
Karena Yesus tahu
bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan
Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15)
Bacaan Pertama: Kis
5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14
Bab 6 dalam Injil
Yohanes memusatkan perhatiannya pada Yesus sebagai “Roti Kehidupan”. Ada empat
bagian mendasar dari bab 6 ini: (1) penggandaan roti dan ikan (Yoh 6:1-15); (2)
Yesus berjalan di atas air (Yoh 6:16-21); (3) Ajaran Yesus bahwa Dia adalah
Roti Kehidupan (Yoh 6:22-59); dan (4) bermacam-macam reaksi (baik negatif
maupun positif) terhadap ajaran Yesus (Yoh 6:60-71).
Mukjizat
penggandaan roti dan ikan adalah satu-satunya mukjizat yang dapat ditemukan
dalam keempat kitab Injil – mengisyaratkan pentingnya peristiwa itu bagi
Gereja. Di kitab Injil yang mana saja kita membaca cerita tentang penggandaan
roti dan ikan ini, maka salah satu dari unsur cerita yang paling mencolok
adalah orang banyak yang sudah lapar dan kesiapan Yesus untuk memberi makan
orang banyak itu. Akan tetapi, dalam Injil Yohanes yang kita baca pada hari
ini, fokusnya adalah pertama-tama pada rasa lapar orang banyak untuk mendengar
sabda Yesus dan melihat Dia (Yoh 6:1-2) – alasan mengapa mereka mengikuti-Nya
sampai ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Mereka merasa tertarik
kepada Yesus karena mereka merasa bahwa Dia menawarkan kepada mereka sesuatu
yang mereka butuhkan guna membuat hidup mereka menjadi lengkap.
Ketika mereka
sampai, mereka juga merasa lapar secara fisik – dan inilah rasa lapar yang
pertama-tama dipenuhi oleh Yesus. Dalam mengisahkan cerita mukjizat penggandaan
roti dan ikan ini, Yohanes Penginjil mengedepankan Yesus. Yesus-lah pribadi
yang pertama kali melihat adanya kebutuhan orang banyak. Yesus pulalah yang
mengambil inisiatif untuk memberi makan orang banyak itu. Yesus melihat
kebutuhan orang banyak dan memulai percakapan-Nya dengan Filipus, hal mana
menghasilkan suatu mukjizat penggandaan roti dan ikan dan ajaran mengenai Roti
Kehidupan. Selagi Yesus mempersembahkannya, Dia “mengucap syukur” (Yunani:
eucharisto) atas roti dan ikan-ikan itu (Yoh 6:11).
Yesus memperhatikan
umat-Nya – baik secara fisik maupun secara spiritual – bahkan orang-orang yang
akhirnya akan menolak diri-Nya (Yoh 6:66). Yesus tidak ingin melihat siapa saja
menjadi musnah, oleh karena itu Dia terus menawarkan kasih-Nya dan
penyembuhan-Nya kepada orang-orang. Yesus mengetahui benar rasa lapar kita dan
Ia mampu untuk memuaskan setiap kebutuhan kita. Sekarang, apakah kita (anda dan
saya) merasa lapar? Apakah kita merasakan adanya kekosongan dalam diri kita
masing-masing? Apakah kita merasa bingung atau terluka? Marilah kita berpaling
kepada Yesus, sang Roti Kehidupan, dan memperkenankan Dia memberi makan kepada
kita.
DOA: Tuhan Yesus,
Engkau adalah Roti Kehidupan, yang diberikan untuk kehidupan dunia. Datanglah
untuk mengisi diri kami dengan damai sejahtera dan cintakasih. Dalam sabda-Mu
dan sakramen-sakramen, puaskanlah rasa lapar kami dan sembuhkanlah semua luka
kami. Amin.
Sdr. F.X.
Indrapradja, OFS
Tiada ulasan:
Catat Ulasan