Halaman

"BAPA YANG KEKAL KUPERSEMBAHKAN KEPADA-MU, TUBUH DAN DARAH, JIWA DAN KE-AILAHAN PUTERA-MU YANG TERKASIH TUHAN KAMI YESUS KRISTUS, DEMI PENEBUSAN DOSA-DOSA KAMI DAN DOSA SELURUH DUNIA" - YESUS RAJA KERAHIMAN ILAHI, AKU PERCAYA KEPADA-MU

Isnin, April 22, 2013

GEREJA MULTI-KULTURAL YANG PERTAMA


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Selasa, 23 April 2013)
Keluarga Fransiskan: Peringatan Beato Egidius dari Assisi (Ordo I)

Sementara itu saudara-saudara seiman yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.

Akan tetapi, di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang berbahasa Yunani dan memberitakan tentang Tuhan Yesus. Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Kabar tentang mereka itu terdengar oleh jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas pergi ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat anugerah Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Lalu banyak orang dibawa kepada Tuhan. Setelah itu, pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemat itu selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang . Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. (Kis 11:19-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 87:1-7; Bacaan Injil: Yoh 10:22-30

Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Apa yang dikatakan Yesus ini terbukti dengan kematian Stefanus. Kematian diakon yang suci ini menyebabkan Gereja yang masih sangat muda-usia ini bertumbuh-kembang. Mereka yang tercerai-berai setelah kematian Stefanus melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh untuk mencari keamanan. Malah ada yang pergi ke tempat-tempat yang relatif jauh pada zaman itu, misalnya Siria utara, ke kota Timur Tengah yang bernama Antiokhia. Pertama-tama para misionaris awal ini hanya berbicara kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia, namun orang-orang Kristiani dari Siprus dan Kirene yang juga telah sampai di Antiokhia mulai menginjili orang-orang Yunani tentang Yesus. Jadi muncullah sebuah Gereja yang berjenis baru, yang terdiri dari baik orang Yahudi maupun orang-orang bukan Yahudi (kafir di mata orang Yahudi).

Kabar tentang perkembangan ini sampai kepada para rasul yang masih berdiam di Yerusalem, dan mereka memutuskan untuk mengutus seseorang guna melakukan penyelidikan. Komunitas “gado-gado” antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi sungguh merupakan sesuatu yang asing dan aneh bagi cara berpikir mereka yang Yahudi di Yerusalem, jadi tidak mengherankanlah bahwa mereka merasa prihatin. Barnabas sendiri – yang berasal dari Siprus – mereka pilih. Lukas menggambarkan Barnabas sebagai “orang baik, penuh dengan Roh Kudus dna iman” (Kis 11:24). Tentunya Barnabas ini juga mempunyai semangat perintis yang memungkinkan dirinya – seperti halnya Petrus – untuk menerobos konvensi/kebiasaan yang berlaku dan mengakui rahmat Allah yang terbukti nyata dalam jemaat/gereja yang baru ini (Kis 11:23).

Dengan hikmat yang datang dari Allah sajalah Barnabas menyadari bahwa kelompok di Antiokhia yang sedang bertumbuh ini membutuhkan bantuan seseorang seperti Paulus untuk membuatnya berdiri kokoh di atas kebenaran Injil. Barnabas pergi ke Tarsus untuk mencari Paulus dan membawanya kembali ke Antiokhia. Dua orang ini berdiam di tengah umat untuk selama setahun penuh, mengajar mereka dan membawa banyak orang ke dalam iman-kepercayaan kepada Yesus Kristus. Jadi, gereja multi-kultural yang pertama lahirlah sudah, sebuah gereja yang bertumpu di atas kasih Kristus dan kuat-kuasa Roh Kudus.

Kita pun dapat bertemu dengan keadaan-keadaan yang kelihatan asing. Barangkali kita tidak dapat membayangkan bahwa Allah dapat bekerja dalam situasi-situasi sedemikian atau sesuatu yang baik dapat datang/dihasilkan dari situasi-situasi tersebut. Justru pada saat-saat seperti itulah kita harus bersender pada Yesus dan mendengarkan suara Roh Kudus kepada kita. Mata kita dapat menjadi terbuka bagi jalan-jalan rahmat yang baru bagi diri kita sendiri dan orang-orang lain, seperti halnya dengan Barnabas. Allah dapat membawa kebaikan, bahkan dari sesuatu hal/peristiwa yang jahat. Kita dapat menyaksikan kebaikan ini menjadi realitas, atau seperti dalam hal Stefanus – kebaikan dapat datang kepada orang-orang lain setelah diri kita sendiri untuk pembangunan Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku iman yang benar, harapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna, seperti yang terjadi dengan Barnabas dan Paulus. Bilamana Engkau memanggil, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan merangkul misi-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku dan hasrat untuk mengikut Engkau dalam segala hal yang kulakukan. Amin.

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Tiada ulasan:

Catat Ulasan