Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Jun 19, 2012

ALLAH ELIA ADALAH ALLAH KITA JUGA

( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 20 Juni 2012 )
Menjelang saatnya TUHAN (YHWH) hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal.
Berkatalah Elia kepadanya: “Baiklah tinggal di sini, sebab YHWH menyuruh aku ke sungai Yordan.” Jawabnya: “Demi YHWH yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu berjalanlah keduanya. Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungan Yordan. Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di atas tanah yang kering. Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.” Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan. Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah YHWH, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa. Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: “Roh Elia telah hinggap pada Elisa.” Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah. Mereka berkata: “Coba lihat! Di antara hamba-hambamu ini ada lima puluh orang laki-laki, orang-orang tangkas. Biarlah mereka itu pergi mencari tuanmu, jangan-jangan ia diangkat oleh Roh YHWH dan dilemparkan-Nya ke atas salah satu gunung atau ke dalam salah satu lembah.” Elisa menjawab: “Janganlah suruh pergi!” (2Raj 2:1,6-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-21,24; Bacaan Injil Mat 6:1-6,16-18

“Di manakah YHWH, Allah Elia?” (2Raj 2:14).

Seorang nabi yang membagi/membelah air sungai dan kemudian diangkat ke surga dengan kereta berapi yang ditarik oleh kuda berapi. Sungguh sebuah kisah yang hebat dan menakjubkan. Sayangnya hal-hal seperti tidak terjadi lagi pada zaman kita. Apabila ini reaksi anda, maka perlulah anda berpikir lagi. Allah Elia adalah Allah kita juga. Ia tetap memanggil orang-orang untuk hidup dan berbicara secara profetis, sehingga suara-Nya dapat didengar dan dikenali. Ibu Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes Paulus II adalah dua orang nabi zaman modern yang kata-kata dan tindakan-tindakannya akan hidup terus dan mempunyai efek dalam abad-abad mendatang.

Sebenarnya mukjizat-mukjizat masih terjadi sampai hari ini, walaupun tidak muncul dalam surat kabar atau media lainnya. Kehidupan Padre Pio penuh dengan mukjizat dan orang-orang biasa juga tidak jarang mengalami mukjizat-mukjizat juga. Sekitar 40 tahun lalu, seorang imam Yesuit yang sederhana di El Paso (negara bagian Texas, Amerika Serikat) yang berseberangan dengan Juarez di Meksiko (dipisah oleh sungai Rio Grande) di bawah bimbingan Roh Kudus bersama-sama beberapa orang awam dan seorang biarawati mendirikan sebuah komunitas untuk melayani orang-orang miskin, memberi makanan bagi mereka, mengunjungi penjara dsb. Seringkali terjadi mukjizat pada saat-saat mereka memberi makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Tempat persediaan gandum dan bahan-bahan lain selalu terisi sehingga dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan dan lapar. Ini adalah contoh konkret dari Allah Elia yang sedang bekerja!

Bahkan sekarang pun Allah Elia ingin bekerja dalam kehidupan kita (anda dan saya). Masalahnya sekarang, apakah kita sadar akan kehadiran-Nya dan panggilan-Nya? Melalui Roh Kudus-Nya, Ia ingin memperlengkapi kita menjadi Kristus bagi keluarga kita masing-masing, sahabat-sahabat, bagi kolega di tempat kerja dan bagi para tetangga kita. Seorang ibu dapat (memang tidak dilarang) menumpangkan tangan atas anaknya yang sedang sakit dan mohon agar Allah menyembuhkan penyakit anaknya itu. Seorang sahabat dapat mengucapkan kata-kata yang dapat mengubah hidup seseorang yang sedang mengalami stres berat, dapat menghibur seseorang yang sedang dilanda kesedihan, dapat menyemangati seseorang yang hampir putus-asa karena masalah keluarga yang pahit. Orang-orang yang menghadiri rapat, bahkan dalam rapat bisnis, juga dapat menerima hikmat Roh Kudus untuk berbicara dengan keyakinan moral.

Allah menginginkan kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Kerajaan-Nya karena Dia ingin memberikan kepada dunia banyak tanda kasih dan kerahiman-Nya. Sekarang, beranikah kita mengambil langkah iman.? Yang perlu kita lakukan adalah mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau meninggalkan kedosaan kita dan membuka hati kita bagi Roh-Nya. Allah Elia akan melakukan selebihnya.

DOA: Di manakah Engkau, Tuhan Allah Elia? Engkau ada di hatiku. Datanglah, Tuhan, dan buatlah mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya dalam dan melalui diriku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 18, 2012

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI - Selasa, 19 Jun 2012 )

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 1Raj 21:17-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,11,16

Dapatkah anda membayangkan bahwa pada suatu hari kelak anda masuk juga ke dalam surga, dan orang pertama yang anda temui di sana adalah orang yang paling anda tidak sukai ketika hidup di dunia? Bayangkanlah dengan serius! Ternyata Allah mengasihi orang itu dan memanggil dia kepada kesempurnaan juga. Atau, bagaimanakah dengan tokoh-tokoh jahat yang anda telah jumpai dalam Kitab Suci – seperti Firaun, Izebel, atau Raja Herodes? Mereka pun tidak berada di luar ruang lingkup niat-niat penuh kasih dari Allah! Apa yang diinginkan Allah bagi anda adalah juga yang diinginkan-Nya bagi orang yang menyusahkan anda, demikian pula dengan tiran-tiran yang paling buruk dalam sejarah – agar mereka “sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Ada satu lagi kejutan: Musuh anda dapat membantu anda bergerak maju untuk mencapai tujuan kesempurnaan yang terasa tidak mungkin. Begini ceritanya. Perintah kita untuk menjadi sempurna mengemuka langsung setelah penjelasan Yesus tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45). Dengan perkataan lain, apabila anda ingin menjadi sempurna, mulailah dengan mengasihi musuh-musuh anda.

Mungkin kita berpikir dan kemudian berkata seperti si penyanyi dangdut pria itu: “Terlalu!” Dilihat dari kacamata manusia memang “terlalu”, karena “mengasihi musuh-musuh kita” sungguh melampaui kekuatan manusiawi kita. Tidak mungkin menjadi kenyataan apabila Yesus tidak menderita dan wafat bagi kita. Dengan rahmat yang diperoleh-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, kita dapat mengikuti teladan cintakasih sempurna dan pengampunan yang diberikan Yesus dan mulai melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita bekerja sama dengan rahmat itu pada hari ini. Daripada kita memikirkan orang-orang yang bersalah kepada kita dan mulai mengumpat mereka dan berencana membalas dendam, jauh lebih benarlah apabila kita berdoa bagi mereka yang mendzolomi kita. Kita harus mengambil waktu untuk memikirkan apakah ada orang-orang lain juga yang harus kita kasihi secara lebih lagi. Mereka mungkin saja bukan “musuh” secara harfiah, melainkan orang-orang yang kita “tidak anggap”, “pandang rendah”, “pandang sebelah mata”, “lihat sebagai tidak pantas”.

Kita (anda dan saya) harus memulainya dengan orang-orang yang terdekat, yaitu yang tinggal dalam rumah dan teman-teman di tempat kerja kita. Kita harus memperhatikan apa saja yang muncul dalam pikiran kita segala kita membaca surat kabar, menonton televisi atau melihat sendiri seorang tuna wisma di tengah jalan yang ramai. Kita harus mohon pengampunan Allah bilamana kita menemukan kegagalan-kegagalan pribadi kita. Marilah kita membuka hati kita agar dapat menerima rahmat untuk suatu sikap yang lebih bermurah-hati. Apabila kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengasihi, maka kesempurnaan Tritunggal Mahakudus akan memancar dari dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur karena Engkau menciptakanku karena kasih dan demi kasih. Pada hari ini aku menerima rahmat-Mu yang mentransformasikan hidup dan mengambil satu langkah lagi menuju kesempurnaan seturut rencana-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Jun 16, 2012

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA


( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI – 17 Juni 2012 )

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10

 Pada suatu hari di bulan Desember yang dingin tahun 1955, seorang perempuan pekerja binatu yang bernama Rosa Parks (Rosa Louise McCauley Parks) naik ke dalam sebuah bis umum yang penuh di Montgomery, negara bagian Alabama, Amerika Serikat. Dalam bis ini berlaku peraturan segregasi, orang-orang dengan kulit berwarna tidak boleh duduk di kursi yang dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih. Rosa Parks mengambil tempat duduk yang diperuntukkan bagi orang-orang kulit putih. Ketika supir bis “memerintahkan” Rosa Parks untuk pindah tempat, dia mengatakan: “Tidak!”. Sebagai akibat tindakannya itu, Rosa ditahan, tangan-tangannya diborgol dan ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Insiden ini memicu Gerakan Hak-Hak Sipil (Civil Rights Movement). Di bawah kepemimpinan Ralph Abernathy dan Martin Luther King, Jr., diorganisasikanlah suatu pemboikotan bis dan demonstrasi-demonstrasi tanpa kekerasan, yang kita tahu kemudian membuahkan hasil, yaitu dihapuskannya hukum berkaitan dengan segregasi (boleh dibaca: diskriminasi) rasial dalam bidang transportasi, perumahan, sekolah, rumah makan dan bidang-bidang lainnya. Pada saat Rosa Parks secara lugas dan lugu menjawab “tidak” kepada Pak Supir bis, sebenarnya dia memulai sesuatu yang jauh lebih signifikan daripada apa yang mungkin dapat dibayangkan orang pada tahun 1955. Pada Freedom Festival di tahun 1965, Rosa Parks diperkenalkan sebagai First Lady of the Civil Rights Movement.

Cerita mengenai Rosa Parks ini dan keadaan yang menyedihkan dari orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat (terutama di negara-negara bagian di sebelah selatan yang justru terkenal dengan julukan the Bible belt) sangat serupa dengan situasi umat Allah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Baik nabi Yehezkiel maupun penulis Injil Markus menulis untuk sebuah komunitas yang sedang berada di bawah pengejaran dan penganiayaan, sebuah umat yang kalah dalam jumlah dan ditindas oleh orang-orang di sekeliling mereka yang tidak percaya.

Baik Yehezkiel maupun Markus menulis untuk meyakinkan para anggota komunitas termaksud, menguatkan iman-kepercayaan mereka pada kuat-kuasa Allah untuk menanamkan benih dan membuatnya bertumbuh menjadi sebatang pohon yang besar, tinggi dan kuat. Hal ini tidak banyak bedanya pada zaman modern ini. Dalam isu-isu tertentu kita, umat Kristiani, juga kalah dalam jumlah ketimbang lawan-lawan kita, misalnya dalam soal aborsi, perceraian, kesopan-santunan dalam entertainment di muka publik, dlsb. Seperti orang-orang Yahudi Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan dan orang-orang Kristiani awal di Roma, kita juga perlu diyakinkan, perlu dikuatkan, disemangati dalam iman-kepercayaan kita akan kuat-kuasa Allah untuk mengambil upaya-upaya kita yang kecil dan membuatnya bertumbuh menjadi suatu gerakan yang kuat-perkasa.

Yang diminta Allah dari diri kita adalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya dan mencoba. Dia akan menyelesaikan sisanya tanpa ribut-ribut namun dengan tekun, sehingga dengan demikian sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri akan dikalahkan oleh sikap dan perilaku untuk berbagi, kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, kebencian akan dikalahkan oleh kasih. Apabila kita memiliki kesabaran dan pengharapan, maka pada akhirnya panenan dari apa yang kita tanam akan bermunculan: bangsa-bangsa akan berdamai satu sama lain, hak-hak azasi manusia direstorasikan, anak-anak dan para perempuan akan terlindungi dari tindakan kekerasan, orang-orang lapar akan memperoleh makanan secukupnya, dlsb.

Jadi, betapa kecil pun upaya-upaya kita untuk memajukan cita-cita Kristiani, Allah akan melipat-gandakannya dengan kuat-kuasa yang tersembunyi untuk mendatangkan hasil-hasil yang luar biasa. Allah melakukannya bagi Yehezkiel dan Markus dan Rosa Parks. Kita harus percaya bahwa Dia dapat melakukannya lagi melalui diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu, dalam situasi apa pun yang kami hadapi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Jun 15, 2012

DARAH DAN AIR YANG MEMANCAR KELUAR DARI LAMBUNG-NYA

( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS – Jumat, 15 Juni 2012 )

Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu hari yang besar – maka datanglah para pemuka Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Lalu datanglah prajurit-prajurit dan mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Orang yang melihat sendiri hal itu yang bersaksi dan kesaksiannya benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” Ada pula nas yang lain mengatakan, “Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam.” (Yoh 19:31-37)

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8-9; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Ef 3:8-12,14-19

“Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan” (Yes 12:3).

Oh, betapa indahnya hati Kristus! Sementara mengkontemplasikan hati-Nya yang tertikam, kita memperoleh gambaran yang kuat tentang kedalaman kasih dan belas kasih (kerahiman) yang dimiliki-Nya bagi kita. Pertimbangkanlah bagaimana Yohanes Penginjil harus bersusah payah dan menanggung kesedihan serta rasa sakit ketika dia berusaha meyakinkan para pembaca Injilnya tentang darah dan air yang mengalir keluar dari lambung Yesus setelah ditikam dengan tombak seorang serdadu. Bagaimana darah dan air dapat memancar keluar dengan penuh kekuatan seperti itu dari sesosok tubuh yang sudah begitu lemah? Bukankah kita semua mengharapkan beberapa tetes darah dan air saja?

Hati Yesus begitu terbakar dengan kasih berkobar-kobar bagi kita, sehingga dalam kematian-Nya Dia mencurahkan segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Yesus tidak menginginkan apa pun menghalangi kita masuk ke dalam pelukan penuh kasih Bapa surgawi. Dia tahu benar bahwa hanya kematian-Nyalah yang akan memberikan persatuan sedemikian. Oleh karena itu dengan gembira Dia memberikan hidup-Nya sendiri. Sekarang kita dapat mengeetahui dan mengenal seorang Bapa yang mengasihi kita dengan sangat mendalam. Sekarang kita dapat menerima kasih-Nya melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita.

Pada saat berdoa hari ini, bayangkanlah darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus bagaikan suatu lapisan pelindung. Apabila Bapa surgawi memandang kita, Dia akan melihat darah Putera-Nya, bukan dosa-dosa kita. Karena darah Kristus, kita tidak lagi dikotori dengan noda dosa. Diri kita dibuat menjadi putih seperti salju. YHWH bersabda lewat nabi Yesaya: “Sekali pun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Yesus menanggung hukuman yang seharusnya diperuntukkan bagi kita.

Marilah kita juga membayangkan “air” baptisan kita. Melalui air baptis kita dibersihkan dari noda “dosa-asal” dan kepada kita diberikan Roh Kudus. Kita dibuat menjadi anak-anak Allah dan warga Kerajaan Surga … menjadi “ciptaan baru”.

Secara khusus, pada hari yang istimewa ini, baiklah kita merenungkan kebenaran-kebenaran tentang “darah dan air” yang memancar keluar dari lambung Yesus. Kita senantiasa ada dalam hati-Nya dan Ia memang ingin kita selalu bersama-Nya. Darah-Nya menutupi kita dan tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan-Nya dalam diri kita. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan Yesus Kristus agar air kehidupan-Nya mengalir melalui diri kita pada hari ini dan hari-hari selanjutnya. Selagi kita melakukannya, maka orang-orang lain akan melihat dan bertanya dari mana damai-sejahtera dan sukacita itu datang kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Hati-Mu yang Mahakudus. Terima kasih untuk luka-luka di lambung-Mu yang telah memberikan kepada kami suatu kehidupan yang penuh. Terima kasih untuk cintakasih tanpa syarat yang telah Kautunjukkan kepada kami, lagi dan lagi. Berikanlah hati-Mu kepada kami, ya Tuhan Yesus, agar kami dapat saling mengasihi seperti Engkau mengasihi kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 12, 2012

MEMATUHI PERINTAH-PERINTAH-NYA TANPA BOSAN


( Bacaan Injil Misa, PERINGATAN S. ANTONIUS DARI PADUA – Rabu, 13 Juni 2012 )
Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dari Padua, Imam & Pujangga Gereja

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19)

Bacaan Pertama: 1Raj 18:20-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,4-5,8,11

Kita, orang-orang Kristiani zaman modern, sering mengatakan bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sampai ke detil-detilnya itu merupakan sesuatu yang membosankan. Namun seringkali rasa takut akan kebosanan ini hanyalah sekadar “jas penutup” saja. Rasa takut kita sebenarnya bukanlah takut pada kebosanan atau rutinitas. Sebenarnya kita merasa takut menghadapi tuntutan-tuntutan Allah yang tidak mengenal kompromi, kesusahan setiap hari melakukan pertempuran rohani tanpa henti, betapa melelahkannya mengembangkan hikmat dan kehendak yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Orang Kristiani modern yang merasa “bosan” adalah seperti seorang anak laki-laki yang berkata bahwa dia tidak menyukai sepak bola karena bermain sepak bola itu “membosankan” atau tidak membutuhkan keterampilan seperti jenis-jenis olah-raga lainnya, padahal sebenarnya karena dia takut terluka atau dipermalukan oleh pemain bola yang lebih baik. Sesungguhnya, banyak alasan kita adalah sekadar “dalih”!

Yesus bersabda: “… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2; bdk.Mrk 4:24; Luk 6:38). Terlalu banyak dari kita yang berpura-pura takut akan “kebosanan” agama dan begitu “monoton”-nya dalam memuji-muji Allah – padahal terlalu banyak dari kita sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Secara salah kita memberi cap “membosankan” pada hal-hal yang sesungguhnya dapat membebaskan kita dari kebosanan lebih besar yang kita pilih sendiri. Kita takut terhadap segala hal yang mungkin memaksa kita melakukan sesuatu yang berharga, karena karya-karya besar ini menuntut pengorbanan dari pihak kita.

Kita sebenarnya berada dalam bahaya besar. Tidak melakukan apa-apa, menikmati kehidupan kita yang sudah nyaman, maka menjaga kenyamanan kita merupakan bentuk mementingkan diri sendiri yang utama. Mementingkan diri sendiri, keserakahan, ketamakan merupakan unsur dosa yang mendasar. Bosan dengan diri kita sendiri dan rasa takut akan upaya yang dibutuhkan untuk bangkit dari lethargy (rasa lesu-malas) kita, maka kita pun akan berpaling kepada salah bentuk dosa sebagai suatu cara menyelesaikan sesuatu. Kita mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris, “getting the fun out of life” dan “living only once”, …… bukankah kita hidup hanya sekali? Oleh karena itu enjoy aja! Dengan kata lain, kita begitu mementingkan diri sendiri, sehingga begitu bangun tidur, kita pun akan bertindak-tanduk secara ego-sentris.

Orang-orang yang besar di mata Allah dan manusia lainnya akan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan tanpa henti guna memuji dan memuliakan Allah; semua makhluk akan memimpin mereka kepada Allah; setiap talenta akan dipakai untuk memuliakan Dia; bahkan saat-saat istirahat dan kesantaian mereka dijalani dalam kehadiran-Nya yang penuh kasih. Mereka tidak mengenal “kebosanan” dalam relasi mereka dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya: Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya.

DOA: Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mzm 146:1). Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 11, 2012

PARA MURID YESUS SEBAGAI PEMIMPIN-PEMIMPIN


( Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Selasa, 12 Juni 2012 )

Keluarga Fransiskan Konventual dan Kapusin: Peringatan Beata Yolenta, Florida, dkk. Martir-martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:13-16).

Bacaan Pertama: 1Raj 17:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-5,7-8

“Kamu adalah garam bumi …… Kamu adalah terang dunia …… Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang ……” Dengan menggunakan gambaran “garam bumi” dan “terang dunia” ini, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk memainkan peran sebagai pemimpin-pemimpin dalam masyarakat. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, daya/kuasa untuk mempengaruhi orang lain adalah hakikat kepemimpinan. Namun kepemimpinan tidak terbatas pada posisi kekuasaan yang secara resmi dipegang seseorang, karena ada juga pemimpin-pemimpin informal (di luar sistem) yang dapat menebarkan pengaruhnya dalam masyarakat (misalnya para nabi Perjanjian Lama atau Yesus dari Nazaret). Sebagai pemimpin, para pengikut/murid Yesus pada segala zaman harus menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang lain, artinya mereka dapat melihat kebaikan dalam tindak-tanduk kita.

Akan tetapi, terlalu banyak dari kita yang mengabaikan perintah Yesus ini. “Biarlah orang lain yang melakukannya … bukan urusanku!” “Aku tidak mempunyai talenta untuk itu, juga nggak ada waktu!” Kita pun tidak enggan dan ragu untuk cepat mengkritisi mereka yang sungguh menyediakan waktu mereka, seperti para pastor, para guru agama/katekis, anggota dewan paroki, para prodiakon, anggota paduan suara dlsb. gereja kita. Akan tetapi, bilamana kita diminta untuk berpartisipasi, untuk menyumbangkan talenta kita, kita tiba-tiba menjadi sungguh “miskin” karena tidak ada apa-apa yang dapat kita berikan!

Sesungguhnya setiap dari kita mempunyai lebih banyak untuk diberikan daripada kita sendiri pernah impikan atau menyadarinya. Betapa rendah atau tak bergunanya pun kita menilai diri kita, betapa rendahnya pun para sahabat kita menilai kita, kita sebenarnya menilai terlalu rendah potensial yang kita miliki sendiri. Sebenarnya Allah telah telah memberikan kita energi yang lebih banyak dan keterampilan-keterampilan yang lebih banyak daripada yang kita impikan sendiri. Dan Ia akan memberikan rahmat-Nya, sekali kita melakukan apa yang harus kita lakukan, dan apa yang kita sungguh dapat lakukan.

Ada pepatah lama: “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!” Ini memang suatu kebenaran yang sudah ada sejak zaman kuno. Jadi, apabila kita sungguh ingin menanggapi kebutuhan-kebutuhan Kristus dan Gereja-Nya, apabila kita sungguh ingin mendengarkan panggilan Kristus kepada para pekerja dalam kebun anggur-Nya, apabila kita sungguh ingin melakukan bagian kita dalam penyebaran Kabar Baik, maka kita pun akan menemukan jalannya – bahkan banyak jalan. Sebagai murid-murid Kristus, kita mempengaruhi orang-orang lain dengan sesuatu yang memang baik demi keselamatan mereka, kita menjadi pemimpin-pemimpin!

DOA: Tuhan Yesus, sebagai murid-murid-Mu Engkau tidak ragu sama sekali untuk menyebut kami “garam bumi” dan “terang dunia”, dengan demikian mengingatkan tugas kami sebagai “pemimpin-pemimpin” di tengah dunia, para duta-Mu yang akan membawa pengaruh baik kepada dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Jun 10, 2012

DIUTUS UNTUK MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH

 ( Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Senin, 11 Juni 2012 )

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. (Mat 10:7-13)

Bacaan Pertama: Kis 11:12b; 13:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

Yesus mendelegasikan wewenang (dan tanggung jawab yang menyertai wewenang itu) kepada keduabelas rasul-Nya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga (=Kerajaan Allah) telah dekat (Mat 10:7). Sebelum itu Yesus wanti-wanti menandaskan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 10:5-6). Jadi, masih terbatas pada lingkup bangsa Israel.

Matius yang diperkirakan menulis Injilnya menjelang akhir abad pertama Masehi, ingin agar pembaca Injilnya menyadari bahwa tanggung jawab itu telah menjadi tanggung jawab mereka juga. Sekarang tanggung jawab tersebut jatuh kepada kita, para murid-Nya di zaman modern ini.

Mat 10:9-10 memberikan nasihat kepada para murid untuk melakukan perjalanan layaknya backpackers, yaitu “to travel light”! Suatu nasihat yang praktis masih berlaku sampai hari ini. Barangkali anda juga sudah mengetahui bahwa pesan dalam Mat 10:9-10 memberi inspirasi kepada Fransiskus dari Assisi [1181-1226] dan satu-dua pengikutnya untuk mulai menghayati hidup Kristianinya sebagai pengkhotbah keliling, komunitas mana berkembang sampai menjadi keluarga terbesar di dalam Gereja Katolik. Bahkan gereja Kristen Lutheran, Anglikan, Methodis memiliki komunitas-komunitas Fransiskan juga. Namun kedua ayat itu tidaklah berarti bahwa setiap murid Yesus harus menjadi Fransiskan. Kerajaan Allah yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi akan tiba pada akhir zaman, telah datang di tengah umat manusia dengan perantaraan Yesus. Tidak ada yang lebih penting daripada mewartakan hal itu. Yesus hanyalah menginstruksikan keduabelas murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu yang akan membebani dan mengganggu kegiatan kerasulan mereka.

Dalam memberi instruksi kepada keduabelas murid-Nya ini, Yesus tidak memasukkan satu tugas ke dalam misi mereka, yaitu tugas “mengajar”. Walaupun “pengajaran” memegang peran yang sentral dalam penggambaran Matius tentang Yesus, hal ini tidak disebutkan. Kelihatannya tugas “pengajaran” dicadangkan sampai “Amanat Agung” yang disampaikan sebelum kenaikan-Nya ke surga. Pada waktu itu kepada sebelas rasul (12 orang minus Yudas Iskariot), Yesus memberikan amanat agung (great commission): “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20).

Dalam perjalanan sejarah Gereja, great commission ini sering kali menjadi great ommission (sebuah kelalaian besar), padahal “mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan penggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran karunia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya yang mulia” (Paus Paulus VI, Imbauan Apostolik EVANGELII NUNTIANDI, 8 Desember 1975, #14).

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus, dua orang pewarta besar dalam sejarah Gereja, teristimewa pada masa Gereja Perdana. Dua orang pewarta besar tersebut melaksanakan Amanat Agung dari Kristus di atas dengan setia, taat dan penuh keberanian. Jerih payah mereka sangat berbuah, sebagaimana dapat kita lihat dalam sejarah Gereja yang sudah berumur 2.000 tahun ini. Penjelasan lebih lengkap tentang orang kudus ini dapat dilihat dalam Bacaan Kedua (Kis 11:21b;13:1-3).

DOA: Roh Kudus Allah, bentuklah aku agar dapat menjadi pewarta KABAR BAIK Yesus Kristus yang efektif, berani serta tetap taat kepada Gereja-Nya yang sejati. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Jun 06, 2012

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 7 Juni 2012 )

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: 2Tim 2:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik! Ia menjawab pertanyaan ahli Taurat dengan singkat-jelas: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini” (Mrk 12:29-31).

Ahli Taurat itu lalu berkata kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Mrk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat itu untuk pemahamannya atas apa yang dikatakan-Nya, bahwa “mengasihi” adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita – ini adalah perintah-perintah besar dan agung; dan ahli Taurat itu setuju dengan sepenuh hatinya.

Mengasihi tidaklah semudah diucapkan bibir atau semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah suatu tantangan besar bagi orang-orang yang sudah tergolong mapan, teristimewa mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka telah mempunyai begitu banyak kenikmatan materiil, dan hal itu cenderung membuat mereka menjadi serakah dan tamak. Sebaliknyalah dengan orang-orang kecil yang di kota-kota kecil atau pedesaan. Anak-anak harus bekerja membantu di sawah atau ladang untuk menunjang kebutuhan keluarga; keluarga-keluarga juga harus memberi dengan penuh kemurahan-hati tidak sedikit waktu, tenaga dan sumber daya lainnya guna membangun gereja-gereja dan pusat-pusat komunitas. Memang tidak selalu berjalan lancar dan cukup “memakan waktu”, namun hal seperti ini adalah pemberian-diri yang asli, suatu tanggapan manusia, kerja-sama demi pemenuhan kebutuhan bersama. Hal seperti itu juga mengembangkan suatu rasa tanggung-jawab.

Sekarang kita tidak otomatis merasakan adanya kebutuhan satu sama lain. Namun sesungguhnya begitu banyak orang yang mengalami kesendirian dan sangat merindukan kasih sejati. Serbuan bertubi-tubi dalam rupa berbagai tulisan (termasuk lewat internet) yang menyesatkan memberikan sebuah gambaran yang salah tentang apa cintakasih manusiawi itu. Misalnya, apabila anda tidak memiliki gigi yang putih berkilau-kilauan dan rambut yang lembut dan parfum tertentu, maka tidak ada seorang pun yang akan mencintai anda. Kita memang suka tertawa dalam menanggapi iklan-iklan itu, namun tak terasa semua itu memasuki dan malah merasuki pikiran kita. Iklan-iklan seperti itu membuat kita ingin “memperoleh” sesuatu, bukan “memberi”. Jika demikian halnya, maka cintakasih hanyalah suatu daya tarik di permukaan saja yang tidak ada urusannya samasekali dengan kasih yang sejati.

Adalah suatu tragedi apabila sebuah rumah yang indah dengan segala macam perlengkapannya, misalnya dua buah mobil mewah, sebuah kolam renang, taman yang luas-indah, beberapa televisi besar, kamar-kamar mandi yang mewah dlsb., namun bukan merupakan rumah yang membahagiakan bagi para penghuninya, karena kasih yang sejati tidak ada. Tidak ada cintakasih sejati yang tidak terbuka, tidak dipenuhi kemurahan-hati, tidak memiliki unsur pengorbanan dan disiplin yang baik. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Cintakasih yang sejati mengalir ke luar dari diri sendiri kepada orang-orang lain. Apabila cintakasih yang asli tidak secara aktif bertumbuh dengan subur dalam keluarga, maka bagaimana hal itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Di sinilah letak tanggung jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar cintakasih yang sejati kepada anak-anak mereka, agar mereka masing-masing memilikinya sendiri juga. Mereka harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah kasih. Ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dan sesama kami manusia dengan benar, seturut kehendak-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Jun 05, 2012

KAMU BENAR-BENAR SESAT!


( Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa IX, Rabu 6 Juni 2012 )
 Peringatan Santo Norbertus [1082-1134], Uskup dan pendiri Ordo Premonstratens

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-3,6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-2

Orang-orang Saduki adalah sekelompok pemimpin agama yang – seperti orang-orang Farisi – menentang Yesus. Tidak seperti orang-orang Farisi, kaum Saduki tidak percaya akan kebangkitan setelah kematian. Mereka berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai satu-satunya sumber otoritas. Mereka lebih ketat daripada orang-orang Farisi dalam kepercayaan dan praxis hidup kerohanian. Mereka ‘sungguh tersinggung’ oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatan radikal di satu sisi, dan di sisi lain diterimanya Yesus oleh khalayak ramai.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang anggotanya untuk mencoba menjebak-Nya dan dengan demikian dapat mendiskreditkan Dia dan ajaran/pesan-Nya. Yang mereka ajukan adalah persoalan hipotetis berkaitan dengan hukum Levirat (lihat Ul 25:5). Masalah hipotetis ini hanyalah semacam umpan agar Yesus terjebak. Apakah ada kebangkitan dari kematian? Kalau begitu, bagaimana ajaran Musa bisa-bisanya memberi ruang untuk adanya suatu situasi yang penuh teka-teki ini?

Yesus mengetahui apa yang ada di benak orang-orang Saduki itu. Yesus menjawab pertanyaan mereka seturut pengertian mereka sendiri, namun pada saat yang bersamaan Ia berupaya mengangkat pikiran mereka kepada kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, seperti yang biasa dilakukan oleh para rabi, Yesus mempresentasikan sebuah pernyataan yang berisikan ikhtisar dari ajaran-Nya. Guna mendukung pernyataan-Nya Yesus memetik ayat dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Mrk 12:26), karena itulah satu-satunya sumber yang diterima oleh kaum Saduki.

Bukanlah Yesus kalau Dia berhenti di situ, karena tidak cukuplah bagi-Nya untuk menunjukkan bahwa diri-Nya benar. Memang forma tanggapan Yesus itu sejalan dengan tradisi mereka, namun isinya atau substansinya adalah suatu perpisahan radikal dari tradisi tersebut. Yesus mengatakan bahwa orang-orang benar tidak hanya diangkat ke dalam suatu kehidupan baru, melainkan juga diangkat menjadi “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Mrk 12:25). Allah Bapa tidak hanya memberikan kehidupan kepada bumi, melainkan Dia juga menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan sesudah kubur. Karena kematian telah dikalahkan, maka anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; dihadapan Allah mereka hidup (Mrk 12:25,27) dalam suatu kehidupan baru yang mentransenden kehidupan yang mereka alami di atas bumi. Dengan demikian jawaban Yesus melampaui pertanyaan-pertanyaan orang Saduki, dengan maksud untuk mengungkapkan kasih dan rahmat Bapa surgawi. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita dapat mengalami kehidupan Yesus sendiri, bebas dari kematian dan hidup bagi Allah (lihat Rm 6:5-11). Dengan dibersatukannya kita dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengalami kebebasan dari dosa dan kematian, buah pertama dari kehidupan surgawi yang menantikan kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkaulah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu kehidupan yang telah ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami untuk tetap setia sementara kami mengantisipasi sukacita kehidupan abadi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Jun 04, 2012

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU ???


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius [675-775], Selasa 5 Juni 2012 )

Kemudian beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes disuruh kepada Yesus supaya mereka menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak? Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah kepada-Ku satu dinar supaya Kulihat!” Mereka pun membawanya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia. (Mrk 12:13-17)

Bacaan Pertama: 2Ptr 3:12-15a,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-4,10,14,16

Berulang kali Yesus harus menghadapi kemunafikan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya. Jawaban-Nya kepada mereka selalu jujur dan langsung tanpa tedeng aling-aling. Kali ini orang-orang Farisi datang bersama para pendukung Herodes. Kiranya mereka adalah orang-orang suruhan Sanhedrin dengan satu tugas penting, yaitu untuk menjerat Yesus. Mereka berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur …… Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah” (Mrk 12:14). Memang ini merupakan puji-pujian yang luarbiasa, namun sayangnya didorong oleh motivasi yang salah, yaitu untuk mendesak Yesus memberi jawaban terhadap pertanyaan mereka yang bersifat menjebak: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami membayar atau tidak?” (Mrk 12:14). Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang itu dengan balik bertanya: “Mengapa kamu mencobai Aku?” (Mrk 12:15). Kemudian dengan penuh hikmat Yesus menjawab mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Mrk 12:17).

Apakah yang dimaksud dengan “yang wajib diberikan kepada Allah”, dengan kata lain hak Allah? Jawabnya: Tempat pertama, prioritas utama dalam kehidupan kita! Bahkan Kaisar sendiri seharusnya tunduk pada otoritas Allah, apakah dia mengakuinya atau tidak.

Ada sedikit cerita dari sejarah Amerika Serikat. Salah seorang pendiri negara itu yang hadir pada pertemuan Konvensi Federal pada tahun 1787 untuk menyusun Konstitusi Amerika Serikat adalah Benjamin Franklin. Dialah yang mendorong bahwa rapat harian harus dibuka dengan sebuah doa. Dia begitu yakin bahwa Allah memerintah/mengatur perkara-perkara manusia, sehingga dia berkata bahwa tidak ada kekaisaran yang dapat bangkit tanpa penyelenggaraan Allah. Lalu Benjamin Franklin mengutip ayat dari Mazmur 127: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm 127:1). Oleh karena itu dia minta agar sebelum sidang dimulai setiap pagi, para peserta Konvensi Federal itu menghaturkan doa permohonan kepada Allah agar menolong mereka pada waktu berlangsungnya sidang.

Sekarang, marilah kita pikirkan masalah-masalah umat manusia dewasa ini, baik dalam lingkup global, nasional, lokal, komunitas, keluarga maupun personal. Bukankah semua masalah itu merupakan akibat karena kita tidak memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya? Kepahitan, prasangka serta praduga, kecemburuan, kebencian, ketidakadilan dan tindakan kekerasan yang terjadi di sekeliling kita sebenarnya merupakan akibat buruk dari kesombongan serta ketamakan manusia dan penolakan terhadap hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya Tuhanlah yang dapat memberikan solusi atas berbagai dilema ini. Hanya Dialah yang dapat mengajar kita ke mana kita harus pergi, yang dengan penuh kuat-kuasa dapat berbicara lewat teladan-Nya. Kuasa untuk menyembuhkan sakit-penyakit ditawarkan kepada kita, demikian pula dengan kuasa untuk mengalahkan kejahatan diberikan kepada kita, namun kita tidak menerimanya (artinya: menolaknya).

Kita tidak memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya: sesungguhnya kita tidak memperkenankan Allah memenuhi diri kita dengan kuasa-Nya. Kita menaruh berbagai penghalang di jalan-Nya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya. Kita mencoba untuk menemukan berbagai pengganti/substitut Kristus, namun semua itu tidak efektif dinilai dari segala sudut. Para kudus memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Mereka memberikan waktu berjam-jam setiap hari untuk mendengarkan Dia dalam doa, lewat pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, teristimewa Injil Yesus Kristus, dan dengan mengikuti jejak-Nya secara radikal (catatan: “radikal” sebenarnya bukanlah sepatah kata yang buruk; berasal dari kata radix yang berarti “akar”).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah satu-satunya jawaban! Tolonglah kami agar dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar kepada-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, Jun 03, 2012

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Senin, 4 Juni 2012 )

Kongregasi Suster Fransiskanes dr Santo Georgius Martir: Peringatan Kedatangan Suster-suster FSGM di Indonesia

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: 2Ptr 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,14-16

Dalam perumpamaan ini Yesus menggunakan gambaran kebun anggur seperti yang digunakan oleh Yesaya sebelumnya (Yes 5:1-7). Sasaran Yesus dengan perumpamaan ini adalah para pemimpin atau pemuka agama Yahudi. Mereka membimbing umat Allah (kebun anggur) untuk keuntungan mereka sendiri, bukan untuk Allah (pemilik kebun anggur). Dengan demikian Allah tidak menerima tanggapan (buah) yang diharap-harapkannya. Yang lebih “parah” lagi adalah, bahwa mereka menutup umat dari Yesus, sang Putera Allah.

Kita dapat menggunakan gambaran (imaji) kebun anggur ini untuk mencerminkan bagaimana cara sikap-sikap yang keliru dapat menguasai pikiran kita dan menghalang-halangi kita menghasilkan buah baik berupa kasih dan kemurahan hati dlsb. Harapan-harapan sang tuan tanah pemilik kebun anggur hancur karena kebun anggur miliknya itu dikuasai oleh para penggarap yang bersikap memusuhi. Sesuatu yang serupa terjadi dalam relasi kita dengan Allah ketika kita memperkenankan filsafat-filsafat (katakanlah dalam hal ini falsafah-falsafah) dunia mengkontaminasi pemikiran kita. Barangkali kita telah mengambil oper relativisme moral atau “yang buruk-buruk di bidang seks” dari film, buku atau dari “dunia maya” (internet). Barangkali kita telah melibatkan diri dalam praktek-praktek okultisme atau “new age”. Sebagai akibatnya, kehidupan rahmat dalam diri kita menjadi rusak.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah itu tanpa reserve dan tidak menghitung-hitung biaya dalam upaya-Nya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik seperti disebut di atas. Yesus datang untuk membuang segala hal yang mengganggu membawa dampak buruk atas pikiran kita, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam diri kita – namun Ia tidak akan melakukan hal tersebut sendiri. Setiap hari, Dia memanggil kita untuk menaruh iman kita dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Tindakan menyerahkan diri kita kepada-Nya bukanlah suatu kehilangan kendali yang tidak sehat, melainkan memperoleh kembali kendali kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dipulihkan kepada pikiran kita yang benar. Selagi sabda Allah meresap dalam kehidupan kita, kita pun dibebaskan dari tirani dosa dan pikiran kita dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp 4:8).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakanku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Jun 02, 2012

KEMULIAAN KEPADA BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS


( Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 3 Juni 2012 )
Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20)

Bacaan Pertama: Ul 4:32-34,39-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-6,9,18-20,22; Bacaan Kedua: Rm 8:14-17

Kita telah dibaptis dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Sekarang kita menikmati suatu relasi personal dengan sang Pencipta, Penebus dan Dia yang menguduskan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa baptisan harus dilaksanakan dalam nama Bapa dan Putera (Anak) dan Roh Kudus. Kita memberikan nama sebuah jalanan, perkumpulan, lembaga pendidikan, rumah sakit atau lembaga sosial lainnya menurut nama seorang patriot bangsa atau orang kudus, karena orang yang dimaksud merupakan tokoh inspirasional untuk kita kenang dan contoh teladan hidupnya. Di sisi lain kita harus mencoba untuk menghargai pentingnya arti nama yang diberikan oleh Kitab Suci. Sebuah nama dalam Kitab Suci bukanlah sekadar untuk dikenang. Dalam sebuah nama terdapat kehadiran seorang pribadi dan bagian dari segala hal yang diperjuangkan pribadi tersebut.

Dalam Kitab Suci, nama seorang pribadi mengingatkan kita akan kehidupan dan kehadiran aktif pribadi tersebut. Dalam baptisan kita dibentuk ke dalam suatu relasi yang vital dan dinamis dengan Allah sebagai Pencipta kita, Penebus kita dan Pengudus kita. Dalam nama ketiga Pribadi Ilahi terdapat kehadiran dan kuasa ketiga Pribadi tersebut.

Teologi telah dengan indahnya digambarkan sebagai suatu seni yang mampu mendengar cerita-cerita mengenai Allah dan kemudian menceritakannya kembali kepada orang-orang lain. Dan apa pula yang dimaksudkan dengan doa? Doa adalah jika kita mengetahui bahwa kita merupakan bagian dari cerita-cerita tentang Allah itu.

Tritunggal Mahakudus adalah cerita mengenai tiga gerakan Allah menuju diri kita. Pertama-tama adalah gerakan kehidupan dari pikiran Allah, Bapa segala ciptaan. Manakala setiap hari Allah memandang segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya, maka Dia pun melihat bahwa semuanya itu baik (lihat Kej 1:10,24).

Namun sayangnya, manusia menyalahgunakan kehendak bebas yang telah dianugerahkan Allah; mereka menjual hak yang diterima sejak lahir, dan menjadi budak dosa. Manusia perlu diselamatkan dari perbudakan ini. Dengan demikian, gerakan kedua Allah menuju kita adalah mengutus seorang Penebus, seorang Juruselamat. Tidak ada lagi dalam Kitab Suci yang lebih indah mengungkapkan hal ini daripada dalam percakapan antara Yesus dan Nikodemus pada suatu malam hari: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Sang Putera Allah mengambil kondisi kemanusiaan kita agar dapat sepenuhnya memasuki dan terlibat dalam naik-turunnya kehidupan kita manusia, proses pemikiran manusia, emosi-emosi manusia, berbagai kekuatan dan kerentanan kita sebagai manusia … pokoknya ke dalam segala segi kemanusiaan kecuali dosa (lihat Ibr 4:15). Ia datang sebagai seorang Saudara yang merangkul kita semua tanpa diskriminasi. Sebagai seorang Juruselamat, Ia memimpin kita keluar dari perbudakan (dosa) kepada kebebasan. Sebagai Sabda Allah, Dia membawa bagi kita terang iman. Sebagai Kepala dari Tubuh-Nya (Gereja), ke mana Dia telah pergi, ke sana pula kita berharap akan mengikuti-Nya. Dan dasar dari pengharapan kita adalah gerakan ketiga Allah bagi kita …… karunia Roh Kudus.

Roh Kudus itu bagaikan nafas yang senantiasa kembali ke dunia sekeliling kita: kuasa cintakasih yang menarik kepada persatuan, kuasa Allah yang menarik Yesus Kristus dari alam maut ke dalam kemuliaan. Dan karena tubuh Yesus yang dimuliakan tidak lagi terbatas dalam batasan-batasan fisik, maka sekarang Roh Kudus diruahkan atas semua orang yang percaya.

Teologi berkaitan dengan Allah Tritunggal Mahakudus bercerita tentang Allah yang mendatangi kita manusia sebagai ‘seorang’ Bapa-Pencipta, sebagai Putera-Penebus dan sebagai Roh-Pengudus. Doa adalah manakala kita mengetahui bahwa kita adalah bagian dari cerita itu: bilamana kita tertangkap dalam upaya menanggapi gerakan-gerakan Allah …… ketika kita merupakan pasangan-pasangan dalam tarian Allah.

Dalam bacaan kedua (Rm 8:14-17), Santo Paulus menggambarkan apa yang dimaksudkan dengan menari dengan gerakan-gerakan Allah.

Untuk digerakkan oleh Roh Kudus, seseorang mengetahui bahwa dirinya dibangkitkan ke dalam hidup baru, yang lebih tinggi dari hidup alami, sebagai seorang anak Allah. Kita tidak lagi takut kepada Allah dan menghindarkan diri dari pandangan-Nya. Kita tidak lagi ingin bersembunyi dari pandangan Allah dan kesenangan kita adalah untuk berada lebih dekat dengan Allah …… anak-anak yang berlari-lari mendekati Bapa surgawi. Kata hakiki dalam doa Kristiani adalah “Abba, Bapa.”

Doa adalah kasih kepada Allah Bapa yang diungkapkan dalam kata-kata dan keluh-kesah dan penantian. Doa juga merupakan puji-pujian dan pengungkapan terima kasih penuh syukur. Puji-pujian kepada sang Pemberi dan terima kasih untuk segala karunia yang diberikan-Nya. Arah yang benar dari puji-pujian datang dari Roh yang bergerak dalam diri kita, melalui sang Putera dan menuju Bapa. Ingat doksologi dalam Misa: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepada-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa. Amin.” Surga akan menjadi penyelesaian baptisan kita. Sebelum mencapai surga kita adalah para pewaris Allah yang mempunyai hak masuk surga walaupun kita masih menanti-nanti. Sementara kita menunggu di atas bumi ini kita masin dapat mengalami berbagai penderitaan, ketegangan dan kontradiksi. Namun pengalaman-pengalaman ini pun tidak menjauhkan kita dari kehadiran Allah. Dalam “salib-salib kehidupan” ini akan berjumpa dengan Kristus yang tergantung pada kayu salib …… “menjadi pewaris bersama Kristus, ikut ambil bagian dalam penderitaan-penderitaan-Nya dan juga kemuliaan-Nya.”

Kita telah dibaptis ke dalam …… dibenamkan ke dalam …… nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam sakramen rekonsiliasi dosa-dosa kita diampuni dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus. Pada akhir Misa kita juga diutus dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus.

“Dalam nama” ada kehadiran dan kuasa dari Dia yang memiliki nama itu. Allah senantiasa hadir bagi kita dengan kuasa seorang Bapa, Sabda yang menebus dan kasih yang menguduskan. Dalam doa kita memberi tanggapan terhadap gerakan-gerakan ini.

DOA: Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS