Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Jun 05, 2012

KAMU BENAR-BENAR SESAT!


( Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa IX, Rabu 6 Juni 2012 )
 Peringatan Santo Norbertus [1082-1134], Uskup dan pendiri Ordo Premonstratens

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-3,6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-2

Orang-orang Saduki adalah sekelompok pemimpin agama yang – seperti orang-orang Farisi – menentang Yesus. Tidak seperti orang-orang Farisi, kaum Saduki tidak percaya akan kebangkitan setelah kematian. Mereka berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai satu-satunya sumber otoritas. Mereka lebih ketat daripada orang-orang Farisi dalam kepercayaan dan praxis hidup kerohanian. Mereka ‘sungguh tersinggung’ oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatan radikal di satu sisi, dan di sisi lain diterimanya Yesus oleh khalayak ramai.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang anggotanya untuk mencoba menjebak-Nya dan dengan demikian dapat mendiskreditkan Dia dan ajaran/pesan-Nya. Yang mereka ajukan adalah persoalan hipotetis berkaitan dengan hukum Levirat (lihat Ul 25:5). Masalah hipotetis ini hanyalah semacam umpan agar Yesus terjebak. Apakah ada kebangkitan dari kematian? Kalau begitu, bagaimana ajaran Musa bisa-bisanya memberi ruang untuk adanya suatu situasi yang penuh teka-teki ini?

Yesus mengetahui apa yang ada di benak orang-orang Saduki itu. Yesus menjawab pertanyaan mereka seturut pengertian mereka sendiri, namun pada saat yang bersamaan Ia berupaya mengangkat pikiran mereka kepada kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, seperti yang biasa dilakukan oleh para rabi, Yesus mempresentasikan sebuah pernyataan yang berisikan ikhtisar dari ajaran-Nya. Guna mendukung pernyataan-Nya Yesus memetik ayat dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Mrk 12:26), karena itulah satu-satunya sumber yang diterima oleh kaum Saduki.

Bukanlah Yesus kalau Dia berhenti di situ, karena tidak cukuplah bagi-Nya untuk menunjukkan bahwa diri-Nya benar. Memang forma tanggapan Yesus itu sejalan dengan tradisi mereka, namun isinya atau substansinya adalah suatu perpisahan radikal dari tradisi tersebut. Yesus mengatakan bahwa orang-orang benar tidak hanya diangkat ke dalam suatu kehidupan baru, melainkan juga diangkat menjadi “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Mrk 12:25). Allah Bapa tidak hanya memberikan kehidupan kepada bumi, melainkan Dia juga menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan sesudah kubur. Karena kematian telah dikalahkan, maka anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; dihadapan Allah mereka hidup (Mrk 12:25,27) dalam suatu kehidupan baru yang mentransenden kehidupan yang mereka alami di atas bumi. Dengan demikian jawaban Yesus melampaui pertanyaan-pertanyaan orang Saduki, dengan maksud untuk mengungkapkan kasih dan rahmat Bapa surgawi. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita dapat mengalami kehidupan Yesus sendiri, bebas dari kematian dan hidup bagi Allah (lihat Rm 6:5-11). Dengan dibersatukannya kita dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengalami kebebasan dari dosa dan kematian, buah pertama dari kehidupan surgawi yang menantikan kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkaulah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu kehidupan yang telah ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami untuk tetap setia sementara kami mengantisipasi sukacita kehidupan abadi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan