus dalam tradisi Yahudi. Sebaliknya, silsilah seturut Injil Lukas (lihat Luk 3:23-38) melacak asal-usul Yesus – mundur ke belakang – sampai Adam dan menekankan signifikansi Yesus secara universal. Matius membagi nama-nama dan sejarah Israel ke dalam tiga kelompok, dan ia mengakhiri setiap kelompok dengan suatu klimaks: Daud sebagai raja (Mat 1:6), pembuangan di Babel (Mat 1:11), dan kelahiran Yesus (Mat 1:16). Dengan menulis secara begini, Matius menunjukkan betapa hati-hati Allah mempersiapkan umat-Nya untuk kedatangan sang Mesias. Tidak ada sedikit pun detil yang luput dari perhatian-Nya.

Bila kita memperhatikan persiapan yang sangat cermat, kita dapat menjadi terkejut ketika menemukan bahwa tidak semua nenek moyang Yesus adalah orang-orang yang hidupnya patut dikagumi. Di samping menyebutkan nama-nama beberapa raja Yehuda yang jauh dari hidup saleh, Matius juga menyoroti beberapa insiden buruk-menjijikan dalam sejarah Israel: tipuan Tamar agar dapat mengandung anak dari bapak mertuanya Yehuda (lihat Kej 38), dan perselingkuhan Daud dengan istri Uria yang bernama Batsyeba (lihat 2Sam 11). Matius ingin membuat jelas bahwa rencana Allah tidak dapat diganggu oleh kelemahan manusia. Pada kenyataannya, Allah memang sering mengejutkan umat-Nya dengan menggunakan orang-orang yang dipandang lemah, miskin, atau tidak diinginkan.

Dimasukkannya individu-individu ini dalam silsilah Yesus seharusnya menyemangati kita. Ada sebuah tempat untuk setiap pribadi dalam rencana penyelamatan Allah. Kita tidak perlu menjadi manusia yang sempurna atau kudus secara khusus agar dapat digunakan oleh Allah! Kita masing-masing mempunyai peranan yang penting seturut siapa diri kita sebagai anak-anak yang dikasihi Allah, yang telah ditebus oleh Yesus. Marilah kita memegang kebenaran ini dalam hati kita. Yesus ingin memberikan kepada kita martabat besar dan rasa percaya dalam pelayanan kita bagi-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengkomit hidupku kepada-Mu. Ambillah setiap bagian dari hidupku – baik yang pantas maupun tidak pantas – dan gunakanlah diriku bagi kemuliaan-Mu untuk membawa Kerajaan-Mu ke tengah dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Disember 14, 2013

YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun A], 15 Desember 2013)

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh mudid-muridnya bertanya kepada-Nya, “Engkaulah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.”

Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan anginkah? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat ornag yang berpakaian haluskah? Orang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi, untuk apakah kamu pergi? Melihat nabikah? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih daripada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia. (Mat 11:2-11)

Bacaan Pertama: Yes 35:1-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:6-10; Bacaan Kedua: Yak 5:7-10

Salah satu peristiwa yang paling berkesan dalam seluruh sejarah Israel adalah “Keluaran” atau “Exodus”. Peristiwa keluaran ini mengkonfirmasi kasih Allah yang unik bagi satu bangsa ini dan menunjukkan determinasi-Nya untuk melindungi mereka. Manakala mereka merasa ragu akan kebaikan tanpa batas dari Allah, maka yang mereka lakukan adalah mengingat kembali peristiwa Exodus ini dan rasa percaya mereka yang suci kepada Allah dibangun kembali.

Yesaya juga sangat terkesan dengan peristiwa Exodus ini, namun dia lebih merasa takjub dengan apa yang akan terjadi di masa depan – kedatangan sang Mesias. Ia melihat peristiwa spektakuler ini sebagai suatu Exodus yang baru dan lebih besar dan sang Mesias sebagai pribadi yang baru dan lebih besar daripada Musa, yang akan memimpin orang-orang keluar dari perbudakan spiritual. Tidak hanya mereka yang terjerat oleh dosa, melainkan juga orang-orang buta dan tuli akan dibebaskan agar dapat menikmati kepenuhan hidup.

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus sama-sama sadar akan nubuatan optimistis dari nabi Yesaya. Jadi, ketika Yohanes Pembaptis – lewat para murid-Nya – mencari tahu tentang identifikasi-Nya, maka Yesus mengatakan kepada para murid Yohanes Pembaptis untuk pergi melapor kepada sang guru bahwa nubuat-nubuat nabi Yesaya sedang dipenuhi. Menanggapi pertanyaan para murid Yohanes, Yesus tidak mengeluarkan KTP-Nya (kalau ada pada waktu itu) dan menunjukkan KTP itu kepada para murid Yohanes: nama: Yesus dari Nazaret, tempat lahir: Betlehem, Yudea, pekerjaan: Mesias, dst. Yesus mengungkapkan apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya tentang Mesias ini: “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Yes 35:5-6,61:1). Singkatnya, sang Mesias yang dinanti-nantikan sejak lama itu akhirnya datang dan Exodus baru sekarang sedang bergerak maju.

Baik Yesaya maupun Yohanes tidak menyadari betapa lengkap “Musa Baru” akan menggantikan Musa yang lama. Siapakah yang mengira bahwa Yesus secara pribadi mempersembahkan diri-Nya sendiri untuk keselamatan umat-Nya?

Jadi, apabila kita mulai merasa ragu mengenai kasih-Nya yang unik bagi kita, maka kita hanya perlu mengingat salib yang penuh darah di bukit Kalvari dan kubur yang kosong. Dengan demikian, rasa percaya kita pada persahabatan-Nya dan kasih-Nya dibangun kembali. Tindakan penebusan-Nya begitu mendalam dan sungguh menggoncang bumi sehingga terus saja terasa getarannya di seluruh dunia sampai hari ini. Setiap hari kita dapat mendengar dan merasakannya, yang senantiasa mengundang kita masing-masing agar melangkah ke luar dari keterikatan dosa dan kegelapan dan masuk ke dalam suatu kebebasan baru dalam Kristus.

Liturgi masa Adven mengingatkan kita betapa pentingnya arti kedatangan Tuhan. Yohanes, seperti dikatakan oleh Yesus, adalah pribadi yang paling besar di hadapan-Nya. Namun kita masing-masing dapat lebih besar daripada Yohanes, karena kita adalah para penerima dari karunia yang jauh lebih sempurna.

Ya, memang begitulah, Yesus adalah Dia yang akan datang. Kita tidak perlu untuk mencari seorang pribadi yang lain. Setelah 20 abad lamanya, kita masih dapat mendengar dengan jelas sabda-Nya, dan masih terkesima dengan segala mukjizat-Nya dan penuh rasa syukur menerima sentuhan kesembuhan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diri kami dengan air hidup. Datanglah ke padang gurun kehidupan kami dan segarkanlah kami sehingga kami dapat menjadi tanda-tanda kehidupan-Mu bagi dunia. Dalam Engkau, kami menaruh kepercayaan dan tidak lagi merasa haus, karena Engkau adalah air kehidupan. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Disember 13, 2013

ELIA SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam-Pujangga Gereja – Sabtu, 14 Desember 2013)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13)

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19

Elia adalah nabi besar dari kerajaan utara Israel pada zaman pemerintahan Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel. Izebel menyembah ilah Baal dan telah menyuruh nabi-nabi Israel lainnya dibunuh (baca 1Raj 17:1 – 2Raj 2:13). Pelayanan nabi Elia termasuk penggandaan makanan dan membangkitkan orang mati (1Raj 17:7-24); hal mana dengan jelas menunjukkan kedaulatan “seorang” Allah yang benar.

Allah berbicara kepada Elia di Gunung Horeb (Sinai), seakan dia adalah seorang Musa baru yang akan memimpin orang-orang Israel meninggalkan kemurtadan mereka. Pentingnya nabi Elia dicerminkan dengan jelas ketika dia meninggalkan dunia dalam kereta berapi (2Raj 2:11-12). Pada zaman nabi kecil yang bernama Maleakhi [c.475 SM], orang-orang Yahudi mengharapkan nabi Elia (yang mereka percayai tidak pernah mati) akan datang kembali ke bumi dan berfungsi sebagai pembuka jalan dalam zaman Mesias: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 4:5-6). Kepercayaan bahwa nabi Elia akan datang ke bumi ini dicerminkan dalam Kitab Sirakh (Sir 4:1-11) dan dalam kitab Makabe yang pertama, di mana Matatias menjelaskan bahwa nabi Elia diangkat ke surga secara istimewa karena kegiatan-kegiatannya yang penuh semangat untuk Hukum Taurat (1Mak 2:58).

Pada hari ini dan selama dua ribu tahun sejak Yerusalem diporak-porandakan oleh pasukan Romawi pada tahun 70, orang-orang Yahudi di seluruh dunia memperingati Paskah, “keluaran” orang-orang Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Mereka menyediakan secangkir anggur untuk Elia dan membuka pintu rumah mereka bagi sang nabi untuk masuk, dalam antisipasi akan kedatangan sang Mesias. Pada makan Paskah, orang Yahudi akan berkata , “Tahun depan di Yerusalem”, mengkaitkan kedatangan Elia dengan penebusan nasional.

Komentar Yesus tentang Elia secara langsung berkaitan dan melanjutkan peristiwa transfigurasi, di mana Yesus tampil di hadapan Petrus, Yakobus dan Yohanes di atas gunung tinggi, bersama-sama dan bercakap-cakap dengan Musa dan Elia, dan Allah Bapa bersabda kepada mereka dari dalam awan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Ketika Yesus mengidentifikasikan Yohanes Pembaptis sebagai Elia (tidak secara literer/hurufiah, melainkan secara fungsional sebagai bentara Kristus/Mesias) yang telah diantisipasi oleh orang-orang Yahudi pada akhir zaman, Ia mengkonfirmasikan kata-kata Allah Bapa bahwa Dia – Yesus – adalah Yang Diurapi, Kristus (Ibrani: Meshiakh atau Mesias). Allah memegang kata-kata-Nya dengan memenuhi nubuat-nubuat Yahudi.

DOA: Bapa surgawi, penuh syukur kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus nabi-nabi seperti Musa, Elia dan Yohanes Pembaptis untuk memimpin kami kepada pertobatan dan kepada sang Mesias yang tidak hanya telah menebus Israel, melainkan juga seluruh dunia. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Disember 09, 2013

YESUS ADALAH GEMBALA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 10 Desember 2013)

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13

Kita dapat saja berpikir bahwa seorang gembala akan bersungut-sungut karena harus “membuang-buang” energi hanya untuk mencari seekor domba yang hilang. Namun hal ini bukanlah yang terjadi dengan sang gembala dalam perumpamaan Yesus. Gembala ini begitu berkomitmen pada setiap ekor dombanya sehingga dia ikhlas berlelah-lelah untuk menyelamatkan domba mana pun yang mengalami kesulitan atau hilang. Gembala ini pun akan merasa bahagia apabila domba yang mengalami kesulitan atau hilang itu dapat diselamatkan.

Para nabi Perjanjian Lama seringkali mengibaratkan TUHAN (YHWH) Allah sebagai seorang gembala dalam cara-Nya menjaga Israel: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanaan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Yesus juga menggunakan gambaran “gembala yang baik” bagi diri-Nya: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:11) dan mencari domba yang hilang (lihat Luk 15:4-5). Santo Gregorius Agung [540-604] menulis bahwa Yesus bahkan “memanggul domba di atas bahunya karena dengan mengambil kodrat manusia, Dia membebani diri-Nya dengan dosa-dosa kita.”

Inilah sesungguhnya makna terdalam dari ungkapan “Yesus adalah gembala kita semua”: Yesus menanggung sendiri dosa-dosa kita semua, bukan hanya segelintir orang yang mencoba untuk menjadi baik, atau sejumlah kecil orang yang telah memiliki kecenderungan-kecenderungan religius. Yesus tidak menolak orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus tidak menghindari orang-orang yang dipandang rendah oleh orang-orang “terhormat” pada zamannya. Yesus senantiasa mencari kesempatan untuk pergi mencari orang-orang berdosa dan hina dalam masyarakat pada waktu itu. Sebagai akibat dari perjumpaan orang-orang itu dengan Yesus, hidup mereka pun diubah secara dramatis.

Kita tentu masih ingat akan cerita tentang pertobatan Zakheus, bukan? (Luk 19:1-10). Kita pun tentunya tidak akan pernah melupakan cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11), dan cerita tentang seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, namun kemudian bertobat (Luk 23:42-43). Yesus minta kepada kita – para murid-Nya – agar mau ke luar menemui orang-orang seperti tiga orang yang disebutkan di atas. Yesus ingin kita untuk memberkati setiap orang yang kita jumpai, berdoa syafaat bagi mereka, dan mau menunjukkan kepada mereka bela-rasa-Nya bilamana ada kesempatan untuk itu. Teristimewa dalam masa Adven ini dengan segala macam pertemuan dalam lingkungan dlsb., kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk berinter-aksi dengan orang-orang yang memiliki latar-belakang berbeda-beda dengan diri kita sendiri. Kita harus berhati-hati agar jangan cepat-cepat menghakimi mereka, tetapi menyambut setiap orang ke dalam hati kita. Marilah kita memohon kepada Yesus agar mengirimkan “domba-domba yang hilang” kepada kita. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan menemukan diri kita semakin serupa dengan Dia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sudi menjadi Gembala yang Baik bagi kami. Selamatkanlah kami semua – domba-domba-Mu, sehingga tidak seorangpun dari kami akan terpisahkan dari-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Disember 05, 2013

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 6 Desember 2013)

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

“Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9:29).

Dua orang buta mendekati Yesus dengan suatu permintaan yang sederhana: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman, mereka dapat mengenali bahwa Yesus bukanlah rabi sembarang rabi, melainkan sang Mesias sendiri – ahli waris takhta Daud, Dia Yang Diurapi, yang telah datang untuk memenuhi janji-janji Allah kepada umat-Nya. Walaupun kebutaan fisik mereka telah menghalangi mereka untuk melihat Yesus, mereka biar bagaimana pun juga percaya kepada-Nya dari apa yang mereka dengar. Mereka berseru kepada Yesus karena mereka tahu betul bahwa Dia dapat menawarkan kepda mereka sesuatu yang tak dapat mereka menolaknya – kesembuhan dan suatu hidup baru. Menanggapi iman dua orang buta itu, Yesus menunjukkan kepada mereka kedalaman dari kasih Allah, memulihkan mereka tidak secara fisik saja, melainkan secara spiritual juga.

Yesus ingin kita mendekati diri-Nya dengan keyakinan yang sama seperti dua orang buta dalam bacaan Injil hari ini, yaitu dengan rendah hati memohon belas kasihan dan rahmat kepada-Nya. Apakah yang dapat menghalang-halangi diri kita untuk bertindak seperti dua orang buta tadi? Barangkali kemasabodohan, atau ketidakpercayaan, atau bahkan perasaan bahwa diri kita tidaklah pantas. Namun dalam hal ini Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan kematian (maut) sekali pun (lihat Rm 8:31-39).

Kadang-kadang kita dapat merasa bahwa kita tidak mempunyai iman yang cukup, iman yang menyebabkan Yesus ingin menjawab ketika kita berseru kepada-Nya. Kita menjadi semakin ciut-hati ketika kita mencoba mengerahkan iman yang lebih dan lebih lagi dengan mencoba berdoa secara lebih keras lagi. Untunglah Allah mengetahui kelemahan-kelemahan diri kita, malah lebih baik daripada kita sendiri mengenal semua itu. Dan, Allah senantiasa siap untuk memberikan kepada kita rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi sabda-Nya dengan penuh kepercayaan dan ketaatan.

Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam iman? Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan kepada kita bahwa iman adalah sepenuhnya satu anugerah rahmat yang diberikan Allah kepada manusia. “Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu” (KGK, 162). Jadi, iman tidak datang karena kita melihat, melainkan dengan mendengar sabda Allah, dengan dengan percaya bahwa sabda-Nya sungguh dapat diandalkan karena Allah-lah Pengarangnya yang asli.

Yesus ingin memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita dapat minta atau bayangkan. Yesus menginginkan keakraban atau keintiman dengan kita masing-masing. Ia ingin mencurahkan cintakasih-Nya dan bersahabat dengan kita semua. Santo Augustinus dari Hippo pernah berkata: “Allah mengasihi kita masing-masing seakan-akan hanya ada seorang saja dari kita untuk dikasihi”. Oleh karena itu, marilah kita semakin mendekat kepada Tuhan dalam masa Adven ini dengan ekspektasi penuh pengharapan bahwa Dia akan memenuhi janji-janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau dan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Disember 02, 2013

MEREKA PUN PERGI MEMBERITAKAN INJIL KE SEGALA PENJURU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam – Pelindung Misi – Selasa, 3 Desember 2013)

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20)

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini jikalau kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus: …… kelahiran-Nya, sengsara dan kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita-manusia dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem.

Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembali-Nya kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.

Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri. Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus berjalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Orang kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini, Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552), adalah contoh konkret dari seorang murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Dia mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke banyak penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pewartaannya juga disertai dengan berbagai kuasa Roh dan tanda heran. Berikut ini adalah cerita singkat dari orang kudus ini:

Fransiskus Xaverius. Bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897], S. Fransiskus Xaverius adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan Santo Fransiskus Xaverius. Semoga semangat kerasulannya berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, November 11, 2013

HIDUP YANG MERANGKUL SALIB KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir – Selasa, 12 November 2013)

Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.
Tetapi jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka. Menurut pandangan orang bodoh mereka mati nampaknya, dan pulang mereka dianggap malapetaka, dan kepergiannya dari kita dipandang sebagai kehancuran, namun mereka berada dalam ketenteraman. Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, namun harapan mereka penuh kebakaan. Setelah disiksa sebentar mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi diri-Nya. Laksana emas dalam dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya, lalu diterima bagaikan korban bakaran. Maka pada waktu pembalasan mereka akan bercahaya, dan laksana bunga api berlari-larian di ladang jerami. Mereka akan mengadili para bangsa dan memerintah sekalian rakyat, dan Tuhan berkenan memerintah mereka selama-lamanya, Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya. (Keb 2:23-3:9)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19; Bacaan Injil: Luk 17:7-10

“Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya” (Keb 3:9).

“Setia kepada Allah begitu sulit sekarang. Apakah sungguh ada artinya kesetiaan itu ketimbang upaya kita yang jatuh-bangun seperti ini?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang seringkali timbul dalam sebuah dunia yang didominir oleh kemajuan-kemajuan teknologi yang bersifat dramatis namun disertai dengan suatu kemerosotan tajam dalam nilai-nilai moral dan disintegrasi dalam kehidupan keluarga yang terus berlangsung. Umat beriman telah berjuang dengan isu ini selama ribuan tahun lamanya. Jadi, hal ini bukanlah sekadar suatu gejala zaman modern.

Para pembaca Kitab Kebijaksanaan – orang-orang Yahudi yang tinggal di Mesir pada abad pertama S.M. – juga bukan kekecualian. Kesetiaan senantiasa akan memperoleh ganjaran. Bahkan dalam pencobaan-pencobaan, bencana serta musibah lainnya seperti kematian, maka “jiwa orang benar ada di tangan Allah” (Keb 3:1) dan “dalam kasih akan tinggal pada-Nya” (Keb 3:9).

Memang cukup mudahlah untuk menjadi setia selama segala sesuatu berjalan menurut apa yang kita inginkan. Namun bagaimanakah halnya ketika kita sedang mengalami kesulitan hidup? Bagaimana kita bereaksi – walaupun sudah berupaya dengan sebisa-bisanya – ketika si Jahat kelihatannya memenangkan semua pertempuran? Akan tetapi, ketika menyadari bahwa perkara-perkara yang kita hadapi jauh lebih besar daripada yang dapat kita tangani sendiri, maka kita pun dapat berdoa tidak seperti sebelum-sebelumnya. Kita dapat mulai melihat berbagai tantangan dan kesulitan hidup sebagai kesempatan-kesempatan untuk mengandalkan Allah yang sangat setia pada sabda-Nya. Bila kita dapat melihat pencobaan-pencobaan yang kita alami sebagai sedikit pendisiplinan atas diri kita dalam perjalanan kita menuju perolehan anugerah yang besar dalam bentuk kehidupan kekal (Keb 3:5), maka kita dapat membuat pilihan-pilihan sulit yang “bodoh” di mata orang, andaikata Jesus tidak bangkit dari antara orang mati (lihat 1Kor 15:14).

Pertimbangkanlah keputusan-keputusan yang telah diinspirasikan oleh iman yang sedemikian dalam diri orang-orang Kristiani lainnya. Santo Paulus melepaskan segala sesuatu yang dahulu dipandangnya sangat berharga demi mengikuti Kristus, walaupun “Ya”-nya menyebabkan dirinya mengalami penolakan, penyiksaan, kapal yang karam, dijebloskan ke dalam penjara dlsb. (lihat 2Kor 11:16-33).

Pilihan-pilihan “bodoh” seperti ini bukanlah sekadar diperuntukkan bagi para pahlawan iman seperti Paulus. Banyak orang Kristiani memeluk “kebodohan salib” (lihat 1Kor 1:18) lewat cara-cara yang kelihatannya biasa-biasa saja. Pikirkanlah mereka yang telah kehilangan pekerjaan, namun secara teratur masih memberi kolekte yang diperuntukkan bagi kaum miskin, dan mereka dengan/dalam iman masih menaruh kepercayaan pada penyelenggaran ilahi. Bagaimana kiranya seseorang yang telah disakiti hatinya oleh seorang sahabatnya sendiri (atau oleh seorang saudari/saudara sekomunitas dengannya), misalnya lewat gosip dan fitnah, namun ia menanggapinya dengan doa-doa dan pengampunan, bukan dengan rasa benci dan kepahitan? Ada banyak contoh dari umat yang menjalani hidup yang merangkul salib Kristus. Setiap kasus kelihatan sebagai “kebodohan murni”, namun bagi mereka semua itu adalah berdasarkan janji-janji Kristus sendiri.

Kita menghadapi pilihan-pilihan serupa pada setiap tahap kehidupan kita. Dapatkah kita cukup percaya akan kebangkitan, sehingga kita memilih logika kasih Allah daripada logika dunia?

DOA: Bapa surgawi, aku menaruh kepercayaan kepada-Mu dan menyerahkan setiap kebutuhanku ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Curahkanlah hikmat-Mu ke dalam hidupku dan tolonglah aku agar mau dan mampu membuat pilihan-pilihan yang keras demi Engkau saja. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Oktober 05, 2013

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 6 OKTOBER 2013)

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepda hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk 17:5-10)

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Menurut Yesus, iman – betapa pun kecilnya – adalah kunci yang membuka kuasa dari surga. Kuasa ini, tentunya, bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita manipulasikan seturut keinginan atau kesukaan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menggambarkan hati dari orang-orang yang mengenal dan mengasihi Bapa-Nya: Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk 17:10).

Ide sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” pada awalnya tentu terasa keras. Apakah Yesus benar-benar menginginkan kita untuk merasa tidak berguna, tidak berarti? Bukan begitu! Allah menciptakan kita dalam kasih, dan Ia sendiri melihat kita “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai potret seorang hamba yang begitu berdedikasi kepada tuannya dan mencintai tuannya itu dengan mendalam, sehingga dia melayani dan sungguh menghormatinya. Hamba ini tidak puas dengan hanya melakukan “persyaratan minimum” tugas pekerjaannya, tetapi dia ikhlas untuk membuang segalanya demi menyenangkan tuannya.

Kerendahan hati atau kedinaan sedemikian – yang membuka kunci kuat-kuasa Allah dalam hidup kita – datang selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita dengan lebih mendalam lagi akan keagungan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang kita layani. Pernyataan/perwahyuan ini dapat mengubah hidup kita dan menggerakkan kita untuk memberikan keseluruhan hidup kita kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada kita dapat mencairkan hati kita: Dia mengetahui semua dosa dan kelemahan kita, namun Ia mengasihi kita secara lengkap dan tanpa syarat sedikit pun. Allah adalah Tuhan yang harus kita layani dengan penuh syukur dan kasih, bukan dengan rasa takut dan rasa benci terhadap diri kita sendiri karena dosa-dosa kita.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Hidup untuk Kristus akan menempatkan kita pada posisi yang sangat dekat dengan hasrat-hasrat-Nya. Sebagai akibatnya, doa-doa kita dan kata-kata kita akan mengalir dari kehendak-Nya dan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, keagungan-Mu memenuhi surga dan bumi, namun Engkau merendahkan diri-Mu demi menyelamatkan diriku dari maut karena dosa-dosaku. Engkau layak dan pantas untuk menerima semua afeksi dan ketaatanku. Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Oktober 02, 2013

MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Kamis, 3 Oktober 2013)

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Luk 10:1-12)

Bacaan Pertama: Neh 8:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Yesus menginginkan agar semua orang diselamatkan. Ini senantiasa menjadi hasrat hati-Nya yang terdalam, dan inilah alasan mengapa Dia mengutus para murid-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lukas merupakan satu-satunya pengarang Injil yang mencatat perjalanan misioner 70 (atau 72) orang murid Yesus ini. Kelihatannya Lukas ingin mengingatkan para pembaca Injilnya akan sifat misioner dari Gereja yang akan digambarkannya secara lebih lengkap dalam “Kisah Para Rasul”.

Malah ada sejumlah pakar Kitab Suci yang melihat adanya suatu keterkaitan antara jumlah murid yang diutus dan jumlah bangsa yang ada dalam dunia seturut ajaran para rabi abad pertama. Dalam “Kisah Para Rasul” tercatat bahwa sesaat sebelum Yesus diangkat ke surga, Dia mengatakan bahwa dengan kuasa Roh Kudus para murid-Nya akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan ‘sampai ke ujung bumi’” (Kis 1:8). Dengan demikian para murid akan mewartakan Injil kepada suatu perwakilan dari seluruh dunia.

Dalam hati-Nya, Yesus sangat mengetahui bahwa tuaian memang banyak, akan tetapi waktunya sangatlah singkat. Ada begitu banyak orang yang harus diperhatikan, begitu banyak yang perlu melihat tanda-tanda Kerajaan yang akan datang, sehingga Yesus mengutus para “duta”-Nya untuk mempersiapkan orang-orang agar dapat menerima karunia salib. Mereka tidak perlu meyakinkan orang-orang dengan berbagai argumen yang rumit-jelimet atau spekulasi yang tinggi-tinggi. Sebaliknya, mereka diminta untuk – dalam nama-Nya – menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang (Luk 10:17), dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Luk 10:9). Dengan demikian, tergantung pada setiap orang untuk memutuskan apakah menerima Yesus atau menolak-Nya.

Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam menjalankan misi mereka, mereka akan menghadapi perlawanan secara diam-diam dan/atau terang-terangan. Yesus mengutus mereka seperti “anak-anak domba ke tengah-tengah serigala” (lihat Luk 10:3). Akan tetapi, walaupun di tengah-tengah oposisi, pengejaran dan penganiayaan, mereka harus mendekati orang-orang dengan sebuah pengharapan yang didasarkan pada iman akan kebesaran tak-tertandingi dari kuat-kuasa Allah.

Bahkan pada hari ini, sementara kita menantikan tuaian akhir, Yesus masih saja memanggil kita untuk mewartakan Injil ke tengah-tengah dunia. Dengan kasih kita satu sama lain, dengan ketaatan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan dengan kata-kata yang kita ucapkan, kita dapat ikut ambil bagian dalam peranan murid-murid Yesus yang pertama sebagai duta-duta-Nya. Kita juga merupakan “pekerja-pekerja” yang ingin diutus oleh Yesus untuk menuai. Karena Kerajaan-Nya sedemikian berharga, marilah kita mengkomit diri kita untuk bekerja bagi Tuhan seturut panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata (hati) kami agar dapat melihat bahwa tuaian memang banyak. Utuslah kami, ya Tuhan, sebagai pekerja-pekerja-Mu. Amin.


Sdr. F.X. Indrapradja, OFS