Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Selasa, April 16, 2013

KITA TIDAK PERNAH BOLEH MENYERAH


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III – Rabu, 17 April 2013)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40)

Bacaan hari ini menggambarkan masa/zaman di mana Gereja Kristus mengalami pengejaran dan penganiayaan disertai berbagai bentuk kekerasan pada usianya yang masih sangat muda. Para anggota Gereja yang saleh baru saja menguburkan martirnya yang pertama, Diakon Stefanus. Sekarang, muncullah seorang Farisi yang bernama Saulus dari Tarsus yang dengan semangat berapi-api bertekad untuk menghancurkan “sekte” keagamaan yang baru berkembang tersebut. Hal ini merupakan ancaman terhadap umat Kristiani di mana-mana.

Segalanya kelihatan gelap. Namun demikian, walaupun di tengah-tengah masa-masa sulit sedemikian, Gereja bertumbuh-kembang secara relatif cepat, dan tanpa menggunakan kekerasan tentunya. Pengejaran, penganiayaan dan kemartiran kelihatannya malah memperkokoh iman umat Kristiani perdana. Allah membuat mukjizat-mukjizat lewat umat-Nya. Kelihatannya tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan dunia untuk menghentikan pertumbuhan Gereja yang cepat itu.

Dalam artian tertentu, Gereja di Indonesia tercinta ini juga mengalami penganiayaan, walaupun masih jauh lebih ringan daripada yang pernah dialami umat di negara-negara lain, misalnya negara-negara Komunis. Namun demikian, kita terkadang memandang kehidupan kita dan melihat tidak ada apa-apa selain suatu horison yang gelap. Barangkali kita sedang menderita karena adanya skandal dalam paroki atau keuskupan kita. Kehilangan pekerjaan, penyakit yang serius dan mematikan, atau relasi yang patah – semua ini dan banyak lagi – dapat merampas pengharapan yang kita perlukan. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh bacaan di atas, walau pun dalam saat-saat kegelapan, terang Kristus dapat tetap terang bercahaya dalam hati kita. Kita masih aman di tangan-tangan ‘seorang’ Allah Mahakuasa yang mengasihi kita dengan lemah lembut, kasih yang tak mengenal akhir.

Kita harus mengingat bahwa Allah senantiasa lebih besar secara tak terhingga ketimbang kejahatan sebesar apa pun yang mau ditimpakan kepada kita, umat-Nya dan …… anak-anak-Nya sendiri. Memang kita terkadang merasa “sunyi-sepi-sendiri” dan tertekan dalam kesendirian kita itu, namun kenyataannya adalah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita atau Gereja-Nya. Kita merasa ditinggalkan apabila kita menaruh seluruh pengharapan kita pada manusia, apakah mereka dokter, imam, orangtua, atau bahkan pasangan hidup kita. Tidak ada seorang pun yang tidak rentan terhadap dosa atau kelemahan dalam berbagai bentuknya. Sebaliknya, Allah itu sempurna, dan Ia mengikat diri-Nya sendiri kepada kita dalam suatu ikatan-kasih yang bersifat kekal abadi.

Marilah kita mendorong satu sama lain untuk tetap mengarahkan pandangan kita ke surga pada hari ini. Bapa surgawi senantiasa ada bersama kita untuk melindungi dan membimbing kita. Marilah kita mendorong dan menguatkan satu sama lain untuk menaruh kepercayaan kepada janji-janji yang telah dibuat-Nya. Allah sepenuhnya dapat dipercaya. Dia bahkan akan menggunakan saat-saat kita mengalami pencobaan untuk membuktikan kekuatan-Nya dan membuat kokoh iman kita kepada-Nya. Oleh karena itu, kita tidak pernah boleh menyerah, karena Allah ada di pihak kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan hatiku kepada-Mu dan meletakkan segala ketidakpercayaanku di dekat kaki-kaki-Mu. Engkau adalah Allahku, dan aku tidak akan merasa takut karena Engkau selalu ada bersamaku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, April 15, 2013

ROTI HIDUP KITA YANG SEJATI


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 16 April 2013)

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”
Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Yesus adalah Roti Kehidupan. Ia adalah makanan kita, yang memenuhi setiap kebutuhan kita dan menyembuhkan setiap luka kita. Santo Stefanus – yang kemartirannya kita baca dalam bacaan pertama hari ini – adalah contoh indah dari kebenaran ini. Menurut anda, sampai berapa seringkah diakon Stefanus pergi tanpa makanan atau tanpa kenyamanan rumahnya dan keluarganya sendiri, selagi dia melayani orang-orang miskin dalam Gereja? Bagaimana dengan Santo Paulus yang telah belajar menjadi seorang “minimalis” dalam hal pemuasan kebutuhannya sendiri? Bagaimana dengan Santo Fransiskus dari Assisi sebagai pewarta Injil keliling, baik di Italia maupun di tempat-tempat lain, seperti Tanah Suci? Bagaimana dengan Santo Fransiskus Xaverius yang melanglang buana bertahun-tahun lamanya untuk mewartakan Injil Yesus Kristus? Bagaimana dengan Beata Bunda Teresa dari Kalkuta dan para anggota kongregasinya yang hidup melayani orang-orang paling kecil-miskin di India dan di tempat-tempat lain? Kehidupan orang-orang kudus ini dan orang-orang kudus yang tidak disebutkan namanya memberikan kesaksian tentang apa artinya sukacita besar yang dapat dialami oleh orang-orang yang sudah berjumpa dan mengalami (kasih) Yesus.

Yesus adalah sang Sabda yang menjadi daging atau “Firman yang menjadi manusia” (lihat Yoh 1:14) yang datang dari mulut Allah sendiri. Dia adalah “roti hidup” yang memberi makan, memelihara dan memperkuat kita (Yoh 6:29-33). Selagi kita melakukan perjalanan menuju surga, Yesus adalah pemberian Allah yang istimewa bagi kita: “roti yang turun dari surga; Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati” (Yoh 6:50). Jelaslah, bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN (YHWH)” (Ul 8:3).

Betapa sering kita dapat melupakan segalanya yang telah dilakukan Allah bagi kita, padahal Dia-lah yang menyediakan segala sesuatu bagi kita dan melindungi kita. Sebagai “roti kehidupan” yang turun dari surga (Yoh 6:51), Yesus dapat menanamkan dalam diri kita kuat-kuasa Allah dan memampukan kita menunjukkan kasih dan belas-kasih-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai. Inilah yang kita terima selagi kita menyambut Yesus dalam Ekaristi. Kita mengkonsumsi tubuh dan darah-Nya, dan Ia memberikan kepada kita jiwa dan keilahian-Nya. Cara apa lagi yang lebih baik bagi Allah untuk mem berikan hidup-Nya kepada kita?

Marilah kita mengakui Yesus sebagai roti hidup kita yang sejati. Dia akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan menyembuhkan luka-luka kita. Dia tidak akan menolak atau membuang siapa pun. Ingatlah iman Santo Stefanus dan Santo Paulus di masa-masa awal Gereja. Tanpa Yesus, mereka tidak dapat survive dari pencobaan-pencobaan yang mereka hadapi. Karena Yesus adalah “roti hidup”, maka kita dapat menggantungkan diri kita sepenuhnya kepada Yesus ini ketimbang sekadar kenyamanan-kenyamanan duniawi. Yesus adalah pemberian Allah bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati kita untuk mendengar Yesus berbicara kepada kita dalam doa kita, dalam Misa Kudus, dan dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita turut ambil bagian dalam keilahian Allah.

DOA: Bapa surgawi, Santo Stefanus ada dalam Yesus. Dalam penderitaannya dia menyatukan dirinya kepada Yesus. Persatukanlah kami semua kepada Putera-Mu sehingga kami pun dapat meletakkan hidup kami bagi-Mu dan memandang surga seperti Santo Stefanus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Ahad, April 14, 2013

MENGENAL YESUS DAN KUASA KEBANGKITAN-NYA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 15 April 2013)

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29).

Pemahaman kita tentang Allah sedemikian berbeda dengan Injil yang diwartakan oleh Yesus sendiri. Begitu mudahnya bagi kita untuk percaya bahwa kita menyenangkan Allah apabila kita dengan teliti mematuhi perintah-perintah-Nya. Jadi, tidak mengherankanlah jika kita sering terkejut ketika membaca sabda Yesus yang menyatakan bahwa yang dikehendaki Allah adalah untuk kita percaya kepada-Nya, Tuhan dan Juruselamat kita (lihat Yoh 6:29).

Yesus ingin agar kita sampai kepada suatu kepercayaan yang mendalam dan menetap pada diri-Nya. Ia ingin agar kita memiliki iman yang berdiam dalam hati dan pikiran kita, suatu iman yang memampukan kita untuk “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Flp 3:10). Itulah “pekerjaan” kita yang utama. Yesus bersabda, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa” (Yoh 6:27). Melalui kematian-Nya di kayu salib, kepada kita diberikanlah janji kebangkitan ke dalam hidup baru – sesuatu yang tidak dapat kita peroleh apabila mengandalkan upaya kita sendiri.

Kita seringkali menyibukkan diri dengan segala hal dalam upaya untuk memperoleh atau mempertahankan berkat-berkat surgawi yang ada pada kita. Akan tetapi Allah tidak menginginkan orang-orang yang menyibukkan diri sedemikian untuk dapat sampai ke dalam surga. Allah menginginkan para pencinta Kristus dan pada saat bersamaan juga saling mengasihi satu sama lain antara mereka. “Kuasa kebangkitan Yesus” bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dengan menggunakan kekuatan kita sendiri. “Kuasa kebangkitan Yesus” hanya dapat kita peroleh selagi kita berada bersama Yesus dalam doa dan memperkenankan hidup Roh-Nya menggantikan hidup dari kodrat kita-manusia yang cenderung berdosa. Dengan hidup dalam/oleh iman, kita akan mampu untuk mencapai lebih banyak daripada sekadar hidup mengandalkan diri pada upaya-upaya kita sendiri.

Marilah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berada bersama Yesus dalam doa. Selagi kita melakukan hal itu, maka pemikiran kita untuk memperoleh berkat-berkat surgawi lewat berbagai upaya akan menyusut dan kemudian menghilang. Kita dapat duduk bersama Yesus, “dibenamkan” dalam sabda-Nya, dan memperkenankan rasa percaya kita kepada-Nya semakin bertumbuh. Lalu, Roh Kudus akan mengisi diri kita dan membimbing kita dalam semua hal untuk mana kita dipanggil untuk melakukannya. Melalui dorongan-dorongan Roh Kudus, kita akan memahami bahwa lebih dari segalanya yang lain, hal itu berarti suatu hidup dalam kebersatuan dengan Allah yang mengalahkan dosa, dunia, dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri yang kita miliki. Jadi, marilah kita mencari Yesus dan mengenakan hidup-Nya ke dalam hidup kita setiap hari (bdk. Flp 2:5).

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah diriku karena di masa lalu aku seringkali mencoba untuk mendapatkan kasih-Mu dan memperoleh berbagai berkat surgawi dengan menggunakan kekuatanku sendiri. Ajarlah aku, ya Tuhan Yesus, untuk berdoa dan menjadi satu dengan Engkau. Tariklah aku agar dapat menjadi lebih dekat dengan Engkau dan kuatkanlah diriku dalam seturut kehendak-Mu. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Jumaat, April 12, 2013

ALLAH SENANTIASA MENYERTAI KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan II Paskah – Sabtu, 13 April 2013)

Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21)

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19

Setelah memberi makan orang banyak, Yesus menyingkir lagi ke gunung, seorang diri, tentunya untuk berdoa dalam keheningan (lihat Yoh 6:15). Sementara itu murid-murid-Nya menyeberangi danau dengan menggunakan perahu di kegelapan malam (lihat Yoh 6:16-17). Dengan cepat laut mulai menggelora karena tiupan angin kencang, dan para murid harus mendayung dengan sekuat tenaga melawan angin. Kalau dalam mukjizat pergandaan roti dan ikan Yesus yang mengambil inisiatif, maka sekarang para murid-lah yang menjadi fokus perhatian: mereka berjuang setelah bekerja keras sehari penuh.

“Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu” (Yoh 6:19). Bayangkan rasa takut dan keterkejutan mereka selagi mereka melihat Yesus berjalan mendekati mereka di atas air yang bergejolak. Mereka sudah bekerja keras untuk sampai ke pantai; lalu Yesus muncul, tenang dan memegang kendali – tidak kelihatan lelah atau frustrasi.

Yesus berkata kepada mereka: “Inilah Aku, jangan takut!” (Yoh 6:20). Kata-kata sederhana ini membuat tenang rasa takut mereka, dan dengan gembira mereka menyambut Yesus ke dalam perahu mereka. Patut dicatat bahwa kata-kata Yesus “Inilah Aku” adalah ungkapan bahasa Yunani dari nama YHWH (“Aku adalah Aku yang ada”) dalam Perjanjian Lama. Para murid tidak perlu merasa takut, karena Allah: “Aku adalah Aku yang ada”, berada bersama mereka. Begitu mereka menerima Yesus, maka seketika itu juga perahu itu mencapai tujuannya (Yoh 6:21). Para murid tidak perlou lagi bekerja mati-matian karena Yesus berada bersama mereka.

Kata-kata Yesus sederhana, singkat dan penuh kuasa. Begitu sering kita terjebak dalam upaya mati-matian setiap hari – bekerja keras seperti para murid dalam perahu melawan badai – untuk mencapai tujuan kita. Yesus mengetahui pergumulan kita sehari-hari, dan dengan kuasa kata-kata sederhana Dia dapat memberikan damai-sejahtera dan kekuatan kepada kita. Hal ini tidak berarti kita dapat bermalas-malasan dengan secara buta menaruh kepercayaan kepada Allah untuk melakukan segalanya kepada kita. Sebaliknya, kita dapat bekerja dengan penuh keyakinan, karena kita mengetahui bahwa Allah senantiasa menyertai kita, memampukan kita untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan-Nya bagi kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami untuk mengetahui bahwa Engkau senantiasa beserta kami dalam upaya-upaya kami mengikuti jalan-Mu. Ajarlah kami untuk memanggil Engkau sehingga kami dapat mengalami kuasa-Mu dan kasih-Mu, teristimewa pada saat-saat pergumulan dan kesulitan kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, April 11, 2013

YESUS MEMPERHATIKAN UMAT-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan II Paskah – Jumat, 12 April 2013)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15)

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada Yesus sebagai “Roti Kehidupan”. Ada empat bagian mendasar dari bab 6 ini: (1) penggandaan roti dan ikan (Yoh 6:1-15); (2) Yesus berjalan di atas air (Yoh 6:16-21); (3) Ajaran Yesus bahwa Dia adalah Roti Kehidupan (Yoh 6:22-59); dan (4) bermacam-macam reaksi (baik negatif maupun positif) terhadap ajaran Yesus (Yoh 6:60-71).

Mukjizat penggandaan roti dan ikan adalah satu-satunya mukjizat yang dapat ditemukan dalam keempat kitab Injil – mengisyaratkan pentingnya peristiwa itu bagi Gereja. Di kitab Injil yang mana saja kita membaca cerita tentang penggandaan roti dan ikan ini, maka salah satu dari unsur cerita yang paling mencolok adalah orang banyak yang sudah lapar dan kesiapan Yesus untuk memberi makan orang banyak itu. Akan tetapi, dalam Injil Yohanes yang kita baca pada hari ini, fokusnya adalah pertama-tama pada rasa lapar orang banyak untuk mendengar sabda Yesus dan melihat Dia (Yoh 6:1-2) – alasan mengapa mereka mengikuti-Nya sampai ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Mereka merasa tertarik kepada Yesus karena mereka merasa bahwa Dia menawarkan kepada mereka sesuatu yang mereka butuhkan guna membuat hidup mereka menjadi lengkap.

Ketika mereka sampai, mereka juga merasa lapar secara fisik – dan inilah rasa lapar yang pertama-tama dipenuhi oleh Yesus. Dalam mengisahkan cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini, Yohanes Penginjil mengedepankan Yesus. Yesus-lah pribadi yang pertama kali melihat adanya kebutuhan orang banyak. Yesus pulalah yang mengambil inisiatif untuk memberi makan orang banyak itu. Yesus melihat kebutuhan orang banyak dan memulai percakapan-Nya dengan Filipus, hal mana menghasilkan suatu mukjizat penggandaan roti dan ikan dan ajaran mengenai Roti Kehidupan. Selagi Yesus mempersembahkannya, Dia “mengucap syukur” (Yunani: eucharisto) atas roti dan ikan-ikan itu (Yoh 6:11).

Yesus memperhatikan umat-Nya – baik secara fisik maupun secara spiritual – bahkan orang-orang yang akhirnya akan menolak diri-Nya (Yoh 6:66). Yesus tidak ingin melihat siapa saja menjadi musnah, oleh karena itu Dia terus menawarkan kasih-Nya dan penyembuhan-Nya kepada orang-orang. Yesus mengetahui benar rasa lapar kita dan Ia mampu untuk memuaskan setiap kebutuhan kita. Sekarang, apakah kita (anda dan saya) merasa lapar? Apakah kita merasakan adanya kekosongan dalam diri kita masing-masing? Apakah kita merasa bingung atau terluka? Marilah kita berpaling kepada Yesus, sang Roti Kehidupan, dan memperkenankan Dia memberi makan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan, yang diberikan untuk kehidupan dunia. Datanglah untuk mengisi diri kami dengan damai sejahtera dan cintakasih. Dalam sabda-Mu dan sakramen-sakramen, puaskanlah rasa lapar kami dan sembuhkanlah semua luka kami. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, April 10, 2013

MENERIMA KESAKSIAN YESUS


(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir – Kamis, 11 April 2013)

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36)

Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20

Injil Yohanes diisi dengan pernyataan-pernyataan tentang perbedaan antara “atas” dan “bawah/bumi” (Yoh 3:31; 8:23), antara “kegelapan” dan “terang” (Yoh 3:19; 8:12; 12:35,46), antara “daging/jasmani” dan “roh” (Yoh 3:6;6:63). Seperti para orangtua yang mengingatkan anak-anak mereka tentang bahaya riil kehidupan – dan konsekuensi-konsekuensi dari pengambilan keputusan yang buruk – demikian pula Allah, Bapa kita di surga, mengingatkan kita tentang realitas surga dan neraka. Ada suatu perbedaan yang dapat dibeda-bedakan antara dua “jalan” ini, dan Allah senantiasa memanggil kita untuk mengikuti jalan-Nya.

Bagaimana kita dapat mengetahui apakah kita sedang mengikuti “jalan kehidupan” atau “jalan kematian”? Jaminan apakah yang kita dapatkan bahwa kita kita sedang berada dalam jalan yang benar? Sebelum segalanya yang lain, kita perlu menyandarkan diri pada kasih Allah, Bapa kita di surga. Dia memberikan Roh-Nya tanpa ditahan-tahan lagi, apabila kita meminta kepada-Nya (Yoh 3:34; Luk 11:13). Allah ingin agar kita ada bersama diri-Nya; Dia menginginkan memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan perlindungan-Nya. Melalui Kitab Suci, Dia telah memberikan kepada kita perintah-perintah-Nya untuk menjaga kita tetap dalam jalan kehidupan; Dia tidak akan membuang mereka yang mengandalkan diri kepada bimbingan-Nya.

Kita telah ditebus oleh darah Yesus, dan dosa serta kesalahan kita telah dicuci-bersih dalam air baptisan. Kita telah menerima Roh Kudus yang telah dijanjikan, yang dicurahkan secara berlimpah. Kita adalah anak-anak Allah, dan Bapa ingin mengajar kita dan melindungi kita. Selagi kita terus menerima kesaksian Yesus, kita akan mampu untuk mengatakan, “Allah adalah benar!” (Yoh 3:33). Kita akan dipenuhi dengan keyakinan akan kuasa Allah, dan dan penuh kemauan untuk mengikuti Yesus …… ke mana saja Dia memimpin kita. Bahkan ketika sulit bagi kita untuk mentaati-Nya, kita akan mengetahui bahwa Allah sungguh dapat dipercaya, dan kita akan mencari kekuatan Roh agar tetap setia.

Pada masa Paskah yang penuh sukacita ini, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuka hati kita masing-masing lebih lebar lagi bagi kesaksian Yesus. Marilah kita datang ke dalam terang kasih Allah dan mohon kerendahan-hati dan kekuatan yang diperlukan untuk mengikuti “jalan kehidupan”. Kita melayani ‘seorang’ Allah yang berbelas-kasih dan murah-hati. Dia tidak akan mengecewakan orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami mohon kepada-Mu pencurahan rahmat yang lebih besar lagi bagi seluruh Gereja-Mu. Semoga setiap langkah yang kami buat akan membawa kami menjadi lebih dekat kepada Kerajaan-Mu, di mana kami akan dipersatukan secara kekal dengan Engkau melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, April 08, 2013

ROH KUDUS SENANTIASA SIAP MENOLONG KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 9 April 2013)

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15)

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5

Dalam bacaan Injil hari ini kita lihat Nikodemus mengalami kebingungan. Ia dapat duduk di tempat yang sama untuk berhari-hari lamanya merenungkan apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan bahwa dia harus dilahirkan kembali, dilahirkan dari air dan Roh (lihat Yoh 3:3-7), dan tetap saja tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dirinya. Daya pikir kita bisa saja hebat – jauh di atas rata-rata –, akan tetapi kenyataan tersebut paling-paling dapat membawa kita sampai kepada titik tertentu saja dalam hal pemahaman akan hal-hal yang bersifat spiritual. Itulah sebabnya mengapa Yesus memberikan Roh Kudus kepada kita. Roh Kudus inilah yang akan menyatakan siapa Yesus sebenarnya, apa yang telah dilakukan oleh Yesus bagi kita semua, dan bagaimana Yesus ingin melihat bagaimana kita menjalani kehidupan kita dari hari ke hari.

Misalnya, kita mempunyai sebuah pertanyaan seperti berikut: “Bagaimana caranya aku dapat mendengar suara Yesus?” Salah satu cara adalah melalui Kitab Suci. Dalam doa, atau selagi kita (anda dan saya) mendengarkan sabda Allah dalam Misa, Roh Kudus dapat membuat kita menaruh perhatian khusus atas potongan bacaan tertentu dari Kitab Suci, seakan membuat kata-kata dari bacaan itu melompat keluar dari halaman Kitab Suci, dan berkata kepada kita, “Hai, ayat-ayat ini berlaku untukmu!” Roh Kudus juga dapat membawa suatu pemikiran ke dalam kepala kita selagi kita berdoa – suatu pemikiran yang kita ketahui bukanlah milik kita sendiri. Kemudian, selagi kita merenungkan ide/gagasan atau gambaran/imaji tertentu, kita mempuyai perasaan berbeda bahwa itu adalah sabda Allah bagi kita dalam situasi khusus yang kita hadapi.

Apabila kita berpikir bahwa kita telah mendengar suara Yesus, maka kita selalu dapat mengujinya untuk melihat buah-buah yang dihasilkannya. Jika hasilnya adalah buah-buah spiritual yang baik – seperti sukacita, damai-sejahtera, atau pengampunan (lihat Gal 5:22) – maka kiranya Yesus-lah yang telah berbicara kepada kita melalui Roh Kudus. Akan tetapi ada kasus-kasus di mana kita harus menunggu beberapa saat lamanya untuk melihat buah-buah yang dimaksud. Ada pula kasus-kasus di mana kita tidak pernah merasa pasti apakah kita mendengar-Nya dengan benar. Dengan berjalannya waktu dan lewat ketekunan penuh kerendahan hati, kita pun dapat mengembangkan suatu kemampuan untuk mendengar suara Yesus dan benar-benar mendengar suaraNya berbicara kepada kita dalam hari-hari kehidupan kita. Dalam doa-doa kita baiklah kita selalu memohon agar Tuhan menerangi kegelapan hati kita, memberi kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna. Juga perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan mengikuti kehendak-Nya yang kudus dan tidak menyesatkan. Yang penting bagi kita adalah mempraktekkannya, walaupun dengan terseok-seok. Kita harus percaya bahwa Roh Kudus-Nya senantiasa siap menolong kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar dapat mendengar suara-Mu. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu lewat pembacaan Kitab Suci, dalam Misa Kudus, dan selagi aku menjalani hidupku sehari-hari di tengah dunia ini. Aku sungguh ingin mengetahui kehendak-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SELALU MENYERTAI KITA DALAM SETIAP SITUASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Senin, 8 April 2013)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10

Bayangkanlah peristiwa teramat penting yang terjadi pada hari itu. Malaikat agung Gabriel diutus oleh Allah untuk datang kepada seorang perawan dari Nazaret yang bernama Maria dan mengumumkan kabar bahwa perempuan itu telah dipilih oleh-Nya untuk mengandung dan melahirkan sang Putera Allah. Dari saat memberi tanggapan-Nya, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), segenap ciptaan tidak akan pernah sama lagi. Pada saat Maria mengucapkan fiat-nya ini, Allah yang Mahakusa – Pencipta langit dan bumi menyatakan kedalaman kasih-Nya ketika Putera-Nya merendahkan diri-Nya guna menjadi salah seorang dari kita manusia.

Santo Athanasius [296-373] menjelaskan bahwa Yesus senantiasa hadir di tengah umat manusia lewat ciptaan, namun “sekarang Ia memasuki dunia dengan cara yang baru, merendahkan diri-Nya ke tingkat kita-manusia dalam kasih-Nya dan pernyataan-diri-Nya. Dia tidak dapat melihat bahwa kematian akan memperoleh kemenangan. Daripada ciptaan-Nya binasa dan karya Bapa-Nya bagi kita menjadi sia-sia, maka Dia menjadi sama dengan kita manusia” (Tentang Inkarnasi).

Yesus sungguh berhasrat untuk mengambil kemanusiaan kita, sehingga dengan mati dan bangkit secara badaniah, Ia dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada kita. Yesus melakukan hal itu agar dengan mengambil bagian dalam setiap aspek kemanusiaan, Ia dapat menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya hidup sebagai manusia. Sebagai Imam Besar Agung kita yang penuh belas kasih, Yesus “ditakdirkan” untuk menanggung semua dosa kita dan juga godaan-godaan yang kita hadapi. Yesus menjalankan kehidupan manusia seperti kita. Dia juga hidup dalam dunia yang dibuat cemar oleh dosa ini. Itulah sebabnya mengapa Yesus mampu menghibur kita dan mempersiapkan kita untuk mengangkat hati kita kepada Bapa, seperti yang dilakukan-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) telah kehilangan orang tua atau orang yang kita kasihi karena kematian? Yesus juga mengalami kematian ayah-Nya di dunia, Santo Yusuf. Apakah kita mengalami kesulitan dalam mencari pemecahan bagaimana seharusnya relasi tertentu terjalin dengan baik? Yesus juga harus mempelajari bagaimana mengasihi setiap jenis pribadi. Apakah kita merasa sakit hati ketika orang yang dekat pada kita justru tidak memahami diri kita? Yesus sendiri terus menghormati ibunda-Nya walaupun susah baginya untuk memahami sepenuhnya misi-Nya (Luk 2:48-51). Jadi, Tuhan kita berdiri bersama kita dalam setiap situasi, Dia memberikan kepada kita rahmat dan memperkuat kita dengan kasih-Nya. Oleh karena itu, marilah kita agar ada bersama kita pada setiap saat. Marilah kita menerima semua berkat yang tersedia bagi kita melalui keikut-sertaan-Nya yang rendah-hati dalam kemanusiaan kita.

DOA: Aku mengasihi Engkau, Yesus, Juruselamatku! Kelemah-lembutan-Mu sebagai manusia sungguh melampaui kemampuanku untuk memahami. Terima kasih Tuhan, karena Engkau mengambil bagian dalam hidupku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena selalu menyertaiku dalam setiap situasi yang kuhadapi. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sabtu, April 06, 2013

MENYENTUH LUKA-LUKA YESUS


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II – 7 April 2013)

HARI MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31)

Bacaan Pertama: Kis 5:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,22-27; Bacaan Kedua: Why 1:9-13,17-19

Tomas bukanlah tipe orang yang mencari tanda-tanda yang megah dan spektakuler, yang dicarinya adalah luka-luka. Oleh luka-luka Yesus-lah maka keragu-raguan Tomas disembuhkan. Yesus yang tersalib dan kebangkitan-Nya dalam kemuliaan tidak dapat dipisahkan dalam gambaran Yohanes tentang Yesus yang ditinggikan dari bumi: “… sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan” (Yoh 3:14; bdk. Bil 21:9). Ada pribadi-pribadi – seperti halnya dengan Saulus/Paulus – yang dikunjungi oleh Tuhan yang telah bangkit, penuh kemegahan yang terang benderang dan terlalu hebat untuk dilihat oleh mata manusia. Yang lain-lain, seperti Tomas, telah menemukan misi Kristus dalam luka-luka orang miskin; Jean Vanier dalam luka-luka orang-orang yang menderita ketidaknormalan mental; Martin Luther King [1929-1968] dan Uskup Agung Helder Camara dari Brazil [1909-1999], dalam luka-luka karena diskriminasi dan ketidakadilan. Fransiskus dari Assisi memenangkan sebuah pertempuran penting atas sikap hidupnya yang suka memilih-milih kawan, ketika dengan hangat dia memeluk seorang kusta. Hari itu adalah hari di mana Fransiskus memandang Kristus dengan serius dan mulai menemukan misinya.

Bertahun-tahun kemudian, dalam Wasiat-nya, Fransiskus mengemukakan perasaannya pada hari itu: “Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Was 1-3). Seorang Fransiskus-baru dilahirkan dari luka-luka orang kusta …… karena ketika dia memeluk orang kusta itu sebagai seorang saudara, Fransiskus juga memeluk luka-luka dirinya sendiri, dan dalam melakukan hal itu, hidup dia selanjutnya adalah memeluk suatu misi dari Kristus sendiri. Langkah-langkah pertama dalam suatu hidup spiritual senantiasa melibatkan suatu pemurnian diri sendiri kita yang suka bersikap memilih-milih, berkhayal, merasa khawatir, cemas dan takut. Dengan demikian kita dapat memahami mengapa sebelum pertobatannya Fransiskus memandang jijik orang kusta.

Kita memeluk orang kusta dalam diri kita ketika kita menerima kesalahan-kesalahan kita dalam pengakuan yang dilakukan dengan rendah hati, dan di sana kita berjumpa dengan Kristus yang berbelas kasih. Kita memeluk orang kusta dalam diri saudari dan saudara kita bilamana kita menerima mereka dalam kemiskinan dan rasa sakit mereka, dan ketika kita menerima mereka dalam kekurangan-kekurangan mereka yang selama itu “mengganggu” kita. Dan ketika kita menerima mereka, sebenarnya mereka melayani panggilan Kristus kepada kita, “sebab dengan memberi aku menerima” (Ingatlah doa “Jadikanlah Aku Pembawa Damai”; Puji Syukur No. 221).

Ingatlah misi dari Santo Damian de Veuster [1840-1889] di Molokai, Hawaii, yaitu hidup di tengah-tengah orang-orang kusta dan melayani mereka. Hanya setelah romo Damian mampu berkata “kita, orang-orang kusta”, maka misinya mulai bertumbuh dan berhasil. Allah minta kepada kita untuk tunduk kepada misteri-misteri yang merupakan tanda-tanya bagi kita, kegelapan yang menyelimuti pemandangan indah di depan kita, “salib-salib” yang menindih kita. Dalam luka-luka kehidupan kita bertemu dengan Yesus Kristus yang penuh luka. Iman kita menjadi terbangun ketika kita mengidentifikasiksn “Sang Tersalib yang penuh luka” dengan “Tuhan yang penuh dengan kemuliaan”.

Ketika rasul Tomas melihat sendiri luka-luka Kristus, ia tidak menjadi termuntah-muntah atau menolak tanda-tanda kelemahan itu. Tomas malah mendeklarasikan iman-kepercayaannya yang agung dengan mantap, yang sampai hari ini kita masih ucapkan pada saat konsekrasi: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Upaya Tomas untuk mencari Yesus yang terluka telah membawanya kepada Kristus yang penuh kemuliaan. Pengakuan iman akan keilahian Kristus merupakan klimaks Injil Yohanes, namun amatilah bagaimana hal itu secara misterius dikaitkan dengan tindakan menyentuh luka-luka Yesus. Pada saat ini kita pun diingatkan kepada kata-kata nabi Yesaya tentang “Hamba YHWH yang menderita”: “… oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes 53:5).

DOA: Tuhan Yesus, perdalamlah imanku akan siapa Engkau dan tentang apa yang telah Kaulakukan bagi diriku. Sentuhlah aku oleh Roh Kudus-Mu dan ubahlah ketidak-percayaanku menjadi rasa percaya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MELANJUTKAN PENAMPAKAN DIRI-NYA KEPADA KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH – 6 April 2013)

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Yesus pernah mengusir tujuh setan dari dia. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang mengiringi Yesus sebelumnya dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kekerasan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:9-15)

Bacaan Pertama: Kis 4:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21

Selagi kita mendekati akhir pekan pertama Paskah, kepada kita disuguhkan dengan sebuah ringkasan dari penampakan-penampakan Kristus yang telah bangkit kepada para murid-Nya. Kebanyakan ahli/pakar Kitab Suci berpandangan bacaan Injil hari ini barangkali bukan merupakan Injil Markus yang “asli”, melainkan ditambahkan belakangan agar Injil Markus ini tidak berakhir pada adegan para perempuan yang lari meninggalkan kubur Yesus, dengan hati yang gentar dan takut (Mrk 16:8). “Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1) dimaksudkan untuk berlanjut dengan realitas – bukan hanya pewartaan atau permakluman – dari kebangkitan-Nya. Akan tetapi, walaupun merupakan sebuah “tambahan”, bacaan yang kita hari ini diterima oleh Gereja sebagai bagian yang otentik dan vital dari Kitab Suci yang diinspirasikan Roh Kudus.

Kita dapat belajar banyak selagi kita membaca cerita-cerita singkat yang menyangkut penampakan-penampakan Tuhan Yesus. Seperti juga Kitab Suci yang mencatat penampakan-penampakan Kristus yang telah bangkit, Roh Kudus ingin membuat iman kita akan Kristus yang telah bangkit menjadi hidup; dengan demikian memperkenankan otoritas Yesus dan kemuliaan-Nya berakar lebih dalam lagi dalam kehidupan kita. Dia adalah “Anak Allah”, sekarang bangkit, memerintah sebagai Tuhan dan Raja. Roh Kudus ingin membuka mata kita agar dapat melihat Yesus, seperti Yesus dahulu membuka mata para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Ini adalah karya berkesinambungan yang ingin dicapai-Nya dalam hati setiap orang yang percaya.

Yesus ingin melanjutkan penampakan diri-Nya kepada kita melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci, melalui sakramen-sakramen, dalam doa-doa harian kita, dalam karya pelayanan kita bagi orang-orang lain, baik yang Kristiani maupun yang beriman lain. Yesus ingin membuat KABAR BAIK terwujud dalam kata-kata yang kita ucapkan, dalam tindakan kasih kita, dan kebebasan sejati yang ditunjukkan dalam kehidupan kita.

Selagi pernyataan Kristus semakin bertumbuh dalam diri kita, kita pun akan digerakkan untuk membawa Injil-Nya ke tengah dunia dan memberitakan kabar baik kebangkitan Yesus. Undangan Yesus untuk mensyeringkan Injil bukanlah sebuah perintah yang bersifat otoritatif dan mendatangkan rasa takut. Itu akan menjadi hasrat kita sendiri, yang timbul dalam hati kita yang semakin terbakar oleh perjumpaan kita dengan Tuhan yang bangkit. Visi ini akan menggerakkan kita untuk berkeinginan agar setiap orang mengenal Yesus, yang telah membebaskan diri kita dari cengkeraman dosa dan membuat kita menjadi anak-anak tercinta dari Bapa surgawi.

DOA: Tuhan Yesus, selama masa Paskah yang indah ini, bukalah mata kami lebih lebar lagi agar dapat melihat kemuliaan kebangkitan-Mu. Kami ingin menyerahkan hidup kami secara lebih penuh lagi kepada-Mu sehingga dengan demikian kehendak-Mu terjadi di atas bumi seperti di dalam surga. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Khamis, April 04, 2013

DENGAN MEMATUHI SABDA YESUS, KITA PUN AKAN MENGHASILKAN BUAH BERLIMPAH


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH – 5 April 2013)


Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14)

Bacaan Pertama: Kis 4:1-12; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27

 Seorang perempuan terlihat sedang berdiri di luar kubur Yesus dan menangis sedih karena kematian Yesus yang sangat dikasihinya (Yoh 20:11); dua orang yang kecewa dan bingung melakukan perjalanan meninggalkan kota Yerusalem di mana segala harapan dan impian mereka telah hancur berantakan oleh karena kematian Yesus (Luk 24:13); sekelompok nelayan berjuang untuk mencari nafkah dengan jujur – kembali ke profesi mereka semula (Yoh 21:3). Sekilas lintas semua contoh ini bukanlah kondisi yang kondusif bagi Putera Allah untuk menyatakan keagungan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Para murid Yesus terdiri dari orang-orang biasa, berurusan dengan berbagai tantangan dan suka-duka sehari-hari dari kehidupan biasa, dan – dalam kasih dan belas kasih-Nya – Yesus melakukan intervensi.

Para murid telah mencoba menjala ikan sepanjang malam, namun seekor ikan pun mereka tak mampu menangkapnya. Tentunya mereka telah merasa sangat lelah dan … frustrasi. Ketika hari mulai siang “seorang asing” di tepi pantai berteriak dan menyuruh mereka untuk mencoba lagi menebarkan jala dan mereka melaksanakan perintah itu, maka … mereka pun tidak dapat menarik jala itu karena banyaknya ikan yang tertangkap. Jumlah ikan yang tertangkap itu jauh melebihi jumlah yang dapat mereka tangkap dalam satu malam, memberi kepuasan yang jauh melebih kekecewaan karena bekerja sia-sia semalaman. Akan tetapi, sesungguhnya Yesus ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada sekadar menyediakan ikan bagi para murid-Nya. Dia ingin menghibur mereka dan memberdayakan mereka agar mampu menghayati suatu kehidupan baru secara penuh.

Mukjizat penangkapan ikan ini menunjukkan kepada kita perbedaan antara “upaya menghadapi hidup sekadar berdasarkan hikmat dan kekuatan kita sendiri” dan “menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan yang dapat mengubah, bahkan situasi-situasi tanpa harapan sekali pun”. Dalam kasih-Nya, Yesus ingin masuk ke dalam setiap situasi yang kita hadapi dalam hidup kita, untuk memperkuat kita dan menganugerahi hikmat-Nya dan bimbingan-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada kita bahwa apa pun yang kita hadapi, kita tidak akan pernah ditinggalkan sendirian …… jika kita membuka hati kita bagi diri-Nya.

Yesus berjanji bahwa mereka yang mencari diri-Nya akan menemukan Dia (Mat 7:8), dan dalam upaya mencari diri-Nya, kita akan mendapatkan ketenangan (Mat 11:29). Apakah yang sumber ketenangan ini? Jawabnya: Yesus sendiri, karena Dialah yang mengetahui segalanya tentang kita – Dia yang mengasihi kita, mengampuni kita, dan berjanji untuk bersama kita sampai akhir zaman. Orang-orang yang membuka hati mereka bagi sentuhan Yesus akan mampu untuk menghadapi berbagai masalah dalam hidup mereka dengan suatu rahmat dan kekuatan yang tidak berasal dari upaya mereka sendiri, melainkan dari kuat-kuasa Roh Kudus-Nya yang berdiam dalam diri mereka. Seperti Petrus dan para murid lainnya, mereka juga akan menghasilkan buah berlimpah selagi mereka dengan rendah hati mematuhi sabda Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi kami lebih daripada hidup itu sendiri. Lewat Roh Kudus-Mu, tolonglah kami untuk lebih mengenal Engkau lagi, dengan demikian kami pun dapat lebih mengasihi-Mu dan memberikan kesaksian kepada dunia, bahwa kuasa-Mu adalah lebih besar daripada apa saja yang pernah dikenal dunia. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Rabu, April 03, 2013

KETIDAKPERCAYAAN DALAM HATI KITA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis dalam Oktaf Paskah – 4 April 2013)

Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, “Apakah kamu punya makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kita nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini. (Luk 24:35-48)

Bacaan Pertama: Kis 3:11-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

“Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?” (Luk 24:38).

Bila membaca narasi Injil Lukas di atas, maka dengan mudah kita dapat memahami reaksi dari para murid pada saat kemunculan Yesus di tengah-tengah mereka. Dia yang telah dipaku di kayu salib, mati dan dikuburkan, sekarang berdiri di tengah-tengah mereka. Sungguh sebuah peristiwa yang mengejutkan bagi siapa saja yang mengalaminya sendiri. Siapakah yang tidak akan kaget, terkejut, takut, bahkan merasa ragu-ragu? Jangan-jangan …… ini hantu!

Keragu-raguan adalah suatu reaksi yang manusiawi. Bahkan para kudus (santa, santo, beata, beato dll.) pun pernah memiliki keragu-raguan dalam perjalanan hidup rohani mereka. Seorang pujangga gereja yang besar, Santo Thomas Aquinas [1225-1274] pernah mengeluh kepada Allah, “Aku tidak tahu apakah Engkau mengasihiku, atau apakah aku mengasihi Engkau … bahkan aku pun tidak tahu apakah aku hidup oleh/dengan iman!” Ingatlah juga cerita dari Injil Yohanes yang menyangkut rasul Tomas alias Didimus yang mengatakan: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25).

Yesus terkadang menantang para murid-Nya agar dapat memiliki iman yang lebih besar. Namun Ia tidak pernah mematahkan semangat mereka hanya karena mengungkapkan rasa ragu dan rasa takut mereka kepada-Nya. Apabila mereka melakukannya, Yesus selalu memberikan pertolongan yang diperlukan oleh mereka. Marilah kita perhatikan tanggapan-Nya terhadap rasa ragu dan takut para murid-Nya dalam bacaan di atas: “… rabalah Aku dan lihatlah” (Luk 24:39). Yesus bahkan makan di depan mata mereka untuk mematahkan kecurigaan mereka bahwa diri-Nya adalah hantu atau sekadar kilasan khayalan mereka. Yesus sangat berkeinginan untuk menolong para murid-Nya agar dapat menghilangkan rasa takut mereka.

Seperti para murid pada waktu itu, kita pun sekarang dapat bersikap jujur dengan Yesus. Ia tidak akan mengejek kita, apalagi menghukum kita karena mengajukan pertanyaan “tolol” atau membuat pernyataan seperti yang dilakukan oleh Santo Tomas rasul. Yesus memahami sekali rasa takut dan rasa ragu yang sedang menghinggapi diri kita. Dia ingin menolong kita mengatasi ketakutan dan keraguan kita sehingga dengan demikian kita dapat menjadi lebih dekat dengan diri-Nya. Yesus mengundang kita untuk meletakkan segala keragu-raguan, kekhawatiran, kegalauan, kekecewaan, keputusasaan dan ketakutan kita di dekat kaki-kaki-Nya. Hanya apabila kita melakukannya seperti itu, maka segala keraguan dlsb. itu dapat memperoleh solusinya. Yesus tidak ingin kita mencoba-coba untuk memecahkan sendiri segala persoalan hidup yang kita hadapi, karena bagaimana pun juga upaya sedemikian tidak akan membawa hasil, malah dapat mengakibatkan frustrasi dan menambah kadar keragu-raguan dlsb. yang disebutkan di atas tadi.

Pada hari ini, baiklah kita membawa ketidakpercayaan yang masih ada dalam hati kita masing-masing kepada Yesus. Misalnya, ketidakpastian atau keragu-raguan terhadap kasih-Nya kepada diri kita. Yesus telah mengetahui isi hati kita masing-masing, namun Ia selalu menyambut baik kejujuran/ketulusan kita dan kerendahan-hati/kedinaan kita dengan membawakan “perkara” kita masing-masing kepada-Nya. Kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus adalah seorang Pribadi yang lembah lembut, berbelas-kasih dan panjang sabar dalam artiannya yang sempurna.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau tidak menghukum diriku ketika timbul keragu-raguan dalam hatiku tentang diri-Mu. Utuslah Roh Damai-Mu ke dalam hidupku di mana ada kebingungan atau ketakutan. Semoga realitas kasih-Mu yang sempurna bagi diriku mengusir setiap rasa takut yang tersembunyi dalam hatiku. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Isnin, April 01, 2013

BERJUMPA DENGAN YESUS YANG TELAH BANGKIT


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH – 2 April 2013)

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:11-18)

Bacaan Pertama: Kis 2:26-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-19,20,22

Dalam bacaan Injil hari ini Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada seorang perempuan, Maria Magdalena. Saat itu adalah pagi hari Minggu Paskah. Ketika Maria Magdalena mengenali Yesus, yang pada awalnya disangkanya tidak lain daripada seorang penjaga taman, Yesus berkata, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh 20:17). Seakan Yesus di sini berkata, “Janganlah berperilaku seakan Aku tidak pernah akan kembali; janganlah berpikir bahwa Aku tidak lagi hadir di tengah para murid-Ku” Kita lihat di sini, bahwa Yesus telah memasuki suatu “modus kehadiran” yang baru. Sekarang kita harus melihat sesuatu yang melampaui kehadiran-Nya secara fisik: kita harus melekat pada-Nya oleh iman. Lewat tanda-tanda-Nya yang suci – sakramen-sakramen – kita menyentuh Dia dan disentuh oleh-Nya.

Kita juga berjumpa dengan Yesus dalam diri sesama kita dan dalam dunia. Apabila kita sungguh umat yang beriman, maka kita mempunyai mata yang sungguh melihat, telinga yang sungguh mendengar, tangan yang sungguh menyentuh.

Bacaan pertama yang diambil dari “Kisah para Rasul” berbicara mengenai Baptisan. Kita telah dibaptis dan memiliki iman yang membawa terang, sukacita, hikmat dan pemahaman. Pertanyaannya sekarang, apakah kita hidup dengan terang, sukacita dan hikmat ini? Apakah kita berperilaku seperti orang-orang yang belum ditebus, bingung, masa bodoh dan tanpa sukacita?

Dalam iman seperti Maria Magdalena kita telah melihat Tuhan. Kita melihat Dia di sini, dalam sabda yang diproklamasikan/diwartakan dan dalam roti yang dipersembahkan dan diterima/disambut oleh kita. Kita melihat Dia dalam diri orang lain dan dalam dunia. Sebagai umat Kristiani kita harus sepenuhnya dibangkitkan, artinya menjadi sebagai orang-orang yang sungguh menghayati/menjalani hidup dalam kepenuhannya.

DOA: Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku (Mzm 42:2-3,9). Terpujilah Allah selama-lamanya. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS