Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Ahad, Oktober 14, 2012

TANDA-TANDA KEHADIRAN ALLAH


( Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dari Avila, Perawan & Pujangga Gereja – Senin, 15 Oktober 2012 )

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!” (Luk 11:29-32)

Bacaan Pertama: Gal 4:22-24,26-27,31-5:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7

Pernahkan Saudari-Saudara berpikir tentang bagaimana pentingnya tanda-tanda bagi hidup kita? Rambu-rambu lalu-lintas memperlihatkan kepada kita berapa km/jam kita dapat berkendara mobil dan kapan kita harus berhenti dst. Kata-kata yang kita ucapkan adalah tanda-tanda dari realitas-realitas yang lebih mendalam yang sedang kita coba ungkapkan. Cara kita berjalan, atau ekspresi wajah kita, dapat memberi sinyal apa yang kita sedang rasakan. Kita memang membutuhkan tanda-tanda dan simbol-simbol. Itulah cara Allah menciptakan kita.

Dengan cara serupa, tanda-tanda yang diinspirasikan menceritakan kepada kita tentang kehadiran Allah dan mengungkapkan kebenaran-Nya. Dalam Kitab Suci, Yunus merupakan suatu tanda pertobatan dan belas kasih (Luk 11:30; Yun 3). Paulus memahami bahwa dua orang perempuan yang melahirkan dua orang anak Abraham sebagai tanda-tanda dari perjanjian lama dan perjanjian baru (Gal 4:22-27). Bahkan Yesus adalah tanda yang paling besar (Luk 2:34).

Apakah anda percaya, bahwa karena Roh yang hidup dalam dirimu, hidupmu dapat menjadi sebuah tanda yang menunjuk pada kemenangan salib? Sebuah tanda yang memimpin orang-orang lain untuk mencari Tuhan dalam doa? Sebuah tanda bahwa Kerajaan Allah adalah di sini? Lagi, apakah anda percaya bahwa cinta kita satu sama lain – dalam keluarga-keluarga dan gereja-gereja – dapat menjadi satu dari tanda-tanda kehadiran Yesus yang paling besar (Yoh 13:34-35)? Dan apabila satu badan lokal umat Kristiani merupakan sebuah tanda, bagaimana dengan gereja universal? Potensinya sangat besar! Apabila kita semua bergabung bersama, lalu mendedikasikan hati kita sepenuhnya bagi Yesus, dan berdoa syafaat bagi dunia, maka kuasa yang bersifat monumental dapat dilepaskan untuk menghancurkan ketidakpercayaan, kebencian yang sudah turun temurun dan prasangka yang sudah lama terpendam.

Pada Minggu pertama masa Prapaskah tahun 2.000, Paus Yohanes Paulus II bersama tujuh orang kardinal dan uskup agung, mendoakan “doa mohon pengampunan”. Mereka mengakui tujuh area dosa – seperti dosa-dosa terhadap kesatuan tubuh Kristus, terhadap orang-orang Yahudi, dan terhadap kaum perempuan – atas nama anak-anak Gereja. Bayangkan kuasa yang dilepaskan oleh pertobatan ini, dan makna tanda ini bagi seluruh dunia. Sekarang, bayangkan apa yang dapat terjadi apabila seluruh Gereja secara harian berdoa dengan cara begini. Perpecahan yang ada di antara umat Kristiani dapat disembuhkan, permusuhan antara bangsa-bangsa dapat menjadi surut atau mereda, dan orang-orang yang tidak percaya dapat berbalik menjadi percaya kepada Allah!

DOA: Bapa surgawi, banyak anak-anak-Mu yang tertindih oleh penderitaan hidup. Ampunilah semua prasangka dan persatukanlah umat beriman yang masih terpecah-belah, agar dengan demikian kasih kami satu sama lain dapat menjadi sebuah tanda bagi dunia tentang kuasa dan kasih-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Oktober 13, 2012

HANYA SATU LAGI KEKURANGANMU


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXVIII – 14 Oktober 2012 )

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: Keb 7:7-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:12-17; Bacaan Kedua: Ibr 4:12-13

Bacaan Injil hari ini sebenarnya Mrk 10:17-30 atau Mrk 10:17-27 (versi pendek). Versi pendek dipilih atas dasar pertimbangan praktis disebabkan keterbatasan ruang untuk menulis. Kalau kita melihat juga bacaan-bacaan sejajar yang terdapat dalam Mat 19:16-26 dan Luk 18:18-27, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang kaya (Mrk 10:22; Mat 19:22, Luk 18:24), masih muda-usia (Mat 19:20), memegang kuasa kepemimpinan (Luk 18:18), dan hidup kerohaniannya juga baik (Mrk 10:20; Mat 19:20; Luk 18:21). Sekilas lintas, kelihatannya orang itu sudah memiliki segalanya. Namun ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada Yesus yang kiranya sudah lama terpendam dalam hatinya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk 10:17).

Kelihatan di sini, bahwa upayanya untuk menghayati kehidupan bermoral – bagaimana pun berhasilnya – tidak mampu memberikan kepadanya kedamaian dan keamanan yang selama itu dihasratinya. Sambil memandang orang muda-kaya itu dengan penuh kasih Yesus lalu melangkah melampaui perintah untuk sekadar tidak berdosa. Yesus mengundang orang itu untuk hidup dekat dengan diri-Nya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21). Ternyata, orang itu meninggalkan Dia dengan sedih hati. Berikut ini adalah catatan paling menyedihkan tentang pemuridan /kemuridan dalam Injil Markus: “Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk 10:22). Walaupun Yesus telah mengucapkan kata-kata yang paling dibutuhkannya, orang itu begitu terlekat pada harta-bendanya. Orang itu telah membuat pilihannya antara dua alternatif pilihan: Yesus atau harta-bendanya. Ternyata dia memilih harta bendanya.

Cerita ini dapat memprovokasi pertanyaan-pertanyaan penting: Apakah sungguh cukup bagi seseorang untuk sekadar melakukan kebaikan dan tidak berdosa? Ataukah kita masih merindukan sesuatu yang lebih? Apakah keprihatinan kita akan status sosial atau prestise profesional, atau kenyamanan atau kepemilikan materiil, menghalangi diri kita menerima undangan Yesus untuk masuk ke dalam pemuridan/kemuridan yang lengkap dan total? Pada akhirnya, semua itu akan mengendap menjadi satu pertanyaan saja: Apa/siapa yang sesungguhnya memerintah atas diri kita?

Beato Charles de Foucauld pernah menulis, bahwa panggilan di sini “adalah panggilan Allah sendiri. Oleh karena itu kita tidak ‘memilih panggilan’, melainkan berupaya untuk menemukan panggilan kita, untuk melakukan segalanya yang dapat kita lakukan agar dapat mendengar Suara Ilahi yang memanggil-manggil kita, untuk meyakinkan diri kita apa yang dikatakan-Nya – dan kemudian mentaati-Nya.” Jadi, masalahnya di sini bukanlah mengikuti formula atau rumusan yang benar. Masalahnya yang penting adalah mendengar panggilan Allah dan menyerahkan setiap ketertarikan dan kelekatan yang selama ini menghalangi kita untuk mengenal diri-Nya secara akrab.

Pada saat kita mencari Yesus dalam doa atau menyambut-Nya dalam Komuni Kudus, Ia berjumpa dengan kita dengan pandangan penuh kasih yang sama seperti yang ditunjukkan-Nya ketika memandang orang muda-kaya itu – suatu pandangan yang menembus hati kita dan menyatakan kepada kita harta sesungguhnya dari hati kita. Pada hari ini, marilah kita bersimpuh di bawah pandangan penuh kasih Yesus, dan kita pun akan mengenal dan mengalami suatu keintiman yang tidak pernah dapat diberikan oleh hal-hal duniawi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan keberadaan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Selidikilah hatiku dan tunjukkanlah kepadaku apa saja yang menghalangi aku untuk menjawab panggilan-Mu dalam setiap saat hidupku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Oktober 12, 2012

MEMUJI ALLAH


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 13 Oktober 2012 )
Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Honoratus Kosminski, Biarawan

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28)

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada perempuan itu adalah gema dari apa yang telah dikatakan-Nya kepada 70 murid-murid-Nya pada saat mereka kembali dari perjalanan misi mereka (Luk 10:17-20).

Pada waktu itu para murid memuji Dia dan diri mereka sendiri untuk kuasa nama Yesus atas roh-roh jahat. Kemudian Yesus meluruskan kembali “euforia” mereka dengan mengajar mereka: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Luk 10:20). Langsung setelah mengatakan hal itu Yesus juga bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa-Nya di surga untuk apa yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya.

Sekarang, ketika perempuan dalam bacaan Injil hari ini memuji Yesus dan ibunda-Nya dengan mendeklarasikannya sebagai “berbahagia” karena mengandung dan menyusui seorang nabi besar, sekali lagi Yesus meluruskan kembali pujian itu kepada Allah: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Yesus dapat membaca apa yang ada dalam pikiran perempuan itu, sebagaimana Dia sebelumnya dapat membaca apa yang ada dalam pikiran para murid-Nya yang baru kembali dari perjalanan misi mereka. Kepada para murid-Nya, Yesus memperingatkan, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk 10:18). Dengan perkataan lain, seolah-olah Yesus mengatakan: “Jangan mengambil “kredit” seakan-akan kamu sendirilah yang melakukan pekerjaanmu. Itu adalah pekerjaan Allah, oleh karena itu berikanlah pujianmu kepada-Nya.”

Kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberikan nasihat serupa: “Apabila yang ibu maksudkan adalah, ‘sayang sekali aku tidak dapat menjadi ibunda Mesias,’ ingatlah, ibu dapat berada dekat dengan Allah juga. Ibu dapat mendengar sabda Allah dan memeliharanya juga. Itulah yang membuat ibu-Ku Maria, seorang perempuan besar. Ibu-Ku Maria senantiasa membawa privilese-privilese dan kehormatannya, demikian pula pencobaan-pencobaan yang dihadapinya, kemiskinannya dan kesulitan-kesulitannya ke dalam pujian kepada Allah. Ibu dapat melakukan hal yang sama, dan ibu akan diberkati, ibu akan berbahagia. Yang paling berbahagia dan terberkati adalah mereka yang mendengarkan sabda Allah, yaitu pesan-pesan-Nya, dan menanggapinya, mentaatinya, setia kepada sabda-Nya sepanjang hidup mereka. Baik ibu-Ku maupun Aku sendiri tidak mencari-cari pujian bagi diri kami sendiri. Hidup kami dimaksudkan untuk menjadi pujian bagi Bapa surgawi, dan kami memuji Bapa dengan memegang sabda-Nya, dengan melaksanakan rencana-Nya bagi kami.”

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menunjukkan arah tujuan hidupku. Berikanlah kepadaku terang agar mampu mendengarkan sabda-Mu, sabda Allah, dan memeliharanya dengan setia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Oktober 11, 2012

MENGUMPULKAN DAN MENCERAIBERAIKAN


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 12 Oktober 2012 )
Kel. Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Serafinus dari Montegranaro, Biarawan

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26)

Bacaan Pertama: Gal 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

Yesus bersabda, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan” (Luk 11:23). Mungkin saja Yesus menambahkan sedikit penjelasan atas pernyataannya tadi, misalnya: “Dia yang tidak menolong aku memanggul salib sebenarnya membuat salib itu lebih berat: dia yang tidak berjalan dengan Aku dan berbicara dengan-Ku dan hidup dengan-Ku, tentunya dia mengikuti seseorang lain di samping diri-Ku.”

Apabila kita merasa ragu-ragu apakah kita adalah pengikut/murid Kristus yang sejati atau tidak, apakah kita hidup bagi Kristus atau melawan Kristus, kita dengan mudah dapat memperoleh jawabannya dengan bertanya kepada diri sendiri – dan satu hari Jumat tentunya adalah sebuah hari yang baik untuk melakukan hal ini – apakah aku menolong Kristus memanggul salib-Nya? Apakah aku menyangkal diriku sendiri agar dapat menolong orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan? Kristus memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita semua. Apakah aku memiliki kemauan untuk memikul salib demi cintakasihku kepada orang-orang miskin, mereka yang membutuhkan pertolongan, mereka yang kesepian karena hidup sendiri dan diasingkan? Dapatkah aku mengorbankan waktuku, energiku, uangku agar orang-orang lain dapat hidup lebih pantas serta layak … dan lebih bahagia?

Apakah kita bersama Kristus dalam pemikiran-pemikiran dan kata-kata? Apakah hidup doa kita sedemikian rupa sehingga Kristus seringkali berada bersama kita dan kita dengan diri-Nya? Para sahabat cenderung untuk seringkali berkumpul bersama. Apabila hidup kita bagi Kristus, jika kita memandang Dia sebagai seorang sahabat yang kita kasihi, maka kita akan bersama dengan-Nya secara teratur dalam doa.

Kristus berada bersama dengan kita dalam Gereja-Nya. Dia membuat kehendak-Nya diketahui dan dikenal oleh kita melalui Gereja-Nya. Apakah kita bersama dengan Gereja yang adalah Tubuh Kristus sendiri? Atau, barangkali kita suka kritik sini kritik sana terhadap Gereja, sehingga dengan demikian mengkritisi Yesus Kristus, kepala dari Tubuh itu, …… menunjukkan bahwa kita melawan diri-Nya?

Sekali lagi, ingatlah akan sabda-Nya, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”

DOA: Tuhan Yesus, engkaulah Jalan, jalan satu-satunya bagi kami. Hanya apabila kami mati bersama-Mu, maka kami dapat sungguh bersama-Mu sampai kehidupan kekal. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, Oktober 10, 2012

ALLAH YANG SENANTIASA BERMURAH HATI


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 11 Oktober 2012 )

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13)

Bacaan Pertama: Gal 3:1-5; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75

Berapa banyak anak muda yang anda kenal yang berpikir bahwa mereka akan merasa cool atau “keren” sekali apabila mempunyai seorang ayah sama kayanya dengan pendiri Microsoft dan milyarder (US$) Bill Gates? Dengan seorang ayah yang sedemikian kaya-raya, mereka akan memiliki segala macam benda yang mereka inginkan. Namun apakah orangtua itu sama kayanya dengan Bill Gates atau harus berjuang sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, kebanyakan dari mereka mempunyai satu hal yang sama: Mereka akan mencoba untuk menyenangkan hati anak mereka. Kemurahan-hati kelihatannya merupakan bagian yang alamiah dari fungsi seorang pribadi manusia sebagai orangtua dari anak-anaknya.

Namun demikian, sebagai manusia, para orangtua memiliki keterbatasan. Bahkan orangtua yang paling bermurah-hati pun tidak dapat memberikan segalanya kepada anak-anaknya seperti halnya dengan Allah. Sebagai sang Pencipta yang Mahakuasa, Allah mempunyai setiap hal, baik yang bersifat materiil maupun spiritual dan emosional untuk memenuhi kebutuhan kita. Tanda yang paling puncak dari kasih Allah yang tanpa batas itu adalah karunia-Nya berupa Anak-Nya sendiri yang tunggal untuk keselamatan kita (Yoh 3:16).

Allah tidak pernah dapat dikalahkan dalam soal kemurahan-hati terhadap anak-anak-Nya. Dia telah mengklaim kita masing sebagai anak-anak-Nya sendiri dan ingin mencurahkan kepada kita segala kekayaan yang melimpah. Akan tetapi, dalam menerima kemurahan hati Allah, kadang-kadang kita harus sabar dan mempunyai pikiran yang terbuka. Allah mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita – bahkan lebih tahu dari kita sendiri – dan dengan kemurahan hati Dia akan memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan. Akan tetapi pemberian-Nya tidak selalu akan seperti yang kita harapkan. Seperti sang sahabat dalam bacaan Injil hari ini, kita perlu siap-siaga dalam menantikan tanggapan Allah, terbuka bagi kemungkinan bahwa Dia dapat datang dengan suatu kejutan yang tidak pernah kita harap-harapkan. Bahkan apabila Dia menunda dalam memberikan tanggapan-Nya, kita harus tetap menaruh kepercayaan kepada-Nya, sambil terus menolak godaan untuk berpaling kepada seseorang atau sesuatu yang lain guna memenuhi kebutuhan kita.

Apakah kita sedang merasa lapar akan makanan atau pengampunan, atau iman, Allah menanggapi permintaan kita dengan serius. Ia mempunyai karunia-karunia (anugerah-anugerah) yang tersedia setiap saat bagi semua anak-anak-Nya. Oleh karena itu kita tidak perlu takut memohon kepada-Nya untuk mencurahkan berbagai karunia/anugerah tersebut ke atas diri kita. Allah mempunyai kerinduan untuk mencurahkan berkat-berkat-Nya atas diri siapa saja yang datang menghadap hadirat-Nya. Dia bahkan akan memberikan Roh Kudus-Nya sendiri!

DOA: Allah segala kebaikan, aku memuliakan Engkau sebagai Bapa yang Mahamurah dan Mahapengasih! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk anugerah-Mu yang begitu menakjubkan, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang menopang dan menjiwai hidupku. Bermurah-hatilah, ya Bapa, kepadaku dan semua orang yang datang menghadap hadirat-Mu untuk mohon anugerah-Mu yang agung dan menakjubkan ini. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Oktober 09, 2012

DOA BAPA KAMI

( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Rabu, 10 Oktober 2012 )

Keluarga Fransiskan OFM: Peringatan Santo Daniel dkk., Martir

Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:1-4)
Bacaan Pertama: Gal 2:1-2,7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

“Ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4).

Seorang murid Yesus meminta kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Kemudian Yesus mengajarkan “Doa Bapa Kami” kepada mereka. Dalam bagian akhir doa itu disinggung soal pengampunan. Kita mengetahui betapa sering Yesus mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita katakan haruslah riil, harus keluar dari hati, harus murni dan bebas dari kemunafikan. Di sini jelas Yesus mengajar kita untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, pengampunan yang keluar dari dalam hati kita manakala kita berdoa, dengan demikian diri kita akan terbuka dan mampu untuk menerima pengampunan dari Bapa surgawi atas dosa-dosa kita.

Apabila kita tidak mengampuni, maka kita sungguh menderita sakit di dalam batin dan kita menghalangi jalan kepada kasih pengampunan Allah. Seorang Kristiani tak boleh mendendam, karena hal itu berasal dari daging, bukan dari roh. Roh Kristus selalu merupakan Roh pengampun. Ketika Yesus memperingatkan kita agar tidak menghakimi orang-orang lain, maka yang dimaksudkan-Nya adalah kita tidak membangkitkan tulang-tulang mati dari luka-luka masa lampau. Sebaliknya kita harus memohon kepada Allah supaya “membanjiri” orang-orang itu dengan pengampunan-Nya yang menyembuhkan.

Apabila kita merasa hal ini susah untuk dilakukan, maka kita perlu minta kepada Allah karunia yang paling besar itu, yaitu karunia kesembuhan, kasih yang mengampuni. Yesus tidak akan menolak permintaan kita seperti itu. Dia mengetahui dengan lebih baik daripada siapa pun juga bagaimana esensialnya karunia itu bagi kehidupan dan kesehatan rohani kita. Berikut ini adalah sebuah doa yang dapat kita gunakan untuk memohon kepada Yesus agar kepada kita dapat diberikan roh penyembuhan-pengampunan yang sangat berharga itu.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya akan kasih-Mu bagiku yang tanpa batas. Aku berterima kasih kepada-Mu untuk kesetiaan-Mu kepadaku. Aku memuji Engkau untuk kasih-Mu kepadaku yang penuh pengampunan. Engkau mengetahui, ya Tuhan, dosa-dosa apa saja yang telah melukai diriku, dan bagaimana semua itu terjadi. Yesus, bebaskanlah aku dari segala penolakanku. Penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu, ya Yesus, Roh kasih-Mu yang penuh kuasa untuk mengampuni. Bagikanlah kasih-Mu yang sempurna dengan diriku, agar aku dapat mengampuni semua orang yang pernah bersalah kepadaku, mereka yang pernah menyakiti hatiku. Aku ingin mengampuni mereka sesuai dengan cara-cara yang Kauajarkan. Tuhan Yesus, aku mohon berkat istimewa dari-Mu atas anak-anak Bapa yang telah menyebabkan aku menderita dan terhina. Dari kedalaman hatiku aku mengampuni setiap pribadi yang telah bersalah kepadaku itu. Berikanlah kepada mereka kasih-Mu secara berlimpah, ya Tuhan Yesus, agar mereka dapat disembuhkan dari luka-luka apa pun dalam kehidupan mereka yang telah menyebabkan mereka melukai orang-orang lain. Aku mengasihi Engkau, Tuhan Yesus yang mahapengampun, karena Engkau membawa kesembuhan ke dalam hidupku. Sembuhkanlah aku, ya Tuhan dan buatlah aku senantiasa terbuka bagi kuasa kasih-Mu. Ampunilah mereka yang sekarang kuampuni, agar kami dapat dipersatukan kembali dalam Hati-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, ya Yesus, dan terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Kepada saudari dan saudara anggota keluarga besar Fransiskan, saya menganjurkan agar dalam kesempatan ini membaca dan merenungkan kembali tulisan Santo Fransiskus dari Assisi: “URAIAN DOA BAPA KAMI” yang terdapat dalam Leo Laba Ladjar OFM, KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI”, hal. 280-283.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Oktober 08, 2012

JAGALAH KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN PELAYANAN


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Selasa, 9 Oktober 2012 )

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42)


Bacaan Pertama: Gal 1:13-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15

Cerita pertemuan Yesus dengan Maria dan Marta seringkali diambil sebagai sebuah contoh dari adanya semacam ketegangan yang ada di dalam Gereja. Seperti Maria, ada sejumlah orang yang menekankan pentingnya menyediakan waktu dengan Tuhan dalam kegiatan doa. Seperti Marta, golongan yang yang lain menekankan pentingnya melayani dalam paroki dan bekerja untuk keadilan sosial dlsb. Sering kali, ketegangan tersebut menyebabkan konflik karena golongan Maria menuduh golongan Marta sebagai penganut idealisme “melayani diri sendiri”.

Yesus sebenarnya tidak pernah bermaksud bahwa “mengasihi Allah” dan “mengasihi sesama” membuat kita terpecah-belah. Malah sebaliknya! Yesus ingin agar kedua tindakan mengasihi ini tumbuh-subur dalam diri kita masing-masing. Lukas menunjukkan hal ini dengan menempatkan cerita tentang “Maria dan Marta” ini langsung setelah perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Sementara Yesus memanggil kita untuk “pergi dan melakukan” apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu (Luk 10:37), Dia juga memanggil kita untuk memfokuskan hati kita pada tindakan mengasihi Dia dan mendengarkan suara-Nya (Luk 10:41-42).

Bukankah kita semua telah mengalami betapa sulitnya mengasihi orang-orang tertentu, teristimewa mereka yang sangat berbeda dengan kita? Tanpa pengalaman akan kasih Yesus secara berkesinambungan, maka saling mengasihi antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain sungguh menjadi semakin sulit dan sulit. Hanya kasih Yesus saja yang dapat memberikan asupan “makanan bernutrisi”. Menyegarkan dan memperkuat kita sehingga dengan demikian kita juga dapat memberikan “makanan bernutrisi”, menyegarkan dan memperkuat orang-orang lain. Hanya apabila dalam diri kita mengalir kasih Kristus, maka kita memiliki kasih yang dapat kita syeringkan dengan orang-orang untuk siapa kita dipanggil untuk melayani.

Dengan duduk di dekat kaki Tuhan, kita dapat mulai untuk mendengar panggilan-Nya dan mengetahui bagaimana apa permintaan-Nya agar kita mengasihi orang-orang di sekeliling kita. Kemudian, penuh keyakinan akan panggilan kita dan dipenuhi oleh Roh-Nya hari demi hari melalui doa-doa yang teratur, kita pun dapat pergi ke luar dan turut membangun Kerajaan-Nya dengan cara-cara yang sebelumnya kita sendiri tidak percaya bahwa hal itu mungkin.

Sekarang, apakah Saudari-Saudara mengalami ketegangan “Maria-Marta” dalam hati anda masing-masing? Apakah sekali-sekali anda tergoda untuk membiarkan apa yang “baik” menaungi atau menutupi apa yang “terbaik”? Marilah kita (anda dan saya) senantiasa berhati-hati menjaga keseimbangan yang benar antara doa dan pelayanan. Perkenankanlah terang Kristus menerangi hati kita masing-masing sampai diri kita dibuat hangat oleh kasih ilahi. Lalu, seperti Yesus, kita pun akan berjalan dalam kuasa Roh Kudus-Nya dan menjadi instrumen-instrumen untuk mewujudkan transformasi dunia.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sumber segala berkat. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-setia-Mu. Terima kasih Tuhan, Engkau senantiasa tak pernah luput memperhatikan diriku. Tolonglah aku juga agar senantiasa dapat menatap wajah-Mu dan siap melaksanakan perintah-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 8 Oktober 2012 )

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Gal 1:6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,7-10

 Apa yang dituntut oleh perintah untuk mengasihi sesama atas diri kita? Seorang ahli Taurat mencobai Yesus sehubungan dengan hal ini: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Luk 10:25). Yesus menanggapi pertanyaan ini dengan sebuah pertanyaan juga: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?” (Luk 10:26). Si ahli Taurat menjawab pertanyaan Yesus dengan sebuah jawaban sempurna: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk 10:27). Yesus menanggapi jawaban si ahli Taurat dengan berkata: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28). Pada titik ini sebenarnya pertanyaan si ahli Taurat sudah terjawab, tidak ada masalah lagi! Namun Injil Lukas mencatat sebagai berikut: “Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, ‘Dan siapakah sesamaku manusia?’” (Luk 10:29). Kelihatan di sini bahwa pertanyaan awal si ahli Taurat kepada Yesus memang tidak keluar dari hati yang tulus …… untuk mencobai …… menjebak!

Menanggapi pertanyaan si ahli Taurat yang terakhir itu, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang sungguh indah-mengena tentang “Orang Samaria yang Murah Hati”, sebuah master-piece yang hanya ada dalam Injil Lukas (bdk. Mrk 12:28-34; Mat 22:34-40). Sebuah perumpamaan Yesus yang menjadi salah satu favorit saya sejak masa sekolah rakyat (SD) di tahun 1950an.

Lewat perumpamaan ini Yesus ingin menunjukkan apa artinya cintakasih yang sejati. Jalan antara Yerusalem dan Yerikho terkenal (dalam artian yang jelek) dengan penyamun-penyamunnya. Ceritanya adalah tentang seorang laki-laki yang mengambil risiko melakukan perjalanan lewat jalan yang berbahaya tersebut, sendiri lagi – sampai dia mengalami “nasib” sial: dianiaya dan dirampok habis-habisan.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, mengapa dua orang pemuka agama itu tidak mau menolong orang yang bernasib sial itu. Barangkali si imam berpikir bahwa orang yang tergeletak setengah mati itu sungguh sudah benar-benar mati dan ia tidak mau mengambil risiko menjadi tidak murni secara ritual (lihat Im 21:1). Baginya kesalehan lahiriah yang tampak ternyata lebih penting daripada kasih sejati (Latin: caritas). Orang Lewi mendekati si korban perampokan itu, namun dia “nyelonong” pergi juga. Barangkali, dia takut/kuatir para penyamun itu akan menyerbu lagi. Jadi, bagi si orang Lewi, keselamatan dirinya lebih penting daripada keselamatan sesamanya. Mengapa seorang Samaria – seorang asing, tidak murni, seorang “non-pribumi” yang sangat dipandang hina oleh orang Yahudi, dan mereka pun sangat membenci orang Yahudi – koq justru datang mendekat dan menyelamatkan si korban kejahatan yang sedang tergeletak itu? Jelas di sini bahwa orang Samaria ini memandang orang Yahudi korban kejahatan itu sebagai sesamanya yang membutuhkan pertolongan nyata.

Di sini Yesus berbicara langsung ke jantung masalahnya. Cintakasih yang sejati tidak dibatasi oleh hak dan kewajiban. Cintakasih yang sejati berupaya melakukan kebaikan kepada setiap orang, tanpa menimbang-nimbang status dlsb. – tanpa pamrih! Sebagian orang Yahudi membatasi definisi “sesama” sebagai sesama orang Yahudi saja. Tidak sedikitpun mereka mau menolong seorang “kafir” yang sedang berada dalam kesusahan. Bukankah kita juga sering begitu? Kita mencintai dan menolong orang-orang yang dekat kepada kita, namun memalingkan muka kita kearah lain apabila kita berhadapan dengan orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.

Kasih kepada sesama manusia menuntut suatu kemauan untuk menolong orang lain, walaupun orang itu telah menyusahkan dirinya sendiri lewat kesalahannya sendiri. Kita dituntut untuk mengasihi penderita HIV-AIDS, penderita kecanduan narkoba, juga seorang terpidana yang sedang menantikan hukuman mati karena perbuatan jahatnya membunuh orang lain. Kita juga dituntut untuk mengampuni siapa saja yang pernah bersalah dan menyusahkan hidup kita.

Panggilan untuk mengasihi bersifat non-kondisional dan non-eksklusif – dan hal ini hanya mungkin kita lakukan melalui Tuhan. Santo Paulus mengatakan, bahwa “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Apabila kita menyerahkan hidup kita kepada Roh Kudus, maka Allah membuat diri kita menjadi lebih serupa dengan diri-Nya dan memberdayakan ktia untuk mengasihi melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi. Semoga kita semua memperkenankan api kasih Allah memurnikan hati kita!

DOA: Tuhan Yesus, semoga kasih-Mu menjadi fondasi kehidupanku. Tunjukkanlah kepadaku di mana aku tidak memiliki bela-rasa terhadap sesamaku. Tolonglah aku untuk senantiasa bermurah-hati dalam memberi kepada orang-orang lain apa saja yang Engkau telah berikan kepadaku dengan penuh kemurahan hati. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, Oktober 06, 2012

YESUS SUNGGUH MENGASIHI ANDA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXVII – 7 Oktober 2012 )

Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berzina.” (Mrk 10:2-12)

Bacaan Pertama: Kej 2:18-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 2:9-11

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Kata-kata Yesus dapat terdengar keras di telinga kita, teristimewa apabila kita telah mengalami sendiri suatu “perceraian”, atau hidup perkawinan seorang anggota keluarga kita atau teman dekat kita telah hancur berantakan. Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa Yesus mengetahui bahwa apa yang dikatakan-Nya dan yakin akan kuasa Allah untuk menyembuhkan, bahkan perkawinan yang paling sulit sekali pun. Namun di sisi lain pengalaman mengatakan kepada kita bahwa perceraian itu merupakan sebuah realitas yang bersifat traumatis yang dapat meninggalkan luka-luka mendalam dan tidak dapat sembuh dalam satu-dua hari.

Pikirkanlah sakit yang dirasakan oleh pasangan yang bercerai itu. Suatu relasi yang dimulai dengan cita-cita tinggi, penuh kegembiraan dan optimisme telah merosot menjadi penolakan, rasa tidak percaya, kemarahan dan menyalahkan diri sendiri. Apa yang sebelumnya “satu daging” telah dirobek-robek, meninggalkan luka-luka mendalam tidak hanya pada pasangan bersangkutan namun juga pada anggota keluarga lainnya. Bagaimana mungkin kita membayangkan Yesus duduk di takhta-Nya dan tanpa belas kasihan menghukum orang-orang itu? Dia tidak menghukum mereka! Kepada Nikodemus, Yesus mengatakan, “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:17). Yesus tidak ingin meremukkan orang-orang dengan berkomunikasi kepada mereka hanya apabila ada sesuatu yang salah. Ia ingin berjumpa dengan kita semua di mana saja dalam perjalanan hidup kita dan menawarkan kesembuhan dan restorasi kepada kita.

Apabila anda adalah seorang yang telah bercerai, ketahuilah dan yakinilah bahwa Yesus sungguh mengasihi anda, sama seperti ketika anda masih berstatus istri atau suami. Yesus ikut ambil bagian dalam rasa sakit anda dan Ia sungguh menderita bersamamu. Renungkanlah perjumpaannya dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh 4:1-42). Ia tidak menghukum perempuan itu, walaupun dia telah kawin lima kali dan pada saat itu sedang “kumpul kebo” dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Sebaliknya, Yesus menggiring perempuan itu kepada suatu pertobatan, menyembuhkannya, dan mengutus dia kembali ke kampungnya untuk menceritakan kepada warga sekampungnya tentang Dia.

Apakah dalam status nikah, bercerai atau hidup selibat, kita semua harus mengetahui tentang penyembuhan ilahi. Bapa surgawi ingin membalut dan menyembuhkan luka-luka yang diderita oleh mereka yang telah bercerai. Yesus ingin memperdamaikan kita, mentransformasikan kita, dan menggunakan kita untuk mewartakan Kerajaan-Nya – tanpa melihat apa yang telah kita lakukan di masa lampau. Yesus ingin merangkul kita erat-erat dan memberikan berkat-Nya kepada kita (Mrk 10:16).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu mengatasi segala macam perpecahan. Curahkanlah rahmat-Mu atas setiap keluarga yang telah mengalami perceraian. Sembuhkanlah mereka, ya Tuhan dan Allah kami, dan pulihkanlah pengharapan mereka. Biarlah kasih-Mu mengalir ke dalam diri kami semua dan kemudian mengalir ke luar, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, Oktober 05, 2012

KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 6 Oktober 2012 )

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:17-24)

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-17; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para misionaris “yunior” ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka?

Bunda Teresa dari Kalkuta pada suatu kesempatan mengatakan, “Panggilanku didasarkan pada fakta bahwa aku milik Yesus. Hal itu berarti mengasihi Dia dengan perhatian dan kesetiaan yang tak terpecah-pecah. Pekerjaan yang kami lakukan tidak lebih daripada suatu sarana untuk mentransformir kasih kami kepada Kristus ke dalam sesuatu yang konkret.”

Sebagaimana para murid Yesus, kita pun seringkali mengalami kesulitan berurusan dengan tegangan antara melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan Allah kepada kita dan mengembangkan relasi kita dengan Yesus. Seringkali kita mengalami tegangan yang sama dalam hal relasi kita dengan orang-orang lain: Kita tergoda untuk menerapkan cara-cara fungsional dalam memecahkan masalah-masalah dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, para sahabat terdekat kita ……; padahal bertumbuh dalam kasih dan persatuan harus menjadi prioritas lebih utama daripada sekadar melaksanakan tugas-tugas kita.

Apabila kita membuka hidup kita bagi Yesus dan memperkenankan pernyataan diri-Nya meresap ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan mulai mengenal kekayaan hikmat-Nya dan kasih-Nya. Sabda Allah dalam Kitab Suci akan terbuka bagi kita. Pola-pola pemikiran dan tindakan yang keliru akan disembuhkan. Kita akan berpaling kepada Roh-Nya untuk memohon pertolongan-Nya dalam mengambil keputusan-keputusan penting sepanjang hari. Kita yang lemah dapat menjadi kuat melalui relasi kita dengan Yesus. Kita yang miskin dapat menjadi kaya. Kita yang tuli dapat mendengar. Dan kita yang buta dapat melihat.

Marilah kita mulai pada hari ini. Marilah kita membuka hati kita bagi Yesus dalam doa-doa kita dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita menyambut-Nya ke dalam setiap aspek kehidupan kita dan mohon kepada-Nya untuk mencerminkan kehadiran-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku lebih lebar lagi agar dapat melihat Yesus. Tolonglah aku untuk memandang Yesus sebagai Pribadi di atas segala segalanya yang lain. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, Oktober 04, 2012

CELAKALAH ENGKAU KHORAZIM! CELAKALAH ENGKAU BETSAIDA!


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Jumat, 5 Oktober 2012 )

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kepernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16)

Bacaan Pertama: Ayb 38:1,12-21;39:36-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,7-10,13-14

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida!” (Luk 10:13)

Mengapa Yesus begitu kesal dan marah terhadap dua kota di Galilea ini? Pada hakekatnya, karena penduduk kota-kota ini tidak melakukan apa-apa. Banyak orang suka pada rabi pembuat mukjizat dari Nazaret ini, namun kelihatannya mereka menolak panggilan-Nya kepada pertobatan. Melalui mukjizat-mukjizat yang telah dibuat-Nya di tempat-tempat itu, Yesus menunjukkan bahwa Dia menawarkan kepada mereka kebebasan dari dosa, kesembuhan dan hidup baru. Akan tetapi, mereka membiarkan rahmat ini untuk begitu saja berlalu. Sangat disayangkan dan sungguh tragislah hal yang sedemikian itu.

Enam ratus tahun sebelum Yesus membuat seruan keras ini, seorang laki-laki yang bernama Barukh, yang merupakan sekretaris pribadi nabi Yeremia, memanjatkan doa pertobatan atas nama segenap umat Israel: “Semenjak hari Tuhan membawa nenek moyang kami keluar dari negeri Mesir hingga dengan hari ini kami tidak taat kepada Tuhan, Allah kami. Sebaliknya Tuhan telah kami alpakan karena tidak mendengarkan suara-Nya” (Bar 1:19). Jelas di sini, panggilan Allah kepada pertobatan mempunyai sejarah di mana panggilan itu jatuh pada telinga-telinga yang tuli!

Mendengar Kitab Suci dibacakan dalam Misa atau membacanya sehari-hari pada saat-saat doa kita adalah satu hal, namun adalah hal yang lain lagi apabila kita memperkenankan Yesus menulis sabda-Nya pada hati kita dan mentransformir pikiran kita menjadi serupa dengan pikiran-Nya. Sekadar mendengar sabda Allah adalah suatu kegiatan intelek kita saja. Namun membiarkan sabda-Nya menembus diri kita dan mengubah kita – hal ini membutuhkan suatu kemauan serius dari pihak kita untuk diubah oleh-Nya.

Saudari dan Saudaraku, Allah sungguh ingin membuat diri kita semakin menyerupai Yesus. Ini adalah alasan Allah satu-satunya mengapa Dia memanggil kita kepada pertobatan, alasan satu-satunya mengapa Dia mengundang kita untuk bergabung dengan diri-Nya dalam sebuah perjalanan pertobatan, perubahan, dan transformasi yang berkesinambungan.

Dari hari ke hari, Allah menawarkan kepada kita rahmat pertobatan: jaminan bahwa dosa-dosa kita diampuni dan rahmat untuk ditransformasikan ke dalam Kristus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, Yesus datang kepada kita sebagai Dokter bagi jiwa kita. Seperti ketika Dia mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dan menyembuhkannya (Mrk 2:1-12; bdk. Mat 9:1-8; Luk 5:17-26), pada hari ini pun Yesus masih melanjutkan karya penyembuhan dan keselamatan-Nya melalui sakramen rekonsiliasi/tobat ini. Ia mengundang kita untuk menyelidiki hati kita masing-masing dan memeriksa nurani kita agar kita dapat mengalami kasih-Nya dan rahmat-Nya yang menyembuhkan dengan semakin mendalam. Oleh karena itu janganlah sampai kita menjadi seperti kota-kota Khorazim dan Betsaida. Sebaliknya, marilah kita bergembira dalam belas kasih Allah dan membuka diri kita bagi kuasa-Nya yang mentransformasikan.

DOA: Tuhan Yesus, belas kasih-Mu senantiasa baru setiap hari. Tariklah diriku agar semakin dekat dengan takhta rahmat-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Selasa, Oktober 02, 2012

KOMITMEN KRISTIANI YANG SEJATI


( Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Rabu, 3 Oktober 2012 )

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62)

Bacaan Pertama: Ayb 9:1-12,14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10-15

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi dengan para murid atau calon murid-Nya, menstimulir mereka untuk berpikir. Di sini Yesus berbicara mengenai persyaratan untuk menjadi murid-Nya dan bahasa yang digunakan cukup keras. Namun terasa bahwa sekali-sekali Yesus berkomunikasi dengan melakukan permainan kata-kata yang sungguh merangsang imajinasi orang yang mendengar pesan-Nya dan membuat orang itu bertanya-tanya tentang makna dari pesan yang disampaikan-Nya. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Maknanya, tentunya, adalah membiarkan orang-orang yang mati-rohani menguburkan orang mati-fisik. Pekerjaan kita adalah dengan orang-orang yang hidup; pesan kita adalah pesan kehidupan, kehidupan baru. Saya sendiri sekian tahun lalu mengalami betapa berbahayanya sabda Yesus seperti ini apabila ditafsirkan secara harfiah. Pada waktu ayah mertua saya meninggal dunia, seorang anak laki-lakinya yang menganut paham Kristiani yang fundamentalistis, tidak mau hadir ke rumah duka, padahal dia adalah anak laki-laki tertua. Alasan yang dikemukakannya sama dengan ayat tadi. Menyedihkan, memang!

Satu hal lainnya yang ditekankan Yesus adalah “kesulitan” yang dialami seseorang untuk menjadi murid-Nya, ada “biaya”-nya. “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Yesus memang tidak pernah “menipu” atau ”menjebak” orang dengan janji-janji yang indah-indah dan romantis, agar mau mengikuti diri-Nya. Yesus membeberkan fakta seadanya walaupun terkesan keras didengar.

Satu hal lagi yang disampaikan di sini: Komitmen para murid Yesus harus bersifat permanen: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:62). Yesus mengingatkan kita bahwa kita-manusia mempunyai kecenderungan untuk merasa terlalu risau tentang kerja, kita terlalu banyak memikirkan sukses …… sukses duniawi! Kita menjadi begitu mudah disibukkan dengan urusan pekerjaan dan rekreasi, dan lupa komitmen kita untuk melayani Allah dan sesama (bukan hanya orang Kristiani) sebagai orang-orang Kristiani sejati.

Komitmen Kristiani bukanlah sekadar urusan suci-suci pada hari Minggu saja, doa, bahkan senantiasa hadir dalam Misa Harian. Komitmen Kristiani yang sejati jauh lebih dari itu semua. Komitmen Kristiani sejati menyangkut penghayatan iman dalam tindakan, di tempat kerja, pada waktu berekreasi, dalam bisnis, dalam dunia politik, dalam segala kontak kita dengan sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, bangsa/etnis, status sosial-ekonomi dalam masyarakat. Komitmen Kristiani bukanlah sesuatu yang dapat kita “mati-hidupkan” seenaknya seperti pesawat radio. Komitmen Kristiani yang sejati harus bersifat permanen dan harus meliputi seluruh segi kehidupan kita.

DOA: Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Amin. (Mzm 63:2-3,5,9)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, Oktober 01, 2012

Antonius Michael Adi Normawan: Doa

Antonius Michael Adi Normawan: Doa: DOA UMAT UNTUK KESUCIAN PARA IMAM Allah Bapa Maha Pengasih, kami berdoa kepada-Mu, Lindungilah para imam Gereja-Mu, sebab mereka itu ...

ADA MALAIKAT MEREKA DI SURGA


( Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Para Malaikat Pelindung – Selasa, 2 Oktober 2012 )

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10)

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11

Anak-anak mencintai Yesus. Tidak seperti banyak orang dewasa yang suka mengusir anak-anak seperti mengusir lalat, Yesus sungguh mengasihi anak-anak, dan Ia sangat senang apabila ada banyak anak di sekeliling diri-Nya. Anak-anak merasa aman berada di dekat Yesus, anak-anak yang lebih besar merasa diterima dan dihargai dalam kehadiran Yesus. Setiap anak akan merasa dirinya spesial dan penting.

Ketika para murid Yesus bertanya kepada-Nya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?”, tentunya mereka tidak mengharapkan sama sekali jawaban yang diberikan oleh sang Guru: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3-4). Kita dapat membayangkan bagaimana para murid saling memandang antara mereka dengan wajah-wajah yang kelihatan sedikit aneh. Yesus menghargai keterbukaan sikap anak-anak. Tidak seperti orang-orang dewasa yang begitu sering membuat rumit pesan-Nya – karena mereka mencampur-adukkan pesan-Nya dengan ide-ide mereka sendiri, misalnya dengan memelintirnya – anak-anak menerima kata-kata Yesus dengan iman sederhana.

Yesus bersabda: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10). Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berbicara mengenai malaikat-malaikat di sini? Apakah kemungkinan signifikansi yang mungkin ada dari para malaikat terhadap kehidupan kita hari ini?

Sabda Yesus mengenai para malaikat pelindung menunjukkan bahwa kita bukanlah tuan/penguasa atas “nasib” kita sendiri. Sebaliknya kita semua adalah anak-anak yang membutuhkan perlindungan Allah. Kita adalah bagian dari sebuah dunia ciptaan yang berisikan makhluk-makhluk yang alamiah dan spiritual, dengan kekuatan-kekuatan yang memungkinkan terjadinya kebaikan maupun kejahatan. Banyak dari kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi kita setiap hari itu tidak terlihat. Apabila kita dapat melihat dengan mata kita pertempuran spiritual yang berkecamuk di sekeliling kita, maka kita pun akan merasa takjub dan menjadi tenang. Pertempuran rohani seperti ini tidak dapat dimenangkan dengan menggunakan sarana alamiah belaka. Kita memerlukan bantuan surgawi.

Para malaikat disediakan Allah untuk membantu kita dalam pertempuran rohani. Para malaikat ini adalah makhluk-makhluk surgawi yang berfungsi sebagai para pesuruh dan penolong dari Allah. Kita dapat membaca dalam Kitab Suci dan melihat bagaimana para malaikat bertindak atas nama manusia. Lihat bagaimana malaikat-malaikat menolong Abraham, atau Maria, atau Paulus. Apabila pilar-pilar iman ini ditolong oleh malaikat-malaikat, tentunya lebih banyak lagi pertolongan yang harus kita andalkan dari para malaikat itu. Marilah kita semua menerima pertolongan ilahi ini dan berterima kasih penuh syukur senantiasa kepada Bapa surgawi untuk segala kebaikan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sangat mengasihiku, sampai-sampai mengutus seorang malaikat untuk melindungi diriku. Aku sungguh berterima kasih untuk pertolongan dan perlindungan-Mu karena aku sadar bahwa kehidupanku sepenuhnya tergantung pada pemeliharaan dan perlindungan-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS