Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Ahad, November 18, 2012

IMAN YANG MENYELAMATKAN


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 19 November 2012 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan (Ordo II/Klaris)



Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43)

Bacaan Pertama: Why 1:1-4;2:1-5a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Lukas merencanakan Injilnya seperti sebuah perjalanan menuju Yerusalem, kota suci di mana pengorbanan Yesus dan pemuliaan-Nya akan berlangsung. Dari kota inilah Kabar Baik Yesus akan menyebar ke seluruh dunia.

Kita tidak pernah boleh lupa bahwa perjalanan Yesus ke Yerusalem ini bertepatan dengan musim hari raya Paskah: banyak orang berjalan bersama dengan Yesus, para peziarah yang akan merayakan pesta “pembebasan Israel” itu. Malam terakhir untuk berhenti adalah di Yerikho sebuah kota yang jaraknya hanya 20 km dari Yerusalem. Di Yerikho inilah Yesus membuat dua mukjizat, yaitu mencelikkan mata seorang buta (Mrk 18:35-43) dan mempertobatkan seorang kepala pemungut cukai (Mrk 19:1-10).

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Cerita selanjutnya anda dapat membacanya sendiri. Sebuah peristiwa yang kelihatan terjadi secara kebetulan, namun peristiwa ini terjadi setelah Yesus mengumumkan sengsara-Nya untuk ketiga kalinya (Luk 18:31-34). Di situ Lukas mencatat dengan cukup tegas: “Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi8 bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan” (Luk 18:34)

Kita juga seperti orang buta yang duduk di pinggir jalan itu. Seperti para murid-Nya, kita “tidak mampu melihat”. Jadi, apabila kita mau memahami benar signifikansi dari “perjalanan ke Yerusalem” ini, maka Tuhan Yesus sendirilah yang harus memberikan kepada kita “mata yang baru”. Seperti si buta di Yerikho, kita pun dapat berseru: “Tuhan berikanlah iman kepada kami … cabutlah selaput di mataku yang menghalang-halangi kami memperoleh penglihatan-Mu atas peristiwa yang terjadi dan segala sesuatu lainnya.

Orang buta itu mendengar para peziarah menyanyikan “Nyanyian Ziarah” (Mzm 120-134) sesuai kebiasaan yang berlaku pada waktu itu. Ia bertanya, “Apa itu?”, artinya orang buta itu yang mengambil inisiatif. Mereka menjawab pertanyaannya: “Yesus orang Nazaret lewat”. Kata-kata sederhana “Yesus orang Nazaret” jarang dipakai para penulis Injil lain, namun Lukas menggunakannya sebanyak 8 kali dalam “Kisah para Rasul”.

Orang buta itu tidak menggunakan nama Yesus yang baru didengarnya, tetapi menggunakan nama “Yesus, Anak Daud” ketika dia berseru minta tolong kepada Yesus. “Anak Daud” adalah gelar mesianis yang diumumkan kepada Maria pada hari Yedus diperkandung oleh Roh Kudus: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya” (Luk 1:31-32). Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa seruan si orang buta itu adalah sebuah “Pernyataan Iman”. Banyak orang telah menyaksikan karya Yesus namun tetap buta sehubungan dengan identitas sesungguhnya dari Yesus. Sang Mesias yang diumumkan oleh nabi Yesaya adalah Dia yang membuat “mata orang-orang buta dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka” (Yes 35:5, Luk 4:18).

Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang buta itu kepada-Nya. Nyatalah bahwa sekarang Yesus menerima gelar kerajaan yang sebelum itu dilarang-Nya untuk digunakan (Mat 9:30). Mengapa begitu? Karena sengsara dan kematian-Nya sudah dekat … sudah di depan mata! Segala aspirasi politik dan nasionalisme yang ingin dihubungkan dengan diri Yesus oleh orang-orang di sekeliling-Nya jelas tidak diinginkan-Nya. Dia sedang berada dalam perjalan ke Yerusalem, bukan untuk merebut kekuasaan, melainkan untuk mati bagi kita semua.

Setelah mendengar permintaan si orang buta itu, kalimat terakhir dari Yesus dalam episode ini adalah: “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42). Lukas mencatat: “Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah”. Jadi, tidak seperti cerita orang kaya yang “gagal” menjadi pengikut Yesus karena banyak hartanya (lihat Luk 18:18-27), maka cerita si buta ini diakhiri dengan sebuah “happy ending”.

Santa Agnes dari Assisi [1198-1253] yang kita peringati pada hari ini adalah adik dari Santa Klara dari Assisi [1195-1253]. Puteri seorang bangsawan di kota Assisi, Agnes yang baru berumur 14 tahun meninggalkan kenyamanan dan kemewahan rumahnya untuk bergabung dengan sang kakak, hanya 16 hari setelah Klara meninggalkan rumah yang sama, untuk bergabung dengan si Kecil-Miskin dari Assisi, Fransiskus. Jejak kedua kakak-beradik ini kemudian diikuti oleh sang ibu, Ortolana, kemudian oleh puteri bungsunya Beatrice. Puteri tertua dari Ortolana yang bernama Penenda, mempunyai tiga orang anak perempuan, semuanya kemudian bergabung dengan tante-tante dan oma mereka di biara San Damiano, biara pusat Ordo Klaris. Santa Agnes diberikan tugas untuk membuka lima biara baru di Italia bagian utara. Dia kembali ke Assisi sebelum Santa Klara wafat. Agnes meninggal dunia tiga bulan kemudian (16 November 1253).

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku iman dan celikkanlah mataku juga sehingga – seperti orang buta di Yerikho – aku pun dapat mengikuti Engkau …… ke Salib! …… dan kepada Paskah kebangkitan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, November 16, 2012

SENANTIASA BERDOA DENGAN PENUH KETEKUNAN


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dari Hungaria – Sabtu, 17 November 2012 )
Keluarga Fransiskan: Pesta S. Elisabet dari Hungaria

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8)

Bacaan Pertama: 3Yoh 5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Apakah pandangan anda tentang Allah? Apakah anda melihat Dia sebagai seorang hakim yang tidak adil? Apakah anda pikir anda harus membujuk-Nya dulu sebelum Ia benar-benar mau memperhatikan anda? Betapa mudahlah bagi kita untuk menjadi salah paham tentang cara Allah bekerja! Betapa cepatnya kita mengembangkan persepsi-persepsi yang keliru berdasarkan cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita. Namun kebenaran yang sejati tetap tegak, yaitu bahwa Allah kita adalah Allah yang sangat mengasihi dan adil. Kita dapat mengandalkan Dia untuk memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan.

Hakim dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang hakim yang jahat dan tidak mengindahkan moralitas. Menurut Hukum Yahudi (Ul 24:17-22), si janda mempunyai hak untuk memohon pertolongan dari hakim tersebut. Pada kenyataannya, hakim itu harus memberikan prioritas atas permintaan si janda. Namun, sebaliknyalah yang terjadi: Bapak Hakim itu menolak terus permintaan si janda agar hak-haknya dibela olehnya sebagai hakim demi keadilan. Tetapi si janda tidak putus asa dan ia terus mendatangi Pak Hakim dengan permintaan yang sama, sehingga pada akhirnya pun Pak Hakim membenarkan/meluluskan permintaan si janda.

Berlawanan dengan sikap si hakim yang jahat itu, Allah kita itu mahaadil, mahasetia dan mahapengasih. Ada kemungkinan kita tidak memperoleh jawaban yang langsung atau instan terhadap doa-doa kita, namun kita tidak perlu khawatir dan putus-asa. Ada saat-saat di mana Allah menunda jawaban-Nya terhadap doa kita agar dapat mengajar kita bagaimana menaruh kepercayaan kepada-Nya. Ada kalanya juga jawaban yang kita pikir sebagai jawaban terbaik sebenarnya dapat menyakiti diri kita.

Memang tidak mudahlah untuk mempercayakan segala urusan kita kepada Allah. Kita tidak dapat mengharapkan untuk memahami mengapa dan bagaimana Allah memilih untuk menjawab doa-doa kita – karena kita tidak mengetahui tujuan-tujuan ilahi-Nya. Akan tetapi, kita dapat berpaling kepada Yesus dan memohon kepada-Nya agar menunjukkan cara/jalan untuk menaruh kepercayaan dan jalan ketaatan. Yesus sepenuhnya mempasrahkan hidup-Nya kepada Allah Bapa. Bahkan di tengah penderitaan fisik, emosional dan spiritual, Yesus dengan setia dan taat merangkul kehendak Bapa-Nya. Di taman Getsemani Yesus berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Luk 22:42). Paulus menulis tentang perendahan diri Yesus dan ketaatan-Nya kepada Bapa surgawi sampai mati di kayu salib. Sebagai akibatnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemulian Allah, Bapa! (Flp 2:6-11).

Kita semua dapat mengenal dan mengalami kasih Allah seperti Yesus. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berdoa dengan penuh ketekunan dan menanti untuk melihat bagaimana Allah akan menanggapi doa-doa kita dalam kasih. Allah sungguh mengasihi kita. Apabila ada sesuatu yang tidak bekerja seperti kita rencanakan, janganlah kita cepat-cepat merasa putus-asa atau mulai menggerutu, bahkan menyalahkan Allah. Marilah kita merenungkan teladan hidup Yesus sendiri dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Allah Bapa mempunyai pemikiran terbaik bagi Yesus dan tentu Ia juga mempunyai pemikiran yang terbaik bagi kita – walaupun dalam sikon-sikon paling sulit yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Sudah sepantasnyalah bagi kita untuk mempercayai Allah dan cara kerja-Nya. Yang jelas kasih-Nya kepada kita akan tetap ada, karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16).

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami apabila kami kadang-kadang berpikir bahwa Engkau telah berlaku tidak adil terhadap kami dan tidak mengasihi kami. Kami ini lemah dan tidak mampu memahami cara-cara atau jalan-jalan-Mu, ya Bapa. Tolonglah kami dalam kelemahan kami ini dan kuatkanlah kami selagi kami bertekun dalam doa kepada-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, November 15, 2012

APABILA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 16 November 2012 )

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37)

Bacaan Pertama: 2Yoh 4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,2,10-11,17-18

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, November 14, 2012

KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 15 November 2012 )
FMM: Pesta Wafatnya Beata Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25)

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah sekarang. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya, mata kita dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita. Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita.

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, November 13, 2012

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 14 November 2012 )
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: Tit 3:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah pelajaran tentang pengucapan syukur. Kelihatannya 9 dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus tidak mempunyai kebiasaan untuk berterima kasih kepada orang lain. Dari cerita Injil ini kita melihat 10 orang kusta itu baru saja menerima satu dari anugerah terbesar yang pernah diterima oleh mereka masing-masing. Barangkali kita dapat “memaafkan” mereka: “Ah, mereka begitu excited atas kesembuhan mereka yang begitu luarbiasa ajaib, sehingga apa yang dapat mereka pikirkan hanyalah melompat-lompat di atas gerobak sapi yang terdekat sambil ikut pulang ke rumah keluarga masing-masing.”

Reaksi Yesus sangatlah berbeda, dan Ia samasekali tidak berpikir seperti diuraikan di atas. Yesus hanya bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah hanya kalau kita sedang susah saja maka kita berpaling kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya? Apakah kata-kata dalam doa kita kepada-Nya hanya terdiri dari kata-kata permohonan? Lupakah kita bahwa kasih-Nya bagi kita dalam hal-hal “kecil” yang kita alami setiap hari, seperti udara segar, cahaya matahari yang menghangatkan, makanan, para teman dan sahabat, kehidupan itu sendiri?

Kita sebaiknya menyadari bahwa apa yang “hebat” tentang kehidupan kita bukanlah apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Apabila kita tidak menyadari hal ini, maka tidak mengherankanlah apabila kita luput menikmati kepenuhan sukacita dari rasa syukur. Sesungguhnya Yesus secara pribadi tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari 9 orang kusta yang disembuhkan itu. Yesus tetap akan survive tanpa ucapan terima kasih dari mereka. Jadi, ketika Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas sikap tidak tahu berterima kasih 9 orang tersebut, hal itu tidak berarti bahwa Dia bersedih karena tidak ada orang yang menghargai diri-Nya. Yesus sebenarnya merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka adalah para pecundang. Sukacita yang paling besar dari penyembuhan kebutaan mereka sebenarnya adalah terbukanya hati mereka, semakin dalamnya kasih mereka kepada Allah yang telah menyembuhkan mereka.

Jadi, mereka luput memperoleh kesembuhan yang lebih besar dan berkat yang lebih mendalam. Mereka luput memperoleh kedamaian batiniah dan sukacita dari suatu rasa syukur yang sejati.

DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, November 12, 2012

DEVOSI KERAHIMAN ILAHI




7 KARYA BELAS KASIH JASMANI


1.   Memberi makan kepada orang lapar
2.   Memberi minum kepada orang haus
3.   Memberi pakaian kepada orang telanjang
4.   Memberi tumpangan kepada orang dalam perjalanan
5.   Mengunjungi orang miskin
6.   Mengunjungi orang tahanan
7.   Menguburkan orang mati

7 KARYA BELAS KASIH ROHANI

1.   Mengajar
2.   Memberi Nasihat
3.   Menghibur
4.   Memberikan Pengharapan
5.   Mengampuni
6.   Menanggung dengan sabar hati
7.   Mendoakan mereka yang hidup dan mati



DOA JAM KERAHIMAN
( Jam 3.00 Petang )

Ya Yesus, Engkau telah wafat,
namun sumber kehidupan telah memancar bagi jiwa-jiwa dan terbukalah lautan kerahiman bagi segenap dunia. 0 Yesus, Sumber Kehidupan, kerahiman Ilahi yang tak terselami, naungilah segenap dunia dan curahkanlah diri-Mu pada kami.

Darah dan air yang memancar keluar dari Hati Yesus Yang Maha Kudus, sebagai sumber kerahiman bagi kami, aku mempercayai-Mu. ( 3x )

DOA KORONKA KERAHIMAN ILAHI

Koronka dibuka dengan doa :
Bapa Kami           ( 1x )
Salam Maria         ( 1x )
Aku Percaya        ( 1x )

Pada manik ‘Bapa Kami’ Rosari biasa, diucapkan doa berikut ini :
Bapa Yang Kekal, kupersembahkan pada-Mu: Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allah-an Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia.

Pada manik ‘ Salam Maria’ Rosari biasa, diucapkan doa berikut :
Karena sengsara-Nya yang menyedihkan,
kasihanilah kami dan seluruh dunia.        ( 10x )

Koronka di tutup dengan doa :
Allah Yang Kudus, Kudus dan Berkuasa, Kudus dan Kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia  ( 3x )

DEMI PERTOBATAN ORANG-ORANG BERDOSA

Ya Yesus, Kebenaran kekal, Hidup kami, aku berseru kepada-Mu, mohon belas kasih-Mu bagi orang-orang berdosa yang malang. Ya Hati Tuhan-ku yang termanis, yang berlimpah kasih sayang dan belas kasih yang tak terhingga, aku mohon dengan sangat kepada-Mu demi orang-orang berdosa. Ya, Hati Yesus yang Mahakudus, Sumber Belas Kasih yang daripadanya memancar berkas-berkas rahmat yang tak terselami atas segenap umat manusia, aku mohon pada-Mu terang bagi para pendosa yang malang. Ya Yesus, ingatlah akan Sengsara-Mu Sendiri yang pahit, jangan biarkan hilang jiwa-jiwa yang telah Engkau tebus dengan harga yang tak ternilai, DarahMu yang Mahasuci.

Ya Yesus, apabila aku merenungkan nilai tak terkira Darah Mahasuci, aku bersukacita atas daya kuasanya, sebab setetes saja akan cukup bagi keselamatan segenap orang-orang berdosa. Meski dosa adalah jurang kekejian dan kedurhakaan, harga yang telah dibayarkan bagi kami jauh melampauinya. Sebab itu, biarlah kiranya setiap jiwa mengandalkan Sengsara Yesus dan menempatkan pengharapannya pada belas kasih-Nya. Tuhan tak akan mengingkari belas kasih-Nya bagi siapa pun. Langit dan bumi akan lenyap, tetapi belas kasih Allah tak akan berkesudahan. Oh, betapa sukacita hebat menyala-nyala dalam hatiku apabila aku merenungkan kebajikan-Mu yang melampaui segala pengertian kami, ya Yesus! Aku rindu membawa segenap orang berdosa ke hadapan kaki-Mu agar mereka dapat memuliakan kerahiman-Mu sepanjang kekekalan masa (72).

Ahad, November 11, 2012

SEKALI LAGI: MENGAMPUNI !!!


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 12 November 2012)
Peringatan: Santo Yosafat, Uskup dan Martir

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6)

Bacaan Pertama: Tit 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Ketika seorang eksekutif perusahaan – katakanlah namanya Franky – mendengar bahwa rekan kerjanya yang bernama Brutus baru saja terserang penyakit kanker serius, ia merasakan bahwa barangkali Tuhan menginginkan dirinya mengunjungi Brutus di rumah sakit dan menghiburnya. Akan tetapi kemudian muncul dalam ingatannya bahwa Pak Brutus ini beberapa tahun yang lampau pernah berbicara buruk tentang dirinya (di belakang punggungnya) sehingga Franky kehilangan kesempatan untuk sebuah promosi untuk menduduki jabatan sangat penting dalam perusahaan. Sebenarnya Franky telah melupakan peristiwa atau insiden itu, namun berita tentang jatuh sakitnya Pak Brutus ini mendatangkan kembali penolakan yang selama ini telah ditekannya. Pada saat itu Franky menyadari bahwa sekali lagi dia harus mematuhi perintah Allah untuk mengampuni Pak Brutus – tujuh puluh kali setiap hari – kalau memang diperlukan.

Memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang-orang lain, teristimewa mereka yang menyakiti hati kita secara mendalam, telah memperlakukan kita dengan tidak adil, telah mendzolimi kita. Akan tetapi, kita harus selalu mengingat tiga alasan besar mengapa kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita itu. Pertama-tama, Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mengampuni. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, bahkan mengampuni mereka lagi dan lagi (bdk. Mat 18:22). Akan tetapi seperti halnya Franky, kita pun dapat menilai bahwa “dosa/kesalahan” orang lain itu kepada kita begitu besarnya – dan luka-luka yang diakibatkan oleh orang lain itu begitu sakitnya – untuk dapat kita ampuni. Pada tingkatan ini, ingatlah bahwa Yesus tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang kita tidak dapat lakukan. Sederhana saja: Kita harus belajar bagaimana mengampuni.

Kedua, adalah baik bagi kita untuk mengampuni. Dengan mengampuni orang lain, kita membuat diri kita terbebaskan dari kepahitan yang merusak, yang menggerogoti hati kita, bahkan yang dapat menjadi sedemikian kuat sehingga membawa dampak buruk atas kesehatan kita. Dengan mengampuni, kita membiarkan pergi segala beban penolakan yang sedemikian. Jangan pula kita melupakan salah satu Sabda Bahagia Yesus: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7).

Ketiga, belas kasihan dan pengampunan kita dapat juga mengubah hati orang-orang lain. Apabila kita memperlakukan seseorang dengan respek dan penuh martabat – walaupun orang itu telah menyakiti hati kita – maka kita dapat membantu melunakkan hatinya. Siapa tahu? Mungkin saja pengampunan kita akan menggerakkan orang itu menjadi berbelas kasihan juta, menyebabkan terjadinya reaksi-berantai yang melibatkan lebih banyak orang lain lagi!

Jadi, apa kiranya pendapat Saudari dan Saudara? Mungkinkah bagi kita (anda dan saya) untuk mengambil satu langkah lebih dekat lagi dengan panggilan Yesus untuk menjadi berbelaskasihan seperti diri-Nya? Dapatkah kita memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita bela rasa sedikit lebih lagi? Tidak perlulah untuk segalanya diperoleh sekaligus, tetapi dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit namun mantap.

DOA: Tuhan Yesus, hati-Mu penuh berlimpah dengan belas kasihan yang tanpa batas. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti diri-Mu, yaitu dalam hal mempraktekkan belas kasihan dan pengampunan kepada semua orang yang bersalah kepadaku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, November 07, 2012

DUA BUAH PERUMPAMAAN YESUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 8 November 2012 )
KFS: Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10)

Bacaan Pertama: Flp 3:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Dua buah perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini terdengar begitu familiar di telinga kita. Ya, ya, akhirnya si gembala menemukan kembali dombanya yang hilang dan perempuan itu pun menemukan kembali dirhamnya yang sempat hilang. Para malaikat dan orang kudus di surga pun bersukacita. Tentunya Allah sendiri juga bersukacita. Yesus, Tuhan segenap ciptaan juga penuh sukacita. Roh Kudus, Allah sendiri, juga bersukacita atas setiap pendosa yang bertobat, atas diri kita masing-masing.

Ada satu hal lagi. Dalam perumpamaan-perumpamaan ini Yesus menceritakan sesuatu yang luarbiasa tentang diri-Nya. Yesus sendirilah gembala dalam perumpamaan itu, yang pergi meninggalkan 99 ekor dombanya di padang gurun, hanya untuk mencari seekor domba yang hilang. Yesus juga adalah perempuan yang mencari dengan cermat ke sana ke mari di dalam rumahnya sekeping dirham miliknya yang hilang … sampai ditemukan kembali. Apa artinya? Yesus tidak hanya duduk-duduk di atas takhta-Nya di surga sambil mengetuk-ngetukkan jari-jarinya pada bagian lengan takhta-Nya sampai kita sadar dan kembali kepada-Nya. Dia terus berupaya memanggil kita kembali kepada-Nya. Dan apabila kita membutuhkan pertolongan, maka Yesus sendirilah yang datang bergegas menyelamatkan kita.

Yesus itu senantiasa bergairah terhadap kita semua. Kita tahu bahwa Dia sangat mengasihi kita masing-masing dan Ia mengambil semua dosa kita dan untuk itu harus menderita dan mengalami kematian pada kayu salib bagi kita. Jadi, haruskah kita mengandaikan bahwa setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, Yesus menjadi kurang bergairah terhadap diri kita? Apakah kiranya mungkin, sekarang setelah Dia tidak lagi secara fisik ada di tengah-tengah kita, Yesus menjadi kurang intens dan kurang bergairah untuk bersekutu dengan kita? Tentu saja tidak!

Memang mudah bagi kita untuk berpikir bahwa kita “berdikari” sehingga dengan demikian kita dapat berjalan sendiri dan melakukan segala sesuatu sebaik-baiknya … sendiri pula. Kehidupan kita dapat memberi kesan biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang istimewa, sehingga kita mengandaikan bahwa Allah sebenarnya tidak mengindahkan kita … tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan diri kita. Dalam hal ini kita harus tidak pernah melupakan janji yang dibuat oleh Yesus sebelum akhir hidup-Nya di dunia: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh 14:18).

Allah mengasihi kita dengan mendalam, dengan intens, dan Ia memperhatikan domba-domba-Nya yang hilang, bahkan domba-domba yang bersikeras tidak ingin bertobat. Allah juga ingin menemukan kembali setiap “uang dirham”-Nya yang hilang. Oleh karena itu marilah kita hidup dengan penuh pengharapan, bertekun dalam doa-doa kita – teristimewa bagi sesama kita yang hidup jauh dari jalan Tuhan.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya kepada janji-Mu bahwa Engkau tidak akan meninggalkan satu pun dari para saudari dan saudara yang sedang berada jauh dari jalan-Mu. Carilah mereka yang hilang, ya Tuhan, dan selamatkanlah mereka. Panggillah mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat lagi mengabaikan Engkau. Temukanlah mereka, ya Tuhan. dan kumpulkanlah mereka di dekat-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, November 06, 2012

KESAKSIAN CATALINA MENGENAI MISA KUDUS


Dalam suatu katekese yang mengagumkan, Tuhan dan Santa Perawan Maria mengajarkan kepada kita, pertama-tama, mengenai bagaimana berdoa Rosario Suci, berdoa dengan hati kita, merenungkan serta menikmati saat-saat perjumpaan kita dengan Tuhan dan Bunda Maria. Mereka juga mengajarkan kepada kita bagaimana Mengaku Dosa dengan baik, dan [dalam kesaksian ini], Mereka menunjukkan kepada kita apa yang terjadi sepanjang Misa Kudus dan bagaimana mengalaminya dengan hati kita.

Inilah kesaksian yang harus dan ingin aku berikan kepada seluruh dunia, demi Kemuliaan Tuhan yang terlebih lagi dan demi keselamatan mereka semua yang mau membuka hati bagi Dia. Kesaksian ini diberikan agar begitu banyak jiwa yang dikonsekrasikan kepada Tuhan dapat mengobarkan kembali api kasih mereka kepada Kristus; mereka yang mempunyai tangan-tangan yang memiliki kuasa untuk mendatangkan Kristus ke dunia untuk menjadi santapan kita [jiwa-jiwa para imam] dan mereka yang lainnya [jiwa-jiwa religius] agar mereka terlepas dari kebiasaan menyambut Dia sebagai suatu “praktek rutinitas” dan menghidupkan kembali kekaguman dari perjumpaan setiap hari dengan sang Kasih. Kesaksian ini diberikan agar saudara dan saudariku kaum awam di segenap penjuru dunia dapat mengalami Mukjizat teragung, perayaan Ekaristi Kudus, dengan hati mereka.

Kala itu vigili Hari Raya Kabar Sukacita dan anggota kelompok kami dan aku pergi menyambut Sakramen Rekonsiliasi. Sebagian perempuan dari kelompok doa tidak dapat menyambut sakramen saat itu, dan mereka menunda Tobat mereka hingga keesokan harinya sebelum Misa Kudus.

Ketika aku tiba di gereja keesokan harinya, sedikit terlambat, Yang Mulia, Uskup Agung dan para imam telah keluar dari sakristi. Dengan suara yang lemah lembut dan feminin yang menenangkan jiwa, Santa Perawan Maria mengatakan:

“Hari ini adalah hari pelajaran bagimu; dan aku ingin engkau memperhatikan dengan seksama sebab semua yang engkau saksikan pada hari ini, semua yang engkau alami pada hari ini; harus engkau bagikan kepada segenap umat manusia.” Aku terpana dan tidak mengerti [arti kata-katanya], tetapi aku berusaha memperhatikan dengan amat seksama.

Hal pertama yang aku cermati adalah suatu paduan suara yang sangat indah merdu yang bernyanyi seolah dari kejauhan. Terkadang musik datang mendekat dan kemudian pergi menjauh, seperti suara angin.

Uskup Agung memulai Misa, dan ketika beliau tiba pada Ritus Tobat, Santa Perawan mengatakan,

“Dari lubuk hatimu, mohonlah pengampunan Tuhan atas segala kesalahanmu karena telah menyakiti-Nya. Dengan demikian, engkau akan dapat berpartisipasi dengan pantas dalam hak istimewa ini, yakni ikut ambil bagian dalam Misa Kudus.”

Pastilah terlintas dalam benakku: “Tetapi, aku dalam keadaan rahmat. Aku baru saja pergi mengaku dosa semalam.”

Ia menjawab: “Apakah kau pikir engkau tidak menyakiti Tuhan sejak tadi malam? Mari aku ingatkan engkau akan beberapa hal. Ketika engkau berangkat untuk datang kemari, gadis yang membantumu datang untuk meminta sesuatu, dan karena engkau terlambat, engkau menjawabnya dengan tergesa dan tidak dengan cara yang terbaik. Kurang belas kasih dari pihakmu, dan engkau mengatakan bahwa engkau tidak menyakiti Tuhan…?

Dalam perjalanan kemari, sebuah bis melintas di jalurmu dan nyaris menabrakmu. Engkau mengekspresikan diri dengan suatu cara yang tidak pantas terhadap laki-laki malang itu, dan bukannya mengucapkan doa-doamu dan mempersiapkan diri untuk Misa. Engkau memperlihatkan kurangnya belas kasih dan engkau kehilangan damai dan kesabaran. Dan engkau mengatakan bahwa engkau tidak melukai Tuhan…?  

Engkau tiba di menit-menit terakhir ketika prosesi selebran menuju Altar telah dimulai… dan engkau akan ikut ambil bagian dalam Misa tanpa persiapan terlebih dahulu….”

“Baiklah, Bunda-ku, jangan katakan lagi padaku,” jawabku. “Engkau tak perlu mengingatkanku akan lebih banyak hal lagi, sebab aku akan mati karena sedih dan malu.”

“Mengapakah kalian semua harus tiba di saat-saat terakhir? Kalian seharusnya tiba lebih awal agar kalian dapat memanjatkan doa dan memohon Tuhan untuk mengutus Roh KudusNya, agar Roh Kudus menganugerahi kalian roh damai dan membersihkan kalian dari roh duniawi, kekhawatiran, masalah dan distraksi agar kalian dapat mengalami saat yang begitu sakral ini. Tetapi, engkau tiba nyaris ketika perayaan hendak dimulai, dan engkau ikut ambil bagian dalam Misa seolah Misa adalah suatu peristiwa biasa, tanpa ada persiapan rohani. Mengapa? Misa adalah Mukjizat teragung. Engkau akan mengalami saat ketika Allah yang Mahatinggi memberikan anugerah-Nya yang teragung, dan engkau tidak menghargainya.”

Cukuplah. Aku merasa begitu sedih hingga aku memiliki lebih dari cukup untuk memohon pengampunan dari Tuhan. Bukan saja untuk pelanggaran-pelanggaran hari itu, tetapi juga untuk setiap kali ketika, sama seperti banyak orang lainnya, aku menunggu imam selesai menyampaikan homili sebelum memasuki gereja. Aku memohon pengampunan untuk setiap kali ketika aku tidak tahu atau menolak untuk mengerti apa artinya berada di sana, dan untuk setiap kali mungkin, ketika jiwaku penuh dengan dosa-dosa yang lebih serius, dan aku berani ikut ambil bagian dalam Misa Kudus.

Hari itu adalah Hari Raya, dan Gloria didaraskan. Bunda Maria mengatakan: “Muliakanlah dan luhurkanlah Tritunggal Mahakudus dengan segenap kasihmu, dalam pengenalan diri sebagai makhluk ciptaan Tritunggal.”  

Betapa berbedanya Gloria itu! Sekonyong-konyong aku melihat diriku sendiri di suatu tempat nun jauh yang dipenuhi cahaya, di hadapan Hadirat Agung Tahta Allah. Dengan luapan kasih aku mengucap syukur kepada-Nya, sementara aku mengulang: “Karena Kemuliaan-Mu yang besar, kami memuji Dikau, kami meluhurkan Dikau, kami menyembah Dikau, kami memuliakan Dikau, kami bersyukur kepada-Mu, Ya Tuhan Allah, Raja Surgawi, Allah Bapa yang Mahakuasa.” Dan aku terkenang akan wajah kebapaan Allah Bapa, penuh belas kasihan…. “Ya Tuhan Yesus Kristus, Putra tunggal Bapa, ya Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Engkau yang menghapus dosa dunia….” Dan Yesus ada di hadapanku, dengan wajah penuh kelembutan dan belas kasihan…. “hanya Engkau-lah kudus, hanya Engkau-lah Tuhan, hanya Engkau-lah Mahatinggi, ya Yesus Kristus, bersama dengan Roh Kudus…” Allah Kasih yang menawan. Ia, yang pada saat itu, memenuhi seluruh keberadaanku dengan sukacita….

Dan aku memohon: “Tuhan, bebaskanlah aku dari segala yang jahat. Hatiku adalah milik-Mu. Tuhan-ku, berilah aku damai-Mu agar aku beroleh sebanyak mungkin manfaat dari Ekaristi ini dan agar hidupku boleh menghasilkan buah-buah terbaik. Roh Kudus Allah, ubahlah aku, bertindaklah dalam aku, bimbinglah aku. Ya Tuhan, anugerahilah aku karunia-karunia yang aku butuhkan demi melayani-Mu dengan terlebih baik…!”

Saat Liturgi Sabda tiba, dan Santa Perawan Maria memintaku mengulangi: “Tuhan, pada hari ini aku hendak mendengarkan Sabda-Mu dan menghasilkan buah melimpah. Kiranya Roh KudusMu mempersiapkan ladang hatiku agar Sabda-Mu dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Tuhan, murnikanlah hatiku agar tertuju pada-Mu.”

Bunda Maria mengatakan: “Aku ingin engkau mendengarkan dengan seksama bacaan-bacaan dan seluruh homili imam. Ingat bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa Sabda Tuhan tidak akan kembali tanpa menghasilkan buah. Apabila engkau mendengarkan dengan seksama, sesuatu dari semua yang telah engkau dengarkan akan tinggal dalammu. Berusahalah untuk mengingat sepanjang hari, Sabda yang berkesan bagimu. Terkadang, itu dapat berarti dua ayat; terkadang bacaan dari seluruh Injil, atau mungkin hanya satu kata saja. Resapkanlah Sabda itu sepanjang hari dan maka ia akan menjadi bagian darimu, sebab demikianlah caranya untuk mengubah hidup seseorang, dengan membiarkan Sabda Tuhan mengubahmu.

Dan sekarang, katakan kepada Tuhan bahwa engkau ada di sini untuk mendengarkan, bahwa engkau rindu Ia berbicara kepada hatimu pada hari ini.”  

Sekali lagi aku mengucap syukur kepada Tuhan sebab telah memberiku kesempatan untuk mendengarkan Sabda-Nya. Dan aku mohon pada-Nya untuk mengampuniku karena hatiku yang keras kaku selama bertahun-tahun, dan karena mengajarkan kepada anak-anakku bahwa mereka harus pergi ke Misa pada hari Minggu karena demikianlah yang diperintahkan oleh Gereja dan bukan karena kasih, karena kebutuhan untuk dipenuhi oleh Tuhan….

Karena aku, yang telah menghadiri begitu banyak Perayaan Ekaristi, terutama demi memenuhi suatu kewajiban, dan dengan demikian percaya bahwa aku diselamatkan; pikiran untuk mengalami perayaan tidak pernah terlintas dalam benakku, apalagi memberikan perhatian pada bacaan-bacaan ataupun homili imam!

Betapa kesedihan hebat aku rasakan atas begitu banyak tahun yang hilang sia-sia akibat keacuhanku!... Betapa dangkal kehadiran kita dalam Misa apabila kita pergi hanya karena itu adalah Misa perkawinan atau Misa arwah atau karena kita ingin bermasyarakat! Betapa suatu kebodohan besar mengenai Gereja kita dan Sakramen-sakramen! Betapa banyak kita membuang-buang waktu dalam berusaha mendidik diri dan menjadi beradab mengenai hal-hal duniawi, hal-hal yang dapat lenyap dalam sekejap tanpa meninggalkan suatu apapun bagi kita. Hal-hal yang, di akhir hidup kita, bahkan tidak dapat berguna untuk menambahkan barang semenit saja dari masa keberadaan kita!Namun demikian, kita sama sekali tak tahu menahu mengenai hal-hal yang akan mendatangkan bagi kita suatu cicipan Surgawi di bumi dan pada akhirnya, kehidupan kekal. Dan kita menyebut diri sebagai laki-laki dan perempuan beradab…!

Beberapa waktu kemudian tiba saat Persembahan, dan Santa Perawan mengatakan: “Berdoalah seperti ini: [dan aku mengulanginya] Tuhan, aku persembahkan segala keberadaanku, segala milikku, segala kemampuanku. Aku letakkan semuanya ke dalam Tangan-Tangan-Mu. Ubahlah aku, ya Tuhan yang Mahakuasa, melalui jasa-jasa PutraMu. Aku berdoa bagi keluargaku, bagi para penderma, bagi setiap anggota Apostolate kami, bagi semua orang yang menentang kami, bagi mereka yang mempercayakan diri mereka pada doa-doaku yang miskin.... Ajarilah aku untuk meletakkan hatiku di atas tanah di hadapan mereka, agar jalan mereka dapat berkurang beratnya…. Demikianlah para kudus berdoa; demikianlah aku menghendaki kalian semua berdoa.”  

Dan demikianlah Yesus meminta kita berdoa, agar kita meletakkan hati kita di atas tanah agar mereka [bagi siapa kita berdoa] tidak merasakan beratnya, melainkan kita mendatangkan kelegaan bagi mereka melalui sakit yang diakibatkan kaki mereka yang menapaki hati kita. Bertahun-tahun kemudian, aku membaca sebuah booklet doa tulisan seorang kudus yang amat aku kasihi, José Maria Escrivá de Balaguer, dan dalam booklet itu aku mendapati sebuah doa serupa dengan yang diajarkan Santa Perawan Maria kepadaku. Mungkin orang kudus ini, kepada siapa aku mempercayakan diriku, menyenangkan hati Santa Perawan dengan doa-doa tersebut.

Sekonyong-konyong, beberapa figur yang tidak aku lihat sebelumnya, mulai berdiri. Seolah dari sisi setiap orang yang hadir di Katedral, muncul seorang lainnya; dan segera saja Katedral dipenuhi oleh makhluk-makhluk muda yang menawan. Mereka mengenakan jubah yang sangat putih bersih; mereka mulai bergerak ke lorong tengah gereja, dan lalu menuju Altar.

Bunda Maria mengatakan: “Lihatlah. Mereka adalah Malaikat Pelindung dari setiap orang yang ada di sini. Inilah saat di mana para malaikat pelindung kalian menyampaikan persembahan dan doa-doa kalian di hadapan Altar Tuhan.”

Kala itu, aku sama sekali takjub sebab makhluk-makhluk ini memiliki wajah yang begitu menawan, begitu bercahaya seperti yang tak pernah dibayangkan orang. Wajah mereka begitu rupawan, nyaris tampak sebagai wajah feminin; tetapi, struktur tubuh mereka, tangan dan juga tinggi mereka maskulin. Kaki mereka yang telanjang tidak menyentuh lantai, melainkan mereka seolah meluncur. Arak-arakan itu sungguh amat indah.      

Sebagian dari mereka membawa sesuatu serupa sebuah mangkok emas dengan sesuatu [di dalamnya] yang bersinar cemerlang dengan cahaya putih keemasan. Santa Perawan Maria mengatakan: “Lihatlah. Mereka adalah para Malaikat Pelindung dari orang-orang, yang mempersembahkan Misa Kudus ini untuk banyak intensi, mereka yang sadar akan makna dari perayaan ini, mereka yang mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan….

Persembahkanlah diri kalian pada saat ini…. Persembahkanlah penderitaan, sakit, harapan, kesedihan, sukacita kalian. Haturkanlah permohonan-permohonan kalian. Ingatlah bahwa Misa mengandung nilai yang tak terhingga. Sebab itu, bermurah-hatilah dalam persembahan dan dalam permohonan.”

Di belakang para Malaikat yang pertama, datang malaikat-malaikat lain tanpa suatupun di tangan mereka; mereka datang dengan tangan kosong. Santa Perawan mengatakan, “Mereka adalah para Malaikat dari orang-orang yang, meski ada di sini, tetapi tidak pernah mempersembahkan apapun. Mereka tidak mempunyai minat untuk mengalami setiap saat liturgis Misa, dan para malaikat mereka tidak mempunyai persembahan untuk dihaturkan di hadapan Altar Allah.”  

Di akhir prosesi, datang pula malaikat-malaikat lain yang tampak sedih, dengan tangan mereka terkatup dalam doa, tetapi mata mereka terarah ke bawah. “Mereka ini adalah para Malaikat Pelindung dari orang-orang yang ada di sini, namun tidak menghendakinya. Yakni, orang-orang yang merasa terpaksa datang, yang datang kemari karena kewajiban, tanpa kerinduan untuk ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Malaikat mereka maju dengan sedih hati sebab mereka tidak mempunyai suatu apapun untuk dihaturkan di hadapan Altar, terkecuali doa-doa mereka sendiri.

Janganlah mendukakan Malaikat Pelindungmu…. Mohonlah banyak-banyak. Memohonlah demi pertobatan orang-orang berdosa, demi perdamaian dunia, demi sanak saudara, demi sesama, demi mereka yang mempercayakan diri mereka pada doa-doamu. Mohonlah banyak-banyak, tidak hanya bagi dirimu sendiri, melainkan juga untuk semua orang.

Ingatlah bahwa persembahan yang paling menyenangkan Tuhan adalah ketika kalian mempersembahkan diri kalian sendiri sebagai korban bakaran agar Yesus, dengan turun-Nya ke dunia, dapat mengubah kalian melalui jasa-jasa-Nya Sendiri. Apakah yang kalian miliki dari diri kalian sendiri untuk dipersembahkan kepada Bapa? Ketiadaan dan dosa; tetapi persembahan diri kalian yang dipersatukan dengan jasa-jasa Yesus, menyenangkan Bapa.”

Pemandangan itu, prosesi itu begitu indah, hingga sulitlah membandingkannya dengan yang lain. Segenap makhluk surgawi itu membungkuk hormat di hadapan Altar, sebagian meninggalkan persembahan mereka di lantai, sebagian lainnya prostratio dengan kepala nyaris mencium tanah. Dan sesampainya di Altar, mereka segera lenyap dari pandanganku.

Saat-saat akhir Prefasi telah tiba, dan sekonyong-komyong, ketika umat mendaraskan, “Kudus, Kudus, Kudus”, segala yang ada di belakang para selebran lenyap. Di belakang sisi kiri Uskup Agung, tampak beribu-ribu Malaikat dalam suatu garis diagonal: Malaikat-Malaikat kecil, Malaikat-Malaikat besar, Malaikat-Malaikat bersayap lebar, Malaikat-Malaikat bersayap kecil, Malaikat-Malaikat tanpa sayap. Sama seperti Malaikat-Malaikat sebelumnya, semua mengenakan jubah serupa alba putih para imam atau putera altar.

Semua berlutut dengan tangan terkatup dalam doa, dan menundukkan kepala dalam hormat. Terdengar suara musik nan merdu, seolah ada begitu banyak paduan suara yang berpadu harmoni dalam beragam suara, semuanya bermadah sesuara dengan umat: Kudus, Kudus, Kudus….

Tibalah saat Konsekrasi, saat yang paling mengagumkan dari segala Mukjizat …. Di belakang sisi kanan Uskup Agung tampak suatu himpunan besar orang, juga dalam suatu garis diagional. Mereka mengenakan jubah serupa dengan jubah para Malaikat Pelindung, tetapi dalam warna-warna lembut: merah muda, hijau, biru muda, ungu muda, kuning; yakni dalam beraneka warna yang amat lembut. Wajah mereka juga berbinar-binar, penuh sukacita. Mereka semua tampak seusia. Kalian dapat melihat (aku tak dapat mengatakan mengapa) bahwa mereka adalah orang-orang dari berbagai tingkat usia, tetapi wajah mereka tampak serupa, tanpa kerut, bahagia. Mereka semua berlutut juga, sementara menyanyi “Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan….”

Bunda Maria mengatakan: Mereka ini adalah segenap santa santo dan beata beato di surga, dan di antara mereka terdapat juga jiwa-jiwa dari sanak saudara dan anggota keluarga kalian yang telah menikmati Hadirat Tuhan.” Kemudian aku melihat Bunda Maria. Ia di sana, tepat di sebelah kanan Yang Mulia Uskup Agung… setapak di belakang selebran. Ia sedikit melayang di atas lantai, berlutut di atas suatu bantalan yang amat indah, transparan sekaligus bercahaya, serupa air kristal. Santa Perawan, dengan tangan-tangannya terkatup dalam doa, memandang dengan penuh perhatian dan hormat kepada selebran. Ia berbicara kepadaku dari sana, tetapi tanpa suara, langsung ke hatiku, tanpa memandangku:

“Aneh bagimu melihatku sedikit di belakang Monsignor, bukankah begitu? Demikianlah seharusnya…. Sekalipun begitu besar kasih PutraKu kepadaku, Ia tidak memberiku martabat seperti yang Ia berikan kepada seorang imam, yakni dapat mendatangkan Putraku dalam tangan-tanganku setiap hari, seperti yang dilakukan tangan-tangan imamatnya. Karena itulah, aku merasakan hormat mendalam bagi seorang imam dan bagi segala mukjizat yang Tuhan selenggarakan melalui seorang imam, yang membuatku berlutut di sini.”    

Ya Tuhan-ku, betapa martabat, betapa rahmat yang Tuhan limpahkan atas jiwa-jiwa imamat. Dan kita, bahkan mungkin sebagian dari mereka, tidak menyadarinya.

Di depan altar, mulai tampak bayangan-bayangan manusia berwarna abu-abu dengan tangan-tangan terkedang. Santa Perawan mengatakan: “Mereka ini adalah jiwa-jiwa di Api Penyucian yang menantikan doa-doa kalian agar dilegakan. Janganlah berhenti berdoa bagi mereka. Mereka berdoa bagi kalian, tetapi mereka tidak dapat berdoa bagi diri mereka sendiri. Kalianlah yang harus berdoa bagi jiwa-jiwa menderita guna menolong mereka pergi [dari api penyucian], agar mereka dapat bersama dengan Tuhan dan menikmati-Nya dalam keabadian.

Sekarang engkau lihat, aku ada di sini sepanjang waktu. Orang banyak pergi berziarah dan mencari tempat-tempat di mana aku menampakkan diri. Itu baik, sebab segala rahmat yang mereka terima di sana. Tetapi, tidak dalam penampakan manapun, pula tidak di tempat manapun, aku hadir terlebih lama [sepanjang waktu] dari di Misa Kudus. Kalian akan selalu mendapatiku di kaki Altar di mana Ekaristi dirayakan. Di kaki Tabernakel, aku tinggal bersama para malaikat sebab aku senantiasa bersama-Nya.”

Memandang wajah rupawan Bunda kita pada saat “Sanctus” itu, bersama segenap yang lainnya dengan wajah-wajah mereka yang bercahaya, tangan-tangan terkatup dalam doa, menantikan mukjizat yang berulang terus-menerus, adalah berada di surga itu sendiri. Dan memikirkan bahwa ada orang-orang yang, pada saat itu, dapat beralih perhatiannya dalam pembicaraan. Sungguh menyedihkan bahwa banyak laki-laki, lebih banyak dari kaum perempuan, yang berdiri dengan tangan terlipat, seolah memberikan penghormatan kepada Tuhan yang setara dengan mereka.

Bunda Maria mengatakan: “Katakanlah kepada semua orang bahwa tidak pernah seorang laki-laki terlebih jantan daripada saat ia bertekuk lutut di hadapan Tuhan.”  

Selebran mendaraskan kata-kata Konsekrasi. Ia adalah seorang dengan tinggi badan normal, tetapi sekonyong-konyong, ia mulai bertumbuh dan dipenuhi cahaya. Suatu cahaya adikodrati antara putih dan emas melingkupinya dan semakin bertanbah kuat dalam cahaya sekeliling wajahnya, begitu rupa hingga aku tak dapat melihat wajahnya. Ketika ia mengunjukkan Hosti, aku melihat tangannya. Ada tanda-tanda di punggung kedua tangannya, dari mana memancar berlimpah cahaya. Itu Yesus!... Dia-lah yang merengkuhkan Tubuh-Nya sekeliling selebran, seolah Ia dengan penuh kasih membimbing tangan-tangan Uskup Agung. Pada saat itu, Hosti mulai bertumbuh dan menjadi sangat besar, dan di atasnya tampak Wajah Yesus yang mengagumkan, memandang kepada umat-Nya.

Secara naluri, aku hendak menundukkan kepalaku, tetapi Bunda Maria mengatakan: “Janganlah menunduk. Tegakkanlah kepalamu untuk memandang dan mengkontemplasikan Dia. Tataplah mata-Nya dan ulangilah doa Fatima: Tuhan, aku percaya, aku menyembah, aku berharap, dan aku mengasihi Engkau. Aku mohon pengampunan bagi mereka yang tidak percaya, yang tidak menyembah, yang tidak berharap, dan yang tidak mengasihi Engkau. Pengampunan dan Kerahiman…. Sekarang katakan kepada-Nya betapa engkau mengasihi-Nya dan haturkanlah sembah sujudmu kepada Raja segala Raja.”

Aku mengatakannya kepada-Nya. Tampak seolah aku adalah satu-satunya yang Ia tatap dari Hosti besar itu. Tetapi aku mengerti bahwa demikianlah Ia memandang tiap-tiap orang, dengan kasih yang sepenuh-penuhnya. Kemudian aku menundukkan kepala hingga keningku menyentuh lantai, seperti yang dilakukan segenap malaikat dan para kudus dari surga. Mungkin sekejap, aku terheran-heran bagaimana Yesus mengenakan tubuh selebran dan, pada saat yang sama, Ia berada dalam Hosti. Dan sementara Uskup Agung menurunkan Hosti, Hosti kembali ke ukurannya yang normal. Airmata mengalir menuruni kedua pipiku. Aku tak dapat lepas dari ketakjubanku.

Segera sesudahnya, Monsignor mendaraskan kata-kata konsekrasi anggur dan, sementara kata-kata didaraskan, kilat muncul di langit dan di latar belakang. Tiada lagi atap dan dinding-dinding gereja. Semuanya gelap, terkecuali cahaya cemerlang di Altar.

Sekonyong-konyong, melayang di udara, aku melihat Yesus yang tersalib. Aku melihat-Nya dari kepala hingga bagian dada sebelah bawah. Palang Salib ditopang oleh tangan-tangan yang besar dan kuat. Dari dalam cahaya yang kemilau muncul suatu cahaya gemilang yang jauh lebih kecil, serupa seekor merpati yang amat kecil dan amat cemerlang. Merpati terbang pesat satu kali mengelilingi seluruh gereja dan akhirnya bertengger di atas pundak kiri Uskup Agung, yang terus tampak bagai Yesus sebab aku dapat mengenali rambut-Nya yang panjang, luka-luka-Nya yang bercahaya, tubuh-Nya yang besar, tetapi aku tak dapat melihat wajah-Nya.

Di atasnya, Yesus yang tersalib, kepala-Nya terkulai di atas pundak kanan-Nya. Aku dapat mengkontemplasikan wajah-Nya, tangan-tangan-Nya yang memar dan daging yang terkoyak. Di sebelah kanan dada-Nya, ada suatu luka dan darah memancar keluar ke sebelah kiri; dan sesuatu yang tampak seperti air, tetapi kemilau, [memancar]ke sebelah kanan. Aliran-aliran ini lebih menyerupai pancaran cahaya yang memancar kepada umat beriman, dan bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku takjub akan banyaknya darah yang tercurah ke dalam Piala. Aku pikir darah-Nya akan meluap dan membanjiri seluruh Altar, namun tiada setetes pun yang tumpah.

Pada saat itu, Santa Perawan Maria mengatakan: “Inilah mukjizat dari segala mukjizat. Telah kukatakan kepadamu sebelumnya bahwa Tuhan tidak dibatasi waktu dan ruang. Pada saat Konsekrasi, segenap jemaat dibawa ke kaki Kalvari, pada saat penyaliban Yesus.”

Dapatkah seorang pun membayangkannya? Mata kita tidak dapat melihatnya, tetapi kita semua ada di sana tepat pada saat Yesus disalibkan. Dan Ia memohon pengampunan kepada Bapa, tidak hanya bagi mereka yang hendak membunuh-Nya, melainkan juga bagi setiap dosa kita: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”  

Sejak hari itu, aku tidak peduli apakah aku dianggap gila, tetapi aku meminta semua orang untuk berlutut dan untuk berusaha mengalami hak istimewa yang Tuhan anugerahkan kepada kita, dengan segenap hati dan dengan segala perasaan yang mampu ia ungkapkan.

Ketika kami hendak mendaraskan Bapa Kami, Tuhan berbicara untuk pertama kalinya sepanjang perayaan itu; Ia mengatakan: “Tunggu, Aku menghendaki kalian mendoakannya dengan sekhidmad mungkin. Pada saat ini, Aku menghendaki kalian memikirkan seseorang atau orang-orang yang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu, agar engkau dapat memeluk mereka erat-erat, dan mengatakan kepada mereka dari lubuk hatimu: `Dalam Nama Yesus, aku mengampunimu dan memberikan damaiku bagimu. Dalam Nama Yesus, aku mohon pengampunanmu dan mengharapkan damaimu bagiku.' Jika orang tersebut pantas mendapatkan damai, maka ia akan menerimanya dan mendapatkan banyak rahmat darinya; jika orang itu tidak dapat membuka hati bagi damai, maka damai akan kembali ke dalam hatimu. Tetapi Aku tidak menghendaki kalian menerima atau menawarkan damai kepada yang lain apabila kalian tidak dapat mengampuni dan merasakan damai itu terlebih dahulu dalam hatimu.

Berhati-hatilah akan apa yang kalian lakukan,” lanjut Tuhan, “kalian mengulang dalam doa Bapa Kami: ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Jika kalian dapat mengampuni tetapi tidak melupakan, seperti dikatakan sebagian orang; kalian menempatkan prasyarat atas pengampunan Tuhan. Kalian mengatakan: Engkau mengampuniku hanya karena aku dapat mengampuni, tidak lebih dari itu.”  

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kesedihanku, menyadari betapa mudahnya kita dapat menyakiti Tuhan. Juga betapa mudahnya kita dapat menyakiti diri kita sendiri dengan menimbun begitu banyak dendam, perasaan tidak enak dan hal-hal buruk yang terlahir dari prasangka kita sendiri dan karena kita terlalu mudah tersinggung. Aku mengampuni; aku mengampuni dari lubuk hatiku, dan memohon pengampunan dari semua orang yang pernah aku sakiti, agar aku dapat merasakan damai Tuhan.

Selebran mengatakan, “… berilah kami damai-Mu …” dan kemudian, “damai Tuhan sertamu.”   

Sekonyong-konyong aku melihat di antara sebagian (tidak semua) orang yang saling memeluk satu sama lain, suatu cahaya yang amat kuat menempatkan diri di antara mereka. Aku tahu itu adalah Yesus, dan aku hampir-hampir melemparkan diriku untuk memeluk orang di sebelahku. Aku sungguh dapat merasakan pelukan Tuhan dalam cahaya itu. Dia-lah yang memelukku untuk memberikan damai-Nya bagiku, sebab pada saat itu aku telah dapat mengampuni dan menghapuskan dari hatiku segala kesedihan yang diakibatkan orang-orang lain. Itulah yang Yesus kehendaki, ikut ambil bagian dalam momen sukacita itu, memeluk kita guna memberikan Damai-Nya bagi kita.

Tibalah saat Komuni selebran. Di sana, sekali lagi aku melihat kehadiran semua imam lain di samping Monsignor. Ketika Monsignor menyambut Komuni, Santa Perawan Maria mengatakan:

“Inilah saatnya untuk berdoa bagi selebran dan para imam yang mendampinginya. Ulangilah bersamaku: `Tuhan, berkatilah mereka, kuduskanlah mereka, tolonglah mereka, murnikanlah mereka, kasihilah mereka, peliharalah mereka dan topanglah mereka dengan Kasih-Mu.' Ingatlah akan segenap imam di seluruh dunia. Berdoalah bagi segenap jiwa-jiwa yang dikonsekrasikan….”

Saudara dan saudari terkasih, inilah saat di mana kita seharusnya berdoa bagi mereka, sebab mereka adalah Gereja, seperti kita juga, kaum awam. Begitu banyak kali kita, kaum awam, menuntut banyak dari para imam, tetapi kita tidak dapat berdoa bagi mereka, mengerti bahwa mereka adalah manusia, dan memahami serta menghargai kesendirian yang banyak kali meliputi seorang imam.

Seharusnya kita mengerti bahwa para imam adalah manusia seperti kita juga, dan bahwa mereka butuh perhatian dan pengertian kita. Mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kita sebab dalam mengkonsekrasikan diri mereka sendiri kepada Yesus, mereka memberikan hidup mereka bagi masing-masing kita, seperti yang Yesus lakukan.

Tuhan menghendaki umat dalam kawanan, yang dipercayakan Tuhan kepada imam, berdoa bagi imam mereka dan membantu dalam pengudusannya. Suatu hari, apabila kita telah berada di dunia yang lain, kita akan mengerti betapa mengagumkan yang telah Tuhan lakukan dengan memberikan bagi kita, imam-imam untuk membantu kita menyelamatkan jiwa kita.

Orang-orang mulai meninggalkan bangku mereka untuk menyambut Komuni. Saat agung perjumpaan dalam Komuni Kudus telah tiba. Tuhan mengatakan kepadaku:“Sebentar. Aku ingin engkau mengamati sesuatu….” Suatu dorongan batin membuat aku mengarahkan mataku kepada seorang yang akan menyambut Komuni di lidah dari tangan imam.

Perlu aku terangkan bahwa ia adalah salah seorang perempuan dari kelompok kami yang malam sebelumnya tak dapat Mengaku Dosa, tetapi pagi ini melakukannya sebelum Misa Kudus. Ketika imam menerimakan Hosti Kudus di lidahnya, sesuatu bagai suatu kilasan cahaya, suatu cahaya yang amat putih keemasan (yang aku lihat sebelumnya) menembusi pertama-tama punggung orang ini, dan lalu melingkupi punggungnya, pundaknya, dan kepalanya. Tuhan mengatakan:

“Begitulah bagaimana Aku bersukahati memeluk suatu jiwa yang datang dengan hati yang bersih untuk menyambut-Ku!” Nada suara Yesus adalah nada suara seorang yang bergembira.

Dengan takjub aku melihat temanku yang kembali ke bangkunya, dengan dilingkupi cahaya, dipeluk oleh Tuhan. Aku bertanya-tanya betapa banyak kita kehilangan dalam menyambut Yesus dengan pelanggaran-pelanggaran kecil ataupun pelanggaran-pelanggaran besar kita, padahal seharusnya itu adalah suatu pesta.

Kerap kita mengatakan bahwa tidak senantiasa ada imam kepada siapa kita Mengaku Dosa. Tetapi masalahnya bukan mengenai selalu pergi Mengaku Dosa. Masalahnya terletak pada mudahnya kita jatuh lagi ke dalam dosa. Di lain pihak, sama seperti halnya seorang perempuan berupaya mencari salon kecantikan atau seorang pria mencari salon potong rambut apabila hendak ke pesta, kita juga berupaya mencari imam apabila kita menghendaki segala kekotoran itu dihapuskan dari diri kita. Janganlah kita memiliki keberanian untuk menyambut Yesus setiap saat dengan hati kita yang kotor.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/1x1.gif
Ketika aku pergi menyambut komuni, Yesus mengatakan: “Perjamuan Malam Terakhir adalah saat keakraban teragung dengan DiriKu Sendiri. Pada jam kasih itu, Aku menetapkan apa yang di mata umat manusia mungkin dipandang sebagai kegilaan terbesar, yakni menjadikan DiriKu Sendiri seorang Tawanan Cinta. Aku menetapkan Ekaristi. Aku rindu tinggal bersama kalian hingga akhir waktu sebab Kasih-Ku tidak sanggup membiarkan kalian, yang Aku kasihi lebih dari Nyawa-Ku Sendiri, ditinggalkan sendirian sebagai yatim piatu….”  

Aku menyambut Hosti itu yang memiliki rasa yang berbeda. Campuran darah dan dupa yang sepenuhnya merasukiku. Aku merasakan kasih yang begitu dahsyat hingga airmata membanjiri kedua pipiku tanpa aku sanggup menghentikannya.

Ketika aku kembali ke bangkuku dan mulai berlutut, Tuhan mengatakan: “Dengarkan….” Sesaat kemudian, aku mulai mendengar doa yang dipanjatkan seorang perempuan yang duduk di depanku dan yang baru saja menyambut komuni.

Apa yang dikatakannya, tanpa membuka mulutnya, kurang lebih seperti ini: “Tuhan, ingatlah bahwa kita berada di penghujung bulan, dan aku tak punya uang untuk membayar sewa, mobil dan sekolah anak-anak. Engkau harus melakukan sesuatu untuk menolongku…. Mohon, buatlah suamiku berhenti banyak minum. Aku tak tahan lagi ia begitu sering mabuk, dan putera bungsuku akan harus mengulang pelajaran lagi tahun ini jika Engkau tidak menolongnya. Minggu ini dia ujian. Dan jangan lupa bahwa tetangga kami itu harus pindah ke tempat lain. Buatlah ia pindah dengan segera sebab aku tak tahan lagi terhadapnya… dst., dst.”

Kemudian Uskup Agung mengatakan: “Marilah berdoa,” dan serentak semua jemaat berdiri untuk doa penutup. Yesus mengatakan dalam nada sedih: “Adakah engkau perhatikan? Tak satu kali pun ia mengatakan bahwa ia mengasihi Aku. Tak satu kali pun ia mengucap syukur atas karunia yang Aku anugerahkan kepadanya dengan merendahkan ke-Allah-an-Ku ke kemanusiaannya yang malang demi mengangkatnya kepada-Ku. Tak satu kali pun ia mengatakan: `Terima kasih, Tuhan.' Doanya adalah suatu litani permohonan… dan hampir semua yang datang untuk menyambut-Ku, seperti itu.

Aku telah wafat demi kasih, dan Aku bangkit kembali. Demi kasih Aku menanti masing-masing dari kalian, dan demi kasih Aku tinggal bersama kalian…. Tetapi kalian tidak sadar bahwa Aku membutuhkan kasih kalian. Ingatlah bahwa Aku seorang Pengemis Cinta dalam jam agung bagi jiwa.”  

Adakah kalian semua menyadari bahwa Ia, sang Kasih, mengemis kasih kita, dan kita tidak memberikannya kepada-Nya? Terlebih lagi, kita menghindarkan diri dari datang ke perjumpaan dengan Kasih dari segala Kasih, dengan satu-satunya Kasih yang memberikan DiriNya Sendiri dalam kurban abadi.

Ketika selebran hendak menyampaikan berkat, Santa Perawan mengatakan: “Perhatikanlah, berhati-hatilah…. [Banyak dari] Kalian membuat tanda kuno dan bukannya Tanda Salib. Ingatlah bahwa berkat ini dapat menjadi yang terakhir yang kalian terima dari tangan seorang imam. Kalian tidak tahu apakah setelah meninggalkan tempat ini, kalian akan meninggal atau tidak. Kalian tidak tahu apakah kalian beroleh kesempatan untuk menerima berkat dari imam lain. Tangan-tangan yang telah dikonsekrasikan itu memberi kalian berkat dalam Nama Tritunggal Mahakudus. Sebab itu, buatlah Tanda Salib dengan hormat, seolah itulah yang terakhir dalam hidupmu.”  

Betapa banyak kita kehilangan dengan ketidakpahaman dan dengan ketidakikutsertaan kita setiap hari dalam Misa Kudus! Mengapakah kita tidak berupaya untuk memulai hari setengah jam lebih awal dan bergegas datang ke Misa Kudus dan menerima segala rahmat yang rindu Tuhan limpahkan atas kita?

Aku sadar bahwa tidak setiap orang dapat ikut ambil bagian setiap hari dalam Misa karena kesibukan-kesibukan mereka, tetapi setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu. Walau demikian, begitu banyak orang menjauhkan diri dari Misa hari Minggu dengan alasan-alasan yang paling remeh: bahwa mereka mempunyai seorang anak, atau dua, atau sepuluh, dan karenanya mereka tidak dapat pergi ke Misa. Bagaimanakah orang dapat mengatur apabila mereka mempunyai komitmen-komitmen lainnya yang penting? Mereka membawa semua anak-anak bersama mereka, atau mereka pergi bergantian - suami pergi di jam yang satu dan isteri pada jam yang lain - dengan demikian mereka memenuhi kewajiban mereka terhadap Tuhan.

Kita punya waktu untuk belajar, untuk bekerja, untuk bersenang-senang, untuk beristirahat, tetapi KITA TIDAK PUNYA WAKTU, SETIDAKNYA PADA HARI MINGGU, UNTUK PERGI KE MISA KUDUS.

Yesus memintaku untuk tinggal bersama-Nya sedikit lebih lama sesudah Misa usai. Ia mengatakan: “Janganlah bergegas pergi begitu Misa usai; tinggallah beberapa saat bersama-Ku. Nikmatilah dan biarkan Aku menikmati kebersamaan denganmu….”

Semasa kanak-kanak, aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Tuhan tinggal bersama kita selama lima atau sepuluh menit sesudah Komuni. Aku menanyakannya kepada-Nya saat itu: “Tuhan, berapa lamakah sesungguhnya Engkau tinggal bersama kami sesudah Komuni?”

Aku pikir pastilah Tuhan tertawa atas ketololanku, sebab Ia menjawab: “Sepanjang kalian menghendaki Aku bersama kalian. Jika kalian berbicara kepada-Ku sepanjang hari, mempersembahkan beberapa kata kepada-Ku sementara kalian melakukan pekerjaan-pekerjaan kalian, Aku akan mendengarkan kalian. Aku senantiasa bersama kalian semua. Kalianlah yang meninggalkan Aku. Kalian meninggalkan Misa dan hari kewajibanmu berakhir sudah. Kalian memelihara hari Tuhan dan sekarang selesailah tugasmu. Kalian tidak berpikir bahwa Aku rindu ikut ambil bagian dalam kehidupan keluarga kalian bersama kalian, setidaknya pada hari itu.

Di rumah, kalian mempunyai tempat untuk segala sesuatunya dan ruang untuk setiap aktivitas: ruang untuk tidur, yang lainnya untuk memasak, yang lainnya untuk makan, dll, dll, …. Yang manakah tempat yang kalian peruntukkan bagi-Ku? Tempat itu bukanlah sekedar tempat di mana kalian menggantungkan suatu lukisan yang berdebu sepanjang waktu, melainkan tempat di mana setidaknya lima menit dalam sehari, keluarga berkumpul bersama untuk menyampaikan syukur terima kasih atas hari itu dan atas anugerah hidup, untuk memohon kebutuhan-kebutuhan pada hari itu, untuk memohon berkat, perlindungan, kesehatan…. Segala sesuatu mempunyai tempat dalam rumah-rumah kalian, terkecuali Aku.

Manusia merencanakan hari mereka, pekan mereka, semester mereka, liburan mereka, dst…. Mereka tahu kapan mereka akan beristirahat, kapan mereka akan pergi menonton film atau ke pesta, atau mengunjungi nenek atau cucu, teman dan sahabat mereka, anak-anak, atau pergi bersenang-senang. Berapa banyakkah keluarga yang mengatakan setidaknya sekali dalam sebulan: `Inilah hari giliran kita untuk pergi dan mengunjungi Yesus dalam Tabernakel,' dan seluruh keluarga datang untuk bercakap-cakap dengan-Ku? Berapa banyakkah yang duduk di hadapan-Ku dan berbincang dengan-Ku, menceritakan apa-apa yang terjadi sejak terakhir berjumpa, menceritakan masalah-masalahnya, kesulitan-kesulitannya, memohon pada-Ku apa yang mereka butuhkan … mengijinkan-Ku ikut ambil bagian dalam segala problematika mereka? Berapa kali?

Aku tahu semuanya. Aku membaca bahkan rahasia-rahasia terdalam yang tersembunyi dalam hati dan pikiran kalian. Tetapi Aku senang kalian menceritakan kepada-Ku segala hal mengenaimu, mengijinkan-Ku ikut ambil bagian sebagai seorang anggota keluarga, sebagai sahabat yang paling karib. Betapa banyak manusia kehilangan rahmat-rahmat dengan tidak memberi-Ku tempat dalam hidupnya!”

Ketika aku tinggal bersama-Nya pada hari itu dan pada banyak hari-hari lainnya, Ia terus menyampaikan pengajaran-Nya kepada kita. Pada hari ini aku hendak berbagi bersama kalian misi ini yang Ia percayakan kepadaku. Yesus mengatakan:

“Aku rindu menyelamatkan ciptaan-Ku, sebab saat pembukaan pintu Surga telah diresapi dengan begitu banyak sakit….” “Ingatlah bahwa bahkan tak seorang ibu pun pernah memberi makan anaknya dengan dagingnya sendiri. Aku telah melampaui tindakan Kasih yang ekstrim itu demi menganugerahkan jasa-jasa-Ku kepada kalian semua.”

“Misa Kudus adalah DiriKu Sendiri yang melestarikan hidup-Ku dan kurban-Ku di salib di antara kalian. Tanpa jasa-jasa hidup-Ku dan darah-Ku, apakah gerangan yang kalian miliki untuk datang di hadapan Bapa? Ketiadaan, kemalangan dan dosa….”

“Kalian seharusnya mengungguli para Malaikat dan para Malaikat Agung dalam keutamaan, sebab mereka tidak menikmati sukacita menyambut-Ku sebagai santapan seperti kalian. Mereka minum setetes dari mata air, tetapi kalian, yang mempunyai rahmat untuk menyambut-Ku, ada pada kalian seluruh samudera raya untuk diminum.”

Hal lain yang dibicarakan Tuhan dengan sedih menyangkut orang-orang yang pergi ke perjumpaan mereka dengan-Nya karena kebiasaan, jiwa-jiwa yang telah kehilangan keterpesonaan dalam setiap perjumpaan dengan-Nya. Yesus mengatakan bahwa rutinitas telah menjadikan sebagian orang begitu suam-suam kuku hingga tidak ada sesuatu yang baru pada mereka untuk diceritakan kepada-Nya ketika mereka menyambut-Nya. Ia juga berbicara mengenai tak sedikit jiwa-jiwa yang telah dikonsekrasikan, yang kehilangan gairah cinta kepada Tuhan, dan menjadikan panggilan mereka sebagai suatu pekerjaan, suatu profesi di mana mereka memberi tidak lebih dari apa yang diminta dari mereka, tetapi tanpa perasaan….

Kemudian Tuhan berbicara kepadaku mengenai buah-buah yang harus dihasilkan dari setiap Komuni yang kita sambut. Sungguh terjadi ada orang-orang yang menyambut Tuhan setiap hari tetapi hidup mereka tidak berubah. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu dalam doa dan melakukan banyak karya, dst, dst, tetapi hidup mereka tidak terus berubah, dan suatu jiwa yang tidak terus berubah tidak dapat menghasilkan buah-buah sejati bagi Tuhan. Jasa-jasa yang kita terima dalam Ekaristi seharusnya menghasilkan buah-buah pertobatan dalam diri kita dan buah-buah belas kasih kepada sesama saudara dan saudari.

Kita, kaum awam, mempunyai peran amat penting dalam Gereja kita. Kita tidak mempunyai hak untuk tinggal diam, sebab Tuhan telah mengutus kita, semua orang yang dibaptis, untuk pergi dan mewartakan Kabar Baik. Kita tidak mempunyai hak untuk menyerap segala pengetahuan ini dan tidak membagikannya kepada yang lain juga, dan membiarkan saudara saudari kita mati kelaparan sementara ada begitu banyak roti di tangan kita.

Kita tidak dapat melihat Gereja kita hancur sementara kita dengan nyaman tinggal dalam paroki-paroki dan rumah-rumah kita, menerima dan menerima begitu banyak dari Tuhan: Sabda-Nya, homili imam, ziarah, Kerahiman Ilahi dalam Sakramen Rekonsiliasi, persatuan mengagumkan dan santapan rohani dari Komuni Suci, khotbah para pewarta.

Dengan kata lain, kita menerima demikian banyak dan kita tak memiliki keberanian untuk meninggalkan zona nyaman kita dan pergi ke penjara, ke lembaga rehabilitasi dan berbicara kepada mereka yang paling membutuhkan. Mengatakan kepada mereka untuk tidak menyerah, bahwa mereka dilahirkan Katolik dan bahwa Gereja membutuhkan mereka di sana, menderita, sebab penderitaan mereka berguna untuk menebus yang lainnya, sebab kurban itu akan memperolehkan bagi mereka kehidupan abadi.

Kita tak sanggup mengunjungi rumah-rumah sakit, pergi kepada mereka yang sakit parah, dan mendaraskan Koronka Kerahiman Ilahi demi menolong mereka dengan doa-doa kita sepanjang masa pergulatan antara yang baik dan yang jahat, dan demi membebaskan mereka dari jerat dan pencobaan-pencobaan setan. Setiap orang yang berada di ambang maut menghadapi ketakutan, dan mereka merasa terhibur apabila sekedar kita memegang tangan mereka dan berbicara kepada mereka mengenai kasih Allah dan sukacita yang menanti mereka di Surga, dekat dengan Yesus dan Maria, dekat dengan orang-orang yang mereka kasihi yang telah meninggal dunia.

Jam di mana kita sekarang hidup tidak mengijinkan kita untuk acuh tak acuh. Kita haruslah menjadi perpanjangan tangan para imam kita dan pergi ke tempat yang tak terjangkau oleh mereka. Tetapi agar kita mendapatkan keberanian untuk melakukannya, kita harus menyambut Yesus, hidup bersama Yesus, dan menghidupi diri dengan Yesus.

Kita takut untuk memberikan komitmen sedikit lebih jauh. Ketika Tuhan bersabda, “Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu,” Ia mengatakan semuanya, saudara dan saudariku. Artinya mencari Kerajaan Allah dengan segala cara yang mungkin dan melalui segala sarana yang ada, dan… membuka tangan kita demi menerima SEMUANYA sebagai tambahan! Ini karena Ia adalah Tuan, yang mengganjari dengan yang terbaik; Ia satu-satunya yang memberikan perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan kalian yang paling remeh sekali pun.


Saudara dan saudari, terima kasih telah mengijinkanku melaksanakan misi yang dipercayakan kepadaku, yakni bahwa halaman-halaman ini sampai kepada kalian.

Di kali mendatang kalian ikut ambil bagian dalam Misa Kudus, alamilah. Aku tahu bahwa Tuhan akan menggenapi bagi kalian janji-Nya bahwa “Misa kalian tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya,” dan ketika kalian menyambut-Nya, kasihilah Dia! Nikmatilah kemanisan merasakan diri kalian sendiri beristirahat dalam luka di lambung-Nya, yang ditembusi bagi kalian demi meninggalkan Gereja-Nya dan BundaNya bagi kalian; demi membukakan bagi kalian pintu Rumah BapaNya, agar kalian dapat merasakan sendiri Kasih-Nya yang Maharahim melalui kesaksian ini, dan berusaha untuk membalas-Nya dengan kasih kekanak-kanakkan kalian.

Kiranya Tuhan memberkati kalian di Masa Paskah ini.


Saudarimu dalam Yesus yang Hidup,
Catalina
Misionaris Awam dari Hati Ekaristis Yesus


Sumber: “The Testimony of Catalina on the Holy Mass”; The Great Crusade of Love and Mercy, Inc., P.O. Box 857, Lithonia, Georgia 30058 USA; www.greatcrusade.org atau www.loveandmercy.org

Dipersilakan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/1x1.gif