Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Khamis, Jun 28, 2012

ASAL KITA MEMPERKENANKAN YESUS MEMBENTUK KITA

( Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Jumat, 29 Juni 2012 )

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

… tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:6-8,17-18)

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Allah memberikan kepada kita para kudus untuk mendorong kita, menyemangati kita! Selagi kita memperhatikan contoh bagaimana mereka melayani Yesus dan umat-Nya, maka hati kita pun digerakkan (oleh Roh Kudus) untuk meneladan para kudus itu. Namun demikian, kita harus senantiasa menghindarkan diri dari kesalahan bersikap seakan para kudus tersebut adalah “supermen”. Seorang kudus bukanlah seorang “superman”, karena pada kenyataannya mereka tidak berbeda dengan kita. Mereka adalah para perempuan dan laki-laki, yang dalam saat-saat kritis kehidupan mereka (katakanlah ketika mengalami ‘diskontinuitas’ dalam jalan kehidupan mereka), berpaling kepada Allah dan menerima rahmat-Nya. Dengan demikian dimungkinkanlah bagi setiap dan masing-masing kita untuk melakukan hal yang sama.

Petrus dan Paulus adalah contoh-contoh yang indah tentang kemampuan Allah mengambil pribadi-pribadi yang memiliki berbagai kelemahan atau sisi negatif, dan kemudian membalikkan mereka menjadi saksi-saksi Injil yang penuh kuat-kuasa. Tidak ada seorang pun dari mereka berdua mencapai hasil pekerjaan begitu mengagumkan hanya karena kerja-keras, kreativitas dan kemampuan-kemampuan administratif yang unggul. Sebagai akibat dari campur tangan Allah dalam kehidupan mereka, mereka pun disadarkan akan adanya kebutuhan akan diri-Nya dan tertangkap oleh kasih-Nya – cinta kasih yang paling mendesak yang akan pernah dikenal oleh dunia.

Paulus adalah seorang laki-laki brilian yang unggul dalam segala sesuatu yang dilakukannya (lihat Flp 3:4-6). Akan tetapi, melalui situasi-situasi yang dihadapi-Nya dalam kehidupannya, Allah membawa Paulus ke suatu titik di mana dia tidak menginginkan apa-apa lagi selain menjadi seperti Yesus. Petrus juga adalah seorang laki-laki yahg penuh dengan gairah. Ia sangat mengasihi Yesus, namun ia condong untuk menaruh kepercayaan pada hikmat-kebijaksanaannya sendiri. Yesus memperkenankan Petrus untuk melihat keadaan riil dari hati-Nya, dan akibatnya bukanlah keputusasaan, melainkan suatu pengalaman akan kasih dan kerahiman dari seorang Juruselamat yang tidak akan meninggalkannya. Hal ini membawa Petrus kepada cinta kasih kepada Yesus yang semakin besar.

Kita semua dipanggil untuk menjadi para kudus, masing-masing dengan cara kita sendiri. Namun ini hanya akan terjadi apabila kita memperkenankan Yesus untuk membentuk kita. Selagi kita memperkenankan tangan Yesus yang lemah-lembut dan penuh kasih itu mendobrak “benteng bagian luar diri kita yang berwujud kemandirian yang palsu-keliru dalam sikap dan perilaku kita, maka kita pun berubah menjadi seperti parfum yang mewangi ke segala penjuru, menyegarkan kembali keluarga kita, paroki-paroki kita, lingkungan tempat tinggal kita, tempat kerja kita, dan semua orang yang datang untuk berkontak dengan kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku bagi-Mu. Buatlah aku seorang kudus sebagaimana yang Engkau sendiri inginkan dari diriku. Tolonglah aku untuk tetap fokus pada kasih-Mu and bukan pada sukacita dan kesedihan kehidupan ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan