Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, Jun 12, 2012

MEMATUHI PERINTAH-PERINTAH-NYA TANPA BOSAN


( Bacaan Injil Misa, PERINGATAN S. ANTONIUS DARI PADUA – Rabu, 13 Juni 2012 )
Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dari Padua, Imam & Pujangga Gereja

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19)

Bacaan Pertama: 1Raj 18:20-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,4-5,8,11

Kita, orang-orang Kristiani zaman modern, sering mengatakan bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sampai ke detil-detilnya itu merupakan sesuatu yang membosankan. Namun seringkali rasa takut akan kebosanan ini hanyalah sekadar “jas penutup” saja. Rasa takut kita sebenarnya bukanlah takut pada kebosanan atau rutinitas. Sebenarnya kita merasa takut menghadapi tuntutan-tuntutan Allah yang tidak mengenal kompromi, kesusahan setiap hari melakukan pertempuran rohani tanpa henti, betapa melelahkannya mengembangkan hikmat dan kehendak yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Orang Kristiani modern yang merasa “bosan” adalah seperti seorang anak laki-laki yang berkata bahwa dia tidak menyukai sepak bola karena bermain sepak bola itu “membosankan” atau tidak membutuhkan keterampilan seperti jenis-jenis olah-raga lainnya, padahal sebenarnya karena dia takut terluka atau dipermalukan oleh pemain bola yang lebih baik. Sesungguhnya, banyak alasan kita adalah sekadar “dalih”!

Yesus bersabda: “… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2; bdk.Mrk 4:24; Luk 6:38). Terlalu banyak dari kita yang berpura-pura takut akan “kebosanan” agama dan begitu “monoton”-nya dalam memuji-muji Allah – padahal terlalu banyak dari kita sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Secara salah kita memberi cap “membosankan” pada hal-hal yang sesungguhnya dapat membebaskan kita dari kebosanan lebih besar yang kita pilih sendiri. Kita takut terhadap segala hal yang mungkin memaksa kita melakukan sesuatu yang berharga, karena karya-karya besar ini menuntut pengorbanan dari pihak kita.

Kita sebenarnya berada dalam bahaya besar. Tidak melakukan apa-apa, menikmati kehidupan kita yang sudah nyaman, maka menjaga kenyamanan kita merupakan bentuk mementingkan diri sendiri yang utama. Mementingkan diri sendiri, keserakahan, ketamakan merupakan unsur dosa yang mendasar. Bosan dengan diri kita sendiri dan rasa takut akan upaya yang dibutuhkan untuk bangkit dari lethargy (rasa lesu-malas) kita, maka kita pun akan berpaling kepada salah bentuk dosa sebagai suatu cara menyelesaikan sesuatu. Kita mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris, “getting the fun out of life” dan “living only once”, …… bukankah kita hidup hanya sekali? Oleh karena itu enjoy aja! Dengan kata lain, kita begitu mementingkan diri sendiri, sehingga begitu bangun tidur, kita pun akan bertindak-tanduk secara ego-sentris.

Orang-orang yang besar di mata Allah dan manusia lainnya akan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan tanpa henti guna memuji dan memuliakan Allah; semua makhluk akan memimpin mereka kepada Allah; setiap talenta akan dipakai untuk memuliakan Dia; bahkan saat-saat istirahat dan kesantaian mereka dijalani dalam kehadiran-Nya yang penuh kasih. Mereka tidak mengenal “kebosanan” dalam relasi mereka dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya: Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya.

DOA: Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mzm 146:1). Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan